Share

Bab 037. Prahara Gunung Gobi

last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-02 23:13:10

Wu Jing Yu, salah satu guru utama dari Kong Tong Pai, melangkah mantap di depan lima muridnya yang mengikuti di belakang. Mereka berjalan menyusuri jalur pegunungan berbatu menuju Gobi Pai, sebuah perguruan ternama yang terkenal dengan ajaran bela diri berbasis keseimbangan dan keharmonisan.

Langit senja mewarnai perjalanan mereka, dan angin dingin pegunungan menyapu wajah para murid yang penuh semangat. Wu Jing Yu, meski usianya telah memasuki setengah abad, masih tampak gagah dengan tubuh tegap dan mata tajam. Ia mengenakan jubah abu-abu dengan bordiran simbol Kongtong di bagian dadanya. “Jangan lengah,” katanya dengan suara rendah namun tegas. Para murid mengangguk serempak, menunjukkan sikap hormat mereka.

Setibanya di pelataran Gobi Pai, suasana terasa berbeda dari yang mereka harapkan. Bukannya sambutan ramah, belasan murid Gobi Pai menghadang mereka dengan ekspresi tidak bersahabat.

“Wu Jing Yu dari Kong Tong Pai datang untuk berbicara dengan Guru Besar Gobi Pai,” ujar Wu Jing
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin mantap
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 038: Mo Zai Hong, Sang Iblis Pembawa Petaka

    “Mo Zai Hong…,” ucap Wu Jing Yu lirih.Kemunculan Mo Zai Hong, si Iblis Petaka Merah, benar-benar mengejutkan Wu Jing Yu. Seluruh dunia persilatan mengenal nama besar gembong iblis itu sebagai salah satu tokoh nomor satu dari aliran hitam. Sosoknya, dengan jubah merah yang tampak seperti api berkobar, memancarkan aura mengerikan. Wajah Mo Zai Hong, yang dihiasi garis-garis tegas dan mata setajam elang, menatap Wu Jing Yu dengan intensitas yang memaku langkah siapa pun.Yang lebih mengejutkan Wu Jing Yu adalah ketika Mo Zai Hong perlahan berlutut dan memberi penghormatan kepadanya. Tindakan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, tanpa ada sedikit pun kesan pura-pura. Angin dingin Gobi berembus kencang, tapi suasana di pelataran itu terasa panas membara oleh kehadiran tokoh aliran hitam yang ditakuti ini.“Wu Jing Yu, aku menghormatimu karena kau adalah ayah dari Tuan Muda Wu Kiang,” ujar Mo Zai Hong dengan suara berat yang bergema. “Aku datang bukan untuk bertarung, melainkan menyampaika

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-03
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 39: Di Tuduh Sebagai Sang Pembantai

    Ji Liong mendaki lereng gunung Hoa San dengan hati berat. Pemandangan di sekitarnya benar-benar mengerikan. Aroma kematian menyengat di udara, disertai oleh suara angin yang menderu seperti rintihan jiwa-jiwa yang tak tenang. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan setapak menuju puncak. Beberapa mengenakan pakaian khas Hoa San Pai, menunjukkan bahwa mereka adalah murid-murid perguruan tersebut, sedangkan yang lain tampak seperti para penyusup atau penyerang.“Siapa yang tega melakukan semua ini?” gumam Ji Liong dengan suara rendah. Matanya menyapu sekitar, mencari tanda-tanda kehidupan, namun yang ia temukan hanyalah kesunyian yang mencekam.Tak ingin keadaan ini menjadi sumber penyakit bagi lingkungan sekitar, Ji Liong mengambil cangkul yang tergeletak di dekat pondok tua dan mulai menggali lubang di tanah yang keras. Setiap gundukan tanah yang ia gali terasa seperti beban moral yang ia angkat sedikit demi sedikit.Setelah beberapa jam bekerja keras, ia berhasil mengubur sebagian besar

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-05
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 40. Kisah Di Balik Pembantaian

    "Apa kalian pikir aku datang sejauh ini hanya untuk membersihkan bukti kejahatan? Dengarkan aku baik-baik. Aku adalah Ji Liong dari Kim Kiam Pai. Aku tidak punya urusan dengan Hoa San Pai sebelumnya, dan aku bahkan tidak mengenal orang-orang yang kau sebutkan."Suasana menjadi hening. Kedua murid itu bertukar pandang, lalu salah satu dari mereka berkata kepada lelaki tua itu, "Guru Agung, mungkin kita harus mendengarkan apa yang ingin dikatakannya. Jika dia benar-benar pembunuh, mengapa dia repot-repot mengubur mayat-mayat itu?"Lelaki tua itu masih tampak ragu, tetapi akhirnya ia mengangguk lemah. "Baiklah, aku akan mendengarkan. Tapi jika kau berdusta, aku sendiri yang akan menghabisimu!"Ji Liong mengangguk. "Itu lebih adil. Meskipun, jangankan menghabisiku, menyentuh rambutku saja kau tak akan mampu!”Guru Agung dari Hoa San Pai itu hanya mendengus. Ia sadar apa yang dikatakan Ji Liong itu tidak salah. Ia bahkan sudah mengerahkan semua kemampuannya, sementara pemuda yang menjadi l

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 41. Pertarungan Dahsyat Dewa Beruang Hitam

    Ji Liong berdiri kokoh di tengah lembah berbatu. Di hadapannya, Dewa Beruang Hitam, mengerahkan seluruh kekuatannya. Wajahnya yang dipenuhi bekas luka mencerminkan amarah dan keputusasaan. Pertarungan ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi Ji Liong tampak tetap tenang, sementara tubuhnya bersinar samar, mencerminkan Sin Kang dahsyat yang mengalir dalam dirinya.Dewa Beruang Hitam meraung dengan suara yang menggema di seluruh lembah. Ia melompat dengan gerakan yang cepat dan brutal, meskipun tubuhnya besar. Cakarnya yang besar dan tajam mengarah ke Ji Liong, seolah ingin merobek tubuh pemuda itu menjadi serpihan. Namun, Ji Liong dengan cekatan melompat ke udara, melampaui jangkauan lawannya. Saat berada di atas, ia mengerahkan Butong Sin Kang menghadapi serangan mematikan itu.Tangan kanan Ji Liong bergerak cepat membentuk formasi aneh, seolah-olah menari di udara. Dari telapak tangannya, muncul angin kuat yang mematikan. Angin itu menyapu lembah, mengguncang tanah dan memecahkan bat

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-07
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 42. Menjebak Ji Liong

    Pagi di lembah berbatu itu terasa dingin. Kabut tipis masih melayang di antara celah-celah batu, menyelimuti tempat Ji Liong dan Mei Lin beristirahat. Ji Liong membuka matanya perlahan, mendapati Mei Lin sudah bangun dan duduk di dekat api unggun yang hampir padam. Wajahnya tampak serius, seolah memikirkan sesuatu yang berat.“Kau sudah bangun?” tanya Mei Lin dengan suara lembut. Tatapannya menunjukkan keramahan yang sulit dicurigai.“Ya,” jawab Ji Liong singkat sambil bangkit dan meregangkan tubuhnya. Matanya tetap tajam mengamati sekeliling. Ia tahu, meskipun tempat ini terlihat tenang, bahaya selalu mengintai di dunia persilatan.Mei Lin berdiri dan menyerahkan sepotong roti kering kepada Ji Liong. “Aku menemukannya di tas yang kutinggalkan kemarin. Ini mungkin tak seberapa, tapi setidaknya bisa memberi sedikit tenaga untuk perjalanan kita.”Ji Liong menerima roti itu dengan anggukan. Ia tidak berkata banyak, pikirannya masih tertuju pada misinya. Mei Lin, di sisi lain, tampak menc

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 43: Pertarungan Di Kegelapan Goa

    Kegelapan di dalam gua semakin mencekam, seolah-olah ingin menelan siapa saja yang berani memasukinya. Udara terasa berat, lembab, dan penuh dengan aroma batuan basah. Suara langkah kaki menggema di lorong yang sempit, menciptakan irama yang menggetarkan hati. Ji Liong berdiri tegak, tubuhnya memancarkan kewaspadaan. Ia tahu bahwa lawannya bukan orang sembarangan. Li Yan, pria dengan reputasi mengerikan, telah membantai banyak pendekar hebat, termasuk tokoh-tokoh utama dari Hoa San Pai.“Kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup, Ji Liong,” suara Li Yan menggema di antara bebatuan. Pria itu berdiri di kejauhan, tubuhnya hanya tampak sebagai bayangan samar oleh pantulan cahaya obor yang mulai redup. Nada bicaranya penuh keyakinan, seolah-olah kematian Ji Liong sudah pasti terjadi.Ji Liong tersenyum tipis, tetapi matanya tetap tajam mengawasi gerakan lawannya. “Orang licik sepertimu tidak pantas untuk menyentuh sedikitpun bagian tubuhku, apalagi hendak membunuhku,” katanya dengan nad

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-10
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 44: Misteri Penghuni Jurang

    Ji Liong berdiri perlahan, tubuhnya masih terasa berat setelah terjatuh dari ketinggian tadi. Ia melirik ke sekeliling, mencoba memahami tempat asing ini. Permukaan tanah di bawahnya tidak rata, dipenuhi bebatuan kecil yang licin oleh lapisan lumut. Dinding-dinding jurang yang menjulang tinggi terlihat berlapis-lapis, hampir tidak menyisakan celah untuk memanjat keluar. Suara gemuruh air dari kejauhan menambah suasana mencekam.Tiba-tiba, suara dingin dan berat terdengar, memecah keheningan yang melingkupi tempat itu.“Siapa namamu, anak muda? Mengapa bisa kau masuk ke jurang ini?”Ji Liong terkejut. Suara itu terdengar dekat, namun ia tidak melihat siapa pun. Refleks, ia langsung memasang kuda-kuda, mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya untuk berjaga-jaga. Matanya tajam menelusuri setiap sudut, namun tak ada tanda-tanda kehidupan.Belum sempat ia berbicara, sebuah bayangan gelap melesat ke arahnya. Serangan itu begitu cepat dan tajam, membuat udara di sekitarnya mendesis. Dengan geraka

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-13
  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 45: Sang Naga Pelindung Barat, Dewa Tangan Sembilan

    Ji Liong menatap pria tua berjubah hitam itu dengan sorot mata tajam. Nafasnya masih teratur meski benturan tenaga sebelumnya cukup keras, namun ita tak merasakannya. Ia melangkah maju, tangannya bersatu di depan dada, lalu ia berkata dengan nada merendah, "Cianpwe, mohon maaf jika tindakan saya barusan terlalu kasar. Saya hanya membela diri dari serangan Anda yang begitu mendesak."Pria tua itu mendengus, wajahnya merah padam karena amarah. Ia tidak menjawab, namun energi yang terpancar dari tubuhnya meningkat tajam. Jiwa sinis di matanya kian menyala, menandakan bahwa ia belum puas."Anak muda, kau terlalu congkak! Tenaga saktimu memang mengejutkan, tapi aku belum menunjukkan seluruh kemampuanku!" Pria itu menggeram, lalu tiba-tiba kedua tangannya bergerak cepat, mengerahkan tiga perempat tenaga saktinya ke arah Ji Liong.Gelombang udara di sekitar mereka mendadak bergetar hebat. Ji Liong dengan sigap mengalirkan tenaga dalamnya ke kedua telapak tangan, menyambut serangan tersebut d

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17

Bab terbaru

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 60: Pergolakan di Kaifang

    Di bawah langit yang tertutup awan kelabu, suasana di markas besar Perkumpulan Pengemis Kaifang dipenuhi dengan ketegangan yang terasa memenuhi udara. Para anggota dari berbagai wilayah telah berkumpul di aula utama, tempat pertemuan besar akan digelar. Wajah-wajah penuh tanda tanya dan kegelisahan memenuhi ruangan itu. Mereka adalah kaum pengemis, namun di dunia persilatan, Perkumpulan Pengemis Kaifang bukanlah sekadar kumpulan gelandangan biasa. Dengan ribuan anggota yang tersebar di seluruh negeri, mereka adalah kekuatan yang diperhitungkan, mata dan telinga dunia persilatan yang bisa menentukan arah perubahan zaman.Hari ini, sebuah kabar buruk menyebar dengan cepat. Ketua mereka, telah menghilang tanpa jejak. Tidak ada pesan, tidak ada peringatan, hanya sunyi yang menciptakan kekacauan di antara para anggota. Desas-desus menyatakan bahwa ia telah tewas dalam sebuah pertarungan melawan musuh yang tidak diketahui. Yang lebih mengejutkan, pusaka tertinggi mereka, Tongkat Pemukul An

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 59: Bayangan Misterius

    Di bawah langit malam yang semakin pekat, suasana di halaman utama Tian Gong Pai masih dipenuhi ketegangan yang melanda siapapun yang berada di tempat itu. Ratusan murid menyaksikan pertarungan yang akan menentukan nasib sekte mereka. Beberapa dari mereka menahan napas, sementara yang lain berbisik dengan penuh kecemasan. Udara terasa berat oleh tekanan energi yang melingkupi area tersebut, seolah-olah alam pun menahan napas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.Wajah Tian Ju semakin mengeras. Ucapan Ji Liong yang membujuknya untuk menyerah, malah membuat ia murka. "Menyerah? Hahaha! Mimpi saja!" Dengan cepat, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berteriak, "Semua murid yang setia padaku! Bunuh mereka!"Saat Tian Ju berteriak lantang, puluhan murid yang setia kepadanya langsung bergerak maju dengan pedang terhunus, mencoba menyerang Ji Liong dan keempat Pelindung Naga. Mereka mengerahkan seluruh keberanian dan kekuatan mereka, yakin bahwa jumlah mereka yang banyak akan mamp

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 58: Kembalinya Sang Ketua

    Malam masih pekat saat Ji Liong bersama keempat Pelindung Naga bergerak menuju Tian Gong Pai. Perjalanan mereka penuh dengan kewaspadaan, sebab mereka tahu musuh bisa saja mengintai kapan saja. Angin dingin dari Pegunungan Qilian berhembus menerpa mereka, membawa kesunyian yang menegangkan."Kita hampir sampai," kata Pelindung Naga Timur, yang berjalan di depan.Dari kejauhan, siluet bukit Tian Gong mulai terlihat. Sekte yang pernah menjadi tempat Ji Liong tumbuh dan berkembang kini tampak seperti benteng yang dipenuhi penjaga. Cahaya obor berjejer di sepanjang gerbang utama, menandakan kesiapan para pengawal untuk menghadapi siapa pun yang mencoba masuk tanpa izin.Saat mereka tiba di depan gerbang utama, beberapa sosok berjubah gelap muncul dari bayangan. Para penjaga Tian Gong Pai yang seharusnya mengenali mereka malah berdiri dengan siaga, menatap mereka dengan tatapan penuh kecurigaan."Berhenti di situ!" salah satu penjaga berseru. "Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin ketua ka

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 57: Rencana Kembali ke Tian Gong Pai

    Malam yang sunyi di pegunungan Qilian di perbatasan Gansu dan Qinghai. Angin berhembus lembut membawa aroma tanah yang basah. Di sebuah paviliun yang terletak di puncak bukit, Ji Liong duduk dengan tenang, menatap langit yang dipenuhi bintang. Ia baru saja kembali dari pertempuran melawan beberapa murid Kong Tong Pai, membawa suami istri orang tua dari ketua mereka.Tak lama, suara langkah kaki mendekat. Empat sosok berjubah gelap muncul dan membungkuk hormat di hadapannya. Mereka adalah Empat Pelindung Naga Tian Gong Pai, para pengawal setia yang telah bersumpah untuk melindungi sekte dan pemimpinnya dengan nyawa mereka.Pelindung Naga Timur, yang bertubuh tinggi dengan wajah tajam, maju pertama kali. "Ketua, selama beberapa hari ini aku menyusup ke Shaolin dan Butong untuk menggali informasi. Mereka mulai menaruh prasangka dengan kita menduga Tian Gong Pai menyusun kekuatan untuk menantang mereka. Namun, hingga saat ini mereka belum bergerak secara terang-terangan."Ji Liong mengang

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 56. Pertarungan Sengit Murid Utama Kong Tong Pai

    Ji Liong menatap ke arah Pemuda Kong Tong Pai dihadapannya. Ia mencari pemuda inilah yang menyamar sebagai dirinya. Namun sepertinya, pemuda itu tidak bersama mereka.Pemuda Kong Tong Pai tersenyum tipis, tetapi matanya tajam, penuh percaya diri. "Jadi kaulah yang telah membuat kekacauan di sini? Beraninya kau menyusup ke wilayah kami dan berusaha membawa tawanan kami?"Ji Liong tetap berdiri tegap, tidak menunjukkan reaksi apapun. Matanya meneliti pemuda itu dengan saksama, mencoba mengukur kekuatan lawannya. Ia dapat merasakan aura yang cukup kuat dari pemuda itu, menandakan bahwa ia bukanlah pendekar sembarangan."Lepaskan mereka," Ji Liong berkata dingin. "Atau aku akan membuat tempat ini menjadi kuburan bagi kalian."Pemuda itu tertawa kecil, lalu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya agar tetap waspada. Ia pun maju. "Kau sombong sekali. Aku, Liang Houw, murid utama Kongtong Pai, ingin melihat seberapa kuat kau sebenarnya."Tanpa peringatan, Liang Houw melesat

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 55: Topeng Harimau Pembawa Malapetaka

    "Cukup bicara," kata lelaki tua itu akhirnya. "Jangan bermimpi bisa keluar dari tempat ini. Nasib kalian bergantung pada keputusan anak kalian sendiri. Jika ia berhasil menjalankan perannya, kalian akan tetap hidup. Jika tidak..." Ia membiarkan kata-katanya menggantung, tetapi ancaman itu jelas.Dengan itu, lelaki tua itu berbalik dan berjalan keluar ruangan, diikuti oleh dua pengawal setianya. Setelah memastikan keadaan aman, Ji Liong menarik napas dalam-dalam dan mulai bergerak perlahan. Ia harus pergi sebelum seseorang menyadari kehadirannya.Dengan gerakan yang nyaris tak terdengar, ia menutup kembali genteng yang ia angkat tadi dan mundur perlahan. Ia harus memastikan tidak meninggalkan jejak. Setelah itu, dengan kecepatan dan ketangkasan luar biasa, ia melompat ke atap lainnya, bergerak lincah seperti bayangan malam.Ketika akhirnya ia berhasil keluar dari lingkungan rumah itu, Ji Liong berhenti sejenak di salah satu sudut gelap desa, mengatur nafasnya. Ia mendapatkan informasi

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 54. Sang Dalang Pembuat Bencana

    Setelah menyantap hidangan dan mendapatkan beberapa informasi berharga, Ji Liong meninggalkan kedai teh dengan langkah tenang. Namun, dalam benaknya, pikirannya berputar dengan cepat, mengolah setiap kata yang tadi ia dengar. Jika benar pemuda dari Kongtong Pai itu berpura-pura menjadi Ketua Tian Gong Pai, maka ada dalang di balik semua ini. Tak mungkin seorang pemuda biasa bisa begitu saja mengklaim posisi sekte besar tanpa dukungan dari pihak yang lebih kuat.Ji Liong berjalan menyusuri desa Qingyuan, matanya mengamati setiap sudut jalan yang mulai lengang seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Setelah memastikan bahwa tak ada yang memperhatikannya, ia menuju rumah pemuda yang menjadi pembicaraan mereka tadi. Rumah itu lebih besar dan lebih mewah dibandingkan rumah-rumah lain di desa ini, dengan tembok batu yang tinggi dan gerbang kayu yang dijaga oleh dua orang bersenjata. Dari cara mereka berdiri, jelas mereka bukan sekadar penjaga biasa, melainkan orang-orang yang te

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 53: Mencari Jejak Sang Ketua Palsu

    Angin dingin berhembus di puncak pegunungan yang bersebelahan dengan bukit Hoasan. Kabut tipis menyelimuti tempat itu, menciptakan suasana yang suram dan penuh misteri. Ji Liong berdiri tegak di tepi jurang, memandang lurus ke arah bukit Hoasan dengan ekspresi muram. Matanya yang tajam tampak menerawang, seolah mencoba mencari jawaban dari sekian banyak pertanyaan yang berputar di benaknya.Di belakangnya, empat lelaki berjubah putih berlutut dalam diam. Keempatnya adalah Empat Naga Pelindung Sekte Istana Langit, Tian Gong Pai, sosok-sosok setia kepada Tian Gong Pai, terutapa kepada Ji Liong yang nama aslinya Tian Long itu.. Mereka adalah Naga Pelindung Utara, Timur, Selatan, dan Barat pilar-pilar kekuatan Tian Gong Pai yang selama ini menjaga kehormatan sekte.Keempatnya menundukkan kepala, menunggu perintah Ji Liong. Hanya suara desir angin yang terdengar di antara mereka sebelum akhirnya Ji Liong berbicara."Sepertinya jatuhnya aku ke jurang memang disengaja," ucapnya pelan namun t

  • SIAN JIE SIN KANG (TENAGA SAKTI ALAM DEWA)   Bab 52: Kebangkitan yang Mengejutkan

    Wei Zhiang masih berlutut di hadapan Ji Liong. Matanya menatap lurus ke tanah, sementara tubuhnya sedikit gemetar, entah karena perasaan bersalah atau ketakutan yang belum sirna sepenuhnya. Hening menyelimuti tempat itu sejenak sebelum Ji Liong akhirnya berbicara dengan suara tegas."Berdirilah, Wei Zhiang," perintahnya.Tanpa ragu, Wei Zhiang segera bangkit. Matanya yang tajam kini menatap Ji Liong dengan penuh penghormatan. Ia masih belum sepenuhnya memahami bagaimana pemuda yang tampak biasa ini bisa memancarkan aura yang begitu luar biasa.Ji Liong kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Huan Sie Ji yang masih terduduk lemah. "Lam Juan, amankan dia. Kita lihat bagaimana dia masih bisa berpura-pura."Lam Juan mengangguk dan segera melangkah mendekati Huan Sie Ji. Namun, saat tangannya hendak menyentuh bahu pria tua itu, sesuatu yang mengejutkan terjadi.Tatapan Huan Sie Ji yang sebelumnya redup kini berubah tajam. Seketika, hawa membunuh yang sangat kuat meledak dari tubuhnya. La

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status