Puspa tidak dapat memahami ini. Matanya memerah memikirkan keberadaan Universitas Praharsa dihapus bersih. Daffa sudah kembali tenang. Dia terlihat berpikir seraya dia mengetukkan jarinya di meja. Benaknya terlihat jelas sedang merencanakan sesuatu, jadi tidak ada yang mengatakan apa-apa untuk mengganggu jalan pikirnya.Mereka mengamati Daffa dalam diam, menunggu dia mencapai sebuah kesimpulan. Mengejutkan bagi mereka, Daffa memandang mereka sambil tersenyum alih-alih mengungkapkan sesuatu dan berkata, “Kalian tidak perlu berdiri di sana dan memandangku. Pergi dan uruslah urusan kalian.” Erin bergegas pergi mendengarnya.Daffa menoleh ke arah Puspa. “Terutama kamu. Jangan tergesa-gesa melakukan sesuatu. Kamu tidak akan bisa mengubah apa-apa.” Setelah itu, Daffa terdiam dan kembali fokus pada pekerjaannya lagi.Bibir Puspa berkedut. Pada akhirnya, dia berbalik dan perlahan berjalan ke luar kamar Daffa. Dalam perjalanannya ke luar, Puspa terus menoleh ke belakang, berharap akan menden
“Dia benar, Tuan. Anda sungguh ahli bela diri terbangkit paling luar biasa yang pernah saya temui. Saya tidak percaya Anda terpikirkan untuk menggunakan kekuatan jiwa Anda untuk membantu Anda bekerja! Saya yakin dunia akan bersukacita jika Anda menulis buku tentang cara-cara memanfaatkan kekuatan jiwa,” ujar Briana dengan antusias.Daffa tersenyum, tapi senyuman itu memudar. Dia tidak begitu senang ditatap oleh kedua wanita itu dengan penuh rasa kagum. Itu berarti mereka akan mulai berpikir yang tidak-tidak. Daffa mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Cukup. Kenapa kalian datang kemari?”Mereka berdua menegakkan tubuhnya dalam diam mendengar perkataan Daffa, membuat Daffa tersenyum. Ruangan itu terlalu gelap bagi Erin untuk melihat raut wajah Daffa, tapi itu bukan sebuah masalah bagi Briana. Alih-alih mengatakan sesuatu, Briana hanya memandang Daffa sambil tersenyum.Erin berkata, “Kami berpikir kita bisa meninggalkan Kota Almiron malam ini, tapi kami lupa untuk mempertimbangkan
Daffa tahu panggilan telepon ini mungkin tidak akan memberikannya berita yang dia ingin dengar, tapi dia tetap menjawabnya. Di ujung telepon lainnya berisik. Beberapa detik kemudian, suara seorang pria yang mabuk terdengar.“Daffa, aku benar-benar tidak memahamimu. Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Aku pernah menjadi seniormu, bukan? Bukankah kita bekerja bersama dengan baik? Bagaimana bisa kamu menghancurkan segalanya seperti itu? Aku tidak mau menerima ini!”Pria itu jelas-jelas kesulitan mengatakan kata-kata itu, tapi Daffa tetap tahu siapa dia. Daffa dengan dingin berkata, “Ansel, kamu minum-minum terlalu banyak.” Dia perlahan menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya untuk menyembunyikan kekecewaannya.Daffa sempat memiliki harapan yang tinggi untuk Ansel dan mengira Ansel adalah orang yang bisa berdiri di sisinya sebagai orang yang setara dalam waktu yang dekat, tapi Ansel telah mengkhianatinya. Malah, tampaknya Ansel belum menanggung konsekuensi yang besar atas
Ansel memejamkan matanya dengan putus asa. “Aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar, tapi aku tidak mampu berpikir ketika aku membaca pesan yang mereka kirimkan padaku. Mereka memberi tahuku mereka ingin menjelajahi kemungkinan aku menikahi Puspa!”Dia berjongkok dan melingkarkan lengannya di sekitar kepalanya, dengan gemetar berkata, “Aku tahu aku seharusnya tidak pergi ke sana, tapi aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri.” Dia mendongak ke arah Daffa sambil menangis. “Itulah sebabnya aku mengkhianatimu—Keluarga Sanjaya setuju untuk menikahkan Puspa dengan aku.”Daffa duduk di belakang mejanya, terlihat dingin. “Kamu mengkhianatiku? Apa yang kamu katakan pada mereka? Apakah itu tentangku atau West Atlantics Int’l?”Ansel terlihat kebingungan selama sepersekian detik sebelum menggelengkan kepalanya dengan heboh. “Tidak, tidak! Aku tidak mengatakan apa-apa!” Suaranya menjadi kian kecil di penghujung kalimatnya dan dia tidak berani bertatapan dengan mata Daffa. Daffa menget
“Kamu jelas-jelas tidak termasuk dalam kategori mana pun, jadi kurasa kamu harus memanggilku sebagai ‘Tuan Halim’ dan bukan yang lain.” Mata Daffa dingin.Benak Ansel menjadi kosong selama sesaat. Dia tidak tahu apa yang Daffa siratkan … atau mungkin dia tahu tapi menolak untuk berpikir lebih lanjut. Ansel tersenyum dengan getir, tahu kalau kata-kata Daffa masuk akal.Kalaupun Keluarga Bakti kacau balau, Ansel tetaplah ahli waris mereka satu-satunya—keberadaannya penting untuk keberlanjutan keluarganya, yang berarti dia tidak bisa mengikuti Daffa ke mana pun dia pergi, tidak seperti Alicia ataupun Erin. “Aku mengerti, Tuan Halim. Apakah ada lagi yang harus kulakukan atau konsekuensi yang harus kutanggung untuk terus bekerja bersamamu?”Daffa menyandarkan punggungnya dan meletakkan tangannya di sandaran tangan kursi. “Kita berasal dari almamater yang sama, jadi aku tidak meragukan kemampuanmu. Aku yakin kamu bisa membangun stasiun televisi terbesar di negara ini!”Kepala Ansel mendo
“Namun, kurasa itu bukan ide yang bagus.” Daffa mengetukkan jarinya di meja dengan runtutan yang cepat. “Karena itu, aku harus minta maaf karena menolak permintaanmu.” Dia memandang William tanpa bergerak, seakan-akan dia tiba-tiba berubah menjadi patung.Namun, William tahu Daffa hanya menunggu dia merespons. Merasa gugup, William menelan ludah dan membuka mulutnya untuk dengan gemetar berkata, “Saya mengerti, Tuan Halim. Ini salah saya karena tidak memikirkan hal ini dengan baik-baik dan saya akan memperbaikinya.” Setelah mengatakan itu, William bergegas keluar dari ruangan secepat mungkin.Ketika keheningan menjatuhi ruangan itu lagi, Daffa mencondongkan badannya. Dia menyangga kepalanya dengan lengannya sambil membaca laporan yang baru saja William serahkan padanya.Dia terkejut melihat betapa ringkas dan mudah dipahaminya laporan itu. Untuk waktu yang lama, Daffa kira William tidak berguna. Namun, tampaknya dia keliru. Malah, laporan itu dibuat dengan sangat baik dan itu membua
Seorang wanita tinggi berdiri di sampingnya. Si kerdil hanya mencapai pinggang wanita itu. Daffa melirik mereka sebelum pergi, tapi itu tidak berjalan sesuai yang direncanakan. Begitu dia berbalik untuk pergi, si kerdil bergegas berdiri menghalanginya. “Aku sedang berbicara padamu, bocah. Aku tidak pernah melihatmu di Kota Almiron sebelumnya. Kamu pasti salah satu dari orang-orang yang datang untuk uang hadiahnya.”Orang kerdil itu menatap Daffa dengan arogan dan melanjutkan, “Kusarankan kamu pergi sekarang. Kalian orang-orang miskin tidak tahu seperti apa rasanya menjadi orang kaya, jadi tidak mungkin usulanmu akan diterima!”Wanita di sampingnya tertawa mengejek, kemudian berkata, “Beri mereka kesempatan, Pak. Setidaknya, mereka akan mendapatkan makanan gratis.”Daffa mengangkat sebelah alisnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berjalan menghindari orang kerdil itu untuk pergi. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyuruh seseorang mengusir orang kerdil itu. Namun, ketika
Daffa menaikkan sebelah alisnya melihat lebam di pergelangan tangan Erin dan melingkarkan lengannya di pundak Erin. Kemudian, Daffa menginjak Vic dan berkata, “Aku berniat mengampunimu, tapi tampaknya itu tidak perlu. Mungkin kamu baru akan puas ketika kamu tidak bernyawa dan dibawa pergi di dalam kantong mayat.”Mata Vic membelalak mendengar perkataan Daffa, tapi tidak ada sedikit pun keraguan di nada bicaranya ketika dia meraung, “Cukup! Apakah kamu sadar seberapa tidak masuk akal perkataanmu itu? Aku hanya tertarik dengan wanita cantik di pelukanmu dan ingin membawanya pulang bersamaku, tapi kamu ingin merenggut nyawaku! Itu sangat tidak adil!”Daffa tersenyum, tapi kerumunan orang itu menggigil karena senyumannya sangat dingin. Daffa menekan kakinya, baru berhenti ketika dia mendengar suara tulang patah. Vic terbaring di tanah, terlihat pucat karena rasa sakut itu. Namun, dia tidak dapat bersuara. Sesuatu terasa tersangkut di tenggorokannya!Daffa memandangnya dengan menghina, k
Kemudian, Daffa fokus pada layar, alisnya sedikit berkerut. Dia tidak mengerti bagaimana video itu bisa disunting untuk membuatnya terlihat seperti dia telah mengganggu gadis itu tanpa alasan.Erin mengernyit. “Tuan, mungkinkah gadis itu pelakunya?”Daffa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, tapi kurasa dia tidak sebodoh itu. Ini tidak menguntungkan dia sedikit pun.” Daffa terdengar dan terlihat tenang dan dia berjalan ke depan dengan percaya diri. Erin memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengikuti Daffa tanpa bersuara. Saat mereka berjalan ke luar jalur naratama, mereka dikelilingi oleh kamera yang berkedip dan beberapa reporter menghalangi jalan mereka. Alis Daffa berkerut dalam dan dia memasukkan tangannya ke dalam saku, terlihat tidak senang. Dia menoleh ke arah Erin dan berkata, “Hubungi departemen legal dan suruh mereka selesaikan ini sekarang juga.”Matanya dingin dan dia berbalik untuk kembali berjalan maju. Erin mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Pada saat ini,
Gadis itu memekik, “Pertama-tama, aku tidak merasa aku kelewatan—aku hanya ingin kamu minta maaf padaku dan bukan pada orang lain! Kedua, permintaan maafmu tidak membuatku puas. Sebaliknya, itu hanya membuatku makin kesal! Ketiga, pesuruhmu menegurku, padahal aku tidak salah apa-apa, jadi kamu harus memecat dia! Kalau kamu tidak melakukan segala hal yang baru saja kukatakan … aku tidak memiliki pilihan lain selain menyebarkan ini di seluruh internet. Ketika itu terjadi, kamu akan dikritik oleh semua orang. Kuharap kamu cukup kuat untuk menerimanya!” Dia menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi, terlihat puas dengan dirinya sendiri.Daffa menyipitkan matanya. Kesabarannya untuk gadis itu sudah habis, jadi Daffa menegakkan tubuhnya dan berjalan mundur. Gadis itu menyeringai, berpikir Daffa akan berusaha sekuat tenaga untuk meminta maaf padanya. Sayangnya baginya, ponselnya meledak terbakar. Panasnya sangat intens hingga gadis itu merasa seperti kulitnya terbakar.Dia mengeluarkan teriakan
Suara Daffa menjadi jauh lebih lembut. “Kamu boleh duduk. Tidak akan ada yang terjadi pada pesawatnya.”Di sisi lain, Erin sudah mengambilkan baju ganti untuk Daffa dari tasnya. Erin menyerahkannya pada Daffa dengan kedua tangannya, bersamaan dengan beberapa tisu basah dan kering. “Tuan, Anda tidak bisa mandi di pesawat, jadi Anda hanya bisa menggunakan ini saja.”Daffa tidak menduga ini dan dia pun tersenyum. Dia mengangguk dan berkata, “Terima kasih.” Lalu, dia bangkit berdiri dan beranjak ke kamar kecil dengan pakaian dan tisu basah itu. Tepat ketika semua orang berpikir dia akan menutup pintunya dan berganti baju, Daffa tiba-tiba berhenti dan menoleh untuk memandang sebuah pojokan pesawat itu. Seorang gadis yang terlihat seperti berusia sekitar 18 tahun duduk di sana.Daffa menyipitkan matanya dan berjalan menghampirinya. Orang-orang yang Daffa lewati merasa bulu-bulu mereka berdiri karena rasa takut mereka. Gadis itu memandang Daffa dengan takut-takut, tapi matanya terlihat ker
Mata Erin berbinar mendengar kata-kata Daffa. Mereka sudah mulai bersiap-siap untuk kembali ke Kota Aswar semalam, tapi itu tertunda karena mereka harus mengurus hal-hal remeh ini.Erin tersenyum dan mengeluarkan ponselnya untuk memesan tiket pesawat, menghela napas lega ketika dia selesai melakukannya. “Tuan, saya telah memesan tiket pesawat untuk pukul 4:00 sore. Kita akan tiba di Kota Aswar pukul 6:00 malam.”Daffa mengangguk. “Kalau begitu, waktunya kita berkemas.”Waktu berlalu dengan cepat. Sebelum mereka menyadarinya, sudah hampir pukul 4:00 sore. Mereka berkemas tanpa hambatan, membuat Daffa gelisah saat mereka menaiki pesawat. Nalurinya sebagai ahli bela diri terbangkit memberitahunya bahwa akan ada hal buruk yang terjadi. Daffa terus berusaha memikirkan apakah dia telah melupakan sesuatu, tapi tidak ada yang terpikirkan. Dia mengernyit dan menjepit batang hidungnya sebelum menghela napas.Kemudian, dia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, membiarkan kekuatan
Alicia menekan roknya ke bawah sebelum berlari ke luar secepat mungkin untuk mencari Daffa. Dia telah melakukan kesalahan besar dan harus meminta maaf pada Daffa sebelum terlambat.Di sisi lain, Daffa sudah memasuki mobilnya. Namun, dia belum menyalakannya. Erin duduk di kursi belakang alih-alih duduk di samping Daffa seperti yang dia lakukan dalam perjalanan menuju kemari. Daffa menyandarkan punggungnya dengan mata yang terpejam.Daffa tidak mengatakan apa-apa, tapi suasana di dalam mobil itu sangat tegang hingga Erin merasa tercekik. Erin baru hendak menyerah ketika Alicia berlari menghampiri mereka dan berhenti di dekat kursi belakang. Alicia meletakkan tangannya di gagang pintu dan hendak membukanya ketika pintu itu terbuka untuk menampilkan wajah Erin yang tersenyum.Alicia terkejut oleh hal itu dan menggumam, “Erin?”Senyum Erin kian merekah. “Kamu bisa duduk di depan. Tuan Halim sudah lama menunggu.” Suaranya lembut, membuat Alicia tenang. Alicia mengangguk dan menutup pintu
“Tuan Halim, saya sadar saya telah melakukan kesalahan besar. Saya harap Anda akan memberikan saya kesempatan lain—saya bersumpah saya tidak akan membiarkan ini terjadi lagi!” Penjaga keamanan itu gemetar hebat, tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.Penjaga itu menatap Daffa dengan tatapan memohon, tidak tahu bagaimana Daffa akan bereaksi. Dia tidak tahu apa-apa tentang Daffa, hanya mendengar orang lain berkata kalau Daffa hebat. Berdasarkan apa yang telah dia dengar, Daffa bukan hanya cerdas, tapi juga lebih kuat dari rata-rata individu—rupanya, Daffa jarang bertemu lawan yang lebih kuat dibandingkan dengannya, jadi tidak ada yang pernah menyaksikan Daffa kalah dalam pertarungan. Sekarang, orang yang sudah seperti dewa ini berdiri di hadapannya.Daffa telah memberikannya kesempatan sebelumnya, tapi dia malah menyia-nyiakannya. Penjaga keamanan itu menjadi putus asa memikirkannya—satu-satunya harapan baginya adalah Daffa cukup baik hati untuk memberikannya kesempatan lain. Namun, tida
Daffa menaikkan sebelah alisnya melihat lebam di pergelangan tangan Erin dan melingkarkan lengannya di pundak Erin. Kemudian, Daffa menginjak Vic dan berkata, “Aku berniat mengampunimu, tapi tampaknya itu tidak perlu. Mungkin kamu baru akan puas ketika kamu tidak bernyawa dan dibawa pergi di dalam kantong mayat.”Mata Vic membelalak mendengar perkataan Daffa, tapi tidak ada sedikit pun keraguan di nada bicaranya ketika dia meraung, “Cukup! Apakah kamu sadar seberapa tidak masuk akal perkataanmu itu? Aku hanya tertarik dengan wanita cantik di pelukanmu dan ingin membawanya pulang bersamaku, tapi kamu ingin merenggut nyawaku! Itu sangat tidak adil!”Daffa tersenyum, tapi kerumunan orang itu menggigil karena senyumannya sangat dingin. Daffa menekan kakinya, baru berhenti ketika dia mendengar suara tulang patah. Vic terbaring di tanah, terlihat pucat karena rasa sakut itu. Namun, dia tidak dapat bersuara. Sesuatu terasa tersangkut di tenggorokannya!Daffa memandangnya dengan menghina, k
Seorang wanita tinggi berdiri di sampingnya. Si kerdil hanya mencapai pinggang wanita itu. Daffa melirik mereka sebelum pergi, tapi itu tidak berjalan sesuai yang direncanakan. Begitu dia berbalik untuk pergi, si kerdil bergegas berdiri menghalanginya. “Aku sedang berbicara padamu, bocah. Aku tidak pernah melihatmu di Kota Almiron sebelumnya. Kamu pasti salah satu dari orang-orang yang datang untuk uang hadiahnya.”Orang kerdil itu menatap Daffa dengan arogan dan melanjutkan, “Kusarankan kamu pergi sekarang. Kalian orang-orang miskin tidak tahu seperti apa rasanya menjadi orang kaya, jadi tidak mungkin usulanmu akan diterima!”Wanita di sampingnya tertawa mengejek, kemudian berkata, “Beri mereka kesempatan, Pak. Setidaknya, mereka akan mendapatkan makanan gratis.”Daffa mengangkat sebelah alisnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berjalan menghindari orang kerdil itu untuk pergi. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyuruh seseorang mengusir orang kerdil itu. Namun, ketika
“Namun, kurasa itu bukan ide yang bagus.” Daffa mengetukkan jarinya di meja dengan runtutan yang cepat. “Karena itu, aku harus minta maaf karena menolak permintaanmu.” Dia memandang William tanpa bergerak, seakan-akan dia tiba-tiba berubah menjadi patung.Namun, William tahu Daffa hanya menunggu dia merespons. Merasa gugup, William menelan ludah dan membuka mulutnya untuk dengan gemetar berkata, “Saya mengerti, Tuan Halim. Ini salah saya karena tidak memikirkan hal ini dengan baik-baik dan saya akan memperbaikinya.” Setelah mengatakan itu, William bergegas keluar dari ruangan secepat mungkin.Ketika keheningan menjatuhi ruangan itu lagi, Daffa mencondongkan badannya. Dia menyangga kepalanya dengan lengannya sambil membaca laporan yang baru saja William serahkan padanya.Dia terkejut melihat betapa ringkas dan mudah dipahaminya laporan itu. Untuk waktu yang lama, Daffa kira William tidak berguna. Namun, tampaknya dia keliru. Malah, laporan itu dibuat dengan sangat baik dan itu membua