Hari ini Nadia dan Sekar mendatangi kediaman rumah Anin. Niatnya ingin melabrak dan menyemprot berbagai kata sumpah serapah kepada perempuan gatal itu karena sudah mengganggu putranya.Namun, baru sampai di depan gerbang halaman rumah justru Sekar dan Nadia dibuat tercengang dengan aksi berantem antara pasangan suami istri yang wajahnya sering muncul di berita politik.“Bu, itu orangtuanya Anin,” gumam Nadia, menunjuk ke arah Rosa dan Budi. “Pantas saja anaknya liar! Orangtuanya aja begitu!” lanjutnya menilai.“Hussttt, diam aja kamu, Nad.” Sekar melerai dan terus melihat aksi perdebatan soal kampanye. Sampai akhirnya Sekar mulai berani turun ketika salah satu dari mereka telah masuk mobil dan pergi keluar dari halaman rumah. “Ayo kita turun, Nad,” ajak Sekar, menoel bahu Nadia.Nadia sendiri menurut untuk turun. Perempuan itu terus setia mendampingi ibu-nya. Soal anak sudah Nadia titipkan sama ART di rumah. Sedangkan Kalla sudah aman di sekolah.“Permisi,” seru Sekar, yang membuat Ro
Di lain tempat Anin dan Ares baru saja selesai makan pagi. Ares sengaja hari ini tidak berangkat ke kantor karena ingin menemani Anin di hari pertama tinggal di Villa. Ares takut kalau ditinggal nantinya Anin merasa resah.“Kamu enggak kerja, Mas?” tanya Anin, semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Ares. Menikmati perlakuan romantis dari pria matang ini yang membuat Anin terasa nyaman.“Enggak. Mau nemenin kamu.”Jujur saja Anin langsung merasa ge’er dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ares. Akan tetapi sebisa mungkin Anin menutupi perasaan bahagianya.Sebelum membalas ucapan dari Ares, Anin mencoba berdeham terlebih dahulu agar saluran tenggorokannya ini terasa lega.“Enggak perlu ditemenin juga gapapa kok. Lagian mana ada yang mau nyulik aku.”“Aku yang bakalan nyulik kamu nanti ke depan penghulu.”Anin benar-benar tersipu malu saat ini. Bibirnya yang sejak tadi mencoba mengulum senyum kini akhirnya tersungging dengan lebar.Ares yang melihat ekspresi Anin merasa begi
Nadia yang sudah mengetahui keberadaan Anin langsung segera menghubungi Rosa—mama dari perempuan laknat itu.Tentu saja Nadia melaporkan ini tanpa sepengetahuan dari Ares. Nadia memberikan kode kepada Sekar untuk berkongkalingkong untuk mengalihkan perhatian Ares—Kakaknya.Ketika merasa sudah aman, Nadia pun mengeluarkan ponsel dan segera memencet nomor Rosa. Setelah tersambung, panggilan telepon Nadia langsung diangkat.“Halo.”“Halo, Bu Rosa.”“Ini—““Ini Nadia adiknya Ares. Maaf menghubungi Ibu Rosa mendadak seperti ini. Saya ingin menyampaikan kabar kepada Ibu soal keberadaan Anin.”“Keberadaan Anin? Di mana dia?”“Dia sekarang berada di Villa milik Kakak saya.”“Villa? Kamu yakin?”“Tentu saja sangat yakin! Pasalnya sekarang Kakak saya sudah berada di rumah karena sudah kami jebak! Sebaiknya Ibu Rosa segera menjemput Anin dan membawanya pergi!” tekan Nadia, penuh kebencian.“Kalau begitu kirimkan alamatnya biar nanti saya menyuruh anak buah untuk menjemput Anin.”“Baik! Saya akan
Anin yang baru ingin memejamkan kedua mata langsung terkejut ketika mendengar suara berisik-berisik dari luar villa ini.Awalnya hanya suara seperti orang saling mengobrol, tapi entah kenapa menjadi suara jeritan lantang. Bahkan suara itu sangat tidak asing. Anin yang takut terjadi apa-apa dengan Emak, langsung menyingkap selimut dan turun dari atas ranjang untuk melihat apa yang terjadi di luar.Anin berjalan cepat menuju ke depan dan terkejut sangat luar biasa ketika salah satu dari pria berbaju hitam adalah anak buah dari keluarganya.“Itu dia Non Anin!” seru salah satu anak buah yang melihat Anin.“Cepat tangkap dan bawa pulang!” titah pimpin dari anak buah itu.Anin yang melihat Emak dan Bapak yang tengah menghalangi masuk orang itu membuatnya segera berlari cepat.“Non Anin cepat lari!” teriak Emak Nengsih.Merasa bingung dan tidak bisa berpikir panjang membuat Anin justru berlari menuju ke arah pintu belakang.Baru membuka pintu, Anin sudah merasa horor sendiri karena suasana y
Pagi-pagi Ares terbangun dengan wajah yang tampak begitu segar. Ia melirik ke samping di mana ada Kalla, sang keponakan.Ares pun segera turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.Saat sudah selesai mandi dan menunaikan ibadah, Ares mengecek ponsel miliknya. Tidak ada notifikasi apapun di sana. Ares kembali meletakkan ponsel miliknya di atas meja nakas.“Ares, udah sholat toh?” tanya Sekar, ketika menyibak hordeng depan kamar milik Ares. “Bantuin Ibu dong, Res. Beresin barang-barang ke bagasi mobil.”“Iya, Bu.”Ares langsung keluar kamar dan melihat barang-barang yang akan dibawa ke Yogyakarta. Sangat begitu banyak yang membuat Ares mengesah dalam.Tapi tidak ingin terkena semprot sang Ibu, Ares mulai mengambil kardus-kardus itu untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.“Ini isinya apa aja, Bu?”“Ya oleh-oleh toh, Res. Kalau kita tidak bawa oleh-oleh nanti buat omongan keluarga di sana! Dibilang pulang ke kampung kok tidak bawa oleh-ole
Anin yang diminta untuk keluar dari kamar kini sedikit menunda waktu dengan mencari alasan untuk mandi terlebih dahulu.Tapi Anin tengah memikirkan cara untuk kabur dari rumahnya. Anin benar-benar ingin mempertahankan janin di dalam kandungannya ini.“Aku harus meminta bantuan Mbak,” gumam Anin, lirih. “Enggak mungkin aku kabur sendirian begini tanpa bantuan orang lain.”Tok! Tok! Tok!“Non Anin,” kata Mbak, asisten rumah tangga di keluarga Anin. “Non!”“Masuk aja, Mbak,” sahut Anin sedikit berteriak.Ceklek.Anin tersenyum manis kepada asisten rumah tangganya yang datang sembari membawa makanan karena ia tadi berpesan kepada sang mama ingin sarapan di dalam kamar.Dan, setelah melihat asisten rumah tangganya itu selesai menata semua makanan di atas meja. Anin segera menahan asisten rumah tangganya itu sebelum keluar.“Mbak,” lirih Anin, menatap begitu memelas. “Bantu Anin pergi dari sini. Mbak tahu sendiri kalau gugurin kandungan itu dosa besar, ‘kan?”Asisten rumah tangga itu mengan
Tiba di rest area, Ares pamit pergi ke kamar mandi sebentar kepada Ibu dan adiknya. Mereka berdua pun memilih ikut turun dibanding menunggu di mobil.“Kita berdua tunggu di restoran itu, ya,” kata Sekar, menunjuk ke arah restoran cepat saji.“Kalau begitu kita parkir di sana saja, Bu. Biar Ares pindahkan mobilnya dulu.”“Yasudah cepetan. Ibu sama Nadia jalan saja menuju ke sana.”Ares mengangguk patuh dan bersiap-siap mencari parkiran di depan restoran makanan cepat saji. Ketika sudah dapat, Ares mengambil ponsel miliknya yang diletakkan di dalam dashboar mobil.Ares memencet nomor villa tapi tidak bisa. Ares akhirnya mencoba telepon nomor ponsel Emak Nengsih, namun lagi-lagi tidak tersambung.“Kenapa tidak ada yang bisa tersambung.” Ares langsung mengecek jaringan ponselnya yang ternyata sangat bagus. Kalau soal pulsa, tidak mungkin. Ares pakai pascabayar.Tidak mau membuat Ibu dan Nadia curiga, Ares memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan pergi ke toilet.Selama berjalan menuju
Di saat sedang memikirkan siapa yang sudah berani mengotak-atik ponselnya, mendadak terdengar suara Nadia dari luar kamar.Hal ini membuat Ares melirik ke arah ujung pintu yang terdapat Nadia yang sedang menyengir lebar.“Mawar! Mas Ares! Kalian berdua ini pasti lagi kangen-kangenan tapi enggak ngajakin aku dih!” protes Nadia, masih menyengir lebar.Nadia berjalan masuk menuju ke arah Mawar juga Ares. Nadia belum menyadari sorot mata Ares yang sudah begitu tajam.Ketika sudah berdiri di depan Mawar dan samping Ares, Nadia terkejut ketika lengan tangannya dicengkeram erat oleh kakaknya.“Kamu apain hape Mas, Nad?” tembak Ares to the point.Nadia tampak melongo tidak paham. “Maksud Mas Ares apaan, sih? Kenapa mendadak tanya begini?”“Sudah enggak usah banyak ngalor ngidul! Kamu apain hape Mas!” bentak Ares, mulai tersulut emosinya.“Dih apaan, sih, Mas!” sangkal Nadia, mencoba berontak agar cengkeraman Ares terlepas. “Aku enggak tahu soal hape Mas Ares. Memang hape punya Mas kenapa?”“E
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah di dalam keluarga Sastrowidjojo. Apalagi pagi ini Sekar tengah menanti dengan perasaan harap-harap cemas. Anindya—menantunya tengah berada di dalam kamar mandi untuk menguji kebenaran apa yang dikatakan oleh Ibu Nyai. Apakah benar hamil atau hanya mual-mual biasa karena asam lambung ataupun masuk angin.Semoga saja hasilnya sesuai harapan. Sekar ingin sekali menimang cucu dari Ares. Bukan ingin menuntut, tapi Sekar sadar jika usianya sudah tidaklah lagi muda. Sekar ingin menggendong anak hasil dari Ares agar bisa adil dengan Nadia. Di samping itu mumpung ia masih hidup juga karena usia tiada yang tahu bukan? Untuk itu Sekar selalu berdoa supaya Anin bisa sehat selalu dan mengandung benih dari Ares.Ceklek! “Bagaimana hasilnya?” tanya Sekar, harap-harap cemas.Anin diam saja. Ia justru langsung menyerahkan alat tes kehamilan itu kepada Sekar. “Enggak tahu, Bu. Anin enggak lihat soalnya takut,” jawab
Semua orang yang berada di kamar itu tentu saja terkejut dengan ucapan Ibu Nyai. Apalagi hanya dengan memegang perut saja langsung berasumsi seperti itu.“Iya betul ini lagi hamil,” ulang Ibu Nyai.“Itu seriusan Ibu Nyai?” tanya Sekar, masih tidak percaya akan ucapan Ibu Nyai. Tapi memang suka betul ucapan Ibu Nyai ini.“Iya, Ibu Sekar. Coba saja diperiksa ke dokter pasti hasilnya positif.” Ibu Nyai masih terus mengusap-usap perut milik Anin lembut. “Belum datang bulan, ‘kan, Nduk?” tanya Ibu Nyai kepada Anin.Anin tampak terdiam sesaat. Mencoba mengingat kapan terakhir dirinya kedatangan tamu bulanan.Dan, ketika ingat jika terakhir datang bulan saat akan menikah. Sedangkan ini sudah satu bulan lebih dirinya menikah dengan Ares. Sedangkan ia belum datang bulan lagi.“Astagfirullah! Anin belum datang bulan, Bu,” ucap Anin menatap ke arah Sekar dengan ekspresi wajah kebingungan. “Apa benar Anin hamil, ya, Bu?”“Walah Ibu juga tidak tahu, Nin. Kamu ada tespack?” tanya Sekar, jadi penasa
Meski tidak enak badan, Anin harus tetap bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mama Rosa. Apalagi kue Mama Rosa mulai banjir orderan dari teman-temannya.Tok! Tok! Tok!“Nin,” panggil Sekar dari luar kamar.“Masuk, Bu. Pintunya enggak dikunci.”Ceklek! Sekar membawa nampan yang berisi wedang jahe juga menu sarapan untuk Anin. Apalagi menantu-nya ini sedang tidak enak badan karena ulah dari Ares, putranya.“Lho, Bu. Tidak perlu repot.”“Kata Ares kamu lagi enggak enak badan.”“Hanya masuk angin aja kok, Bu. Nanti juga sembuh.”“Maafkan anak Ibu, ya. Maaf kalau dia terlalu menggebu-gebu,” kata Sekar, merasa tidak enak sendiri. Padahal yang melakukan perbuatan itu Ares bukan dirinya.Anin hanya menyengir saja karena yang dibahas sudah ke ranah sana. Meski merasa tidak enak dengan Sekar karena diperlakukan sangat baik, Anin tetap menghargai dengan memakan dan meminum wedang jahe itu.“Makasih banyak ya, Bu. Ibu sudah makan?”“Ibu sudah makan tadi setelah A
Dari banyaknya tempat perbelanjaan entah kenapa harus bertemu dengan Vivi di mal ini. Anin juga kaget tetapi ia harus tetap sopan serta ramah.“Eh, Anin. Sendirian aja?” tanya Vivi, masih fokus menatap cermin karena sedang memakai bulu mata palsu jadi harus fokus.“Sama Mama dan suami.”“Hah?! Suami? Kamu udah nikah?” Vivi langsung berputar badan menatap Anin yang memang berdiri di belakangnya ini. Ekspresinya benar-benar terkejut luar biasa. “Sama Ares?” lanjut Vivi, sambil menelan ludahnya susah payah.Anin tersenyum manis sambil mengangguk. “Iya, Tante.”“Kapan?” Ada rasa kecewa di dalam hati Vivi karena teringat akan lamarannya yang ditolak. Akan tetapi kali ini Vivi bisa mengendalikan diri karena banyak orang di toilet. Di samping itu juga sudah janji dengan Rayyan untuk bersikap baik kepada Anin. “Kok Tante enggak diundang?”“Baru kemarin, Tante. Kami mengadakan pernikahan sederhana saja. Yang datang juga dari pihak keluarga saja dan memang tidak mengundang orang lain.”Vivi men
Pagi ini Anin terbangun dengan perasaan yang berbunga-bunga. Apalagi semalam Ares telah menggagahi-nya dengan penuh kelembutan meski sedikit beringas kalau kata Bayu. Mungkin bagi dia mumpung sudah halal hingga sedikit beringas. Tapi semuanya membuat Anin puas juga terngiang-ngiang akan permainan pria itu.Ketika sedang mengeringkan rambut akibat keramas pagi pun membuat Anin tidak kuat menahan untuk tidak tersenyum. Alhasil Anin selalu cengar-cengir di depan cermin tempat ia make-up.Tak lama pintu kamar mandi terbuka yang menampilkan Ares. Anin pun rasanya malu ingin menoleh—melihat tubuh kekar suaminya yang semalam ia kecupi.“Sayang, bisa ambilkan bajuku tidak?”“Kamu mau kerja?”“Enggak lah. Aku cuti seminggu. Ambil baju santai aja. Terserah kamu pilih yang mana. Yang pasti hari ini kita akan jenguk Papa.”Mendengar ingin ‘menjenguk papa’ membuat Anin segera berdiri dari kursi. Sampai akhirnya Anin tidak sengaja melihat tubuh atletis milik Ares. Sontak hal ini membuat Anin segera
Anin bergegas turun dari atas ranjang. Ia melihat penampilan dirinya yang begitu acak-acakan. Merasa gerah membuat Anin memutuskan mandi terlebih dahulu sebelum akhirnya merias wajahnya ulang.Tak lupa Anin meminta bantuan kepada MUA, teman kuliahnya yang Anin undang ke acara pernikahan ini.“Enggak nyangka kalau lo nikah duluan, Nin.”“Hehehe, makasih banyak, Sara.”“Pokoknya doa yang baik buat lo dan suami. Kangen masa-masa kuliah deh. Enggak ada lo kurang rame di kampus.”“Ck! Masa, sih.”“Hm, betul dong. Pokoknya di kampus selalu heboh berita soal lo sama Rayyan. Tapi lo seriusan bakalan pindah kampus dan ngulang dari semester awal lagi?”“Kalau diizinkan sama suami, Sar.”“Kalau dilihat-lihat secara langsung tipikal Ares itu bucin banget tahu. Dih, betapa beruntungnya lo dapatin dia. Mimpi apa deh lo kemarin bisa dinikahi pengusaha kaya raya.”“Hahaha, ada-ada aja lo.”Akhirnya Anin selesai di make-up. Penampilannya kembali cantik bahkan lebih fress dari sebelumnya. Anin bahkan
Bayu kini disibukkan dengan dua pekerjaan sekaligus. Soal kantor dan pernikahan sang boss. Bayu harus bolak-balik pergi ke rumah Anin untuk meminta dokumen agar bisa segera didaftarkan ke pihak KUA nanti. Selain itu juga ia harus pergi ke rumah Sekar untuk mengambil dokumen sang boss.“Bay, kira-kira tempat bulan madu yang bagus di mana?” tanya Ares, melamun sambil berkhayal jika sudah sah menikah. “Pengin buat Anin bahagia.”“Boss! Mendingan situ kerja deh. Enggak kasihan apa sama sekretarismu ini yang udah pontang-panting ke sana kemari.”“Ck! Itu tugas lo, Bay,” balas Ares, mendengkus. “Kalau pengin uang harus kerja keras.”“Sialan lo, Boss!” Mode sopan santun seketika lenyap. Bayu yang sudah lelah luar biasa akhirnya tidak terkendali ketika sedang di kantor.Namun, untungnya Ares tidak marah ketika dirinya berbicara informal. Mungkin ini semua efek rasa kasmaran di dalam hati sang boss. Semua hari-harinya begitu indah.Bahkan Ares dengan gampangnya memberikan Bay
Bayu yang mendapat telepon serta amanat dari kanjeng mami alias nyonya besar langsung segera menghampiri bos-nya itu. Bayu yang mendengar telepon Sekar begitu menggebu-gebu langsung tidak memedulikan jika bos-nya akan mengomel jika meeting-nya diganggu.“Boss, ada berita penting,” bisik Bayu, di samping telingaAres.Ares yang masih meeting di sebuah restoran menoleh ke arah Bayu dengan tatapan membunuh. Akan tetapi tampaknya Bayu tidak takut sama sekali.“Ibu Sekar telepon nyuruh pulang cepetan,” lanjut Bayu, berbisik.“Kamu enggak lihat kalau saya lagi meeting!” geram Ares, mencoba tetap terlihat ramah di depan klien-nya. “Pergi sana!” lanjutnya mengusir.“Ini soal Anin, Bos! Kata Ibu Sekar kalau tidak pulang sekarang juga bakalan menyesal!”Ares mendengar nama Anin disebut langsung oleng. Apalagi sekarang Bayu sudah berjalan pergi menuju ke meja-nya kembali.Saking penasaran apa yang diucapkan Bayu itu. Ares akhirnya berbicara kepada klien-nya jika meeting hari ini disudahi saja. Ga
Setelah mantap dengan pilihannya untuk menerima sebuah pinangan. Kini Anin bersiap-siap pergi ke rumah Rayyan sembari membawa tentengan kue untuk Vivi juga Adam. Anin sudah menghubungi Rayyan jika hari ini dirinya akan bertamu memberikan jawaban.Ketika sampai di depan rumah Rayyan, pria itu ternyata sudah menunggu dengan pakaian yang begitu rapi.“Assalamualaikum,” salam Anin, memilih bersalaman dengan Vivi saja dan menautkan kedua tangan di depan dada ketika bersalaman dengan Rayyan juga Adam.“Waalaikumsalam,” jawab Vivi, tersenyum lebar. “Ayo masuk, Nin. Kamu sendirian aja? Mama tidak ikut?”“Mama lagi sibuk buat kue. Kebetulan ini Anin bawa hasilnya buat Tante dan keluarga.”“Whoa! Mama kamu rajin banget.” Vivi menerima tentengan kue dari Anin sambil memuji kerajinan Rosa. “Duduk, Nin.”Anin duduk di depan Vivi juga Adam. Tidak lupa juga di sisi sampingnya ada Rayyan yang tengah mesam-mesem bahagia.“Kedatangan Anin ke sini ingin memberikan jawaban atas lamaran Rayyan kemarin. Ma