Sebuah nama sudah dikantongi Ryan, walaupun Rebecca Alona hanya sebut dugaan saja. Kalau nama itulah penggarong duitnya, tapi Ryan janji pelan-pelan akan selidiki nama ini.Rebecca malah terkaget-laget, saat Ryan dengan apa adanya bilang, sudah putuskan mundur permanen dari dunia entertainmen mulai saat ini.Apalagi saat ia lihat perannya sudah di gantikan artis lain, yang wajahnya tak mirip dengannya. Rebecca juga akui, pengganti Ryan aktor brbakat, walaupun soal ketampanan jauh lebih tampan Ryan.Rebecca juga cerita, Ryan sudah di putus kontraknya sebagai bintang susu formula, yang ia ketahui dari Mami Latini.“Waahh sayang banget Ryan, padahal kamu ada di puncak? Bahkan andai kamu comeback saat ini, pasti akan jadi kejutan besar, dan kamu bakalan jadi artis nomor 1 di Indonesia, apa nggak bisa di rubah?!!”Rebecca menyayangkan keputusan mengejutkan Ryan ini. Tapi Ryan sudah bulat dengan keputusan ini dan tak bakal mau mengubahnya.“Tak apa Rebecca, duniaku bukan di sana, jiwaku tak
Ting tong…Ryan yang baru saja pulang dari kampus lalu bergegas pintu ke depan, setelah bel rumahnya berbunyi hingga 3X.“Siapa yang datang bertamu ke rumahku yaa, perasaan hanya Balang dan Rebecca yang tahu aku tinggal di sini,” batin Ryan bingung sendiri.Begitu pintu di buka, Ryan sesaat terkejut, seraut wajah cantik jelita dengan tubuh semampai dan penampilan higtclass sudah berdiri di depannya.“Rose…!”“Boleh aku masuk Bryan eh Ryan?” Rose kini memandang Ryan yang walaupun tak seglowing dulu, apalagi kini wajah Ryan agak brewokan, tapi d matanya malah makin maskulin dan terlihat sebagai laki-laki sejati.“Masuklah Rose, tumben kamu tahu alamatku…juga nama asliku?” Ryan kini sengaja berbasa-basi, lalu tak ragu perlebar daun pintu, sehingga Rose melenggang masuk.“Bagus juga rumah kamu Ryan, biarpun minimalais tapi bikin adem dan nyaman…?” Rose sengaja tidak menjawab ucapan Ryan.Ryan tentu saja masih terkaget-kaget, Rose sudah tahu dan panggil nama aslinya, padahal seingatnya baru
Ryan jadi kasihan dengan Rose dan dia memperbolehkan wanita ini sementara tinggal bersamanya. Rose juga bilang 3 mobil mewah yang dulu di hadiahkan Alex Soton sengaja dia tinggal di apartemennya.“Apartemen itu juga milik Alex Soton, aku akan kembalikan semua fasilitas yang diberikan, daripada aku mati di siksa!” alasan Rose dengan wajah sendu.Ke rumah Ryan-pun Rose pakai taksi daring dan bawa 1 tas besar.Ryan tak pernah tahu, kalau Alex Soton aslinya paman dari Sandrina dan Topan, karena Alex Soton adik dari Cynthia, istri Chulbuy Hasim Zailani.Balang pun juga tak tahu soal jati diri pria jahat itu. Alex Soton sudah menjelma menjadi seorang mafia jaringan internasional.Tapi dia sebenarnya paling takut dengan iparnya ini, yang juga jenderal polisi bintang 2 dan sebentar lagi akan berbintang 3 untuk menjabat Kabaharkam Polri, Chulbuy terkenal tak pernah kompromi dengan penjahat.Chulbuy mulai mengendus bisnis-bisnis haram Alex Soton tersebut dan dia tinggal tunggu waktu untuk bekuk
Sampai 3X Ryan pencet bel, barulah terdengar langkah kaki menuju ke pintu, Ryan malam ini sengaja datang ke rumah Riona, dia bahkan belum berganti baju, dari klink usai bereskan soal Rose langsung menuju ke sini.“Silahkan masuk tuan, Riona-nya masih di kamar, nanti aku panggilkan,” kata si ART ini dan Ryan pun menunggu di sofa ruang tamu.Hampir 30 menitan Ryan menunggu, sampai kopi yang disediakan si ART tadi sudah separu dia seruput.Namun ia tetap sabar menunggu. "Mungkin masih marah...? Wanita....!" batin Ryan, lalu tak terasa bibirnya senyum sendiri. “Kupikir sudah lupa menuju ke sini?” Riona langsung sindir Ryan begitu muncul dan kini duduk di depan pria tampan yang terlihat masih sabar menunggunya.Ryan mencoba senyum, walaupun di matanya Riona tetap sangat cantik, tapi dari raut wajahnya terlihat ada beban di kedua pundaknya."Kayaknya ada sesuatu persoalan di hari Riona, entah apakah itu?" batinnya.Tanpa menunggu Riona bertanya, Ryan pun lalu ceritakan soal Rose. Seperti di
“Pak….pa…Ryan, bangun!”“A-apa…bangun?” Ryan gelagapan, di depannya bukan Riona yang cantik jelita dan dalam kondisi polos dengan body aduhai, tapi seorang perawat setengah tua berbaju putih yang membangunkannya.“Ini sudah malam pa, silahkan bapak istirahat, pulang dulu ke rumah. Pasien juga sudah tidur, rencana besok akan di lakukan operasi, kondisi pasein juga stabil kok,” kata si perawat ini lalu permisi.“Astagaaa….ternyata aku bermimpi bercinta dengan Riona. Gila, kok bisa-bisanya..?” batin Ryan tersadar.Ryan langsung tepuk jidatnya dan saat melihat arlojinya, waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, klinik ini juga sudah sepi.Ryan langsung berjalan dengan tubuh agak kleyengan, kepalanya mendadak berdenyut pusing.Niat untuk menemui Riona diurungkan. Tak sopan bertemu menjelang tengah malam ini, pikir Ryan.Melihat ada gerobak yang jualan minuman yang lewat depan klinik ini, Ryan batalkan masuk mobil, ia langsung memanggil si empunya gerobak ini.Dia beli minuman mineral dan juga
Operasi Rose berjalan lancar, Ryan benar-benar tunjukan perhatiannya buat sahabat seangkatannya di dunia entertainment ini.Walaupun tak ada cinta, tapi Ryan juga tak lupa perhatian Rose dulu, yang sering membantu dia di awal-awal karir. Biarpun mereka memang pernah ada skandal, tapi itu semua tidak di dasari cinta, kecuali nafsu.Ryan juga tetap waspada kalau-kalau ada anak buah Alex Soton yang mencari-cari Rose yang masih pemulihan pasca operasi.Tapi ingatannya tetap ke Riona, yang agaknya cemburu pada Rose, juga kadang perkataan orang tua yang ia temui malam-malam ini.“Astagaa…aku baru ingat, wajah si bapak tua itu mirip dengan penjual warung kopi di pinggiran jalan di kawasan hutan Pelabuhan ratu dahulu, saat aku dan Rebecca menyelematkan Sandrina,” gumam Ryan.“Siapakah orang itu sebenarnya yaa…?” lagi-lagi Ryan bergumam sendiri.“Duhh…duhh si ganteng lagi melamun ta iyaaa..?” terdengarlah suara seseorang yang membuyarkan lamunana Ryan.Ryan menoleh dan kaget melihat seorang pr
Kadir pun akui, bertemu Rose semangatnya langsung bangkit alias move on dan bertekad akan terus dekati artis idolanya ini.Dia juga percaya, Ryan dan Rose tak ada hubungan spesial. Ryan pun lega, dia percaya dengan sahabatnya, apalagi Kadir sama dengannya, seorang ahli beladiri yang tangguh. "Kalau anak buah si Alex Soton datang, ku hajar ampai bonyok," kelekar Kadir.Rose pun dengan apa adanya bilang senang dengan Kadir, begitu mendengar alasan Ryan yang akan ke Banjarbaru. Rose janji kelak akan menemui Riona, agar wanita yang di sukai Ryan itu tak salah paham."Semoga kalian makin dekat dan bisa terus bersama--" Mendengar kalimat Ryan ini, tanpa sadar Rose dan Kadir serempak bilang aminnn. Kemudian Ryan pun terbang ke Banjarbaru ke esokan harinya.Dia carter mobil menuju ke Batupecah, tujuannya langsung ke rumah Riona, dia masih ingat alamatnya.Namun alangkah kagetnya Ryan, Riona dan ayahnya sudah tak tinggal di rumah mewah ini lagi. “Dulu rumah ini d gugat oleh mantan istri tu
Ryan menatap lekat-lekat wajah remaja tampan kurus ini, namun karena fotonya ramai-ramai, yakni foto saat kelulusan, Ryan harus menajamkan mata menatap wajah remaja ini.“Namanya adalah…Chulbuy Affandi,” kata bu Desi dan membuat mata tajam Ryan membulat, tentu saja Ryan terkejut bukan main.“C-Chulbuy…kok nama depannya sama dengan nama ayahnya Topan dan Sandrina?” gumam Ryan tak sadar. Nama ujung tak membuat Ryan kaget, justru membuka misteri namanya sendiri.“Itulah yang ibu belum yakin, apakah Chulbuy yang ini sama nama dan orangnya dengan Chulbuy Hasim Zailani itu. Tapi rada aneh sih, masa iya Chulbuy yang ini adalah Chulbuy yang jenderal polisi berbintang 3 dan juga turunan taipan Brandon dan Brandi Hasim Zailani itu? Sebab seingatku, Chulbuy mantan suami ibumu ini berasal dari sebuah desa di pedalaman Batupecah!” sela Bu Desi.Setelah di rasa cukup berbasa-basi dengan mantan sahabat ibunya ini, Ryan pun permisi. Kembali bu Desi terharu dan bahagia, setelah Ryan tak ragu bagi-bagi
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos
Hagu ternyata komit dengan niatnya, uang dari kelompok Al Harun dulu, benar-benar dia bagi-bagikan buat siapa saja yang membutuhkan dan Boby, Sari dan Ona kini giliran yang dapat uang darinya.Begitu sampai di pelabuhan Muara Sungai Mekong, tanpa buang waktu, Hagu cs beli tiket kapal fery, kini tujuan mereka ke Malaysia.Kalau sebelumnya mereka melewati sungai, kini mereka melewati Laut Cina Selatan yang sangat luas dan wajah ke 4 nya kini lega bukan main, sebab sudah berhasil keluar dari mimpi buruk.Padahal sebelumnya bermimpi akan dapat kerja enak dan gaji tinggi, hingga rela meninggalkan negeri sendiri.Diam-diam sebenarnya masih banyak warga Indonesia yang terjebak di sana. Boby, Sari dan Ona hanyalah 3 orang yang beruntung selamat setelah bertemu Hagu.Akhirnya, sampailah mereka di pulau Penang Malaysia.Boby, Sari dan Ona terkejut, saat Hagu bilang akan bertahan di Malaysia, dia tak ikut menuju ke Indonesia.“Kalian lanjutkan saja perjalanan ke Indonesia, aku ingin bertahan di
Dari ngantuk berubah jadi lenguhan manja dan akhirnya Crea pasrah menikmati layanan istimewa pemuda ini, yang tak ada puas-puasnya melumat apem rimbunnya tersebut.Crea sudah mengajari bebek berenang dan kini si bebek makin tak terkendali."Tahu enak gini, si Arai dulu ku sikat juga,' batin Hagu makin mabuk olehh nafsunya sendiri.Hagu yang baru pertama kali adu kelamin, kembali mengajaknya melayang di babak kedua.Kali ini Crea tak segan ‘ajari’ bebek berenang ini gaya-gaya yang mendebarkan jakun. Hagu…makin tenggelam dalam indahnya percintaan dengan Crea.Yang namanya nikmat pasti ingin mengulang dan terus mengulang, begitu juga keduanya. Apalagi Hagu dia tak bisa ngerem nafsunya dengan Crea. Paginya Boby, Sari dan Ona saat sarapan yang di sediakan ART Crea sampai saling pandang, saat terdengar suara desahan di kamar sang tuan rumah.Sari dan Ona sampai senyum-senyum di kulum dan mereka agak memerah wajahnya. Boby yang aslinya ada dikit-dikit ngondek mengedipkan mata pada dua sahab
Tiba-tiba Hagu kaget, saat tangan lentik Crea meraba pahanya, jantung Hagu kontan berdetak kencang. Anehnya kali ini dia diam saja, beda saat bersama Arai, tangan wanita itu dulu di kibaskan.“Kata orang, kalau di pegang langsung tegang, benaran perjaka!” canda Crea sambil berbisik, sampai dengus nafasnya menerpa wajah Hagu.“Masa sih, jadi kamu belum percaya…coba pegang!” tantang Hagu mulai terbawa suasana.Dan Hagu kaget setengah enak, saat tangan lentik dan halus Crea mulai menyelusup ke celana nya dan memegang ularnya…dan dalam hitungan detik pelan-pelan mulai terbangun.“Benaran perjaka tuan, sudah mulai keras…besar lagi,” bisik Crea terkaget-kaget sekaligus mulai terbakar sendiri. Tak menyangka pemuda ini memiliki size di atas rata-rata. Tak ada apa-apanya milik mantan suamiku, batinnya.Di usianya yang sudah hampir 22 tahunan, inilah pertama kalinya benda keramat milik Hagu di pegang seorang wanita dewasa.Reaksi Hagu…diam saja menikmatin, tanpa ada niat menghentikan ulah nakal