“Kayaknya lo seneng banget dapat sepatu,” sindir Raga saat mereka sudah kembali ke dalam mobil.Acara jalan-jalan sudah selesai. Febby dan Michelle diantarkan pulang oleh Reynald karena searah. Sementara Amira, tetap bersama Raga seperti biasa. “Ya enggak nyangka aja dapat gratisan,” sahut Amira tenang. Tangan Amira meletakkan kembali kantong belanja yang sebelum ini dia belai. Amira kemudian memilih untuk memandang keluar jendela saja. Firasatnya mengatakan jika Raga akan mencari masalah setelah ini.“Kalo gratisannya dari gue, kenapa lo enggak pernah mau terima?”Amira menghela. Benar kan, dugaannya? “Karena gue tau, Pak Reynald enggak punya maksud lain,” jawab Amira.Memangnya siapa orang yang tidak suka diberikan hadiah? Namun, kalau hadiah itu diberikan dengan mengharapkan balasan, maka Amira tidak bisa. “Kalau gue bilang gue enggak punya maksud lain, gimana? Gue beneran cuma mau ngasih lo,” kilah Raga.Benarkah Amira tidak bisa melihat ketulusan Raga selama ini? Padahal Raga
Hari masih pagi, tapi suasana hati Raga sudah berantakan. Tidak juga membaik setelah semalam dia mengamuk. “Tuan, kita sudah sampai.” Alex memberikan informasi pada Raga. Raga melihat sepintas ke arah luar jendela. Dari dalam mobilnya, dia mendapati Amira yang sedang berjalan di kejauhan. Seperti biasa, Amira datang tepat waktu. “Silakan masuk, Nona Amira,” sapa Alex ramah. Tidak biasanya Alex mewakili Raga bicara. Keanehan itu membuat Amira memicing curiga pada Raga. “Pagi,” sapa Amira canggung. Setelah sibuk dengan konflik batin, Amira memilih untuk menyapa Raga duluan. Meski cowok itu tampak cuek dan tak menoleh padanya, Amira berusaha. “Pagi.” Jawaban singkat Raga membuat Amira mengernyit heran. Raga sangat berbeda hari ini. Tak ada lagi Raga yang penuh semangat menyambut Amira. Tak ada pula tarikan memaksa minta pengecekan setiap saat. Saat ini, Raga benar-benar bersikap tidak peduli. “Lo … enggak apa-apa?” Keanehan Raga membuat Amira ingin memastikan jika cowok i
Evan, salah satu cowok paling populer di Laveire, dengan wajah tampan dan statusnya sebagai anak pemilik hotel bintang lima paling mewah di kota. Evan, tertarik pada Amira. Nama Amira membuat Evan penasaran. Selalu ada berita tentang Amira yang membuat Evan gerah. Amira yang dekat dengan pewaris Exscales. Amira yang melawan pembullyan Michelle. Amira yang punya backingan guru. Amira yang bersahabat dengan kakak kelas. Kenapa selalu Amira? “Gue kelas XI-B,” ucap Evan, dengan tangan yang masih terulur menunggu balasan Amira. “Boleh kan kita kenalan?” Pertanyaan Evan sukses membuat lorong sekolah ramai. Amira menatap Evan curiga. Dia penasaran tentang apa yang membuat Evan menghampirinya. “Boleh,” jawab Amira, membalas uluran tangan Evan. Dalam sekejap, Amira bisa melihat apa yang terjadi di masa depan. Cowok di hadapannya ini akan– “Aw!” Amira memekik keras, merasakan sakit yang tiba-tiba di tangannya. Pandangan Amira tertuju pada orang yang menarik tangannya, Raga. “Siapa l
Setelah keributan di lorong Laveire terurai, Amira benar-benar mengajak Michelle, Febby, dan Raga masuk ke dalam kantin. Mereka makan di sana, sambil berbincang sebentar sampai waktu istirahat habis. Michelle sudah kembali ke kelasnya, begitu juga Febby. Tersisa Amira dan Raga yang melangkah pelan menuju kelas mereka, XI-A. “Lo liat apa tadi?” Tanya Raga sesampainya mereka di kursi masing-masing. Raga yakin sejuta persen jika Amira melihat masa depan lewat Evan. Mereka kan berjabat tangan tadi. “Cowok gila. Dia mau ngejebak gue,” jawab Amira sinis. Seketika, Amira menoleh ke arah Raga. Dia memasang wajah terkejut, membuat Raga bingung. “Kenapa?” Tanya Raga sambil memegang wajahnya sendiri. Apa ada yang aneh di wajah Raga sampai Amira melotot begitu padanya? “Lo udah mau ngomong sama gue lagi?” Ternyata hal itu yang dipertanyakan Amira. Memang, Raga sempat mengabaikan Amira sebelum ini. Dia irit bicara dan hanya menjawab jika ditanya. Tidak seantusias biasanya. “Udah e
Michelle dan Febby menghampiri kerumunan di lorong. Kerumunan itu membuat Michelle cemas, karena tempatnya dekat dengan kelas Amira. “Itu Amira!” Seru Febby sambil menunjuk di kejauhan. Mereka pun bergegas mendekat. Dilihatnya Amira dan Raga sedang berhadapan dengan Evan, untuk kedua kalinya. “Cowok itu nyari masalah apalagi coba?” Febby bergumam kesal. Kemarin, Febby memang mengalah karena Amira menghalanginya. Harusnya Febby tidak begitu. Biar saja Amira kesal padanya, asalkan cowok buaya macam Evan ini jauh-jauh dari temannya. Febby sudah mendengar kabar tentang Evan. Cowok itu memang terkenal super kaya. Kelebihan Evan adalah ketampanan, tapi kekurangannya adalah dia seorang playboy. Lebih dari separuh siswi Laveire pernah menjadi pacarnya, dengan cara yang licik. “Hahaha ….” Evan tertawa keras. Dia bahkan bertepuk tangan. “Lo bener-bener keren, Amira!” Tangan Evan terangkat, berniat memberikan sebuah tepukan bangga di lengan Amira. Sayang, tujuannya meleset karena Ra
Amira terdiam. Dia tidak mampu menjawab. Melihat respon Amira, Raga tak bisa menahan kecewa. Tangannya terulur, menggeser Amira ke sisi. Kali ini, Amira tidak menahan Raga pergi. Lorong yang dijalani Raga seketika terasa penuh duri. Dia tak bisa terus melangkah, tapi juga tak mau kembali. “Bukan gitu,” lirih Amira pelan. Bagi Amira, Raga memang teman, tapi bukan juga sekedar teman. Amira berbalik. Dia melihat Raga yang masih berjalan di lorong Laveire sendirian. Cowok itu terus melangkah, tapi semakin lama semakin pelan. Sampai akhirnya berhenti. Raga berbalik begitu saja. Tatapan mereka pun bertemu tanpa menunggu. “Lo … enggak mau kejar gue?” Tidak keras, tapi Amira bisa mendengar suara Raga. Begitu jelasnya, membuat Amira langsung berlari menghampiri. “Lo mau nunggu gue jalan sampai sejauh apa?” Amira terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Dia tak bisa menjawab, tak ingin salah berucap. Amira tak mau membuat Raga semakin kecewa padanya. Diamnya Amira membuat Raga menghela le
Situasi saat ini sungguh berbahaya. Di atas kursi mobil yang sempit ini, Amira menindih Raga. Amira tidak peduli dengan kakinya yang sudah naik ke atas kursi dengan begitu kurang ajarnya. Wajah Amira menatap Raga, tapi tatapannya kosong entah kemana.Raga tahu apa yang terjadi. Amira sedang melihat masa depan, dengan pose yang menantang begini.“Gue bukan orang yang bisa tahan godaan,” ucap Raga pelan. Tangan Raga menarik Amira yang masih melamun. Dia meraih pinggang Amira, menjauhkan tubuh gadis itu. Raga mendudukkan Amira kembali ke tempatnya semula.“Kalau lo begitu lagi, gue enggak bisa jamin kelanjutannya bakal sama kayak sekarang ….”Amira tersentak. Dia yang baru sadar dari lamunan, hanya mendengar sebagian kalimat Raga. “Udahan liat masa depannya?” Tanya Raga pelan.Meski jantungnya serasa akan meledak, Raga memilih untuk bersikap biasa saja. Dia duduk bersandar di kursi, mencoba menenangkan kegilaannya sendiri. “Lo … cuma mau ngajak gue makan?” Tanya Amira heran. Raga ber
Amira melihat ke segala arah. Di restoran mewah bernuansa merah ini, petunjuk yang Amira dapatkan hanyalah jenis makanannya. Pasti makanan oriental, karena ada tulisan Mandarin yang terukir pada dinding di hadapan mereka. “Raga, kenapa kita ke sini?” Tanya Amira cemas. Raga menoleh, menatap Amira. Namun, dia tidak menjawab. Hanya tangannya saja yang bergerak, mengangkat tangan Amira yang sedang tertaut dengannya. Benar, Amira sudah mengeceknya tadi. Mereka akan makan di tempat ini. “Gue pesen ruang VIP, biar aman.” Jari Raga menunjuk ke kening Amira. “Otak lo aja yang kotor.” “Enak aja!” Bantah Amira sambil menepis tangan Raga. “Gue juga enggak mikir apa-apa!” Amira menutupi rasa malunya dengan memalingkan wajah. Sayang sekali, di sisi lain malah ada Alex. Raga tidak melihat, tapi jadi Alex yang melihatnya. Sungguh memalukan! “Silakan, Tuan, Nona.” Untungnya sambutan para pelayan mengalihkan perhatian Raga dan Alex. Para pelayan itu membukakan pintu kayu di hadapan mereka.
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.
“Mau apa?” Amira bertanya bingung. Dilihatnya Raga mengambil handphone dan malah sibuk sendiri. Tak lama, Amira merasakan getaran dari ponselnya. Dia mengeluarkan handphone dari saku dan melihat kontak yang menghubungi. “Ngapain lo nelpon gue?!” Amira menunjukkan layar handphone miliknya yang menyala. Tertulis kontak Raga di sana.Amira tak mengerti. Untuk apa Raga menghubungi dia? Mereka kan saling berhadapan begini. “Jangan tutup telepon dari gue,” ancam Raga saat cowok itu berpamitan. “Pokoknya jangan matiin sampai lo tidur.”“Hah?” Amira mengernyit bingung. Dia tidak mengerti. “Hari pertama lo di tempat baru. Gue enggak mau sampai terjadi apa-apa sama pacar gue.”Amira menilik wajah Raga. Dia menarik tangan cowok itu penasaran. Seketika, sekelebat bayangan masa depan terlihat dalam benaknya. “Lo cemburu?” Amira menghela. “Mau tau gue ngapain aja?” Raga cuma menunjukkan satu jari. “Ha