Arya kembali menemukan petunjuk lain tentang keberadaan Ki Santana, villa mata indah."Dimana lagi keberadaan villa mata indah ini?" gumam Arya.Arya kembali harus menanyakan lagi tentang keberadaan villa indah mata itu, dan menemukan jawaban jika villa itu ada di pinggiran kota itu.Arya berjalan, dan memilih untuk menemukan keberadaan villa itu dari pada harus mengisi perutnya. Arya lebih tertarik untuk mencari Ki Santana dari pada mengisi perut.Arya kini berdiri di bangunan yang begitu besar, dan memiliki struktur bangunan seperti pagoda."Apakah ini sungguh villa mata indah?" gumam Arya yang merasa jika bangunan itu bukan mirip seperti villa.Arya mendekat, dan Arya kaget saat dua orang gadis dengan pakaian tipis yang menggoda menjemput Arya."Ada apa ini?" tanya Arya bingung."Kau adalah tamu, sudah pasti kami sambut dirimu!" kata salah satu gadis yang sambut Arya."Aku bukan tamu, aku hanya ingin bertemu dengan Ki Santana," kata Arya."Ki Santana?" Dua gadis itu melepaskan ta
Kota Batia, itulah nama kota yang dimasuki Arya di pulau siluman ular hijau, kota itu merupakan satu-satunya kota di wilayah kekuasaan siluman ular itu.Arya berjalan di sekitar kota Batia dan melihat warga kota itu tidak seperti manusia, meskipun mereka hidup layaknya manusia.Arya memasuki sebuah kedai yang sangat ramai, itu yang menarik perhatian Arya, karena sangat ramai terlihat dari luar."Maaf tuan, jika tuan tidak memiliki koin, sebaiknya jangan masuk!" kata penjaga pintu kedai itu."Aku punya!' jawab Arya pendek."Baiklah, jangan salahkan kami jika kau nanti akan mendapatkan pelajaran!" kata penjaga pintu masuk kedai yang sebesar rumah makan itu.Saat Arya masuk, yang ramai itu ternyata adalah rombongan putri ular, putri Nagini."Ini ternyata yang buat rumah makan ini ramai!" ucap Arya.Arya makan, dan menikmati makanan di negeri siluman itu, sesekali matanya melirik ke wajah putri Nagini yang cukup menarik hatinya."Koin apa ini? Apa kau pikir ini berlaku di kota ini? Ini ko
Arya dan putri Nagini masih terus bicara, dan kini pembicaraan merasa tidak lagi menggunakan urat."Sudah saatnya aku kembali!" kata putri Nagini."Akan aku antar!" kata Arya."Apa kau yakin?" tanya putri Nagini."Kenapa tidak? Apakah ada yang salah, jika kau antar dirimu tuan putri?" tanya Arya."Aku tidak masalah, tapi akan ada bahaya yang mengincar dirimu!" "Bahaya? Apa itu?" tanya Arya."Aku tidak tahu!" jawab putri Nagini mengangkat bahunya.Arya mengerutkan dahinya, heran dengan perkataan putri Nagini."Sudahlah, untuk apa kau pikirkan itu, kalau pun ada masalah artinya aku harus hadapi, bukankah begitu?" kata Arya yakin pada kemampuan yang dia miliki."Baik, mari!" kata putri Nagini.Dua orang yang berbeda bangsa itu berjalan di tengah kota Batia, dan berjalan seperti layaknya sepasang kekasih yang kasmaran."Sungguh indah kota kalian ini di malam hari, tuan putri!" puji Arya."Ini memang kota terindah di kota ini!" kata putri Nagini."Karena memang hanya ini satu-satunya kota
"Baik, aku terima syarat darimu!" kata Arya meskipun dia merasa berat."Benarkah itu?" tanya putri Nagini tak percaya."Iya! Aku akan menikahi dirimu! Kapan?" tanya Arya."Sabar Arya, sabar! Sudah aku katakan, meskipun aku menerima putriku, tapi tidak semudah itu kau akan dapatkan air mata dewa," kata ratu Narini."Apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Arya."Kau harus masuk ke lorong lima istana, dan harus lewati lima lorong sebelum masuk ke telaga mata dewa," jawab ratu Narini."Seperti yang dikatakan Ki Santana!" desis Arya."Jangan terlalu percaya pada Ki Santana, dia sudah banyak menipu rekan manusianya!" kata ratu Narini."Menipu? Benarkah itu?" tanya Arya."Benar! Jadi hati-hati pada orang tua licik itu. Dia mungkin akan memintamu membantunya untuk ambil mustika ular hijau, dia inginkan kekuasaan di kerajaan siluman ini!" kata ratu Narini."Aku akan berhati-hati," kata Arya."Baik, jika kau sudah terima putriku jadi istrimu, sekarang kau bebas untuk keluar, dan ingat hiduplah
Ki Santana sudah menunggu Arya selama dua hari, tapi Arya tetap tidak kembali ke villa mata indah. Itu membuat Ki Santana heran dan bingung."Kurang ajar, kemana bocah sialan itu?" maki Ki Santana yang terus saja menunggu Arya.Bargo, kepercayaan Ki Santana melihat kegelisahan dari Ki Santana, dan datang mendekati orang tua itu."Ada apa, Ki?" tanya Bargo."Kenapa rupanya Bargo?" tanya Ki Santana balik bertanya."Aku melihat Ki Santana sangat gelisah, Katakan apa yang ki Santana pikirkan?" tanya Bargo."Aku memikirkan si keparat, Arya," jawab Ki Santana sambil memaki."Arya?" tanya Bargo."Iya, Arya. Dia sudah dua hari tidak kembali, kemana saja dia. Aku tidak ingin semua rencana yang sudah kita susun gagal hanya karena dia tidak kembali!" kata Ki Santana."Apakah Ki Santana yakin akan gunakan kekuatan Arya untuk rebut mustika ular milik ratu Narini?" tanya Bargo."Apalagi Bargo? Hanya dia yang mampu melakukan itu, jika kita yang mencurinya kita akan dibunuh dan dijadikan buronan kera
Bulan malam di langit menujukkan keperkasaan dengan cahaya besar yang menerangi malam.Bulan itu begitu dekat dengan kota siluman, Bahkan seperti berada di atas kepala. Bulan berjalan seolah bulan itu hanya milik penduduk kota. Bulan merah siluman."Purnama sudah tiba!" teriak warga kota dan antusias sangat tinggi terlihat pada warga kota itu.Antusias yang begitu besar itu terjadi, dikarenakan warga kota akan, warga siluman akan mengalami peningkatan kekuatan dan itu jelas akan menakutkan bagi setiap orang.Jika bulan purnama datang, maka akan banyak terjadi pertarungan di tengah kota, dan siluman yang memiliki kemampuan rendah memilih untuk jauh dari kota.Seperti yang biasa terjadi, kini di tengah kota, sudah terjadi lebih dari lima pertarungan antara siluman, pertarungan itu antara siluman yang menyimpan dendam satu sama lain.Tiga orang berjalan di tengah kota, tidak ada yang berani mendekati atau menantang mereka. Mereka seolah mencari seseorang."Kemana pemuda keparat itu? Kena
"Apa maksud pertanyaan mu itu?" tanya Bargo pada Arya.Bargo menanyakan itu sekalian berjalan ke arah Arya, dia bingung dengan maksud pertanyaan Arya."Aku melihat kau cukup tertekan dengan keberadaan Ki Santana disamping mu!" kata Arya.Bargo diam, dia ragu untuk menjawab."Apakah yang aku katakan itu tepat?" tanya Arya.Bargo kembali menatap Arya, dia merasa jika Arya mampu membaca dirinya."Apa kau yakin jika kita dapatkan mustika ular itu, maka semua yang dikatakan Ki Santana itu akan kenyataan?" tanya Arya lagi.Arya tahu jika Bargo sudah dirusak pikirannya oleh Ki Santana, dan Arya mencoba untuk membantu pemuda itu."Yang aku tahu Ki Santana hanya ingin kuasai kota ini, dan katanya hanya mustika siluman ular yang akan memberikan dia kekuasaan itu," jawab Bargo."Apakah kau akan membantu dia?" tanya Arya."Sesungguhnya kau ragu, tapi aku sudah tak memiliki kenalan di negeri ini, jadi mau tidak mau aku harus setia padanya," jawab Bargo."Artinya kau terpaksa?" tanya Arya."Aku tid
Bammmmmmmmm!Ledakan keras terjadi saat satu pukulan jauh mengarah pada rombongan Ki Santana."Bagaimana ini Ki?" tanya Arya."Bukankah sudah aku katakan jika biarkan saja, tidak perlu di pedulikan itu!" jawab Ki Santana kesal."Tapi bukankah itu serangan yang mengarah pada kita?" teriak Arya lagi."Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan, segera lanjutkan dan gunakan ilmu meringankan tubuh yang kalian miliki!" jawab ki Santana.Ketiganya terus saja melesat tanpa henti."Itu anak muda yang kita cari!"Tiga orang yang sempat mencari Arya kencana kini mengejar rombongan Ki Santana."Hei kalian tunggu!" teriak mereka.Ki Santana menoleh, dan dia sedikit geram karena tiga orang itu terus saja kejar mereka."Bagaimana ini?' Bargo kali ini yang bertanya, dia merasa jika tiga orang itu sungguh ingin hentikan pergerakan mereka."Tidak usah kau pikirkan Bargo. Apa kau baru kali ini di kejar orang?" bentak Ki Santana."Baik, aku tidak akan pedulikan," jawab Bargo dan melesat terus ke arah depan.K
Kabar Kehancuran pulau siluman ular hijau langsung tersiar dengan sangat cepat, bahkan hanya dalam satu hari kabar itu sudah terdengar di tiga negeri yang ada pulau dimensi beri ular."Apa kau yakin dengan kabar itu, Adipati?" tanya raja Ragajaya pada Adipati Gambalang yang melaporkan kabar itu."Hamba melihat sendiri dari pesisir pantai kehancuran pulau itu, yang mulia," jawab Adipati kota Gambalang."Apa yang membuat pulau itu hancur?" tanya raja Ragajaya."Hamba tidak tahu yang mulia, aku dan warga kota hanya melihat bola api dari langit, dan itu yang hancurkan pulau itu," kata Adipati Gambalang."Bukan itu yang hancurkan pulau itu," kata raja Ragajaya."Bulan bola api itu? Jadi apa yang mulia?""Ada seseorang yang sudah hancurkan inti dari pulau itu, dan itu yang membuat pulau itu hancur," jawab raja Ragajaya."Seseorang hancurkan inti dari pulau itu? memangnya bisa yang mulia?""Bisa, itulah mengapa aku tanyakan tadi Adipati, apa kalian melihat seseorang? Tidak mungkin pulau itu
Perguruan gunung biru. Nyai Sendana dan putri lembayung senja berdiri di tepian pantai karena melihat ada cahaya merah di udara, dan mereka terus menyaksikan itu."Apakah yang sedang terjadi guru?" tanya lembayung senja pada gurunya."Guru tidak tahu, guru juga bingung lembayung, belum pernah guru liat yang seperti ini," jawab nyai Sendana.Wajah lembayung senja sangat gelisah, karena dia yakin cahaya merah di udara itu tepat berada di pulau siluman ular hijau."Guru. Lembayung yakin jika cahaya merah itu tepat berada di atas pulau siluman itu!" kata lembayung senja."Bodohnya, guru juga merasa seperti itu lembayung," jawab nyai Sendana.bammmmmmmmm!!"Ledakan apa itu guru?" tanya lembayung senja.Nyai Sendana tidak berani menjawab, ledakan itu sangat keras bahkan ledakan itu sampai terdengar ke perguruan gunung biru."Apa yang terjadi di sana guru? Bagaimana keadaan kak Arya?" teriak lembayung senja histeris.Air mata di mata istri Arya itu sudah jatuh tak tertahan, dan itu adalah t
"Segera cari perlindungan!" teriak ratu Narini saat melihat bola api yang begitu besar. Bola api energi yang meluncur cepat ke arah pulau siluman ular hijau itu.Mata semua orang menatap ke udara, dan seolah tidak menggubris perkataan ratu ular itu."Apa kalian tidak dengarkan apa yang aku katakan?" teriak ratu ular lagiJledaaarrrrrrr!!Satu bola api menghantam bagian kota siluman, dan gempa keras tercipta akibat benturan bola api itu dengan pulau siluman ular itu.Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!Teriakan histeris, teriakan ketakutan pun terdengar saat warga siluman itu mulai sadari jika mereka berada dalam target serangan dari makhluk yang mereka tidak tahu.Satu persatu, hingga semuanya kabur tidak tentu arah, semuanya mencari keselamatan untuk diri sendiri, disitulah sikap mementingkan diri sendiri terlihat."Putri Nagini! Putri Nagini!" teriak Arya mencari putri ular itu.Tapi karena ramainya manusia, tidak ada yang mendengar suara teriakan Arya itu.Dan saat itulah, warna hitam di langit be
"Ada apa ini?" Semua mata tidak berhenti menatap ke atas langit, dan tidak ada yang tahu apa sesungguhnya yang sedang dan apa yang akan terjadi.Ratu Narini berdiri dari kursi kebesaran yang di duduki, dan dia berdiri di halaman istana."Ada apa ini?" ucapnya dan seperti semua siluman yang ada, mereka menatap ke udara. Ratu Narini juga menatap ke atas langit."Pasti sesuatu akan terjadi, tapi apa?" gumam ratu Narini.Semuanya masih menunggu dan menatap perubahan langit yang semakin lama semakin gelap, bahkan suasana sudah seperti malam hari dan itu semakin mencekam menakutkan.Awan hitam itu tiba-tiba berubah menjadi merah, dan kembali sebuah kejutan bagi wajah kaget dan takut yang ada di bawah langit."Apa lagi ini?" teriak mereka tidak tahu harus berbuat apa.Cahaya merah yang ada di langit itu berubah menjadi gumpalan merah, dan semakin lama semakin besar, gumpalan merah itu bagaikan gumpalan kumpulan energi yang begitu besar."Ini tidak mungkin," kata ratu Narini kaget."Ada apa
Keadaan hening di halaman istana kerajaan ular hijau, semuanya orang menunggu siapa lawan pertama yang akan berani hadapi Arya."Kita harus memberikan luka padanya, aku tahu kita tidak akan menang dari dia. Tapi dengan melukai di satu titik aku yakin dia akan terluka parah," kata salah satu orang dari kelompok di depan Arya."Benar, saat dia sudah terluka orang ketiga akan selesaikan dan kalahkan dia.""Iya. Seperti itulah yang aku maksud itu," ucap orang yang bicara itu."Kalau begitu aku yang duluan maju," kata pemuda bernama Seno."Baik, kau harus menyerang di satu titik saja, kami akan lihat, dimana kau menyerang," kata rekannya.Tiga orang itu memang sudah dipilih akan jadi lawan bagi tantangan yang diberikan pada Arya, karena mereka bertiga lah yang pantas jadi pendamping putri Nagini, begitu lah menurut mereka."Bertahan yang lama Seno," kata rekannya memberikan peringatan pada Seno."Sudah pasti! Aku tidak mudah dia kalahkan," kata Seno yakin pada kemampuan yang dia miliki.Hi
Putri Nagini sejenak menatap Arya kencana, dia tidak suka dengan kejujuran dari perkataan Arya."Dan satu lagi tuan putri, aku pernah bilang jika aku sudah memiliki seorang istri, jadi jangan sampai istriku celaka hanya karena kecemburuan yang ada pada dirimu, nantinya," kata Arya peringatkan putri Nagini.Kembali, gadis itu ular itu diam. Dia sesungguhnya tidak ingin terima jika Arya sudah menikah. Tapi sebelum dia ucapkan apa-apa, Arya sudah buat penegasan sendiri."Aku harap tuan putri, pahami apa yang aku maksud tadi," kata Arya."Aku akan coba pahami, tapi itu jika kau adil menjadi seorang suami," kata putri Nagini."Aku tidak tahu apakah aku akan adil atau tidak, tapi aku akan berusaha," jawab Arya.Arya tinggalkan putri Nagini dan masuk ke dalam kamarnya, dia melepaskan rasa lelahnya setelah selesaikan semua yang dia inginkan di lima lorong istana."Belum selesai masalah yang satu, sudah datang masalah yang baru. Aku tidak menyangka jika air mata dewa ini akan jadi masalah yang
Setelah lelaki tua itu selesai bicara dengan Arya, suasana berubah menjadi gelap, dan gemuruh terdengar. Itulah akhir dari bulan purnama merah yang sedang terjadi di atas langit."Selamat tinggal anak muda, ingat semua janjimu itu," kata lelaki tanpa nama itu."Pasti kek, Arya pasti akan ingat semua yang sudah Arya janjikan," kata Arya.Setelah itu keadaan pun berubah, Arya tidak lagi berada di dalam lorong ke lima, tapi berada di atas, lebih tepatnya Arya sudah di hadapan para penonton yang melihat keadaan dari atas."Arya!"Putri Nagini, begitu melihat pujaan hatinya keluar dari lima lorong istana langsung berlari dan memeluk erat tubuh pemuda itu."Aku tahu Arya, kau tahu pasti kembali, aku selalu tahu itu," kata Nagini dengan isak tangis air mata yang membasahi pakaian kuning emas Arya kencana."Tuan putri, jangan membuat malu!" kata Arya."Tidak Arya, aku tidak akan malu!" kata putri Nagini yang sedikitpun tidak mau lepaskan pelukan dari Arya.Arya tidak dapat lagi untuk memaksa
Lestari kaget saat Arya mengucapkan sesuatu, yaitu dia ingat dengan tujuannya datang ke lorong ke empat itu.Plakkkkkk!!Arya menampar tubuh lestari dengan sangat keras."Apa yang sudah kau lakukan pada diriku?" bentak Arya."Arya! Apa kau lupa, aku ini adalah Lestari, seorang bidadari yang sudah kau pilih!" kata Lestari."Pilih? Aku tidak pernah kenal dengan dirimu!" bentak Arya."Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" kata Lestari sangat histeris.Aaaaaaaaaaaaaa!!Lestari semakin histeris karena Arya tidak kenal dengan dirinya."Ini semua, taman ini, danau ini, apa kau lupakan semua itu?" tanya Lestari dan kembali tunjukkan keindahan danau buatan dari jurus ilusi lestari."Danau apa? Taman apa? Yang aku lihat hanyalah lorong gelap yang tidak berarti!" bentak Arya."Tidak! Ini tidak boleh terjadi, aku tidak boleh gagal!" kata Lestari.Haaaaaaaaaaa!!Lestari menyerang dengan cakar yang tajam.Bammmmmmmmm!!Arya meninju cakar dari Lestari dan itu membuat gadis penyamar itu terdorong dan mer
Hawa sejuk langsung menerpa Arya begitu dia masuk ke lorong yang ketiga, dan Arya tidak tahu jika sesungguhnya dia sudah masuk ke lorong yang keempat.Saat gerbang lima lorong terbuka, sesungguh lorong pertama tidaklah ada, yang ada adalah lorong kedua, itu yang membuat banyak nyawa yang tidak dapat diselamatkan.Arya merasakan hawa yang indah, hawa yang begitu menyenangkan hatinya, dan itu Arya nikmati.Satu tangan halus menarik tangan Arya, dan membawa anak muda itu untuk memasuki sebuah rumah yany begitu bagus."Apa ini?" tanya Arya bingung.Arya seolah berada dalam hipnotis, tidak dapat kendalikan dirinya sendiri, dan Arya seolah ikuti apa kemauan dari hawa sejuk itu.Arya dibawa duduk ke sebuah meja, dan disungguhkan dengan minuman yang begitu menyegarkan tenggorokan Arya."Inikah surga?" gumam Arya dan begitu menikmati segala suguhan yang sudah ada dihadapannya."Apakah kau menikmati semuanya anak muda?' Satu suara yang begitu lembut terdengar di telinga Arya, dan Arya tak mamp