Beranda / Urban / Pewaris Naga Majapahit / Bab 93. AJIAN SIREP BEGANANDA

Share

Bab 93. AJIAN SIREP BEGANANDA

Penulis: MN Rohmadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-11 08:08:13

Bab 93. AJIAN SIREP BEGANANDA

Semua orang tersenyum kearah Jaka Kelud, tatapan mereka terlihat lebih bersahabat setelah di traktir makan malam di Cafe Flamboyan yang terkenal mahal dan mewah.

Waktu berlalu dengan cepat, semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing setelah acara makan malam ini.

Malamnya Jaka sedang tidur dengan nyenyak di kamarnya ketika tiba-tiba di dalam kamarnya muncul sesosok pria tua dengan pakaian serba putih selayaknya pertapa jaman kuno.

“Betapa nikmatnya anak manusia ini, dia bisa tidur dengan nyenyak seakan tidak tahu kalau sesuatu akan terjadi padanya,” ucap pria tua yang berdiri di kamar Jaka Kelud yang entah darimana datangnya sambil menatap ke arahnya.

“Kamu sangatlah bodoh anak manusia, apa kamu belum menyadari kalau di dalam tubuhmu ada kekuatan yang sangat hebat? Sampai kapan kamu akan menyadari kekuatan yang kamu miliki?”

Jaka yang sedang tidur nyenyak menghiraukan kedatangan pria tua yang ternyata adalah mbah Ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 94. TANGIS INTAN

    Bab 94. TANGIS INTAN Dengan hati-hati Jaka berusaha turun dari tempat tidurnya, akan tetapi dia merasa aneh ketika kakinya sama sekali tidak bisa turun dari tempat tidur. “Aneh, kenapa saya tidak bisa turun dari tempat tidur?” desis Jaka Kelud sambil menggerayangi tempat dia tidur. “Aneh, kenapa saya seperti sedang tidur di atas lantai? Betul, saya tidur di lantai.” Dengan ekspresi bingung, Jaka segera mengucek kedua matanya dan mengerjap-ngerjapkan untuk membiasakan diri dengan kegelapan. Akhirnya setelah beberapa kali mengerjapkan kedua matanya, meskipun remang-remang, Jaka bisa melihat keadaan kamarnya. “Apa? Bagaimana bisa? Kenapa kamarku hancur begini? Apakah ada maling yang masuk kekamarku?” Dengan panik Jaka berusaha berdiri dan dengan meraba-raba dia mencari ponselnya, tapi apa yang dicarinya sama sekali tidak ketemu. Akhirnya Jaka berusaha berjalan ke arah jendela untuk membuka kain gorden dan membuka jendelanya, agar ada cahaya yang masuk

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 95. PASANGAN ROMANTIS

    Bab 95. PASANGAN ROMANTIS Perlahan kristal bening bergulir di pipi halus Intan membentuk garis vertikal, membuat Jaka tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Jaka, apakah saya sama sekali tidak berarti di hatimu?” isak Intan dengan suara yang mulai parau dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya. Jaka semakin kebingungan melihat sikap Intan yang terlihat aneh, perlahan Jaka mengusap air mata yang membasahi wajah Intan dengan selembar tisu yang diambil dari tas ranselnya. “Kamu jangan menangis disini, apa kamu tidak malu dilihat banyak orang?” bujuk Jaka sambil mengeringkan airmata di pipi Intan dengan lembut. Bukannya menghentikan tangisnya, airmata yang jatuh dari mata indah Intan malahan semakin derasnya saja, melihat apa yang dilakukan Jaka kepadanya “Jaka, apa kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku jika kamu tidak datang?” ucap Intan sambil menggenggam erat tangan kanan Jaka yang memegang tisu. Jaka hanya bisa diam, dia yan

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 96. KEBINGUNGAN WAHYU

    Bab 96. KEBINGUNGAN WAHYU “Betapa bodohnya aku, kemana coba saya harus mencari bengkel atau toko yang menjual kaca jendela mobil ini? Ponsel saja tidak ada, apakah saya harus beli ponsel dulu? Yups betul sekali, saya harus mencari ponsel terlebih dahulu, baru nanti bisa searching mencari bengkel atau toko yang menjual kaca jendela mobilku.” Setelah menentukan pilihan, kemana dia harus pergi. Jaka segera mengarahkan mobilnya menuju Mall besar yang tak jauh dari Universitas Matrix. Sesampainya di Mall yang dituju dan memarkirkan mobilnya, Jaka segera pergi ke toko ponsel yang ada di lantai tiga. Penampilan Jaka yang terlihat rapi membuat pelayan toko ponsel melayani dengan ramah, “selamat datang di toko kami, apakah bapak mencari ponsel?” Jaka hanya menganggukkan kepalanya saja sedangkan matanya menatap ke deretan ponsel yang masih ada di dalam kardus dan tertata rapi di etalase. “Mbak, saya mencari Iphone lima belas apa ada?” ucap Jaka sambil terus mencari p

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-13
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 97. DI USIR

    Bab 97. DI USIR “Terima Kasih,” ucap Jaka kemudian pergi ke meja kasir untuk membayar biaya penggantian kaca jendela mobilnya. Saat keluar dari meja kasir, Jaka menghampiri mekanik Wahyu dan memberikan uang tips sebanyak seratus ribu rupiah sambil berkata, “terimakasih sudah mengganti kaca mobilku, oh iya ini ada sedikit uang untuk memberi rokok.” Wahyu yang awalnya berwajah masam kepada Jaka, seketika menjadi cerah wajahnya ketika di beri uang tips dan berkata, “terimakasih Om.” Jaka hanya tersenyum kemudian masuk ke mobilnya dan pergi dari bengkel spare part mobil mewah ini. Keluar dari bengkel, Jaka tidak langsung pulang kerumah, akan tetapi mencari kado untuk hadiah ulang tahun Intan. Akhirnya Jaka pergi ke toko tas bermerek di sebuah gerai tas mewah yang ada di sebuah Mall besar. “Selamat datang di toko kami, Om mau mencari tas untuk siapa?” tanya seorang pelayan toko dengan ramah, ketika melihat Jaka memasuki toko mereka. “Saya sedang men

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-14
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 98. DIHINA SEPERTI PRAJURIT KALAH PERANG

    Bab 98. DIHINA SEPERTI PRAJURIT KALAH PERANG Dengan ekspresi wajah yang jelek Jaka berdiri diam untuk mencari Intan, akan tetapi orang yang dicarinya tak kunjung terlihat. “Pergi! Rumahku haram di injak kaki kotormu!” bentak Camelia Widodo yang semakin emosi melihat Jaka tidak kunjung keluar dari rumahnya. “Ha ha ha ha… orang kaya baru dari kampung memang tidak pantas bergaul dengan orang kaya sejati seperti kita tante.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang tertawa dan berkata memanasi suasana yang sudah panas. Jaka mengerutkan keningnya ketika melihat orang yang baru saja menertawakan dirinya, seketika dia tahu siapa orang yang baru saja tertawa dan berdiri di samping Camelia Widodo. Ternyata orang yang baru saja mencampuri urusan Jaka dan orang tuanya Intan adalah Ridwan, pria yang terobsesi untuk memiliki Intan Warsito. Sebenarnya sebelum Jaka bertemu dengan Camelia Widodo, Ridwan yang sedang ngobrol dengan rekannya di sudut ruangan sangat te

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-14
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 99. MEMASUKI DIMENSI LELEMBUT

    Bab 99. MEMASUKI DIMENSI LELEMBUT “Om anda mau kemana? Apakah acaranya sudah selesai?” sapa satpam keluarga Warsito. “Belum, saya ada acara lainnya lagi jadi saya pulang lebih awal,” sahut Jaka menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya. Dari saku celananya Jaka mengambil uang lima puluh ribu rupiah dan memberikannya kepada satpam itu. “Ini untuk beli rokok,” ucap Jaka yang berlalu menuju mobilnya setelah memberikan uang tips. “Terimakasih Om,” senyum bahagia terpancar di wajah satpam keluarga Warsito mendapatkan uang tips dari Jaka. Dengan hati kesal, Jaka menjalankan mobilnya meninggalkan komplek perumahan Elite Pondok Indah untuk pulang ke rumahnya. Sementara itu di rumah keluarga Warsito sepeninggal Jaka Kelud, terlihat Intan menangis dan berlari ke lantai dua menuju kamarnya, meninggalkan teman-temannya yang berdiri dengan ekspresi bingung melihat kejadian yang baru saja terjadi. “Ibu jahat…..” ucap Intan yang terus berlari ke lantai d

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-15
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 100. KAMPUNG LELEMBUT

    Bab 100. KAMPUNG LELEMBUT Dan Jaka baru kali ini mengetahui kalau di Indonesia ada batu sebesar ini yang digunakan sebagai landasan jalan umum yang sangat lebar di depannya. “Aneh dan ajaib, ada jalan yang terbuat dari batu candi di sepanjang jalan ini. Dimanakah sebenarnya saya pada saat ini? kenapa di sekelilingku yang terlihat hanya hutan yang sangat lebat dengan pohon sebesar rumah yang begini banyak?” Setelah mengunci pintu mobilnya, Jaka segera berjalan mencari pertolongan warga yang bisa memperbaiki mobilnya. Saat sudah berjalan cukup jauh hingga mobilnya saja sudah tidak terlihat, Jaka mendengar suara kuda yang sedang berjalan ke arahnya. Jaka segera menepi untuk melihat apa benar kalau yang didengarnya adalah suara kaki kuda. Plak… tuplak… tuplak…. Suara kaki kuda semakin dekat saja hingga akhirnya Jaka melihat ada seorang penunggang kuda yang sedang berjalan ke arahnya. Yang membuat Jaka merasa aneh adalah pakaian yang dikenakan pen

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-15
  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 101. SALING TAK PERCAYA

    Bab 101. SALING TAK PERCAYA “Montir mobil?” sahut pria paruh baya yang ditanyai Jaka dengan ekspresi bingung terlihat di raut wajahnya. Jaka menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau apa yang ditanyakan adalah benar adanya. “Apa itu montir mobil? Saya tidak mengerti apa yang kamu tanyakan. Oh iya, memangnya kamu siapa dan datang dari mana?” tanya pria paruh baya yang bertelanjang dada dan sedang duduk di teras rumah model kuno yang terbuat dari kayu jati. Kali ini Jaka yang dibuat bingung dengan jawaban pria paruh baya itu. Kemudian Jaka berkata, “Perkenalkan saya Jaka Kelud dari kota Jakarta. Kedatangan saya kemarin, karena saya mau minta tolong kalau mobil saya mogok dan tidak bisa berjalan.” “Mobil? Mogok? Sebenarnya apa yang kamu sebutkan tadi, saya benar-benar tidak tahu apa maksudnya.” Nafas dada tampak berat mendengar jawaban pria tua itu, yang Jaka tidak tahu sebenarnya dia sedang bertanya pada sosok Lelembut di depannya yang merupakan soso

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-16

Bab terbaru

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 129. PEMBUNUH BAYARAN HANTU HITAM

    Bab 129. PEMBUNUH BAYARAN HANTU HITAM Perlahan Jaka memasuki gudang tua yang sudah dipenuhi dengan mayat pembunuh bayaran, dan mendekati sopir truk tronton yang sedang meringkuk seperti udang sambil merintih kesakitan, setelah dilempar oleh Jaka sejauh sepuluh meter. “Argh… ampun….” Dengan tubuh gemetaran dan jeritan kesakitan, karena tubuhnya diinjak kaki Jaka Kelud, sopir truk tronton yang sudah kehilangan keberaniannya memohon ampun sambil tetap berbaring di atas lantai. “Sekarang kamu mau mengganti mobil saya yang rusak atau tidak?” “Ampun, ampun Boss. Saya tidak punya uang untuk mengganti mobil anda yang rusak,” kata sopir truk tronton dengan wajah ketakutan menatap Jaka yang sedang memandangnya dengan ekspresi kejam terbayang di tatapan wajahnya. Sampai saat ini Jaka masih diselimuti euforia kekuatan dari Siluman Naga jaman Majapahit, sehingga dia belum sadar, kalau dia baru saja membunuh puluhan nyawa manusia dengan begitu mudah. Sesungguh

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 128. MENGHADAPI PULUHAN PELURU TAJAM

    Bab 128. MENGHADAPI PULUHAN PELURU TAJAM Bugh… bugh… bugh… bugh….! “Argh…!!” Lolongan jerit kesakitan menggema saling susul menyusul, ketika tubuh puluhan pembunuh bayaran yang menyerangnya di terbangkan oleh tendangan tanpa bayangannya yang seperti baling-baling melemparkan tubuh mereka. Dalam sekejap puluhan pembunuh bayaran itu sudah bergelimpangan sejauh sepuluh meter di dalam gudang tua. Jaka menatap semua orang dengan tatapan sinis, dimata Jaka semua orang bertubuh kekar itu hanyalah boneka kayu yang tidak perlu di waspadai sedikitpun. Sementara itu sopir tronton yang masih diangkat tubuhnya oleh Jaka, wajahnya memucat melihat betapa tangguhnya pemuda kurus yang sedang menyandera dirinya. Tubuhnya gemetar ketakutan, bahkan di bagian bawah perutnya sudah ingin keluar mengeluarkan cairan berbau asam. Hanya saja sopir truk tronton masih berusaha menahannya, andai dia tidak bisa menahan keluarnya cairan pesing dari bagian bawah p

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 127. DIKEPUNG PULUHAN PEMBUNUH BAYARAN

    Bab 127. DIKEPUNG PULUHAN PEMBUNUH BAYARAN Jaka yang mendengar perkataan sopir truk tronton itu segera bergerak, bagaimanapun juga dia tidak akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap jika mereka sudah pergi meninggalkan gudang tua ini. Dalam sekejap sosok Jaka sudah berdiri di tengah pintu gudang, begitu pintu gudang terbuka puluhan pria yang ada di dalam gudang tua tampak terkejut melihat kehadirannya. “Siapa kamu? Kenapa kamu berada di tempat ini?” Salah seorang pembunuh bayaran menegur Jaka dengan suaranya yang menggelegar dan penuh dengan aura intimidasi. Jaka tidak menghiraukan pria yang menegurnya, dia menatap sopir truk tronton yang ada di dalam kerumunan dengan tatapan tajam, kemudian berkata, “Kamu, kemarilah.” Semua orang langsung saling pandang mendengar perkataan Jaka Kelud, mereka cukup terkejut melihat ada seorang pemuda yang cukup berani berada di markas mereka. Keterkejutan mereka semakin bertambah, ketika mendengar perkataan

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 126. MENYELESAIKAN MISI

    Bab 126. MENYELESAIKAN MISI Jaka yang sedang melayang diatas langit segera mengikuti pergerakan mobil van yang ditumpangi sopir truk tronton yang menghilang di jalan kampung. Sementara itu bang Sapto yang mengikuti mobil Jaka tampak tersenyum gembira melihat mobil Jaka sudah gepeng seperti papan triplek di hantam truk tronton bermuatan pasir seberat tiga puluh ton. “Bagus, rencanaku sukses. Saya harus melaporkan keberhasilan ini kepada Boss muda Ridwan. Ha ha ha ha…. mana tuh yang namanya orang kebal? Sekebal apapun dia pasti akan menjadi peyek manusia setelah ditabrak truk tronton…” Tawa bahagia keluar dari bibir bang Sapto yang kemudian dia segera mengabadikan kecelakaan itu menggunakan ponselnya. Setelah merekam mobil Jaka yang sudah gepeng seperti lembaran papan kayu, terhimpit truk tronton bermuatan pasir, segera saja dia mengirimkan video serta foto itu ke ponsel Ridwan. Sementara itu Ridwan yang masih berada di Cafe Bintang bersama Intan, tampak s

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 125. AKSI BANG SAPTO PEMBUNUH BAYARAN

    Bab 125. AKSI BANG SAPTO PEMBUNUH BAYARAN Jaka yang tidak tahu kalau bahaya sedang menantinya, masih asik menikmati makan malamnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Intan dan Ridwan yang sedang kencan di Cafe yang sama dengannya. Bagi Jaka, Intan hanya teman satu kampusnya saja, sehingga perasaannya tidak lebih dari perasaan seorang teman saja. Tak lama kemudian Jaka menyudahi makan malamnya dan meninggalkan Cafe tanpa berpamitan dengan Intan. Tentu saja Intan tidak tahu kalau Jaka sudah meninggalkan Cafe, karena dia duduk memunggungi meja Jaka. Berbeda dengan Ridwan, dia yang duduk menghadap ke arah meja Jaka, tentu saja tahu kalau Jaka sudah meninggalkan Cafe. Diam-diam Ridwan juga memberi kabar kepada bang Sapto, kalau Target sudah meninggalkan Cafe. Jauh diluar Cafe, lebih tepatnya di pinggir jalan, terlihat dua mobil hitam yang berisi tujuh orang sedang mengawasi Cafe Bintang. “Semua bersiap, target sudah keluar da

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 124. SAINGAN CINTA

    Bab 124. SAINGAN CINTA Ekspresi wajah sopir bajaj langsung buruk ketika mendengar alasan Jaka menemuinya. harapan yang sebelumnya muncul di binar matanya, seketika menghilang setelah mendengar perkataan pemuda di depannya. Jaka tersenyum malu mendengar perkataan sopir bajaj, kemudian Jaka berkata lagi, “Saya mau minta tolong kepada abang untuk mengganti roda mobil ku yang kempes. Abang jangan khawatir, saya akan memberi anda uang jasa atas pertolongan abang.” Begitu mendengar perkataan Jaka, sopir bajaj menatapnya dengan tatapan aneh. Siapa juga yang tidak merasa aneh, melihat ada seorang pemuda yang terlihat begitu bugar tidak bisa mengganti roda mobilnya yang kempes. Setelah menghela nafas sebentar, sopir bajaj kembali berkata sambil tersenyum penuh arti, “Apa? Mengganti roda mobil yang kempes? Memangnya anda tidak bisa mengganti sendiri?” “Maaf, saya memang tidak bisa mengganti rodanya.” “Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa saya bantu,” ucap

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 123. SIALAN

    Bab 123. SIALAN “Hallo Boss muda, ada apa nih Boss muda menghubungi saya?” Terdengar suara seorang pria dengan suara serak dari seberang panggilan. “Gini Bang, saya sedang ada masalah sedikit. Karena itulah saya menghubungi abang,” jawab Ridwan dengan nada serius. “Ha ha ha ha… Boss muda ternyata masih mengenalku. Saya merasa tersanjung Boss muda sudi menghubungi saya. Oh iya, ada pekerjaan apa nih? Apakah saya perlu menghabisi seseorang tanpa jejak, atau cukup memberi pelajaran saja?” Suara telepon langsung hening ketika bang Sapto menebak apa yang diinginkan Ridwan dengan menghubunginya. Setelah menghela nafas berat, Ridwan melanjutkan percakapannya dengan sambil tetap fokus mengemudi. “Saya ingin abang menghabisi seseorang, kalau bisa abang mencari orang yang bisa membunuh seseorang yang mempunyai ilmu kebal.” “Apa? Ilmu kebal?” Terdengar suara bang Sapto sangat terkejut ketika mendengar perkataan Ridwan. “Maksud Boss Ridwan, sasaran kali i

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 122. BERTEMU MUSUH LAMA

    Bab 122. BERTEMU MUSUH LAMA “Jaka, kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru kelihatan?” kata salah satu teman kuliah Jaka yang melihat Jaka memasuki ruang kelas semester tiga. “Saya sedang cuti sebentar, jadi tidak bisa mengikuti pelajaran,” jawab Jaka berusaha memberi alasan yang logis. “Tapi, bagaimana kamu bisa gabung bersama kita di semester tiga? Bukankah kamu tidak mengikuti ujian kenaikan semester?” “Sudah, tentu saja saya sudah mengikuti ujian susulan untuk kenaikan semester. Karena itulah sekarang saya bisa berkumpul dengan kalian.” Teman-teman Jaka masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya, bagaimanapun juga Jaka sudah tidak mengikuti kegiatan belajar selama enam bulan lamanya. Kebingungan mereka tidak bisa mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, mereka berpikir apakah bisa dengan mengikuti ujian susulan, mahasiswa yang lama cuti bisa naik semester. Hari-hari berlalu dengan tenang sejak Jaka mulai mengikuti jam kuliah di Universitas Matri

  • Pewaris Naga Majapahit   Bab 121. ANAK YANG MENGAGUMKAN

    Bab 121. ANAK YANG MENGAGUMKAN “Tidak ada apa-apa, ayo kita ngobrol yang lainnya saja,” sanggah Melati Sugiri menghindari percakapan tentang pemuda yang membuatnya penasaran. “Ha ha ha ha… sepertinya Melati sedang puber kedua, lihatlah Brondong yang duduk sendirian di sana,” sahut Caroline sambil memberi tanda ke arah meja Jaka. Semua wanita seketika menoleh ke arah meja Jaka Kelud, hal ini tentu saja membuat wajah Melati langsung memerah menahan malu. “Ha ha ha ha… kamu memang mempunyai mata yang tajam, lihatlah wajah pemuda itu memang cukup ganteng,” canda salah satu teman Melati. “Kalian membuatku malu saja. Sepertinya kalian salah menerka apa yang bikin saya penasaran,” bela Melati mencoba meluruskan apa yang ada di dalam pikirannya. “Salah? Sepertinya kami tidak salah menebak isi hatimu. Sepertinya kamu memang sudah seperti yang lainnya, suka dengan pria muda, ha ha ha ha…” Bibir Melati cemberut mendengar ejekan teman-temannya, kemudian Melati

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status