BERSAMUBUNG
Kita tinggalkan dulu Ryan yang kini nasibnya sedang ditentukan Tuhan, nasib manusia memang tak yang tahu, begitu juga Ryan, musuhnya sudah yakin kalau pemuda nekat ini tewas dengan tubuh babak bundas.Kedua pahanya di tembak, badannya bonyok, bahkan tangannya patah. Musuhnya tak tanggung-tanggung menyiksa Ryan kali ini.Kita kembali dulu ke Jakarta, tepatnya di sebuah rumah supermewah, yang ada helipad di atap rumahnya dan garasi rumahnya yang bak showroom mobil-mobil mewah.Inilah rumah Komjen Chulbul Hasim Zailani, si Kabarharkam baru yang sempat jadi sorotan karena kekayaannya yang jauh mengalahkan kekayaan Kapolri, bahkan Presiden sekalipun.Yang di laporan LHKPN hanya…7 triliun, padahal aslinya berkali-kali lipat dari angka yang dilaporkan itu.Namun saat tahu siapa kakeknya, juga ayahnya semua orang kini maklum. Sebab Chulbuy turunan taipan dan tentu saja tak ada lagi yang curiga dengan kekayaannya tersebut.Tapi mulut nyinyir kembali mampir, melesatnya karir Chulbuy yang kini s
“Tumben naik heli, masih ada waktu 15 menitan lagi nih?” pria berbadan yang kekar ini menyahut.“Dyehh si Bruno, si Topan, eike di buat patung yaahhh, kok nggak dianggap,” si ngondek ini langsung merajuk. Topan dan Bruno sahabatnya yang bertubuh kekar langsung tertawa melihat kelakuan sohib ngondek mereka ini.“Ahh eloo bansirrrr maunya di atas daun mulu,” cetus Bruno mengejek si Ngondek ini, yang diejek sudah kebal, dia hanya mencebi cuek.“Yu ahh ke kelas, Bruno, Eza eh Zeze susah amat nyebut nama kamu, kenapa nggak pakai nama asli aja sih, Parjo! Ingat loh ini dosen killer, bisa-bisa ngulang tahun depan kita,” potong Topan.“Eitss…jangan keras-keras donk wece, masa nama asli eike di sebut cih, rumpi banget sihh,” sahut Zeze alias Parjo sambil bergaya kenes, Bruno terkekeh saja. “Dasar mulut lenjehhh,” olok Bruno. Tiga sahabat ini terus berjalan menuju kelas, sapaan mahasiswa lain mereka balas dengan senyum.Tentu saja yang paling di tegur siapa lagi kalau bukan si bintang kampus
Di bantu seorang guide berpengalaman, mereka mulai mendaki gunung Lokon, Zeze yang baru pertama kali ikut sudah bawel sejak tadi.Hawa makin lama makin dingin saja saat mereka sudah berjalan hingga 3 jam lebih dan sudah melewati 3 pos di gunung ini.“Ihh kalau tahu gini, mending eike tinggal di hotel deehh, dinginnya nggak nahan shyaaaiii,” gerutu Zeze, sambil perbaiki jaketnya.Topan dan Bruno juga si guide hanya tertawa saja tidak menggubris omongan Zeze yang makin bawel kayak nenek-nenek kehilangan konde.“Lihat ada sungai kecil, wuih indahnya, jernih lagi airnya,” tunjuk Topan, yang langsung bergegas menuju ke sungai kecil ini, di ikuti Bruno dan Omas, si guide.“Emank ye mau mandi, eike ogahh, mana dingin banget lagi,” cetus Zeze yang buru-buru ikuti ke 3 nya, takut tertinggal.Topan langsung cuci muka, wajahnya kontan segar, apalagi mereka sudah berjalan lebih dari 3 jam. Bruno juga ikutan cuci wajahnya.“Omas, kita istirahat dulu, capek nihh,” Zeze langsung ajukan usul, si guide
“Astinongggg…jadi…itu Bryan Dayoh, si mantan artis terkenal, yang dulu dikabarkan hilang di Timteng? Aneh kok bisa ada di sini dan badannya bonyok parah, dyehhh pusing deh eike?” ceplos Zeze, saat Topan akhiri kisahnya, tentang jati diri Ryan.“Nah, itu yang jadi misteri dan aku pun penasaran, kenapa Abang Bryan yang dulu pernah nolong Sandrina adikku dan aku sendiri, bisa berada di sini dan badannya sampai luka parah begitu,” sahut Topan yang benar-benar tak habis pikir.“Kita tunggu saja Topan, moga si Oma bisa obatin Bang Bryan, kita bisa bertanya semuanya…!” sela Bruno, sambil isap rokoknya, meredakan dingin yang sangat menusuk tulang.Ke empatnya kini menunggu harap-harap cemas di teras sederhana si Oma ini, yang masih sibuk mengobati Ryan di dalam rumah kecilnya ini.Omas ikut bantu nyalakan pelita, karena hari sudah gelap, padahal waktu masih menunjukan pukul 18.00 atau jam 6 sore.Teras sederhana ini mereka rubah jadi tempat tidur, karena ruangan rumah si Oma kecil dan sudah d
Topan yang bermaksud menelpon Balang, tak bisa apa-apa, ponselnya blank spot di desa terpencil ini. Tujuannya ingin beritahu sepupuya itu soal Ryan yang tak sengaja mereka temukan dan menolongnya di pegunungan ini.Topan sudah tahu dari cerita Balang, kalau sepupunya itu bersahabat dekat dengan Ryan. Topan Cs yang di minta Ryan agar Topan Cs panggil nama asinya mulai kini.Mereka bertiga tak enak bertanya apa alasannya, karena kondisi Ryan yang masih luka parah begini.Ryan langsung menggeleng saat Topan usul membawa Ryan untuk di obati ke rumah sakit dan akan menggotong tubuh Ryan hingga sampai ke lembah pegunungan ini, lalu naik ambulans menuju ke rumah sakit terdekat.“Aku di sini saja sampai sembuh, pengobatan alternative ini lebih cepat sembuhnya dibandingkan obat dokter, soal sakit tak apa, aku sudah biasa!” cetus Ryan, saat malamnya mereka kembali berbincang.“Baiklah, kami juga akan di sini temani Abang,” sahut Topan mengalah, diam-diam dia pun sama, pengobatan Oma Igun luar bi
Keajaiban terjadi, di hari ke 17 Ryan bisa bangkit sendiri bahkan kini berjalan perlahan-lahan, padahal kalau pakai ilmu kedokteran, bisa berbulan-bulan baru bisa begini.Zeze dan Bruno justru yang makin kagum termasuk Omas, sekaligus makin aneh sendiri, semakin sehat perawakan Ryan, si mantan artis ini bak di belah kampak saja dengan Topan.“Eike yakin si Bang Ryan ini sodari ye deh Pan, sebaiknya ye kelak tanyakan pada papa ye,” ceplos Zeze sambil berbisik, saat mereka melihat Oma Igun kembali pijit tangan dan kaki serta tubuh Ryan.“Iya sihh….eih ente ngomong apa sih!” sahut Topan kaget sendiri, hingga Bruno terkekeh dan buru-buru menjauh, karena Zeze melotot padanya.“Kayaknya besok pun udah bisa pulang, tapi jangan buru-buru di bawa jalan, atau angkat yang berat, perlahan-lahan saja yaa. Nanti aku kasih ramuan yang harus di habiskan selama 5 hari,” kata Oma Igun, wajah Ryan langsung senyum ceria.Walaupun brewoknya lebat, tapi justru makin terlihat berwibawa penampilannya saat ini
“Aku…jelmaan Ryan yang kalian siksa,” sahut Topan kalem, sekaligus ini tantangan buat ke 4 orang yang bertindak sok bak Bang Jago itu.Topan sudah beri kode agar Bruno bergerak. Bukk…bukkk plakkk plakkk!Tanpa banyak cincong, Bruno langsung serang dua orang yang berdiri paling dekat dengannya, dua orang lainnya juga kelabakan saat Topan juga mulai layangkan pukulan tipuan.Tapi dia buru-buru menunduk dan menyapu kaki keduanya. 4 orang ini kontan terjengkang."Idihh neekkk...kenapa pada berantem cihh, aduhh..mateee, ih kagakk, kena, hiyaaa, hajarr Hulk ih mas Bruno, mas Topannn hajarrr nekk," Zeze klepek-klepek tak karuan melihat pertarungan seru ini. “Awas Bruno mereka bawa pistol,” seru Topan, yang langsung bergerak cepat dan lakukan tendangan sambil melompat.Dua orang yang ingin mencabut pistol bergulingan, namun gerakan Topan dan Bruno lebih cepat.Bukkk! Tendangan Topan tepat kena perut orang itu, pistol terlepas dari genggamannya dan lenyap di balik semak-semak.Begitu juga Bru
“Pan, liat ada dua gadis cantik, kayaknya dari tadi menyaksikan aksi kita!” bisik Bruno, sambil menatap dua gadis berpakaian sederhana.Topan mendekati keduanya. “Siapa kalian…?” tanya Topan, sambil buru-buru simpan pistol tadi, juga dompet dan ponsel yang ia duga pasti milik Ryan.“Abang ini…adiknya pa guru Ryan yaa..?” sahut salah satu si gadis cantik, sambil menatap Topan.Topan tersenyum, pasti muridnya bang Ryan, dan wajahku yang agak mirip di kira sodaranya, pikirnya. Tanpa pikir panjang Topan mengangguk.“Aku Lira dan ini Puti, kemana pa Ryan-nya Bang? Kok sudah lama tak kelihatan?” kembali gadis yang bernama Lira ini bertanya.“Dyehhhh…kalau udah lihat yang bening-bening langsung ajee lupa teman,” tiba-tiba Zeze ikutan nimbrung.Lira dan Puti sampai kaget melihat ada lelaki tampan klemer-klemer begini. Lalu menahan tawa, tahu kalau si tampan ini ngondek.“Kita masuk ke rumah aja yuks! Hallooo paman tukang, kami kerabatnya Bang Ryan, kami masuk ke rumah yaa,” seru Bruno dan dua
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos
Hagu ternyata komit dengan niatnya, uang dari kelompok Al Harun dulu, benar-benar dia bagi-bagikan buat siapa saja yang membutuhkan dan Boby, Sari dan Ona kini giliran yang dapat uang darinya.Begitu sampai di pelabuhan Muara Sungai Mekong, tanpa buang waktu, Hagu cs beli tiket kapal fery, kini tujuan mereka ke Malaysia.Kalau sebelumnya mereka melewati sungai, kini mereka melewati Laut Cina Selatan yang sangat luas dan wajah ke 4 nya kini lega bukan main, sebab sudah berhasil keluar dari mimpi buruk.Padahal sebelumnya bermimpi akan dapat kerja enak dan gaji tinggi, hingga rela meninggalkan negeri sendiri.Diam-diam sebenarnya masih banyak warga Indonesia yang terjebak di sana. Boby, Sari dan Ona hanyalah 3 orang yang beruntung selamat setelah bertemu Hagu.Akhirnya, sampailah mereka di pulau Penang Malaysia.Boby, Sari dan Ona terkejut, saat Hagu bilang akan bertahan di Malaysia, dia tak ikut menuju ke Indonesia.“Kalian lanjutkan saja perjalanan ke Indonesia, aku ingin bertahan di
Dari ngantuk berubah jadi lenguhan manja dan akhirnya Crea pasrah menikmati layanan istimewa pemuda ini, yang tak ada puas-puasnya melumat apem rimbunnya tersebut.Crea sudah mengajari bebek berenang dan kini si bebek makin tak terkendali."Tahu enak gini, si Arai dulu ku sikat juga,' batin Hagu makin mabuk olehh nafsunya sendiri.Hagu yang baru pertama kali adu kelamin, kembali mengajaknya melayang di babak kedua.Kali ini Crea tak segan ‘ajari’ bebek berenang ini gaya-gaya yang mendebarkan jakun. Hagu…makin tenggelam dalam indahnya percintaan dengan Crea.Yang namanya nikmat pasti ingin mengulang dan terus mengulang, begitu juga keduanya. Apalagi Hagu dia tak bisa ngerem nafsunya dengan Crea. Paginya Boby, Sari dan Ona saat sarapan yang di sediakan ART Crea sampai saling pandang, saat terdengar suara desahan di kamar sang tuan rumah.Sari dan Ona sampai senyum-senyum di kulum dan mereka agak memerah wajahnya. Boby yang aslinya ada dikit-dikit ngondek mengedipkan mata pada dua sahab
Tiba-tiba Hagu kaget, saat tangan lentik Crea meraba pahanya, jantung Hagu kontan berdetak kencang. Anehnya kali ini dia diam saja, beda saat bersama Arai, tangan wanita itu dulu di kibaskan.“Kata orang, kalau di pegang langsung tegang, benaran perjaka!” canda Crea sambil berbisik, sampai dengus nafasnya menerpa wajah Hagu.“Masa sih, jadi kamu belum percaya…coba pegang!” tantang Hagu mulai terbawa suasana.Dan Hagu kaget setengah enak, saat tangan lentik dan halus Crea mulai menyelusup ke celana nya dan memegang ularnya…dan dalam hitungan detik pelan-pelan mulai terbangun.“Benaran perjaka tuan, sudah mulai keras…besar lagi,” bisik Crea terkaget-kaget sekaligus mulai terbakar sendiri. Tak menyangka pemuda ini memiliki size di atas rata-rata. Tak ada apa-apanya milik mantan suamiku, batinnya.Di usianya yang sudah hampir 22 tahunan, inilah pertama kalinya benda keramat milik Hagu di pegang seorang wanita dewasa.Reaksi Hagu…diam saja menikmatin, tanpa ada niat menghentikan ulah nakal