BERSAMBUNG
Namun Brandi sengaja tidak mau membuka soal Oktaviani, anak Audrey, yang dikatakan wanita itu anak mereka.Ini akan jadi rahasiaku...dan Audrey, pikir Brandi, sambil menghela nafas panjang, tak menyangka hubungannya dengan Audrey membuahkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia hampir 5 tahunan.“Jadi…kamu akan ke Paris, untuk cari tahu pembunuh ibu kandungmu?” tanya Panjul terkaget-kaget.“Iya Njul…jadi begitulah riwayat aku, tolong ini dirahasiakan!” pinta Brandi, yang memang sengaja terbuka pada sahabatnya ini, tentang jati dirinya yang ternyata hanya anak angkat Ela dan Alfonso.“Baiklah Brandi, kamu memang harus tuntaskan soal ini. Soal Audrey, biarlah aku akan beritahu kelak ke ibunya, semoga nanti Bibi Uni bisa ke Jakarta dengan Oktaviani dan Audrey bisa sadar dari komanya,” kata Panjul lagi.Hari ketiga pasca Audrey koma, Brandi pun berangkat ke Paris gunakan pesawat komersil, dia juga sudah membantarkan lagi uang hingga 2,5 miliaran di rumah sakit ini, juga memberi Pa
Brandi pun jalan-jalan di kota mode ini, dia ingin menenangkan pikirannya yang mumets ini. Tak terasa, Brandi sampai di kantor kepolisian Paris, dia pun mampir.Tujuannya pastinya ingin tahu misteri kematian ibundanya.“Anda ingin cari tahu soal pembunuhan madam Puteri Zeremiah?’ tanya si polisi di bagian informasi. Brandi langsung mengangguk.“Anda…mending temui Brigader Jenderal Donovan, sebab beliaulah yang dulu itu menangani kasus itu!”Si polisi bagian informasi ini pun sebutkan kantornya, di markas besar kepolisan Prancis, yang berada di bawah kendali Kementerian Dalam Negeri negara ini.Menemui seorang jenderal polisi, Brandi kudu tahan sabar. Hampir 4,5 jam dia menunggu barulah ajudannya meminta dia masuk ke ruangan Brigjen Donovan.Pria sudah terlihat tua, rambutnya pun sudah habis dan kini tampil plontos, agaknya sebentar lagi akan segera pensiun.Setelah kenalkan diri, juga pangkat di angkatan penerbang, Brigjen Donovan langsung bertanya apa tujuan Brandi.“Whattsss…jadi kam
Brukkk…tubuh pingsan Brandi di lemparkan begitu saja di sebuah ruangan, pistol dan dompetnya di ambil mereka.Bahkan pakaiannya sengaja di lucuti, sehingga kini hanya tertinnggal celana boxer doang. Padahal ini lagi musim dingin dan cuaca Paris kini berada di angka minus 5 derajat celcius.Tangan dan kaki Brandi kini di ikat tali plastik yang sangat kuat, tangannya bahkan di telikung ke belakang.Byurrr….air yang dinginnya kalahkan es di guyurkan ke wajah Brandi, hingga pemuda ini gelagapan dan sadar dari pingsannya.Sesaat Brandi nanar dan lama-lama barulah dia tahu sekarang berada di ruangan yang tak begitu luas, di depannya sudah berdiri…Mr M, Chino Hamuk dan 3 anak buah mereka di belakang dan yang sengaja menculiknya setelah bertemu Jenderal Donovan, serta satu orang yang barusan menyiramkan air dingin tadi. “Bangsat sekali kamu Brandi, berani khianati aku dan juga acak-acak markas Chino Hamuk di Papua dan curi berton-ton emas putih, sekarang nyawa kamu tergantung jawabanmu,” den
Dua ekor anjing menyalak nyaring, seorang pemburu menatap keheranan kenapa anjingnya menyalak sangat nyaring.Dia pun buru-buru mendatangi kedua anjingnya dan alangkah kagetnya dia, saat melihat ada tubuh manusia membiru dan babak belur dalam kondisi pingsan.Saat mengecek dada orang ini yang tak lain adalah Brandi, pemburu ini menganggukan kepala. Dia lalu lepas jaketnya dan selimuti tubuh Brandi.Lalu dengan tenaganya yang kuat, dai pondong tubuh ini dan membawanya pergi dari sana.Pemburu ini tinggal di sebuah pondok yang tak terlalu besar di hutan perkebunan yang berjarak hampir 60 kilometeran dari Kota Paris.Hutan Guyana di Prancis ini memiliki luas hutan 7.500.000 hektar lebih. Guyana Prancis merupakan wilayah seberang laut Prancis yang memiliki banyak hutan.Istrinya kaget saat melihat suaminya datang-datang bawa tubuh orang tak di kenal dengan kondisi babak belur dan pingsan, hampir mati.“Ami, dia kutemukan di hutan itu, entah siapa orang ini, tapi orangnya masih hidup. Fisik
Bengkak-bengkak di wajah Brandi mulai kempis, tinggal matang biru yang belum hilang. Tangannya pun kini sudah di lepas ikatannya dan bisa pelan-pelan di gerakan.Pengobatan alternative Henry ini mirip pas Sahar di desa Dudur, tulang-tulang bisa nyambung alami tanpa operasi.“Woww…kamu handsome juga Brandi, ku pikir wajahmu sangat menyeramkan?” canda Henry, yang puas bisa membuat Brandi kini makin sehat dan kini mulai belajar jalan juga gunakan kedua tangannya, walaupun masih harus hati-hati.Diam-diam Brandi bertekad akan bayar lunas perbuatan Mr M dan anak buahnya ini.Selama tinggal dengan Henry dan Ami istrinya, Brandi bisa dengan cepat belajar bahasa Prancis.Henry dan Ami punya dua anak, tapi keduanya sudah berumah tangga dan tinggal dengan keluarga masing-masing. Hanya 3 bulan sekali atau lebih anak dan mantunya menjenguk ke sini bersama anak-anak mereka.Saking berterima kasihnya, Brandi tak sungkan izin untuk jadi ‘anak angkat’ pasangan tua ini, tentu saja Henry dan Ami tak keb
Brandi sengaja sewa sebuah mobil dan dia kini mulai memantau sebuah bangunan yang mirip sebuah flat.Es makin tebal saja turunnya, Brandi sengaja pakai topi kupluk dan jas panjang yang menjuntai hingga ke lutut. Untuk halau cuaca yang menusuk tulang, saking dinginnya.Dari ponsel murahnya dia melihat cuaca sudah di bawah minus 9, sehingga salju lumayan tebal turunnya.Ini hari ke 3 Brandi intai musuh-musuhnya dan dia tetap sabar menanti dan yakin pasti orang yang ia cari muncul.Kesabaran Brandi berbuah manis, saat Brandi melihat seorang pria yang ia ingat sekali ini salah satu anak buah Mr M. Pria ini terlihat berjalan bersama seorang teman wanitanya dan baru saja keluar dari mobil.Brandi mengikuti pria dan teman wanitanya ini yang masuk ke dalam flat tersebut. Si pria ini dan teman wanitanya menuju ke lantai 2, dengan jalan kaki.Baru saja dia akan membuka pintu. Blukk…sebuah pukulan keras di tengkuk membuatnya klenger dan pingsan seketika, si teman wanitanya langsung menjerit kaget
“Tak perlu ku siksa, cukup bikin dia cacat saja,” batin Brandi puas dan tidak memperdulikan bagaimana takutnya si wanita bule melihat aksi kejamnya ini.Tak menyangka walaupun berwajah tampan, tapi saat beraksi sangat sadis dan tak kenal ampun.Setelah melepaskan ikatan di kaki dan tangan orang yang pingsan ini, Brandi lalu berdiri lagi. Dan membiarkan si pria bule ini terkapar.“Kamu ikut aku keluar dari sini..!” kata Brandi dan ia sengaja kontak nomor darurat dan sebut ada orang yang tertembak di flat ini. Gaya santai Brandi ini bukannya bikin si wanita bule ini tenang justru dia makin ketakutan!“Apakah dia akan mati?” kata si bule ini dengan wajah pucat pasi, suaranya bergetar tanda masih syok dan ketakutan.“Tidak…sebentar lagi tim kesehatan akan tiba ke sini untuk menolongnya, aku sudah kontak tadi, paling setelah ini dia cacat seumur hidup!” sahut Brandi dingin.Kini mereka jalan berjejer menuju ke mobil yang Brandi parkir di seberang flat dan sudah 3 harian dia sabar menunggu
“Silahkan kamu tidur di ranjang, aku di sini saja,” kata Brandi, sambil menunjuk kursi yang ada di pojokan motel ini.Kate yang masih takut-takut dengan Brandi tak banyak tanya lagi, diapun beristirahat dan mencoba bersikap tenang.Melihat Kate yang bolak-balik gelisah, Brandi tersenyum sendiri.“Tak usah takut, aku bukan orang yang kamu pikirkan, tidur saja, aku akan menjagamu,” kata Brandi lagi dan dia pun menselonjorkan kaki, lalu pejamkan mata.Akhirnya Kate pun bisa tenang dan tak lama kemudian benar-benar bisa tidur dengan nyenyak.Brandi terbangun, saat melihat alrlojinya saat ini sudah pukul 6 pagi, tapi cuaca masih gelap. Brandi pun keluar dari motel dan tak lama kembali dengan dua roti dan wine dengan kadar alkohol ringan.Kate rupanya ikut terbangun, sambil menikmati roti dan wine, Kate pun memberanikan diri bertanya, kenapa Brandi kejar dua orang tersebut.“Mereka sudah membunuh mantan kekasihku Kate, tapi sebelumnya menyiksanya, juga mereka menyiksaku, hampir aku tewas sea
“Bunga apalagi Aguan, kamu jangan main-main!” dengus Hagu menahan sabar sakaligus amarahnya. Karena si rentiner ini sekehendak hati menerapkan bunga hutang.“Bunga keterlambatan bayar!” kaat Aguan lagi sinis.Brakkkk….meja di depan Aguan pecah berantakan kacanya, Hagu yang terlanjur marah menggebrak meja kaca ini.Wajah Aguan kontan memucat. Anak buahnya 3 orang bermunculan, termasuk yang tadi terpincang-pincang.“Kamu jangan macam-macam Aguan!”“Hehh kamu mengancam aku?” Aguan tak mau kalah gertak dan inilah kesalahannya, tiba-tiba kaki kiri Hagu bergerak cepat.Bukkkk…ngekkkk!Sebuah tendangan keras menyamping membuat Aguan terjengkang dan setengah koit saking kerasnya tendangan ini. Hagu akhirnya tak bisa menahan sabar lagi, kakinya bergerakk cepat dan Aguan pun meringis menahan yang terasa nyiut-nyiut sampai ke kepala. Dua orang maju menubruk Hagu, tapi pemuda yang terlanjur marah ini sudah bangkit dan dia justru yang menyongsong dan duluan menyerang ke duanya.Plakk…plakk…bukkk
Hagu jambak rambut si begal ini setelah tadi ia copot helmnya. Wajah Hagu langsung mengeras, karena wajah si begal ini adalah…salah satu centeng si Aguan.Bukkk…bukkk…krakkkk!Saking kesalnya Hagu langsung patahkan kedua tangan si begal ini.“Biar kamu tak lagi membegal,” desis Hagu, lalu sekali tendang, si begal ini pingsan seketika, kemudian Hagu pergi begitu saja dan mendekati si ojek tadi.Kontan aksi heroik Hagu bikin semua orang melongo dan Hagu pun dengan santainya meminta si tukang ojek tadi lanjutkan perjalanan kembali ke rumah Sofia.Warga pun beramai-ramai angkat tubuh si begal dan sebagian menelpon polisi. Andai tak pingsan, bisa jadi si begal ini akan di permak habis-habisan dan nasibnya mungkin lebih buruk lagi.Wajah si tukang ojek berseri-seri, Hagu tanpa ragu beri dia satu juta, padahal tadi ‘sewanya’ hanya 50 ribu. “Kalau mau jalan lagi, jangan sungkan cari saya di pangkalan Om Jagoan,” seloroh si ojek, Hagu hanya angkat jempol.“Loh Mas Hagu, kenapa lengan bajumu co
Hagu tak mau menunda, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pun tanya di mana ada bank terdekat.Sofia lalu sebutkan bank yang dimaksud dan Hagu permisi. “Kamu jangan khawatir aku pasti balik lagi ke sini. Pokoknya rumah ini tetap milikmu dan sertifikatnya akan aku ambil,” janji Hagu.Sofia yang awalnya was-was lega, dia juga yang beri Hagu petunjuk gunakan ‘ojek’ menuju bank tersebut agar cepat.Apalagi saat dia melihat di kamar depan, tas ransel Hagu masih ada, yang artinya si pemuda yang tak sengaja ia temui ini tak bakal berbohong.Hagu juga melakukan ini karena ‘ucapan’ Datuk Hasim Zailani yang secara ajaib menemuinya dan minta dirinya segera bantu Sofia, terlebih ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Brandon dan Radin, ini yang bikin Hagu sangat penasaran.“Bikin bulu kudukku merinding saja, selain di mimpi, Datuk juga bisa muncul terang-terangan di depanku, ni orang pakai ilmu apa sih…? Terus kenapa aku selalu di kait-kaitkan sebagai salah satu keturunannya…? Masa iya
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos