Di dalam kamar.Maxime juga terlihat sangat kesal.Tidak ada laki-laki yang bisa terima istrinya selingkuh, masalahnya semua ini sudah terjadi. Maxime tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dia bisa memutar waktu ke masa lalu.Sekarang dia hanya mau membuat Reina tetap berada di sisinya dan untuk itu, Maxime hanya bisa berkompromi untuk menerima Riko dan Riki juga.Sedangkan Revin, Maxime tetap berniat membiarkannya mati di luar negeri.Reina tidak tahu apa yang dipikirkan Maxime dan mengira Maxime bisa menerima Riki dan Riko karena amnesia.Sebenarnya Riki sama sekali tidak tidur, jadi begitu mendengar suara di lantai bawah, dia langsung memeriksanya diam-diam.Neneknya terlalu kejam, tapi Riki senang karena ayah bajingannya dimaki sebagai orang bodoh."Mama."Riki pura-pura menggosok matanya, seolah dia baru bangun tidur.Reina langsung menoleh dan menatap Riki. "Kok kamu bangun?""Kebangun soalnya tadi aku dengar ada suara orang ngobrol."Riki menjawab sambil berjalan dengan lemas."Maa
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Maxime."Kan sekarang tahun baru, tentu ini saatnya bersenang-senang."Dulu mereka selalu menghabiskan waktu tahun baru di Klub Beautide."Suruh sopir putar arah."Maxime kira mereka beneran ada urusan penting, dia 'kan masih harus menemani Reina.Jovan tidak punya pilihan selain meminta sopir putar balik. "Kak Max mau nemenin kakak ipar?"Jovan sudah tidak memanggil Reina si tuli, dia sudah mengganti panggilan Reina dengan kakak ipar.Maxime tidak terlalu terkejut dan malah bertanya balik, "Ya kalau nggak? Ngapain?"Maxime menambahkan, "Kamu juga harusnya temani adik ipar."Alana adalah sahabat Reina. Kalau Jovan bisa memenangkan hati Alana, hubungannya dengan Nana pasti akan membaik.Begitu Jovan menyadari yang dimaksud Maxime adalah Alana, dia langsung cari alasan."Kalau gitu aku ikut Kak Max pulang aja deh ketemu kakak ipar."" ... "Hanya Jovan yang berani mengatakan hal ini.Mereka pun kembali ke kediaman utama Keluarga Sunandar.Jovan sebenarn
Tangan Jovan menggantung di udara begitu saja, lama sekali baru akhirnya dia menarik balik tangannya."Aku ...."Reina tidak menunggu Jovan selesai bicara dan langsung balik badan kembali ke kamar.Jovan mau mengejar dan meminta maaf, tetapi Maxime menangkapnya lengannya dari belakang."Kak Max, kok nahan aku?"Maxime menjawab, "Minta maafnya lain kali aja."Hari ini adalah hari pertama Tahun Baru Imlek dan dia tidak mau ada masalah karena kedatangan Jovan.Jovan juga merasa dia tidak boleh terburu-buru dalam hal ini. "Ya sudah, oke."Awalnya dia mau melihat anak Reina, tapi sekarang sepertinya lebih tepat untuk pergi."Kalau begitu aku datang lain kali saja.""Ya."Jovan kembali ke mobilnya dan melaju pergi.Reina kembali ke kamar, berbaring di sofa malas dan melanjutkan membaca.Tidak berapa lama Maxime menyusulnya masuk ke kamar, Reina pun berkata, "Tadi kamu bilang ada urusan, maksudnya ada urusan sama Jovan?"Maxime takut Reina akan marah dengannya perkara Jovan, jadi waktu Reina
Sejak Reina datang, Morgan tidak mengalihkan pandangannya dari Reina sedetik pun.Morgan berdiri dari kursinya dan menyapa, "Kakak, Kakak ipar."Reina tersenyum sopan padanya.Kejadian ini begitu menusuk mata Syena, namun dia buru-buru memadamkan api cemburu dalam hatinya dan ikut menyapa seperti Morgan, "Kakak ipar, Kak Maxime."Maxime mengabaikannya dan mempersilakan Reina duduk duluan sebelum akhirnya dia sendiri duduk.Karena di ruang makan ini ada banyak orang, Reina tidak menepis sapaan Syena demi memberinya muka.Waktu Syena duduk kembali, dia dengan sengaja memegang lengan Morgan."Morgan, anaknya Kak Max dan Kakak ipar lucu banget."Lengan Morgan menegang dan rasa jijik melintas di matanya.Morgan diam-diam melepaskan lengannya dari tangan Syena, lalu menatap Riki yang memang terlihat seperti Maxime.Joanna juga terus menatap Riki sejak dia masuk ruang makan.Joanna tetap tidak percaya Riki bukan putra Max meski Reina sudah bilang bukan.Kalau memang kedua anak ini adalah anak
Melisha berpura-pura menghentikannya, "Tommy, ngalah aja ya sama adik."Tommy yang hanya seorang anak kecil biasa tentu tidak tahu apa artinya berpura-pura untuk mengambil hati. Yang dia tahu hanya tidak boleh ada yang mengambil barang kepunyaannya.Dia turun dari kursinya, lalu berlari ke samping Riki dan mulai menariknya."Iih! Cepet turun!"Karena Riki dan Riko terlihat sangat mirip.Tommy yang dulu pernah dipukuli Riko pun tidak berani langsung menyerang Riki. "Cepat turun! Dasar bocah liar!"Reina mulai mengepalkan tangannya karena Tommy terus memanggil anaknya bocah liar.Dalam hati Melisha hanya mencibir dan tidak menghentikan aksi anaknya.Tuan Besar Latief merasa agak tidak berdaya dan berkata pada pelayan, "Ambilkan kursi lain, lalu taruh di sisi sebelah sini.""Nggak mau! Aku maunya duduk di kursi ini!" Tommy bersikap manja dan dia bersikeras untuk duduk di tempat Riki duduk.Reina yang sudah tidak tahan dengan situasi ini pun berkata, "Riki sini. Duduk sama Mama aja."Riki
Semua kembali terkejut. Ini adalah pertama kalinya seseorang berani menegur Tommy karena bersikap egois.Melisha masih mau membela Tommy, tetapi dia bingung caranya karena usia Riki lebih muda dari Tommy.Meski Tommy sombong dan mendominasi, dia tidak bodoh. Dia tahu Riki sedang menghinanya."Dasar bocah liar, berani sekali kamu ngatain aku!"Riki masih merasa api yang dikobarkannya belum cukup besar, jadi dia terus menuang minyak, "Jangan marah-marah, aku ini jujur lho. Memangnya Bu Guru nggak ngajarin kamu sopan santun di sekolah?"Reina terdiam.Padahal sebelum ke sini, dia sudah meminta Riki jangan banyak bicara.Yang bertengkar adalah dua anak kecil, orang dewasa jadi sungkan untuk ikut campur, jadi Reina memberi isyarat mata pada Riki untuk berhenti bicara.Riki sengaja menghindari tatapan Reina, lalu mengangkat alisnya ke arah Tommy seolah mengatakan, "Mau nantang? Sini kalau berani!"Tommy tidak berani menghajar Riki karena wajahnya yang persis seperti Riko.Akhirnya, Tommy pun
Syena terhenyak.Awalnya dia hanya ingin memberi kesan baik pada yang lain dan membangun sekutu di keluarga ini untuk menindas Reina, dia tidak menyangka ternyata sikapnya ini malah menyinggung calon ibu mertuanya.Dia tidak menyangka Joanna akan membela Riki.Perkataan Rendy ada benarnya. Riki itu baru pertama kali dibawa ke Keluarga Sunandar, masih belum pasti apakah anak ini sungguh keturunan Keluarga Sunandar atau bukan.Apalagi Riki dengan lantang mengatakan ayahnya adalah Revin.Melisha menatap Syena dengan ramah, lalu menarik Rendy dan Tommy. "Ayo pulang, kita makan di rumah aja."Di acara makan malam ini, bisa dibilang semua orang menyantap makanannya dengan pemikiran masing-masing dan mengakhiri perjamuan makan masing-masing.Setelah makan, Tuan Besar Latief meminta pelayan menyiapkan semangkuk daging bebek untuk Riki.Reina bingung, Riki itu paling tidak suka makan jeroan, apalagi ada lidah, kepala dan bagian lain.Sebelum pergi tidur, Reina berjongkok di sisi Riki dan bertan
Reina keluar kamar setelah menidurkan Riki.Maxime sudah kembali ke ruang tamu dan sedang membaca buku Braille."Riki sudah tidur?" tanya Maxime.Reina mengangguk, "Ya, kok kamu belum tidur?""Nungguin kamu, yuk tidur bareng." Maxime menutup bukunya dan menatap Reina.Reina jadi salah tingkah. "Mmm, kita tidur terpisah aja.""Kenapa?"Angin sepoi-sepoi bertiup di wajah Reina yang terasa agak panas, "Aku lagi hamil, nggak nyaman kalau tidur bareng.""Kasurku 'kan lebarnya dua meter? Kamu nggak akan kesempitan.Sambil bicara, Maxime sudah berjalan menghampiri Reina dan merangkul lengan Reina.Tangannya terasa panas dan dia bisa merasakan hangat tubuh Reina melalui baju yang tipis."Tapi aku biasa tidur sendirian ...."Sebelum Reina selesai bicara, Maxime langsung menggendongnya.Tubuhnya terangkat dari tanah dan membuat Reina panik sesaat. Melihat jaraknya yang begitu jauh dari lantai membuat Reina berpegangan pada lengan Maxime."Berhentilah membuat masalah, cepat turunkan aku."Maxime
Akhirnya, Sophia merasa lega setelah berhasil meyakinkan orang tuanya untuk kembali ke rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, dia menggenggam erat tangan ayah dan ibunya, tidak mau melepaskannya."Dokter bilang kalau penyakit kalian disebabkan karena kelelahan jangka panjang. Selama kalian menerima perawatan satu atau dua tahun, kalian bisa pulang dengan sehat."Sophia tersedak, lalu melanjutkan, "Sekarang, pengobatan tinggal setengah tahun lagi, lalu kita bisa hidup dengan baik. kalian jangan pernah punya pikiran buat melarikan diri lagi.""Ya." Erna menghibur dan memeluknya dengan lembut, "Maafkan Ibu karena sudah membuatmu khawatir, Nak."Robi juga berkata, "Kali ini Ayah dan Ibu memang salah, kami minta maaf sama kalian."Sophia tersenyum. "Lain kali kalian nggak boleh seperti ini lagi.""Hmm, ya." Robi mengangguk berulang kali, nadanya lembut.Diego yang duduk di kursi depan menatap Sophia, Erna dan Robi yang terlihat bahagia, entah kenapa jadi teringat masa kecilnya.Dia teringat
Reina langsung menghubungi Diego setelah meminta pengawal itu mengirimkan alamat hotel di mana keduanya berada.Saat itu masih pagi sekali.Diego dan Sophia masih berada di luar.Ketika Diego menerima telepon itu, bagian bawah matanya berbinar. "Kak, terima kasih banyak, kamu benar-benar sangat membantuku."Reina tidak banyak bicara saat mendengar ucapan terima kasihnya."Cepat pergi dan jemput mereka kembali. Selain itu, perlakukan temanmu itu dengan baik.""Ya, ya, ya."Diego langsung mengiakan. Karena cuaca terlalu dingin, jadi suaranya sedikit bergetar.Setelah menutup telepon, Diego langsung memberi tahu Sophia."Ayo, aku tahu di mana Om sama Tante."Wajah Sophia pucat, pipinya memerah karena kedinginan. Dia mencoba mengucapkan terima kasih, tetapi ia terlalu dingin untuk berbicara.Diego segera menghentikan taksi.Keduanya duduk di dalam, penghangat di dalam mobil sangat memadai, membuat tubuh Sophia menghangat. Dia berkata, "Di mana orang tuaku sekarang? Apa mereka baik-baik saj
Reina sedikit tidak percaya saat mendengar itu.Teman Diego? Bukankah itu wanita yang bernama Sophia?Sekarang, Diego tidak punya uang atau kedudukan, teman-temannya dulu sudah mengabaikannya."Ya, berikan informasi orang tua temanmu, aku akan menyuruh seseorang mencarinya.""Ya, terima kasih, Kak. Kamu benar-benar sangat baik."Diego tidak pernah berterima kasih pada Reina setulus hari ini.Bahkan jika Reina pernah melunasi tagihannya, rasa terima kasihnya kepada Reina tidak sebanyak hari ini.Reina juga mendengar ketulusan di dalam suaranya, masih belum percaya bahwa pria itu benar-benar telah berubah."Kita masih belum menemukannya, jadi jangan bilang makasih dulu.""Hmm, baiklah."Setelah menyelesaikan panggilan, Diego menemui Sophia, meminta informasi orang tua Sophia dan sebagainya.Setelah Reina melihatnya, dia menyadari bahwa semuanya seperti yang dia duga. Teman yang dimaksud Diego adalah Sophia."Aku mau tanya sesuatu," kata Reina."Kak, tanya saja.""Kenapa demi seorang tema
Diego membungkuk dan berjongkok di sisi Sophia, menghiburnya dengan lembut, "Jangan terlalu sedih, Tante sama Om bakal baik-baik saja, ayo kita cari lagi. Kamu nggak boleh terlalu sedih, nanti kamu nggak bakal punya kekuatan buat cari Om sama Tante."Mendengar perkataannya, Sophia perlahan-lahan menjadi tenang."Ya, aku harus tenang, harus tetap tenang.""Hmm." Diego mengangguk. "Ayo cari lagi.""Ya."Namun, ketika Diego baru melangkah beberapa langkah ke depan, tiba-tiba pandangannya menghitam dan tubuhnya jatuh ke bawah.Sophia bergerak cepat untuk menopangnya, menahannya tepat sebelum Diego jatuh ke aspal."Diego," teriak Sophia.Diego menjawab dengan gugup, "Ada apa?""Barusan kamu hampir jatuh." Sorot mata Sophia penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran.Diego mengusap-usap kepalanya. "Hah? Aku nggak sadar, mungkin aku kurang istirahat. Ayo, kita lanjut cari."Sophia menatap Diego yang linglung, mana mungkin dia berani membiarkan pria itu terus mencari."Kita pulang dan istirahat d
Tatapan Sophia menghangat dan dia sangat tersentuh.Sekarang, dia benar-benar tidak punya banyak uang dan tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. Jadi, dia mengambil uang Diego terlebih dahulu, lalu membayarnya kembali setelah dia dapat gaji.Sophia mengambil uang itu, kemudian pergi untuk membuat sarapan.Anehnya, biasanya pada jam-jam seperti ini kedua orang tuanya sudah bangun, tetapi hari ini tidak satu pun dari mereka yang terlihat. Pintu kamar mereka pun tertutup rapat.Sophia mengira kedua orang tuanya masih beristirahat, jadi dia tidak tega mengganggu mereka.Setelah sarapan siap, Sophia pergi ke depan pintu kamar mereka, mengetuk pintu dan berkata, "Ayah, Ibu, bangun, ayo sarapan."Namun, setelah memanggil mereka beberapa kali, mereka tidak mendengar satu jawaban pun.Jantungnya berdebar kencang dan dia pun mendorong pintu kamar.Ketika pintu kamar terbuka, dia melihat bagian dalam kamar sudah dibersihkan dengan rapi. Semua barang terlipat rapi dan kamar dalam keadaan koson
"Kamu dengar sendiri, aku sudah jelasin sama dia." Reina menyimpan ponselnya kembali dan menatap mata Maxime tanpa sedikit pun rasa bersalah.Memang benar bahwa dia tidak memberikan sinyal apa pun kepada Ari, jadi dia tidak melakukan kesalahan apa pun.Sekelebat kerumitan melintas di mata Maxime. Dia mengangkat tangannya, ujung jarinya membelai wajah Reina."Aku mengerti. Istriku sangat luar biasa, wajar kalau ada yang menyukainya."Reina menjadi agak malu ketika tiba-tiba dipuji olehnya.Keduanya berdiri diam di tengah kerumunan, indah seperti sebuah lukisan."Salju turun, salju turun ...."Banyak orang di sekitar mulai berseru.Reina kembali tersadar dan menatap kepingan salju yang berjatuhan, bagian bawah matanya berkilau."Cantik sekali."Maxime menggenggam tangannya dan tetap berada di sisinya tanpa berbicara.Dia berharap waktu tetap berada di momen ini sekarang....Saat ini musim dingin, ada tumpukan salju di mana-mana.Beberapa orang menganggapnya indah, tetapi bagi sebagian o
"Baguslah kalau kamu mengerti," kata Imran.Ari tidak ingin berbicara dengan mereka lagi dan melangkah menuju kamarnya.Retno mencoba mengejarnya untuk menjelaskan, tetapi Imran menghentikannya."Biarkan dia sendiri dan merenungkan semuanya. Sebagai orang tua, kita nggak bisa mendiktenya seumur hidup."Mata Retno berkaca-kaca dan mengangguk kaku. "Ari sangat hebat, kenapa dia nggak memilih gadis baik-baik, menikah dan memulai sebuah keluarga?""Kalau tahu begini, seharusnya aku nggak membiarkannya terjun ke dunia hiburan." Imran selalu memandang rendah industri aktor. "Jadi dokter sepertiku dan menikah dengan wanita dengan profesi yang sama, bukankah itu bagus?"Keduanya tidak bisa memahami pikiran anak muda saat ini, jadi mereka membiarkannya.Ari tinggal sendirian di kamar, mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Reina, tetapi Reina tidak bisa dihubungi.Entah sudah berapa lama dia tinggal di dalam kamar, tetapi melihat hari sudah mulai gelap, dia tidak bisa menahan diri lagi dan
Sebenarnya, ini bukan menjelaskan semuanya dengan jelas, tetapi menempatkan identitas dengan jelas bahwa Ari tidak pantas untuk Reina dan dia tidak lebih baik dari Maxime.Sekarang, Ari merasa sangat bersalah, "Bu Reina, kita akan bertemu lagi lain kali. Kali ini, aku yang mentraktirmu dan Tuan Maxime."Maxime segera membalas, "Nggak perlu. Saat datang, aku sudah bayar."Dia tidak mau menerima traktiran dari saingan cintanya, dia juga bukan orang yang suka gratisan.Ari makin malu, lalu mengangguk mengerti sebelum pergi bersama orang tuanya.Setelah dia pergi, Reina menghela napas panjang, merasa masih belum pulih dari semua kejutan yang baru saja terjadi."Apa maksudnya ini?" Reina bergumam pada dirinya sendiri.Maxime menatapnya dengan ramah. "Sudah percaya 'kan kamu sekarang?"Reina menghela napas, masih sedikit tidak percaya."Apa mungkin Ari mengarang jawaban yang barusan?"Dia tidak mengerti kenapa seorang selebriti pria populer menyukai seorang wanita yang lebih tua beberapa tah
"Bu, jangan konyol." Ari membela Reina, "Itu masalahku sendiri, nggak ada hubungannya sama dia."Ari memang penurut dan pengertian sejak kecil, kecuali untuk urusan jatuh cinta dan menikah.Melihatnya membela wanita lain, hati Retno jadi makin tidak nyaman, lalu melampiaskan kemarahannya pada Reina."Namamu Reina?" tanya Retno sambil menatapnya tajam. "Apa suamimu tahu tentang hubunganmu dengan Ari?"Kata-kata dingin Retno terus terlontar, "Kamu sudah menikah, punya anak dan terlihat sedikit lebih tua dari Ari. Jadi, kamu harusnya sangat pandai dalam memanipulasi laki-laki muda, bukan? Menurutmu, apa yang akan suamimu lakukan kalau aku memberitahunya semua ini?"Jika orang ini bukan ibu Ari, Reina pasti sudah membalas tanpa ampun."Tante, aku nggak memanipulasi anak Tante, jadi jangan bicara sembarangan tentangku. Usia anak Tante sudah dua puluhan, bukankah dia punya pendapat sendiri?" kata Reina dengan tegas.Ari mendengarkan percakapan antara Reina dan ibunya sendiri, mengerti bahwa