"Maaf, ya. Biar aku bersulang dengan kalian semua," kata Michelle.Kemudian, Michelle melepaskan tangan Simon.Dia berjalan ke tempat duduknya, mengambil anggur dan menuangkan segelas penuh untuk Tiffany.Tiffany tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun.Tatapan Michelle tertuju pada dirinya.Begitu pula dengan tatapan rekan kerja mereka.Tiffany hanya bisa mengambil gelasnya dan meminum seteguk anggur.Dia tidak pandai minum, sehingga tegukan barusan membuatnya agak mabuk.Michelle meneguk segelas anggur, lalu menurunkan gelasnya. Tubuhnya terhuyung-huyung, membuatnya terjatuh dalam pelukan Simon.Dia bersandar dalam pelukan Simon dan mengurut keningnya dengan tidak nyaman. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Simon dengan tatapannya yang berkabut sambil berkata dengan menggoda, "Simon, aku agak pusing, ayo pulang."Ucapan ini menunjukkan tahap hubungan kedua orang ini."Iya."Simon merangkul pinggang Michelle dan membawa Michelle yang tidak bisa berdiri dengan baik ke luar ruangan.Saa
"Antarkan dia ke rumah."Suara Simon yang rendah dan serak terdengar dari luar mobil.Kemudian, pintu mobil ditutup.Michelle yang sudah setengah memejamkan matanya sambil menunggu Simon datang dan melakukan apa pun yang Simon inginkan padanya pun tiba-tiba membuka kedua matanya. Dia sama sekali tidak terlihat mabuk.Dia melihat ke jok belakang mobil yang kosong dengan tatapan tidak percaya.Dia langsung duduk tegak dan membuka pintu mobil. Dia menarik pergelangan tangan Simon dan menatap Simon dengan matanya yang berkaca-kaca sambil bertanya dengan lembut, "Simon, kamu mau ke mana? Kamu nggak akan mengantarkanku pulang, ya?"Simon tidak mengucapkan apa pun dan hanya menatap Michelle dengan tatapan dingin.Tatapan itu membuat Michelle sesak napas. Kata-kata yang hendak dia ucapkan seketika tersangkut dalam tenggorokannya.Dia sangat memahami sikap Simon, jadi tentu saja dia mengetahui arti dari tatapan ini.Pria ini sedang marah.Awalnya, Michelle mengira bahwa kesediaan Simon untuk pe
Saat Simon mendekat, aroma maskulin yang kuat menyelimuti Tiffany.Namun, bau ini bercampur dengan wangi parfumnya Michelle.Dua bau yang bercampuran ini terasa ambigu, membuat Tiffany merasa mual."Wuek!"Tiffany benar-benar merasa mual."Tiffany, jangan sampai kamu muntah!"Ekspresi Simon seketika berubah. Dia teringat akan adegan Tiffany mabuk dan muntah pada dirinya, sehingga dia langsung melepaskan Tiffany dan menyingkir ke satu sisi.Tiffany tidak muntah.Dengan kesempatan ini, dia melangkah maju dan duduk di kursi. Dia bersandar di kursi itu untuk meredakan rasa pusing itu.Setelah itu, dia mengabaikan Simon dan mengeluarkan ponselnya untuk memanggil taksi.Simon yang berada di satu sisi menunduk dan menatap Tiffany dengan tatapan gelap.Sesaat kemudian.Simon mengeluarkan ponselnya dan mengetuk layar ponselnya beberapa kali.Kemudian, dia menyimpan kembali ponselnya.Saat Tiffany hendak memanggil taksi, pesan yang berisi pemberitahuan dari bank muncul di layar ponselnya.Dia me
Melihat Tiffany sudah berdiri sendiri, Simon yang hendak turun ke danau itu langsung meraih pergelangan tangan Tiffany dengan kuat, ekspresinya dingin.Dengan satu tarikan pelan, dia menarik Tiffany keluar dari danau buatan itu.Dia melepaskan jaket Tiffany dengan cepat dan menyelimuti tubuh Tiffany dengan jaketnya sendiri untuk melindungi Tiffany dari angin malam.Tiffany kembali diselimuti oleh hawa Simon, sehingga dia ingin meronta."Kamu masih saja berulah, ya?" kata Simon.Simon merangkul pinggang Tiffany dan menarik Tiffany ke dalam pelukannya. Dia menunduk dan menatap Tiffany sambil bertanya, "Kamu mau cuti sakit di hari kedua kamu bekerja?"Tiffany seketika terdiam.Simon menggendong Tiffany dan berjalan ke luar.Di cuaca seperti ini, tidak ada orang di taman bunga.Namun, tetap ada orang yang lalu-lalang di depan pintu.Tiffany tidak ingin dilihat oleh orang lain, jadi dia mengulurkan tangannya dan menarik jas luarnya Simon untuk menutupi wajahnya sendiri.Melihat gerakan ini,
Simon menatap bibir Tiffany dengan tatapan dingin. Melihat bibir Tiffany yang sudah tidak berwarna, dia pun melepaskan tangannya."Jangan lihat!" seru Tiffany sambil menatap Simon dengan tatapan dingin."Huh."Simon tertawa dengan pelan sambil menatap Tiffany yang serius dengan tatapan usil.Tatapan itu jelas-jelas sedang mengatakan bahwa dia sudah pernah melihat dan menyentuh seluruh bagian tubuh Tiffany.Jadi, mengapa dia tidak boleh melihat tubuh Tiffany?Tiffany tidak mengucapkan apa pun dan hanya menatap Simon.Saat Simon berbalik, Tiffany baru mulai melepaskan celananya yang basah.Awalnya, dia masih melirik ke arah Simon.Melihat Simon membelakangi dirinya, dia baru melepaskan celananya dengan tenang.Celananya menempel dengan kulitnya, sehingga Tiffany harus membungkuk dan melepaskan celananya dengan kuat.Jaketnya pun jatuh dari bahunya.Namun, dia tidak menyadari bahwa bayangannya terpantul di jendela mobil.Meskipun bayangannya kabur, Simon mengenali tubuh Tiffany dengan jel
Dia tahu bahwa hari itu, Simon tidak menepati janjinya dengan Sierra, jadi Sierra tidak bertemu dengan ayahnya.Oleh karena itu, gambar ini hanyalah imajinasi Sierra.Setiap goresan di gambar ini seperti pisau yang menyayat hatinya Tiffany.Makin besar ekspektasi Sierra, Tiffany pun merasa makin sedih.Tiffany tidak bisa menahan diri dari memikirkan betapa kecewanya Sierra saat ayahnya tidak datang setelah dia menunggu selama belasan jam di bawah terpaan angin yang dingin.Sebelum Sierra meninggal, dia malah melihat ayah yang sudah dia tunggu-tunggu menemani Aurora ke taman hiburan.Betapa sedihnya perasaan putri kesayangan Tiffany pada saat itu?Air mata seketika mengaburkan penglihatan Tiffany dan jatuh membasahi wajahnya....Setelah memasak sup hangat, Simon naik ke lantai atas, tetapi dia tidak menemukan Tiffany di kamar utama.Melihat cahaya dari celah pintu kamarnya Sierra, Simon pun berjalan ke arah itu.Dia mendorong pintu dan berjalan masuk ke kamar itu.Dia melihat Tiffany y
Simon merasa agak sedih.Dia berkata dengan suara serak, "Maaf."Dia tidak menyangka bahwa Sierra akan begitu menantikan hal sepele seperti pergi ke taman hiburan.Mendengar Simon meminta maaf dengan suara serak, Tiffany memejamkan matanya.Sesaat kemudian, dia membuka matanya dan menoleh secara perlahan. Dia menatap mata Simon yang agak merah dengan matanya yang merah dan bengkak, tatapannya penuh kebencian. "Maaf? Simon, permintaan maafmu nggak berguna!"Simon menatap Tiffany yang lepas kendali atas emosinya.Dia mengingat bahwa kesempatan ini didapatkan Tiffany dengan berlutut dan memohon padanya.Dia sebenarnya tidak punya waktu karena Aurora harus menjalani operasi dan anak itu merasa ketakutan.Dia sudah berjanji pada Aurora bahwa dia akan terus menemani Aurora sebelum operasi itu dimulai.Saat Tiffany mengungkit hal ini, Simon langsung menolaknya.Tak disangka, Tiffany langsung berlutut dan memohon padanya.Akhirnya, dia menyetujui permintaan ini.Namun, dia tetap saja mengingka
Melihat Tiffany akhirnya menyerah, ekspresi Simon menjadi lebih lembut."Baiklah."Simon langsung berdiri dan menarik Tiffany sambil berjalan keluar dengan tidak sabar.Keduanya langsung berjalan ke garasi dan naik ke mobil."Alamat," kata Simon sambil memasangkan sabuk pengaman Tiffany."Biar aku yang tunjukkan jalannya," kata Tiffany.Tiffany takut jika dia menyebutkan alamat pemakaman itu, Simon akan mengatakan bahwa dia sudah menggila, seperti beberapa kali sebelumnya."Baiklah."Suasana hati Simon sedang baik karena dia akan bertemu dengan Sierra, jadi dia tidak perhitungan soal hal sepele ini.Mobil melaju keluar dari garasi.Kedua orang di dalam mobil tidak banyak bicara, keduanya tenggelam dalam emosi masing-masing.Tiffany tetap menatap lurus ke depan sambil mengarahkan jalan dengan sungguh-sungguh.Di tengah jalan, ponselnya Simon tiba-tiba berdering.Ada panggilan masuk dari Michelle.Mendengar nada dering yang familier ini, tubuh Tiffany jelas-jelas menegang, tatapannya lan
Tiffany berpikir, 'Apakah dia nggak pernah berpikir, bagaimana kalau aku benar-benar kenapa-kenapa?''Atau jangan-jangan dia sama sekali nggak peduli?'Karena efek obat itu, Tiffany kehilangan akal sehatnya dan tidak bisa menyembunyikan pikirannya. Dia langsung bertanya dengan suara pecah, "Simon, karena aku nggak menaati ucapanmu dan datang untuk kencan buta, kamu membiarkannya memberiku obat bius, supaya dia menindasku? Hanya karena aku melanggar ucapanmu, kamu mau mendidikku dengan cara seperti ini?"Simon tidak membantah.Artinya, dia mengiakan pertanyaan Tiffany.Tiffany hanya merasakan kedinginan yang menjalar dari ujung kakinya ke seluruh tubuhnya. Dia pun mendorong Simon dengan sekuat tenaganya.Simon yang tangannya menyentuh dinding baru saja ingin menarik Tiffany ke dalam pelukannya untuk membawa Tiffany pergi.Pada saat ini, pintu lift terbuka lagi.Seseorang dengan sosok tinggi dan tampan pun muncul di koridor ini.Orang itu adalah Ivan.Pria yang tinggi itu melangkah mengh
"Sekeras apa pun kamu berteriak, nggak akan ada yang mendengarmu," kata Martin.Dia sengaja memilih restoran ini karena tempat ini sangat menghargai privasi tamu.Oleh karena itu, ruang pribadi di restoran ini sangat kedap suara.Martin menunduk dan melihat luka di lengannya. Dia mulai menggila.Dia tidak menyangka bahwa Tiffany yang terlihat lemah lembut bisa berbuat seliar ini.Dia menyukai wanita yang liar.Makin liar, makin seru.Martin melangkah maju.Seorang pria dewasa dan seorang wanita yang sudah hampir kehilangan kemampuannya untuk melawan.Baru saja Tiffany tiba di depan pintu ruangan, sebelum dia bisa membuka pintu itu, rambutnya dijambak oleh Martin dari belakang, sehingga dia tertarik menjauh dari pintu itu.Pintu ruangan yang baru sedikit terbuka pun kembali tertutup."Pergi sana!"Tiffany mengayunkan pisau itu lagi untuk mengusir Martin.Namun, kali ini, Martin sudah memiliki persiapan.Martin meraih pergelangan tangan Tiffany yang diayunkan dengan gila-gilaan, lalu mem
Melihat mobil yang menjauh itu, sudut bibir Michelle terangkat...."Maaf, Pak Martin. Kencan buta ini bukan keinginanku. Aku sudah menghabiskan waktumu. Kamu bisa menurunkanku di stasiun kereta bawah tanah," kata Tiffany sambil menatap Martin dengan tatapan penuh perasaan bersalah."Kebetulan, aku juga hanya menyelesaikan tugas dari keluargaku. Ayo makan bareng, anggap saja sebagai penjelasan untuk para tetua keluarga kita?" kata Martin sambil tertawa."Baiklah," jawab Tiffany.Mendengar ucapan Martin, Tiffany merasa jauh lebih santai, jadi dia mengangguk dan menyetujui usul Martin.Martin membawa Tiffany ke sebuah restoran.Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang wajar di antara mereka dan masuk ke sebuah ruangan pribadi yang sudah dipesan terlebih dahulu. Kemudian, Martin menarikkan kursi untuk Tiffany."Nona Tiffany suka minum anggur apa?" tanya Martin dengan sopan."Maaf, aku nggak minum," jawab Tiffany.Tiffany memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol, jadi dia hany
Isabella menunggu jam Tiffany pulang kerja untuk mengawasi progres kencan buta itu.Tiffany berpikir sejenak sebelum menyadari maksud ucapan Isabella, yaitu pasangan kencan butanya."Dia menunggu di bawah perusahaan?" tanya Tiffany."Iya, awalnya mau mengajak untuk bertemu di restoran, tapi katanya, dia kebetulan sejalan, jadi dia akan pergi menjemputmu di perusahaan. Tiffany, jangan membuatnya menunggu lama. Cepat turun," kata Isabella.Isabella sangat bersemangat. Bisa dilihat bahwa dia sangat puas dengan pasangan kencan buta yang dia pilih ini."Baiklah, aku akan ke bawah sekarang juga," kata Tiffany.Tiffany juga tidak ingin membuat orang lain menunggu lama, jadi setelah membereskan barangnya, dia langsung turun ke lantai bawah.Baru saja dia keluar dari perusahaan, dia melihat sebuah mobil Rolls-Royce Ghost berwarna hitam.Mobil itu mobilnya Simon.Pria itu duduk di dalam mobil dan tidak turun dari mobil.Jendela mobil diturunkan sedikit, sehingga saat Tiffany melihat ke arah mobi
Saat Simon melihat telinga Tiffany yang sangat merah, tatapannya menggelap.Tatapannya bergerak ke bawah.Dia pun melihat bagian belakang leher Tiffany yang juga sudah memerah.Napas Simon menjadi makin berat. Dia membalikkan wajah Tiffany dan meraih dagu Tiffany sambil menunduk untuk mencium Tiffany."Upp!"Tiffany terus meronta.Dia terus menggoyangkan kepalanya untuk menghindari ciuman ini.Namun, Simon mendekatinya secara perlahan, sehingga Tiffany sama sekali tidak bisa menghindar.Simon mencium Tiffany hingga Tiffany kesusahan bernapas, sebelum Simon melepaskan bibirnya.Tiffany benar-benar marah besar.Begitu bibirnya dibebaskan, dia menunduk, membuka mulutnya dan menggigit bagian antara jari jempol dan jari telunjuknya Simon.Dia juga menatap Simon dengan tatapan penuh kebencian.Simon membiarkan Tiffany menggigitnya, seakan-akan dia tidak merasakan rasa sakit.Dia hanya makin kejam.Mobil ini sudah meninggalkan jalan pribadi Keluarga Frank. Saat ini sedang jam sibuk, jadi arus
Tiffany berjalan keluar dengan tergesa-gesa.Begitu dia keluar, dia langsung melihat sebuah mobil Maybach hitam yang terparkir di depan pintu.Mobil ini diaturkan Isabella untuk mengantarkan Tiffany ke perusahaan.Tiffany bergegas menghampiri mobil itu dan membuka pintu mobil untuk naik mobil.Begitu dia masuk ke dalam mobil, dia melihat seseorang di jok belakang mobil.Tiffany langsung menoleh. Di dalam mobil yang gelap ini, dia bisa melihat sosok seorang pria tinggi yang sedang bersandar di kursinya, dengan sebagian besar wajahnya tersembunyi di bayangan.Orang itu adalah Simon.Dia memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan di tangan kirinya yang ujungnya sudah berubah bentuk karena kekuatan tangannya.Dia menatap Tiffany dengan tatapan yang sangat berbahaya.Dengan ekspresi dingin, gerakan Tiffany naik mobil seketika terhenti.Kemudian, Tiffany bergegas mundur ke belakang.Dia tidak ingin naik mobil yang sama dengan Simon.Reaksi Tiffany sudah sangat cepat, tetapi dia tetap saja
"Aku terbawa emosi, makanya aku melepaskan beberapa ekor tikus ke dalam ruangan untuk melampiaskan amarahku demi Rora.""Simon, aku hanya melakukannya karena aku terlalu mencintai Rora."Aurora adalah keuntungan Michelle.Simon sangat menyayangi Aurora.Asalkan Michelle mengatakan bahwa dia hanya melakukan hal itu demi Aurora, Simon tidak akan perhitungan dengannya.Karena Simon diam saja, Michelle berkata lagi dengan nada lembut dan manis, "Simon, sekarang, aku sama sekali nggak berani tidur. Setiap aku memejamkan mataku, aku bisa melihat ular itu menjerat diriku. Bisakah kamu menemaniku di rumah sakit?"Namun, Simon malah berkata dengan suara rendah, "Sudah malam, cepat tidur."Kemudian, dia langsung mengakhiri panggilan ini.Saat Michelle mengatakan bahwa dia terus melihat ular menjerat dirinya setiap dia memejamkan matanya, Simon malah mengingat bahwa Tiffany sangat takut pada tikus, tetapi malah dikurung selama itu, jadi malam ini, Tiffany pasti susah tidur....Setelah Simon kelu
Michelle menangis dengan pelan sambil terus mengeluh tentang penyiksaan yang dia derita di ruang bawah tanah itu.Setiap kata yang dia ucapkan sedang memancing amarah Simon.Dia sudah mengatakan bahwa saat dia keluar, dia tidak akan melepaskan Tiffany.Seiring dengan tangisannya, dia jelas-jelas merasakan aura dingin yang Simon pancarkan.Michelle membenamkan dirinya dalam pelukan Simon sambil tersenyum dengan bangga....Di rumah lama Keluarga Frank.Pada malam hari, Tiffany tidak tidur di rumahnya Simon, melainkan pergi ke rumahnya Isabella dan tidur di kamarnya sendiri.Karena Tiffany sudah merasakan ketakutan yang berlebihan, Isabella menyuruh pembantu untuk memasakkan sup hangat untuk Tiffany dan menyalakan dupa aroma terapi di kamarnya.Tiffany mengira bahwa hal-hal ini akan membantunya terlelap, tetapi setiap dia memejamkan matanya, adegan di ruang bawah tanah itu akan muncul dalam benaknya.Dia tidak bisa tidur.Tiffany pun berdiri dan mengeluarkan obat dari tasnya.Dia meminum
Jika Simon tidak bisa melihat kebaikan Tiffany, Isabella akan mencarikan orang yang bisa menghargai dan mencintai Tiffany.Dia menggenggam tangan Tiffany dan berkata, "Tiffany, Nenek pasti akan memilihkan pasangan yang baik untukmu.""Nenek, aku nggak mau kencan buta."Tiffany langsung menolak.Ucapan Simon memang benar, Tiffany tidak akan kencan buta, bukan karena dia terlalu mencintai Simon, melainkan karena dia belum membalaskan dendam Sierra, jadi dia tidak ingin memikirkan hal-hal ini.Isabella berkata dengan sungguh-sungguh, "Tiffany, Nenek mau mencarikan orang yang bisa melindungimu."Sebelumnya, dia ingin menjodohkan Tiffany dengan Simon.Dia memang egois karena Simon adalah cucu yang paling dia sayangi dan Tiffany sangat mencintai Simon, jadi Tiffany pasti akan memperlakukan Simon dengan baik. Oleh karena itu, Isabella merasa tenang.Namun, secara bersamaan, dia menginginkan agar Simon bisa melindungi Tiffany dan tidak membiarkan Tiffany ditindas.Akan tetapi, sekarang, Isabel