“Bajingan! Sialan!” Gaza terus memaki dengan tangan tidak berhenti mendaratkan pukulan pada laki-laki yang mengerang kesakitan dan memohon ampunan akan tetapi tidak di indahkan oleh Gaza yang sudah lepas kontrol.“Gaza!” jerit Natasya dari atas ranjang dengan selimut putih yang terdapat bercak darah.“Aku bersumpah akan membunuh kamu brengsek!” Gaza tidak mengindahkan seruan Natasya.“Gaza! aku mohon sudah! Kamu bisa jadi pembunuh. Tolong lepaskan aku dulu.” Natasya menjerit kencang sekali karena Gaza masih kesetanan memukuli tamu Natasya.Gaza bagai tersiram air dingin mendengar kata lepaskan aku, seketika kepalanya berputar ke belakang untuk melihat Natasya. Ternyata yang ia lihat tadi hanya sekilas punggung terbuka sang wanita, tidak melihat kedua kaki dan tangannya terikat dengan tali.“Biadap!” Pukulan pamungkas Gaza layangkan pada laki-laki yang sudah babak belur hingga jatuh pingsan.Secepat kilat Gaza melepaskan empat ikatan di sana, memaksa matanya agar tidak melihat p
“Ini hasil Visum untuk bukti, jerat dengan hukuman mati kalau bisa.” Gaza berkata pelan pada Olan dengan melirik sekali Natasya yang terlelap di atas bangkar.“Tersangkanya kritis Ga,” bisik Olan.“Buat mati kalau bisa, dia hampir membunuh Diwang asal kamu tahu.” Gaza mengeratkan rahang saat ingat bagaimana keadaan Natasya saat ia menemukannya, bukan manusia laki-laki itu memperlakukan seorang manusia dengan mengikat tangan dan kaki Natasya agar tidak melawan.“Jangan gegabah ok, elu jaga Natasya saja. Yang ini biar gua urus, gua akan jadikan dia menerima balasan paling berat. Gila Ga, elu enggak menangis pas lihat Natasya pertama kali? kok elu bisa langsung tahu dia dalam bahaya hanya dari sebuah pesan nomor kamar hotel.” Olan ikut menatap Natasya yang tidur miring dengan tertutup selimut.“Feeling Lan, kalau gua nangis bagaimana gua bisa bawa Diwang kemari dengan pendarahan hebat. Tolong ya Bro, buat di brengsek itu merasakan neraka.” Gaza menatap nanar wajah pucat Natasya.Ol
Natasya memejamkan mata menahan perih saat Dokter mengecek luka punggungnya dengan mengganti perban luka jahitnya. Ia tidak memberitahukan siapapn mengenai keadaannya. Ia hanya sekali menerima panggilan Mami yang panik menanyakan kabarnya dan ingin melihat keadaannya. Namun Natasya menolak dengan dalih sedang menenangkan diri, ia tahu persis jika Mami akan berkata dengan banyak bualan untuk membujuknya mencabut laporan karena pasti rumah Mami Grace akan terbawa.“Sudah lebih baik Bu, mulai kering sedikit-sedikit. Luka jahitnya juga bagus. Sementara bersabar dulu ya Bu, pasti sangat susah tidurnya.” Dokter menarik selimut kembali untuk menutupi punggung terbuka Natasya setelah memeriksanya.“Terima kasih Dok,” jawab Natasya pelan.Dokter mengangguk menatap wajah datar Natasya sebelum kembali bersuara.“Ibu Diwangkari apa merasa lebih baik?” tanya Dokter hati-hati.Natasya memandang sesaat wajah Dokter yang menanganinya sedari awal. Mengangguk kecil tanpa bersuara.“Ibu ... mau s
“Maaf Mami aku butuh menenangkan diri, aku tidak tahu sudah sampai mana. Semuanya yang mengurus Gaza, mami lihat sendiri bagaimana parahnya kondisi aku. Sampai saat ini aku belum bisa tidur terlentang karena lukanya memang separah itu.” Natasya menunduk memijat keningnya dengan menyandarkan sebelah bahu pada kepala ranjang besar milik Gaza.“Aku paham, nanti aku tanyakan sama Gaza Mi.” Usai mengakhiri panggilan dari mami Grace, Natasya menonaktifkan kembali ponselnya. Menenggelamkan wajah pada bantal putih, Natasya menelungkup. Punggungnya sungguh belum bisa untuk tidur terlentang karena masih terasa sakit dan perih. Emosinya seketika menanjak karena permintaan Mami untuk mencabut tuntutannya pada tersangka yang sedang di ICU sampai saat ini. Natasya tidak habis pikir, apakah Mami sudah tidak memiliki hati nurani. Ia baru saja mengalami penyiksaan yang sangat membuat mentalnya down. Dengan tidak berperasaannya Mami justru meminta hal yang tidak akan pernah ia lakukan. Dari sekia
“Apa aku harus membalas perasaan kamu karena kamu sudah menolong dan menyukai aku Ga?” Natasya bertanya dengan kepala masih bersandar pada bahu bidang Gaza.“Tentu saja enggak, masalah perasaan aku adalah urusan aku. Kamu tidak ada tanggung jawab apapun untuk membalasnya. Aku hanya minta kamu berhenti Diwang, bukan meminta kamu juga memiliki perasaan yang sama.”“Aku bisa berhenti minum, tapi tidak bisa berhenti merokok Ga,” kilah Natasya.Gaza berdecap kesal dan tidak menimpali lagi perkataan Natasya yang jelas enggan membahas pekerjaannya sebagai wanita malam.“Ga ... kamu bisa baca rasi bintang?” Natasya memecah sunyi yang kembali membentang diantara mereka berdua.“Enggak bisa, dan enggak tertarik. Aku tahu kamu paling suka di romantisi, tapi maaf aku tidak bisa memberikan itu. Jadi selamat gigit jari jika berharap aku menjadi romantis.” Gaza bersungut-sungut saat mengingat bagaimana Natasya sangat tergila-gila dengan laki-laki yang memberikannya puisi dan menyanyikan lagu d
Natasya mengenakan kaca mata hitam dengan mengikat rambutnya tinggi. Melenggangkan kaki tenang menuju rumah Mami Grace. Pandangan beberapa kawan Natasya lainnya tertuju pada Natasya yang sudah sekian lama tidak terlihat dan tiba-tiba menggemparkan rumah Bordil yang menaungi para pekerja malam.“Sya ... are you ok?” seorang kawan berparas oriental menyapa Natasya dengan menyentuh lengannya pelan. “Tentu saja tidak ok, aku harus jalani rekonstruksi punggung.” Natasya menjawab dengan berlebihan.“Astaga Sya kamu serius?” Hellen melebarkan mata mendengarnya“Mami ada ‘kan?” tanya Natasya ringan tanpa menjawab pertanyaan Hellen“Ada Sya, tapi sepertinya sedang istirahat. Beberapa hari ini pusing katanya,” jawab Hellen masih penasaran dengan kondisi punggung teman sejawat yang menjadi primadona di rumah Mami Grace.Natasya mengangguk kecil melanjutkan langkah kakinya melewati undakan kecil menuju ruangan tengah tempat ia dan yang lainnya bersantai kala tidak ada job. Di sudut ruanga
“Dimana Ga?” Natasya bertanya saat menghubungi Gaza di dalam taksi yang membawanya pergi dari rumah Mami Grace.“Kantor, kenapa?” Gaza menjawab singkat tanpa Natasya tahu jika Gaza sedang menandatangani banyak berkas yang tertunda karena insiden kamar Hotel Natsya.“Aku baru saja memutus kerja sama dengan Mami, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Aku harus tunggu kamu pulang atau aku boleh ke kantor kamu? atau tidak boleh?” Natasya memberondong dengan pertanyaan pada Gaza.“Iya datanglah,” jawab Gaza.“Aku pakai celana pendek tapi.” Natasya meledek dengan menahan tawa.“Nanti aku papas di depan dan bawakan sarung buat kamu pakai.” Gaza menjawab asal dan membuat Natasya yang mendengarnya tertawa berderai-derai di dalam taksi dan membuat sang driver melirik sekilas pada penumpangnya.Dalam waktu sekejap mood Natasya berubah drastis, ia keluar dari rumah Mami Grace dengan emosi membuncah serasa ingin memakan orang. Akan tetapi setelah Natasya mendengar ucapan asal Gaza di balik
“Diwang,” geram Gaza tertahan.“Ucapan terima kasih karena sudah menangisi aku semalaman saat aku sekarat.” Natasya menyeringai lebar setelah mendengar geraman Gaza.“Ucapkan saat di Apartemen,” dengus Gaza yang menjadikan Natasya tertawa lebar melipat kedua tangannya di dada.Gaza kembali menenggak minuman kalengnya, melonggarkan dasi dan kancing pada leher kemeja yang tiba-tiba terasa mencekik. Memandang Natasya dengan menyilangkan kaki dan menyandarkan punggungnya pada sofa.“Mau diam sampai kapan Diwang? Kamu datang kemari mau cerita bukan?” tanya Gaza begitu melihat Natasya hanya diam saja memandangnya.“Kamu sedang bad mood sepertinya, aku jadi malas cerita.” Natasya memilih membatalkan ceritanya.Gaza melepas ikatan dasi dan meletakannya di meja, menautkan kedua tangannya dengan menumpukan siku pada kedua lutut.“Sidang akan segera di gelar, kamu akan dipertemukan dengan tersangka. Apa kamu siap bertemu dengan dia? kalau kamu enggak sanggup, aku akan minta kamu tidak pe
“Kamu enggak bisa main ini, nanti kalau jatuh terus berdarah ... aku dimarahi papa kamu dan kamu akan dimarahi mama kamu,” seru suara anak laki-laki usia tujuh tahun. “Ih tapi aku mau ikut naik,” teriak suara anak perempuan. “Kamu pakai rok, Neta. Nanti kelihatan celana dalamnya,” timpal suara anak-anak lainnya. “Kan aku pakai celana pendek, enggak akan kelihatan,” bantah suara perempuan. Natasya terkekeh kecil, menjawil lengan suaminya yang asyik bermain ponsel dengan kaca mata melorot. “Apa?” tanya Gaza. “Itu putri kamu sedang beradu sama dua abangnya, sana samperi,” kekeh Natasya. “Biarkan saja, Shaka lebih keras kepala dibandingkan Neta. Mari kita hitung mundur berapa lama Neta menjerit panggil mama,” jawab Gaza. Tidak sampai hitungan lima setelah mendengar perdebatan di ruang bermain, jeritan melengking terdengar disusul tangisan merobek
“Heh gila! gua bilang pakai uang kantor. Wah pelanggaran.” Gaza berseru menggeplak punggung Olan yang datang bersama Vero dalam satu mobil membuntuti sebuah truk barang salah satu perusahaan elektronik besar. Gaza meminta nota pelunasan dan tidak diberikan oleh Olan dengan seringai menjengkelkan. Olan berkata lemari penyimpan asip hadiah dari mereka berdua untuk Yumna Zanneta Hernando. Putri kecil Gaza dan Diwang yang menggemparkan seantero perkantoran milik papa sang bayi. “Sudahlah Bro terima saja, elu saja gua tanya baik-baik ngelesnya bukan main. Elu menolak rezeki anak elu, hah?” Olan pura-pura melebarkan mata sementara Vero terkekeh akan dua manusia dewasa di sana yang hendak saling berkelahi. “Bukan enggak terima rezeki anak, tapi memang gua inginnya kebutuhan primer dia ya bapaknya yang belikan. Ya sudah karena gua tahu nomor rekening elu, gampanglah urusannya.” Gaza terkekeh merasa menang. “Gua ta
“Mari begadang, Papa,” kekeh Natasya. Yumna Zanneta Hernando telah diperbolehkan pulang dengan mamanya setelah dua hari pasca kelahirannya. Tidak ada sambutan mewah atau sejenisnya, keluarganya paham jika orang tua baru perlu istirahat dan diberikan ruang menikmati kebahagiaan kehadiran putri kecil ditengah-tengah mereka. Jadi saat Natasya dan bayinya pulang, tidak ada yang menjemput dan menyambut di rumah mereka. “Siap, Mama. Kamu duduk dulu sana, akunya masih ngilu lihat kamu jalan saja masih pelan begitu.” Gaza masih menggendong putri kecilnya begitu masuk ke kamar mereka. Natasya mengangguk, menunjuk boks bayi yang menempel pada tepi ranjang mereka di sebelah kanan agar Neta yang lelap dalam gendongan Gaza diletakan di sana. Gaza menurut, meletakan bayi mereka dengan sangat amat perlahan cenderung masih takut dan kaku. Melihatnya membuat Natasya tersenyum, ia hanya diperbolehkan memegang Neta saat perjalanan di mobil d
“Mandi,” bisik Natasya. Gaza terkekeh kecil dengan menatap lembut manik mata wanita dengan mata bengkak dan seluruh wajah bengkak. Membelainya dengan senyuman lebar tanpa suara. Setelah tiga jam pasca melahirkan, Natasya terlelap setelah bayi perempuan mereka menerima asi pertama darinya. Kelahiran yang tidak mudah dan sempat membuatnya ingin menyerah setelah satu jam lebih pembukaan lengkap namun tidak jua lahir. Saat berhasil dilahirkan, suara tangisannya merobek ruang persalinan hingga kedua orang tuanya tergugu dalam kebahagiaan tiada terkira. Natasya langsung terlelap kelelahan dan dibangunkan saat harus kembali menyusui putrinya. “Kusut banget ya?” Gaza menimpali perkataan istrinya yang memintanya mandi. “Iya, kusut sekali. Nanti anaknya cium bau asem pas digendong,” kelakar Natasya.Gaza terkekeh kecil mengangguk. “Iya nanti sebentar lagi mandi, kamu benar sudah enggak sakit duduk begini?”
“Sayang ... kamu lihat tas yang isinya pembalut melahirkan? Perasaan aku taruh dekat tas yang mau dibawa ke rumah sakit nanti deh,” tanya Natasya. “Ada di situ aku lihat tadi. Yang warna biru kan?” Gaza mendekati Natasya yang memakai daster tanpa lengan berjalan mondar-mandir. “Enggak ada kok aku cari dari tadi, kamu buang?” tanya Natasya.Gaza berdecap. “Ya masa aku buang Sayang, kan aku yang beli. Kepintaran amat.” Natasya terkekeh kecil kembali mencari, tarikan nafas Natasya yang tertangkap oleh telinga Gaza membuat Gaza berhenti bergerak. “Sayangku cintaku manisku, bisa tolong kamu duduk manis saja? kamu ngos-ngosan sekali aku dengar. Biarkan suami kamu ini yang cari,” papar Gaza. Natasya menyeringai, memasuki bulan delapan Natasya mulai sering kelelahan padahal hanya berjalan-jalan sebentar. Nafas sering ngos-ngosan dan kegerahan setiap saat padahal pendingin ruangan menyala nonstop 24
“Ya Tuhan ... aku pikir kenapa sampai jongkok di depan kulkas menangis, nanti kita beli lagi ya, aku akan ke sana hari ini buat lihat apa sudah buka atau belum. Sudah Sayang sudah ayo bangun.” Gaza membantu Natasya bangun setelah mbak di rumah berlarian menghampiri dirinya yang sedang duduk menonton film, mengatakan bahwa istrinya menangis di pojok dapur. Gaza pikir istrinya kenapa-kenapa, saat ia hampiri ternyata tangan Natasya sedang memegang mangkok puding karamel dengan saos karamel yang sisa sedikit. Gaza menahan tawa sekaligus meringis saat istrinya bercerita bahwa ia tidak rela karamelnya tumpah. “Tapi bapaknya masih di rumah sakit, dan ini puding terakhir. Enggak tahu kapan bisa buat lagi.” Natasya terisak penuh kesedihan dengan tangan memegang mangkuk erat-erat. “Nanti aku akan cek ya Sayang, semoga sudah buka. Sudah jangan menangis lagi ya, semoga lekas berlalu ya fase sensitif ini.” Gaza memutuskan memeluk istr
“Oh maaf saya tidak buka, Bu. Saya hanya mau mengambil sesuatu di dalam,” jawab sang pemilik toko kue. “Iya maaf Pak, kami memang ke sini mau beli awalnya eh ternyata tutup. Ayo Sayang kita pulang saja ya.” Gaza segera menggandeng Natasya untuk kembali ke mobil mereka yang terparkir di depan toko tersebut. “Apa masih lama Pak, bukanya?” tanya Natasya. “Saya tidak bisa pastikan, Bu. Anak saya sedang di rawat, dan saya hanya mau ambil puding untuk anak saya yang minta. Nanti kalau sudah sehat kembali, baru saya buka.” Pemilik toko menjawab dengan tangan membuka gembok pada pintu kacanya. “Apa puding karamel siram fla, Pak?” Natasya bertanya dengan mata berbibar-binar.Gaza menunduk dengan menghela nafas panjang. “ Sayang, kamu mengganggu bapaknya sedang buru-buru mau kembali ke rumah sakit. Maaf ya, Pak.” “Ibu mau beli puding karemel fla? Ibu sedang hamil?” terka pemilik toko.
Gaza melepas tawa lebar dengan meraba celana belakangnya, masih dengan tertawa, Gaza menganggukkan kepala dan kembali duduk di samping istrinya yang kebingungan mengapa ia tertawa selebar itu. “Tahu kok, ya ampun tadi pagi aku sangat malu, Sayang. Aku enggak tahu dari kapan robeknya, apa dari rumah apa di mobil. Pas turun mobil di tegur sekuriti depan, dan langsung tarik tangan aku untuk mepet tembok lobi. Aku pikir kenapa ini sekuriti kurang ajar sekali main tarik-tarik eh tahunya mau membisiki kalau celana aku robek.” Gaza kembali tertawa “Ya ampun,” kekeh Natasya. “Aku enggak bisa pulang lagi karena ada meeting dengan dua orang penting dan enggak bawa celana ganti juga. Alhasil aku minta Olan selalu jalan belakang aku dan agak mepet biar enggak dilihat orang, Olan sampai tertawa puas sekali dia, kurang ajar memang. Kecangkol apa ya kira-kira?” Gaza masih geli sekali mengingat ia tidak tenang takut tiba-tiba bangun dari k
“Ibu ... Ibu ... jangan Bu, aduh,” seru salah satu karyawan Natasya di klinik. Natasya berada di klinik kecantikannya karena datang stok barang dalam jumlah banyak. Seluruh karyawan sudah tahu jika sang owner tengah hamil dan sudah diberi pesan tegas oleh Gaza bahwa Natasya hanya mengawasi dan menerima laporan. Tidak ada mondar-mandir dan tidak ada angkat barang sekecil apa pun. Natasya kena seruan karyawannya saat menyentuh sebuah serum dalam kardus yang masih tertutup rapat. Karyawannya mengira jika ia akan mengangkatnya. “Aruna ... aku mau baca saja, ok,” kekeh Natasya. “Aduh Ibu pokoknya duduk saja sudah. Kan aku ada di samping Ibu, tinggal tunjuk mana yang mau dibawa dan mana mau digeser. Nanti saya kena pecat bapak,” rengek Aruna.Natasya tergelak. “Aku yang gaji kamu, bukan bapak.” “Iya tapi laporan yang ditunggu bapak dari saya macam militer, Bu. Katanya kalau sampai bapak lihat di cctv Ibu pegang-