Pada saat jam istirahat, Rara yang sedang berbicara dengan Adi tiba-tiba dihampiri oleh Fajar yang nampak tergesa-gesa untuk menemui Rara dan Adi yang masih asyik ngobrol.
Hari ini Fajar berniat memberikan suatu informasi yang sangat berharga. Dan sebagaimana dugaan Fajar, informasi tersebut ternyata membuat Rara dan Adi terkejut bukan main seputar peristiwa pembunuhan anak kecil yang bernama Didit yang sangat misterius.
“Tadi pagi sebelum aku berangkat ke Sekolah, aku bertanya apakah ada peristiwa pembunuhan pada beberapa tahun silam dibelakang Sekolah kita dan Ayahku mengangguk karena teringat sewaktu masih duduk dibangku SMP dan menjawab bahwa memang pernah ada pembunuhan terhadap seorang bocah cilik oleh seorang Penjaga gedung yang berada dibelakang Sekolah,” ungkap Fajar menceritakan fakta unik seputar Didit yang kemudian menjadikan Rara dan Adi berpikir tentang banyak hal.“Jadi sosok Didit memang benar-benar pernah ada,” bisik Adi pelan sambil menatap ke arah wajah Rara yang tengah mencerna cerita Fajar barusan. Mustahil Ayah Fajar berbohong, dia adalah orang yang tinggal di wilayah tidak jauh dari Sekolahan mereka sejak sang Ayah masih kecil hingga hari ini. Kesimpulan dari cerita Ayah Fajar adalah penglihatan Rara tentang sosok Didit yang misterius beserta dengan peristiwa pembunuhannya yang sangat mencekam dan menghantui pikiran Rara dengan rasa sedih karena telah melihat peristiwa pilu tersebut.Penglihatan Rara memang benar karena sesuai dengan kenyataan namun dari mana dia mendapatkan kekuatan super-nya? Bakat supranatural yang sangat mengagumkan sekaligus sangat mengerikan! Dibayangkan, bagaimana kekuatan misterius itu dapat melihat hal-hal yang sangat tabu dan menakutkan. Pikir Adi dari dalam hatinya sedikit bergidik ngeri membayangkan jika justru dirinyalah yang diberikan kekuatan serupa seperti Rara.Lalu Rara berkata, “jika memang apa yang aku lihat merupakan suatu peristiwa pembunuhan dimasa lalu berarti apa yang aku lihat adalah hantu, Didit adalah hantu!” menjadi bergidik ngeri juga saat mendengar perkataan Rara karena hantu merupakan sejenis mahluk kasat mata yang sulit dilihat oleh banyak orang.“Bukan hantu. Aku tidak percaya hantu sama sekali untuk,” sanggah Adi yang menolak adanya hantu tapi tetap saja bulu kuduknya berdiri membayangkan sesuatu objek kasat mata yang samar dalam pandangan mata.“Apa yang kamu lihat dalam pandanganmu adalah berkas memori dari alam semesta yang merekam suatu peristiwa dan entah bagaimana caranya hanya kamu saja yang berhasil mengaksesnya,” kata Adi mencoba mencari penjelasan yang menjadi alternatif dari fenomena misterius yang dialami oleh Rara.Tapi sebenarnya Rara tidak terlalu membutuhkan suatu penjelasan atas apa yang ia lihat, bagi Rara cukup suatu solusi besar yang dapat membantu dirinya bisa tenang dari 'kejaran' peristiwa pedih yang dialami oleh Didit.“Lalu sekarang aku harus bagaimana?” tanya Rara masih bingung dan penasaran untuk dapat menyelesaikan peristiwa misterius ini.Pertanyaan Rara turut membuat Adi bingung karena dia juga bukanlah seseorang yang serba tahu akan segala hal terutama masalah alam gaib yang segala sesuatunya masih samar dan misterius.“Kupikir kamu butuh bantuan seorang ahli yang paham akan masalah gaib,” gumam Adi memberikan idenya namun ia sendiri masih bertanya-tanya siapakah orang yang sanggup membantu Rara untuk terlepas dari berbagai macam penglihatan-penglihatan misteriusnya ini. Orang semacam ini tentunya sangat sulit dicari.Fajar kemudian menyeletuk, “sebenarnya ada satu orang hebat yang dapat menolong Rara,” “Siapakah orangnya yang bisa membantu masalah Rara? Tanya Adi dengan cepat karena rasa penasarannya sudah memenuhi otaknya. Begitu pula dengan Rara yang tidak kalah penasarannya seperti Adi.“Dialah Doni,” canda Fajar yang tidak berselang lama kemudian Adi dan Rara tertawa terbahak-bahak karena menyadari jika Fajar sedang bercanda.“Jangankan memberikan solusi seputar alam gaib, berada di tempat yang gelap saja sudah ketakutan setengah mati,” komen Adi sambil terus saja tertawa mengomentari perilaku Doni, Rara juga tetap saja menertawakan lawakan Fajar.Lantas mengapa hanya Rara yang dapat melihat Didit beserta peristiwa pembunuhan terhadap bocah cilik itu? Keanehan harus terjawab dan pastilah ada penyebabnya. Hari ini Rara dan Adi belum mengetahui penyebab kenapa Rara memperoleh kemampuan supranatural yang sangat unik namun pada akhirnya kelak mereka akan menyadarinya apabila operasi organ tubuh pada diri Rara yang menjadi penyebab munculnya kekuatan supranatural yang sekarang mulai bermunculan pada diri Rara.Rara teringat lagi dengan peristiwa pembunuhan terhadap Didit, ada sesuatu hal yang mengganjal pikirannya sehingga ia pun menanyakan kegundahannya itu kepada Fajar, “lalu bagaimana dengan orang yang membunuh Didit, apakah ia berhasil ditangkap oleh pihak berwajib atau justru melarikan diri?” Betul juga dengan pertanyaan Rara. Mungkinkah si pembunuh belum tertangkap dan menjadi buronan berdarah dingin yang masih berkeliaran diluar sana atau justru sebaliknya sudah ditangkap dan sedang menjalani proses hukuman atas kesalahannya? “Menurut cerita Ayahku, pembunuh bocah cilik itu sudah ditangkap dan saat ini masih menjalani hukuman didalam penjara,” kata Fajar masih bisa mengingat sangat jelas cerita Ayahnya itu jika sudah ditangkap dan sedang berusaha menebus kesalahan fatalnya itu.“Berarti pelaku sudah tertangkap dan seharusnya peristiwa itu tidak mengganggumu, iya kan?” kata Adi memberikan perenungan kepada Rara maupun Fajar.Rara mengangguk setuju, “seharusnya sih seperti perkataanmu itu tapi kenapa peristiwa itu justru tiba-tiba muncul berulang dalam penglihatanku?”Fajar ikut menimpali, “pasti ada suatu penjelasannya,”“Aku juga meyakini hal yang sama lantas apa penjelasannya?” Rara maupun Adi masih bingung dan belum menemukan jawaban dari misteri ini.Fajar mencoba menarik kesimpulan, “apabila kasus kejahatan sudah selesai karena penjahatnya sudah tertangkap dan dalam proses hukuman maka seharusnya peristiwa misterius ini tidak perlu menghantuimu, kecuali,” “Kecuali apa?” tanya Rara penasaran karena Fajar tidak melanjutkan perkataannya itu. Adi juga turut menyimak dan menunggu lanjutan ucapan dari analisa Fajar.Lalu Fajar melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terhenti, “kecuali kasus tersebut belum selesai sehingga meminta seseorang yang memiliki kekuatan supranatural untuk membantunya agar bisa terselesaikan dengan baik,” Ucapan Fajar memang ada benarnya juga, pastilah sesuatu hal yang belum terselesaikan dimasa lalu sehingga seakan meminta bantuan kepada Rara sebagai perantara agar dapat menyelesaikan perkara yang belum terselesaikan dimasa lalu. Adi mengangguk setuju dengan analisa Fajar, “apa yang dikatakan oleh Fajar memang benar, aku setuju dengannya, pastilah ada rahasia besar yang belum terselesaikan dimasa lalu sehingga Didit seakan meminta pertolongannya kepadamu,” ucap Adi sambil menatap ke arah Rara yang sedang mencerna analisa Fajar barusan.“Tapi apa masalah yang belum terselesaikan dimasa lalu sehingga aku harus terlibat didalamnya?” tanya Rara penasaran sekaligus bingung karena belum menemukan jawaban yang sesungguhnya dari misteri yang cukup pelik ini.“Kita pasti akan segera mengetahui jawabannya,,” kata Adi sangat yakin apabila permasalahan ini pastilah ada pemecahannya.Rara kemudian berpikir akan banyak hal untuk mencari penyebab kemunculan Didit dalam penglihatannya, dia belum mengetahui penyebab utamanya tapi Rara harus segera mengetahuinya karena Rara tidak ingin tersiksa oleh penampakan Didit yang terus-menerus muncul dalam penglihatannya. Beruntunglah, Rara tidak sendirian, masih ada Adi maupun teman-teman lainnya yang akan membantunya untuk menyelesaikan masalah misteri kematian Didit dan pesan yang hendak disampaikan kepadanya.Rara meringis sedikit kesakitan setelah operasi transplantasi ginjal, tak apa sakit sekarang karena setelahnya Rara tidak akan merasakan lagi sakit yang berkepanjangan akibat ginjalnya yang gagal berfungsi. Beruntung seorang donor tak dikenal mendonorkan ginjal untuknya. Rara bersyukur hidupnya terselamatkan.Sambil beristirahat pasca operasi di atas tempat tidur kamar Rumah Sakit. Rara mengambil gawai miliknya yang terletak di atas meja. Barusan Ibu dan kakaknya pamit sebentar saja untuk pergi ke kantin yang berada di Rumah Sakit untuk makan siang sehingga Rara ditinggal seorang diri. Tak masalah bagi Rara karena gawai miliknya akan menemaninya untuk beberapa saat.Rara membaca perkembangan berita di sekolahnya via akun-akun media sosialnya. Tak ada yang spesial kecuali ucapan doa untuknya dan persiapan ujian sekolah dua Minggu lagi. Lalu Rara beralih mencari berita-berita terkini seputar selebriti, hobi maupun berita nasional dan internasional sekedar untuk membunuh wa
Sore tadi memang menyenangkan, bermain bola voli dengan penuh kegembiraan. Tapi bukan canda dan tawa Rara dan teman-temannya yang masih terngiang di telinga Rara hingga selepas pukul delapan malam, justru anak kecil bernama Didit yang menjadi pusat perhatiannya.Tugas PR untuk esok tidak terlalu banyak malam ini sehingga sudah selesai sejak lima belas menit yang lalu. Pikiran Rara terus memikirkan Didit. Siapa sebenarnya anak kecil itu? Mengapa dia ada di gedung kosong seorang diri?Mencoba melupakan berbagai macam pertanyaan soal Didit tidak lantas membuat Rara tenang, justru sebaliknya, rasa penasaran yang tinggi tentang Didit memaksa Rara memunculkan ide yang terbilang cukup aneh yaitu ingin pergi kembali ke sekolah atau tepatnya ke gedung kosong yang berada di belakang halaman sekolah. Tujuannya tentu saja mengecek keberadaan Didit.Sungguh aneh jika ada anak kecil sendirian di tempat sesepi itu, mungkinkah Didit adalah hantu sebagaimana tuduhan Shinta maupun No
Hari ini Rara terbangun di dalam kamarnya, sudah siuman dari pingsannya dan kondisi tubuhnya jauh lebih bugar dari hari kemarin.Benak Rara teringat pada peristiwa semalam saat Rara jatuh pingsan, entah bagaimana caranya teman-temannya berhasil membawanya kembali ke rumah. Rara benar-benar tidak ingat sama sekali.Tak lama kemudian Ibu Rara datang membawa secangkir teh hangat untuk Rara setelah tadi Rara sudah menghabiskan semangkuk bubur ayam hangat.“Terima kasih Bu, aku sudah bisa mengambil minumanku sendiri kok,” kata Rara tidak mau merepotkan Ibunya lagi karena sewaktu operasi di Rumah Sakit tempo hari yang lalu Ibunya sangat sibuk mengurus dirinya sehingga Ibunya meminta izin dari kantor tempatnya bekerja untuk beberapa hari dan hari ini pun Ibunya melakukan hal yang sama untuk Rara.Ibu Rara adalah seorang single parents. Ayah Rara telah wafat tiga tahun yang lalu sewaktu Rara masih SMP. Kakak pertamanya sudah bekerja dan kakak ke
Didit memang misterius. Keberadaan anak kecil itu sangat membekas di ingatan Rara sehingga saat mata pelajaran berlangsung sekali pun pikiran Rara tertuju pada Didit. Begitu jam istirahat tiba Rara bergegas ke belakang sekolah untuk sekedar memastikan apakah di belakang pagar sekolah masih ada Didit yang mungkin saja masih ada di bangunan gedung kosong belakang sekolah seperti halnya kemarin sore.Rara harus memberanikan diri melewati beberapa anak-anak cowok yang bersembunyi di halaman belakang sekolah, beruntung mereka hanya sekedar menggoda Rara saja, Rara melirikan sudut matanya melihat teman-teman cowok dari kelas yang lain sedang asyik merokok. Rara tidak peduli dengan kegiatan mereka karena Rara ingin melihat Didit tapi ternyata Didit tidak ada.Lalu sepulang jam sekolah Rara masih menyempatkan diri melihat ke halaman belakang sekolahnya yang sekarang kosong tidak ada lagi anak-anak cowok yang sedang merokok, melalui balik pagar sekolah yang bolong, tatapan mata R
Rara melirik ke ponselnya, hari ini pukul 20.50 menit, sebentar lagi tugas pekerjaan rumahnya akan selesai, hanya tinggal tiga pertanyaan lagi. Nanti setelah itu dia segera bersiap untuk tidur malam, matanya pun sudah mulai mengantuk.Dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar, Rara melihat adegan pembunuhan Didit lagi. Pembunuhan itu terlihat sangat nyata di depan matanya.Kursi menghantam tubuh kecil Didit yang kemudian terhuyung kesakitan, rasa sakit yang dirasakan oleh Didit turut dirasakan oleh Rara.“Aargh!” Didit berteriak histeris.Rara ikut merasakan kesakitan, ia meringis sembari menahan air matanya. Sakit dan pedih rasanya, anak sekecil itu diperlakukan sebrutal itu. “Serahkan kalung itu!” kata si pembunuh sebelum akhirnya membunuh Didit. Tubuh Rara semakin lemas bukan karena menyaksikan adegan pembunuhan itu saja karena melihat adegan pembunuhan Didit pernah ia lihat sebelumnya tapi yang membuat sebagian besar energi tubuhnya menjadi hilang dan loyo disebabkan oleh ketid
Pada saat jam istirahat, Rara yang sedang berbicara dengan Adi tiba-tiba dihampiri oleh Fajar yang nampak tergesa-gesa untuk menemui Rara dan Adi yang masih asyik ngobrol.Hari ini Fajar berniat memberikan suatu informasi yang sangat berharga. Dan sebagaimana dugaan Fajar, informasi tersebut ternyata membuat Rara dan Adi terkejut bukan main seputar peristiwa pembunuhan anak kecil yang bernama Didit yang sangat misterius. “Tadi pagi sebelum aku berangkat ke Sekolah, aku bertanya apakah ada peristiwa pembunuhan pada beberapa tahun silam dibelakang Sekolah kita dan Ayahku mengangguk karena teringat sewaktu masih duduk dibangku SMP dan menjawab bahwa memang pernah ada pembunuhan terhadap seorang bocah cilik oleh seorang Penjaga gedung yang berada dibelakang Sekolah,” ungkap Fajar menceritakan fakta unik seputar Didit yang kemudian menjadikan Rara dan Adi berpikir tentang banyak hal.“Jadi sosok Didit memang benar-benar pernah ada,” bisik Adi pelan sambil menatap ke arah wajah Rara yang t
Rara melirik ke ponselnya, hari ini pukul 20.50 menit, sebentar lagi tugas pekerjaan rumahnya akan selesai, hanya tinggal tiga pertanyaan lagi. Nanti setelah itu dia segera bersiap untuk tidur malam, matanya pun sudah mulai mengantuk.Dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar, Rara melihat adegan pembunuhan Didit lagi. Pembunuhan itu terlihat sangat nyata di depan matanya.Kursi menghantam tubuh kecil Didit yang kemudian terhuyung kesakitan, rasa sakit yang dirasakan oleh Didit turut dirasakan oleh Rara.“Aargh!” Didit berteriak histeris.Rara ikut merasakan kesakitan, ia meringis sembari menahan air matanya. Sakit dan pedih rasanya, anak sekecil itu diperlakukan sebrutal itu. “Serahkan kalung itu!” kata si pembunuh sebelum akhirnya membunuh Didit. Tubuh Rara semakin lemas bukan karena menyaksikan adegan pembunuhan itu saja karena melihat adegan pembunuhan Didit pernah ia lihat sebelumnya tapi yang membuat sebagian besar energi tubuhnya menjadi hilang dan loyo disebabkan oleh ketid
Didit memang misterius. Keberadaan anak kecil itu sangat membekas di ingatan Rara sehingga saat mata pelajaran berlangsung sekali pun pikiran Rara tertuju pada Didit. Begitu jam istirahat tiba Rara bergegas ke belakang sekolah untuk sekedar memastikan apakah di belakang pagar sekolah masih ada Didit yang mungkin saja masih ada di bangunan gedung kosong belakang sekolah seperti halnya kemarin sore.Rara harus memberanikan diri melewati beberapa anak-anak cowok yang bersembunyi di halaman belakang sekolah, beruntung mereka hanya sekedar menggoda Rara saja, Rara melirikan sudut matanya melihat teman-teman cowok dari kelas yang lain sedang asyik merokok. Rara tidak peduli dengan kegiatan mereka karena Rara ingin melihat Didit tapi ternyata Didit tidak ada.Lalu sepulang jam sekolah Rara masih menyempatkan diri melihat ke halaman belakang sekolahnya yang sekarang kosong tidak ada lagi anak-anak cowok yang sedang merokok, melalui balik pagar sekolah yang bolong, tatapan mata R
Hari ini Rara terbangun di dalam kamarnya, sudah siuman dari pingsannya dan kondisi tubuhnya jauh lebih bugar dari hari kemarin.Benak Rara teringat pada peristiwa semalam saat Rara jatuh pingsan, entah bagaimana caranya teman-temannya berhasil membawanya kembali ke rumah. Rara benar-benar tidak ingat sama sekali.Tak lama kemudian Ibu Rara datang membawa secangkir teh hangat untuk Rara setelah tadi Rara sudah menghabiskan semangkuk bubur ayam hangat.“Terima kasih Bu, aku sudah bisa mengambil minumanku sendiri kok,” kata Rara tidak mau merepotkan Ibunya lagi karena sewaktu operasi di Rumah Sakit tempo hari yang lalu Ibunya sangat sibuk mengurus dirinya sehingga Ibunya meminta izin dari kantor tempatnya bekerja untuk beberapa hari dan hari ini pun Ibunya melakukan hal yang sama untuk Rara.Ibu Rara adalah seorang single parents. Ayah Rara telah wafat tiga tahun yang lalu sewaktu Rara masih SMP. Kakak pertamanya sudah bekerja dan kakak ke
Sore tadi memang menyenangkan, bermain bola voli dengan penuh kegembiraan. Tapi bukan canda dan tawa Rara dan teman-temannya yang masih terngiang di telinga Rara hingga selepas pukul delapan malam, justru anak kecil bernama Didit yang menjadi pusat perhatiannya.Tugas PR untuk esok tidak terlalu banyak malam ini sehingga sudah selesai sejak lima belas menit yang lalu. Pikiran Rara terus memikirkan Didit. Siapa sebenarnya anak kecil itu? Mengapa dia ada di gedung kosong seorang diri?Mencoba melupakan berbagai macam pertanyaan soal Didit tidak lantas membuat Rara tenang, justru sebaliknya, rasa penasaran yang tinggi tentang Didit memaksa Rara memunculkan ide yang terbilang cukup aneh yaitu ingin pergi kembali ke sekolah atau tepatnya ke gedung kosong yang berada di belakang halaman sekolah. Tujuannya tentu saja mengecek keberadaan Didit.Sungguh aneh jika ada anak kecil sendirian di tempat sesepi itu, mungkinkah Didit adalah hantu sebagaimana tuduhan Shinta maupun No
Rara meringis sedikit kesakitan setelah operasi transplantasi ginjal, tak apa sakit sekarang karena setelahnya Rara tidak akan merasakan lagi sakit yang berkepanjangan akibat ginjalnya yang gagal berfungsi. Beruntung seorang donor tak dikenal mendonorkan ginjal untuknya. Rara bersyukur hidupnya terselamatkan.Sambil beristirahat pasca operasi di atas tempat tidur kamar Rumah Sakit. Rara mengambil gawai miliknya yang terletak di atas meja. Barusan Ibu dan kakaknya pamit sebentar saja untuk pergi ke kantin yang berada di Rumah Sakit untuk makan siang sehingga Rara ditinggal seorang diri. Tak masalah bagi Rara karena gawai miliknya akan menemaninya untuk beberapa saat.Rara membaca perkembangan berita di sekolahnya via akun-akun media sosialnya. Tak ada yang spesial kecuali ucapan doa untuknya dan persiapan ujian sekolah dua Minggu lagi. Lalu Rara beralih mencari berita-berita terkini seputar selebriti, hobi maupun berita nasional dan internasional sekedar untuk membunuh wa