Beranda / Fantasi / REINKARNASI / PERSIAPAN KENCAN

Share

PERSIAPAN KENCAN

Penulis: Alya Snitzky
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

     Melihat anak gadisnya pulang jam tiga sore membuat Maharani berjengit. Terlebih saat melihat Gendis mengeluarkan hampir sepertiga isi lemarinya.

"Kau mau ke mana? Tumben sudah pulang?" tanya Maharani. Gendis menoleh dan tersenyum malu.

"Hmm ... mas Buana hendak berkunjung dan mengajakku jalan-jalan, Ma."

Maharani mengangkat kedua alisnya, "Dia? Buana? Polisi itu?" 

"KOMPOL Buana, Ma. Dia sudah berpangkat tinggi, meski usianya masih muda," jawab Gendis. 

"Mama jadi penasaran seperti apa sih, awas saja jika penampilannya ...."

"Penampilannya bagaimana, Ma?" tanya Gendis. 

      Maharani tidak menjawab lagi, ia hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan kamar Gendis. Sementara gadis itu kembali sibuk dengan pakaian yang nanti akan dikenakannya. Gendis tidak mau terlihat heboh, tapi ia ingin tetap terlihat elegan dan cantik. 

"Jangan gaun, Gendis. Aduh, kau ini kan hanya akan

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • REINKARNASI   KENCAN

    Gendis hampir tidak percaya ketika ia dan Buana berada satu mobil. Galih langsung memberi izin untuk membawa Gendis pergi ke luar."Kau cantik sekali malam ini, berbeda dengan biasa bekerja," komentar Buana. Biasanya ia melihat Gendis dengan make up lengkap yang membuatnya terlihat dewasa. Namun, malam ini ia seperti melihat sisi lain dari Gendis. Jujur, Buana lebih menyukai Gendis dengan penampilan yang seperti ini. Lebih terlihat natural."Memang, biasanya aku tidak cantik, Mas?" tanya Gendis. Buana tertawa kecil, "Cantik, hanya saja aku seperti melihat sisi lain dari dirimu dan aku suka melihatnya. Kau terihat lebih manis seperti remaja ABG yang baru lulus SMA." Ah, hati Gendis rasanya berbunga-bunga mendengar pujian Buana."Terima kasih, Mas.""Hmm ... kita ke mana malam ini?" tanya Buana."Bagaimana kalau kita makan sate kelinci saja dulu, mumpung kita masih berada di Lemb

  • REINKARNASI   INGATAN GENDIS

    Gendis menghela napas panjang sambil menatap Buana."Aku pernah bermimpi melihat seorang gadis meminum racun di malam pengantin. Mama bilang, itu bunga tidur. Tapi, entah mengapa aku tidak pernah bisa melupakan mimpi itu. Lalu, saat aku beranjak remaja, mimpi yang sama kembali datang. Terakhir kemarin malam, mimpi itu datang lagi, bahkan lebih panjang dari dua mimpi yang sebelumnya. Bahkan, dalam mimpi itu aku bukan hanya melihat. Tetapi akulah gadis yang meminum racun itu. Rasa pahit itu bahkan masih tertinggal, rasa sakit ketika jiwa lepas dari raga pun masih terasa." Buana diam, ia menunggu ucapan Gendis selanjutnya."Namaku adalah Dyah Suyadita, aku putri satu-satunya dari seorang pembesar di kerajaan Kahuripan. Ayahku bernama Kebo Rawang, beliau tidak pernah setuju hubunganku dengan kakang Supa Mandrageni karena ia hanyalah pemuda yatim piatu yang diangkat anak oleh seorang pengawal kerajaan.

  • REINKARNASI   SELALU HATI-HATI

    Menjelang pukul 11 malam, Buana sudah mengantarkan Gendis pulang. Ia tidak mau kedua orangtua Gendis jadi tidak respek karena mereka pulang terlalu malam. Galih dan Genta yang sedang duduk di teras langsung menyambut."Om kira sampai tengah malam," kekeh Galih."Tidak baik anak gadis pulang terlalu larut, Om. Gendis belum resmi menjadi istri saya. Jadi, saya tidak bisa seenaknya membawa Gendis tanpa mengenal waktu," jawab Buana dengan tegas. Diam-diam Galih merasa kagum dengan pembawaan pemuda di hadapannya ini. Jika memang harus memilih, Galih akan lebih setuju jika Gendis menikah dengan Buana."Kalau begitu, Om dengan senang hati menunggu kedatangan kedua orangtuamu, Nak Buana," kata Galih membuka jalan."Papa ...." Gendis hanya mencolek lengan sang ayah dengan wajah yang memerah menahan malu. Sementara Buana tersenyum, "Kedua orangtua kandung saya sudah lama meninggal. Tetap

  • REINKARNASI   TUGAS BONUSNYA JODOH

    Yongseng membelalakkan mata saat mendengarkan cerita Buana. Bukan hanya Yongseng, AKBP Bayu yang baru saja datang dari Jakarta pun terbelalak kaget."Gila! Kau serius Buana? Aku menugaskan dirimu untuk mendekati keluarga Galih, bukan menikahi putrinya," kata AKBP Bayu sambil menepuk dahinya. Sejak masa pendidikan dulu, Buana adalah salah satu bimbingan AKBP Bayu, tetapi karena prestasi Buana yang luar biasa ia dengan mudah berada di posisi sekarang. Bayu merasa sangat bangga akan hal itu, tetapi terkadang keputusan yang Buana ambil selalu mengejutkan. Termasuk kali ini, disuruh menyelidiki malah menikah sekalian."Kau yakin? Buana, aku bicara sebagai seorang kakak kepada adiknya. Pernikahan bukan hal main-main. Bagaimana bisa kau menikahi Gendis? Apa kau benar-benar mencintainya? Kalau hanya karena tugas, lebih baik jangan. Ini urusan masa depan, terlebih pekerjaan kita sebagai abdi negara. Mana bisa punya dua istri atau dengan

  • REINKARNASI   BERKAH

    Sudah hampir lima tahun Supa Mandrageni melakukan tapa brata. Ia hanya duduk bersila dan memusatkan diri kepada Hyang Widi sang maha pencipta. Sebenarnya kepergian Supa Mandrageni ke puncak gunung Ciremai semata ingin melarikan diri dari segala sakit hati dan kisah cintanya yang kandas. Ia tidak peduli jika memang dalam semedinya ia mati karena tidak makan dan tidak minum. Tetapi, sampai lima tahun ia tidak merasakan apa-apa. Bahkan ia merasa seperti sedang berjalan-jalan ke banyak tempat yang indah. Malam itu tepat saat cahaya bulan purnama bersinar penuh, hari jumat legi. Selarik sinar tiba-tiba menerangi gua tempat Supa Mandrageni bertapa."Anakku, Supa Mandrageni, bangunlah!" Tiba-tiba terdengar suara yang bergaung memenuhi gua itu. Suara itu terdengar sangat berwibawa, tetap lembut meski penuh ketegasan. Pertanda jika sang empunya suara adalah orang y

  • REINKARNASI   KEPINGAN MIMPI

    Buana tersentak kaget, kali ini ia merasa bingung. Mimpi yang datang kali ini berbeda dengan mimpi sebelumnya. "Mpu Badingga," gumamnya perlahan. Pemuda itu menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Tiba-tiba, ia terbelalak saat melihat ada kelopak bunga di atas bantalnya. Ia ingat dalam mimpi saat Mpu Supa mandi, ada kelopak mawar yang terjatuh. "Ini ...." Buana terdiam, ia berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Perlahan pemuda gagah itu bangkit dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Buana membuka jendela dan seperti biasa saat ia merasa gelisah hanya asap rokok yang menjadi temannya. Tok! Tok! Tok!Buana menoleh, belum sempat ia membuka pintu, Yongseng sudah masuk dengan wajah yang kuyu."Kau kenapa?" tanya Buana. Yongseng mengembuskan napas dengan kasar lalu membanting tubuhnya di atas kasur."Sejak aku menangani kasus aneh ini, rasan

  • REINKARNASI   MALAM KERAMAT

    Buana menatap kalender di tangannya tidak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa kecolongan?"Beberapa hari lagi akan ada jenazah yang ditemukan di Menado dengan kondisi sama.""Kau jangan asal bicara, Buana!" seru Yongseng antara kaget dan kesal.Buana menggelengkan kepalanya, "Aku tidak main-main, kita lihat saja nanti. Kau bisa buktikan perkataanku." Yongseng terdiam, ia tau betul Buana tidak pernah main-main. Mau tak mau Yongseng kembali menatap Buana dengan serius."Bagaimana kau bisa tau?" tanya Yongseng."Genta ... tiga hari yang lalu, Gendis mengatakan bahwa adiknya itu baru saja berangkat ke Menado. Jika memang dugaanku benar, Genta akan menjadi orang yang berada di tempat dan waktu yang kurang tepat seperti biasa. Kalaupun tidak, pasti akan terjadi sesuatu. Yang pasti, dia akan lebih berhati- hati kali ini," tutur Buana. Yongseng menggaruk

  • REINKARNASI   BEBAS DARI TUDUHAN

    Buana hanya tersenyum kecil saat ia menonton berita di televisi.SEORANG GADIS DITEMUKAN DALAM KONDISI TIDAK BERNYAWA DI DANAU TONDANOHampir semua surat kabar memuat juduk yang hampir sama. Yongseng dan Takeda hanya menggelengkan kepala melihat seulas senyum di bibir Buana."Kau tertawa seolah kau .adalah pembunuhnya," kata Yongseng."Kau baca ini, pelaku ditemukan tetapi ia mengaku tidak sadar ketika melakukan kejahatan dan sedang diperiksa kejiwaannya. Genta baru pulang kemarin dari Menado, kalian bisa menyimpulkan sesuatu?" tanya Buana pada Yongseng dan Takeda."Ah, ini sih gampang saja, dia sudah memakai metode lain. Hanya orang bodoh yang tidak belajar dari kesalahannya. Dia tidak mungkin memakai raganya sendiri, aku yakin ini adalah pekerjaan iblis. Yang namanya iblis dia bisa berbuat apa saja. Titisan iblis, aku yakin Genta adalah titisan iblis," kata Takeda dengan yakin. &n

Bab terbaru

  • REINKARNASI   PEMAKAMAN

    Pagi harinya, ramai orang sudah berkumpul di sebuah pemakaman.Orang-orang berbondong mengenakan pakaian serba berwarna hitam, seperti barisan semut yang mengular panjang untuk mengantarkan sang jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir.Isak tangis terdengar di mana-mana, bebarengan dengan kidung doa yang dilantunkan merdu sepanjang perjalanan menuju ke makam. Inilah waktunya untuk orang baik hati itu pergi meninggalkan dunia fana ini, guna menuju alam yang lebih tinggi dan abadi.Gendis tak kuasa menahan tangisnya sebab kabar ini terlalu mendadak. Semalam dia diberitahu pihak berwajib bahwa suaminya meninggal dunia di atap sebuah apartemen mewah.Benar! Kini Buana telah benar-benar wafat, tepatnya ketika pertarungan puncak berakhir dan jiwa Mpu Supa pergi meninggalkan tubuh tersebut, tampaknya luka-luka yang diderita oleh Buana tidaklah sepele.Tercatat bahwa dadanya berlubang cukup besar, kepalanya pun terus meneteskan darah sebab terbentur

  • REINKARNASI   PERTARUNGAN PUNCAK

    Tak ingin berbicara lebih lama lagi, sebab waktu yang dipunyai terbatas, maka Mpu Supa segera menyerang balik Sang Iblis menggunakan ajian putihnya.Dia terbang melesat mendekati Sang Iblis dengan kecepatan cahaya, dan ketika berada di depannya Mpu Supa langsung memegangi kepala Sang Iblis. Dia membenturkan wajahnya sendiri ke arah wajah Sang Iblis!Duakkk!!! Suara benturan tersebut terdengar sangat keras membelah hening malam.Sang Iblis terpental jauh ke belakang menerima benturan tersebut. Kakinya masih melayang di udara. Namun belum sampai kesadarannya pulih, Mpu Supa sudah melesat lagi menuju ke arahnya dan kali ini hantaman bertubi-tubilah yang dia terima.‘Bugh’‘Bugh’‘Bagh!!!’Dengan jurus seribu cahaya Mpu Supa menghajar Sang Iblis tanpa ampun! Dia menghantam kepala, badan, tangan, kaki, serta titik-titik persendian tertentu yang memang sudah diicarnya sebagai kelemahan dari Sang Iblis.

  • REINKARNASI   NOSTALGIA

    Di atap gedung, Sang Iblis terus mencekik seraya menyedot darah dari leher Giselle. Perempuan malang itu benar-benar sudah tidak bisa bangun lagi akibat Sang Iblis mengekang jiwanya.Bahkan muka Giselle kini sudah pucat pasi sebab kehilangan darah yang banyak. Setiap darah yang mengalir dari tubuh Giselle segera berpindah kepada Sang Iblis, dan darah tersebut mengandung kekuatan tertentu untuk Iblis. Makin banyak darah yang diambil maka makin banyak kekuatan yang didapat, serta Iblis berencana untuk menyedot semua darah perempuan tersebut.Namun di luar dugaan, saat sedang melakoni ritual tersebut tiba-tiba dua orang datang dengan cara terbang dan mengangumkan. Tentu itu membuat Sang Iblis terheran-heran, pasalnnya sekarang dia menyangka hanya dirinyalah yang mampu terbang seperti itu.“Hentikan perbuatanmu!” teriak Mpu Supa begitu melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sang Iblis!“Jauhi perempuan itu sekarang juga!” Raden Kamandr

  • REINKARNASI   KEBANGKITAN

    Sementara itu di saat bersamaan, di dalam apartemen, Buana dan Segara masih terkapar tidak bergerak. Denyut nadinya sudah menghilang, dan jantungnya pun berhenti bergerak.Secara medis memang keduanya sudah dinyatakan meninggalkan, sebab lambat-laun organ tubuh dan sel-sel di dalam badan perlahan berhenti bekerja. Namun, sebenarnya mereka itu belum mati, hanya saja ruh-nya berpindah ke alam yang lebih tinggi.“Bangunlah kalian!” ucap seorang tua berpakaian serba putih kepada ruh Buana dan Segara. Rambut orang tua tersebut juga menjulur panjang dan putih, sambil tersenyum dia pun kembali berkata, “Buana, Segara, bangunlah!”Mendapat panggilan tersebut ruh Buana dan Segara pun seketika bangun. Keduanya tercengang saat mendapati alam sekeliling yang berbeda dengan alam dunia, sebab di sini semuanya serba berwarna putih. “Apakah aku sudah mati?” ucap Buana dan Segera secara bersamaan.“Belum, sebab lebih tepatnya di s

  • REINKARNASI   TERBUNUHNYA BUANA DAN SEGARA

    Mendapati kakaknya sedang ditikam spontan saja Segara membantunya. Dia langsung memuul wajah Sang Iblis tepat di ppinya. Namun sayangnya Iblis tak bergeming dengan pukulan lema tersebut. Malahan dengan kejam dia berkata, “Lihatlah sekarang Kakakmu ini akan kubunuh di depan matamu! Hahahaa...”“Sial, lepaskan dia!” teriak Segara yang masih berusaha terus memukul. Namun Sang Iblis terlalu tangguh untuk menerima pukulan lemah tersebut. “Hentikan! Aku bilang hentikan!”Sang Iblis tak peduli! Dia terus menancapkan kukunya semakin dalam dan bahkan kini mengenai bagian jantung Buana, lalu merobeknya membuat seisi perut porak-poranda!Buana sudah lemas tidak bisa melawan lagi, wajahnya yang penuh dengan darah hanya menatap ke langit-langit, mengerjab satu kali, kemudian mati!“Hahahaa!! Lihatlah makhluk lemah ini. Hanya dengan begini saja dia sudah mati. Cih, siapa suruh mau melawanku!” ucap Sang Iblis dengan tawany

  • REINKARNASI   PERTARUNGAN

    Genta terpental mendapat tiga tembakan tersebut. Tubuhnya ambruk menghantam meja kaca hingga pecah.Meski dengan tiga buah peluru yang bersarang di dada, namun Genta tidak mati. Dia hanya limbung sebentar kemudian bangkit lagi dan tertawa renyah.“Kamu pikir bisa membunuhku dengan pistol seperti itu?” ucapnya yang kini sudah terdengar bahwa itu bukanla suara Genta lagi. Suara itu terdengar berat dan serak, serta menggunakan logat seperti orang zaman kuno. Jelas sekali bahwa itu adalah suara Sang Iblis.Mendengar suara aneh tersebut Buana bersiap-siap untuk menembak kembali. Namun sayangnya Sang Iblis sudah terlebih dahulu bergerak cepat sekali, secepat cahaya, yang tiba-tiba dirinya sudah berada di samping persis Buana. “Enyahlah kamu! Dasar manusia makhluk lemah dan penganggu!”Brakkk!!! Dipukul-lah kepala Buana dengan telak hingga sampai tengkoraknya berbunyi.Buana terlempar cukup jauh hingga sampai menabrak dinding. Lalu

  • REINKARNASI   PENGAKUAN

    Mimik wajah genta berubah menjadi ketakutan saat tahu Buana tidak main-main. Wajar, siapa yang tidak takut dengan peristiwa seperti ini, ditodong pistol tepat di hadapan keningnya? Jelas saja semua orang akan takut. Namun sebenarnya yang dilakukan Buana hanyalah sedang ingin memancing Sang Iblis agar keluar dari tubuh Genta. Sebab sampai saat ini belum ada tanda-tanda kemuculan makhluk laknat tersebut.“Akan kuhitung satu sampai tiga, jika kamu masih mengelak atas perbuatanmu, maka jangan salahkan aku jika kutarik pelatuk ini!” ucap Buana semakin menekan moncong pistol ke kening iparnya.“Satu...”Tubuh Genta mulai gemetar. Terlihat jelas dia ketakutan dan tidak ingin mati. Sepertinya jiwanya sekarang sedang ingin melawan Sang Iblis yang mengekang dalam dirinya.“Dua...” Buana terus menghitung mundur tanpa ampun. Jarinya telah bersiap untuk menarik pelatuk!“Tiga!!!”“Oke, oke, stop! Aku

  • REINKARNASI   APARTEMEN NO 904

    Tidak heran jika ini disebut apartemen elite karena berada di tengah kawasan tempat tinggal para orang konglomerat. Bagi Genta tentu saja uang bukanlah masalah sebab dia merupakan putra seorang yang sangat berada, sehingga bahkan uang sakunya sangat cukup jika harus membeli apartemen di sini.Bangunan ini terdiri dari 15 lantai, sedangkan lantai paling atas digunakan untuk tempat pendaratan helikopter. Sebab tidak jarang para penghuni apartemen di sini kerap menyewa helikopter untuk kepentingan sehari-hari atau sekadar untuk cari sensasi. Begitulah.Setelah menganalisis dengan saksama lingkungan sekitar apartemen, Buana dan Segara langsung naik menuju lantai sembilan. Kepada security di depan Buana menunjukkan lencananya sebagai perwira polisi dan berkata dia ingin melakukan investigasi dengan salah satu penghuni di sini.Tentu saja si security langsung memberikan izin tanpa banyak bertanya. Malahan dia menawarkan jasa informasi mengenai apartemen jika memang di

  • REINKARNASI   REINKARNASI

    Memang begitulah yang terjadi. Setelah bertemu dengan Mpu Badingga, seolah kehidupan Buana dan Segara selalu diikuti oleh sosok ruh yang tidak kasat mata.Semua ini terlau sulit untuk dijelaskan oleh keduanya, tetapi mereka benar-benar merasakan kehadirannya, sosok Mpu Supa dan Raden Kamandraka.Seperti halnya ketika Buana sedang tidur, dia akan didatangi oleh sosok laki-laki tua berambut serba putih yang menjulur panjang. Memang di dalam mimpi tersebut sosok Kakek tua tidak terlihat begitu jelas, namun yang pasti Buana bisa memastikan melalui instingnya bahwa itu adalah sosok Mpu Supa.Saat mendatangi Buana di alam mimpi Mpu Supa tidak bericara banyak hal. Beliau hanya suka duduk di samping Buana, dan saat itu adalah malam hari dengan taburan bintang-bintang.Buana pun tidak mencoba untuk bertanya hal apa pun dengan sosok Mpu Supa di dalam mimpinya, melainkan Buana hanya membiarkan beliau tersenyum memandangi wajahnya, sambil sesekali mengusap-usap kepal

DMCA.com Protection Status