Share

Bab 22. Hancur!

Penulis: weni3
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-19 21:53:36

Gama perlahan membuka mata membuat rona di wajah Zoya semakin memerah. Debaran jantungnya pun semakin kencang hingga Zoya mengeratkan cengkeraman tangannya pada jas Gama.

Tatapan mata pria itu begitu teduh dan hembusan nafas Gama menghangat menerpa wajahnya yang semakin terasa panas. Zoya dibuat mati gaya.

Pesona Gama yang sangat diagungkan oleh banyak wanita membuatnya hampir hilang akal. Setelah bercerai dan membenci Zein, dia baru sadar jika Gama memiliki pesona yang kuat.

Pantas saja duda ini sangat diidamkan oleh para wanita. Begitu kuat pesonanya hingga tidak diragukan lagi.

"Hati-hati! Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Gama lirih tetapi terdengar beda di telinga Zoya. Akh mungkin dia saja yang terlalu berlebihan.

Zoya pun segera melepaskan diri dari Gama dan perlahan mengatur jarak. Dia berjongkok mengambil berkas yang terjatuh di lantai dan kembali berdiri di samping pria itu.

Keduanya pun menuju restaurant yang akan dijadikan tempat meeting dengan klien p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Parah si Amanda nih
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Amanda benar2 gila ya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 23. Sahabat Gila

    Sebelum Amanda menjadi istri Gama, Amanda adalah teman Zoya satu divisi. Mereka dekat dan lumayan akrab. Bisa dikata bersahabat. Keduanya termasuk karyawati yang menonjol dari segi penampilan dan juga inner beauty yang mereka miliki. Keduanya juga menjadi incaran kaum Adam sampai di mana Gama memilih Amanda untuk dijadikan istri. Zoya pun mendukung hubungan Amanda dengan Gama hingga menikah sampai dimana Zoya yang kala itu masih dekat dengan Amanda berkenalan dengan Zein. Namun setelah Amanda tak lagi diperbolehkan bekerja oleh Gama karena pernah keguguran membuat hubungan mereka tak lagi sama. Amanda menjauh setelah menjadi nyonya besar dan tak lagi menyapa setiap kali bertemu. Sampai di mana Zoya memiliki hubungan dengan Zein. Naasnya, pernikahan Amanda dan Gama tak berlangsung lama. Hanya dua tahun dan itu pun saat Zein melamar, Amanda dan Gama justru mengurus perceraian. Jika ditanya masalah apa yang mereka hadapi tentu Zoya tidak tau menau akan itu. Zoya masuk ke

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-21
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 24. Tersesat Fantasi Liar

    "Kamu gila, Amanda! Apa yang kamu lakukan pada Zoya, hah? Nggak waras kamu! Yang boleh menyakiti Zoya itu hanya aku bukan siapapun! Bukan kamu atau yang lainnya!" sentak Zein setelah tau apa yang Amanda lakukan di luar pantauannya. Zein sendiri baru pulang dari luar kota karena pekerjaannya yang mengharuskan pergi, maka dari itu dia kecolongan atas apa yang Amanda lakukan. Bagi Zein, Amanda sudah sangat keterlaluan. Bukan dia yang mengajari tetapi wanita itu sendiri yang berniat mencelakai. Andai Amanda mengatakan rencana gila itu padanya, tak mungkin dia menyetujui kegilaan wanita itu. "Aku nggak perduli, Zein! Aku nggak suka lihat dia dan Gama. Dia itu selalu beruntung dan aku? Aku gimana? Kamu sudah menceraikannya pun tidak mengubah apapun untuk hidupku, Zein!" "Kamu masih memikirkan dia bukan? Kamu masih mencintainya 'kan? Sekarang Zoya justru memiliki segalanya dan dengan mudah dia mendapatkan pengganti darimu, jabatan dan perhatian dari Gama." Kedua mata Amanda begit

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-21
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 25. Hisap Yang Kuat, Mas! ++

    "Kakak mau kemana?" Zoya meraih lengan Gama yang hendak pergi. Terlihat jelas emosi Gama meluap saat ini. Kedua mata pria itu terlihat memerah sampai di mana Zoya takut jika Gama akan berbuat nekat. Apalagi setelah dia tau lawannya cukup gila. Zein dan Amanda memang pas. Selain sama-sama tidak tau diri, mereka juga tidak memiliki belas kasih. "Aku akan menyelesaikan masalah ini, Zoya." Zoya menggelengkan kepala dan semakin mengeratkan pegangannya pada Gama. "Jangan tinggalin aku, Kak! Aku takut Amanda kembali datang," pinta Zoya enuh permohonan. "Di luar sana ada yang melindungimu, Zoya. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk menjagamu. Jangan takut! Aku akan menemui Amanda karena masalah ini pun ada kaitannya dengan hubungan kami." "Tapi Kak... " Gama menyentuh pipi Zoya dan mengusapnya dengan ibu jari. "Aku tidak akan lama," ucap Gama lembut tetapi kedua mata pria itu tak bisa menutupi kemarahan yang tengah mendera dalam jiwanya. Dia menarik nafas dalam dan meng

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-22
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 26. Aku sangat menginginkanmu, Mas.

    "Akkhh! Apa yang kamu lakukan padaku, Mas? Mas tolong aku! Akh... Aku sangat menginginkanmu, Mas. Panas sekali rasanya. Aku tidak tahan. Ini sangat menyiksa, Mas." Amanda tak bisa diam. Efek obat yang Gama berikan membuat wanita itu menggeliat tak karuan. Tubuhnya teras panas hingga ia ingin sekali melucuti semuanya tanpa sisa. Amanda terus mendesah hingga suaranya begitu terdengar menggairahkan. Bergerak meminta sentuhan dari pria yang saat ini berada di hadapannya. Amanda memohon pada Gama untuk bisa disentuh oleh pria itu. Amanda terus meronta dan meminta tetapi Gama hanya diam menatap Amanda dengan tatapan jijik. "Gimana rasanya, Amanda?" "Aku mohon jangan siksa aku, Mas! Lepaskan aku!" pinta Amanda disela desahan yang membuat Gama menyeringai tipis. Puas sekali melihat Amanda yang sedang merintih, memohon dan berharap sentuhan itu datang darinya. Gaun malam yang Amanda kenakan tersingkap karena gerakan yang semakin brutal. Sayangnya tubuh Amanda diikat oleh G

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-23
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 27. Jadilah Asing Untukku!

    "Bajingan kau, Gama! Amanda hampir gila jika aku tidak datang. Dia hampir mati olehmu!" sentak Zein begitu membela. "Dan itu setimpal dengan apa yang telah Amanda lakukan padaku dan Zoya. Kenapa? kamu mau juga? Katakan saja! Karena kalian itu sama." BUGH Kali ini Gama kena bagian pipi kanan yang membuat pria itu menyeringai mengusap darah segar yang keluar dari ujung bibirnya. Namun bukan Gama jika diam tak membalas. Sudah cukup memberikan kesempatan dan kali ini adalah waktunya pria itu menyerang. Zoya yang menyaksikan meringis saat baku hantam kembali terjadi. "CUKUP! HENTIKAN! KELUAR KALIAN BERDUA DARI RUANGANKU! KALIAN SAMA GILANYA SEPERTI AMANDA! APA SELALU BEGINI CARA KALIAN MENYELESAIKAN MASALAH?" Zoya berteriak hingga pergerakan kedua pria itu terhenti. Kedua mata Zoya memerah menatap Zein dan Gama yang kini menoleh ke arahnya. "Keluar dari sini jika kalian hanya ingin adu kekuatan! Tempat ini bukan untuk kalian, dan kamu Mas Zein, buka mata kamu! Amanda itu

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 28. Hentikan!

    Hari ini Zoya benar-benar datang ke kantor polisi untuk mengajukan laporan atas apa yang Amanda lakukan padanya. Bukti-bukti yang Gama ambil dari CCTV restoran yang merekam keluar masuknya Amanda saat itu ke kamar mandi serta ada juga beberapa berkas dari rumah sakit menambah bukti kejahatan Amanda padanya. Zoya sudah tak lagi memikirkan bagaimana perasaan Amanda. Tak lagi mempertimbangkan Amanda yang pernah menjadi orang baik untuknya. Nyatanya hidup dia hancur karena wanita licik itu dan kini saatnya dia membalas. Bukan dengan kekerasan tetapi melalui jalur hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Polisi pun bertindak cepat dengan segera melakukan penangkapan di apartemen Amanda setelah laporan diproses dengan baik. Kala itu Amanda masih tahap pemulihan karena tubuhnya yang masih sakit usai mendapatkan obat dari Gama. "Pak apa-apaan ini, Pak? Kenapa saya ditangkap? Saya tidak bersalah, Pak!" Amanda terus memberontak. Wajahnya memucat penuh ketakutan. Penolakan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-25
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 29. Saya Hanya Disuruh

    Kali ini Zoya benar-benar membutuhkan tempat berlindung. Dia tak menampik jika dia membutuhkan pelukan yang memenangkan dan sialnya semua itu ia dapatkan dari pria yang mana adalah mantan iparnya dan orang yang digadang-gadang menjadi selingkuhannya. Miris jika dibayangkan. Hidupnya tak lepas dari keluarga Prasetyo karena lepas dari adiknya, Zoya justru terjerat dengan Kakaknya. Ingin lepas pun tak mungkin karena pria yang sedang memeluknya adalah orang yang sudah membantunya selama ini. Zoya masih paham bagaimana cara berterima kasih. "Ada aku," bisik Gama membuat kedua mata Zoya terpejam kuat. Ingin membalas tapi dia sulit untuk mengucapkan. Usapan Gama di punggungnya membuat Zoya semakin tenang. Sudah tak lagi sesak seperti tadi. Setidaknya apa yang Gama lakukan membantu memulihkan mentalnya. "Makasih Kak," ujar Zoya lirih kemudian melerai pelukan dan mendongak menatap Gama. "Apapun itu katakan saja! Aku akan membantumu." "Ternyata ada vidio berdurasi lima meni

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-26
  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 30. Apa Kamu Suka?

    Zoya terkejut saat tiba-tiba Sena terduduk dan bersimpuh di hadapannya. Dia bergegas mundur tapi Gama menahan tubuhnya agar tetap diam dan tak bergerak. Zoya menoleh ke arah Gama kemudian menggelengkan kepalanya. Zoya tak ingin sampai seperti ini. Dia merasa ini sangat berlebihan sekali. Apalagi Sena sampai bersikap demikian. Wanita itu meminta maaf dengan bersujud di kakinya. "Zoya aku mohon maafkan aku. Aku salah, aku telah berdosa padamu. Aku terpaksa melakukan itu. Aku hanya disuruh oleh Amanda. Dia yang memintaku menjebakmu, Zoya. Maafkan aku... " "Jangan begini!" Zoya pun melepaskan kedua tangan Sena yang memegang kakinya. Langkah Zoya mundur memberi jarak. Dia bukan apa-apa hingga diperlakukan demikian. "Zoya aku minta maaf. Tolong jangan penjarakan aku! Aku benar-benar butuh saat itu maka dari itu aku terpaksa melakukan hal itu padamu. Aku juga yang menyebarkan video panas kalian. Ampun Zoya, maafkan aku." Zoya menarik nafas dalam mendengar penuturan dari Sen

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-27

Bab terbaru

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 132. Sebuah Peluru

    Pekerjaan segera diselesaikan hari itu juga. Gama dan Zoya begitu giat karena memang ingin cuti. Jadi jangan sampai terlalu merepotkan Dito juga nantinya. Kasihan kalau sampai Asisten Dito dibuat repot sana sini. Sadar jika pekerjaan itu tanggung jawab mereka penuh. Khususnya Gama yang mana sebagai pemimpin di dua perusahaan. Siangnya Gama pun pergi ke perusahaan peninggalan sang Ayah. Gama meninggalkan Zoya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu pergi bersama dengan Asisten Dito tanpa mengajak Zoya. Namun sebelum pamit pada Zoya. Gama memastikan dulu kalau Zoya tidak masalah ditinggal. Gama terlihat sangat perhatian dan tidak ingin Zoya merasa tidak nyaman karena ditinggal sendirian. "Aku hanya sebentar, di sana juga harus aku bereskan. Kamu kalau sudah, tunggu aku saja di dalam. Jangan pulang sendiri! Nanti aku jemput." Gama mengusap kepala Zoya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Biasa bersama, meninggalkan Zoya begini terlihat sangat-sangat berat sekali.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 131. Tidak Buruk

    Zoya menatap semua orang yang ada di sana. Mereka semua terlihat tak percaya dengan apa yang mereka dengar sedangkan sebelumnya orang-orang itu sudah memprediksi jika dirinya ada hubungan terlarang dengan kakak ipar. Apalagi video dulu yang tersebar, mereka tau akan itu. Hanya saja memang Zoya dan Gama yang menjaga jarak, sempat mematahkan apa yang menjadi pemikiran mereka. "Bapak serius? Mendadak sekali, Pak? Tidak terlihat tau-tau menikah." "Iya Pak, tapi kami doakan semoga langgeng. Sakinah, mawadah, warahmah." "Aamiin... " Zoya mengangguk ramah dan tersenyum mendengar itu. Zoya menoleh ke arah Gama yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tatapan keduanya bertemu hingga Gama gemas dan mengacak rambutnya. Lagi-lagi keharmonisan itu membuat para karyawan yang melihat mereka nampak terkesima. "Undangan akan saya berikan via online. Saya juga meminta pada kalian untuk bekerja dengan baik. Saya akan ambil cuti. Jadi saya tidak ingin ada masalah pada kalian dan per

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 130. Ricuh

    Entah mengapa Zoya merasa curiga dengan keceriaan Sena. Wanita itu begitu mudah mengiyakan. Bukankah Sena suka dengan Gama? Harusnya tidak senang dengan apa yang akan terlaksana nanti. Usai sarapan, Zoya dan Gama pamit untuk berangkat ke kantor. Ini hari terakhir mereka bekerja sebelum besok mempersiapkan diri untuk hari pernikahan mereka. Tak ada orang tua dan sanak saudara yang sangat dekat, membuat keduanya lebih mendiri menghadapi semua ini. Gama juga tidak terlalu memusingkan karena selagi ada uang, semua bisa beres dengan cepat. Zoya pun berusaha untuk santai walaupun sebenarnya dia agak deg-degan menghadapi banyak tamu nanti yang pastinya memiliki pemikiran beragam pada mereka. "Dito, kita adakan meeting! Siapkan semua karyawan dan minta mereka berkumpul di bawah!" perintah Gama. "Baik, Tuan." Asisten Dito pun segera melaksanakan tugas. Pria itu segera mengumpulkan semua karyawan tanpa terkecuali melalui para manager tiap-tiap divisi. Gama pun bersiap untuk it

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 129. Undangan

    Pagi ini kembali Gama dan Zoya bergabung dengan keluarga Atmanegara dalam satu meja makan untuk sarapan bersama. Mereka sudah kembali berbaur dengan percakapan dan pembahasan yang lebih santai dari pada semalam. Mungkin karena nenek pun menyadari jika semalam sudah membuat situasi tidak nyaman jadi untuk pagi ini tidak menyinggung dulu masalah perusahaan ataupun rumah. "Gama mau langsung berangkat kerja?" tanya Nenek pada Gama yang terlihat lebih cerah pagi ini. Bagaimana tidak jika Gama sudah habis top up tadi. Sudah memberikan gebrakan pada sang istri dan ternyata juga pada tetangga kamar sebelah yang begitu penasaran pada Gama sampai-sampai sekarang belum turun. "Iya, Nek. Kami akan langsung kerja. Bagaimana dengan kesehatan Nenek? Apa sudah merasa lebih baik dari sebelumnya?" tanya Gama pada Nenek yang tersenyum mengangguk. Zoya hanya diam menyimak obrolan itu begitupun dengan Santi dan juga Bara. Mereka sudah lebih dulu sarapan dan tak menunggu Sena yang memang hobi

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR    Bab 128. Di Fajar Yang Nikmat

    Mendengar permintaan Zoya dengan suara yang manja tentu saja semakin membangkitkan gairah Gama yang sudah sangat memuncak. Hanya saja sebisa mungkin Gama menahannya. Zoya juga lupa padahal semalam dia merasa ragu untuk bercinta di rumah ini tapi setelah disentuh tepat pada titik sensitifnya, Zoya tak bisa menolak Gama dengan segala pesona pria itu. Awalnya menolak sekarang malah menggeliat meminta lebih. Itulah wanita ketika sudah kena titik sensitif di tubuhnya. Apalagi Gama yang tidak pernah meleset karena sudah sangat hafal mana saja tempat yang membuat Zoya membuka kedua kakinya. "Aku suka jika kamu meminta Sayang. Begini? Apa sudah nikmat? Atau kamu ingin yang lebih dari ini? Yang lebih kasar tapi membuat tubuhmu semakin menggeliat?" "Lakukan, Mas! Lakukan itu semua untukku!" sahut Zoya pasrah. Otak Zoya sudah dipenuhi dengan hal nikmat ini hingga dia tak lagi bisa mengatakan tidak. Ini sangat nikmat. Bercinta di pagi hari memang rasanya lebih gereget sekali.

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR    Bab 127. Remas Yang satunya, Mas!

    Sulit memang jika sudah tidak suka dengan seseorang. Apa yang dilakukan tetap saja itu tidak baik di mata orang tersebut. Begitu juga dengan pandangan Sena pada Zoya saat ini. Setelah pertemuan mereka yang tidak baik kala itu membuat pandangan keduanya pun memburuk apa lagi Sena yang sangat tidak suka pada Zoya. "Mas jangan nakal! Ayo masuk aja! Kamu meresahkan sekali, Mas." Zoya menahan tangan Gama yang sudah mode iseng. "Masih ingin di sini Sayang. Ngadem enak, bikin pikiran tenang. Sini senderan di dada aku!" perintah Gama pada Zoya yang kemudian segera dituruti karena tangan pria itu sudah menarik tubuhnya. "Nah gini! Sekarang kita hitung Bintang!" "Nggak mau! Kamu kurang kerjaan banget sumpah. Kenapa nggak jelas banget, Mas," tolak Zoya. Ada saja Gama ini. Mana bisa terselesaikan sedangkan malam ini langit cerah bertabur bintang. "Nggak apa-apa, nanti aku bantuin, Sayang!" kata Gama gemas karena Zoya yang menolak. "Kamu bantu apa, Mas? Jangan bilang kalau kamu h

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 126. Independent women

    "Aku belum bisa memutuskan Nek dan istriku akan tetap ada di sampingku...." Jawaban itu terngiang di dalam ingatan Zoya. Gama dengan tegas menjawab demikian. Bukan apa, tapi Zoya sudah cukup tenang mendengar itu. Akhirnya Gama menjawab sesuai inginnya. Bukan Zoya ingin terus bersama dengan suami, mengikuti suami, menjadi satpam untuk suami. Hanya saja pengalaman mengajarkannya banyak hal. Termasuk bekerja di tempat yang berbeda. Sudah pasti akan ada saja godaannya. Entah dari Gama atau mungkin darinya. "Makannya dihabiskan, Nak! Nambah lagi!" ujar Nenek pada Zoya. Terlihat sekali jika Nenek saat ini merasa tidak enak pada Zoya. Mungkin karena sadar sudah sedikit mengatur sedangkan Gama dengan tegas tidak mau diatur. Lihat saja, mengenai harta yang banyak itu pun Gama masih berpikir puluhan kali padahal itu menguntungkan sekali bagi pria itu. Hanya saja memang Gama tidak hanya memikirkan untung saja tapi ke depannya juga. "Makasih banyak, Nek. Zoya sudah kenyang," ja

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 125. Tugas Membuka Kaki

    Usai Gama mandi, pria itu pun segera mengenakan pakaiannya. Sementara Zoya memperhatikan dari pantulan cermin saat Gama dengan santainya membuka handuk hingga milik pria itu terlihat jelas. "Pas loh, aku dari kemarin kemana saja? Yang aku tau hanya rasanya tanpa aku tau ukuran pembungkusnya. Oh Astaga Zoya... Otakmu lama-lama tidak beres karenanya." Zoya menggelengkan kepala sampai di tidak sadar jika Gama mendekati dan tiba-tiba mengecup pipinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" Deg Zoya terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Duh untung jantung aman meskipun seperti sedang maraton. Zoya menatap Gama dari pantulan cermin. Pria itu memeluknya dari belakang dan sesekali mengecup dengan gemas. "Kanapa Sayang? Apa kamu baru sadar jika milik suamimu besar? Aku tau kamu memperhatikannya, Sayang," tanya Gama dengan suara lirih di telinga Zoya. Seketika tubuh Zoya meremang merasakan nafas Gama yang begitu hangat menerpa kulitnya. Terlebih saat Gama yang sengaja mengusal

  • RANJANG PANAS KAKAK IPAR   Bab 124. Besarnya Pas

    "Eh tunggu dulu! Jangan ditutup! Saya ingin memberikan ini untuk Pak Gama." Asisten Dito menahan pintu yang hampir saja ditutup. Wanita cantik yang Dito lihat tak mau menunggu lama. Apa lagi berbasa-basi terlebih dahulu. "Jadi kamu kurir? Kebanyakan bengong!" celetuk Sena. Ya, yang membukakan pintu adalah Sena. Maka jangan heran jika Sena galak. Untungnya masih bisa tertahan saat Dito mencoba menahan pintu tersebut. Jika sudah kembali di tutup akan repot lagi urusannya. "Saya ini bukan kurir paket, tapi asisten dari Pak Gama. Saya ditugaskan untuk mengantarkan pakaian ini. Tolong berikan pada Pak Gama!" ujar Asisten Dito. Setelah ini baru Asisten Dito akan menghubungi Gama. Paper bag itu pun segera diambil oleh Sena dengan wajah jutek kemudian merebut dengan kasar. Dito pun hanya tersenyum melihat itu. Namun Sena dengan cepat kembali menutup pintu. "Tunggu, Mbak!" Dito kembali menahannya. Lagian ini Sena kenapa buru-buru sekali. "Apa lagi? Mbak, Mbak, Mbak, emangnya

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status