Bunga bermekaran. Musim baru akan datang. Bunga mekar. Musim berlanjut. Bunga mulai turun dari langit. Itu indah, tapi menyedihkan. Tapi bunga tidak layu. Habis bunga datanglah buah. Ini awal yang baru yang memberimu kenangan hangat yang akan bersemayam dalam dirimu selamanya.Felice Chiara FarfallaDi samping batu nisan yang bertuliskan nama Calvin dan Calvin di dekat batu nisan itu, Xavier hanya bisa merenungkan semua hal yang terjadi padanya.“Kak!”“Apa kamu sangat membenci itu?”“Apa kamu begitu menentang… hubunganku dengan Felice?”Air mata perlahan mulai menetes meskipun Xavier sudah mencoba untuk menahannya. Namun, kesedihannya terlalu dalam dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya.***Hari yang dinantikan sudah tiba. Hari ini adalah hari dimana Keena kembali menjadi model.“Pak Liam, ini hampir selesai.” Ucap Luna“Baiklah. Mari mulai latihan begitu kita memeriksa urutannya.” Balas Liam.“Ya, baiklah!” Balas Luna.“Kita akan segera mulai latihan.” Teriak Luna.“Ba
Segelas air tidak setara dengan yang lainSeseorang mungkin hanya memuaskan dahagaNamun, manfaat lainnya bisa kamu nikmati sepenuhnya.Menonton pertunjukan acara Fashion show yang disertai rasa khawatir akan keberlangsungan acara membuat Manajer Alano tidak nafsu makan atau minum. Namun, setelah acaranya berlangsung dengan baik rasa haus perlahan mulai dirasakan.Saat Presdir Edward akan menyentuh gelas minumnya, Manajer Alano juga hendak mengambil gelas itu. “Aku agak haus. Maaf, Pak!” Ucap Manajer Alano saat bertatapan dengan Presdir Edward.Emilio masuk ke ruangan Presdir Edward dengan sedikit terburu-buru karena semangatnya yang sedang menggebu-gebu.“Para tamu pembeli mulai melakukan pemesanan.” Ucap Emilio sambil tersenyum penuh semangat.“Good Job!” Ucap Manajer Alano sambil loncat kegirangan. Lalu mengambil gelas Presdir Edward dan meminumnya tanpa rasa bersalah.Presdir Edward langsung melirik sinis pada Manajer Alano.Setelah menyadari bahwa salah mengambil gelas, Manajer Al
Hidup itu penuh dengan godaan,Tapi kita harus selalu kuat.Haii’fer “Ya, ini Felice Chiara Farfalla.”“Ya.”“Oh begitu rupanya.”“Ya, terima kasih.”“Ya.”Semua anggota tim yang sudah hadir di kantor hanya bisa melihat Nona Felice yang sibuk dengan teleponnya sejak memasuki ruangan. Luna menghampiri untuk memberikan secarik kertas pada Nona Felice.“Mereka memintamu menelepon mereka kembali. Kami mendapat banyak telepon untukmu pagi ini.” Bisik Luna.Lalu Luna pergi ke mejanya setelah meninggalkan Felice yang masih menerima telepon dari seseorang. “Oh ya. Terima kasih atas tawarannya. Baiklah sampai jumpa.” Ucap Felice lalu menutup teleponnya.Anggota tim yang lain hanya bisa tersenyum bahagia melihat Nona Felice yang memperlihatkan aura bahagia meskipun mendapat banyak panggilan telepon masuk.Baru menutup telepon, Felice sudah mendapat telepon lagi dari pihak yang berbeda.Drtt drtt“Halo, ini Felice Chiara Farlalla.”***Saat sedang break untuk makan siang, anggota tim Viance dan
Bughhh! [Suara pukulan meja]“Tentu saja Nona Felice harus melakukannya.” Ucap Elijah.“Menurutmu mereka juga akan memasukan foto pakaian kita? Uhhh Luar biasa!!!” Ucap Vareena.“Wahh luar biasa!”“Luar biasa! Biasanya, harganya ribuan dolar untuk menambahkan foto di majalah mereka.” Ucap Luna.“Menurutmu pakaian kita akan tampil di sampul majalah?” Tanya Sabrina.“Itu tidak akan terjadi. Butuh berapa ratus juga untuk membuatnya di sampul. Lagi pula, itu mungkin sudah dipesan selama setahun penuh.” Balas Luna.“Bagaimana kalau kita minta Nona Felice memakai salah satu pakaian kita saat menghadiri wawancara itu.” Ucap Rosé.“Itu ide bagus.” Ucap Luna.“Benar, bukan?” Ucap Rosé.“Kurasa tanpa diminta Nona Felice pasti akan memakainya.” Balas Elijah.“Benar juga.” Balas Vareena.“Aku tahu majalah tidak sepopuler dahulu, tapi mereka masih mengunggah artikel di platform online dan media sosial. Ini akan memberikan dampak pemasaran yang besar.” Ucap Luna.“Tunggu. Aku ingin desainku masuk ma
“Hai, namaku upin dan aku ipin….”Tayangan kartun yang sedang ditonton itu membuat senyum Seraphina terpancar jelas di wajahnya. Seraphina sangat senang jika Keena dan Liam membiarkannya menonton kartun-kartun kesukaannya.“Kau nak kemane?”“Nak ikut boleh?”Kebahagiaan Sera juga menjadi kebahagiaan Keena. Meskipun Keena hanya bisa menemaninya sambil rebahan di sofa sambil sesekali menahan rasa sakitnya.Saat rasa sakitnya mulai datang lagi, Keena teringat kata dokter yang mengatakan bahwa, “Rasa sakitnya akan memburuk. Kankernya sudah menyebar ke saraf di sekitar pankreas mu. Kamu akan merasa sangat sakit di perut bagian atas mu.”Sebisa mungkin Keena terus menahan rasa sakitnya. Namun, jika tidak kuat menahannya, Keena hanya bisa merintih kesakitan.Ketika Keena sedang merintih kesakitan, Seraphina melihatnya. Seraphina langsung inisiatif untuk mengambilkan air minum dan obat yang biasa Keena minum.“Mama, minum obat dahulu.” Ucap Seraphina.“Astaga, bukan tugas kamu memastikan Mama
“Selamat, Nona Felice. Aku kirakamu ceroboh. Melompat kedalam sesuatu yang semua orang tidak ada gunanya.” Ucap Irene.“Aku tidak melakukannya untuk membuat pakaian kami laris atau semakin dikenal di luar negeri. Kami ingin mematahkan prasangka bahwa kami akan gagal, dan tunjukkan kepada para penentang bahwa bias mereka tentang kami itu salah.” Ucap Felice.“Kamu pikir kamu berhasil?” Tanya Irene.“Sampai batas tertentu.” Ucap Felice sambil mengangguk.“Hasil positif ini mungkin tidak akan bertahan lama.” Ucap Irene.“Tetap saja, kamu meminta bertemu denganku lagi di ruangan mu ini. Tanpa harus membayar komisi yang meningkat atau aku harus menyembahmu, kamu mengulurkan tanganmu kepada kami lebih dahulu. Itu saja membuatku berpikir upayaku amat berarti sampai bisa menggoyahkan mu.” Ucap Felice.“Jika kamu tidak tampil baik di musim mendatang, kita harus menegosiasikan kembali perpanjangan kontrak Lauré.” Ucap Irene.“Mengenai hal itu, kamu bisa menghubungi perusahaanku saja.” Ucap Felic
Andai kami tidak perlu berpamitanAku tidak akan tahu betapa berharganya momen ini. Betapa terbatasnya waktu yang kami miliki.-Felice Chiara Farfalla.“Kamu tidak akan memperpanjang kontrak mu dengan kami? Perpisahan tanpa pemberitahuan macam apa ini?” Tanya Arka.“Katamu aku bisa membatalkan kontrak sesukaku. Jadi, jangan menuntutku.” Ucap Xavier.“Ada apa? Apa ada yang menginginkanmu? Siapa itu? Di mana?” Tanya Arka.“Aku dapat telepon dari Paris.” Balas Xavier.“Tentang apa?” Tanya Arka.“Asosiasi foto ingin mengadakan pameran untukku.” Balas Xavier.“Pameran? Benarkah? Haha!” Ucap Arka.“Ya.” Balas Xavier.“Akhirnya kamu bisa mengadakan pameran yang selalu kamu inginkan itu?” Ucap Arka.“Ya.”“Jadi, kapan kamu mulai bekerja? Tidak. Kapan kamu akan kembali?” Ucap Arka.Xavier diam dan tidak menjawab sepatah katapun.“Tunggu. Apa kamu memikirkan…” Ucap Arka.***“Kami memutuskan untuk putus.” Ucap Felice.“Kamu tidak keberatan?” Tanya Keena.“Tidak.” Balas Felice.“Sudah ada banyak
Setelah Felice pergi, Adriana mengajak Irene bertemu di tempat yang sama. “Menurutmu seperti apa Felice Chiara Farfalla?” Tanya Adriana.“Dia? Dia seseorang yang membuatku iri.” Ucap Irene lalu menyeruput kopinya.“Kamu iri terhadap seseorang?” Ucap Adriana.“Aku sudah lama mengaguminya. Tapi kali ini, dia memenangkan rasa hormatku.” Balas Irene.“Kini kamu menghormatinya? Aku jadi makin penasaran.” Ucap Adriana.Irene hanya membalas dengan senyuman pada Adriana.***Setelah bertemu Adriana, Felice langsung mendatangi studio Xavier.“Pekerjaan hari ini tidak butuh waktu lama seperti dugaanku. Jadi, aku sudah tidak ada pekerjaan lagi.” Ucap Felice.“Maaf, aku ada satu janji temu lagi.” Ucap Xavier.“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu.” Balas Felice.“Permisi! Aku yang menelponmu kemarin.”“Halo.” Ucap Felice lalu Felice pergi ke meja.“Kamu yang butuh foto untuk paspor, bukan?” Ucap Xavier.“Oh ya!”“Silahkan duduk.”“Ini cermin pakailah jika kamu butuh.”“Terima kasih.Xavier menyiapkan
Janji yang kita buat dan cintamu menunjukkan jalannya. Serta berjalan di jalur itu adalah caraku membalas kepadamu. Felice Chiara FarfallaXavier menikmati tempat rekreasi itu sambil naik gondola untuk melihat pemandangan di sekitarnya. Saat sedang melihat ke sekitar, Xavier tidak sengaja berpapasan dengan wanita yang mirip Felice sedang naik gondola yang berbeda arah dengannya. Matanya langsung tertuju pada wanita cantik itu.Xavier ingin memastikan itu benar atau tidak. Namun, gondolanya terlalu cepat bergerak dan mereka saling menjauhi satu sama lain. Xavier terus memperhatikan sampai benar-benar tidak terlihat.Nalurinya berkata bahwa itu adalah Felice. Tapi bagaimana mungkin Felice masih tidak berubah sejak terakhir bertemu. Dia masih selalu cantik, anggun dan elegant. Xavier berharap ingin bertemu orang itu lagi untuk memastikan dia Felice atau bukan.Setelah turun dari gondol
Berjalan di jalanan yang sama seperti dua tahun lalu, di malam yang berbeda dan tidak ada yang seseorang yang menemani setiap langkah kaki ini terasa sangat asing bagi Xavier. Udara di sekitar, pepohonan yang rindang jalanan yang basah setelah diguyur hujan, semuanya tidak banyak yang berubah.Xavier memandangi pemandangan di jalanan yang terguyur hujan itu sambil memikirkan kenangan dua tahun lalu bersama Felice. Matanya terus memperhatikan setiap sudut di kanan dan kiri jalanan itu.“Satu atau dua tahun dari hari ini. Jika aku bisa berjalan di jalur seperti ini di hari ini, aku akan memikirkanmu dan kita hari ini.” Suara hati Xavier.Drttt drttt [+62813003680996]Xavier menghentikan langkahnya untuk membuka pesan di ponselnya.“Aku mengirimimu pesan dari Jakarta. Apa kamu tiba dengan selamat? Sampai jumpa besok di Jakarta.”Setelah membaca pesan itu, enta
“Kamu sudah menikah?” Tanya Xavier.“Astaga! Kamu bahkan tidak mengirimi aku undangan pernikahan. Kamu pikir seperti itulah teman yang setia? Wahh! Aku kecewa padamu.” Keluh Xavier.“Haha. Tenang dulu! Kita tidak menikah. Kita hanya tinggal bersama.” Jawab Arka.“Benarkah? Kamu tidak takut dengan omongan orang? Ini Indonesia bukan Eropa atau America.” Ujar Xavier.Drttt drtt [Nona Luna]“Halo, ini Arka Nolan Jude, CEO Galaxy PR.”“Halo, Pak Arka. Aku menelepon dari tim Lauré.” Ujar Luna.“Ya, Nona Luna.” Balas Arka sambil melihat ke arah posisi Xavier duduk beberapa saat.“Bagaimana perkembangan iklan produk kami?” Tanya Luna.“Oh itu Pak Liam yang akan bertanggung jawab atas iklan produk tahun ini. Anda tidak usah khawatir. Tenag saja. Tunggu saja
Xavier hanya sempat memasak mie instan hari ini. Saat mie sudah dimasukan, Xavier hendak memasukan telur. Namun, Xavier teringat sesuatu saat memegang telur itu.Flashback On“Kamu selalu mengaduk telur setelah menambahkannya ke mie instan, bukan?” Ujar Felice.“Tidak.” Balas Xavier.“Wah! Astaga, kita sungguh berbeda. Kita benar-benar tidak cocok. Sepertinya kita akan sering bertengkar.” Balas Felice.Flashback OffXavier membatalkan niatnya yang akan langsung memecahkan telur di atas mienya. Dia memutuskan untuk mencoba selera makan Felice.Xavier pecahkan telur itu di atas mangkuk kecil lalu diaduk hingga terampur rata. Setelah itu baru dimasukan ke dalam mie.Setelah mienya matang, Xavier segera memakannya sebelum mie itu menjadi dingin. Xavier makan mie sambil sesekali melihat ke arah foto Felice yang ada di hadapannya.Flashback On
“Itu sesuatu yang harus kamu ulur dan kamu bumbui sedikit. Hehehe…” Ujar Alano yang agak malu malu tapi akhirnya mengaku juga.“Hahaha!”“Hehe! Ya, memang aku yang mengatur semua ini.” Ujar Alano sambil mengajak yang lain untuk cheers.“Terima kasih, Pak Al dan semua yang hadir di sini. Aku akan menerima semua bantuan kalian.” Ujar Felice.“Heah! [Menghela nafas] Aku sangat putus asa hingga tidak peduli untuk menyelamatkan wajahku. Kini aku punya dua pegawai yang harus kuberi makan. Aku terima tawaran kalian dengan senang hari dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.” Ucap Felice dengan berlinang air mata penuh haru“Kamu pasti bisa, Nona Felice!” Ujar Diana.“Aku akan memasok kain terbaik. Tenang saja! kamu tinggal buat desain yang bagus untuk karya baru di brand pribadimu.” Ujar Budi.“Hubungi aku meski hanya untuk satu atau dua hal. Aku akan menjahitnya meskipun harus mengurangi waktu tidurku.” Ujar Selena.“Wahh!”“Astaga! Benarkah?” Ujar Felice.“Ya!” Balas Selena.“W
Pagi ini, Felice memulai harinya dengan mengecek semua hasil desainnya kemarin. Felice melihatnya satu persatu. Desainnya cukup unik tapi Felice merasa bingung bagaimana cara merealisasikan gambar ini di saat tidak ada orang yang mempercayainya.“Kamu membuat semua desain ini? Dalam sebulan?” Ujar Xavier.“Ya.” Balas Felice sembari tersenyum.Felice melirik ke sebelah kanannya sambil tersenyum senang. Felice merasakan Xavier membuka sketsa desainnya lembar demi lembar.“Wah!” Puji Xavier.“Bagaimana bisa kamu menyimpan semua ini?” Tanya Xavier sembari terus membuka lembaran pada buku itu.“Aku tidak tahu apakah aku sangat berbakat atau sedang penuh inspirasi. Aku merasa seperti Mozart.” Ujar Felice.“Apa kamu juga genius? Hehe!” Puji Xavier.“Hehe..” Felice tersenyum bahagia sambil merasakan Xavier membuka buk
“Tidak apa-apa. Ya, sampai jumpa.” Ujar Felice yang masih berusaha menghubungi rekan kerja lamanya.“Huftt!” Gumam Felice setelah mematikan teleponnya.“Tidak apa-apa. Aku bisa mencoba lagi.” Ucap Felice.Felice melakukan peregangan agar leher, bahu, punggung dan tangannya tidak kaku. Lalu Felice melihat dirinya di dalam cermin.“Apa aku tidak cukup merawat diriku?” Ujar Felice saat merasa wajahnya terlihat kusam dan ada beberapa kerutan di wajah yang cukup menganggu penampilannya.Felice mengambil minuman collagen dan vitamin booster. Lalu menyeduhnya dalam gelas. Kemudian dia minum sampai habis. Lalu kembali pada pekerjaannya.Ting nong [Suara bel]“Siapa itu?” Ujar Felice.Felice membukakan pintu untuk tamunya. Lalu kembali ke meja makan yang sedang Felice gunakan untuk bekerja.Berkas-berkas yang ada di atas meja itu mereka rapikan dan disis
Kegiatan Felice saat ini adalah disibukkan dengan kartu-kartu nama dan daftar list yang harus Felice hubungi untuk keperluan labelnya sendiri.“Halo, Pak Akbar, apa kabar? Aku akan meluncurkan labelku sendiri.”“Hai, ini Felice Chiara Farfalla. Ini tentang lini mini yang ku sebutkan sebelumnya.”“Kamu tidak sanggup lagi? Oh baiklah.”“Ah sayang sekali.” Ucap Felice saat mencoret beberapa daftar nama dalam listnya.***Drtt drttt [Suara telepon Manajer Umum Alano]Manajer Alano mengangkat telepon itu, “Halo.”“Halo, Pak Al. Ini Pak Belva.”“Ya, ada apa?” Ujar Manajer Alano.“Saya ingin tanya. Apa benar Nona Felice meluncurkan brandnya sendiri?” Ujar Budi.“Apa kamu memutuskan untuk bekerj
“Apa katamu?” Ujar Mama Yuri.“Aku berhenti bekerja.” Ujar Felice.“Kapan?” Tanya Mama Yuri.“Ini hari terakhirku.” Ujar Felice.“Kenapa kamu berhenti?” Tanya Mama Yuri.“Alasan yang sama dengan Mama.” Balas Felice.“Apa?”“Jika aku melihat kembali hidupku, itu tidak terlalu buruk. Ada saat-saat bahagia dan berharga, tapi aku ingin mulai melakukan apa yang selalu ingin kulakukan, tapi terlalu takut untuk mencobanya.” Ujar Felice“Maaf, aku tidak punya lagi posisi penting di perusahaan besar.” Ujar Felice sembari tersenyum.“Jangan konyol. Mama tidak pernah meminta hal seperti itu.” Ucap Mama Yuri.Mama Yuri mendekat pada Felice, memegang tangannya, “Kamu sudah bekerja dengan baik. Bekerja sangat keras selagi melakukan tugasmu sebagai anak kami. Kamu putri terbaik yang bisa diharapkan siapa pun.”“Mah! Masalahnya, aku tidak punya apa-apa sekarang. Belum ada yang diputuskan.” Ujar Felice.“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu jadi ceroboh begini?” Ujar Mama Yuri.“Benar, bukan Ma