BERSAMBUNG
Saat itu keduanya tak sengaja menatap Bryan yang asyik berbincang dengan Balang dan Dean, tak lama Topan datang dan terlihatlah ke 4 nya bersenda gurau dengan akrab.Kalau di urut, yang tertua Bryan yang kini sudah hampir 22 tahunan, lalu Dean yang sudah 20 tahunan, kemudian Balang yang 19 tahunan dan Topan yang kini hampir 18 tahunan. Tubuh mereka juga sama…sama-sama jangkung.Tanpa sadar, ke 3 pemuda ini aslinya…bersepupu dengan Bryan!“Bul, kamu perhatikan nggak 4 anak muda itu, aneh tapi nyata, kenapa ke 3 nya bisa akrab dengan Bryan…? Mata mereka juga mirip?”Chulbuy pun lama menatap wajah Bryan. Diam-diam dia membenarkan ucapan kakaknya ini.Sejak malam itu, Chulbuy secara diam-diam ingin selidiki latar belakang artis yang lagi nge-top dan penolong anak-anaknya si Bryan Dayoh ini…!Bryan langsung jemput Riona dan ayahnya Aby Sofyan di bandara, yang datang bertiga dengan seorang perawat.Bryan sempat jadi perhatian di bagian kedatangan, wajahnya yang familiar tentu saja di kenali
“Eh Bryan…ehh Ryan…padahal nama asli kamu itu lebih bagus loh, daripada Bryan Dayoh?” Riona tentu saja heran, kenapa Bryan mengubah nama aslinya.“Dulu itu…kan biar keren saja, makanya aku tambahin B dan nama Dayoh itu nama kakek dari pihak ibu,” aku Bryan blak-blakan.“Hmm…iya sih, tapi saran aku…kenapa kamu nggak rubah nama jadi ke nama asli saja Bry…eh Ryan!”“Anggap saja itu nama panggung, ntar kalau aku dah pensiun, aku akan kembali ke nama asli!” sahut Bryan enteng dan Riona tersenyum saja.Bryan pun lalu pamit dan kembali ke apartemennya. Seharian menemani Riona sudah membuat Bryan sadar…dia diam-diam mencintai Riona.Tapi…apa bisa mereka berjodoh, karena ibunya pernah menikah dengan Aby Sofyan, ayahnya Riona?Bryan sampai termenung di ruang tamu apartemen ini, kebetulan lagi ada foto close up Riona, yang terlihat menatap ke kamera dengan senyum manisnya.“Cantik dan dewasa…tapi…apa mungkin kita berjodoh…? Apakah Om Aby Sofyan merestui…walaupun agama di bolehkan? Apakah Riona ta
Di kantor polisi…suasana mendadak ramai. Ratusan wartawan media cetak dan elektronik, di tambah ratusan penggemar Bryan serbu Mapolsek ini, polisi sampai kewalahan bendung kedatangan mereka.“Baiklah mas Bryan, kami akan selidiki soal ini, silahkan anda berdua pulang dulu,” si kapolseknya.“Pak kapolsek…boleh saya pulang lewat pintu belakang?” Bryan yang tak sadar menggandeng Riona ini menolak lewat pintu depan.Dengan ‘wajah’ benjol dan membiru, Bryan malas di foto wartawan.“Tapi…apa mas nggak mau di wawancara wartawan? Kan mas publik figure, kesempatan nihhh biar makin viral!” canda si Kapolsek, yang Bryan liat...agak ngondek...!.“Tante...eh bapak aja deh yang hadapi mereka, saya mahh…ingin sesegeranya mengobati benjol di dahi dan biru di pipi ini,” elak Bryan, lalu buru-buru jalan dan Riona dan senyum saja meliihat wajah Bryan begitu."Ihh...bapak donk masa tante...gemess dyehh kamiuuu!" Si Kapolsek ini lalu tertawa.“Artis satu ini aneh, orang berebut pingin viral, ehh dianya mal
“Sabar yaa, aku belum siap…!” itulah selalu jawaban Riona. Padahal bukan hanya Bryan, Riona pun harus mencuci celananya kalau sudah bercumbu.Riona tak munafik, dia juga butuh kehangatan…tapi ada sesuatu yang membuatnya belum siap!Bryan pun tidak mau memaksakan kehendaknya.Kadang Riona kasian juga saat Bryan sudah hampir ingin memasukan pelatuknya, namun Riona tetap keukeuh dan menggeleng.Bryan pun fokus ke karirnya.Sesuai saran Riona, Bryan juga tak memikirkan dulu tante Weni dan satu orang lagi yang mempermaknya dulu.“Serahkan pada polisi, kamu fokus ke karir saja dulu,” kata Riona dan Bryan pun setuju.Dua film di selesaikan dalam waktu 4 bulanan dan begitu salah satu filmnya yang berjudul “Genk Sekolah” di putar di bioskop, film bertema kenakalan remaja ini lagi-lagi bomming.Tak rugi sang produser beri honor hingga 2,5 miliar plus bonus buat Bryan, film-nya sukses besar di bioskop tanah air.Inilah peningkatan luar biasa bagi Bryan, dulu di film pertama hanya di bayar 200 jut
Bryan sudah melupakan si tante yang suka berceloteh sepanjang mengudara dan ngomong selangit, serta 3 pramugari yang selalu salting dengannya dalam perjalanan dari Bandara Soetta-Sam Ratulangi.Begitu mendarat, Bryan kembali pasang penyamaran langsung carter mobil dan minta di antar ke Tomohon, tempat ibunya di makamkan.Begitu Bryan lepas lagi penyamarannya, si sopir mobil ini tentu saja kaget bukan main, nggak nyangka yang carter mobil MPV nya hari adalah artis terkenal yang tengah naik daun.“I-ini mas…Bryan Dayoh kan?” katannya agak terbata, sambil melihat Bryan lewat spion di dalam mobilnya ini.“Iya Om…tapi tolong bersikap santai saja ya, aku tak ingin di kenali siapapun saat ini,” sahut Bryan kalem.“S-siap mas Bryan duehh mimpi apa aku semalam, pasti putri ku yang idola’in mas nggak bakalan percaya, aku bawa si idolanya saat ini,” kata si Sopir ini, sambil kenalkan diri dengan nama Agow ini.Perjalanan dari Manado ke Tomohon agak tersendat karena lalu lintas ramai, Agow tak hen
Tiba-tiba masuk 3 orang laki-laki, yang dua berbadan kekar dan satunya agak tua, sehingga lift yang mampu menampung 8 orang ini jadi terasa sesak, karena berisi 6 orang sekaligus.Harum parfum ke tiga pramugari ini, setidaknya mampu menutup 'bau badan' dua orang berbadan kekar ini.Apalagi ketiga pramugari ini kenakan aju santai, jeans dan kaos, sehingga lekak-lekuk tubuh semampai mereka cukup menggiurkan...terutama bagi si lelaki setengah tua tadi.Matanya seolah melihat 3 makanan lezat yang siap di santap! Bryan awalnya cuek saja, topi sengaja dia pasang, juga masker di mulutnya. Namun dia mulai rasa aneh, apalagi ada ucapan dari si bapak yang agak tua ini bikin dia mulai curiga.“Lo ulang bedua, bawa ke tiga plamugali ini ke kamal owe, setelah itu lo ulang pelgi, owe mau nikmatin ketiganya sepuas hati owe. Kagak lugi owe bayar mehong sama bos kalian he-he,” kata pria ini dengan logat cadelnya.Tak di sangka kamar si cadel ini berada di lantai yang sama dengan Bryan.Bryan pun mu
“Minum kopi ini,” Bryan menyerahkan satu gelas kopi pada salah satu pramugari yang tidak terlalu mabuk kondisinya tadi dan inilah yang paling cantik di bandingkan dua rekannya.Wajahnya mengingatkan Bryan dengan artis lawas Asmirandah, nampak sekali dia asli daerah ini, kulitnya juga terang bersih.“Makasih Bang Bryan…namaku Melani, yang itu Erni dan Lola!” sahut si pramugari ini kenalkan diri dan ke 2 rekannya, setelah beberapa tegukan, kepalanya agak berkurang puyengnya.Melani yang tidak terlalu mabuk, tentu saja ingat sekaligus diam-diam kaget!Tak menyangka kalau penolongnya dan juga dua sahabatnya adalah artis yang tengah naik daun ini.Sedangkan kedua rekannya kini di rebahkan di ranjang, dalam kondisi masih fly dan benar-benar tak berdaya, entah apa yang di minum mereka, sehingga sampai begini.“Melani, apa yang terjadi, kenapa kalian bertiga hampir saja jadi korban dari si cadel itu,” tanya Bryan penasaran.“Awalnya, kami hanya ingin menikmati suasana pub, lalu kenalan dengan
Bryan yang tertidur di sofa terbangun saat mendengar ada isak tangis, rupanya ini sudah pagi. Makin heran lagi yang menangis justru Melani yang tengah di hibur Erni dan Lola. Setelah cuci muka di westapel Bryan langsung ke mini bar bikin kopi, sambil menatap heran kenapa Melani sampai menangis terisak-isak begitu.“Apa yang terjadi? Kenapa Melani menangis?” tanya Bryan ke Erni dan Lola.“Anu Bang…Melani barusan dapat kabar dari adiknya, rumah mereka kena gusur. Rumah keluarga Melani memang sejak dulu bermasalah dan hari ini pihak pengadilan lakukan penggusuran dengan meratakan rumah tersebut,” sahut Erni.Lola kemudian menambahkan cerita Erni, kalau saat ini keluarga Melani bingung mau tinggal di mana, tak ada keluarga dekat di Manado.“Rumahnya di kota ini juga Bang, berada di ujung Timur,” kata Erni menyela omongan Lola.“Kita jenguk sekarang ke sana! Kalian belum terbang juga kan saat ini?” ajak Bryan tiba-tiba.“Kami masih libur selama dua harian lagi Bang, setelah itu terbang k
“Bunga apalagi Aguan, kamu jangan main-main!” dengus Hagu menahan sabar sakaligus amarahnya. Karena si rentiner ini sekehendak hati menerapkan bunga hutang.“Bunga keterlambatan bayar!” kaat Aguan lagi sinis.Brakkkk….meja di depan Aguan pecah berantakan kacanya, Hagu yang terlanjur marah menggebrak meja kaca ini.Wajah Aguan kontan memucat. Anak buahnya 3 orang bermunculan, termasuk yang tadi terpincang-pincang.“Kamu jangan macam-macam Aguan!”“Hehh kamu mengancam aku?” Aguan tak mau kalah gertak dan inilah kesalahannya, tiba-tiba kaki kiri Hagu bergerak cepat.Bukkkk…ngekkkk!Sebuah tendangan keras menyamping membuat Aguan terjengkang dan setengah koit saking kerasnya tendangan ini. Hagu akhirnya tak bisa menahan sabar lagi, kakinya bergerakk cepat dan Aguan pun meringis menahan yang terasa nyiut-nyiut sampai ke kepala. Dua orang maju menubruk Hagu, tapi pemuda yang terlanjur marah ini sudah bangkit dan dia justru yang menyongsong dan duluan menyerang ke duanya.Plakk…plakk…bukkk
Hagu jambak rambut si begal ini setelah tadi ia copot helmnya. Wajah Hagu langsung mengeras, karena wajah si begal ini adalah…salah satu centeng si Aguan.Bukkk…bukkk…krakkkk!Saking kesalnya Hagu langsung patahkan kedua tangan si begal ini.“Biar kamu tak lagi membegal,” desis Hagu, lalu sekali tendang, si begal ini pingsan seketika, kemudian Hagu pergi begitu saja dan mendekati si ojek tadi.Kontan aksi heroik Hagu bikin semua orang melongo dan Hagu pun dengan santainya meminta si tukang ojek tadi lanjutkan perjalanan kembali ke rumah Sofia.Warga pun beramai-ramai angkat tubuh si begal dan sebagian menelpon polisi. Andai tak pingsan, bisa jadi si begal ini akan di permak habis-habisan dan nasibnya mungkin lebih buruk lagi.Wajah si tukang ojek berseri-seri, Hagu tanpa ragu beri dia satu juta, padahal tadi ‘sewanya’ hanya 50 ribu. “Kalau mau jalan lagi, jangan sungkan cari saya di pangkalan Om Jagoan,” seloroh si ojek, Hagu hanya angkat jempol.“Loh Mas Hagu, kenapa lengan bajumu co
Hagu tak mau menunda, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pun tanya di mana ada bank terdekat.Sofia lalu sebutkan bank yang dimaksud dan Hagu permisi. “Kamu jangan khawatir aku pasti balik lagi ke sini. Pokoknya rumah ini tetap milikmu dan sertifikatnya akan aku ambil,” janji Hagu.Sofia yang awalnya was-was lega, dia juga yang beri Hagu petunjuk gunakan ‘ojek’ menuju bank tersebut agar cepat.Apalagi saat dia melihat di kamar depan, tas ransel Hagu masih ada, yang artinya si pemuda yang tak sengaja ia temui ini tak bakal berbohong.Hagu juga melakukan ini karena ‘ucapan’ Datuk Hasim Zailani yang secara ajaib menemuinya dan minta dirinya segera bantu Sofia, terlebih ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Brandon dan Radin, ini yang bikin Hagu sangat penasaran.“Bikin bulu kudukku merinding saja, selain di mimpi, Datuk juga bisa muncul terang-terangan di depanku, ni orang pakai ilmu apa sih…? Terus kenapa aku selalu di kait-kaitkan sebagai salah satu keturunannya…? Masa iya
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos