BERSAMBUNG
Kadir pun akui, bertemu Rose semangatnya langsung bangkit alias move on dan bertekad akan terus dekati artis idolanya ini.Dia juga percaya, Ryan dan Rose tak ada hubungan spesial. Ryan pun lega, dia percaya dengan sahabatnya, apalagi Kadir sama dengannya, seorang ahli beladiri yang tangguh. "Kalau anak buah si Alex Soton datang, ku hajar ampai bonyok," kelekar Kadir.Rose pun dengan apa adanya bilang senang dengan Kadir, begitu mendengar alasan Ryan yang akan ke Banjarbaru. Rose janji kelak akan menemui Riona, agar wanita yang di sukai Ryan itu tak salah paham."Semoga kalian makin dekat dan bisa terus bersama--" Mendengar kalimat Ryan ini, tanpa sadar Rose dan Kadir serempak bilang aminnn. Kemudian Ryan pun terbang ke Banjarbaru ke esokan harinya.Dia carter mobil menuju ke Batupecah, tujuannya langsung ke rumah Riona, dia masih ingat alamatnya.Namun alangkah kagetnya Ryan, Riona dan ayahnya sudah tak tinggal di rumah mewah ini lagi. “Dulu rumah ini d gugat oleh mantan istri tu
Ryan menatap lekat-lekat wajah remaja tampan kurus ini, namun karena fotonya ramai-ramai, yakni foto saat kelulusan, Ryan harus menajamkan mata menatap wajah remaja ini.“Namanya adalah…Chulbuy Affandi,” kata bu Desi dan membuat mata tajam Ryan membulat, tentu saja Ryan terkejut bukan main.“C-Chulbuy…kok nama depannya sama dengan nama ayahnya Topan dan Sandrina?” gumam Ryan tak sadar. Nama ujung tak membuat Ryan kaget, justru membuka misteri namanya sendiri.“Itulah yang ibu belum yakin, apakah Chulbuy yang ini sama nama dan orangnya dengan Chulbuy Hasim Zailani itu. Tapi rada aneh sih, masa iya Chulbuy yang ini adalah Chulbuy yang jenderal polisi berbintang 3 dan juga turunan taipan Brandon dan Brandi Hasim Zailani itu? Sebab seingatku, Chulbuy mantan suami ibumu ini berasal dari sebuah desa di pedalaman Batupecah!” sela Bu Desi.Setelah di rasa cukup berbasa-basi dengan mantan sahabat ibunya ini, Ryan pun permisi. Kembali bu Desi terharu dan bahagia, setelah Ryan tak ragu bagi-bagi
Hari ini tepat 2,5 bulan Ryan jadi guru…!“Hmm aneh, kenapa di depan sekolah pada ramai,” batin Ryan sambil menjalankan mobilnya menuju ke sekolahnya.Semua siswa dan para guru tak bisa masuk ke sekolahnya, di depan pintu gerbang berjejer 10 orang preman, menghalangi jalan semua siswa dan guru yang bermaksud masuk.Ryan pun buru-buru mendekat setelah memarkir mobilnya.“Ada apa ini, siapa kalian? Kenapa halangi siswa dan guru masuk ke lingkungan sekolah,” tanya Ryan pada 10 orang bertampang sangar ini.“Kamu siapa hahh?” bentak salah satu dari 10 orang ini.“Aku salah satu guru di sini,” sahut Ryan kalem.“Hei dengar pak guru ganteng, lahan sekolah ini milik tuan Alex Soton dan mau diambil alih untuk di bangun perumahan, real estate!” kata orang ini sambil mendongak menatap wajah Ryan.Mendengar nama ini yang di sebut, Ryan kaget sekali. Lagi-lagi manusia ini yang bikin masalah, pikirnya.Sang Kasek Suparman datang. “Maaf, tanah ini dulu sudah di hibahkan oleh ibu Cynthia Soton, ini su
Ryan menatap dada mereka, yang duduk di depan bernama Tria, dua orang yang duduk di jok tengah Puti dan Lira, ketiganya masih kelas 11 atau kelas II di SMU ini.Otak nakalnya sempat jalan juga, ketiga siswinya ini termasuk memiliki tubuh yang mengiurkan, apalagi usia mereka rata-rata sudah 17 tahunan.Namun Ryan buru-buru hilangkan pikiran mesum itu, mereka ini siswinya dan Ryan melihat ketiganya juga hanya dari keluarga sederhana.“Kalian mau ambil apa sih, kok mau masuk ke sekolah itu lagi?” tanya Ryan berbasa-basi sambil konsen ke setiran.“Hanya buku-buku pelajaran saja pa guru!” sahut Tria.“Ya udah biar saja, daripada kalian di ganggu para centeng itu, soal buku ntar bapak belikan yang baru saja,” janji Ryan, sekaligus beri nasehat.“Pa guru, bolehkah kami ambil les Bahasa Inggris di rumah bapak, soalnya kami paling lemah pelajaran itu?”Puti yang duduk di jok tengah tiba-tiba ajukan usul. Tanpa ragu Ryan iyakan saja keinginan 3 siswanya ini, tanpa mikir apa-pun.“Kenapa tak mula
"Apa membangun sekolah? Waah siap pa Ryan, dua hari lagi saya meluncur ke Desa Lohon menemui bapak bersama staf saya, sekaligus sketsa gambarnya.”Insinyur Yory, sang arsitek yang sebelumnya rombak rumah Ryan tanpa ragu menyanggupi permintaan Ryan, untuk bangun sekolah di lahan kosong ini.Yory tentu senang bukan main dapat job tanpa lelang dari Ryan.Tak tanggung-tanggung yang di bangun, 9 ruang kelas, satu ruang laboratorium, satu ruang kantor guru-guru dan 1 ruang perpustakaan, plus tempat ibadah di sepakati akan di bangun.Tak main-main, di lahan ini juga di bangun lapangan olahraga di tambah pagar sekeliling, total anggaran yang akan Ryan siapkan adalah…35-50 miliar.Inilah cita-cita Ryan, akan bangun sekolah swasta yang sangat bagus dan…semuanya di gratiskan kelak buat seluruh siswanya.Ryan juga siap menaikan gaji para pengajar berlipat-lipat dari yang ada sekarang. Ryan juga berencana akan siap membangun sekolah setingkat SD dan SMP di lahan ini kelak secara bertahap.Segala te
“Pakailah ini Tria, ceritakan apa yang terjadi hingga kamu hampir saja di perkosa para centeng sialan itu,” Ryan bertanya sambil serahkan baju kaos miliknya, sebagai pengganti baju Tria yang sobek.Sesaat Ryan harus palingkan wajah, karena bukit kembar putih yang membusung ini terlihat separunya, hampir saja puncaknya yang berwarna pink terlihat.Ryan sengaja bawa Tria ke rumahnya, karena rumah gadis cantik ini masih jauh, lagian saat Ryan lihat arlojinya, ini sudah lewat pukul 10.30 malam, rasanya kurang pantas antar sorang gadis cantik malam-malam.“Awalnya aku lewat di sana pa, karena mau ambil kue yang akan di jual ibu, pas lewat di jalan depan itu, mereka tiba-tiba menyeret aku ke sekolah itu dan berniat jahat, untung saja pa guru datang tepat waktu!” cerita Tria sambil minum air putih yang disediakan Ryan.Tria bilang sengaja lewat jalan itu, karena kalau memutar sangat jauh dan gelap, tak di sangka dia hampir saja celaka, andai Ryan tak cepat datang menolong.Tria juga cerita di
“Kamu…pernah bercinta kah Tria..?” bisik Ryan mulai terbawa suasana. Tanpa di duga Tria mengangguk.“Dulu dengan pacar…kami bablas, tapi hanya 2X, sakit soalnya, kan sama-sama nggak pengalaman, main sodor saja…nggak pake pemanasan!” sahut Tria tanpa malu-malu sambil tertawa perlahan.Ryan tersenyum dan dengan lembut mengecup bibir Tria.“Kita lakukan malam ini, tapi ini rahasia kita yaa?” bisik Ryan, Tria tentu saja mengangguk, ngapain juga cerita-cerita, pikirnya.Tria sampai kaget, saat tonjolan yang keras mulai menerpa perutnya, lalu turun di antara kedua pahanya.“Pa…itunya…sudah..?” bisik Tria senyum manis, seakan isyarat kalau pintunya sudah terbuka buat di masuki si pak guru tampan, yang rela tinggal di pedesaan, karena muak dengan kehidupan kota ini.“Iya…sudah nggak sabar nyari sangkarnya,” bisik Ryan senyum nakal, Tria hanya mendesah saja, karena Ryan sudah melumat bibir-nya yang merah alami ini.Dan kini si cantik ini mulai melenguh, saat ciuman Ryan mulai turun ke leher dan
Semenjak 10 orang centeng itu di hajar Ryan, pembangunan sekolah ini lancar, tidak ada lagi intmidasi dan juga material yang hilang di mega proyek besar ini.Ryan sudah melaporkan soal ini ke Bupati dan sejak saat itulah, sang bupati lalu minta polisi turut kawal pembangunan sekolah ini. "Tenang pa Ryan, kami akan kawal proyek itu, kami malah bersyukur, ada putra daerah seperti pa Ryan yang mau menyumbang hartanya buat kemajuan daerah ini," kata sang bupati ini.Ryan pun lega, kini dia tak khawatir lagi, anak buah Insinyur Yory pun kini bisa tenang kembali bekerja. “Hmm sudah ku duga, pasti 10 begundal yang ku hajar itu pelakunya, biar saja mereka cacat permanen, kaki mereka sengaja ku patahkan semua, agar kapok,” batin Ryan, tanpa rasa takut dengan pembalasan Alex Soton dan anak buahnya.Tak ada yang tahu, jiwa milisinya ibarat sebuah kekuatan terpendam yang bisa keluar sewaktu-waktu dalam diri Ryan.Hari ini Ryan ke Manado atau 3 hari setelah dia hajar anak buah Alex Soton dan ber
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos
Hagu ternyata komit dengan niatnya, uang dari kelompok Al Harun dulu, benar-benar dia bagi-bagikan buat siapa saja yang membutuhkan dan Boby, Sari dan Ona kini giliran yang dapat uang darinya.Begitu sampai di pelabuhan Muara Sungai Mekong, tanpa buang waktu, Hagu cs beli tiket kapal fery, kini tujuan mereka ke Malaysia.Kalau sebelumnya mereka melewati sungai, kini mereka melewati Laut Cina Selatan yang sangat luas dan wajah ke 4 nya kini lega bukan main, sebab sudah berhasil keluar dari mimpi buruk.Padahal sebelumnya bermimpi akan dapat kerja enak dan gaji tinggi, hingga rela meninggalkan negeri sendiri.Diam-diam sebenarnya masih banyak warga Indonesia yang terjebak di sana. Boby, Sari dan Ona hanyalah 3 orang yang beruntung selamat setelah bertemu Hagu.Akhirnya, sampailah mereka di pulau Penang Malaysia.Boby, Sari dan Ona terkejut, saat Hagu bilang akan bertahan di Malaysia, dia tak ikut menuju ke Indonesia.“Kalian lanjutkan saja perjalanan ke Indonesia, aku ingin bertahan di
Dari ngantuk berubah jadi lenguhan manja dan akhirnya Crea pasrah menikmati layanan istimewa pemuda ini, yang tak ada puas-puasnya melumat apem rimbunnya tersebut.Crea sudah mengajari bebek berenang dan kini si bebek makin tak terkendali."Tahu enak gini, si Arai dulu ku sikat juga,' batin Hagu makin mabuk olehh nafsunya sendiri.Hagu yang baru pertama kali adu kelamin, kembali mengajaknya melayang di babak kedua.Kali ini Crea tak segan ‘ajari’ bebek berenang ini gaya-gaya yang mendebarkan jakun. Hagu…makin tenggelam dalam indahnya percintaan dengan Crea.Yang namanya nikmat pasti ingin mengulang dan terus mengulang, begitu juga keduanya. Apalagi Hagu dia tak bisa ngerem nafsunya dengan Crea. Paginya Boby, Sari dan Ona saat sarapan yang di sediakan ART Crea sampai saling pandang, saat terdengar suara desahan di kamar sang tuan rumah.Sari dan Ona sampai senyum-senyum di kulum dan mereka agak memerah wajahnya. Boby yang aslinya ada dikit-dikit ngondek mengedipkan mata pada dua sahab
Tiba-tiba Hagu kaget, saat tangan lentik Crea meraba pahanya, jantung Hagu kontan berdetak kencang. Anehnya kali ini dia diam saja, beda saat bersama Arai, tangan wanita itu dulu di kibaskan.“Kata orang, kalau di pegang langsung tegang, benaran perjaka!” canda Crea sambil berbisik, sampai dengus nafasnya menerpa wajah Hagu.“Masa sih, jadi kamu belum percaya…coba pegang!” tantang Hagu mulai terbawa suasana.Dan Hagu kaget setengah enak, saat tangan lentik dan halus Crea mulai menyelusup ke celana nya dan memegang ularnya…dan dalam hitungan detik pelan-pelan mulai terbangun.“Benaran perjaka tuan, sudah mulai keras…besar lagi,” bisik Crea terkaget-kaget sekaligus mulai terbakar sendiri. Tak menyangka pemuda ini memiliki size di atas rata-rata. Tak ada apa-apanya milik mantan suamiku, batinnya.Di usianya yang sudah hampir 22 tahunan, inilah pertama kalinya benda keramat milik Hagu di pegang seorang wanita dewasa.Reaksi Hagu…diam saja menikmatin, tanpa ada niat menghentikan ulah nakal