Sementara itu di rumah sakit, Jakarta … “Sayang, maafkan aku, ya. Gara-gara aku, hari ini kamu jadi nggak bisa balik ke Jerman,” ujar Mabella yang terbaring lemah siang itu di sebuah rumah sakit. “Nggak papa, kamu nggak usah khawatir. Yang penting kamu sehat dulu, itu lebih penting. Lagian di sana ada Evan dan Richard, aku bisa mantau pekerjaan dari mereka,” sahut Moreno yang saat itu duduk di kursi di sebelah tempat tidur sang istri Keberadaan Mabella di rumah sakit kali ini adalah jawaban dari sikap Moreno yang terkesan acuh dan datar ketika Havika menelponnya. Laki-laki itu masih shock dengan keadaan sang istri yang membuatnya sedih dan kecewa, karena lagi-lagi dia harus kehilangan anak mereka. Padahal dia sudah menanti-nantikan hal ini sejak dulu. “Sayang, sekali lagi aku juga mau minta maaf Suara ….” Mabella masih terdengar lemah dan lirih sambil meremas tangan suaminya lembut. “Minta maaf soal apa?” tanya Moreno heran. “Aku minta maaf, karena aku nggak ngomong sama kamu ka
“Sayang, karena makan siangnya sudah selesai, sekarang aku punya hadiah special buat kamu!” ujar Tsabitha sambil memberesi piring-piring kotor yang ada di meja dan membawanya ke bak cuci piring. Siang itu setelah selesai menikmati makan siang, Tsabitha memang sudah berencana untuk memberikan kejutan ke Moreno, karena dirasa, ini saat yang tepat. Dia tidak ingin menunda-nundanya lagi.“Hadiah special apa, nih? Aku ‘kan lagi nggak ulang tahun,” sahut Moreno sambil ikut-ikutan memberesi beberapa sisa makanan dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin.“Emangnya kalau mau kasih hadiah harus pas ulang tahun aja? Enggak juga, ‘kan? Bisa kapan aja, ‘kan?” goda Tsabitha sambil mulai mencuci piring-piring kotor tersebut, sementara Moreno ikut membantu dengan mengelap piring-piring yang basah, lalu diletakkan di rak cuci piring.“Udah nggak usah dibantuin, cuma sedikit kok piring yang kotor.”&ldquo
“Richard, c’mon! Kamu tahu ‘kan di Jerman itu hanya ada enam hari dalam seminggu! Hari Minggu itu hari libur! Jadi ngapain kamu nyuruh aku pulang malam ini, hanya untuk ngurus kerjaan di hari Minggu? Apa nggak ada hari lain?” Suara Moreno terdengar kesal, ketika Richard menelponnya, setibanya di apartemen, sementara Tsabitha langsung ngeloyor ke lantai atas untuk membersihkan wajahnya dari riasan. “Tapi, Ren, ini perintah Ayahmu. Ayahmu yang minta. Beliau tahu kalau kamu itu sudah pulang dari Jakarta sejak Jumat kemarin, tapi sampai hari ini kenapa belum sampai di Berlin?” “Kamu sudah tahu ‘kan apa jawabannya? Harus berapa kali sih, aku bilang? Masa kayak gitu harus diajarin terus! Kamu tinggal bilang aja ke Ayahku, kalau pesawatnya delay di Abu Dhabi! Jadi aku itu nggak mungkin bisa ketemu sama klien hari Minggu besok! Aku masih jet lag, Brad!” “Iyaa, iyaa! Nanti aku bilang ke Ayahmu gitu,” sahut Richard galau, nada suaranya terdengar gelisah. “Eeeh, Brad! Jangan sedih dong! Sema
“Bith, thanks ya! Your husband emang perfect husband and suami siaga!” puji Havika tulus, setelah mereka berdua menempati apartemen baru yang disewa oleh Moreno. Sebuah apartemen besar dengan tiga kamar, area ruang tamu, ruang makan dan dapur juga tampak besar dan luas, membuat Tsabitha bisa lebih leluasa bergerak ke sana kemari. “Kamu ini ada-ada aja! Tapi dibilang suami siaga, boleh juga. Suamiku itu, cuma nggak pengin aku kecapekan selama hamil, makanya dia nyari apartemen yang besar seperti ini, sekaligus dia juga nyariin temen buatku, biar aku nggak kesepian!” “Plus pembantu bule yang namanya mirip ama artis Indonesia, siapa namanya, Bith? Syahrini?” “Shahnoza! Kok jadi Syahrini, sih?” “Yaa abis namanya pake Shah gitu, ‘kan mirip ama Syahrini! Emang dia orang mana sih? Namanya kok unik gitu?” tanya Havika penasaran. “Dia dari Usbekiztan! Tapi dia belum bisa bahasa Indonesia, dia bisanya bahasa Perancis, nggak masalah, ‘kan?” “No problem, honey! Selama kita bisa berkomunikas
“Tsabitha! Moreno!”Kedua pasangan yang sedang berbahagia ini segera menghentikan tawa mereka dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama mereka dengan jelas. Di depan mereka telah berdiri Tante Rossa bersama dua laki-laki yang berpakaian hitam, yang mungkin bisa disebut sebagai bodyguard atau pengawal.“Tante Rossa? Kok, Tante ….”“Bisa kita ngobrol sekarang? Tante ingin ngobrol sama kamu, Bith. Sama kamu juga Reno!” sela Tante Rossa sambil memperhatikan mereka berdua secara bergantian.Moreno dan Tsabitha saling menatap satu sama lain, laki-laki itu lalu mengangguk sambil menarik napas. “Baiklah, mari, Tante. Kita ngobrol di apartemen kami,” sahut Moreno sambil berdiri, diikuti oleh Tsabitha pun hanya bisa menurut dan ikut berdiri lalu mengikuti langkah suaminya.“Tante Rossa pasti udah curiga, sepertinya dia menyimpan sesuatu,” batin Tsabitha cemas sambil
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Tante Rossa, Tsabitha hanya bisa terdiam, membisu sambil menahan tangis di dalam dada. Dadanya terasa sakit, begitu pula perutnya yang tiba-tiba sering mengencang dengan sendiri. Dia berharap si kecil yang berada dalam kandungannya baik-baik saja, mungkin cuma karena kelelahan, sehingga perutnya mengencang, harapnya cemas. Sepanjang perjalanan itu pula, Shanty dan Rossa silih berganti memberikan nasehat yang tiada henti ke Tsabitha, berkali-kali Shanty mengingatkan putrinya itu akan janji yang dibuatnya dulu yang tidak akan berhubungan lagi dengan Moreno dan membiarkan sang kakak merajut tali pernikahan dengan mantan pacarnya itu. “Bitha, berikan ponsel kamu ke Tante Rossa! Mulai hari ini kamu pakai ponsel yang baru dan nomer yang baru!” ujar Shanty dengan nada ketus sambil menyodorkan sebuah kotak handphone keluaran merk terbaru, ketika mereka baru saja tiba di rumah Tante Rossa. Tsabitha kaget dan tercengang. “Tapi, Bu. Semua nomer ponsel teman-
Di rumah sakit … “Mbak, menurut dokter yang menangani Tsabitha, dia harus segera dioperasi caesar, karena selain air ketubannya yang sudah pecah duluan, bayi yang ada di dalam rahimnya posisinya sungsang, terjerat tali plasentanya sendiri. Kalau nggak segera diambil, dikhawatirkan nyawa keduanya tidak selamat. Apalagi cairan ketubannya sudah hampir habis,” ujar Rossa cemas, setelah mendapatkan informasi dari team dokter yang menangani Tsabitha. “Kalau memang itu yang terbaik, lakukan saja, Ros! Aku setuju! Yang penting mereka selamat!” sahut Shanty pasrah. “Oh iya, Ros. Sama satu lagi, tolong beritahu pihak rumah sakit agar merahasiakan identitas Bitha, aku nggak mau kalau tiba-tiba Reno datang ke rumah sakit ini lalu membawa kabur anak dan cucuku!” “Iya, Mbak! Akan aku lakukan!” “Yaa sudah sana, aku mau nelpon suamiku dulu!” Rossa mengangguk mantap dan bergegas berlalu dari sana meninggalkan kakak sepupunya. Tak lama kemudian, setelah mendapatkan persetujuan dan tanda tangan dar
Tengah malam … Moreno baru terbangun ketika jam dinding yang ada di ruang tamu berdentang dua kali, “Oooh, shit! Sudah jam dua pagi rupanya, kenapa aku bisa ketiduran, sih? Seharusnya dari tadi aku mulai mencari informasi tentang Bitha! Bodohnya aku ini!” rutuknya dalam hati sambil turun dari ranjang dan bergegas mengecek ponsel. “Tapi lapar juga perutku ini, si Sharini bikin masakan apa, ya?” batinnya sambil berjalan ke luar kamar dan membawa ponsel.“Haii, sudah bangun? Sepertinya kamu capek banget, ya hari ini?” tanya Havika yang saat itu masih terjaga dengan sketsa desain-desain model baju buatannya yang berserakan di meja makan.“Kenapa nggak bangunin dari tadi sih, Vik?” sahut Moreno sambil melangkahkan kakinya ke dapur lalu mengecek isi lemari pendingin.“Sorry, aku tadi sebenarnya mau bangunin kamu, tapi sepertinya kamu capek banget, jadi aku biarin aja kamu t