Cakrawala masih cukup jauh untuk menelan surya sedangkan angin berhembus lembut menyentil setiap ujung dedaunan membuat kawanan itu bergetar. Arus sungai kali ini mengalir seirama dengan desis angin, dan burung-burung gereja pun mulai menghiasi lengan jembatan kecil menuju jantung Jesmond Dene.Awan, begitulah mereka kelihatannya sore ini. Tak ingin menutup jalan cahaya matahari, tetapi berseri menemani. Hamparan langit dengan guratan-guratan warnanya yang beragam, sedikit memberi peringatan bahwa siang hampir digantikan. Namun, tempat itu tampak semakin padat pengunjung yang mendedikasikan sore mereka untuk berolahraga, bertukar cerita, bertegur sapa, atau hanya untuk berkata, "Lihatlah di atas! Mereka seperti bagian seni yang berada sebelum angkasa!" Jesmond Dene sangat berseri. Melebihi perasaan Louis sore ini.Pria yang mengenakan jumper vest cokelat beserta dalamannya yang bewarna putih dipadupadankan dengan celana kain senada begitu pula sepatunya, bergumam berulang kali mencoba
Louis mempercepat langkah kekesalannya tak memedulikan tubuhnya yang basah kuyup. Lagi pula, ia sudah terbiasa seperti ini. Bahkan menempuh pendidikan empat tahun lamanya, terasa lebih menyusahkan daripada sekarang. Ia tak memutar lehernya untuk menyaksikan apa yang terjadi kepada Emma saat ini, meskipun air mata serupa dengan awan kini singgah di pelupuknya.Louis menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain yang telah basah. Untuk kembali ke rumahnya, akan memakan waktu yang tak singkat apabila berjalan kaki dan dirasa ia tak ingin pulang membawa kesedihan bersamanya. Sebuah usulan di dalam otaknya membuatnya berlari untuk segera tiba ke tujuan lainnya. Louis yang basah kuyup tak peduli dengan tangisan awan.Halaman rumah seseorang yang cukup luas dengan bunga yang lusuh karena guyuran hujan, menjadi tempat pemberhentiannya. Ia berdiri di depan pagar kayu dengan kotak surat bertuliskan Millepied di sana. Mungkin mengetuk pintu adalah keputusan buruk jadi ia memutuskan un
Air mata awan pun akhirnya berhenti. Louis segera pergi dari sana ketika ia berkata telah menemukan hadiah yang sesuai. Ia kembali melewati jendela kamar Ian di lantai dua, sebelum berlari menuju rumahnya untuk mengambil beberapa barang.Louis sengaja tak masuk lewat pintu depan karena itu akan menarik perhatian orang-orang dan ia akan dihentikan dengan beberapa pertanyaan. Louis masuk melalui pintu belakang rumahnya setelah tak menemukan jendela yang terbuka untuk dilewati. Ia menyusuri lorong dengan berbagai macam lukisan di dindingnya untuk tiba di perpustakaan rumahnya. Setibanya, ia langsung menemukan barang yang sudah mendiami pikirannya sejak tadi. Lalu ia menarik beberapa lembar kertas dan pulpen yang ada di sana pula. Masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ransel, kemudian pergi dari sana secara diam-diam setelah mengambil sebuah kunci mobil.Dipikir semua itu akan berjalan mulus, rupanya Anthony menyadari kepulangan Louis. Sebelum Anthony membuat beberapa orang menyadarinya
Hari demi hari berlalu dan setiap malamnya tak akan ditemukan Louis tinggal di rumah. Pria itu kini mendedikasikan malamnya untuk seorang wanita yang bahkan belum bisa membalas perasaannya. Meninggalkan rumah setiap pukul sembilan dengan mobilnya, lalu menyusuri jalanan Newcastle yang cukup ramai hingga tiba di Ouseburn. Di situlah ia akan mengukir sejarah perjuangannya untuk memenangkan hati seorang wanita, sedangkan Wistletone's School menjadi saksi bisu aksinya yang belum dirasa.Anthony memang tak ikut serta. Namun, Louis telah menemukan cara untuk melewati tembok beruncing Wistletone's School. Ia memutuskan untuk memanjat atap mobil sebelum melompat layaknya kucing memburu seekor tikus. Setidaknya begitulah caranya mempermainkan keamanan Wistletone's School yang sudah terbukti belum pernah dilumpuhkan penjahat mana pun. Namun, Louis berhasil. Haruskah ia mendapat tropi atas pencapaiannya?Malam itu Louis kembali. Sama halnya malam-malam sebelum ini, mobilnya terparkir di balik te
Meski tahu bahwa hal buruk akan menabraknya seperti kereta, tak ada salahnya untuk membuat harapan, bukan? Walaupun pada akhirnya tak ada yang berani menatap wajah Richard Wistletone sebab kesalahan secara tidak langsung mereka akui. Keduanya hanya menatap lurus dengan posisi tegap dan kedua tangan yang disembunyikan di balik punggung."Pagi ini aku mendapat telepon dari Tuan Greenbones. Ia sebenarnya ingin menelponku semalam. Namun, itu tak sopan karena sudah larut. Ia mengatakan salah satu petugas pemerintah mempertanyakan sebuah mobil berwarna hitam berjenis Chevrolet Monza yang terparkir di sudut bangunan sekolah ini. Setelah Tuan Greenbones mengecek mobil tersebut, ia jelas mengenalinya karena mobil yang sama pernah datang kemari ditumpangi Anthony. Jelas, bukan Anthony pelakunya karena ia ada di rumah, tetapi itu dirimu, Louis," ucap Richard panjang lebar yang langsung disanggah putranya dengan berkata, "Pap, aku—"Namun, Richard memotongnya dengan rasa hormat. "Kumohon, jangan
Persetujuan Emma untuk ikut serta ke dalam petualangan yang Louis rencanakan secara mendadak membawa mereka ke Connacht setelah perjalanan darat dan laut yang melelahkan. Linus Wroldsen menyambut kedatangan Louis dengan kuning yang terang selagi menambahkan pelukan. Keduanya tampak begitu bersemangat setelah berpisah beberapa bulan saja dan beristirahat setelah kelelahan tuntutan kemiliteran. Buktinya pertukaran pelukan mereka belum terlepas hingga manik Linus menyadari kehadiran seseorang di balik kebahagiaan.Ia pun menarik tubuhnya untuk melepas pelukannya. Saat itu, Louis melihat kedua sudut-sudut bibir Linus terangkat perlahan. "Whoah, Wist. Jadi ini alasan di balik penolakanmu untuk undangan natal Desember nanti. Kau sudah memiliki seorang istri!" Louis terkekeh kencang, begitu pula hatinya yang tiba-tiba berseri kegirangan.Emma yang menjadi objek mencoba memadamkan kedua pipinya di bawah tekanan lelucon kedua tentara Britania itu. Ia berharap hanya segaris senyuman yang wajahn
Di sela-sela bisikan angin itu, senyuman Emma tercipta. Wajah seseorang pun muncul dalam kelapa. "Artur," gumamnya. "Dia anak laki-laki yang manis. Membuatku ingin memiliki seorang adik untuk dilindungi."Keheningan tiba setelah ucapan itu dan percakapan mereka sebelumnya telah terbang terbawa angin yang cukup kencang di atas tebing ini. Seperkian menit setelah membiarkan angin yang mendeklarasikan isi hatinya, Louis bertanya, "Apa yang kau tulis di sana?"Wanita itu menatap buku catatannya dan Louis secara bergantian sebelum menggeleng. "Bukan apa-apa." Lalu ia menutup sebuah halaman dengan cepat. "Hanya beberapa kisah tentang perjalanan kali ini." Kemudian jemarinya menarik beberapa helai rambut untuk disembunyikan di balik daun telinga."Bolehlah aku membacanya?" Emma terdiam sesaat sebelum mengatakan, "Sungguh, tak ada yang istimewa.""Hanya membacanya sedikit, Emma. Siapa tahu aku mendapatkan sedikit pengatahuan dari sana. Blighty Boys pernah berkata pengetahuan itu manis."Emma
Belum tepat sebulan Louis dan Emma sudah kembali Newcastle Upon Tyne karena undangan pesta ulang tahun dari Anthony Wistletone. Sebenarnya Emma sempat menolak ajakan Louis untuk menghadiri pesta karena dirinya merasa tidak enak dengan keluarga Wistletone sendiri terutama Richard Wistletone. Namun, Louis terus memaksanya dan akhirnya jelas Emma yang kalah. Ia hanya tidak siap untuk mengetahui berita hubungannya sudah didengar orang lain.Meninggalkan indahnya Connacht dengan cerita yang tersimpan di dalamnya, Ruenna membukakan pintu rumahnya lebar-lebar untuk salah satu sahabatnya itu agar ia bisa tinggal beberapa minggu lagi sebelum kembali ke asrama Wistletone's School. Ia sudah memutuskan untuk tak kembali ke Atherstone sampai libur Natal. Ia hanya tak ingin membuat orangtuanya kecewa.Maka ketika Rabu malam tiba, di mana beberapa kilat cahaya menembus pepohonan taman Wistletone hingga menampakkan bayangannya menempel di wajah awan, Louis dan Emma sudah dalam balutan pakaian pestany