Arjuna menatap wajah anak yang ceria itu. Tentu saja dia mau menjadi Ayahnya karena memang Arjuna adalah Ayah biologisnya.
"Arjuna, jangan ambil pusing celotehan anak kecil," ucap Ibu Sonia. "Aku bersedia jadi Ayahmu kok," jawab Arjuna. Bima bersorak gembira dia langsung memeluk Arjuna lalu pria tampan itu membalas pelukan anak yang sudah ketahuan darah daging siapa. "Bima, nenek bilang kamu jangan sembarangan meminta lelaki menjadi ayahmu," ucap Ibu Sonia. "Nenek jahat, aku suka Paman ini yang jadi Ayahku. Aku tidak sembarangan memilih Ayah kok," balas Bima. Ibu Sonia menatap tajam Bima dia tidak menyukai Bima memanggil Arjuna dengan sebutan Ayah. Itu akan bahaya untuk ketenangan hidup Bima maupun Nadia. Orang yang tidak menyukai Nadia akan mencoba mencari cara mencelakai Nadia dan Bima. "Bima, dia bukan Ayahmu. Nenek rasa Paman Arjuna juga tidak nyaman jika kamu panggil Ayah. Dia belum menikah," ucap Ibu Sonia. "Nenek aku mau Paman AArjuna tersenyum tipis, agaknya Ibu Sonia mulai curiga padanya yang sudah mengetahui fakta tentang Bima. Untuk saat ini Arjuna pura-pura tidak tahu dahulu. "Aku tidak tahu apa yang Ibu maksud," jawab Arjuna. "Jangan berlagak bodoh, aku tahu kamu sudah mengirim doang untuk mencari tahu informasi tentang Nadia selama ini," ucap Ibu Sonia. Akhir-akhir ini ada banyak siang yang lalu lalang di sekitar rumahnya di desa. Bahkan orang-orang asing itu bertanya-tanya tentang seorang perempuan yang pernah tinggal di sebuah rumah yang tak jauh dari perkebunan sawit. "Apa aku ketahuan?" tanya Arjuna sambil cengengesan. "Apa yang kalian bicarakan. Paman ayo kita pergi bermain saja. Bicara sama nenek itu nggak asyik," ajak Bima. "Arjuna aku harap kamu jangan main-main. Jika susah mengetahui fakta jangan coba untuk merebutnya dari Nadia. Karena hanya dia semangatnya untuk hidup," jawab Ibu Sonia. "Aku setuju," jawab Arjuna. Arjuna mengangguk, lalu dia
Ibu Sonia menggelengkan kepalanya lalu dia berkata, “Arjuna tidak akan merebut putramu,” Nadia menatap tajam sang ibu seakan tidak percaya dengan apa yang ibunya katakan. Bisa jadi ini adalah tak tik dari Arjuna bukan? “Bu, Arjuna itu licik. Dia pasti melakukan ini dengan sengaja, berdalih mengajaknya bermain lalu tidak mengembalikan Bima padaku,” ucap Nadia yang khawatir. Ibu Sonia tahu kekhawatiran Nadia seperti apa, tapi bukankah memberikan kesempatan Ayah dan anak kandung itu untuk menghabiskan waktu bersama tidak apa-apa. "Nadia, tenangkan saja pikiranmu sejenak. Berpikir positif saja Arjuna tidak akan melakukan apa yang kamu khawatirkan," ucap Ibu Sonia. "Bagaimana aku bisa tenang. Anakku ada ditangan orang yang salah. Pikiranku jadi kacau memikirkan nenek lampir itu kalau bertemu dengan Bima," balas Nadia. "Rana tidak akan berani melakukan sesuatu pada Bima. Lalu Arjuna akan menjaga Bima dengan baik. Biarkan saja Bima menikmati waktu bersa
Nadia menatap wajah Ibu Sonia dengan tatapan penasaran. Memangnya apa yang akan ditanyakan oleh sang ibu. "Apa kamu menyimpan rasa pada Arjuna?" tanya Ibu Sonia dengan suara lembut tapi penuh penasaran. “A-ku,” ucap Nadia terbata, dia sendiri jadi salah tingkah dan gelagapan. Melihat tingkah Nadia yang seperti itu Ibu Sonia dapat menyimpulkan bahwa putrinya memang sudah jatuh cinta pada pria itu. “Nadia, kamu tidak perlu menjawab jika belum siap menjawab pertanyaan Ibu. Sepertinya memang di hatimu sudah jatuh cinta pada Arjuna,” ucap Ibu Sonia. “Tidak seperti yang ibu pikirkan,” balas Nadia sambil melengos ke arah yang lain. Ibu Sonia tersenyum tipis, Nadia masih enggan menjawab jujur tentang perasaannya. Kenapa harus disembunyikan perasaan tentang menyukai seseorang yang sudah jelas dia adalah Ayah kandung dari putranya. Sebaiknya harus jujur agar orang tuanya bisa mengambil sikap. Apakah meminta Arjuna tanggung jawab atau harus merelakan anakny
Arjuna menoleh ke sumber suara, dia adalah Tuan Anwar dan Nyonya Rana. Wajah ibu Arjuna sudah tidak suka melihat anak yang digandeng Arjuna. "Dia anakku," jawab Arjuna. "Kamu belum menikah mana mungkin punya anak," balas Nyonya Rana. "Itu bisa saja terjadi," jawab Arjuna. Nyonya Rana menggertakkan giginya kesal. Lama kelamaan Arjuna semakin susah diatur olehnya. Apakah ini karena dia tidak merestui keinginan Arjuna mempersunting Nadia. "Arjuna, kalau kamu masih menganggap ibu adalah orang tuamu. Cepat katakan apa sebenarnya yang kamu mau," bentak Nyonya Rana. "Jangan ikut campur lagi apa yang aku ingin lakukan," balas Arjuna lalu membuka pintu mobilnya dan meminta Bima masuk mobil. Arjuna menatap Nyonya Rana tajam. Ada isyarat bahwa jangan pernah lagi mengusik kebahagiaannya. Lalu dia berkata, "Kali ini saja, jangan buat aku kecewa," Arjuna lalu berjalan kembali ingin masuk mobilnya. Tapi Pak Anwar menepuk pundaknya pelan. "Katakan siapa
Nyonya Rana jadi gelagapan. Dia tidak tahu kalau suaminya akan menghampirinya lagi. Padahal dia sudah jalan jauh mungkin juga sudah sampai mobil. "Dia yang mulai duluan!" seru Nyonya Rana sembari menunjuk Ibu Sonia dengan jari telunjuknya. "Tidak mungkin Sonia melakukan itu. Jujur saja kamu pasti melakukan kesamaan," ucap apak Anwar. "Dia ingin menyingkirkan putriku. Dia tidak suka Arjuna dekat dengan putriku," jawab Ibu Sonia. Lalu wanita paruh baya yang masih cantik itu mendekat ke Pak Anwar. Seraya membisikkan sebuah kalimat, "Aku akan membocorkan aib istrimu jika sampai putriku terluka dua kali," Ibu Sonia melanjutkan perjalanan untuk pergi dari hadapan mereka berdua. Dia sudah menekan Pak Anwar agar istrinya tidak main-main dengannya. "Kamu sudah mendapat peringatan. Kita harus hati-hati dalam bertindak. Sonia bukan tandingan kita. Kamu kira keluargamu bisa mengalahkan Sonia. Itu tidak akan pernah bisa!" seru Pak Anwar. "Memangnya dia s
Jantung Nyonya Rana seakan berhenti saat mendengar suaminya akan melamar Nadia untuk Arjuna. "Lalu bagaimana dengan Lisa?" tanya Nyonya Rana lagi "Tidak ada urusan denganku karena dari pihak keluarga kita belum resmi melamar. Itu hanya akal-akalan kamu sendiri Menjodohkan Arjuna dengan Alisa," jawab Pak Anwar. Tangan Nyonya Rana mengepal karena kesal. Kenapa suami dan anaknya susah tak lagi mendengarkan perkataannya. "Pasti mereka mendapatkan banyak hasutan diluaran sana," gumam Nyonya Rana. "Tidak ada yang mengajariku. Ini murni dari dalam hati ayah yang ingin anaknya bahagia dengan pilihannya," balas Pak Anwar. Bagi Pak Anwar, putranya Arjuna sudah banyak menderita selama ini. Dia sudah menghabiskan waktu untuk mencari dimana Nadia berada. Sampai Arjuna mengidap depresi, bolak balik ke psikiater untuk mengobati penyakit mentalnya. "Omong kosong, aku tetap tidak suka pada wanita yang sengaja naik ranjang pria untuk mendapatkan. buah hati
Arjuna menyunggingkan senyuman, lalu menatap wajah ibunya yang sedang menangis sedih itu.“Hubunganku sedikit membaik karena ada Bima,” ucap Arjuna.“Baguslah, kamu bisa merundingkan lamaran kepada Nadia,” balas Pak Anwar.“Nadia masih trauma bagaimana dihina oleh Ibu, diberikan sejumlah uang untuk meninggalkanku. Lalu dia juga takut kalau ada yang menyakiti anak kami,” ucap Arjuna seraya menatap tajam sang Ibu.Pak Anwar mengerti maksud dari Arjuna. Istrinya memang agak keras dalam berperilaku, kali ini memang Pak Anwar akui bahwa Nyonya Rana sangat keterlaluan. Menghina orang sampai dwon mentalnya. Hingga dia trauma dan ketakutan jika buah hatinya ikut tersakiti.“Biar Ayah yang bicara pada Ibumu,” ucap Pak Anwar sembari menepuk pundak Arjuna.“Ayah harus tahu, kalau ibu sampai hati menyakiti buah hatiku. Aku tidak segan—segan memenjarakan ibuku sendiri.” Balas Arjuna dengan
Arjuna menilai Ibunya hanya sibuk bergosip tentang keburukan orang lain sehingga keburukan dan kekurangan diri sendiri tidak terlihat oleh dirinya sendiri. Memalukan sekali, hal penting tentang seseorang yang memiliki kekayaan berlimpah malaha tidak tahu."Arjuna, kamu tidak boleh menghina ibu sendiri seperti itu. Bagaimanapun juga aku adalah orang yang ikut andil membesarkanmu sampai kamu bisa ditakuti dan di segani oleh banyak orang!" seru Nyonya Rana."Tapi kadang ibu memilihkan sesuatu yang salah," balas Arjuna."Itu hanya sebagian kecil. Sebagian besar keberhasilanku berkat didikan ibu," ucap Nyonya Rana."Aku tidak merasa begitu. Bahkan banyak didikan ibu yang salah kaprah menurutku," balas Arjuna.Nyonya Rana merasa terhina, kenapa putranya sudah sangat berubah. Tidak patuh lagi padanya seperti dulu. Arjuna yang dulu selalu mengikuti semua arahan dan ucapan Nyonya Rana. Kini semua sudah berubah semenjak Nyonya Rana tidak setuju Arjuna menikahi Nadia.
Nadia menyeringai tipis dia melihat para bawahan yang dibentak dan terlihat tak nyaman di depan Pak Abraham itu. "Ada apa sebenarnya. Apa ada yang bisa menjelaskan padaku?" tanya Nadia. "Aku hanya meminta mereka melakukan tugas mereka saja," jawab Pak Abraham. "Mereka tidak mau menurut, padahal aku masih atasan mereka," imbuh Pak Abraham. ""Benarkah?" tanya Arjuna yang setia menemani Nadia. "Sebenarnya," ucap karyawan. "Katakanlah jangan takut," ucap Nadia. Pak Abraham ingin memakai bahan kualitas rendah tapi akan menjual dengan harga tinggi. Mereka menolaknya jadi Pak Abraham marah besar mengenai hal ini. Mungkin dia ingin mengantongi banyak keuntungan dari pembelian bahan baku yang murah. Pak Abraham tentu saja berkelit dan tidak mengakui itu. Dia menyalahkan semua karyawan itu sebagai pengarang cerita handal.“Jangan percaya mereka,” ucap Pak Abraham.“Kami tidak mengada-ngada, silahkan cek sendiri mengenai penawaran harga dari beberapa pabrik juga orang yang akan datang ha
Arjuna tertawa sejenak saat melihat wajah Nadia ketakutan. Dia memeluk Nadia erat sekali. Serasa tidak ingin melepaskan Nadia untuk selamanya. "Nadia, aku tidak akan melakukan itu jika kamu belum siap," ucap Arjuna. "Syukurlah," balas Nadia. Tapi saat Nadia lengah, Arjuna mencecap bibir Nadia pelan hingga dia merasa puas. Nadia yang awalnya berontak akhirnya memilih untuk menikmati ciuman itu toh dulu dia juga pernah melakukan itu dengan Arjuna. "Arjuna, hentikan," pinta Nadia saat Arjuna mulai memainkan tangannya di atas tubuh Nadia. "Aku tidak mau berhenti. Sebentar saja kok Naida," bisik Arjuna. "Bagaimana kalau Bima bangun," bisik Nadia. "Tidak akan, asal kamu tidak berteriak maka semua akan baik-baik saja," balas Arjuna. "Atau kita pindah tempat?" bisik Arjuna sembari menyeringai nakal. Nadia masih diam teringat malam itu saat mereka memadu kasih. Memang benar Arjuna sangat pandai bermain di ranjang panasnya. Nadia tidak mau melakukan ini lagi sebelum janur kuning meleng
Masakan sudah terhidang di meja, yaitu sepiring telur mata sapi dengan mayonaise dan wortel rebus sebagai pendamping. Satu lagi adalah seporsi udang saus asam manis."Wah banyak sekali makanan malam ini, ada daging, sayuran, telur dan makanan laut," ucap Arjuna yang tidak sabar untuk makan semua makanan yang terhidang dimeja."Walau tidak nyambung. Tidak apa-apa lah, semua pelayan juga boleh memakan ini semua. Daripada mubazir," balas Nadia bersemangat. Dia melepas celemeknya dan ikut duduk di bangku meja makan."Bolehkah aku segera mencoba semua makanan yang ada di meja ini?" tanya Arjuna."Makan saja, semua makanan ini enak," balas Bima.Nadia juga menyetujuinya. Dia tidak pernah bisa memasak sebelumnya tapi semenjak memiliki Bima dia belajar memasak agar Bima selalu merindukan masakan di rumah."Makanlah yang banyak, habiskan kalau mau," ucap Nadia. "Enak sekali," ucap Arjuna saat sudah merasakan daging yang dimasak oleh Nadia."Makan semua dagingnya jika kamu doyan, Arjuna," bala
Bima menatap Arjuna sebelum mengatakan sesuatu, "Jangan pernah sakiti ibu," "Pasti," jawab Arjuna singkat. Memang itu tujuannya tidak akan pernah menyakiti Nadia karena tahu pasti sudah banyak Nadia menderita selama tidak ada di sisinya. Ibunya memang mempunyai hutan sawit yang luas tapi itu ibunya bukan Nadia seutuhnya. KalI tidak ada support dari keluarga pastilah dia depresi. Sebelum kembali ke rumah Ibu Sonia mungkin Nadia sudah depresi duluan akibat ayah dan keluarga tirinya "Sudah banyak dia menderita enam tahun ini," balas Bima. Bima mengenang bagaimana ibunya jungkir balik menafkahinya. Bagaimana Nadia gagal dalam bisnisnya berkali-kali. Hingga pernah menyerah dan hampir putus asa. "Maafkan Ayah yang tidak becus menemukan kalian lebih cepat, ya, Nak," ucap Arjuna lirih dia merasa tidak berguna menjadi seorang pendamping sekaligus ayah bagi Bima dan Nadia. "Ayah tidak salah, hanya saja Tuhan sedang menguji apakah cinta Ayah sungguhan atau main-main," balas Bima."Apakah
Bima menyeringai tipis, dia tahu kalau Nyonya Rana sudah ketakutan. Bocah lima tahun itu sedikit cerdas dan gemar meniru kelicikan sang Nenek Sonia dalam menjauhkan lawannya. "Ibuku mungkin tidak akan mau mempunyai mertua seperti nenek. Aku juga tidak butuh Nenek jahat dan tidak mampu bekerja seperti Nenek," balas Bima. "Lancang sekali, apa yang kamu katakan itu?" tanya Nyonya Rana. "Kebenaran, aku menyukai Nenek yang cerdas seperti Nenek Sonia. Dia pintar mencari uang dan bisa membelikan aku apa saja. Tidak seperti Nenek yang hanya bisa meminta uang pada Kakek atau Ayah saja. Membosankan," jawab Bima. Pak Anwar dan Arjuna menertawakan Nyonya Rana. Masa iya dia bisa kalah dengan anak usia lima tahun. Padahal dia jago sekali membuat orang dwon dengan ucapannya yang mengintimidasi. "Itu karena aku adalah istri yang diratukan oleh Suami. Tidak seperti nenekmu yang dicampakan oleh Kakekmu yang miskin itu," balas Nyonya Rana. "Bima jangan dengarkan nenekmu. Semua itu karena Kakek s
Pak Anwar dan Arjuna saling pandang, mereka bingung mau mengantar Bima menemui Nyonya Rana seperti apa. Pasalnya saat ini Nyonya Rana ada di ruang bawah tanah. "Tenang Ayah, aku akan menelpon kepala pelayan untuk memindahkan Ibu ke kamar," bisik Arjuna."Jangan ditelpon kirim pesan saja. Takut Bima mendengarnya," balas Pak Anwar. Kemudian Pak Anwar melihat Bima yang penasaran dimana Nyonya Rana saat ini. "Nenek ada di kamar, ayo kita kesana," ucap Pak Anwar lalu menggandeng Bima ke arah kamarnya tapi berjalan memutar dulu menikmati taman belakang."Indah sekali," ucap Bima sambil menikmati indahnya taman bunga anggrek di sebuah rumah kaca."Ayahmu menyukai bunga anggrek," balas Pak Anwar "Jadi Ayah yang menanam semua ini?" tanya Bima."Iya, dia bahkan mengimpor berbagai bunga anggrek dari berbagai negara," jawab Pak Anwar.Bima begitu senang melihat tanaman bunga Anggrek. Dia jadi teringat kalau Ibunya juga menyukai bunga anggrek yang berwarna ungu. "Kek, boleh Bima membawakan sat
Pak Anwar menatap wajah polos itu. Mulutnya sudah gatal ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya. Tapi dia meminta persetujuan Arjuna dulu. "Bima, Ayah akan menunjukkan sesuatu padamu," ucap Arjuna."Jawab dulu pertanyaanku tadi," ucap Bima. "Ayah tahu selama di desa aku selalu diejek tidak punya Ayah, anak haram, anak liar seperti yang dikatakan oleh nenek sihir tadi. Aku tidak menangis karena sudah biasa," imbuh Bima.Anak sekecil itu menceritakan sakit hatinya. Bagaimana dia dipandang setengah mata oleh orang-orang hanya karena terlahir tanpa Ayah. Walau di desa tempat ia tinggal sebagian besar adalah milik neneknya. Saat bermain di lapangan atau bersama teman-teman pasti dia mendengar orang dewasa menceritakan hal itu. Apalagi anak-anak mereka akan mengejek kalau tidak ada neneknya."Maafkan Ayah yang terlambat menemukanmu," ucap Arjuna lalu memeluk Bima. Hatinya teriris mendengar cerita Bima. "Terlambat?" tanya Bima. "Memangnya Ayah benar Ayah kandungku?" imbuh Bima dengan wajah
Arjuna agak geram mendengar ucapan itu. Pak Anwar juga sangat terkejut dengan pertanyaan istrinya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang tak patut seperti itu di depan anak kecil. "Rana!" bentak Pak Anwar. "Kakek, aku sudah biasa mendapatkan penghinaan seperti ini," ucap Bima. "Berarti memang kamu anak liar sungguhan yang dipungut Arjuna entah dari mana," balas Nyonya Rana tersenyum. Brak! Pak Anwar menggebrak mejanya lalu berkata, "Ternyata kamu tidak instrospeksi diri di dalam penjara yang pengap itu. Aku akan menambah hukuman untukmu," Wajah Nyonya Rana tampak pucat tapi baginya sebelum mengolok anak yang dibawa Arjuna pulang ke rumahnya adalah sebuah penyesalan. Walau dia harus dihukum oleh suaminya. Dia sangat lega jika sudah melontarkan kalimat menohok untuk Bima. "Aku tidak salah, memangnya anak itu siapa aku harus bersikap baik padanya. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa dia sudah biasa disepelekan," ucap Nyonya Rana. "Dia anakku, dan aku tidak akan tinggal diam j
Nadia mengangguk pelan, mau tidak mau menang dia harus menikah dengan Arjuna. Semua demi Bima, dia harus mengalah. "Aku serius, asalkan Bima bahagia. Maka akan aku tanggung kepedihan hidup demi anakku," balas Nadia"Kamu juga berhak bahagia sayangku, tidak demi siapapun. Bahagialah demi dirimu sendiri," sahut Bu Sonia.Nadia mengangguk pelan, dia juga ingin bahagia demi dirinya sendiri. Tapi sekarang ada anak yang harus dia bahagiakan."Aku mengerti, Bu. Kelak aku akan bahagia demi diriku sendiri," balas Nadia."Harus, sekarang istirahat dulu saja. Besok kita akan hadapi Rana bersama-sama. Jika dia berani menyakiti Bima," kata Bu Sonia bersemangat sambil mengepalkan tangannya."Ibu benar juga, jika benar wanita jahat itu menyakiti anakku. Aku akan membalasnya," ucap Nadia sambil tersenyum.Di hati Nadia masih tersimpan dendam. Pasalnya Nyonya Rana sangat jahat padanya dimasa lalu, rasa sakit itu tidak akan pernah pudar walau sudah enam tahun lamanya.