Logan menatap tajam pada tamu yang menurutnya tak tahu malu yang kini sedang duduk di hadapannya itu dengan raut dingin. Hanya ketegangan yang terasa begitu intens dan mengelilingi ruangan itu seolah untuk bernapas pun terasa sulit."Aku tahu kau tak ingin melihatku, namun aku perlu berbicara padamu," ucap Liam, pria yang menerima tatapan membunuh itu.Ia yang siang itu nekat datang ke kantor Logan, berusaha untuk menemuinya karena ia ingin membicarakan sesuatu pada pria itu. Ia bahkan telah siap kalau-kalau pria itu akan menghajarnya lagi."Kau sudah tahu tapi kau tetap datang dan meminta untuk menemuiku?" balas Logan dingin.Liam menelan ludahnya. Tatapan Logan yang tak main-main padanya mengingatkannya akan hajaran pria itu tempo lalu. Ia sadar, walau ia mungkin saja bisa habis di tangan Logan saat ini juga, namun ia harus tetap memberanikan diri untuk menemui pria itu."Memang, aku sudah sangat bersalah padamu dan Amanda. Maafkan aku," ucap Liam penuh penyesalan."Sudah kukatakan
Sementara itu ... di tempat lain dalam suatu ruangan yang ada di kantor Francesca, wanita itu duduk dengan senyum mengembang lebar setelah beberapa waktu lalu ia menerima sebuah telepon masuk dari salah satu anak buahnya yang mengabarkan bahwa mereka telah berhasil membawa Amanda dan putranya.Rencananya, para pria suruhan Francesca yang sedang dalam perjalanan membawa ibu dan anak beserta sopir pribadi mereka itu, akan menyekap mereka ke salah satu villa miliknya yang terletak di area pinggiran kota yang dekat dengan pesisir."BRAK!" Pintu ruang pertemuan tempat di mana Francesca menunggu itu, terbuka dengan keras diiringi oleh derap langkah kaki Logan yang masuk dengan wajah membunuh."APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA ISTRI DAN ANAKKU!!" amuk Logan dengan suara menggelegar."Kau sudah menerima pesannya, ya? Ah, senangnya. Kau datang tepat waktu, Baby," ucap Francesca sambil tersenyum ceria seolah tak terganggu dengan amarah Logan.Ia mengisyaratkan pada para anak buahnya untuk pergi
Satu jam sebelumnya ....Amanda segera menutup kedua telinga Andrew dan mendelik menatap si pria yang sedang mengawasi mereka dengan duduk di sebelahnya. "Ini penculikan, apa kalian sadar itu! Berikan ponselku!" desisnya."Ya, kami tahu itu. Tapi maaf, Nyonya, Anda baru bisa menelepon setelah kita sampai," jawab sang pria tenang."Oh, benarkah?" Amanda dengan nada menantangnya yang tenang, kemudian balas menjawab pria itu."Lihatlah di belakangmu," lanjutnya.Sang pria penculik spontan menatap ke arah kaca belakang mobil dan tertegun ketika ia melihat mobil milik rekannya yang berada di belakang sudah dikepung oleh beberapa mobil lain dengan para pria berseragam hitam yang lengkap membawa senjata."Hentikan mobilnya, Eddie," ucap Amanda tenang."Baik, Nyonya," balas Eddie dengan senyum lebar. Ekspresinya berbanding terbalik ketika saat ia diancam oleh pria tak dikenal yang menerobos ke dalam mobil tuannya. "Kena, kalian!" serunya bersemangat.Dan benar saja. Seketika itu, dari arah be
Francesca yang begitu terkejut, terhuyung mundur hingga ia menabrak meja di belakangnya."Apa-apaan ini. Seharusnya kau berada di vilaku! Mengapa kau ada di sini? Penjaga!!" seru Francesca.Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor."Percuma, Francesca. Semua anak buahmu telah diamankan. Termasuk Collin, yang kau percayai itu," ucap Amanda. "Bagaimana bisa?! Apa yang telah kau lakukan?!" seru Francesca terkejut."Menjebakmu, tentu saja." Kali ini Logan menimpali Francesca. "Selama beberapa hari ini aku juga telah menyebar anak buah suruhanku untuk menjaga Amanda dan putraku. Kau kira aku akan diam saja saat kau mengutus mata-mata yang menguntit istriku? Pekerjakankah orang yang profesional jika tak ingin mudah terbaca.""Kau jelas sedang merencanakan sesuatu. Dan itu terbukti dengan aksimu hari ini. Sayang sekali aksimu itu terlalu kentara hingga kami dapat menggagalkannya dalam sekejap. Dan kami mengetahui rencanamu itu karena kami juga telah mengawasimu.""Apa ma
Sudah sebulan berlalu semenjak insiden yang dilakukan Francesca usai, kini semua kembali ke aktivitas masing-masing.Logan yang resmi tidak bergabung lagi untuk bekerja sama lanjutan dengan Rylie, kini bahkan lebih sibuk lagi setelah ia kemudian kembali menjalin kerja sama yang baru dengan Jay.Begitu pula Amanda, ia yang disibukkan dengan urusan bisnis kedua butiknya yang perlahan semakin pesat semenjak ia bekerja sama dengan Amalia dan mendapat kesuksesan dari kerja samanya dengan Wade, kini pun semakin sibuk."Aku akan menjemput Andrew hari ini," ucap Amanda saat ia menyisir rambutnya untuk berias pagi itu. Ia yang telah rapi dengan setelan blouse dan rok span miliknya terlihat sudah cantik dengan riasan alami di wajahnya."Apa kalian sudah merencanakan sesuatu sepulang sekolah?" tanya Logan. Ia mendekati Amanda dan memegangi rambut istrinya untuk membantunya mengikat rambut."Akan ada acara kecil setelah mereka pulang sekolah nanti. Acara perpisahan karena guru favorit olah raga a
Amanda hendak keluar dari butik miliknya saat siang itu tiba-tiba ia melihat sosok yang ia kenal sedang berada di sana dan melhat-lihat sepatu display miliknya, hingga ia menghentikan langkahnya karena tak mungkin berlalu begitu saja."Sammy?" panggil Amanda spontan.Pria muda yang mengenakan jeans serta kaus hitam berbalut jaket kulit warna senada itu berbalik dan menoleh terkejut saat ia melihat Amanda. Ia dan beberapa pengunjung lainnya memang cukup mudah dikenali karena keadaan butik saat itu terbilang sepi."Amanda!" balasnya sambil tersenyum cerah.Ia menunjukkan senyum manis dengan mata kecoklatan yang tampak berbinar. "Kau di sini? Kukira tak mungkin dapat dengan mudah menemui pemilik butik ini begitu saja saat kau berbelanja di sini. Kebetulan yang menyenangkan.""Aku sering berada di dua tempat. Dan ya, memang lebih sering di sini akhir-akhir ini karena di sini sedang sibuk dengan berbagai macam pesanan khusus. Adakah yang kau inginkan di butik kecilku? Bagaimana kau bisa sa
Sammy diam-diam tersenyum dengan tatapan mengagumi pada wanita cantik yang sedang di hadapannya itu yang sedang membuat design sepatu untuknya. Ia yang sebelumnya telah membuat janji dengan Amanda hingga akhirnya kembali ke kantor wanita itu, kini sedang berdiskusi untuk membuat design yang ia mau.Dan jelas, ia sangat suka melihat Amanda yang tampak memesona dengan wajah seriusnya saat menggambar itu hingga tanpa sadar memperhatikan wanita itu dalam diam. Ia bahkan tak mendengar saat seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut dan berjalan di belakangnya."Pak Guru Sam?" ucap Jessi yang saat itu masuk dan terkejut mendapati Sammy berada di ruangan Amanda dan sedang duduk berhadapan di depan meja kerja sahabatnya itu."Ah, Aunty Jessi favorit Andrew," sapa Sammy saat ia berbalik dan mendapati Jessi di sana."Apakah ada berita yang serius? Mengapa suasana begitu sunyi? Dan mengapa Anda berada di sini, Pak Sam?"Jessi menatap Sammy dengan tatapan menyelidik karena pria itu mengenakan pak
"No way," lirih Jessi tak percaya saat Wade menyerahkan setumpuk berkas di dalam amplop coklat ke hadapannya.Berkas-berkas itu menunjukkan semua detail tentang pria penguntit yang selama ini selalu membuatnya ketakutan."Ternyata ia Nath, bukankah ia temanmu? Mengapa ia?" ucap Jessi tertahan karena ia sedikit tercekat. "Kukira ia bukan pria yang menakutkan seperti itu," lanjutnya."Ya, penguntitmu adalah Nath. Aku pun tak menyangka. Dengan wajahnya yang bak pangeran itu ia mampu melakukan hal tak bermoral padamu. Ia melakukan itu karena sepertinya ia terobsesi padamu. Ia yang kebetulan memiliki sepupu dan berteman dengan salah satu teman wanita kalian di sekolah menengah dulu, rupanya memanfaatkan foto lama yang masih disimpan teman sepupunya itu untuk mengganggumu," terang Wade."Lalu, setelah ia mendengar berita dan rumor tentangmu semasa kau bersekolah, ia sepertinya menjadi nekat mengganggumu setelah kau mencampakkannya. Ia bertekad untuk mulai menakutimu agar kau tak mendekat pa
"Apa maksudnya Anda memintaku untuk menemani perjalanan bisnis Anda? Mengapa?" ucap Bella sambil membetulkan letak kacamatanya dan menatap Liam tak percaya setelah pria di hadapannya itu mengutarakan maksudnya beberapa saat tadi."Ya, kau sudah mendengarnya, bukan? Aku akan ada perjalanan dinas selama seminggu untuk proyek baru perusahaan. Aku ingin kau ikut denganku karena kau adalah asistenku. Apakah ada yang salah?" tanyanya.Bella mengembuskan napasnya dengan sedikit keras. Ia kemudian melepas kacamatanya dan memijat tepat di pangkal tulang hidung, di antara kedua matanya tanda frustasi. "Begini, Tuan Liam, tidakkah Anda tahu benar apa inti dari pertanyaanku?"Dengan menahan kesalnya Bella kemudian meletakkan kacamatanya di atas meja kerjanya dan berdiri menghampiri bosnya itu agar dapat sejajar dengannya."Baru sebulan ini Anda menempatakanku di dalam ruangan yang sama dengan Anda dan mengajariku banyak hal untuk menjadi asisten pribadi yang profesional sesuai yang Anda mau. Tapi
"Apa yang sebenarnya telah kau lakukan hingga kau dapat mengambil posisi Iris?" tanya seorang pria berkacamata pada Isabella saat ia menghadap pada sekretaris Liam, pria yang bernama Peter itu.Seperti yang pernah ia dengar, Peter yang merupakan sekretaris sekaligus sahabat bos mereka itu tak terlalu ramah pada karyawan wanita. Dan sekarang memang terbukti karena pria itu terlihat sangat tegas. Pria bernama Peter yang lebih mengedepankan rasionalitas dan pekerjaan itu, terkenal sangat detail dan perfeksionis."Karena kurasa Iris melakukan kesalahan yang membuat Tuan Liam tak suka, kurasa," ucap Bella apa adanya.Peter menggeleng kecil dan mengembuskan napasnya."Dengar Nona Isabella, kulihat kau tak memiliki pengalaman sebagai seorang sekretaris mau pun asisten atau semacamnya. Entah kesalahan apa yang telah Iris perbuat hingga Liam menurunkannya. Tapi, karena kau adalah penggantinya, maka aku akan memperingatkanmu di awal sebelum terlambat. Jangan pernah mencoba mengacaukan pekerjaan
"Memang sungguh kasihan. Padahal ia masih muda. Jika aku menjadi dirinya, aku tak akan menyia-nyiakan begitu saja tubuh dan wajahku itu. Sungguh sayang sekali, bukan? Terlalu mencintai seseorang memang akan berakhir tragis saat tak bisa mendapatkannya." Walau tak berbicara dengan suara lantang, namun percakapan antara seorang wanita berkemeja biru pada lawan bicaranya, wanita berambut pendek berkemeja putih itu nyatanya terdengar juga di telinga seorang gadis yang sedang duduk di balik tembok penyangga di atas atap pada siang itu. "Bagus, aku malah mendengar gosip murahan di sini," gumam gadis itu sambil membuka kotak bekal makan siangnya. "Kupikir ini adalah tempat yang tenang." Gadis berkacamata itu memutuskan untuk tak menghiraukan obrolan dua karyawan lainnya yang ada di balik tembok. Ia dengan tenang kemudian mulai menyantap makanannya. "Ya, benar, bukan? Sungguh sangat disayangkan. Bos kita memiliki tubuh yang sangat bagus. Jika aku adalah wanita yang dicintainya, aku pasti a
Dua tahun kemudian ... "Selamat pada kalian, Tuan-Tuan, bayi kalian telah lahir dengan selamat dan sehat," ucap seorang perawat yang terlihat di dalam televisi layar lebar. Lalu, sorotan beralih pada dua orang pria gagah yang tengah berpelukan dengan haru setelah mendengar berita tersebut. "Lihat wajahmu," ucap Logan terkikik geli sambil menekan tombol berhenti pada televisi layar lebar miliknya yang ada di ruang santai itu. "Jangan mengejekku. Kau sendiri terlihat lucu dengan wajah itu. Tubuh besarmu pun rupanya tak mampu untuk tak bereaksi saat mereka memberi tahu kelahiran putrimu, kan?" balas Wade yang duduk di sebelahnya sambil mencomot keripik yang ada di hadapannya sambil tertawa kecil. Logan dan Wade kini sedang duduk sambil memangku putra dan putri mereka masing-masing. Ya, Jessi dan Amanda sama-sama telah melahirkan bayi mereka dalam waktu yang bersamaan dua tahun lalu. Dan kini, mereka sedang merayakan ulang tahun kedua bayi yang lahir bersamaan itu dengan santai di ked
Keesokan harinya ....Rupert yang memiliki wajah yang terlihat kusut, pagi itu datang ke kediaman Logan. Ia bersama putra dan menantunya kini telah duduk saling berhadapan. Amanda dan Logan sendiri pun sudah dapat mengerti apa yang sedang dirasakan pria itu hanya dengan melihat raut wajahnya yang muram."Jadi, kau memang mendatangi Patricia, benar? Karena itu Sammy menolak semuanya."Logan mengembuskan napasnya dan mengangguk. "Ya, Dad, aku memang mendatanginya.""Lalu mengapa ia memberikan sahamnya dengan namamu?" gumamnya frustasi."Itu karena ia tak ingin Sammy mengambil alih perusahaan Langdon. Bukankah kau juga tahu akan hal itu?" jawab Logan tenang."Tapi mengapa? Bukankah itu juga hal yang bagus untuk putranya?!" ucap Rupert seolah tak mengerti.Ucapan Rupert membuat Logan memicingkan matanya dan menatap Rupert tak suka. "Putranya? Kau kira kau hanya memiliki satu orang putra saja? Apakah kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan, Dad?" geramnya."Aku telah bersalah pada Patr
Ayolah, Sayang. Sampai kapan kau akan memasang wajah sebal padaku seperti ini? Bisakah kita tidur dengan damai tanpa kekesalan malam ini?" ucap Logan sambil memeluk sang istri dan mencium bahunya.Amanda yang kini sedang berbaring memunggunginya, tak menjawab bujukan Logan. Ia jelas masih merasa kesal sepulang kunjungan mereka dari dokter kandungan sejak mereka pulang sore tadi yang memang menyatakan dirinya telah hamil lima minggu."Apa kau tak merasa senang akan memiliki putri yang begitu cantik dengan perpaduan wajah seperti dirimu dan diriku, Sayang?" rajuk Logan lagi.Mau tak mau Amanda tersenyum geli. "Oh, please, kita bahkan belum tahu jenis kelamin bayi kita apa karena ia masih terlalu kecil.""Ah, kau sudah tersenyum. Itu lebih baik. Maafkan aku, Sayang. Jangan terlalu membenciku, ya?" Kali ini Logan membalikkan tubuh istrinya dan membelai wajahnya."Aku tak kesal karena memiliki bayi kita, tahu. Tapi aku kesal karena kau membohongiku!"ucap Amanda.Aku tahu, aku tahu, aku aka
Amanda, Logan, Sammy, dan Patricia kini telah duduk melingkar di sebuah meja yang berada di area taman belakang. Setelah Wade, Alan, dan pengacara Grey pergi, mereka meneruskan pembicaraan di dalam rumah. "Jadi, sekarang kau sudah mengerti mengapa aku melakukan ini, bukan?" ucap Patricia pada Sammy. "Sudah cukup aku berurusan dengan pria itu, Sammy. Aku ingin hidup tenang denganmu tanpa memikirkan apa pun. Karena itulah, aku menyerahkan Royal Triumph padamu setelah kau lulus dengan sekolah bisnismu dan kau mampu mengambil alih semuanya." "Jika masih ada harga diri yang tersisa dari diriku, itu adalah perusahaan kakekmu dan nama belakangmu. Aku tak menginginkan namamu menjadi Langdon karena itu tak akan mengubah apa pun. Henson adalah nama belakangmu sejak kau lahir dan akan seterusnya seperti itu." "Mengertilah, Sammy. Bisakah kali ini kau menghentikan semua dan melepaskan hal yang sia-sia itu? Karena aku sungguh-sungguh tak menginginkan untuk hidup bersama pria itu lagi. Tolong, a
"Apa? Menikah? Mereka berdua? Secepat ini?" ucap Logan tak percaya saat Amanda memberitahukan berita mengejutkan tentang rencana pernikahan Wade dan Jessi."Yap. Tiga hari lagi mereka akan mengadakan pernikahan sekaligus resepsi.""Wow, apa Jessi sedang ha ....""Hei!" potong Amanda cepat. "Memangnya kita? Ia tak sedang hamil. Walau ya, Wade memang menginginkan memiliki anak secepatnya. Mungkin karena itu akhirnya mereka mempertimbangkan untuk segera menikah.""Ck, mereka pandai memilih waktu yang sangat 'tepat' di saat-sat seperti ini!" gerutu Logan.Amanda tertawa kecil. "Tak apa. Kita bisa menyelesaikan masalah perusahaan setelah menghadiri pernikahan mereka sejenak. Kediaman Patricia juga tak terlalu jauh dari sana, bukan? Lagi pula, ia sudah seperti keluargaku sendiri. Tak mungkin jika aku tak hadir di pernikahan itu," ucap Amanda."Aku mengerti. Baiklah, kita memang harus tetap hadir di sana."****Tiga hari kemudian ...."Cantik sekali mempelai kita!" ucap Debora, ibu Amanda ke
Logan dan Amanda sama-sama berkutat pada pekerjaannya masing-masing di dalam ruang kerja, dari siang hingga sampai malam menjelang. Mereka begitu fokus karena harus mempersiapkan proposal dan rincian detail yang masing-masing nanti akan mereka gunakan untuk menarik dukungan dari para pemegang saham agar kedudukan Logan menguat untuk dapat menolak keputusan Rupert yang diusulkan secara sepihak tersebut."Logan, seperti yang kita duga, ternyata saham Tuan Baron telah ia jual dengan identitas pembeli yang masih belum diketahui karena tak tercantum dalam informasi," ucap Amanda sambil menyerahkan selembar berkas pada suaminya.Logan membetulkan letak kacamatanya dan meneliti berkas tersebut dengan serius. "Ya, kau benar. Aku akan mencari tahu."Logan kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia menekan sebuah nomor dan menanti panggilannya terjawab.Logan berbicara di teleponnya sekitar lima belas menit dengan seseorang yang ia hubungi sebelumnya. Pembicaraan yang serius rupanya berjalan baik. Ia