Ujian daerah berlangsung selama enam jam sehari. Selama ujian berlangsung, para peserta tidak diperbolehkan meninggalkan ruang ujian. Jika mereka perlu pergi ke kamar kecil atau semacamnya, mereka tinggal mengangkat tangan, petugas pengawas akan menemani mereka pergi.Dalam waktu kurang dari satu jam, Arjuna telah mengisi lebih dari setengah soal.Kalau saja dia tidak kikuk dalam menggunakan kuas, dia akan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu jam.Ujiannya benar-benar tidak ada kesulitan sama sekali. Seiring Arjuna menulis, dia merasa kelopak matanya terasa berat. Dia ingin menahan kantuk, tetapi tidak bisa.Ujian dimulai hari ini. Disa sangat gugup tadi malam sehingga dia berguling-guling di lantai, mengganggu tidur Arjuna.Lupakan.Arjuna meletakkan kuas di atas meja, kemudian menutupi dirinya dengan selimut.Karena dia tak bisa menahannya, dia akan tidur dulu.Ketika Arjuna bangun, dia mendapati masih ada dua jam sebelum ujian berakhir.Arjuna mengedarkan pandangannya ke se
Arjuna yang sedang terpesona dengan Disa pun terkejut sesaat."Plak!" Muka Arjuna dipenuhi serpihan rumput.Benda yang mengenai wajahnya adalah sekantung potongan rumput."Tuan!"Disa buru-buru menyingkirkan serpihan rumput di wajah Arjuna. Makin dia menyingkirkannya, makin Disa marah. Dia berbalik, lalu memelototi orang yang melempari Arjuna dengan rumput. "Apa yang kalian lakukan? Tuanku hanya berjalan, apakah dia melakukan kesalahan terhadap kalian?""Dasar tidak berpendidikan! Seorang wanita tidak boleh berbicara di depan pria bila tak disuruh!"Damar-lah yang memarahi Disa, dia juga yang melempar kantong rumput ke wajah Arjuna.Dia membawa sekelompok siswa dari sekolah di Desa Embun berdiri di aula penginapan untuk menunggu Arjuna."Kalian yang melempari tuanku dengan barang dulu!""Kalau kamu bicara lagi, jangan salahkan kami bersikap kasar.""Memangnya aku takut pada kalian?"Wajah Disa memerah karena marah, dia mengulurkan tangan untuk meraih anak panah."Disa, mundur."Arjuna
"Disa, ayo kita naik."Tahu bahwa Disa sedang kesal, Arjuna pun menarik tangan Disa, lalu berjalan menuju lantai atas."Hei, Arjuna, herbalnya!"Shaka mengejar mereka sambil membawa kantong berisi obat itu. Disa mengambilnya, kemudian melemparkannya pada Shaka."Minum sendiri kalau mau!"Usai berbicara, Disa langsung menutup pintu.Pintu hampir mengenai hidung Shaka yang berdiri di depan pintu."Anak ini benar-benar tak tertolong! Anak ini benar-benar tak tertolong!“Setelah diabaikan, Shaka berdiri di luar pintu sambil mengoceh di depan pintu dengan marah.Arjuna dan Disa terus mengabaikannya. Setelah lelah mengoceh, Shaka baru pergi.Pada hari ketiga ujian, Arjuna tetap tidur.Apa daya, waktunya terlalu panjang dan membosankan. Sulit untuk tidak mengantuk.Damar mengamuk. Dia berteriak bahwa dia akan melaporkan Arjuna."Kak Damar!" Seseorang menahannya. "Toh, ini sudah hari terakhir, untuk apa kamu repot-repot melaporkan orang bodoh itu? Setelah nilai ujian diumumkan, Arjuna akan die
"Seharusnya hanya sama nama, tidak mungkin itu Arjuna dari Desa Embun.""Tidak!" Penguji peringkat mengangkat jari telunjuknya, lalu melambaikannya di depan orang tersebut. "Kamu salah. Arjuna dalam buku adalah Arjuna dari Desa Embun.""Hei, Bos!" Seseorang di antara kerumunan langsung berteriak, "Apakah kamu berwelas asih, ingin kurang menghasilkan uang tahun ini?"Penguji peringkat lanjut menggoyangkan jari telunjuknya. "Bukankah aku sudah mengatakan bahwa prediksi tahun ini adalah tiga peringkat teratas dan terbawah.""Prediksi peringkat terbawah?""Ya, harganya lima sen juga per taruhan. Cepat pasang taruhannya. Beli banyak, dapat banyak.""Begitu ya ...." Mata Damar langsung berbinar. "Bos, aku akan membeli empat ratus taruhan. Semuanya untuk Arjuna.""Aku mau sepuluh taruhan.""Aku mau lima puluh taruhan."Taruhan Arjuna berada di posisi terbawah direbut oleh semua orang, bahkan lebih laku daripada taruhan Shaka. Seketika popularitas Arjuna beberapa kali lebih tinggi daripada Sha
"Menjadi istri Pak Pahan adalah posisi yang sangat bergengsi, tapi dia malah mengambil inisiatif untuk meminta cerai. Ck, ck, ck, dia benar-benar gila.""Hahaha!" Pahan tertawa dingin. "Oke! Sepakat! Jangan sampai nanti kamu menangis dan mengadu kalau aku yang menindasmu!""Ibu!"Fiona bergegas ke depan Buana. "Aku mohon, jangan begini."Jubah putih, gaun merah muda, tubuh rapuh, mata besar, tatapan melankolis, dan bulu mata panjang.Di bulan Februari yang dingin, Fiona terlihat sangat lemah berdiri melawan angin. Hal ini membuat orang lain merasa kasihan padanya."Fiona, jangan membujuk Ibu lagi. Ibu sudah memutuskan." Tatapan Buana yang lembut memancarkan tekad yang tak tertandingi."Tante Buana, perbuatan Tante memang kurang pantas. Minta maaflah kepada Pak Pahan. Biarkan masalah ini berlalu."Arjuna juga mencoba membujuk Buana.Arjuna yakin dia bisa lulus ujian, tetapi dia tidak ingin Buana berpisah dengan Pahan karena dirinya.Zaman itu, setelah suami istri bercerai, istri akan me
Begitu teriakan tersebut terdengar, tiba-tiba terdengar suara gaduh di lantai bawah.Orang-orang bergegas untuk saling memberi tahu. Dalam sekejap, seluruh Kabupaten Damai seperti setetes air yang menetes ke wajan berisi minyak.Berisik sekali!"Hasilnya sudah keluar! Tuan, ayo kita pergi!"Arjuna yang sedang duduk di kursi sambil membaca buku, ditarik oleh Disa. Gadis itu menariknya dengan kuat sehingga buku di tangan Arjuna pun jatuh ke lantai."Hei, bukuku!""Tuan, abaikan buku itu. Kita lihat dulu pengumuman peringkatnya."Disa menarik Arjuna keluar dari kamar khusus, lalu berlari ke bawah.Semua pelajar di penginapan berhamburan keluar dari kamar mereka.Semua orang sangat gugup. Orang yang merasa percaya diri tampak menantikannya, sementara orang yang merasa ujiannya sulit tampak gelisah. Mereka diam-diam berdoa agar peringkat mereka tidak terlalu rendah.Hasil ujian diumumkan di depan pintu ruang ujian.Saat Arjuna dan Disa tiba, tempat pengumuman hasil ujian sudah penuh sesak d
"Aku berhasil! Aku berhasil, Ayah, Ibu! Aku berhasil, aku berhasil!"Tak lama kemudian, beberapa orang di antara kerumunan itu menari-nari, memeluk orang-orang di sekitarnya, bersorak kegirangan.Arjuna menoleh ke arah suara itu, lalu melihat orang yang berteriak tersebut. Dia tampak berusia setidaknya tiga puluh tahun. Dia baru saja lulus ujian daerah pada usia tiga puluh, tidak heran dia begitu bersemangat.Terdengar lagi suara-suara kegembiraan, tetapi lebih banyak suara kesedihan dan ratapan.Beberapa orang bahkan merasa tidak puas dengan hasil. Mereka menangis, menunjuk papan pengumuman sembari memarahi kepala daerah yang tidak bisa melihat bakat mereka."Hei, jangan dorong-dorong. Aku masih mencari nama tuanku."Disa, yang berjinjit untuk mencari nama Arjuna, terdorong keluar. Makin banyak orang bergegas ke bagian depan.Sebagian besar orang yang menyerbu dari belakang adalah orang-orang biasa yang memasang taruhan. Kekuatan mereka jauh lebih besar daripada para pelajar. Disa seg
"Posisi terakhir. Dia benar-benar di posisi terakhir.""Itu artinya kita menang taruhan. Ayo, ayo, minta uang sama Bos!"Entah sejak kapan semua siswa di Desa Embun mengepung Arjuna, termasuk Shaka."Arjuna, tidak masalah kali ini kamu berada di posisi terakhir. Kamu harus bekerja lebih keras tahun depan, berusaha untuk naik beberapa peringkat."Shaka sok menghibur Arjuna lagi.Dia lulus di peringkat tinggi, sedangkan Arjuna dieliminasi di peringkat terakhir.Dia menyukai perbandingan yang begitu kontras."Menurutku, Arjuna, sebaiknya kamu jangan ikut ujian lagi tahun depan. Ujian malah tidur, nilai ujian paling rendah. Sekolah kita tak bisa dipermalukan seperti ini."Ekspresi Damar terlihat sangat buruk. Dia mulai menyalahkan Arjuna karena telah mempermalukannya."Aku setuju dengan Kak Damar. Selain Shaka, meskipun kami tidak lulus ujian daerah, kami semua berada di kategori C, bukan D. Apalagi kategori D terakhir."Orang yang berbicara adalah Kanu dari Desa Naga. Dia adalah siswa ter
"Kategori A!""Nama Arjuna ada di kategori A!""Artinya Arjuna lulus!""Jangan-jangan sama nama?""Bukankah sudah tertera di papan peringkat? Arjuna dari Desa Embun, Kota Triana. Apakah ada dua Arjuna dari Desa Embun yang mengikuti ujian?""Tidak mungkin. Aku dari Desa Embun. Hanya ada satu orang yang bernama Arjuna di desa kami."Perkataan penduduk Desa Embun itu telah merampungkan perkara tersebut."Jadi, Arjuna benar-benar lulus ujian daerah!"Di tengah seruan, ekspresi dan tindakan orang-orang di sekitar lokasi pengumuman nyaris serupa.Mata dan mulut mereka terbuka lebar. Mereka menatap nama terakhir pada kategori A itu dengan mata terbelalak.Mereka yang membeli taruhan tampak frustrasi.Mereka menyesal tidak membeli taruhan bahwa Arjuna lulus ujian.Itu adalah taruhan yang dapat melipatgandakan uang mereka sebanyak seratus kali lipat.Penguji peringkat pun diam-diam berkeringat. Demi mendapatkan lebih banyak uang, dia gencar mempromosikan taruhan bahwa Arjuna lulus ujian daerah.
"Posisi terakhir. Dia benar-benar di posisi terakhir.""Itu artinya kita menang taruhan. Ayo, ayo, minta uang sama Bos!"Entah sejak kapan semua siswa di Desa Embun mengepung Arjuna, termasuk Shaka."Arjuna, tidak masalah kali ini kamu berada di posisi terakhir. Kamu harus bekerja lebih keras tahun depan, berusaha untuk naik beberapa peringkat."Shaka sok menghibur Arjuna lagi.Dia lulus di peringkat tinggi, sedangkan Arjuna dieliminasi di peringkat terakhir.Dia menyukai perbandingan yang begitu kontras."Menurutku, Arjuna, sebaiknya kamu jangan ikut ujian lagi tahun depan. Ujian malah tidur, nilai ujian paling rendah. Sekolah kita tak bisa dipermalukan seperti ini."Ekspresi Damar terlihat sangat buruk. Dia mulai menyalahkan Arjuna karena telah mempermalukannya."Aku setuju dengan Kak Damar. Selain Shaka, meskipun kami tidak lulus ujian daerah, kami semua berada di kategori C, bukan D. Apalagi kategori D terakhir."Orang yang berbicara adalah Kanu dari Desa Naga. Dia adalah siswa ter
"Aku berhasil! Aku berhasil, Ayah, Ibu! Aku berhasil, aku berhasil!"Tak lama kemudian, beberapa orang di antara kerumunan itu menari-nari, memeluk orang-orang di sekitarnya, bersorak kegirangan.Arjuna menoleh ke arah suara itu, lalu melihat orang yang berteriak tersebut. Dia tampak berusia setidaknya tiga puluh tahun. Dia baru saja lulus ujian daerah pada usia tiga puluh, tidak heran dia begitu bersemangat.Terdengar lagi suara-suara kegembiraan, tetapi lebih banyak suara kesedihan dan ratapan.Beberapa orang bahkan merasa tidak puas dengan hasil. Mereka menangis, menunjuk papan pengumuman sembari memarahi kepala daerah yang tidak bisa melihat bakat mereka."Hei, jangan dorong-dorong. Aku masih mencari nama tuanku."Disa, yang berjinjit untuk mencari nama Arjuna, terdorong keluar. Makin banyak orang bergegas ke bagian depan.Sebagian besar orang yang menyerbu dari belakang adalah orang-orang biasa yang memasang taruhan. Kekuatan mereka jauh lebih besar daripada para pelajar. Disa seg
Begitu teriakan tersebut terdengar, tiba-tiba terdengar suara gaduh di lantai bawah.Orang-orang bergegas untuk saling memberi tahu. Dalam sekejap, seluruh Kabupaten Damai seperti setetes air yang menetes ke wajan berisi minyak.Berisik sekali!"Hasilnya sudah keluar! Tuan, ayo kita pergi!"Arjuna yang sedang duduk di kursi sambil membaca buku, ditarik oleh Disa. Gadis itu menariknya dengan kuat sehingga buku di tangan Arjuna pun jatuh ke lantai."Hei, bukuku!""Tuan, abaikan buku itu. Kita lihat dulu pengumuman peringkatnya."Disa menarik Arjuna keluar dari kamar khusus, lalu berlari ke bawah.Semua pelajar di penginapan berhamburan keluar dari kamar mereka.Semua orang sangat gugup. Orang yang merasa percaya diri tampak menantikannya, sementara orang yang merasa ujiannya sulit tampak gelisah. Mereka diam-diam berdoa agar peringkat mereka tidak terlalu rendah.Hasil ujian diumumkan di depan pintu ruang ujian.Saat Arjuna dan Disa tiba, tempat pengumuman hasil ujian sudah penuh sesak d
"Menjadi istri Pak Pahan adalah posisi yang sangat bergengsi, tapi dia malah mengambil inisiatif untuk meminta cerai. Ck, ck, ck, dia benar-benar gila.""Hahaha!" Pahan tertawa dingin. "Oke! Sepakat! Jangan sampai nanti kamu menangis dan mengadu kalau aku yang menindasmu!""Ibu!"Fiona bergegas ke depan Buana. "Aku mohon, jangan begini."Jubah putih, gaun merah muda, tubuh rapuh, mata besar, tatapan melankolis, dan bulu mata panjang.Di bulan Februari yang dingin, Fiona terlihat sangat lemah berdiri melawan angin. Hal ini membuat orang lain merasa kasihan padanya."Fiona, jangan membujuk Ibu lagi. Ibu sudah memutuskan." Tatapan Buana yang lembut memancarkan tekad yang tak tertandingi."Tante Buana, perbuatan Tante memang kurang pantas. Minta maaflah kepada Pak Pahan. Biarkan masalah ini berlalu."Arjuna juga mencoba membujuk Buana.Arjuna yakin dia bisa lulus ujian, tetapi dia tidak ingin Buana berpisah dengan Pahan karena dirinya.Zaman itu, setelah suami istri bercerai, istri akan me
"Seharusnya hanya sama nama, tidak mungkin itu Arjuna dari Desa Embun.""Tidak!" Penguji peringkat mengangkat jari telunjuknya, lalu melambaikannya di depan orang tersebut. "Kamu salah. Arjuna dalam buku adalah Arjuna dari Desa Embun.""Hei, Bos!" Seseorang di antara kerumunan langsung berteriak, "Apakah kamu berwelas asih, ingin kurang menghasilkan uang tahun ini?"Penguji peringkat lanjut menggoyangkan jari telunjuknya. "Bukankah aku sudah mengatakan bahwa prediksi tahun ini adalah tiga peringkat teratas dan terbawah.""Prediksi peringkat terbawah?""Ya, harganya lima sen juga per taruhan. Cepat pasang taruhannya. Beli banyak, dapat banyak.""Begitu ya ...." Mata Damar langsung berbinar. "Bos, aku akan membeli empat ratus taruhan. Semuanya untuk Arjuna.""Aku mau sepuluh taruhan.""Aku mau lima puluh taruhan."Taruhan Arjuna berada di posisi terbawah direbut oleh semua orang, bahkan lebih laku daripada taruhan Shaka. Seketika popularitas Arjuna beberapa kali lebih tinggi daripada Sha
"Disa, ayo kita naik."Tahu bahwa Disa sedang kesal, Arjuna pun menarik tangan Disa, lalu berjalan menuju lantai atas."Hei, Arjuna, herbalnya!"Shaka mengejar mereka sambil membawa kantong berisi obat itu. Disa mengambilnya, kemudian melemparkannya pada Shaka."Minum sendiri kalau mau!"Usai berbicara, Disa langsung menutup pintu.Pintu hampir mengenai hidung Shaka yang berdiri di depan pintu."Anak ini benar-benar tak tertolong! Anak ini benar-benar tak tertolong!“Setelah diabaikan, Shaka berdiri di luar pintu sambil mengoceh di depan pintu dengan marah.Arjuna dan Disa terus mengabaikannya. Setelah lelah mengoceh, Shaka baru pergi.Pada hari ketiga ujian, Arjuna tetap tidur.Apa daya, waktunya terlalu panjang dan membosankan. Sulit untuk tidak mengantuk.Damar mengamuk. Dia berteriak bahwa dia akan melaporkan Arjuna."Kak Damar!" Seseorang menahannya. "Toh, ini sudah hari terakhir, untuk apa kamu repot-repot melaporkan orang bodoh itu? Setelah nilai ujian diumumkan, Arjuna akan die
Arjuna yang sedang terpesona dengan Disa pun terkejut sesaat."Plak!" Muka Arjuna dipenuhi serpihan rumput.Benda yang mengenai wajahnya adalah sekantung potongan rumput."Tuan!"Disa buru-buru menyingkirkan serpihan rumput di wajah Arjuna. Makin dia menyingkirkannya, makin Disa marah. Dia berbalik, lalu memelototi orang yang melempari Arjuna dengan rumput. "Apa yang kalian lakukan? Tuanku hanya berjalan, apakah dia melakukan kesalahan terhadap kalian?""Dasar tidak berpendidikan! Seorang wanita tidak boleh berbicara di depan pria bila tak disuruh!"Damar-lah yang memarahi Disa, dia juga yang melempar kantong rumput ke wajah Arjuna.Dia membawa sekelompok siswa dari sekolah di Desa Embun berdiri di aula penginapan untuk menunggu Arjuna."Kalian yang melempari tuanku dengan barang dulu!""Kalau kamu bicara lagi, jangan salahkan kami bersikap kasar.""Memangnya aku takut pada kalian?"Wajah Disa memerah karena marah, dia mengulurkan tangan untuk meraih anak panah."Disa, mundur."Arjuna
Ujian daerah berlangsung selama enam jam sehari. Selama ujian berlangsung, para peserta tidak diperbolehkan meninggalkan ruang ujian. Jika mereka perlu pergi ke kamar kecil atau semacamnya, mereka tinggal mengangkat tangan, petugas pengawas akan menemani mereka pergi.Dalam waktu kurang dari satu jam, Arjuna telah mengisi lebih dari setengah soal.Kalau saja dia tidak kikuk dalam menggunakan kuas, dia akan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu jam.Ujiannya benar-benar tidak ada kesulitan sama sekali. Seiring Arjuna menulis, dia merasa kelopak matanya terasa berat. Dia ingin menahan kantuk, tetapi tidak bisa.Ujian dimulai hari ini. Disa sangat gugup tadi malam sehingga dia berguling-guling di lantai, mengganggu tidur Arjuna.Lupakan.Arjuna meletakkan kuas di atas meja, kemudian menutupi dirinya dengan selimut.Karena dia tak bisa menahannya, dia akan tidur dulu.Ketika Arjuna bangun, dia mendapati masih ada dua jam sebelum ujian berakhir.Arjuna mengedarkan pandangannya ke se