Share

Bab 335

Author: Abimana
Bisnis?

Ada kaitannya dengan perintah wajib militer?

"Yang Mulia!" Arjuna mengejar Mois.

Meskipun Arjuna tidak pernah berbisnis, sebagai orang modern yang mengalami transmigrasi zaman, dia telah melihat dan membaca banyak masalah bisnis. Orang-orang kuno ini masih jauh tertinggal darinya.

Dalam perjalanan ke Kabupaten Damai, Mois memberi tahu Arjuna secara garis besar.

Tamael dijebak oleh Hendra Bhakti, sebagian besar harta keluarga Tamael jatuh ke tangan keluarga Bhakti di Kabupaten Sentosa.

Hendra?

Arjuna pernah mendengar tentang pria ini. Dia adalah tuan muda dari Keluarga Bhakti, pedagang terbesar di Kabupaten Sentosa. Dengar-dengar, dia memiliki keterampilan bisnis yang hebat, juga licik dan kejam.

Sekarang keluarga Tamael hanya memiliki Rumah Bordil Prianka.

Rumah Bordil Prianka tidak jatuh ke tangan Keluarga Bhakti pada awalnya. Karena, Tamael menyetujui usulan Hendra untuk memfitnah Arjuna telah mencuri soal ujian.

Kini Hendra mengingkari janjinya. Dia datang mengambil Rumah Bo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 336

    "Kamu tampak sangat tidak terima." Sugi menatap Eshan dengan ekspresi angkuh. "Aku, Sugi, bukanlah orang yang tidak masuk akal."Saat Sugi berbicara, dia melirik ke arah sekelompok pedagang yang ada di belakangnya. "Ya, 'kan? Mari kita beri mereka satu kesempatan, biarkan mereka bertanding dengan kita.""Yang Mulia Bhakti bijaksana, Yang Mulia Bhakti baik hati."Suara-suara menyanjung membuat Sugi makin gembira."Bagaimana kamu ingin bertanding? Apa yang ingin kamu tandingkan?" tanya Eshan dengan suara berat.Sugi mengangkat dagunya kepada Eshan, lalu berkata dengan nada merendahkan. "Karena masalah ini tentang Rumah Bordil Prianka, pengusaha paling hebat dalam manajemen bisnis, jadi biarkan mereka bersaing dalam manajemen bisnis.""Yang Mulia!" Hendra membungkuk pada Sugi. "Mengenai kompetisi, aku punya sebuah saran."Sugi melambaikan tangannya. "Katakan.""Terima kasih, Yang Mulia." Hendra lanjut berkata, "Beberapa waktu lalu, aku membeli sebidang tanah di Desa Rambutan di luar Kabup

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 337

    "Apakah benar-benar tidak ada yang mau bersaing dengan mereka?" Eshan menahan amarahnya. Dia berbicara dengan nada yang lebih santai.Maksudnya sudah sangat jelas. Selama seseorang berani maju, dia tidak peduli menang atau kalah.Tatapan Eshan menyapu para pedagang sebanyak tiga kali, tetapi tidak seorang pun berani maju.Urat-urat di dahi Eshan terlihat, bisa dilihat bahwa dia mulai marah. "Bagus, kalian semua tidak ada yang mau maju ya?!"Para pedagang begitu ketakutan hingga tubuh mereka sedikit gemetar, mereka tidak berani bernapas dengan keras.Meski begitu, tidak ada seorang pun yang berani menerima tantangan itu.Sugi mencibir, "Eshan, aku sudah memberimu kesempatan, tapi ...." Sugi merentangkan tangannya, dengan ekspresi yang sangat angkuh. "Tidak ada seorang pun di Kabupaten Damai yang berani menerima tantangan kami. Oh, aku lelah!"Setelah Sugi selesai berbicara, dia pun duduk di kursi Eshan.Selain kepala daerah sendiri, hanya pejabat yang lebih tinggi dari kepala daerah yan

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 338

    Orang-orang melihat ke luar, lalu mendapati seorang pemuda berpakaian ungu muda berjalan masuk dengan langkah tegas dan mantap.Karena cahaya di luar, setelah pemuda itu tiba di depan semua orang, mereka baru dapat melihat wajahnya dengan jelas?"Arjuna, kenapa kamu?"Ada rasa kecewa yang kuat dalam nada terkejut semua orang.Arjuna pandai belajar, bahkan mengalahkan Cendekiawan Bima, tetapi belajar dan berbisnis adalah hal yang sangat berbeda.Jangankan Kabupaten Damai, bahkan di seluruh Dinasti Bratajaya, tidak pernah terdengar bahwa seseorang pelajar pandai berbisnis."Arjuna." Eshan berjalan mendekat dengan penuh harap. Namun, sekretaris daerah yang berada di belakang Arjuna menggelengkan kepalanya pada Eshan, mengisyaratkan bahwa Arjuna tidak membawa lencana perak itu."Siapa kamu? Maksud kata-katamu itu adalah kamu mau bertanding denganku?"Hendra menatap Arjuna dengan tatapan menilai.Sebagai pedagang, dia mengenali hampir semua orang-orang yang sebidang dengannya. Akan tetapi,

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 339

    "Aku tidak tahu apakah aku akan membayar mahal, tapi yang pasti kamu akan."Arjuna berdiri dengan kedua tangan di belakang tubuhnya, aura agung dan liar terpancar darinya. Orang-orang yang berdiri di depannya seperti semut.Sambil menatap mereka, terdengar suara tenang dan percaya diri lagi. "Apa pun yang kalian jalankan, tidak perlu tiga hari, dalam satu hari, pendapatan operasionalku akan lebih tinggi dari kalian. Bukan hanya itu, ketika aku membuka usaha, kalian tidak akan mendapat untung sedikit pun.""Hahaha!"Di kantor pemerintahan, gelak tawa membumbung bagai air pasang. Banyak pedagang dari Kabupaten Sentosa tertawa terbahak-bahak hingga memegang perut mereka.Sedangkan para pedagang dari Kabupaten Damai di sekitar Arjuna menutupi wajah mereka satu demi satu.Kata-kata sombong seperti itu diucapkan tanpa berpikir panjang.Sungguh memalukan, sungguh memalukan."Bagaimana menurut kalian? Apakah dia membaca terlalu banyak buku sehingga menjadi bodoh?" Bani menatap Arjuna dengan ta

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 340

    Sugi melirik ke samping, orang-orang di sekitarnya segera mengerti apa yang dia maksud. Mereka pun segera berjalan mendekat untuk menghentikan anak buah Mois membawa pergi Arjuna.Ini adalah kesempatan bagus untuk menjatuhkan Arjuna, bagaimana mungkin dia melepaskannya?"Yang Mulia Eshan, kamu salah. Saat tidak ada seorang pun dari Kabupaten Damai yang maju, marah. Sekarang ada yang maju, kenapa kamu mengusirnya?""Ya, orang-orang Yang Mulia Sugi mau memberi kita usahanya, bagaimana boleh kita menolak?"Suara Arjuna menjadi lebih keras. Dia tersenyum tipis. "Hasil menang atau kalah tidak dapat dibuktikan dengan kata-kata, harus dengan bukti tertulis.""Oke!" Sugi berbalik, kemudian memerintahkan petugas di sampingnya. "Buat bukti tertulis, ayo tuliskan!""Arjuna, Arjuna ...." Eshan memejamkan matanya dengan pasrah.Setelah bukti tertulis diterbitkan, sekalipun kaisar datang secara langsung, kompetisi harus tetap dilanjutkan.Kompetisinya bahkan belum dimulai, tetapi kabar bahwa peringk

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 341

    "Arjuna, kamu tidak punya banyak pengalaman berbisnis, jadi kamu mungkin kurang mengerti. Dua toko ibunya Fiona terletak di sisi timur dan barat Rumah Bordil Prianka. Toko-toko itu tidak terlalu besar dan hanya menjual perona pipi dan bedak."Ketika Mois mendengar Arjuna mengatakan bahwa tokonya adalah dua toko kecil. Meskipun dia sangat kecewa, dia tetap dengan sabar menjelaskan kepada Arjuna."Sebagian besar pelanggan toko itu adalah gadis-gadis kelas bawah dari Rumah Bordil Prianka. Kamu seharusnya tahu berapa penghasilan gadis-gadis kelas bawah itu tanpa perlu aku jelaskan. Mereka tidak mampu membeli bedak dan pemerah pipi kelas atas, jadi kedua toko itu hanya menjual bedak dan pemerah pipi murahan. Keuntungannya sangat kecil.""Tapi bagi orang biasa, memiliki dua toko ini sudah cukup. Kalau tidak boros, kedua toko itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup meskipun pemiliknya tidak bekerja di pertanian lagi."Mois mengatakannya dengan sangat halus. Sebenarnya, yang dia maksud adalah

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 342

    Bukan hanya warga Kabupaten Sentosa saja yang mencari Arjuna, warga Kabupaten Damai juga turut mencarinya."Dia tidak kabur, 'kan?""Dia pasti sudah melarikan diri. Aish, Yang Mulia Eshan seharusnya tidak menyuruh Sekretaris Daerah untuk mencarinya di Desa Embun."Para pedagang di Kabupaten Damai berbisik-bisik. Meskipun Eshan sangat kesal, dia tidak bisa mengatakan apa-apa.Jika dia tahu bahwa Arjuna tidak mau meminjamkan lencana perak, dia pasti tidak akan membiarkan Mois pergi mencari Arjuna."Apa? Kamu yakin tidak salah dengar? Arjuna menjual toko kecilnya, lalu membeli tanah kosong di sebelah barat Rumah Bordil Mawar?" tanya Bani kepada pelayannya dengan ekspresi tidak percaya.Saat malam hari, akhirnya ada berita tentang Arjuna.Entah itu disengaja atau tidak, tetapi Bani adalah orang pertama yang mendapat kabar tentang Arjuna.Tanpa menunggu jawaban pelayan, Bani langsung bertanya, "Apakah dia mengatakan alasan dia membelinya?""Orang-orang kita mendengar dia memberi tahu istrin

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 343

    "Persetan dengan teh!" Eshan tiba-tiba mengumpat. "Apakah aku terlihat seperti sedang ingin minum? Tiga ratus tael perak! Kamu menjual sebuah toko, lalu membeli tanah kosong di sebelah Rumah Bordil Mawar? Kamu bilang kamu bisa mengalahkan Bani hanya dengan sebuah toko. Ternyata begitu cara!"Setelah Eshan selesai berbicara, dia meletakkan tangannya di pinggangnya. Wajahnya memerah karena marah."Yang Mulia, jangan marah dulu. Marah tidak baik untuk kesehatan. Minum teh dulu."Arjuna lanjut berbicara sambil menyengir.Namun apa pun yang dia katakan, Eshan mengabaikannya. Sekelompok pengusaha yang ada di belakang Eshan juga memandangnya dengan ekspresi dingin."Arjuna." Akhirnya sekretaris daerah, Mois, yang memecah keheningan. "Kesampingkan soal pertandingan. Kamu menjual toko itu seharga 300 tael, itu terlalu murah.""Toko itu dekat Rumah Bordil Prianka. Seribu tael perak saja masih tergolong murah, apalagi tiga ratus tael.""Aish, seorang kutu buku miskin tahu apa? Tiga ratus tael pas

Latest chapter

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 350

    Arjuna berdiri lalu membungkuk pada Eshan. Setelah itu, dia tersenyum sambil berkata kepada orang-orang yang menertawakannya. "Terima kasih atas pujian kalian.""Terima kasih? Dia tidak benar-benar menganggap kita sedang memujinya saat kita mengatakan bahwa dia merawat istri-istrinya menjadi cantik, 'kan?""Lihatlah ekspresi konyolnya itu, mungkin saja benar.""Dasar kutu buku.""Yang Mulia, masakan yang aku masak sering dipuji oleh istriku, aku juga merasa masakanku cukup enak. Aku bersedia untuk bertanding dengan calon koki istana kaisar ini."Arjuna menoleh untuk melihat Lujain, tetapi Lujain malah membuang muka dengan jijik. Ada sedikit ekspresi kesal di wajahnya.Jika dia tahu bahwa orang yang maju dari Kabupaten Damai adalah Arjuna, dia tidak akan turun tangan.Arjuna tidak layak bersaing dengannya.Sering mendapat pujian dari istrinya? Dengan beberapa pujian dari para wanita rendahan itu, Arjuna pikir dirinya sangat hebat memasak?Bodoh sekali.Dia sering mendengar orang mengata

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 349

    "Ini jelas-jelas penindasan!""Jangan bicara lagi. Mereka memang sengaja menindas kita dan kita hanya bisa menerima.""Aish, semua karena kita terlalu miskin."Para pedagang dari Kabupaten Damai menggelengkan kepala sambil menghela napas."Kami telah memiliki kandidat untuk ronde kedua, Kak Eshan." Sugi memberi isyarat mengundang. "Sekarang giliranmu."Eshan menoleh, tetapi sebelum dia bertanya, para pengusaha yang mengelola penginapan dan restoran menundukkan kepala mereka, seolah mereka takut akan dipilih oleh Eshan untuk bersaing dengan Lujain."Setiap babak kompetisi memiliki hadiah. Ronde kedua juga sama. Kalau kalian menang, Restoran Kebon Sirih akan menjadi milik kalian. Kalau kalian kalah, Restoran Dapur Rempah Lujain harus diizinkan membuka cabang di Kabupaten Damai."Setelah mendengar ucapan Sugi, semua orang dari Kabupaten Damai menjadi makin marah.Sugi benar-benar tidak tahu malu. Restoran Kebon Sirih memang milik Kabupaten Damai, dia malah menggunakannya sebagai taruhan.

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 348

    Perlawanan Mois kebetulan sesuai dengan keinginan Sugi.Bawahan yang membantah atasan merupakan kesalahan serius. Sugi dapat melaporkannya kepada gubernur, kemudian meminta menjatuhkan hukuman kepada Mois.Jika Mois tak ada lagi, Eshan akan seperti kehilangan satu tangan.Sekretaris daerah berikutnya yang ditunjuk pasti tidak akan sehati dengan Eshan.Karena Sugi pasti telah melakukan sesuatu. Meskipun itu bukan orang Sugi, orang itu pasti orang yang tidak cocok dengan Eshan."Kenapa?" Sugi terus memprovokasi Mois. "Kamu tampaknya sangat tidak puas denganku. Baiklah, kalau begitu kita bisa meminta keadilan dari gubernur daripada aku dibilang menggunakan statusku sebagai atasan untuk menindasmu."Eshan meremas lengan Mois dengan kuat sambil berkata kepada Sugi dengan nada menyanjung. "Terima, terima. Bagaimana mungkin dia tidak terima?"Sugi setingkat dengannya, tetapi Eshan tidak bisa membantah. Apakah Eshan tidak merasa terhina?Tentu saja bukan begitu.Dia sangat merasa terhina.Akan

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 347

    "Hm?" Arjuna mengangkat kelopak matanya, kemudian berkata dengan malas. "Curang? Bagaimana bisa dikatakan curang? Apakah aku melarangmu membuka toko? Apakah aku melakukan bisnis yang melanggar hukum Dinasti Bratajaya?""Kamu tidak tahu malu, tercela!" Wajah Bani memerah karena marah.Mendengar perkataan Bani, Arjuna tertawa. "Kalau bicara soal tidak tahu malu dan tercela, bagaimana aku bisa dibandingkan dengan kalian? Kalian mengandalkan kekayaan Kabupaten Sentosa dan perhatian gubernur kepada kepala daerah kalian untuk menjebak kami demi menguasai semua bisnis di Kabupaten Damai.""Arjuna benar!"Irwan angkat bicara untuk mendukung. Meskipun dia masih memandang rendah Arjuna, dia adalah bagian dari Kabupaten Damai.Terhadap internal, mereka dapat bertarung sampai mati.Terhadap eksternal, mereka harus kompak untuk melawan.Irwan lanjut berkata, "Apa pun yang dijual kedua belah pihak, yang penting tidak melanggar hukum Bratajaya. Syarat ini bukan diajukan oleh Arjuna maupun Yang Mulia

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 346

    Satu batu dapat menimbulkan riak.Perkataan petugas pemerintah itu mengejutkan semua orang."Apakah kamu salah bicara? Bagaimana mungkin barangku tidak terjual satu pun? Pasti barang dia yang tidak terjual satu pun."Wajah Bani memerah, dia sangat marah.Perlengkapan pernikahan keluarga Bani dibuat dengan sangat teliti dan dirancang dengan sangat indah. Perlengkapan tersebut terkenal tidak hanya di Kabupaten Sentosa, tetapi juga di seluruh Kota Perai.Setelah kabar diskon 10% tersebar, orang-orang mulai mengantre sejak tengah malam. Bagaimana mungkin tidak ada satu pun yang terjual?"Pak, apakah kamu sedang bercanda? Seharusnya semua produk keluarga Bani dibeli hingga tak tersisa satu pun, 'kan?"Seorang pedagang dari Kabupaten Sentosa melangkah maju untuk memastikan."Benar." Hendra juga berdiri. "Pasti dibeli sampai tak tersisa satu pun. Petugas ini ingin bercanda, tapi waktunya tidak tepat.""Katakan dengan benar!" Sugi memelotot petugas yang datang melapor itu."Yang Mulia, memang

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 345

    "Seharusnya tidak secepat itu." Sejujurnya, Arjuna benar-benar tidak ingin Daisha hamil secepat itu. Dia masih terlalu muda."Kenapa? Apakah kesehatan Dik Daisha tidak baik? Kalau begitu, aku harus segera membawanya ke tabib.""Bukan." Arjuna menatap dua orang yang sedang kejar-kejaran dan berkelahi di halaman. "Daisha masih kecil, jadi tunggu nanti baru melahirkan.""Tidak, tidak boleh nanti, orang-orang itu akan ...."Hm? Arjuna mengernyit, bertanya-tanya mengapa Disa tidak melanjutkan omongannya.Saat Arjuna mengangkat kepalanya, wajah Disa yang marah nan sedih menarik perhatiannya.Berapa banyak pria yang tahan melihat pemandangan seperti itu, melihat seorang gadis yang kesal sekaligus sedih?Sensasi berdenyut menyebar di dada Arjuna."Akan apa?" Suara Arjuna sedikit serak, nadanya pun menurun tanpa sadar.Suara Arjuna enak didengar, terutama saat dia berbicara dengan suara serak.Suara yang serak, rendah, hangat dan dangkal masuk ke telinga Disa, membuat dia merasa seluruh tubuhny

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 344

    Dia akan membuka toko di tanah rendah sebelah Rumah Bordil Mawar. Dia tidak akan membukanya jika itu bukan tanah rendah.Karena ....Tanah itu adalah lokasi yang bagus untuk membuka toko."Kurasa apa yang dikatakan Yang Mulia Eshan dan Yang Mulia Mois benar. Kenapa kamu begitu keras kepala, Tuan? Bersikeras menjual toko Tante Buana dan membeli tanah di sebelah Rumah Bordil Mawar untuk membuka toko."Setelah Eshan dan yang lainnya pergi, Disa pun mulai mengoceh.Arjuna bersandar di kursi dekat jendela, meletakkan buku yang ada di tangannya, kemudian menatap Daisha yang sedang memijat kakinya."Daisha.""Apakah aku memijat terlalu kuat, Tuan?" tanya Daisha mengangkat kepalanya kepada Arjuna."Tidak, tenagamu pas.""Kalau begitu ...." Mata Daisha yang besar penuh dengan kelembutan. "Apakah ada yang ingin kamu katakan kepadaku?""Tidak, aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu tidak menceramahiku?"Biasanya, jika Arjuna membeli beberapa meter kain atau beberapa potong daging, Daisha bisa meng

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 343

    "Persetan dengan teh!" Eshan tiba-tiba mengumpat. "Apakah aku terlihat seperti sedang ingin minum? Tiga ratus tael perak! Kamu menjual sebuah toko, lalu membeli tanah kosong di sebelah Rumah Bordil Mawar? Kamu bilang kamu bisa mengalahkan Bani hanya dengan sebuah toko. Ternyata begitu cara!"Setelah Eshan selesai berbicara, dia meletakkan tangannya di pinggangnya. Wajahnya memerah karena marah."Yang Mulia, jangan marah dulu. Marah tidak baik untuk kesehatan. Minum teh dulu."Arjuna lanjut berbicara sambil menyengir.Namun apa pun yang dia katakan, Eshan mengabaikannya. Sekelompok pengusaha yang ada di belakang Eshan juga memandangnya dengan ekspresi dingin."Arjuna." Akhirnya sekretaris daerah, Mois, yang memecah keheningan. "Kesampingkan soal pertandingan. Kamu menjual toko itu seharga 300 tael, itu terlalu murah.""Toko itu dekat Rumah Bordil Prianka. Seribu tael perak saja masih tergolong murah, apalagi tiga ratus tael.""Aish, seorang kutu buku miskin tahu apa? Tiga ratus tael pas

  • Sang Menantu Perkasa   Bab 342

    Bukan hanya warga Kabupaten Sentosa saja yang mencari Arjuna, warga Kabupaten Damai juga turut mencarinya."Dia tidak kabur, 'kan?""Dia pasti sudah melarikan diri. Aish, Yang Mulia Eshan seharusnya tidak menyuruh Sekretaris Daerah untuk mencarinya di Desa Embun."Para pedagang di Kabupaten Damai berbisik-bisik. Meskipun Eshan sangat kesal, dia tidak bisa mengatakan apa-apa.Jika dia tahu bahwa Arjuna tidak mau meminjamkan lencana perak, dia pasti tidak akan membiarkan Mois pergi mencari Arjuna."Apa? Kamu yakin tidak salah dengar? Arjuna menjual toko kecilnya, lalu membeli tanah kosong di sebelah barat Rumah Bordil Mawar?" tanya Bani kepada pelayannya dengan ekspresi tidak percaya.Saat malam hari, akhirnya ada berita tentang Arjuna.Entah itu disengaja atau tidak, tetapi Bani adalah orang pertama yang mendapat kabar tentang Arjuna.Tanpa menunggu jawaban pelayan, Bani langsung bertanya, "Apakah dia mengatakan alasan dia membelinya?""Orang-orang kita mendengar dia memberi tahu istrin

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status