"Ini sangat aneh, Mas! Semua ini terlalu aneh!"Badan Ratih menggigil. Mimpi buruk yang baru saja dialaminya seolah membawanya kembali ke ketakutan lamanya—ke teror Genderuwo yang dulu pernah menghantuinya.Bagas menghela napas panjang. "Lalu harus bagaimana, Tih? Kita cuma bisa merawat bayi kita, kan?" ucapnya, mencoba menenangkan. Namun, nada suaranya terdengar pasrah, seolah menerima keadaan tanpa ingin melawan.Ratih menatapnya tajam. Emosinya meledak. "Yang benar saja, Mas! Kamu terlalu santai menghadapi ini! Sama seperti dulu! Kamu juga santai membunuh orang-orang yang tidak bersalah!"Bagas tiba-tiba berdiri. Tatapan matanya berubah gelap, penuh kemarahan. Dia menunjuk wajah Ratih dan berkata, "Apa sih maumu sekarang, Tih? Coba lihat ... lihat badanku!"Dengan gerakan cepat, Bagas membuka bajunya. Seketika, Ratih membelalak. Tubuh lelaki itu kini penuh bulu hitam lebat, merayap dari dadanya hingga ke perut dan tangannya."Coba kamu lihat baik-baik! Apa menurutmu aku bersenang-s
"Sampai kapan aku bisa bertahan sebagai manusia?"Lirih kepasrahan Bagas bercampur dengan derasnya hujan yang menghujam tanah. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk, tetapi juga karena rasa sesal yang tak termaafkan.Dia tahu perbuatannya telah membawa kutukan. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Ratih dan anak-anak mereka. Bahkan, warga desa pun sudah mencurigainya, beberapa bahkan berniat membakar rumahnya."Hah ... terlalu banyak memikirkan dunia," keluhnya pada diri sendiri.Bagas menghela napas panjang. Semua ini akibat keserakahannya. Dulu, dia hanya ingin hidup lebih baik, ingin mengangkat derajat keluarganya. Tapi, kini dia sadar, yang dia lakukan hanyalah melempar mereka ke dalam jurang penderitaan."Aku nggak akan biarkan anak-anakku merasakan apa yang aku alami!" gumamnya, suaranya penuh tekad.Hujan semakin deras. Bagas yang tidur di luar rumah merasa hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka sedikit. Ratih mun
"Ratih, sadarlah!"Bagas dengan sigap menarik Jagat dari pelukan Ratih dan segera meletakkannya kembali ke tempat tidur. Namun, begitu bayi itu lepas dari dekapannya, Ratih tiba-tiba berhenti bersenandung. Matanya yang tadinya kosong perlahan-lahan menatap Bagas.Bagas merasakan hawa dingin menyelimutinya. Ratih bukan sekadar menatap, tapi menelanjangi jiwanya dengan sorot matanya yang kelam."Astaga, Ratih!" teriak Bagas ketika melihat sesuatu merembes keluar dari sudut bibir istrinya.Cairan hitam pekat, kental seperti darah yang membusuk, menetes dari mulut Ratih, jatuh ke lantai dengan suara mencurigakan. Lalu, seakan seluruh isi perutnya mendidih, Ratih muntah dengan deras. Cairan hitam mengalir membanjiri lantai, menyebarkan bau busuk yang menusuk hidung Bagas.Bruk!Tubuh Ratih ambruk ke lantai, tak sadarkan diri."Ratih … cepatlah bangun!" Bagas mengguncang bahunya, berusaha menyadarkannya.Tak lama kemudian, Ratih membuka matanya perlahan. Dia tampak kebingungan, tangannya te
"Tih, aku akan pergi sebentar! Aku harus menyelesaikan rumah kecil yang akan berguna nantinya!" Bagas bergegas pergi, meninggalkan beberapa ubi dan singkong untuk Ratih makan. "Hati-hati!" kata Ratih, sambil melambaikan tangan. Kini, Ratih hanya bersama anak kembar yang aneh. Kala, yang terlihat sedang menunggu, melirik pergerakan Ratih. Seperti biasa, Ratih merasa cemas. Kala bukan bayi biasa. "Ada apa dengan lirikan ini?" gumamnya pelan. Dalam sekejap mata, anak yang baru saja lahir itu mampu menunjukkan sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Rasanya tak mungkin ada bayi yang mampu melakukan hal-hal seperti yang ditunjukkan oleh Kala. "Astaga apa itu? Kenapa banyak yang tergeletak dengan bersimbah darah?" Ratih mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal aneh yang sering terjadi. Dia tahu, seperti yang sudah sering diceritakan oleh Bagas, bahwa kedua anak kembar mereka, memiliki kemampuan luar biasa. Namun, setiap kali dia menyaksikan hal-hal yang terjadi, hatinya selalu berdeb
Duk! Duk!"Aku harus menyelesaikan rumah ini!" suara letih Bagas terdengar penuh keputusasaan. Perasaan penyesalan semakin bertambah seiring kayu demi kayu tersusun rapi."Gas, kamu ngapain? Buat apa rumah itu?" seru seorang warga yang menegurnya.Bagas tidak menjawab. Ia tetap fokus pada pekerjaannya. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sosok putrinya—Kala—berdiri tak jauh darinya."Apa itu Kala? Ah, nggak mungkin! Kala masih bayi, mana mungkin dia sebesar itu?" gumamnya pelan.Matanya menyipit, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Namun, dalam sekejap, sosok itu menghilang. Cuaca tiba-tiba berubah mendung. Kilatan petir mulai muncul di langit."Astaga, kenapa tiba-tiba cuacanya begini?" ucapnya sambil mengusap peluh.Tak lama, beberapa warga berlarian ketakutan. Teriakan mereka membuat Bagas ingin tahu apa yang telah terjadi."Pakde, ada apa?" tanyanya pada seorang warga tua."Itu, Pak Dulah tewas di ladangmu!" jawabnya dengan napas memburu.Bagas langsung terdiam. Ia terkejut, matan
"Jadi, pagi ini dua orang tewas?"Suara Ratih bergetar saat mendengar cerita Bagas. Dia pun mulai menceritakan apa yang terjadi di dalam rumah—tentang suara langkah berat di luar, bayangan hitam yang berkelebat, dan pria asing yang menghilang tanpa jejak.Bagas tercengang. Jika dikaitkan, cerita mereka seolah saling terhubung. Sesuatu yang tak kasatmata sedang bermain di sekitar mereka."Sebenarnya, untuk apa Mas membangun rumah itu?" tanya Ratih akhirnya, suaranya penuh keraguan.Bagas menghela napas panjang. Ini saatnya. Dia tahu, cepat atau lambat, Ratih harus mengetahui kebenarannya. Dengan berat hati, dia mulai menceritakan peringatan Kyai Ahmad.Ratih mendengarkan dengan seksama. Saat Bagas selesai berbicara, tubuhnya melemas. Dia terduduk di lantai, wajahnya pucat."Jika Kyai sudah mengatakannya... aku nggak punya alasan untuk nggak percaya..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.Bagas menatap Ratih dengan so
"Bu, apa kamu nggak sayang sama kita?"Suara kecil itu menggema di telinga Ratih. Tubuhnya tersentak hebat. Dia menoleh dan melihat kedua anaknya—Jagat dan Kala—berdiri tegap di hadapannya.Tapi ada yang aneh. Mereka tidak lagi sekecil bayi. Tubuh mereka lebih besar, jauh lebih tinggi dari yang seharusnya. Wajah mereka pucat, mata mereka tajam, dan senyuman di bibir mereka... itu bukan senyuman seorang anak."Apa kalian ... Jagat dan Kala?" suara Ratih bergetar, ketakutan menyelimuti hatinya.Mereka tertawa kecil. Namun, tawa itu melengking, nyaring seperti suara besi yang bergesekan."Bahkan Ibu tidak mengenal kami," ucap salah satu dari mereka. Tangannya memegang sesuatu—benda hitam berkilat yang Ratih tak bisa kenali.Ratih mundur selangkah. Tubuhnya gemetar.Ini bukan anak-anaknnya.Dia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Namun, langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menariknya kembali. Dia terus b
"Kalian sudah dengar belum? Ratih melahirkan!" Suara gemuruh memenuhi warung kopi di sudut desa Karangjati. Warga berkumpul, saling berbisik dan bertukar cerita, seolah membicarakan hal yang lebih menarik daripada panen tahun ini. "Serius? Bukannya Ratih sudah lama meninggalkan Bagas?" "Nah, itu dia yang aneh! Tiba-tiba dia pulang, hamil, lalu melahirkan anak kembar! Bagaimana bisa?" Bagas yang kebetulan sedang melewati warung hanya diam. Dia sudah mendengar banyak bisikan serupa selama beberapa minggu terakhir. Langkahnya tetap tenang, meskipun di dalam dadanya ada bara yang siap menyala. Namun, warga tak berhenti berbicara. "Bagas! Hebat juga, ya, si Ratih bisa hamil!" seru seorang lelaki bertopi caping dengan nada mengejek. Bagas pura-pura tak mendengar. Dia sibuk menyusun kayu di hadapannya, memukul paku dengan keras, berusaha mengabaikan suara-suara yang semakin mendekatinya. Tuk! Tuk! "Gas, gimana bisa Ratih hamil? Bukannya dia sudah lama pergi?" Bagas masih m
"Jagat... Kala, hentikan!"Suasana begitu mencekam.Ratih berdiri dengan tubuh gemetar, matanya tak bisa lepas dari pemandangan mengerikan di hadapannya. Jagat dan Kala sedang melahap beberapa kambing hidup. Daging dan darah segar berceceran, memenuhi tanah kandang ternak.Mereka seperti binatang buas yang kelaparan. Tidak—mereka lebih dari itu. Mereka bukan lagi manusia sepenuhnya.Walaupun Kala tampak lebih normal, tetap saja sifat iblis mengalir dalam darahnya, sama seperti Jagat, kakaknya.Kala menoleh dengan mulut berlumuran darah."Ini enak, Bu. Mau coba?"Suara itu tidak keluar dari mulutnya—suara itu menggema di dalam kepala Ratih.Ratih melangkah mundur, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Mata kedua anaknya semakin tajam, semakin menyeramkan.Dan yang lebih menakutkan—mereka bahkan tidak ragu untuk menyerangnya."Jagat... Kala! Hentikan perbuatan kalian!"Ratih berteriak, suaranya menggema di kandang ternak milik seorang warga yang baru saja pindah ke desa Sumb
"Jangan...!"Napas Ratih memburu, memenuhi ruangan yang kini terasa semakin sempit. Tubuhnya gemetar hebat, peluh membasahi pelipisnya."Tidak mungkin... Ini tidak akan terjadi!"Ratih berdiri dari duduknya dengan tergesa, tangannya meraih teko air di atas meja dan meneguk beberapa gelas sekaligus. Namun, rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda."Mimpi itu datang lagi!"Tangan Ratih semakin gemetar. Keringat dingin mengalir deras di punggungnya. Kenapa dia selalu bermimpi buruk tentang masa depan? Mengapa bayangan Jagat dan Kala yang berubah menjadi sosok mengerikan selalu menghantuinya?Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berkecamuk."Tidak mungkin ini akan terjadi, kan? Apa yang harus aku lakukan jika semua itu benar-benar terjadi?"Krek!Ratih terperanjat.Suara itu datang dari belakangnya—suara seperti kuku yang mencakar kayu.Krek!Kali ini suara itu semakin jelas. Seolah-olah sesuatu sedang merayap mendekat.Ratih membeku. Tangannya men
“Bakar rumahnya!”Teriakan itu menggema di sepanjang gang sempit menuju rumah kontrakan Ratih. Puluhan warga dari Desa Sumberarum dan Karangjati berkumpul dengan wajah penuh amarah. Beberapa membawa obor, yang lainnya menggenggam golok, kayu, atau batu. Mereka datang bukan untuk berdialog, melainkan untuk menghakimi."Keluar, Ratih! Jangan sembunyikan lagi anak-anak setanmu itu!"Suara-suara itu semakin mendekat. Ratih yang berada di dalam rumah segera meraih kedua anak balitanya, Jagat dan Kala, lalu berlari ke dalam kamar.“Diam ya, Nak… jangan bersuara,” bisiknya dengan napas memburu.Tangannya gemetar saat membuka lemari pakaian kayu yang mulai lapuk. Dia memasukkan kedua anaknya ke dalam, lalu menutup pintunya pelan."Jangan keluar sampai Ibu bilang, ya?" suaranya nyaris berbisik.Jagat dan Kala menatapnya dengan mata bulat mereka yang hitam pekat. Mereka tidak menangis, tidak bersuara.Ratih menarik napas dalam, lalu berbalik. Di luar, suara warga semakin memanas.Braak! Braak!
Ratih melangkah perlahan memasuki kediaman Kiai Ahmad. Hatinya diliputi kegelisahan, tetapi dia berusaha menenangkan diri. Dua hari telah berlalu sejak Kiai Ahmad dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian mengerikan di pendopo. Ratih masih belum bisa melupakan peristiwa itu, terutama sosok dua anaknya yang dia lihat di sana.Namun, kali ini dia memilih diam.Di dalam rumah, dia melihat Kiai Ahmad sedang beristirahat di dipan, tubuhnya dipenuhi perban. Luka-luka yang tampak di lengan dan wajahnya membuat dada Ratih semakin sesak."Kiai, bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan suara pelan.Seorang perempuan muda yang duduk di dekat Kiai Ahmad menoleh. Dia adalah anak perempuan Kiai Ahmad, seorang wanita yang terlihat kuat namun tetap lembut dalam sikapnya."Ini sudah lebih baik, Mbak Ratih," jawabnya dengan senyum tipis.Ratih mengangguk. "Syukur alhamdulillah," ucapnya lega, meskipun di dalam hati, dia masih menyimpan banyak pertanyaan.Dia duduk di kursi kayu yang berada di samping tem
"Ada apa itu?""Sepertinya dari rumah Pak Windra!"Suara teriakan dari arah ladang membuat Ratih tersentak. Warga desa yang masih berkumpul di pendopo pun langsung menoleh.Beberapa warga segera berlari ke arah sumber suara. Ratih berdiri mematung, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan. Jagat dan Kala masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan senyum aneh itu."Ayo-ayo kita kesana!""Iya, ada apa di sana?"Ratih tidak mau tahu. Dia harus pergi ke rumah Pak Windra! Dia harus memastikan.Dengan cepat, Ratih berlari menyusul warga yang sudah lebih dulu sampai. Ketika dia tiba di sana, teriakan histeris memenuhi udara."Ya Allah, Pak Windra!"Ratih menyibak kerumunan dan langsung terkejut.Pak Windra tergeletak di tanah dengan mata membelalak ketakutan. Tubuhnya penuh luka, robek di sana-sini, dan yang paling mengerikan—darah menggenang di sekitar lehernya yang hampir putus.
"Aku sudah bilang, suami Ratih itu bukan manusia biasa!""Benar! Aku juga pernah melihat sesuatu yang aneh di rumah mereka dulu.""Apa mungkin dia yang membunuh Feri?"Bisikan demi bisikan memenuhi udara malam yang dingin. Warga Desa Karangjati berkumpul di depan pendopo, membicarakan hal yang selama ini tak pernah mereka ungkapkan dengan lantang. Sosok Bagas, yang dulunya hanyalah seorang lelaki pendiam, kini kembali menjadi pusat ketakutan mereka."Genderuwo!" "Wah, itu makhluk terbesar yang pernah aku lihat di ladang Bagas!" Ratih berdiri tak jauh dari kerumunan, tubuhnya lelah dan wajahnya penuh luka cakaran. Darah yang mengering di pipinya terasa perih, namun lebih perih lagi mendengar namanya dan Bagas disebut-sebut sebagai sumber malapetaka."Aku dengar, Bagas dan Ratih dulu sering bertengkar di rumah mereka.""Dia, katanya Ratih ingin pergi, tapi Bagas tak pernah membiarkannya!""Apa jangan-ja
"Astagfirullah, Kiai!"Ratih mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat.Darah.Darah mengalir di lantai kayu, merembes ke sela-sela papan yang mulai lapuk. Tubuh Kiai Ahmad terkulai di atas tikar dengan napas yang tersengal-sengal.Matanya setengah terbuka, tapi pandangannya kosong."Ya Allah, Kiai! Apa yang telah terjadi!" Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Sayatan panjang di dadanya menganga, dan bekas cakaran mencabik kulit di lengannya.Ada sesuatu yang telah menyerangnya.Ratih menutup mulutnya, rasa mual merayap di tenggorokannya.Ini ulah mereka.Jagat dan Kala."Na—Nak Ratih..."Suara Kiai Ahmad bergetar, nyaris tak terdengar.Ratih buru-buru berlutut di sampingnya, berusaha mencari cara untuk menghentikan pendarahan. Namun, darah terus mengalir, membasahi jubah putihnya."Kiai, bertahanlah!" Ratih menahan air matanya. "Saya akan minta bantuan!""A—anak ... anak mu! ha—harus segera—"Dengan tangan gemetar, Ratih berlari ke luar rumah."Tolong! Ada yang bisa membantu?!"Be
"Siapa yang telah terbunuh?"Jantung Ratih berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Tidak... ini tidak mungkin terjadi lagi.Ratih menggigit bibir, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, pikirannya berkecamuk."Mayat siapa itu? Ke—kenapa...?"Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Tubuhnya terasa kaku, namun ketakutan yang mencekam membuatnya tidak bisa berdiam diri.Dia harus melihatnya.Ratih melangkah maju, lalu berhenti. Ragu.Tangannya gemetar saat dia meraih sebilah pisau di atas meja. Genggamannya erat, seakan itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari kengerian di balik pintu.Duka dan ketakutan menyelimuti hatinya.Lalu, dengan gerakan perlahan, dia mendorong pintu kamar itu.Kreek...Suara engsel berderit, membuka pemandangan yang membuat Ratih membeku.Darah.Darah ada di mana
"Ibu... kita di sini!"Suara itu kembali terdengar, menggetarkan udara malam yang dingin. Ratih menoleh ke kanan dan kiri, matanya liar mencari sumber suara. Namun, yang dia temukan hanyalah pepohonan tinggi yang menjulang, menciptakan bayangan gelap yang bergerak seiring tiupan angin."Di sini, Bu... di sini!"Ratih menelan ludah. Suaranya semakin dekat, tapi bayangan kedua anaknya tak juga terlihat.Bagaimana mereka bisa keluar rumah?Jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menyusup ke setiap sudut pikirannya."Jagat... Kala!" teriaknya, suaranya bergetar.Namun, hanya sunyi yang menjawabnya.Argh!Sebuah erangan tajam menggema di kegelapan.Ratih terperanjat, tangannya mencengkeram bajunya sendiri. Dia melangkah mundur, matanya liar mencari sumber suara.Tapi tidak ada siapa-siapa.Srek!Sesuatu bergerak di antara dedaunan kering. Ratih menahan napas. Dia tahu dia tidak sendirian di sini."Ibu... kami di sini!"Suara itu kembali terdengar, kali ini dari arah yang berbeda. Ratih mel