Jojo yang sebelum melakukan kesalahan, sangat alergi untuk melakukan hal seperti ini untuk Rangga, kini melakukannya dengan penuh semangat.Ditinggalkan Rangga selama beberapa hari terakhir ini membuat Jojo sangat sedih. Dia takut Rangga akan meninggalknya untuk selamanya. dia takut anaknya harus mengalami broken home karena perceraiaanorang tua, karena itu, dia berusaha untuk membuat yang terbaik untuk sang suami.Jojo tahu kalau Rangga sangat suka dimanjakan seperti ini. Karena Rangga pernah mengatakannya dulu. tapi, tentu saja Jojo tidak pernah mau menuruti permintaan Rangga di waktu-waktu yang lampau.tapi, sekarang ini, demi pernikahannya yang sudah berada di ujung tanduk, dan demi kesehatan mental anaknya, maka, dia bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi Rangga.Apalagi, setelah di tahap dimana rumah tangganya hampir hancur, barulah Jojo menyadari kalau dia sangat mencintai Rangga, pria yang selalu sabar untuknya selama bertahun-tahun.Jojo sadar kalau dia tidak pernah berl
Jojo terus berkreasi untuk memberikan kenikmatan bagi Rangga. Dia terus melakukan gerakannya yang semakin lama semakin agresif karena terbawa oleh instingnya sebagai wanita yang ingin menyenangkan lelakinya.Jojo terus menggoyangkan tubuhnya untuk mengarahkan ujung rudalnya Rangga di titik-titik sensitif di kedalaman tubuhnya.Dan ini membuat Jojo terus merasakan gairahnya meningkat hingga dia mulai ceracau tidak karuan sambil menengadah ke atas. "Owhhhh ... Rangga. Ahhhhh ... shit. Ini enakkkkk. Gilaaaa ... ini enak. Awhhhhh."Rangga juga mulai keenakan di bawah sana. Permainan cinta penu nafsu dan penuh cinta yang dibawakan Jojo ini, membuat dia keenakan. Dia merasakan terongnya menegang maksimal di dalam sana, di dalam tubuh Jojo dan dia merasakan aliran kenikmatan mengalir di dalam dirinya."Ughhhh ... terus gitu, sayang. Ohhhhhh. Enak benar ini. Ugh ..."Jojo bergerak semakin kencang. Dia sudah terbawa hasrat. Dia ingin menuju puncak. Gesekan-gesekan yang terjadi di lembahnya kar
Akhirnya, di saat yang hampir bersamaan, Jojo dan Rangga sama-sama berteriak karena mereka sudah menemukan puncak kenikmatan mereka berdua.Setelah itu, keduanya langsung tertidur dengan keadaan saling berpelukanSaat tengah malam, Rangga terbangun karena panggilan alam. Dia pergi ke kamar mandi. Setelah kembali ke kamar tidurnya, Rangga mengambil handphone rahasianya, kemudian dia memakai bajunya dan keluar di kamar tidur.Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi setelah aksi pemukulannya kepada Rahul, karena itu, Rangga mulai mengaktifkan handphonenya.Rangga berpikir, ada panggilan-panggilan telepon dari pihaknya Rahul atau bahkan mungkin dari kepolisian yang akan memeriksa dia atas kasus pemukulannya kepada Rahul.Karena itu, dengan sedikit takut bercampur dengan rasa penasaran, dia mengaktifkan kembali handphone rahasianya.Saat handphone rahasianya diaktifkan, Rangga melihat ada beberapa panggilan dan juga ada beberapa chat WA yang masuk ke nomor WA-nya.Ada panggilan dari n
Jojo dengan tatapan penuh harap memandang Rangga, "Rangga, apakah bisa kau kembali padaku setelah selesai urusan di rumah Rahul? Aku selalu mencintaimu dan tidak ingin berpisah lagi denganmu. Lagian, anak kita selalu merindukanmu, sayang."Rangga merenung sejenak, ekspresinya penuh pertimbangan. "Jojo, kamu tahu perasaanku tentangmu, tapi aku juga ingin memastikan segala hal teratur di rumah Rahul. Aku harus memastikan kalau tidak ada yang tahu kalau akulah yang memukulinya."Jojo mengangguk lembut, "Aku mengerti, Rangga. Tapi harap ingat, cintaku padamu tak pernah pudar. Selama ini, bahkan saat kamu jauh, hatiku tetap bersamamu."Rangga tersenyum, tersentuh oleh perasaan Jojo. "Terima kasih, Jojo. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku perlu melakukan ini. Aku titip anak kita di tanganmu."Jojo menjawab cepat, "Tentu, Rangga. Aku akan selalu menjaga anak kita. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa cintaku padamu tetap abadi."Rangga mengulurkan tangan dan memegang tangan Jojo dengan le
Rangga masih kesal karena cerita Tiara tadi kalau Tiara sempat sangat dekat dengan Jojo.Karena itu, begitu masuk ke kamarnya Tiara, dan Tiara mengunci pintu kamar, Rangga langsung mengangkat tubuh Tiara dan menbantingnya ke atas ranjang.Owh...Tiara sangat kaget dengan apa yang dilakukan Rangga itu. Tapi sesaat kemudian, dia berkata, "aku suka ini. Mantan pacarku juga suka bikin kek gini."Tiara menatap Rangga dengan tatapan menantang."Kamu suka, hah! Maka akan aku lakukan padamu!" Terbawa perasaan kesal pada Jojo yang sempat dekat dengan Tiara, membuat Rangga yang biasanya selalu bersikap lembut kepada setiap wanita itu, kini meradang.Dengan kasarnya karena terbawa marah, Rangga menarik baju yang dikenakan Tiara, sehingga suara robekan kain mulai terdengarBRETTTTTBRETTTTT"Awhhhh. Aku suka ini." Tiara nyengir dengan tatapan menantang.Rangga membuka baju yang dia pakai kemudian dia langsung naik di atas tempat tidur dan menciumi Tiara dengan kasar"Pukul pantatku! Pukul pantatk
Tiara semakin menikmati akan apa yang terjadi ini. Apalagi ketika rasa nikmat mulai dia rasakan. Tiara terus menikmati akan semua yang dilakukan Rangga ini.Rangga terus bergerak semakin cepat untuk memborbardir tubuh indah Tiara ini dengan gerakan cepat.Dia tidak peduli kalau Tiara jadi sakit karena gerakan-gerakan yang dia lakukan ini.Tapi, rasa sakit itu sudah lewat. Sekarang ini, yang dirasakan Tiara hanya rasa nikmat yang terus menjalari tubuhnya hingga membuat dia keenakan. "Ahhhh ...faster. FASTERRRRR."Melihat kalau Tiara mulai keenakan, maka, Rangga putuskan untuk tidak lagi bergerak cepat. Tapi, dia masih terus bergerak, memasuk keluarkan pusakanya, hanya saja, gerakannya sudah tidak secepat sebelumnya.Tiara terus menikmati gerakan-gerakan Rangga ini. Walaupun Rangga tidak mengikuti permintaannya untuk bergerak lebih cepat, tapi, dia masih merasa keenakan akan apa yang dilakukan Rangga kepadanya ini."Ternyata gaya kek gini memang enak, Rangga. Nanti, kita lakukann gaya k
Begitu masuk dalam rumah dan mengunci pintu, Cya langsung memerintahkan Bu Rum untuk cepat-cepat tidur, dengan alasan supaya Bu Rum bisa bangun pagi. Sementara Rangga diminta Cya untuk angkat barang.Bu Rum, yang sudah kelelahan seharian, segera menuruti perintah Cya.Ia langsung pergi ke kamarnya di belakang sana dan berbaring di tempat tidur.Setelah memastikan kepergian Bu Rum, Cya memberi isyarat kepada Rangga untuk mengikutinya di ruang keluarga.Sementara Rangga, yang juga sudah lelah, tetapi masih penasaran dengan apa yang terjadi, mengikuti Cya ke ruang keluarga.Di ruang keluarga, Cya sedang duduk di sofa. Ia tampak sedang menatap sesuatu, seperti sedang memikirkan sesuatu."Kenapa kamu menyuruh Bu Rum tidur?" tanya Rangga."Aku mau bicara sama kamu berdua," jawab Cya. "Tapi Bu Rum harus tidur dulu, biar kita bisa bicara dengan tenang."Rangga pun mengangguk. Ia duduk di sofa yang sama dengan Cya."Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Rangga.Cya tersenyum. "Aku mau bica
Mereka terus bergumul di atas ranjang untuk meluapkan perasaan mereka.Tusukan-tusukan Rangga semakin intensif dilakukannya sementara Cya semakin mendesah karena gesekan yang terjadi dan karena area kewanitaannya disergap penuh oleh pusaka Rangga yang mengalirkan rasa nikmat tidak terkira."Ahhhhh. Enak. Oh, enak, Rangga.""Tubuh kamu enak, Cya.""Punya kamu enak banget, Rangga. Owh.""Punya kamu juga enak. Sempit dan nikmat.""Nikmati aku terus, Rangga. Menikahlah denganku. Aku menerima kamu apa adanya. Ahhhh. Nanti kamu tidak perlu jadi supir lagi. Kamu bisa kerja di perusahaan ayahku. Ahhhh."Rangga tidak menanggapi. Dia cuma mengintensifkan pergerakannya. Karena sekalipun pada suatu saat dia meninggalkan Jojo, istrinya, tapi, dia tidak mungkin akan menikah dengan anak dari pria yang telah menghancurkan pernikahannya.Karena itu, Rangga tidak menanggapi lagi kata-kata Cya dan memilih fokus untuk mengefektifkan tusukan pembawa nikmat di tubuh Cya.Cya dan Rangga adalah dua orang yan
"Kamu sudah menungguku? Hihihi. Bagus. Aku akan segera mengakhiri penderitaanmu," kata orang yang masuk ke kamar ini yang bukan lain daripada Alicia.Alicia terus berjalan masuk ke dalam hingga dia sudah berada dekat dengan pembaringan tempat Saras berada. Alicia berdiri di antara ranjang dan sebuah meja.Alicia menyeringai memperlihatkan senyuman menakutkannya. Kemudian dia mengeluarkan senjata api genggam dari balik bajunya.Senjata api ini, adalah senjata api yang direbutnya dari seorang dokter yang merupakan temannya. Sebenarnya Alicia datang dengan senjata api ini untuk membunuh para polisi yang berjaga di depan kamarnya Saras.Tapi saat Alicia melihat kalau yang berjaga di depan kamarnya Saras hanya satu orang, maka Alicia lebih memilih untuk menggunakan pisau guna menghabisi polisi itu.Setelah menghabisi polisi itu, Alicia masuk ke dalam kamar ini dengan leluasa.Melihat kalau Saras hanya sendirian di dalam kamar ini, maka Alicia memilih untuk mengeluarkan senjata apinya dan m
"Tentu saja aku ingin kamu, Leon. Hihihi. Punya kamu enak banget. Aku gak bisa move on, Leon. Ahhh Aku ingin kamu, Leon. Hihihi." Suara di ujung telpon itu, terdengar dari seseorang yang jiwanya tidak sehat."Kamu tidak sehat, Alicia. Sebaiknya kamu menyerahkan diri. Kamu akan diperiksa dan akan mendapatkan penanganan kejiwaan. Segeralah menyerahkan diri, Alicia." tandas Leon."Asal kamu bersama aku di kamar perawatan. Ok?" tanya Alicia sambil cekikikan."Tidak bisa, Alicia. Kamu yang harus dirawat dan bukan aku.""Kalau gitu, gak seru ah. Ogah! Aku gak mau! Huh, aku sudah membunuh musuhmu. Itu kulakukan untukmu. Tapi, kamu masih juga tidak menghargaiku. Huh!""Apa maksudmu?""Ibu tirinya si lumpuh itu. Aku yang membunuhnya untukmu. Tapi, kamu tidak menghargai aku.""Aku tidak pernah menyuruhmu membunuh Mama Wina, Alicia. Tidak ada sekalipun aku menyuruhmu membunuhnya.""Tapi dia kan telah menjahati kamu dan si lumpuh itu. Aku membereskan Wina untukmu dengan resiko aku bisa di penjara
Dengan gaya ini, Leon merasakannya juniornya terjepit di dalam bagian inti tubuh Wulan dan ini membuat Leon merasa semakin nikmat."Aku ingin terus menikmati tubuhmu, sayang," bisik Leon yang sedang terbawa hasrat ini di telinga Wulan."Aku juga, sayang. Aku ingin kita selalu menikmati ini. Ahhhh... kamu luar biasa, sayang."Mereka berdua kembali saling tempel bibir, lidah mereka saling belit dengan juniornya Leon terus masuk ke tubuh Wulan.Mereka berdua menikmati apa yang ada, menikmati yang sedang berlangsung, menikmati bersatunya tubuh mereka berdua, menikmati rasa yang hadir dari permainan cinta yang sedang mereka lakukan saat ini.Dengan posisi Leon seperti saat ini, dua tangannya bertumpu ke arah ranjang, tubuhnya terus menindih tubuh Wulan, sementara bibirnya terus saling tempel dengan bibir Wulan, keduanya tenggelam dalam rasa indah yang mereka ciptakan bersama ini.Setelah itu, Leon nampak meninggalkan bibir Wulan dan menyusupkan wajahnya ke bantal di samping Wulan, setelah
Dengan posisi Leon dari belakang seperti ini, pada awalnya Wulan merasakan sakit di bagian inti tubuhnya tapi lama kelamaan, rasa sakit itu menjadi samar bahkan menghilang bahkan mulai terasa enak apalagi karena jari-jari Leon masih terus bermain di butir merah muda milik Wulan.Sehingga lama-kelamaan Wulan mulai merasa enak dengan posisi ini. Wulan tahu kalau ini adalah posisi favorit Leon, ini terlihat dari erangan Leon. Maka Wulan mulai menikmati posisi ini.Dengan melakukan gaya seperti ini, Leon bisa terus memainkan jarinya di butir merah muda milik Wulan dan itu membuat Wulan mulai terhanyut dan dia mulai mendaki sebuah titian tangga surga dunia.Dengan posisi seperti ini, Leon bisa terus memainkan juniornya tanpa henti, tanpa merasakan akan menuju puncak karena dengan posisi ini, walaupun Leon bergerak dengan sangat kencang tapi dia bisa mengontrol dirinya hingga permainannya tidak berjalan singkat tapi berjalan lama dan nikmat.Leon terus bergerak cepat di belakang tubuh Wulan
Leon terus menatap wajah cantik Wulan untuk mengetahui reaksi di wajah Wulan.Setelah Leon merasa kalau pengaruh yang sebelumnya dirasakan Wulan setelah Wulan berhasil meraih puncak sudah lewat, Leon kembali naik di atas tubuh Wulan.Untuk kembali merangsang Wulan, lebih dulu Leon memainkan lidahnya di tonjolan bukit kembar milik Wulan.Pada awalnya, belum ada reaksi dari Wulan tapi Leon tidak putus asa. Dia terus memainkan lidahnya untuk mengulas tonjolan Wulan yang sudah tegang itu.Belakangan reaksi yang ditunggu Leon itu mulai terlihat. Itu terlihat dari ekspresi wajah Wulan dan gerakan tangannya.Setelah melihat hal itu, maka Leon mulai mengarahkan juniornya yang sudah tegak itu untuk masuk lagi ke dalam daerah kewanitaannya Wulan.Setelah pusakanya masuk ke dalam bagian kewanitaannya Wulan, Leon mulai melakukan penekanan lagi sambil mengecup bibir tipis Wulan.Keduanya saling kecup, saling hisap, saling kecap bibir masing-masing. Lidah mereka mulai saling taut, menciptakan bunyi
Leon mulai mempercepat gerakan-gerakannya, naik turun di atas tubuh indah milik Wulan yang padat berisi walau sudah berumur itu.Tubuh keduanya tenggelam di balik hasrat yang sama-sama telah bergelora hingga menyelimuti tubuh keduanya.Sambil terus bergerak cepat, kadang Leon membuka matanya untuk melihat wajah cantik milik Wulan ini, wajah yang saat ini, tidak jemu-jemu untuk dia tatap ini. Leon terus menikmati tubuh indah ini.Wulan juga mempercepat goyangannya untuk membuat kenikmatan di antara mereka berdua semakin maksimal.Keduanya terus berpacu dengan mata terpejam, merasakan getaran-getaran kenikmatan yang menjalar di tubuh mereka, meresapi gesekan-gesekan yang terjadi di bagian inti tubuh mereka, gesekan yang membawa kenikmatan.Pergerakan yang dilakukan Leon ini semakin lama semakin membuat Wulan mendesah dengan semakin kencang, menjerit dengan semakin nyaring dan bergerak dengan semakin cepat.Keduanya sama-sama bersuara semakin kencang dan terdengar jelas hingga suara mere
Wulan langsung mengecup bibir Leon, memegang kedua pipi Leon dan mencurahkan semua perasaannya di bibir Leon.Perasaanya meluap semua seiring dengan gairah dan apa yang dia rasakan di dalam dirinya saat ini.Dikecup seperti ini oleh Wulan, membuat hasrat Leon mulai naik tinggi. Dia mulai menggenggam buah dada ranum milik Wulan sambil terus mengecup Wulan.Keduanya hanyut dalam rasa, keduanya hanyut dalam gairah yang bergelora di hati keduanya yang tidak pernah padam sejak pertama kali mereka bertemu ini.Leon mengecup bibir bawah Wulan yang langsung dibalas Wulan dengan mengecup bibir atas Leon.Wulan merapatkan tubuhnya ke tubuh Leon sehingga tangan Leon yang sedang meremas buah dadanya Wulan, terjepit di antara tubuh Wulan dan tubuh Leon.Desahan Leon terdengar sangat seksi bagi Wulan sehingga hasratnya menaik tinggi. Dia ingin mengikuti hasratnya yang mulai melambung tinggi ini.Leon dan Wulan sama-sama mencurahkan rasa dalam hati mereka berdua. Kecupan di antara mereka berdua yang
"Baiklah. Aku akan kerja lagi. Aku harus cari uang untuk membiayai perawatan di rumah sakit ini. Sementara untuk operasi, tetap akan dilakukan di rumah sakit sebelumnya dan itu sudah dibayar lunas," tandas Leon."Iya, Leon. Maafkan aku yang tidak bisa membantumu. Maafkan ayahku yang juga sudah tidak bisa membantumu karena perusahaannya sudah kembang kempis setelah dikuras Mama Wina." Saras menatap sedih ke arah Leon."Gak apa-apa. Gak apa-apa, sayang. Aku telpon dulu ya?""Iya, sayang."Leon keluar dari kamar tempat Saras dirawat untuk menelpon Tuti."Woy, Leon! Tante Lisa marah-marah tuh karena beberapa malam ini, dia harus mengembalikan uang pelanggan yang sudah booking kamu," sewot Tuti di ujung telepon."Aku kena masalah beberapa hari ini. Tapi, sekarang aku siap kerja." Leon menjawab dingin. Dia merasa tidak perlu minta maaf karena dia tahu pihak club' malam membutuhkan kemampuannya.Tuti terdengar seperti bicara dengan seseorang. Kemudian dia berkata, "malam ini kamu dibooking d
Leon teringat pada malam saat Alicia mengganas. Saat itu dari kejauhan, Leon sudah melihat bentuk tubuh yang mirip dengan Alicia yang sedang bergerak mendekati pintu kamarnya Saras.Tapi pada saat itu, Leon mengabaikan hal itu begitu saja dan meneruskan langkah untuk memenuhi panggilan seorang dokter yang ternyata merupakan tipuan dari Alicia yang kerjasama dengan seorang perawat yang tidak dikenal Leon.Karena itu, kali ini Leon tidak mau kecolongan lagi. Saat ini, saat dia melihat seorang dokter wanita yang dari belakang, perawakannya mirip sekali dengan Alicia, walaupun belum melihat wajahnya, tapi, Leon segera mengejar ke arah wanita itu.Leon jadi sangat khawatir karena dia melihat wanita yang berbaju dokter itu, bergerak cepat menuju ke arah kamar barunya Saras dan ini membuat Leon semakin cemas.Leon mempercepat langkahnya. Dia bahkan berlari hingga akhirnya Leon menabrak seorang pegawai rumah sakit yang sedang membawa alat-alat kesehatan."KENAPA KAMU MENABRAKKU? MATAMU DI TAR