Share

Bab 19

Author: WN. Nirwan
last update Last Updated: 2025-04-02 13:00:09

Raka tidak bermaksud menghina atau memandang rendah orang-orang yang tidak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan, namun sejak awal melihat Risma dan Ratu, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dari mereka berdua. Bukan hanya masalah penampilan, melainkan juga tindak-tanduk dan tutur kata mereka.

Apakah sebelumnya, Risma dan Ratu berasal dari kalangan yang lebih mampu dari kelihatannya? Jadi, siapa sebenarnya ibu dan anak yang Raka pekerjakan ini?

***

Retno memekik tertahan sambil menutup mulut usai membaca SMS yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia buru-buru mencari Ratih dan menemukan ibunya tengah menidurkan Razka di kamarnya. Ia sampai masuk ke dalam kamar Ronny dan Rika. Padahal, perbuatan itu sebenarnya terlarang baginya.

“Mak, lihat ini,” bisik Retno, khawatir membangunkan cucu majikannya itu. Ia menunjukkan ponselnya dengan antusias.

“Apa? Tunggu di luar. Jangan sampai Razka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 20

    "Jawab kalau ditanya!” bentak Ronny. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang tengah direncanakan oleh ibu dan anak itu. Ratih maju untuk menyelamatkan putrinya. “Begini, Mas Ronny. Tadi Retno lewat di depan panti asuhan. Katanya panti asuhan itu menerima sumbangan pakaian bekas.” “Lalu, apa hubungannya dengan Ratu?” selidik Ronny. “Terus, saya bilang, seandainya bisa, kita bawakan dulu apa yang diperlukan Ratu. Termasuk pakaian bekas seperti itu.” Ronny terdiam. Ia memang hanya mendengar potongan kalimat ‘bawakan dulu apa yang diperlukan Ratu’. Jadi memang tidak terlalu jelas. Ronny akhirnya memberikan perintah, “kalau kalian tahu tentang Ratu, kasih tahu saya. Jangan disimpan sendiri.” “Baik, Mas Ronny,” jawab Ratih dan Retno serempak. Ronny mendengus, lalu meninggalkan dua orang pekerjanya itu begitu saja. Ada hal yang lebih pentin

    Last Updated : 2025-04-02
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 21

    Rika cemberut lalu bertanya, “ya terus, aku harus gimana, Bang? Aku ‘kan tidak tahu harus mencari mereka ke mana.” “Coba kau awasi si Retno itu. Kelihatannya dia dan ibunya punya rencana di belakang kita,” suruh Ronny. “Ha? Rencana? Maksud Abang?” “Ikuti dia. Si Retno itu. Tapi diam-diam.” “Ah, Abang gimana, sih? Kenapa bukan Abang saja? Kalau aku ikuti dia, Razka gimana?” gerutu Rika, menolak mentah-mentah perintah suaminya. Ronny terdiam. Walaupun saat ini Rika sesungguhnya sedang meninggalkan Razka di rumah demi melihat calon rumah barunya, mengikuti Retno akan menjadi perjalanan yang mungkin memakan waktu. Tidak bisa diperkirakan, berapa lama Rika harus meninggalkan Razka jika ia membuntuti Retno. “Ya sudah, biar Abang saja. Tapi Abang pakai motormu dulu. Susah membuntuti kalau pakai mobil.” “Terserah,” balas Rika sambil mengangkat bahu.

    Last Updated : 2025-04-03
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 22

    Di kos-kosan Risma dan Ratu, tidak ada cermin. Apa yang mereka miliki hanyalah selembar tikar sebagai alas tidur dan beberapa lembar pakaian yang dimasukkan dalam kardus mi instan. Selain sebuah kipas angin kecil, barang yang dapat Risma beli hanya peralatan makan untuk dirinya dan Ratu, dua buah panci dan sebuah teko plastik. Untuk memasak, Risma menumpang di kompor gas kecil tetangga kos-kosannya yang hingga kini masih memulung, dengan patungan untuk membeli gas. Namun setelah ia bekerja pada Raka, Risma tidak pernah lagi memasak kecuali memasak air minum dan nasi. Sebab, selain mendapatkan makan siang, Raka juga selalu memberikan lauk sebagai bagian dari upah kerja Risma. Lauk itu pun kerap Risma bagi dengan tetangganya yang baik hati itu. Namun, malam itu, perasaan Risma campur aduk hanya karena tidak memiliki cermin di kamar kos mereka. Ratu yang gembira karena besok pagi akan kembali bersekolah, mengenakan seragam sekolahnya yang baru. I

    Last Updated : 2025-04-03
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 1. Keributan

    “Ayah! Jangan pukul Bunda lagi!” jerit Ratu sambil berlari mendekati kedua orang tuanya. Dengan berani, anak perempuan berusia sembilan tahun itu berdiri di depan Risma, ibunya. Tangannya terentang lebar, menjadi tembok penghalang bagi Ronny, ayahnya, agar berhenti memukuli ibunya. Ratu tidak tahan lagi melihat ibunya dipukuli. Melihat kenekadan Ratu melindungi dirinya, Risma segera memeluk putri semata wayangnya itu. Ia khawatir, Ronny yang sedang gelap mata, mengalihkan kebuasannya pada Ratu yang berat tubuhnya tak sampai setengah bobot Ronny tersebut. Ratu tidak akan baik-baik saja jika ia sampai kena pukul. Akan tetapi, perlahan Ronny menurunkan tangannya saat melihat keberanian Ratu. Ia menjadi lebih tenang dan tampaknya tidak bermaksud memukul anaknya. Padahal, sebelumnya, ia sudah memukul wajah dan tubuh Risma tanpa kenal ampun. “Minggir, Nak. Ini urusan Ayah dan Bunda-mu,” perintah Ronny pada Ratu, dingin. “Tidak. Ayah tidak boleh memukul Bunda lagi!” tukas Ratu. Matanya

    Last Updated : 2025-03-13
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 2. Diusir

    Risma tahu, ulah Rika ini hanya drama. Akal-akalan Rika untuk mencari perhatian Ronny sekaligus menjelek-jelekkan diri Risma dan Ratu. Seperti biasa, selanjutnya akan ada pertunjukan dengan deretan bintang yang tidak memiliki wajah semulus artis sinetron. Risma menantikannya meskipun sebenarnya ia merasa agak tegang karena akhirnya bisa tidak terduga.“Dik, tunggu. Jangan begitu, dong. Bapak dan Ibu sedang di Tanah Suci. Apa kata mereka kalau pulang berhaji, menantu dan cucu laki-lakinya tidak ada?” cegah Ronny, berusaha menahan langkah istri keduanya. Ia merebut tas dari tangan Rika.Nah, ‘kan. Seperti biasa, Rika akan berlagak hendak kabur dan Ronny akan mencegahnya. Biasanya Bapak atau Ibu—panggilan untuk kedua orang tua Ronny—akan menengahi drama ini karena tidak mau rumah tangga kedua Ronny tersebut hancur.Tapi, para mertua Risma dan Rika tersebut baru akan pulang dari Tanah Suci kira-kira dua minggu lagi. Jadi, mau tidak mau, Ronny harus mengatasi sendiri rengekan istri keduany

    Last Updated : 2025-03-13
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 3. Kesayangan

    Selamatan yang meriah diadakan untuk menyambut kedatangan Rahmat dan Rukmini. Kedua orang tua itu sangat bersyukur karena berhasil menunaikan ibadah haji dengan baik sehingga bisa kembali ke tanah air dengan selamat.Sangat banyak orang-orang yang datang untuk memberi selamat pada pasangan suami istri tersebut. Tidak hanya para tetangga, tokoh masyarakat yang mengenal Rahmat dan Rukmini pun memenuhi rumah besar milik suami istri tersebut. Para tokoh agama, lurah, camat hingga kepala polisi setempat, memenuhi undangan syukuran yang diadakan besar-besaran tersebut.Rukmini yang tak henti-henti mengumbar senyuman, mendampingi Rahmat menerima ucapan selamat dan mengikuti rangkaian acara. Walaupun mereka baru saja tiba dari bandara, Rukmini sama sekali tak merasa lelah. Kebahagiaannya karena telah kembali ke tanah air telah menghapus kelelahan akibat perjalanan mengarungi udara selama belasan jam.Akan tetapi, lama kelamaan, Rukmini mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya kar

    Last Updated : 2025-03-13
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 4. Pemulung

    Sekolah masih libur, jadi Ratu menemani Risma bekerja memulung sampah. Awalnya Risma tidak mengizinkan karena khawatir anaknya itu kelelahan. Namun, Ratu bersikeras.“Ratu mau bantu Bunda. Kasihan Bunda, setiap pulang pasti capek. Siapa tahu, capeknya berkurang karena Ratu bantu.”Risma menoleh pada tetangga kos yang sudah berbaik hati mengajaknya bekerja memulung. Meminta izin untuk mengajak anak perempuannya yang ingin berbakti.Tetangga kos yang baik hati itu mengangguk tanda setuju. Ia tidak keberatan sama sekali.Maka, berangkatlah tiga wanita berbeda usia itu menyusuri jalanan untuk mengumpulkan sampah kardus dan plastik bekas. Sepanjang perjalanan, Risma tak henti memerhatikan Ratu, khawatir jika anaknya kelelahan. Sesekali mereka beristirahat dan memakan bekal yang dibawa.Apa yang Risma khawatirkan tentang Ratu, justru tidak terjadi sama sekali. Sebaliknya, Risma-lah yang merasa kesulitan dan perjalanan mereka. Sinar matahari yang bersinar terik membuat dirinya merasa lelah d

    Last Updated : 2025-03-13
  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 5. Si Baik Hati

    Saat Risma membuka mata, wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah Ratu. Mata gadis kecil itu sembab karena menangisi ibunya yang mendadak tak sadarkan diri.“Bunda!” panggil Ratu sambil memeluk ibunya. Anak itu masih menangis. Dia pasti sangat ketakutan saat Risma masih pingsan.Wajah berikutnya yang Risma lihat adalah tetangga kosnya. Apakah dia tidak lanjut bekerja dan menunggui Risma hingga sadar?“Bu Risma istirahat dulu. Kalau sudah enakan, kita pulang saja.”Risma hanya mengangguk sambil balas memeluk Ratu. Sesungguhnya, dia sendiri masih terguncang. Perasaannya seperti orang yang baru bangun tidur, bingung karena tidak tahu apa yang terjadi saat ia masih kehilangan kesadaran.Kemudian, saat ingatan dan penglihatannya menjadi lebih jernih, Risma mulai menyadari keadaan di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangan, melihat bahwa saat ini ia tengah berada di sebuah kamar, namun bukan kamarnya sendiri.Setumpuk pakaian yang tergantung di balik pintu, jendela yang tidak dibuka sehingga

    Last Updated : 2025-03-13

Latest chapter

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 22

    Di kos-kosan Risma dan Ratu, tidak ada cermin. Apa yang mereka miliki hanyalah selembar tikar sebagai alas tidur dan beberapa lembar pakaian yang dimasukkan dalam kardus mi instan. Selain sebuah kipas angin kecil, barang yang dapat Risma beli hanya peralatan makan untuk dirinya dan Ratu, dua buah panci dan sebuah teko plastik. Untuk memasak, Risma menumpang di kompor gas kecil tetangga kos-kosannya yang hingga kini masih memulung, dengan patungan untuk membeli gas. Namun setelah ia bekerja pada Raka, Risma tidak pernah lagi memasak kecuali memasak air minum dan nasi. Sebab, selain mendapatkan makan siang, Raka juga selalu memberikan lauk sebagai bagian dari upah kerja Risma. Lauk itu pun kerap Risma bagi dengan tetangganya yang baik hati itu. Namun, malam itu, perasaan Risma campur aduk hanya karena tidak memiliki cermin di kamar kos mereka. Ratu yang gembira karena besok pagi akan kembali bersekolah, mengenakan seragam sekolahnya yang baru. I

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 21

    Rika cemberut lalu bertanya, “ya terus, aku harus gimana, Bang? Aku ‘kan tidak tahu harus mencari mereka ke mana.” “Coba kau awasi si Retno itu. Kelihatannya dia dan ibunya punya rencana di belakang kita,” suruh Ronny. “Ha? Rencana? Maksud Abang?” “Ikuti dia. Si Retno itu. Tapi diam-diam.” “Ah, Abang gimana, sih? Kenapa bukan Abang saja? Kalau aku ikuti dia, Razka gimana?” gerutu Rika, menolak mentah-mentah perintah suaminya. Ronny terdiam. Walaupun saat ini Rika sesungguhnya sedang meninggalkan Razka di rumah demi melihat calon rumah barunya, mengikuti Retno akan menjadi perjalanan yang mungkin memakan waktu. Tidak bisa diperkirakan, berapa lama Rika harus meninggalkan Razka jika ia membuntuti Retno. “Ya sudah, biar Abang saja. Tapi Abang pakai motormu dulu. Susah membuntuti kalau pakai mobil.” “Terserah,” balas Rika sambil mengangkat bahu.

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 20

    "Jawab kalau ditanya!” bentak Ronny. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang tengah direncanakan oleh ibu dan anak itu. Ratih maju untuk menyelamatkan putrinya. “Begini, Mas Ronny. Tadi Retno lewat di depan panti asuhan. Katanya panti asuhan itu menerima sumbangan pakaian bekas.” “Lalu, apa hubungannya dengan Ratu?” selidik Ronny. “Terus, saya bilang, seandainya bisa, kita bawakan dulu apa yang diperlukan Ratu. Termasuk pakaian bekas seperti itu.” Ronny terdiam. Ia memang hanya mendengar potongan kalimat ‘bawakan dulu apa yang diperlukan Ratu’. Jadi memang tidak terlalu jelas. Ronny akhirnya memberikan perintah, “kalau kalian tahu tentang Ratu, kasih tahu saya. Jangan disimpan sendiri.” “Baik, Mas Ronny,” jawab Ratih dan Retno serempak. Ronny mendengus, lalu meninggalkan dua orang pekerjanya itu begitu saja. Ada hal yang lebih pentin

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 19

    Raka tidak bermaksud menghina atau memandang rendah orang-orang yang tidak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan, namun sejak awal melihat Risma dan Ratu, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dari mereka berdua. Bukan hanya masalah penampilan, melainkan juga tindak-tanduk dan tutur kata mereka. Apakah sebelumnya, Risma dan Ratu berasal dari kalangan yang lebih mampu dari kelihatannya? Jadi, siapa sebenarnya ibu dan anak yang Raka pekerjakan ini? *** Retno memekik tertahan sambil menutup mulut usai membaca SMS yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia buru-buru mencari Ratih dan menemukan ibunya tengah menidurkan Razka di kamarnya. Ia sampai masuk ke dalam kamar Ronny dan Rika. Padahal, perbuatan itu sebenarnya terlarang baginya. “Mak, lihat ini,” bisik Retno, khawatir membangunkan cucu majikannya itu. Ia menunjukkan ponselnya dengan antusias. “Apa? Tunggu di luar. Jangan sampai Razka

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 18

    Sudah tiga hari Risma bekerja di warung makan milik Raka. Setiap pagi pukul 05.00, dia dan Ratu sudah ada di sana untuk membantu Raka menyiapkan menu. Risma juga bertugas menerima pasokan lauk-pauk saat Raka sedang sibuk di dapur. Lalu, pada pukul 06.00, warung makan itu sudah dibuka. Pengunjungnya ramai oleh para pekerja yang hendak sarapan sebelum berangkat kerja. Ada juga orang tua yang membeli makanan untuk bekal anak mereka yang bersekolah. Kalau sudah ramai seperti itu, Ratu kadang juga turun tangan membantu membersihkan meja dengan lap atau mengangkat piring-piring kotor untuk dicuci oleh ibunya. Namun, entah karena dia masih anak-anak atau memang belum terbiasa, gerakannya tidak telalu gesit. Perhatian Ratu seperti terpecah hingga ia tidak bisa membantu ibunya dengan baik. Meskipun sibuk melayani pembeli, Raka tetap memerhatikan tingkah anak perempuan itu. Pada hari ketiga pengamatannya, Raka sudah membuat kesimpul

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 17

    “Mbak Risma tidak bertengkar dengan Mbak Rika, tapi dengan Mas Ronny.” Ronny melotot saat mendengar kelanjutan kata-kata Rusdi. Pada saat yang bersamaan, kedua orang tuanya menoleh padanya. Ronny jadi salah tingkah karena kini orang tuanya tahu bahwa ia telah berbohong. “Bisa jelaskan, Ronny? Apa benar kau bertengkar dengan istrimu sebelum pergi?” tanya Rahmat tajam. Rukmini bertindak lebih jauh. Ia menoleh pada Ratih. “Tolong panggilkan Mbak Rika di kamarnya. Kalau Razka sedang tidur, tolong ditemani dulu.” “Iya, Bu.” Wajah Ronny memucat saat Ratih berjalan menuju ke kamar. Ibunya pasti hendak mencocokkan pengakuan Ronny dan Rika dengan Rusdi. “Jadi sebenarnya apa yang membuat Risma pergi?” tanya Rahmat pada Ronny lagi. Rika datang ke ruang tengah dan langsung duduk di sisi suaminya. Dengan takut-takut, ia melirik suaminya.

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 16

    Usai makan malam, Ronny dibuat jantungan oleh ayahnya. Dengan tenang Rahmat menyuruh agar ia mengumpulkan para pekerja rumah tangga di ruang tengah. Padahal putranya sudah mau pingsan karena terlalu takut. “Harus malam ini ya, Pak? Mereka pasti masih capek setelah bekerja dan….” “Bapak hanya ingin bertanya, siapa tahu ada yang tahu, ke mana Risma membawa Ratu. Kau ini kenapa? Bukannya kau yang seharusnya bertanya pada mereka? Seandainya kau tidak peduli pada Risma sekali pun, seharusnya kau memikirkan nasib anakmu!” sergah Rahmat setengah membentak, memotong kalimat Ronny. “I-iya, Pak. Sebentar, saya panggilkan mereka semua.” Ronny tergopoh-gopoh ke belakang rumah, mencari para pekerja yang memang mendapatkan kamar di sana. Selain Rusdi yang menjadi supir, masih ada tiga orang lagi yang bekerja bagi Rahmat dan semuanya masih satu keluarga. Yaitu Ratih, istri Rusdi yang menjadi asisten

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 15

    “Kalau menurut saya, lebih baik Bu Risma kerja pada Pak Raka saja. Bukannya ngatur Bu Risma atau Pak Raka. Tapi, kerja di sini lebih aman dan mungkin lebih cocok untuk Bu Risma,” lanjut tetangga yang sudah menolong Risma mendapatkan uang itu. “Lebih aman? Maksud Ibu?” tanya Risma tak mengerti. Dua kali insiden hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Pertama adalah saat Risma pingsan yang berakhir dengan ditolong oleh Raka. Kedua adalah apa yang baru saja terjadi. Ratu nyaris menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang lagi-lagi, berakhir dengan ditolong oleh Raka. Bagi tetangga kos Risma, dua peristiwa itu sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa Risma dan Ratu tidak cocok berada di jalanan. Sebab, selain sangat melelahkan untuk menyusuri jalanan sepanjang hari, jalanan juga menjadi tempat yang berbahaya bagi mereka yang ceroboh. “Saya bukannya mau menolak Bu Risma dan Ratu untuk ikut memulung bersama-sama.

  • Rebutan Rumah Mertua   Bab 14

    CKIIITT!!! Decit ban mobil yang beradu dengan aspal, seolah mengirimkan efek kejut bagi Risma yang sebelumnya terpaku di tempatnya. Akhirnya ia bisa bergerak lagi. Bahkan bisa berteriak, menyebut nama anaknya. “RATU!” Ratu sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya merasakan, seseorang menarik tubuhnya dengan kuat hingga ke tepi jalan. Buku yang sudah ia pegang, terlepas dari tangannya. Buku itulah yang akhirnya ditabrak oleh mobil yang nyaris menabraknya. Kertas-kertasnya berhamburan, melayang beberapa saat di udara sebelum akhirnya jatuh di aspal yag keras. Risma segera memeluk Ratu. Air matanya bercucuran. Merasa bersalah karena tak mampu menyelamatkan anaknya. Malah membeku di tempatnya. “Bunda….” Ratu pun tak kalah terkejutnya. Perlahan ia mulai menyadari apa yang terjadi. Bahwa alih-alih buku yang dici

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status