Share

Bab 68

Author: Aisyah Ais
last update Last Updated: 2024-12-18 09:03:50

Mata terasa berat, tetapi kupaksakan untuk membukanya. Aku teringat harus bangun pagi agar tidak mengantre di depan kamar mandi. Masih pukul 05.00 WIB. Gegas aku bangun dan mengecek Farla yang ternyata masih pulas.

Aku segera ke kamar mandi untuk mandi dan mencuci pakaian, meninggalkan Farla sendirian di dalam kamar. Biasanya dia akan pulas tidur saat jam pagi seperti ini. Semoga saja dia masih anteng sampai aku kembali.

Benar kata Yuni, penghuni kost ini belum ada yang bangun di jam segini. Jadi aku bisa leluasa menggunakan kamar mandi tanpa harus tergesa-gesa karena ditunggui. Beruntung ada ember yang bisa kupakai untuk mengambil air karena aku butuh untuk memandikan Farla.

Air dalam ember kubawa dan kutaruh di depan pintu kamar, lalu mengecek Farla ternyata masih tidur. Syukurlah. Lebih baik aku biarkan saja dulu dia tidur, dan mencari air panas untuk dia mandi nantinya. Pintu kukunci dan membawa termos untuk diisi di warung makan yang sudah buka.

"Permisi, Mbak, bisa beli air
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
carsun18106
jgn langsung diterima lah, pasti vina dan adik2 pun menolak ibunya
goodnovel comment avatar
carsun18106
oh iya andi udh sma ya, vina udh dewasa
goodnovel comment avatar
Bunda Widi
Baguslah pas pertama ketemu, langsung ketemu Andi .... klo ketemu Vina paling langsung berpelukan, trus udah dimaafin gitu aja ... ga seru. tapi kalau ketemu Andi gini bakalan seru ... he be
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 69

    "Hei, Bro! Kok bengong!" Seorang teman menepuk pundaknya. "Kamu kenal dia?" Ia menunjuk ke arahku, tetapi yang ditanyai malah menggeleng. "Aku mana kenal! Udah yuk, kita cabut!" Mereka beranjak pergi, aku masih berjalan mengejarnya. "Andi!" panggilku, dan mereka berhenti lalu menoleh ke belakang. Namun, tidak dengan putraku. Dia tidak ikut menoleh seperti yang lainnya. Ya, dia adalah Andi putraku. Anak keduaku yang dulu sering banyak bertanya tentang kehidupan kami yang harus berpisah dengan ayahnya. Meski sudah empat tahun lamanya tidak bertemu, aku masih bisa mengenalinya.Ia sudah beranjak dewasa, tubuhnya lebih tinggi dariku dan wajahnya juga semakin tampan dan semakin mirip dengan Mas Ramlan. "Dia tahu namamu, Ndi." Temannya berkata lagi, tapi dia tetap tidak menoleh. "Andi, ini Ibu, Nak." Aku memanggilnya lagi. Keempat temannya masih menatapku, tapi Andiku tetap tidak mau melihat diri ini. Mungkinkah dia memang sangat membenci wanita yang telah melahirkannya ini? Tidak

    Last Updated : 2024-12-19
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 70

    Aku harus membiasakan diri mendengar suara-suara dari kamar sebelah saat tidur. Semua ini tidak akan lama karena besok, aku sudah bisa bertemu dengan anak-anakku dan kemungkinan, aku akan segera pulang. Semoga saja semuanya berjalan dengan baik. Dan semoga saja, Bu Sinta bisa membantuku membujuk Andi agar mau memaafkanku.Seperti biasa, pagi hari aku bangun lebih awal dari penghuni kost lainnya. Mencuci baju, mandi, serta memandikan Farla. Setelah itu kubawa cucuku itu ke warung makan untuk membeli sarapan. Termos kukembalikan pada pemilik warung, lalu menikmati sarapan pagiku. Dengan meminta tolong Roni yang kebetulan berada di warung, aku menuju ke ATM. Mengambil sejumlah uang yang kumiliki dari mengumpulkan sisa pemberian Mas Erik, yang rencananya akan kuberikan pada Andi nanti sore. "Ini untukmu karena sudah mau mengantarkanku." Selembar uang berwarna merah kuberikan pada Roni, tadi pun aku membayarkan sarapannya. "Wah, makasih ya, Bu. Dengan senang hati aku akan jadi tukang

    Last Updated : 2024-12-20
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 71

    Dengan bimbingan Bu Sinta, aku kembali melaksanakan kewajiban pada Yang Maha Kuasa. Hati terasa lebih tenang dan pikiran pun lebih terbuka. Doaku adalah agar anak-anakku tidak lagi membenciku, dan suatu saat bisa menerima diri ini kembali. "Terima kasih sudah membantu saya, Bu Sinta. Jujur saya malu karena tidak pernah shalat." Aku duduk bersama Bu Sinta di dalam masjid seusai melepas mukena. Farla tertidur dan ditaruh di karpet di sampingku. "Sama-sama, Bu Ratih. Berserah dirilah pada-Nya, hanya Dia yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Mungkin saat ini Andi belum bisa menerima Bu Ratih, tapi yakinlah suatu saat anak-anak akan kembali dalam pelukan ibunya. Doa Ibu tetaplah bisa menembus langit." Bu Sinta tersenyum ramah, seraya memegang tanganku. Rasanya begitu bahagia bisa mendapatkan pencerahan darinya. Bu Sinta menguatkanku untuk tetap bersabar dan menunggu. "Tapi saya ingin sekali bertemu dengan mereka, Bu. Ingin melihat wajah mereka, rasanya rindu sekali. Saya sadar, ke

    Last Updated : 2024-12-22
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 72

    Tidak. Rasanya aku tidak sanggup memperlihatkan wajah ini pada Vina. Namun, kerinduan di hatiku juga sudah begitu menggunung. Ingin sekali aku memeluknya, mengelus kepalanya, lalu mengatakan bahwa aku sangat merindukannya. Akan tetapi, benar kata Andi. Vina tampak bahagia, dan kedatanganku hanya akan membuat mereka mengingat rasa sakit yang pernah kuberikan. Ya, lebih baik aku pergi saja. Rasanya begitu malu untuk mengaku sebagai seorang ibu jika mengingat apa yang dulu kulakukan pada mereka. Suara langkah kaki semakin mendekat, aku memberi kode pada Roni untuk segera membawaku dan Farla pergi dari sini. Tanpa menunggu lama, aku pergi dari tempat ini dengan berlindung pada tubuh tinggi Roni. "Lho, kok pergi." Masih kudengar suara Vina. Mungkin terlihat aneh karena belum sempat pesan makanan, tapi sudah pergi. "Kenapa malah pergi, Bu Ratih? Katanya mau ketemu anaknya," ujar Roni saat kami sudah menaiki motor. "Aku malu ketemu dengannya, Ron. Kedatanganku hanya akan membuat merek

    Last Updated : 2024-12-23
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 73

    Vina memasukkan bekal satu per satu ke dalam tas adik-adiknya. Andi membonceng kedua adiknya, lalu pergi setelah mencium tangan sang kakak. Vina melambaikan tangan pada mereka dan dibalas dengan ciuman jarak jauh. Senyum masih terpancar dari wajah anak pertamaku itu saat ketiga adiknya sudah pergi. Sungguh aku merasa iri. Seharusnya aku yang melakukan itu untuk mereka. "Gimana, Bu? Kita pergi sekarang apa gimana?" Roni mengagetkanku. "Atau Ibu berubah pikiran dan ingin menemuinya?" "Kita pergi sekarang saja, Ron. Aku sudah tidak sanggup berada di sini. Aku tak mampu menampakkan diri, meski hatiku ingin. Aku merasa tak layak." Jujur saja aku ingin tetap di sini. Tapi penolakan Andi kemarin sudah menyadarkanku, bahwa aku tidak lagi dibutuhkan. Lebih tepatnya, sudah terlupakan. Ya, mereka mungkin sudah melupakan rasa sakit itu, termasuk juga dengan diri ini. Dan kedatanganku hanya akan mengingatkan mereka, serta merusak kebahagiaan mereka saat ini. Aku pasrah. Pasrah dengan apa yan

    Last Updated : 2024-12-24
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 74. POV Vina

    "Kak, Kak Vina! Aku dapat hadiah!" Suara Fajar berteriak dari luar rumah. Aku yang sedang menata puding pun segera ke luar mencari keberadaan adik bungsuku. "Ada apa? Kok nggak beri salam dulu malah teriak-teriak?" kataku. Fajar tersenyum meringis, lalu membuka topinya."Assalamualaikum, Kakak ...." "Saking senengnya dapat juara, dia, Vin," sahut Mbak Indar yang bekerja di warung, tadi kuminta menjemput Fajar. Dia kembali ke warung setelah mengantar Fajar sampai ke dalam.Fajar meletakkan benda berbentuk kotak seperti kado yang tadi dibawanya di meja, lalu mencium tanganku dan menarikku untuk duduk. "Aku menang lomba balap karung dan kelereng dalam sendok, Kak. Ini dapat hadiah dari Bu Guru."Mata Fajar berbinar kala berbicara, terlebih saat mengeluarkan amplop dari tasnya. Amplop itu diberikan padaku dan aku membukanya. Isinya uang seratus ribu dengan tulisan selamat karena menang lomba membawa kelereng dalam sendok. Acara tujuh belasan di sini memang kerap mengadakan lomba untuk

    Last Updated : 2024-12-25
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 75

    "Terima saja, Vin. Kapan lagi ada kesempatan bagus seperti ini? Lagian, kamu sudah berpengalaman memasak. Kalau masalah pelanggan, restoran itu sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak akan rugi jika kamu mengelolanya. Ini kesempatan agar kamu bisa lebih maju dan berkembang."Kak Nur sangat mendukungku agar mau mengelola rumah makan prasmanan milik Bu Ambar. Setelah Andi menjemput, aku mengajaknya ke rumah Kak Nur yang kini berada di sebelah salon."Iya, Vin, benar itu. Terima saja, toh kamu sudah terbiasa mengurus warung makan. Jarang-jarang kita ketemu orang baik seperti Bu Ambar." Mbak Fika ikut menyahut lalu berusaha duduk di sampingku dengan kepayahan karena perutnya yang membesar."Hati-hati, Mbak." Aku membantunya duduk, lalu mengelus perut buncit itu. "Kapan tanggal lahiran, Mbak?""Perkiraan satu minggu lagi," jawab Mbak Fika tersenyum."Silakan diminum." Andi datang dari dapur sambil membawa empat gelas teh dan menaruhnya di meja. Setiap ke sini, kami memang membuat minuman se

    Last Updated : 2024-12-25
  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 76

    Aku tidak menyangka dengan apa yang kulihat kali ini. Rasanya begitu menyakitkan, juga sedih melihat wajah laki-laki renta di sampingku. Matanya mengerjap, menatapku dalam-dalam, lalu menunduk. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat melihatku.Ya, dia adalah ayahku. Ayah yang dulu menolak kedatanganku dan adik-adikku. Ayah yang lebih memilih menuruti kemauan istrinya yang tidak menyukai kami. Ayah yang lemah dan tunduk pada istrinya, tanpa mau peduli bagaimana nasib anak-anak yang masih butuh nafkah darinya. Yang membuatku heran, kenapa Ayah sampai mengemis dengan keadaan menyedihkan seperti ini.Akan tetapi, meski pernah membuatku kecewa dengan sikapnya, rasanya hati kecilku tidak tega melihatnya dengan keadaan yang menyedihkan. Biar bagaimanapun, Ayah pernah memberikan kenangan indah padaku saat kecil. Melihatnya dengan pakaian lusuh dan tubuh yang lemah, tentu hatiku tergugah untuk membantunya, terlepas dari hubungan antara ayah dan anak."Mari masuk, saya ambilkan makanan." Aku

    Last Updated : 2024-12-26

Latest chapter

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 115

    Aku berdiri menghampiri Lani. Kak Arya memandangku sekilas, lalu duduk di tempat yang tadi kutempati. "Ayo kita pulang, Kak. Sebentar lagi buka puasa. Tadi Fajar bilang, Ibu punya tamu," ucap Lani."Tamu? Siapa?""Aku juga nggak tahu, Fajar hanya kirim pesan dan bilang di rumah ada tamunya Ibu.""Apa nggak buka di sini saja, Lan?" Kak Arya berkata dengan lembut, aku pun menoleh, begitu juga Lani."Lain kali aja deh, Kak Arya, nanti kita cari waktu lagi buat buka puasa bareng. Nggak apa-apa, kan?""Ya sudah, santai aja. Masih ada banyak waktu, kan?" Kak Arya tetap tersenyum ramah meski mungkin tadi mendengar percakapanku dengan Mbak Fika."Aku pamit ya, Mbak, Kak Arya." Aku tetap menghormatinya, Kak Arya pun mengangguk.Aku dan Lani segera menaiki motor dan bergegas pulang."Kok kamu ngajak pulang, Lan? Kupikir tadi kamu mau buka puasa di sana," ujarku saat Lani sudah mengendarai motor. "Tadinya sih, gitu! Tapi setelah dengar ucapan Kak Vina sama Mbak Fika ... aku jadi nggak enak sama

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 114

    Kucari sumber suara itu berasal. Dari samping, laki-laki itu berjalan ke arahku dengan pelan. Sudah lama aku tidak melihatnya, sepertinya dia baru pulang dari rantau."Kak Arya. Kapan pulang?" tanyaku basa basi."Baru tadi pagi, Vin. Ini anaknya Mbak Fika, kan? Yang waktu bayi aku ikut nengok ke rumah sakit?" Kak Arya memandangi Nuri yang ada dalam gendonganku."Iya, ini Nuri, anaknya Mbak Fika dan Kak Nur.""Cantik ya, Vin. Kalau kita punya anak, pasti juga secantik Nuri." Kak Arya senyum-senyum sendiri."Kita?" "Eh, maksudku ... kalau kita punya anak. Iya. Eh, maksudnya ... aku punya anak, kamu juga punya anak. Gitu deh maksudnya. Bingung gimana jelasinnya." Kak Arya malah garuk-garuk kepala. Aku merasa aneh dengan sikap Kak Arya itu."Tadi katanya mau naik bianglala, kan? Ayo aku temani. Kebetulan itu yang punya adalah temenku. Nanti kita minta diskon," ujar Kak Arya pelan sambil tersenyum."Tapi aku nggak biasa naik bianglala, takut tinggi," sahutku. "Nanti aja deh, nungguin Lani

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 113

    Tidak terasa Ramadan sudah berjalan selama dua minggu. Selama itu pula, aku bersama adik-adikku menginap di rumah Ayah. Saat siang, kami pulang dan melakukan aktifitas di rumah lalu malamnya kembali ke rumah itu. Aku sudah meminta Andi agar tidur di rumah, tetapi dia tidak mau dan ingin tidur dalam satu atap bersama Ayah dan Ibu. Saat aku ingin tidur di rumah, Fajar melarangku, begitupun Lani. Padahal aku merasa sayang kalau rumah kami tidak ada yang menempati saat malam hari.Lalu Fajar dan Lani, keduanya juga tidak mau tidur di rumah karena ingin menjaga Ayah dan Ibu, katanya. Sungguh, saat ini kami bagaikan satu keluarga utuh yang bahagia. Apalagi ada Pak Mardi yang menambah hangatnya keluarga kami.Akhirnya dari pada tidak ada yang menempati, Mbak Indarlah yang kuminta tidur di rumah itu, dan dia memilih tidur di ruang tengah, katanya agar bisa sambil nonton televisi.Sejak Andi memutuskan untuk tidur di sini, aku membelikan kasur berukuran besar untuknya agar ditempati bersama F

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 112

    Kami bertiga mendekat dan tersenyum pada Ibu, saat Ibu mulai membuka matanya. Dengan tangannya, dia menyentuh wajah kami satu per satu. Diusapnya dengan lembut, seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga."Ini seperti mimpi. Kalian benar-benar ada dan bisa kusentuh. Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih telah mendekatkan mereka padaku." Ibu menengadahkan kedua tangannya, lalu mengusapkannya ke wajah.Kami bertiga memeluknya, Ibu mengusap kepala kami. "Ibu sangat senang, akhirnya bisa melihat senyum kalian yang dulu. Maafkan Ibu, dulu membuat kalian susah dan sakit hati. Ibu baru menyadari semuanya setelah kalian tidak ada. Tidak ada yang menyayangi Ibu seperti kalian. Entah harus berapa kali harus meminta maaf. Kukira tak akan cukup meski aku mengatakannya setiap saat."Kupandangi Andi dan Lani, juga Fajar yang masih tidur di kasur lipat. Kemudian, aku memandang Ibu. "Kita akan mulai lembaran yang baru, kita lupakan masa lalu. Hari ini, hari pertama di bulan ramadhan, kita bersat

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 111

    Dinginnya malam membuatku merapatkan tubuh pada selimut tebalku. Tubuhku terasa lelah dengan aktifitas yang kulakukan seharian ini. Mataku mulai sembab, tapi tak lagi kupedulikan. Yang ingin kulakukan hanyalah tidur, untuk menghilangkan penat di tubuh dan pikiran."Kak, ayo bangun! Sudah waktunya sahur." Terdengar suara Lani membangunkanku, tapi rasanya aku masih enggan membuka mata. Mata ini terasa lengket, pedas, dan terkatup rapat. Otakku masih merespons, tapi mataku belum bisa diajak bekerja sama."Vina, bangun, Nak, ayo sahur. Kalau nggak cepat bangun, nanti keburu imsak." Dengan sekali perintah, aku langsung membuka mata.Wanita cantik dengan daster kusam itu adalah ibuku. Dia tersenyum mengusap rambutku, kemudian menuntunku dari tempat tidur.Kutatap sekeliling, aku berada di rumah masa kecilku. Rumah berdinding kayu yang menjadi tempat aku tumbuh dan bermain. Suasananya sangat hangat, "Ayo, sini, Ibu sudah membuat telur dadar dan

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 110

    Lani memanggil Ayah, kemudian menarik tangan Andi agar segera masuk ke rumah. Andi patuh, lalu duduk di kursi setelah Lani menyuruhnya. Aku pun ikut duduk di samping Andi sambil tersenyum.Ayah datang bersamaan dengan Fajar yang membawa toples berisi camilan. "Kalian kemari, ada apa, Nak?" tanyanya setelah duduk."Andi ngajak aku ke sini untuk tidur di sini, soalnya dia nggak mau sahur tanpa adik-adiknya," tuturku.Ayah menatap Andi dengan senyuman khasnya, sementara Andi terlihat cuek."Beneran, Kak?" Fajar bertanya dengan mulut penuh makanan."Kalau makan jangan sambil ngomong, kalau ngomong jangan sambil makan, Jar." Andi mengingatkan."He he he, iya, Kak." Fajar memasukkan camilan lagi ke dalam mulutnya, tidak lagi bertanya.Sementara itu, Ibu yang berada tak jauh dari tempatku berada, seperti ingin mendekat, tapi tidak berani. Mungkin saja khawatir akan membuat Andi marah seperti kemarin.Aku berdiri, melangkah menuju tempat Ibu berada. "Ayo, Bu, kita ke sana," ajakku. "Jangan,

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 109

    Andi menatap dan menanyaiku, sepertinya dia khawatir aku mendengar semua curhatannya pada Yusuf."Barusan. Ada apa memangnya?" jawabku."Nggak apa-apa, kupikir sudah dari tadi.""Memang kenapa kalau Kakak udah pulang dari tadi?""Ya nggak apa-apa. Mana Lani dan Fajar?" Andi melihat sekeliling."Mereka nggak pulang malam ini, tidur di rumah Ayah dan Ibu." Jawabanku membuat Andi menyernyit."Maksud Kakak, mereka tinggal serumah? Di rumah yang ditinggali Ayah itu?" Aku tersenyum mendengar Andi mengucapkan kata "Ayah"."Iya. Nggak ada pilihan, Ibu butuh tempat tinggal dan teman ngobrol. Kupikir Ayah dan Pak Mardi bisa menjadi temannya karena mereka sudah sama-sama tua, nggak kayak di rumah ini yang semua isinya anak muda.""Tapi mereka sudah berpisah, Kak, nanti bisa jadi fitnah!" Andi terlihat kesal."Ya nggak apa-apa, kan ada Farla, Lani dan Fajar juga tidur di sana, kan? Tadi Mas Aan kusuruh bawain kasur lipat agar mereka bisa tidur dengan nyaman," debatku."Tapi, Kak!""Kamu kenapa si

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 108

    Ibu menyeka air matanya dengan cepat, sementara Ayah melambaikan tangannya agar kami mendekat. Kami pun menghampiri Ayah dan Ibu."Kenapa hanya di sana? Tidak ada yang kami sembunyikan dari kalian, Nak. Kalian berhak tahu apa yang terjadi pada kami," tutur Ayah."Maaf, Yah, kami nggak mau mengganggu kalian," ujarku."Tidak, Nak, kalian tidak mengganggu. Kami senang karena kalian telah mempertemukan kami. Di depan kalian, Ibu ingin meminta maaf pada ayah kalian. Sebab Ibu punya banyak salah padanya. Gara-gara Ibu, hidup kita berantakan dan keluarga kita terpecah belah," papar Ibu yang menangkupkan kedua tangannya."Aku sudah melupakannya, bahkan tidak pernah menyimpan benci padamu, Tih. Justru aku yang minta maaf karena tidak bisa menjadi kepala rumah tangga yang berguna. Maafkanlah aku," ujar Ayah yang juga menangkupkan kedua tangannya.Kami terharu. Ayah dan Ibu sudah saling memaafkan, rasanya begitu lega melihat mereka berdua akur. Sebagai seorang anak, aku sangat bahagia. Kebahagia

  • SETELAH IBU PUNYA SUAMI BARU   Bab 107

    Aku masih mendengarkan percakapan Ayah dan Ibu. Dari pertanyaan Ibu itu, aku juga ingin mendapatkan jawabannya. Selama ini Ayah tidak pernah bercerita tentang anak kembarnya yang merupakan adikku. Juga tentang istrinya, dan tentang Ayah yang akhirnya tinggal di jalanan."Tidak ada yang bisa menggantikan kamu, Ratih. Bahkan saat aku menikah lagi, aku merasa sangat kesulitan menghadapi istri yang akhirnya memberikanku anak kembar. Aku tahu, lagi-lagi semua itu terjadi karena aku yang miskin ini, tapi kehidupanku bersamanya lebih buruk dari sebelumnya." Aku dan Lani masih mendengarkan Ayah bercerita, tepatnya menguping pembicaraan mereka."Iya, kamu benar, Mas. Pernikahan kedua memang terasa berbeda. Aku sendiri mengalaminya. Beradaptasi dengan orang baru itu sangat susah, dan kita mencoba untuk bisa mengimbanginya. Setelah hidup bersama lebih dari sepuluh tahun denganmu yang sudah sama-sama tahu sifat dan kepribadiannya, lalu harus menghadapi orang baru dengan kepribadian baru, itu sung

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status