Home / Horor / Pesugihan Genderuwo / 220. Gunjingan hidup

Share

220. Gunjingan hidup

Author: Wenchetri
last update Last Updated: 2025-02-21 12:49:24

"Bagas, kamu ngapain?"

Terdengar suara lantang dari salah seorang warga desa. Sekelompok orang datang berbondong-bondong, penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan Bagas.

"I—ini ... emm, cuma mau buat pondokan aja!" Bagas menjawab gugup, tangannya masih sibuk dengan kayu dan paku.

Para warga saling pandang, merasa heran dengan kegugupan yang diperlihatkan Bagas.

"Udah, yok, pergi! Biarkan aja dia. Mungkin dia mau buat gubuk derita untuk dirinya sendiri!" seru seorang warga dengan nada mengejek. "Kalian tahu kan kalau Bagas sudah nggak tinggal sama Ratih lagi?"

Warga lain menimpali, "Tentu saja aku tahu! Mana ada wanita yang tahan hidup dalam kemiskinan."

Belum mereka jauh melangkah, seorang lagi menambahkan dengan tawa meremehkan, "Iya! Istriku aja sering minta ini-itu. 'Mas, belikan ini! Mas, belikan itu!' Coba kalau Ratih jadi istriku, pasti aku bahagia! Soalnya Ratih itu cewek cantik, kembang desa yang sederhana dan, ya ... sempurna lah!"

Dia tertawa keras, disusul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pesugihan Genderuwo   221. Jagat dan Kala

    "Ngapain kamu ke sini, Mas?"Langkah Bagas terhenti ketika Ratih melihatnya berada di rumah kontrakannya. Tanpa berkata apa pun, Bagas hanya menatap dua anak kembarnya."Apa kamu sudah menemukan nama untuk anak kembar kita?" tanya Bagas.Ratih mengerutkan dahi. "Anak kita? Jelas-jelas mereka bukan seperti manusia, Mas!""Ratih, sudahlah, cukup! Mau ini anakku atau bukan, aku tetap akan menganggap mereka anakku! Karena aku tahu ini adalah kesalahanku!" jawab Bagas dengan tegas.Ratih terdiam. Hatinya belum bisa menerima keberadaan anak kembar mereka, terlebih lagi anak laki-laki itu."Terserah. Mau kasih nama apa, aku nggak peduli!" sahut Ratih sambil mengalihkan pandangannya.Bagas hanya bisa diam. Dia tahu benar perasaan istrinya yang masih belum bisa menerima anak-anak mereka."Jagat Mayar, untuk anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan, aku beri nama Kala Sundari," ucap Bagas sambil tersenyum memandang kedua anaknya.Ratih masih memalingkan wajahnya. Namun, dalam hatinya perlahan m

    Last Updated : 2025-02-22
  • Pesugihan Genderuwo   222. Anak Kembar masih terlihat Aneh

    "Kamu itu bukan anakku!" Suara Ratih melengking, dipenuhi amarah dan ketakutan. Napasnya memburu saat menatap kedua anaknya yang berdiri di samping ranjang dengan tatapan kosong. Tubuh mereka kecil, tetapi ada sesuatu yang mengerikan di mata mereka—sesuatu yang membuat Ratih semakin muak. Siapa yang ingin memiliki anak dengan wujud seperti setan? Anak-anak yang selama ini menghantui hidupnya? "Kalian lihat apa?! Jangan harap aku akan menyusui kalian lagi!" Ratih meluapkan kekesalannya, suaranya bergetar di antara kemarahan dan kepanikan. Namun, kemarahan itu tak berhenti hanya dengan kata-kata. Ratih mulai kehilangan kendali. Dalam kepanikan yang membutakannya, tangannya terangkat—dan tanpa ragu, dia mencengkram Jagat dan Kala dengan kasar. PLAK! Tangan Ratih menampar tubuh kecil mereka. Jagat dan Kala menangis keras, suara mereka melengking memenuhi kamar. Bagas yang tengah berbaring di ruang tamu sontak terbangun. Jantungnya berdebar ketika mendengar suara tangisan anak-anakn

    Last Updated : 2025-02-23
  • Pesugihan Genderuwo   223. Terhipnotis

    "Dia bukan anakku!" Suara Ratih menggema di dalam rumah kontrakan yang pengap. Matanya penuh ketakutan dan kebencian, menatap kedua bayi yang meringkuk di sudut ruangan. Sementara itu, Bagas tak lagi memedulikan amarah istrinya. Pandangannya kini tertuju pada anak-anak mereka—Jagat dan Kala. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Bagas memperhatikan ekspresi mereka dengan saksama. Sorot mata yang terlalu tajam untuk bayi yang baru lahir, gerakan mereka yang terasa bukan seperti bayi biasa. "Bagaimana bisa bayi yang baru lahir terlihat begitu… menyeramkan?" batinnya gemetar. Bagas mengingat kembali bercak merah kebiruan di tubuh Ratih setelah menyusui mereka. Bukan sekadar tanda hisapan biasa—melainkan luka. Luka yang terlihat seperti bekas gigitan atau hisapan yang terlalu kuat. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Namun, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di lengan mungil Jagat. Sejumput rambut panjang—rambut Ratih—tergenggam erat di tangannya yang kecil.

    Last Updated : 2025-02-24
  • Pesugihan Genderuwo   224. Merangkak

    "Bu Ajeng, sadarlah!" Bagas berusaha membangunkan Bu Ajeng dari kondisi tidak sadarnya. Setelah memastikan Bu Ajeng dalam posisi aman, dia segera melepaskan ikatan pada Ratih."Tih, tolong jaga Bu Ajeng. Aku harus segera ke Desa Karangjati untuk memanggil Kyai Ahmad!" ujar Bagas dengan nada panik."Baik, Mas!" Ratih mengangguk, meskipun wajahnya masih diliputi kecemasan.Sebelum melangkah keluar, Bagas menoleh kembali. "Tih, apa pun yang terjadi, jangan melihat mata anak-anak kita. Paham?""I—iya, Mas!" Ratih menjawab dengan suara bergetar.Setelah Bagas pergi, Ratih mencoba menyadarkan Bu Ajeng dengan memanggil namanya berulang kali. Namun, Bu Ajeng tetap diam, tatapannya kosong. Ratih merasa panik; Bu Ajeng adalah tetangga yang baik hati, seorang janda tanpa anak yang tinggal sendirian."Bu Ajeng, sadarlah!" Ratih mengguncang pelan bahu Bu Ajeng, berharap ada respons.Di tengah kepanikannya, Ratih mendengar suara aneh—seperti ketukan pelan di dinding, yang kemudian berubah menjadi s

    Last Updated : 2025-02-25
  • Pesugihan Genderuwo   225. Korban Pertama Jagat

    Duk! Duk!"Ratih, bukalah pintunya!"Teriakan Bagas terus menggema, memburu ketakutan yang menyelimuti hatinya. Dia kembali menggedor pintu dengan lebih keras, tetapi tetap tidak ada jawaban.Dengan napas terengah, Bagas mengintip melalui celah jendela yang bolong."Astaga, Kyai!"Pandangannya langsung tertuju pada sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Ratih terduduk di lantai dengan wajah pucat dan mata kosong. Jagat, bayi mereka terbaring di pangkuannya, tetapi ada sesuatu yang terasa… salah."Ada apa, Nak Bagas?" tanya Kyai Ahmad, suaranya penuh kewaspadaan.Tanpa menjawab, Bagas langsung mendorong pintu hingga terbuka dengan kasar. Seketika, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Rumah itu terasa jauh lebih gelap dari biasanya, seperti ada bayangan pekat yang merayap di setiap sudutnya.Di dalam, Ratih masih diam terpaku. Tubuhnya gemetar, bibirnya membiru."Ratih, kamu kenapa?" Bagas buru-buru menghampirinya, mengguncang bahunya dengan lembut.Ratih masih tidak merespons. Matanya be

    Last Updated : 2025-02-26
  • Pesugihan Genderuwo   226. Perubahan baru dalam mimpi

    "Meninggal dalam keadaan yang mengerikan … Kasihan Bu Ajeng!" Para warga merasa berduka atas meninggalnya Bu Ajeng. Namun, mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Ratih berjongkok sambil menaburkan bunga di atas makam. Air matanya deras mengalir, jatuh membasahi pipinya. Dia tak menyangka bahwa anaknya bisa membuat seseorang melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. "Ratih, ayo pulang!" Bagas mengangkat tubuh Ratih dan perlahan membimbingnya pergi. Ketika mereka sampai di depan rumah, Ratih tiba-tiba menoleh ke arah Bagas. "Mas, sebaiknya kamu tidak tinggal di rumah ini!" ujar Ratih tegas. Bagas mengerutkan dahi. "Ada apa? Kenapa?" tanyanya heran. "Bukankah kita sudah berpisah? Sebaiknya kita tidak tinggal serumah!" jawab Ratih tanpa ragu. Bagas mendengus kesal. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa kita berpisah, Tih! Aku di sini mau membantu kamu menjaga anak-anak ini! Apa itu salah?" suaranya meninggi. Ratih langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah

    Last Updated : 2025-02-27
  • Pesugihan Genderuwo   227. Bagas berbulu

    "Ini sangat aneh, Mas! Semua ini terlalu aneh!"Badan Ratih menggigil. Mimpi buruk yang baru saja dialaminya seolah membawanya kembali ke ketakutan lamanya—ke teror Genderuwo yang dulu pernah menghantuinya.Bagas menghela napas panjang. "Lalu harus bagaimana, Tih? Kita cuma bisa merawat bayi kita, kan?" ucapnya, mencoba menenangkan. Namun, nada suaranya terdengar pasrah, seolah menerima keadaan tanpa ingin melawan.Ratih menatapnya tajam. Emosinya meledak. "Yang benar saja, Mas! Kamu terlalu santai menghadapi ini! Sama seperti dulu! Kamu juga santai membunuh orang-orang yang tidak bersalah!"Bagas tiba-tiba berdiri. Tatapan matanya berubah gelap, penuh kemarahan. Dia menunjuk wajah Ratih dan berkata, "Apa sih maumu sekarang, Tih? Coba lihat ... lihat badanku!"Dengan gerakan cepat, Bagas membuka bajunya. Seketika, Ratih membelalak. Tubuh lelaki itu kini penuh bulu hitam lebat, merayap dari dadanya hingga ke perut dan tangannya."Coba kamu lihat baik-baik! Apa menurutmu aku bersenang-s

    Last Updated : 2025-02-28
  • Pesugihan Genderuwo   228. Nyanyian Malam

    "Sampai kapan aku bisa bertahan sebagai manusia?"Lirih kepasrahan Bagas bercampur dengan derasnya hujan yang menghujam tanah. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk, tetapi juga karena rasa sesal yang tak termaafkan.Dia tahu perbuatannya telah membawa kutukan. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Ratih dan anak-anak mereka. Bahkan, warga desa pun sudah mencurigainya, beberapa bahkan berniat membakar rumahnya."Hah ... terlalu banyak memikirkan dunia," keluhnya pada diri sendiri.Bagas menghela napas panjang. Semua ini akibat keserakahannya. Dulu, dia hanya ingin hidup lebih baik, ingin mengangkat derajat keluarganya. Tapi, kini dia sadar, yang dia lakukan hanyalah melempar mereka ke dalam jurang penderitaan."Aku nggak akan biarkan anak-anakku merasakan apa yang aku alami!" gumamnya, suaranya penuh tekad.Hujan semakin deras. Bagas yang tidur di luar rumah merasa hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka sedikit. Ratih mun

    Last Updated : 2025-03-01

Latest chapter

  • Pesugihan Genderuwo   256. Ratih dan Anak Kembarnya

    "Jagat... Kala, hentikan!"Suasana begitu mencekam.Ratih berdiri dengan tubuh gemetar, matanya tak bisa lepas dari pemandangan mengerikan di hadapannya. Jagat dan Kala sedang melahap beberapa kambing hidup. Daging dan darah segar berceceran, memenuhi tanah kandang ternak.Mereka seperti binatang buas yang kelaparan. Tidak—mereka lebih dari itu. Mereka bukan lagi manusia sepenuhnya.Walaupun Kala tampak lebih normal, tetap saja sifat iblis mengalir dalam darahnya, sama seperti Jagat, kakaknya.Kala menoleh dengan mulut berlumuran darah."Ini enak, Bu. Mau coba?"Suara itu tidak keluar dari mulutnya—suara itu menggema di dalam kepala Ratih.Ratih melangkah mundur, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Mata kedua anaknya semakin tajam, semakin menyeramkan.Dan yang lebih menakutkan—mereka bahkan tidak ragu untuk menyerangnya."Jagat... Kala! Hentikan perbuatan kalian!"Ratih berteriak, suaranya menggema di kandang ternak milik seorang warga yang baru saja pindah ke desa Sumb

  • Pesugihan Genderuwo   255. Gila?

    "Jangan...!"Napas Ratih memburu, memenuhi ruangan yang kini terasa semakin sempit. Tubuhnya gemetar hebat, peluh membasahi pelipisnya."Tidak mungkin... Ini tidak akan terjadi!"Ratih berdiri dari duduknya dengan tergesa, tangannya meraih teko air di atas meja dan meneguk beberapa gelas sekaligus. Namun, rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda."Mimpi itu datang lagi!"Tangan Ratih semakin gemetar. Keringat dingin mengalir deras di punggungnya. Kenapa dia selalu bermimpi buruk tentang masa depan? Mengapa bayangan Jagat dan Kala yang berubah menjadi sosok mengerikan selalu menghantuinya?Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berkecamuk."Tidak mungkin ini akan terjadi, kan? Apa yang harus aku lakukan jika semua itu benar-benar terjadi?"Krek!Ratih terperanjat.Suara itu datang dari belakangnya—suara seperti kuku yang mencakar kayu.Krek!Kali ini suara itu semakin jelas. Seolah-olah sesuatu sedang merayap mendekat.Ratih membeku. Tangannya men

  • Pesugihan Genderuwo   254. Amukan massa

    “Bakar rumahnya!”Teriakan itu menggema di sepanjang gang sempit menuju rumah kontrakan Ratih. Puluhan warga dari Desa Sumberarum dan Karangjati berkumpul dengan wajah penuh amarah. Beberapa membawa obor, yang lainnya menggenggam golok, kayu, atau batu. Mereka datang bukan untuk berdialog, melainkan untuk menghakimi."Keluar, Ratih! Jangan sembunyikan lagi anak-anak setanmu itu!"Suara-suara itu semakin mendekat. Ratih yang berada di dalam rumah segera meraih kedua anak balitanya, Jagat dan Kala, lalu berlari ke dalam kamar.“Diam ya, Nak… jangan bersuara,” bisiknya dengan napas memburu.Tangannya gemetar saat membuka lemari pakaian kayu yang mulai lapuk. Dia memasukkan kedua anaknya ke dalam, lalu menutup pintunya pelan."Jangan keluar sampai Ibu bilang, ya?" suaranya nyaris berbisik.Jagat dan Kala menatapnya dengan mata bulat mereka yang hitam pekat. Mereka tidak menangis, tidak bersuara.Ratih menarik napas dalam, lalu berbalik. Di luar, suara warga semakin memanas.Braak! Braak!

  • Pesugihan Genderuwo   253. Rahasia

    Ratih melangkah perlahan memasuki kediaman Kiai Ahmad. Hatinya diliputi kegelisahan, tetapi dia berusaha menenangkan diri. Dua hari telah berlalu sejak Kiai Ahmad dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian mengerikan di pendopo. Ratih masih belum bisa melupakan peristiwa itu, terutama sosok dua anaknya yang dia lihat di sana.Namun, kali ini dia memilih diam.Di dalam rumah, dia melihat Kiai Ahmad sedang beristirahat di dipan, tubuhnya dipenuhi perban. Luka-luka yang tampak di lengan dan wajahnya membuat dada Ratih semakin sesak."Kiai, bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan suara pelan.Seorang perempuan muda yang duduk di dekat Kiai Ahmad menoleh. Dia adalah anak perempuan Kiai Ahmad, seorang wanita yang terlihat kuat namun tetap lembut dalam sikapnya."Ini sudah lebih baik, Mbak Ratih," jawabnya dengan senyum tipis.Ratih mengangguk. "Syukur alhamdulillah," ucapnya lega, meskipun di dalam hati, dia masih menyimpan banyak pertanyaan.Dia duduk di kursi kayu yang berada di samping tem

  • Pesugihan Genderuwo   252. Hal Yang Aneh

    "Ada apa itu?""Sepertinya dari rumah Pak Windra!"Suara teriakan dari arah ladang membuat Ratih tersentak. Warga desa yang masih berkumpul di pendopo pun langsung menoleh.Beberapa warga segera berlari ke arah sumber suara. Ratih berdiri mematung, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan. Jagat dan Kala masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan senyum aneh itu."Ayo-ayo kita kesana!""Iya, ada apa di sana?"Ratih tidak mau tahu. Dia harus pergi ke rumah Pak Windra! Dia harus memastikan.Dengan cepat, Ratih berlari menyusul warga yang sudah lebih dulu sampai. Ketika dia tiba di sana, teriakan histeris memenuhi udara."Ya Allah, Pak Windra!"Ratih menyibak kerumunan dan langsung terkejut.Pak Windra tergeletak di tanah dengan mata membelalak ketakutan. Tubuhnya penuh luka, robek di sana-sini, dan yang paling mengerikan—darah menggenang di sekitar lehernya yang hampir putus.

  • Pesugihan Genderuwo   251. Cerita Bagas Kembali mencuat

    "Aku sudah bilang, suami Ratih itu bukan manusia biasa!""Benar! Aku juga pernah melihat sesuatu yang aneh di rumah mereka dulu.""Apa mungkin dia yang membunuh Feri?"Bisikan demi bisikan memenuhi udara malam yang dingin. Warga Desa Karangjati berkumpul di depan pendopo, membicarakan hal yang selama ini tak pernah mereka ungkapkan dengan lantang. Sosok Bagas, yang dulunya hanyalah seorang lelaki pendiam, kini kembali menjadi pusat ketakutan mereka."Genderuwo!" "Wah, itu makhluk terbesar yang pernah aku lihat di ladang Bagas!" Ratih berdiri tak jauh dari kerumunan, tubuhnya lelah dan wajahnya penuh luka cakaran. Darah yang mengering di pipinya terasa perih, namun lebih perih lagi mendengar namanya dan Bagas disebut-sebut sebagai sumber malapetaka."Aku dengar, Bagas dan Ratih dulu sering bertengkar di rumah mereka.""Dia, katanya Ratih ingin pergi, tapi Bagas tak pernah membiarkannya!""Apa jangan-ja

  • Pesugihan Genderuwo   250. Pendopo

    "Astagfirullah, Kiai!"Ratih mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat.Darah.Darah mengalir di lantai kayu, merembes ke sela-sela papan yang mulai lapuk. Tubuh Kiai Ahmad terkulai di atas tikar dengan napas yang tersengal-sengal.Matanya setengah terbuka, tapi pandangannya kosong."Ya Allah, Kiai! Apa yang telah terjadi!" Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Sayatan panjang di dadanya menganga, dan bekas cakaran mencabik kulit di lengannya.Ada sesuatu yang telah menyerangnya.Ratih menutup mulutnya, rasa mual merayap di tenggorokannya.Ini ulah mereka.Jagat dan Kala."Na—Nak Ratih..."Suara Kiai Ahmad bergetar, nyaris tak terdengar.Ratih buru-buru berlutut di sampingnya, berusaha mencari cara untuk menghentikan pendarahan. Namun, darah terus mengalir, membasahi jubah putihnya."Kiai, bertahanlah!" Ratih menahan air matanya. "Saya akan minta bantuan!""A—anak ... anak mu! ha—harus segera—"Dengan tangan gemetar, Ratih berlari ke luar rumah."Tolong! Ada yang bisa membantu?!"Be

  • Pesugihan Genderuwo   249. Cakaran Anaknya

    "Siapa yang telah terbunuh?"Jantung Ratih berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Tidak... ini tidak mungkin terjadi lagi.Ratih menggigit bibir, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, pikirannya berkecamuk."Mayat siapa itu? Ke—kenapa...?"Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Tubuhnya terasa kaku, namun ketakutan yang mencekam membuatnya tidak bisa berdiam diri.Dia harus melihatnya.Ratih melangkah maju, lalu berhenti. Ragu.Tangannya gemetar saat dia meraih sebilah pisau di atas meja. Genggamannya erat, seakan itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari kengerian di balik pintu.Duka dan ketakutan menyelimuti hatinya.Lalu, dengan gerakan perlahan, dia mendorong pintu kamar itu.Kreek...Suara engsel berderit, membuka pemandangan yang membuat Ratih membeku.Darah.Darah ada di mana

  • Pesugihan Genderuwo   248. Hutan Terlarang

    "Ibu... kita di sini!"Suara itu kembali terdengar, menggetarkan udara malam yang dingin. Ratih menoleh ke kanan dan kiri, matanya liar mencari sumber suara. Namun, yang dia temukan hanyalah pepohonan tinggi yang menjulang, menciptakan bayangan gelap yang bergerak seiring tiupan angin."Di sini, Bu... di sini!"Ratih menelan ludah. Suaranya semakin dekat, tapi bayangan kedua anaknya tak juga terlihat.Bagaimana mereka bisa keluar rumah?Jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menyusup ke setiap sudut pikirannya."Jagat... Kala!" teriaknya, suaranya bergetar.Namun, hanya sunyi yang menjawabnya.Argh!Sebuah erangan tajam menggema di kegelapan.Ratih terperanjat, tangannya mencengkeram bajunya sendiri. Dia melangkah mundur, matanya liar mencari sumber suara.Tapi tidak ada siapa-siapa.Srek!Sesuatu bergerak di antara dedaunan kering. Ratih menahan napas. Dia tahu dia tidak sendirian di sini."Ibu... kami di sini!"Suara itu kembali terdengar, kali ini dari arah yang berbeda. Ratih mel

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status