Home / Horor / Pesugihan Genderuwo / 201. Tekanan Semakin Kuat

Share

201. Tekanan Semakin Kuat

Author: Wenchetri
last update Last Updated: 2025-02-02 18:29:47

Pagi yang muram menyelimuti desa. Matahari baru saja naik, tetapi sinarnya terasa suram, seolah enggan menyentuh bumi.

Bagas terbangun di lantai dengan tubuh yang terasa kaku. Semalaman dia tertidur di sana setelah menyaksikan perubahan yang terus menghantuinya. Bayangannya sendiri yang bergerak tanpa kendali.

Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.

"Ah, pagi ini aku harus apa?" gumamnya sambil merenggangkan tubuh.

Bagas menatap kedua tangannya. Bulu-bulu kasar masih memenuhi kulitnya, dan wajahnya terasa lebih berat, seperti semakin tua dan berkerut.

"Aku nggak bisa terus seperti ini—"

Dia menatap sekeliling rumahnya yang berantakan, penuh dengan pecahan cermin dan sisa-sisa amukan frustrasinya semalam.

"Aku harus ke ladang! Siapa tahu harapan masih berpihak kepadaku!" katanya pada diri sendiri, mencoba membangun semangat yang hampir musnah.

Bagas mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, berusaha menutupi bulu-bulu aneh yang terus tumbuh di tub
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pesugihan Genderuwo   202. Rumor kutukan

    "Kamu lebih baik pergi dari desa, Bagas!" Bagas terngiang perkataan Mbah Damar. Dia merasa Mbah Damar memang menginginkan dirinya pergi dari desa. "Bagaiamana aku bisa pergi? Aku mau tinggal dimana? sekarang semua udah bukan kaya dulu lagi! Bahkan Ki Praja juga aku tidak tau dimana keberadaannya!" keluh Bagas di tengah perjalanannya ke pasar.Sejak rumor tentang kutukan keluarganya menyebar, dia jarang ke sana. Namun, hari ini dia kehabisan bahan makanan dan terpaksa keluar dari rumah. Saat dia memasuki pasar, suara berbisik-bisik langsung terdengar. Sejumlah pedagang menatapnya dengan tatapan sinis. Seorang ibu-ibu yang sedang memilih sayur berbisik kepada temannya. "Lihat siapa yang datang ... kutukan berjalan." "Berani juga dia muncul setelah semua yang terjadi," sahut yang lain. Bagas berusaha mengabaikan mereka dan berjalan ke lapak sayur milik Bu Sarmi. Namun, sebelum dia bisa membuka mulut, Bu Sarmi buru-buru memasukkan dagangannya ke dalam keranjang dan menatapnya tajam.

    Last Updated : 2025-02-03
  • Pesugihan Genderuwo   203. Tanda Tanya

    "Mas, bangun!" Suara itu terdengar sayup, diiringi sentuhan lembut di pipinya. Bagas mengerjap pelan, merasakan kesadaran yang masih setengah tersadar. Cahaya temaram dari lampu gantung menerangi wajah seseorang yang sedang menatapnya. Ratih. "Ra—Ratih?" Bagas menyipitkan matanya, mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih buram. "Kamu kenapa?" tanya Ratih, tangannya terulur menyentuh kening Bagas, seolah memastikan apakah dia demam atau tidak. Bagas terdiam beberapa saat, merasakan sakit yang menjalar di tengkuknya. Kepalanya masih berdenyut, dan tubuhnya terasa lemah. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Ini… rumah kontrakannya. Bagaimana bisa dia ada di sini? Bukankah tadi dia masih berada di luar, di depan rumah? "Ti—tidak, tidak apa-apa," katanya akhirnya, meskipun suaranya terdengar lemah. Dengan susah payah, dia duduk tegak di kursi kayu. Ratih menghela napas, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada sorot kasihan di matanya. Tanpa berkata apa-apa, dia berba

    Last Updated : 2025-02-04
  • Pesugihan Genderuwo   204. Kebencian Ratih pada Kehamilannya

    "Tunggu, Ratih!" Bagas berteriak saat Ratih perlahan menghilang di tengah derasnya hujan. Hatinya dipenuhi kecurigaan. Ada yang tidak beres. 'Itu bukan anakku ... kan?' Pikiran itu menghantamnya tanpa ampun. Dadanya terasa sesak. Matanya menerawang, mengingat kembali kejadian mengerikan yang pernah terjadi pada Ratih. "Ratih … menjadi syarat pesugihan itu!" Bagas menelan ludah. Napasnya memburu. Sebuah kemungkinan mengerikan terlintas di kepalanya. "Apakah mungkin … itu adalah anak Genderuwo?" Tiba-tiba— GURRRR… DUMMMM! Guntur menggelegar di langit, menyusul kilatan petir yang membelah gelapnya malam. Bagas terlonjak, telinganya berdenging. "Astaga, pertanda apa ini?" desisnya, meremas dadanya yang berdebar hebat. "Jangan-jangan, i—ini benar!" Hujan semakin deras. Pikiran Bagas semakin kacau. Dia harus mengejar Ratih. Dengan gerakan cepat, Bagas meraih jaketnya dan melangkah keluar rumah. Namun, baru saja ia ingin berlari, suara parau menghentikannya. "Bagas,

    Last Updated : 2025-02-05
  • Pesugihan Genderuwo   205. Rasa benci pada diri sendiri

    "Neng, sudah sampai!" Suara tukang becak itu mengingatkan Ratih dari lamunannya. Dia terbangun dengan kaget, tubuhnya basah kuyup akibat hujan deras yang terus mengguyur sepanjang perjalanan. "Terima kasih ya, Kang!" katanya pelan dan lemah. Ratih merasakan dingin menusuk tulang, dan perutnya mulai terasa bergejolak. Bayi di dalamnya seolah-olah menuntut perhatian, meminta makanan, namun Ratih merasa mual hanya dengan memikirkan itu. "Anak ini lapar! Tapi—aku nggak mau makan itu lagi!" keluhnya sambil melihat perut buncitnya. Begitu sampai di rumah kontrakan, Ratih segera masuk dan menutup pintu dengan kasar. Dia menanggalkan pakaian basahnya dan berjalan menuju dapur, berusaha mengalihkan perasaannya. Kehamilannya—yang tak pernah dia inginkan—terus menghantuinya. Bayi itu seperti kutukan yang harus dia tanggung. "Entah, aku nggak mau anak ini lahir!" Perasaan Ratih semakin teriris setiap kali melihat kehamilannya. Perutnya masih menuntut makanan, meskipun hati kecilnya menola

    Last Updated : 2025-02-06
  • Pesugihan Genderuwo   206. Malapetaka diciptakan Bagas

    "Ratih, kenapa kamu selalu menghindar?!" Bagas berjalan lunglai di tengah derasnya hujan. Bajunya sudah basah kuyup, rambutnya lepek menempel di dahi, dan tubuhnya gemetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena penyesalan yang menyesakkan dadanya. Dia mengingat kembali masa-masa bahagianya bersama Ratih. Meski mereka hidup di ambang kemiskinan, Ratih selalu berada di sisinya. Dulu, Ratih adalah cahaya dalam hidupnya. Seorang istri yang setia, yang tak pernah mengeluh meskipun hidup mereka penuh dengan kesulitan. Namun, ketulusan itu Bagas sia-siakan hanya karena satu keputusan bodohnya—melakukan pesugihan. Demi uang, demi hidup yang lebih baik, Bagas telah menukar sesuatu yang jauh lebih berharga: cinta dan kebahagiaannya sendiri. Dia berpikir pesugihan akan membawa kemakmuran bagi keluarganya, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Ratih berubah. Matanya yang dulu penuh kasih kini dipenuhi ketakutan dan kebencian. Tatapannya yang dulu teduh kini terasa dingin dan kosong. "

    Last Updated : 2025-02-07
  • Pesugihan Genderuwo   207. Dosa Tak terampuni

    "Mana bisa saya memaafkan manusia seperti dia, Bah!" Feri hampir kehilangan kendali. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan luapan emosi yang sejak lama ia pendam. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah Bagas, seakan ingin menusukkan setiap kata kebenciannya langsung ke hati pria itu. Bagas tak bergeming. Dia tetap duduk diam, membiarkan hujatan itu menghantamnya. Kyai Ahmad, yang sejak tadi mengamati, mencoba menenangkan situasi. "Feri, istighfar! Jangan begitu. Semua orang bisa berubah. Siapa kita sampai berhak menutup pintu taubat bagi orang lain?" suara Kyai terdengar lembut, tapi tegas. Namun, Feri tak terima. Matanya memerah, penuh dendam yang tak bisa dipulihkan hanya dengan kata-kata. "Nggak, Bah! Dia tidak akan pernah bisa berubah!" teriaknya, tangannya mengepal. Feri mendekat, berdiri tepat di depan Bagas. Rahangnya mengeras, pandangan matanya dingin. Cuh! Ludahnya jatuh tepat di lantai di hadapan Bagas. "Sampai dia mati pun, saya nggak akan pernah memaafkan manusia

    Last Updated : 2025-02-08
  • Pesugihan Genderuwo   208. Terhalang

    Bagas menunduk dalam-dalam, suaranya bergetar saat dia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini dia pendam. "Saya seorang pembunuh, Kyai!" Tangannya mengepal di atas lutut, tubuhnya berguncang. Air matanya jatuh, bercampur dengan sisa air hujan yang masih menempel di wajahnya. Di hadapannya, Kyai Ahmad menghela napas panjang. Sorot matanya tajam, penuh pertimbangan. Dia tahu Bagas bukan hanya sekadar pendosa biasa. Bagas adalah pria yang telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kubangan dosa, melakukan pesugihan yang telah merenggut nyawa banyak orang. Warga kehilangan keluarga mereka. Harta mereka lenyap dan desa ini perlahan-lahan berubah menjadi tempat yang penuh kutukan. Namun, di balik dosa-dosa itu, Kyai Ahmad melihat sesuatu dalam diri Bagas—sesuatu yang mungkin bisa diselamatkan. "Jangan bicara begitu, Bagas." Kyai berusaha tetap tenang, meski dalam hatinya ada keraguan yang tak bisa ia pungkiri. "Semua orang punya kesalahan. Sekarang kamu sudah mau bertaubat, k

    Last Updated : 2025-02-09
  • Pesugihan Genderuwo   209. Kutukan dalam Kandungan

    "Kamu pernah menyadari sesuatu, tidak, Nak Bagas?" Pertanyaan Kyai Ahmad membuat Bagas terdiam sejenak, kebingungan. "Maksud Kyai apa?" tanyanya, mencoba memahami arah pembicaraan Kyai. Kyai Ahmad tidak langsung menjawab. Dia berdiri, mengambil sesuatu dari meja di dekatnya, lalu menyerahkannya pada Bagas. Sebuah kain putih yang sudah menguning, terikat rapat. Saat Bagas menerimanya dan membuka lipatannya, bau busuk menyengat langsung menyerbu hidungnya. "Em—!" Bagas buru-buru menutup hidung, wajahnya meringis jijik. "Baunya busuk sekali, Kyai!" Kyai Ahmad menghela napas panjang. "Itu adalah muntahan istrimu, Ratih." Bagas tersentak. Matanya membesar, tangannya yang memegang kain itu sedikit gemetar. "Apa...?" suaranya melemah. Ratih mengalami hal seperti ini? Kyai Ahmad mengangguk. "Beberapa hari lalu, dia datang kepadaku. Dalam keadaan lemah, wajahnya pucat, dan tubuhnya menggigil." Bagas semakin cemas. "Kenapa dia nggak bilang ke saya, Kyai?" "Karena dia takut

    Last Updated : 2025-02-10

Latest chapter

  • Pesugihan Genderuwo   256. Ratih dan Anak Kembarnya

    "Jagat... Kala, hentikan!"Suasana begitu mencekam.Ratih berdiri dengan tubuh gemetar, matanya tak bisa lepas dari pemandangan mengerikan di hadapannya. Jagat dan Kala sedang melahap beberapa kambing hidup. Daging dan darah segar berceceran, memenuhi tanah kandang ternak.Mereka seperti binatang buas yang kelaparan. Tidak—mereka lebih dari itu. Mereka bukan lagi manusia sepenuhnya.Walaupun Kala tampak lebih normal, tetap saja sifat iblis mengalir dalam darahnya, sama seperti Jagat, kakaknya.Kala menoleh dengan mulut berlumuran darah."Ini enak, Bu. Mau coba?"Suara itu tidak keluar dari mulutnya—suara itu menggema di dalam kepala Ratih.Ratih melangkah mundur, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Mata kedua anaknya semakin tajam, semakin menyeramkan.Dan yang lebih menakutkan—mereka bahkan tidak ragu untuk menyerangnya."Jagat... Kala! Hentikan perbuatan kalian!"Ratih berteriak, suaranya menggema di kandang ternak milik seorang warga yang baru saja pindah ke desa Sumb

  • Pesugihan Genderuwo   255. Gila?

    "Jangan...!"Napas Ratih memburu, memenuhi ruangan yang kini terasa semakin sempit. Tubuhnya gemetar hebat, peluh membasahi pelipisnya."Tidak mungkin... Ini tidak akan terjadi!"Ratih berdiri dari duduknya dengan tergesa, tangannya meraih teko air di atas meja dan meneguk beberapa gelas sekaligus. Namun, rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda."Mimpi itu datang lagi!"Tangan Ratih semakin gemetar. Keringat dingin mengalir deras di punggungnya. Kenapa dia selalu bermimpi buruk tentang masa depan? Mengapa bayangan Jagat dan Kala yang berubah menjadi sosok mengerikan selalu menghantuinya?Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berkecamuk."Tidak mungkin ini akan terjadi, kan? Apa yang harus aku lakukan jika semua itu benar-benar terjadi?"Krek!Ratih terperanjat.Suara itu datang dari belakangnya—suara seperti kuku yang mencakar kayu.Krek!Kali ini suara itu semakin jelas. Seolah-olah sesuatu sedang merayap mendekat.Ratih membeku. Tangannya men

  • Pesugihan Genderuwo   254. Amukan massa

    “Bakar rumahnya!”Teriakan itu menggema di sepanjang gang sempit menuju rumah kontrakan Ratih. Puluhan warga dari Desa Sumberarum dan Karangjati berkumpul dengan wajah penuh amarah. Beberapa membawa obor, yang lainnya menggenggam golok, kayu, atau batu. Mereka datang bukan untuk berdialog, melainkan untuk menghakimi."Keluar, Ratih! Jangan sembunyikan lagi anak-anak setanmu itu!"Suara-suara itu semakin mendekat. Ratih yang berada di dalam rumah segera meraih kedua anak balitanya, Jagat dan Kala, lalu berlari ke dalam kamar.“Diam ya, Nak… jangan bersuara,” bisiknya dengan napas memburu.Tangannya gemetar saat membuka lemari pakaian kayu yang mulai lapuk. Dia memasukkan kedua anaknya ke dalam, lalu menutup pintunya pelan."Jangan keluar sampai Ibu bilang, ya?" suaranya nyaris berbisik.Jagat dan Kala menatapnya dengan mata bulat mereka yang hitam pekat. Mereka tidak menangis, tidak bersuara.Ratih menarik napas dalam, lalu berbalik. Di luar, suara warga semakin memanas.Braak! Braak!

  • Pesugihan Genderuwo   253. Rahasia

    Ratih melangkah perlahan memasuki kediaman Kiai Ahmad. Hatinya diliputi kegelisahan, tetapi dia berusaha menenangkan diri. Dua hari telah berlalu sejak Kiai Ahmad dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian mengerikan di pendopo. Ratih masih belum bisa melupakan peristiwa itu, terutama sosok dua anaknya yang dia lihat di sana.Namun, kali ini dia memilih diam.Di dalam rumah, dia melihat Kiai Ahmad sedang beristirahat di dipan, tubuhnya dipenuhi perban. Luka-luka yang tampak di lengan dan wajahnya membuat dada Ratih semakin sesak."Kiai, bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan suara pelan.Seorang perempuan muda yang duduk di dekat Kiai Ahmad menoleh. Dia adalah anak perempuan Kiai Ahmad, seorang wanita yang terlihat kuat namun tetap lembut dalam sikapnya."Ini sudah lebih baik, Mbak Ratih," jawabnya dengan senyum tipis.Ratih mengangguk. "Syukur alhamdulillah," ucapnya lega, meskipun di dalam hati, dia masih menyimpan banyak pertanyaan.Dia duduk di kursi kayu yang berada di samping tem

  • Pesugihan Genderuwo   252. Hal Yang Aneh

    "Ada apa itu?""Sepertinya dari rumah Pak Windra!"Suara teriakan dari arah ladang membuat Ratih tersentak. Warga desa yang masih berkumpul di pendopo pun langsung menoleh.Beberapa warga segera berlari ke arah sumber suara. Ratih berdiri mematung, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan. Jagat dan Kala masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan senyum aneh itu."Ayo-ayo kita kesana!""Iya, ada apa di sana?"Ratih tidak mau tahu. Dia harus pergi ke rumah Pak Windra! Dia harus memastikan.Dengan cepat, Ratih berlari menyusul warga yang sudah lebih dulu sampai. Ketika dia tiba di sana, teriakan histeris memenuhi udara."Ya Allah, Pak Windra!"Ratih menyibak kerumunan dan langsung terkejut.Pak Windra tergeletak di tanah dengan mata membelalak ketakutan. Tubuhnya penuh luka, robek di sana-sini, dan yang paling mengerikan—darah menggenang di sekitar lehernya yang hampir putus.

  • Pesugihan Genderuwo   251. Cerita Bagas Kembali mencuat

    "Aku sudah bilang, suami Ratih itu bukan manusia biasa!""Benar! Aku juga pernah melihat sesuatu yang aneh di rumah mereka dulu.""Apa mungkin dia yang membunuh Feri?"Bisikan demi bisikan memenuhi udara malam yang dingin. Warga Desa Karangjati berkumpul di depan pendopo, membicarakan hal yang selama ini tak pernah mereka ungkapkan dengan lantang. Sosok Bagas, yang dulunya hanyalah seorang lelaki pendiam, kini kembali menjadi pusat ketakutan mereka."Genderuwo!" "Wah, itu makhluk terbesar yang pernah aku lihat di ladang Bagas!" Ratih berdiri tak jauh dari kerumunan, tubuhnya lelah dan wajahnya penuh luka cakaran. Darah yang mengering di pipinya terasa perih, namun lebih perih lagi mendengar namanya dan Bagas disebut-sebut sebagai sumber malapetaka."Aku dengar, Bagas dan Ratih dulu sering bertengkar di rumah mereka.""Dia, katanya Ratih ingin pergi, tapi Bagas tak pernah membiarkannya!""Apa jangan-ja

  • Pesugihan Genderuwo   250. Pendopo

    "Astagfirullah, Kiai!"Ratih mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat.Darah.Darah mengalir di lantai kayu, merembes ke sela-sela papan yang mulai lapuk. Tubuh Kiai Ahmad terkulai di atas tikar dengan napas yang tersengal-sengal.Matanya setengah terbuka, tapi pandangannya kosong."Ya Allah, Kiai! Apa yang telah terjadi!" Seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Sayatan panjang di dadanya menganga, dan bekas cakaran mencabik kulit di lengannya.Ada sesuatu yang telah menyerangnya.Ratih menutup mulutnya, rasa mual merayap di tenggorokannya.Ini ulah mereka.Jagat dan Kala."Na—Nak Ratih..."Suara Kiai Ahmad bergetar, nyaris tak terdengar.Ratih buru-buru berlutut di sampingnya, berusaha mencari cara untuk menghentikan pendarahan. Namun, darah terus mengalir, membasahi jubah putihnya."Kiai, bertahanlah!" Ratih menahan air matanya. "Saya akan minta bantuan!""A—anak ... anak mu! ha—harus segera—"Dengan tangan gemetar, Ratih berlari ke luar rumah."Tolong! Ada yang bisa membantu?!"Be

  • Pesugihan Genderuwo   249. Cakaran Anaknya

    "Siapa yang telah terbunuh?"Jantung Ratih berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Tidak... ini tidak mungkin terjadi lagi.Ratih menggigit bibir, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, pikirannya berkecamuk."Mayat siapa itu? Ke—kenapa...?"Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Tubuhnya terasa kaku, namun ketakutan yang mencekam membuatnya tidak bisa berdiam diri.Dia harus melihatnya.Ratih melangkah maju, lalu berhenti. Ragu.Tangannya gemetar saat dia meraih sebilah pisau di atas meja. Genggamannya erat, seakan itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari kengerian di balik pintu.Duka dan ketakutan menyelimuti hatinya.Lalu, dengan gerakan perlahan, dia mendorong pintu kamar itu.Kreek...Suara engsel berderit, membuka pemandangan yang membuat Ratih membeku.Darah.Darah ada di mana

  • Pesugihan Genderuwo   248. Hutan Terlarang

    "Ibu... kita di sini!"Suara itu kembali terdengar, menggetarkan udara malam yang dingin. Ratih menoleh ke kanan dan kiri, matanya liar mencari sumber suara. Namun, yang dia temukan hanyalah pepohonan tinggi yang menjulang, menciptakan bayangan gelap yang bergerak seiring tiupan angin."Di sini, Bu... di sini!"Ratih menelan ludah. Suaranya semakin dekat, tapi bayangan kedua anaknya tak juga terlihat.Bagaimana mereka bisa keluar rumah?Jantungnya berdebar kencang. Rasa takut menyusup ke setiap sudut pikirannya."Jagat... Kala!" teriaknya, suaranya bergetar.Namun, hanya sunyi yang menjawabnya.Argh!Sebuah erangan tajam menggema di kegelapan.Ratih terperanjat, tangannya mencengkeram bajunya sendiri. Dia melangkah mundur, matanya liar mencari sumber suara.Tapi tidak ada siapa-siapa.Srek!Sesuatu bergerak di antara dedaunan kering. Ratih menahan napas. Dia tahu dia tidak sendirian di sini."Ibu... kami di sini!"Suara itu kembali terdengar, kali ini dari arah yang berbeda. Ratih mel

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status