Keira terdiam di dalam mobil, pikirannya masih berputar tentang peringatan Samantha. Jika benar Alec ingin menghancurkan Adrian, maka mereka harus lebih berhati-hati.Adrian yang duduk di sampingnya tetap memegang kemudi dengan ekspresi serius. Tidak ada yang berkata apa-apa selama beberapa menit hingga akhirnya Keira membuka suara."Kau yakin kita bisa menghadapinya?"Adrian menoleh sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. "Aku tidak akan membiarkan Alec menyentuhmu. Aku akan memastikan dia tidak bisa melakukan apa pun yang bisa membahayakan kita."Nada suaranya begitu dingin dan tajam, membuat Keira tahu bahwa Adrian benar-benar serius."Tapi kita belum tahu langkah apa yang akan dia ambil," kata Keira pelan. "Samantha mungkin memberi peringatan, tapi kita tidak tahu sejauh mana Alec akan bertindak."Adrian menghela napas panjang. "Aku akan menghubungi beberapa orang kepercayaanku untuk mencari tahu gerakan Alec. Kita tidak bisa hanya menunggu dan melihat."Keira mengangguk. Ia
Pagi itu, Keira terbangun dengan perasaan gelisah. Ia masih berada di penthouse Adrian, tapi tidurnya tadi malam jauh dari nyenyak. Pikiran tentang amplop berisi foto-foto dirinya terus menghantuinya.Ia menggeser selimut dan menoleh ke samping. Adrian masih tertidur, wajahnya terlihat lebih damai dibandingkan saat ia terjaga. Namun, Keira tahu betapa lelahnya Adrian belakangan ini.Ia bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati, berusaha agar tidak membangunkannya. Setelah mencuci muka, ia berjalan ke ruang tamu, tempat Ethan dan beberapa pengawal masih berjaga."Bagaimana? Ada perkembangan?" tanyanya langsung.Ethan, yang sedang melihat layar tablet, menoleh padanya. "Kami sudah menelusuri rekaman CCTV. Tapi pelakunya sangat hati-hati. Dia memakai hoodie dan selalu menghindari kamera langsung."Keira menggigit bibirnya. "Jadi kita masih belum tahu siapa dia?""Belum. Tapi ada satu hal yang menarik," Ethan menggeser layar tabletnya dan menunjukkan sebuah rekaman. "Beberapa menit
Pagi itu, Keira duduk di meja makan dengan secangkir kopi di tangannya, tetapi pikirannya jauh melayang. Pesan misterius yang ia terima semalam masih mengganggu pikirannya."Berhati-hatilah, Keira. Tidak semua orang di sekitarmu bisa kau percaya."Siapa yang mengirim pesan itu? Jika bukan Alec, lalu siapa? Dan yang lebih penting, apa maksudnya?Adrian memasuki ruangan, mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya. Ia melirik Keira yang tampak melamun. “Masih memikirkan pesan itu?”Keira mengangguk. “Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, Adrian. Pesan itu terdengar seperti peringatan.”Adrian duduk di sampingnya, menatapnya dengan serius. “Aku sudah meminta Ethan untuk melacak nomor itu. Seharusnya kita segera tahu siapa yang mengirimnya.”Keira menggigit bibirnya. “Dan bagaimana dengan jebakan kita untuk Alec? Apakah dia mulai bergerak?”Adrian menyunggingkan senyum tipis. “Seperti
Keira masih terpaku di tempatnya, jantungnya berdetak tak beraturan. Nama yang muncul di layar tablet Ethan benar-benar mengguncang pikirannya.Orang itu... masih hidup?Adrian menggenggam tangannya, memberikan sedikit kehangatan di tengah kebingungan yang menyelimutinya. “Keira, kau harus memberitahuku siapa dia.”Keira menelan ludah, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan, “Dia... seseorang yang pernah sangat dekat denganku. Tapi dia menghilang bertahun-tahun lalu. Aku diberitahu kalau dia sudah meninggal.”Ethan masih menatap layar tabletnya. “Kalau dia benar-benar masih hidup, berarti ada sesuatu yang belum kita ketahui. Dia mungkin bisa menjadi sekutu... atau ancaman.”Keira menggeleng. “Aku tidak tahu apakah dia masih sama seperti dulu.”Adrian menatap Keira dalam. “Kalau begitu, kita harus menemukannya sebelum dia menemukanmu lebih dulu.”Sementara itu, di sebuah a
Keira menatap pria di depannya dengan mata melebar. Detak jantungnya berpacu, napasnya tertahan di tenggorokan.“Lama tak bertemu, Keira.”Suara itu—suara yang sudah begitu lama menghilang dari hidupnya—kini terdengar begitu nyata.Keira mengerjap, memastikan bahwa ini bukan ilusi. “Kau… masih hidup?”Pria itu tersenyum kecil, tatapannya tajam namun mengandung sesuatu yang sulit diartikan. “Tentu saja. Meski aku yakin, kau sudah menganggapku mati selama ini.”Adrian berdiri di samping Keira, tubuhnya menegang. Ia menatap pria itu dengan waspada. “Siapa kau?”Pria itu melirik Adrian sekilas, lalu kembali menatap Keira. “Jadi, ini pria yang menggantikanku?”Keira terkejut mendengar kata-kata itu. Ia tidak tahu apakah pria itu sedang bercanda atau serius.“Aku tidak menggantikan siapa pun,” Adrian berkata tegas. “Tapi aku tidak suka jika kau berbicara seolah-olah Keira masih terikat dengan masa lalunya.”
Keira merasakan dunia di sekelilingnya berputar. Suara Samantha yang terdengar jelas dari rekaman tadi terus menggema di kepalanya, seperti mimpi buruk yang baru saja terungkap.Ia ingin menyangkalnya, ingin meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kesalahpahaman. Tapi bukti ada di depan matanya—rekaman suara, foto, dan pengakuan pria yang selama ini menghilang dari hidupnya.Samantha telah menjebaknya.Atau lebih tepatnya, Samantha telah menjebak pria ini demi membuatnya pergi dari Keira.Pria itu—seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, seseorang yang ia pikir telah pergi selamanya—ternyata masih ada di sini. Dan kini, ia kembali membawa kebenaran yang terlalu pahit untuk ditelan.Adrian menggenggam tangan Keira dengan erat. Ia bisa merasakan tangan gadis itu dingin, tubuhnya sedikit gemetar.“Kita harus bicara lebih jauh,” kata Adrian dengan suara tegas. “Semua ini terlalu besar untu
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Keira duduk di dekat jendela, menatap langit yang penuh bintang dengan pikirannya yang terus berkecamuk. Semua yang terjadi hari ini begitu berat baginya. Fakta bahwa Samantha mungkin telah melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan, dan kehadiran sosok misterius bernama Nathaniel, membuatnya semakin gelisah.Adrian berjalan mendekat, membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di samping Keira dan menyerahkan salah satu cangkir kepadanya.“Minumlah, ini akan membuatmu lebih tenang.”Keira menerima cangkir itu dan menghembuskan napas pelan. “Aku merasa seperti ditarik ke dalam pusaran masalah yang tidak pernah berakhir.”Adrian menatapnya lekat. “Aku tahu ini sulit, tapi kita harus tetap fokus. Jika Samantha benar-benar melakukan sesuatu yang berbahaya, kita harus mencari tahu kebenarannya.”Keira menggigit bibirnya. “Dan jika ternyata d
Keira berdiri di tengah apartemennya dengan napas tertahan. Jari-jarinya masih menggenggam erat ponsel, menunggu Adrian datang. Pesan misterius yang baru saja diterimanya terasa seperti duri di tenggorokannya—mengancam, mengintai, dan mengisyaratkan bahwa seseorang sedang mengawasinya.Pintu apartemen diketuk keras."Keira, buka! Ini aku!"Keira segera berlari dan membuka pintu. Adrian berdiri di sana dengan ekspresi penuh kewaspadaan. Begitu pintu terbuka, dia langsung masuk dan mengamati sekeliling ruangan.“Apa ada sesuatu yang aneh?” tanyanya.Keira menggeleng, meskipun tubuhnya masih sedikit gemetar. “Tidak ada… selain pesan ini.”Dia menyerahkan ponselnya pada Adrian. Pria itu membaca pesan misterius tersebut dengan rahang mengeras."Kau tidak seharusnya melakukan ini, Keira. Aku sudah memperingatkanmu."Mata Adrian menyipit. “Ini bukan peringatan biasa. Mereka tahu apa yang kita lakukan.”
Malam yang awalnya sunyi berubah menjadi penuh ketegangan.Keira berdiri diam di tempatnya, jantungnya berdebar kencang. Di depannya, beberapa pria bersenjata menghalangi jalan mereka menuju kapal. Wajah mereka dingin, penuh ketegasan.Adrian bergerak cepat, melangkah ke depan dengan tubuh tegak. Matanya tajam menatap pria yang berdiri paling depan, seseorang dengan perawakan tinggi dan sorot mata penuh perhitungan.“Lama tidak bertemu, Adrian,” pria itu berkata, suaranya tenang namun mengandung ancaman.Keira melihat rahang Adrian mengeras. “Lucas,” gumamnya.Dylan yang berada di sebelah Adrian segera bersiaga. Ia melirik Keira dan Samantha, memberi isyarat agar tetap di tempat.Lucas tersenyum kecil. “Aku sudah menunggu kalian. Kudengar kalian ingin pergi jauh. Sayangnya, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”Adrian tetap tenang. “Apa yang kau inginkan?”Lucas tertawa pelan. “Kau tahu apa yang kuinginkan. Samantha, bayi itu, dan tentu saja…” Matanya beralih ke Keira. “Wanita yan
Angin malam berdesir melalui celah-celah rumah kayu yang mereka tempati sementara. Di luar, kegelapan membentang, hanya dipecah oleh sinar bulan yang menerobos di antara dedaunan.Adrian berdiri di dekat jendela, memperhatikan jalan setapak yang mereka lewati tadi. Matanya tajam, penuh kewaspadaan. Dylan duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding kayu, tangannya sibuk membersihkan pistol yang ia bawa.Keira duduk di sofa tua di sudut ruangan, tubuhnya terasa lelah, tetapi pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Sementara itu, Samantha berdiri tak jauh darinya, memeluk dirinya sendiri seakan mencoba menenangkan kegelisahannya.Suasana di dalam rumah itu begitu sunyi, seolah semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.Rencana Pelarian yang Belum SelesaiDylan akhirnya memecah kesunyian. “Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama. Aku yakin mereka masih memburu kita.”Adrian mengangguk. “Aku setuju. Kita harus segera bergerak ke pelabuhan sebelum fajar.”Samantha m
Mobil mereka melaju melewati jalanan berbatu yang semakin jauh dari kota. Malam semakin larut, menyelimuti perjalanan mereka dengan kegelapan yang pekat. Keira bersandar di kursi, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih belum stabil setelah kejadian di jembatan.Samantha duduk diam di sebelahnya, kedua tangannya masih menggenggam erat sabuk pengaman seolah takut melepaskannya. Sementara itu, Adrian dan Dylan tetap waspada, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan mereka benar-benar telah lolos dari pengejaran."Tidak ada tanda-tanda mobil lain," kata Dylan akhirnya. "Setidaknya untuk sekarang, kita aman."Adrian mengangguk, tapi ekspresinya tetap dingin dan penuh kehati-hatian. "Jangan lengah dulu. Mereka pasti akan mencari kita lagi."Keira menelan ludah. "Ke mana tujuan kita sekarang?"Samantha yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Kita harus keluar dari negara ini secepat mungkin."Dylan mengangkat alis. "Dan bagaimana caranya? Semua jalur utama pasti sudah mer
Malam semakin pekat saat Keira, Adrian, Samantha, dan Dylan menyusuri jalanan gelap menuju titik pertemuan. Hanya suara angin dan derap langkah mereka yang terdengar.Keira merapatkan jaket yang diberikan Dylan, berusaha menghalau dingin sekaligus menutupi identitasnya. Mereka harus bergerak cepat sebelum orang-orang Victor menyadari keberadaan mereka.Adrian berjalan di sampingnya, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Samantha masih mengikuti. Gadis itu tampak pucat, tetapi tetap berusaha tegar."Kita hampir sampai," bisik Dylan, mempercepat langkahnya.Di depan, samar-samar terlihat sebuah mobil hitam terparkir di bawah jembatan kecil. Lampunya dimatikan, dan hanya suara mesin yang terdengar pelan."Siapa yang menunggu di sana?" tanya Adrian waspada."Orang kepercayaanku," jawab Dylan. "Dia bisa membawa kita keluar dari kota tanpa terdeteksi."Mereka terus melangkah hingga akhirnya mencapai mobil itu. Seorang pria berkacamata hitam turun dari kursi kemudi, meskipun mala
Udara pagi masih dingin saat Keira, Adrian, dan Samantha melangkah keluar dari rumah persembunyian mereka. Langit berwarna abu-abu, seolah mencerminkan suasana hati mereka yang dipenuhi kewaspadaan. Adrian berjalan paling depan, matanya tajam menyapu lingkungan sekitar. Keira dan Samantha mengikutinya dengan hati-hati, tas kecil berisi barang-barang penting menggantung di punggung mereka. “Kita ke mana sekarang?” bisik Keira. Adrian melirik arlojinya sebelum menjawab. “Ada tempat yang aman di pinggiran kota. Aku punya kontak di sana yang bisa membantu kita keluar dari negara ini dengan aman.” Samantha mendesah pelan. “Keluar dari negara ini? Apa itu satu-satunya pilihan kita?” Adrian menatapnya serius. “Victor tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Kita harus berada di luar jangkauannya.” Keira menelan ludah. Membayangkan meninggalkan semua yang ia kenal terasa berat, tetapi ia tahu ini bukan tentang dirinya saja. Ini tentang berta
Malam mulai menyelimuti langit saat Keira, Adrian, dan Samantha akhirnya mencapai pinggiran hutan. Napas mereka masih terengah-engah setelah pelarian panjang yang hampir membuat mereka tertangkap.Keira menatap Adrian dengan khawatir. “Apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka masih mencari kita.”Adrian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Hutan mulai beralih ke tanah lapang dengan beberapa gudang tua yang tampak terlantar. Ia menunjuk ke salah satu bangunan yang terlihat lebih kokoh. “Kita bersembunyi di sana dulu. Kita butuh tempat untuk menyusun rencana sebelum melanjutkan perjalanan.”Samantha tampak ragu. “Bagaimana kalau tempat itu tidak aman?”Adrian menatapnya tajam. “Saat ini, kita tidak punya pilihan lain.”Mereka bertiga bergerak dengan hati-hati, menyelinap ke dalam gudang tua yang pintunya setengah terbuka. Begitu masuk, mereka mendapati ruangan luas dengan beberapa tumpukan kayu dan alat-alat pertanian berkarat. Bau tanah lembap bercampur debu memenuhi udara.Ke
Malam semakin larut, dan udara dingin mulai merayapi rumah kecil itu. Keira duduk di dekat perapian, tangannya memeluk lutut, mencoba mencari kehangatan. Samantha beristirahat di sofa, sementara Adrian sibuk memeriksa peta digital di ponselnya.Suasana hening, tetapi bukan ketenangan yang nyaman—melainkan ketegangan yang menggantung di udara.Keira mengangkat wajahnya. “Adrian, menurutmu Victor akan menemukan kita secepat itu?”Adrian menghela napas panjang. “Victor bukan orang yang mudah menyerah. Tapi sejauh ini, kita masih memiliki sedikit keunggulan.”Samantha menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, matanya menatap langit-langit. “Masalahnya, kita tidak bisa bersembunyi selamanya. Kita harus berpikir bagaimana mengakhiri ini.”Keira menatap Samantha. Ia tahu perempuan itu benar. Mereka tidak bisa terus-menerus melarikan diri.“Lalu, apa rencanamu?” tanya Keira akhirnya.Adrian menatap Samantha sejenak sebelum menjawab. “Aku punya beberapa kontak yang bisa membantu kita. Tapi k
Mobil melaju kencang di jalan berbatu, meninggalkan villa Victor yang kini sudah jauh di belakang mereka. Di dalam mobil, suasana terasa tegang.Keira duduk di kursi penumpang, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Samantha yang masih menekan lukanya."Kau yakin baik-baik saja?" tanya Keira dengan nada khawatir.Samantha mengangguk pelan, meskipun wajahnya sedikit pucat. "Ini hanya luka ringan. Aku pernah mengalami yang lebih buruk," jawabnya, berusaha tetap tenang.Adrian tetap fokus pada jalan di depan. Tangannya erat menggenggam setir, memastikan mereka tidak tersesat atau masuk ke dalam perangkap."Kita harus segera menemukan tempat aman untuk bersembunyi," kata Adrian. "Victor pasti sudah menyebar anak buahnya untuk mencari kita."Keira menelan ludah. "Kau ada ide ke mana kita harus pergi?"Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku punya tempat di luar kota. Rumah kecil yang jarang dipakai. Itu cukup jauh dari sini dan aman."Keira mengangguk, mempercayai pen
Alarm terus berbunyi, memecah keheningan malam di villa Victor. Lampu merah berkedip-kedip di sepanjang koridor, menandakan bahwa mereka telah terdeteksi.Keira merasakan jantungnya berdetak begitu cepat saat ia, Adrian, dan Samantha berlari melewati lorong sempit, berusaha mencari jalan keluar."Ke arah sini!" bisik Samantha, menunjuk sebuah pintu kecil di ujung lorong.Adrian menarik Keira, memastikan ia tetap dekat dengannya. "Jangan lepas tanganku," katanya tegas.Keira mengangguk, meskipun ketakutan mulai menyelimutinya.Begitu mereka mencapai pintu itu, Samantha dengan cepat mengeluarkan alat kecil dari sakunya dan mengutak-atik panel kunci elektronik di sebelahnya."Ayo cepat, Sam," bisik Keira, merasa waktu mereka semakin menipis.Langkah kaki para penjaga semakin mendekat. Mereka bisa mendengar suara perintah tegas melalui radio yang dibawa para penjaga.Klik.Pintu terbuka tepat pada waktunya.Mereka bertiga segera masuk dan menutup pintunya kembali dengan cepat. Ruangan y