Paginya para pelayan Daniel melayani Delotta dengan baik. Namun batang hidung pria itu tidak tampak sama sekali. Saat di meja makan dia hanya bertemu Maria yang dengan telaten menjamunya sarapan pagi. Semalam dia ingat semuanya. Diam-diam dia bersyukur Daniel tidak ada. Jika pagi ini bertemu Delotta yakin hanya akan ada rasa canggung di antara mereka. "Tuan Daniel sudah berangkat. Beliau bilang ada rapat pagi yang harus dihadiri," ujar Maria tanpa diminta. Delotta bahkan tidak bertanya. "Beliau juga berpesan agar Nona beristirahat dan tidak perlu masuk kerja." "Hm, terima kasih." "Supir akan mengantar Anda setelah selesai sarapan pagi." Info yang Maria berikan cukup detail. Namun, kepala Delotta masih terasa penuh sehingga dia hanya merespons dengan gumaman. Ketika dalam perjalanan pulang papa menelepon dan menanyakan dirinya yang tidak muncul pagi ini. "Maaf, Pa. Aku menginap di kosan Tya lagi dan langsung berangkat kerja dari sana." "Kamu akhir-akhir ini bikin papa jantungan
"Happy Birthday!" Teriakan itu dibarengi petasan confetty yang meletup di udara. Suara tawa lantas bersusulan. Malam ini Delotta merayakan ulang tahunnya yang ke-22 di salah satu kelab malam ibukota. Mengundang teman-teman kuliah dan beberapa teman kantor. Ricko juga turut hadir di acara itu. Dia bahkan mendapat potongan kue pertama dari putrinya. Akan selalu seperti itu, tentu saja. "No alkohol," ucap Ricko dengan cukup keras lantaran musik terlalu mendominasi saat acara inti akhirnya selesai. "Clubbing mana asik tanpa alkohol, Om!" seru Tya memprovokasi, seperti biasa. "No, atau acara ini Papa bubarin." Ricko menatap Delotta, dia terlalu serius menanggapi banyolan Tya. "Ya ampun, Pa. Oke, Papa tenang aja sih." Delotta menepuk bahu papanya. "Ingat ya, Otta. Sebelum jam 12 malam, acara ini harus sudah selesai." Kembali Ricko memperingatkan dan langsung disambut hormat bendera oleh kedua gadis itu. Ricko hanya bisa menggeleng melihat kelakuan mereka. Pria 47 tahun itu membiark
Tidak bisa disebut Daniel yang melecehkan sebenarnya. Justru Delotta yang merangsek dan mencium pria itu lebih dulu. Meski begitu, ucapan Delotta membuat rasa bersalah tiba-tiba menghantam kepala Daniel. Pria itu tidak membantah karena malam itu sempat terlena. Jika tidak ingat siapa Delotta, mungkin Daniel sudah menidurinya. Naluri laki-lakinya bekerja dengan cepat dan sempurna. Daniel berdeham sejenak untuk melegakan tenggorokannya yang tadi sempat tercekik. "Sampai jam berapa acara ini?" tanya pria itu, mengalihkan topik pembicaraan. "Om Daniel pasti tahu. Bukannya Om di sini karena ingin mengawasiku?" Ucapan Delotta yang terkesan dingin membuat Daniel sedikit menyipitkan mata. Atau ini cuma perasaannya? Akhir-akhir ini cara gadis itu bicara dan bersikap agak lain dari biasanya. Baiklah, mungkin ini efek perbuatannya. Daniel berusaha memaklumi itu. "Om Daniel silakan menikmati pestanya, aku akan bergabung bersama teman-teman lain." Tanpa menunggu respons pria itu, Delotta me
"Cukup, Otta." Daniel menjauhkan Delotta, membuat gadis itu menatapnya tak mengerti. "I'm sorry, tapi ini nggak boleh terjadi," ujar Daniel lagi. "Apa maksudnya nggak boleh terjadi?" tangan Delotta masih nyangkut di bahu Daniel. "Ini memang sudah terjadi." Pria bermata biru itu menggeleng. "Nggak seperti ini seharusnya." Dia memindahkan tubuh Delotta agar duduk di tempatnya lagi. "Apanya yang nggak seperti ini? Om Daniel jelas-jelas menginginkan aku. Kenapa sih Om nyangkal terus?" "Otta, kita sudah membahas ini. Pakai sabuk pengamanmu kita pulang. Tidak ada penolakan, dan tidak ada kejadian seperti tadi. Kecuali kita mau sama-sama mati," ucap Daniel tegas. Delotta berdecak seraya membuang muka. Namun, tangannya tak urung menarik sabuk pengaman. Sepanjang jalan hening melingkupi keduanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan ketika sampai di depan rumah Ricko, Delotta keluar begitu saja dari mobil tanpa mengucapkan apa-apa. Sek
Sejak malam ulang tahun itu, Daniel merasa Delotta makin menjauhinya. Sikap dingin perempuan itu membuatnya terus menghela napas. Anehnya pada orang lain Delotta bisa bersikap hangat. Daniel berusaha tidak terpengaruh, tapi ternyata cukup sulit. Dari balik dinding kaca ruangannya, dia mengawasi gadis itu. Dinding kaca yang sengaja didesain khusus agar dia bisa mengawasi stafnya tanpa mereka tahu. Dinding itu bisa menampakan segala kegiatan di luar, tapi yang di luar tidak akan melihat keadaan di dalamnya. Delotta tertawa bersama salah satu staf yang mampir di kubiknya. Tanpa sadar hati Daniel sedikit tercubit. Sejak penolakannya, keceriaan seperti itu lenyap jika Delotta berhadapan dengannya. "Apa yang Anda lihat, Pak?" Daniel menoleh saat mendengar suara Sandra. Heels wanita itu mengetuk lantai, mendekatinya. "Tidak ada." Daniel berbalik dan kembali ke kursi kerjanya. "Anda mengawasi Delotta?" Pertanyaan itu hanya dibalas lirikan kecil oleh pria itu. "Mana yang harus aku tanda
Glamping dengan view laut yang menakjubkan. Saat berdiri dengan bertelanjang kaki di pasir putih Delotta bisa membayangkan suasana sore nanti seperti apa. Sunset di ujung cakrawala pasti akan memukau indah. Ini cukup menghibur di tengah suasana hatinya yang galau. Cinta ditolak membuat sedikit rasa percaya dirinya terkikis. Seumur-umur dia tidak pernah jatuh bangun mengejar laki-laki. Jangankan mengejar, mengutarakan cinta saja tak pernah. Daniel membuatnya menjadi pengecualian. Siapa sangka luka penolakan ternyata lebih sakit ketimbang luka putus cinta, setidaknya itu bagi Delotta. "Astaga, ternyata kamu di sini. Aku cari-cari juga dari tadi." Delotta menoleh dan mendapati Steve berjalan mendekat. Pria itu mengenakan outfit kasual yang membuatnya jadi terlihat begitu santai. "Anak-anak udah pada masuk ke tenda. Kenapa malah di sini?" tanya Steve ketika berhasil menjajari Delotta. "Saya lagi menghirup udara laut, Pak. Udah lama nggak main ke laut." "Oh ya? Mainmu sekarang ke kel
Kendali sepenuhnya ada di tangan Daniel. Konsentrasi Delotta berceceran dengan posisi seperti sekarang. Daniel seolah memperangkapnya. Lengan kokohnya dan dada bidangnya membuat segalanya berantakan. Ocehan Daniel tentang cara mengemudi motor air dengan baik terbawa angin laut sebelum mampir ke telinga Delotta. Dengan posisi nyaris tak berjarak ini, jantung Delotta jumpalitan tak karuan. Bagaimana dia bisa belajar dengan benar? Daniel membawanya ke tengah laut. Menembus ombak, dan menantang gelombang. Dia begitu mahir mengendarai jet ski, terlihat sangat berpengalaman. Pria itu juga mengajari cara berbelok dan berkendara di atas ombak. Jujur, Delotta hanya sedikit memperhatikan. Selebihnya dia sibuk menikmati debaran hatinya yang menghangat. Sampai akhirnya jet ski berputar dan kembali ke tepi dermaga. "Kamu bisa mengemudi sendiri sekarang. Coba ya, pelan-pelan aja." Tangan Delotta sedikit gemetar ketika akhirnya tangan Daniel menjauh dari kemudi. Akan sangat memalukan jika dia t
Delotta memutar tangan dan menyentaknya hingga cekalan Daniel terlepas. Diseret-seret dengan tujuan tidak jelas membuat gadis itu kesal. "Apa-apaan sih Om?" tanya dia dengan wajah tertekuk. "Otta, kamu tau nggak apa yang kamu lakukan?" Wajah Daniel juga tak kalah gusar. "Emang aku ngelakuin apa?" "Bagaimana bisa kamu izinkan Steve masuk ke tenda kamu?" Mata besar Delotta menyipit. Tanda tanya besar mendadak muncul di kepalanya. "Kalau dia ngapa-ngapain kamu gimana?" Delotta menatap Daniel heran. Tidak paham maksud dan mau laki-laki itu."Kamu nggak mau aku jaga, tapi jaga diri sendiri saja begini. Kamu tahu Steve itu siapa dan laki-laki seperti apa?""Dia laki-laki baik yang menawarkan pertemanan," sahut Delotta mulai tampak bosan. "Nggak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Dia itu sedang modusin kamu. Suka sama kamu." "Ya lantas masalahnya apa? Dia yang suka sama aku kenapa Om yang uring-uringan?" Sebelah alis Delotta naik tinggi-tinggi meningkahi Daniel. Dia bena
"Adik bayi itu dari angsa terbang, Mam?" Pertanyaan yang diajukan dengan nada khas balita itu membuat Dellota dan Daniel terkekeh. Kavia masih penasaran dengan kemunculan adik bayi. Gyan di sisi gadis kecil itu menarik napas panjang. "Bukan Kavia, kan aku udah bilang itu mitos." "Aku nggak tau mitos itu apa." Kavia tidak peduli dan meloncat ke bed ibunya. Seketika Daniel memekik tertahan. "Hati-hati, My Princess. Kamu bisa jatuh," ucapnya dengan dada yang masih berdebar kencang. "Aku cuma mau lihat adik bayi." Kavia bergerak ke sisi ibunya yang tengah menyusui adik barunya. "Mami, boleh aku ikut nenen juga sama mami?" Lagi-lagi Delotta terkekeh. Tangannya terjulur mengusap kepala Kavia dengan lembut. "Kavia kan udah jadi kakak, masa masih mau nenen ke mami?" "Kavia, nenen itu cuma buat bayi. Kita udah jadi kakak, udah besar. Kamu mau diejek sama teman-teman kalau masih nenen sama mami?" Gyan menggeleng tak habis pikir dengan keinginan adiknya. Namun Kavia lagi-lagi tak peduli
Tangan Daniel menggenggam kemudi dengan erat. Gigi-gigi dalam rongga mulutnya gemeretakan menahan kesal. Beberapa kali dia menghela napas panjang untuk menghalau amarah akibat tingkah sekretarisnya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang sekretaris baru seberani itu? Kepalanya penuh dengan Delotta sekarang. Beberapa hari belakangan wanita itu sering uring-uringan perkara sekretaris baru Daniel. Dan malam ini kekhawatiran Delotta terbukti. Daniel membelokkan kemudi ke kawasan rumah mewahnya. Pintu gerbang rumah terbuka saat sensor di sana mengenali mobilnya. Dia bergerak masuk melewati halaman taman yang luas, mengitari tugu air mancur warna-warni hingga mobilnya tepat berhenti di depan teras rumah. Dia turun begitu saja dari mobil dan memasuki rumah yang pintunya otomatis terbuka. Langkahnya berbelok ke kanan menuju jalan alternatif yang akan langsung menuju kamar pribadinya. Ketika tangannya menyentuh sebuah dinding berlapis marmer, dinding itu lantas bergerak terbuka. Danie
Pekerjaan membuat Daniel harus tinggal lebih lama di kantor. Beberapa saat lalu dia baru saja mengakhiri panggilan video dengan istri dan anak-anaknya yang tengah bersiap tidur. Ini menjadi hal yang sulit untuknya. Dellota tengah hamil anak ketiga, tapi pekerjaan malah makin membuat pria itu sibuk. Tak jarang dia meninggalkan istri dan anak-anak keluar kota. Blue Jagland Indonesia makin melebarkan sayap. Bisnisnya mulai menggurita di beberapa sektor. Itu yang membuat Daniel makin sibuk. Sampai-sampai Gyan dan Kavia protes karena waktu bermain mereka dengan sang papi jadi berkurang. Tidak jarang weekend pun Daniel tetap bekerja."I'm sorry, Baby. Tapi semua ini memang sulit ditinggal," ucap Daniel suatu kali ketika Delotta protes tentang jam kerjanya yang makin tak masuk akal."Tapi kami juga butuh waktu kamu. Lima hari kerja memangnya nggak cukup? Kalau majunya perusahaan malah bikin kamu nggak punya waktu buat kami lebih baik perusahaan nggak usah maju aja." Delotta bersedekap tangan
Delotta terkikik geli saat melihat Kavia tidur di lengan Danielâyang juga ikutan tidur dengan lelap. Batita itu terlihat begitu nyaman tidur sambil memegangi lengan Daniel. Dalam keadaan begitu, keduanya tampak begitu mirip. Lima belas menit lalu Delotta sengaja menitipkan putrinya yang sudah dia dandani kepada Daniel. Bahkan dia juga berpesan untuk membawa Kavia jalan-jalan. Dan ternyata jalan-jalan mereka ke pulau kapuk. Delotta bersandar pada kusen pintu menatap mereka. Untuk semua alasan dia sangat bersyukur dengan keadaannya yang sudah sampai sejauh ini.Kepala Delotta menggeleng pelan sambil tersenyum melihat pemandangan itu. Tidak mau mengganggu, dia pun keluar. "Adek mana, Mam?" tanya Gyan saat melihat ibunya berjalan sendiri tanpa Kavia di gendongannya. "Lagi tidur sama papi," ujar Delotta pelan. "Kok tidur sih? Ini kan udah sore? Papi juga janji mau main bola sama aku." Wajah Gyan cemberut, pipi chubby-nya memerah. "Iya maafin, Papi. Nanti kalau Papi udah bangun kamu b
"Boleh satu lagi?" Delotta berjengit ketika Daniel mencium perutnya. Dia kaget dengan permintaan Daniel. Demi Tuhan! Kavia baru lepas dari asi eksklusif bisa-bisanya Daniel memintanya untuk memberi anak lagi. "Aku masih capek. Tenagaku masih perlu dipulihkan. Ya aku tau kamu memberiku bala bantuan. Tapi paling enggak tunggu sampai Kavia usia dua tahun?""Dua tahun? Bahkan hamil kedua saat Gyan umur satu tahun. Ayolah Sayang, kamu menikah bukan sama pria muda.""Ya, lalu?" Daniel menggigit bibir, tapi lantas menundukkan kepala sambil melukis gerakan abstrak dengan ujung jari di atas lengan Delotta. Mirip sekali dengan Gyan saat merajuk. "Kalau dilama-lamain lagi aku takut dikira sedang menggendong cucu nanti," ujar pria itu, yang mau tak mau membuat Delotta menyemburkan tawa. Daniel berdecak malas melihat reaksi istrinya. "Apanya yang lucu coba?"Delotta mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah untuk meredakan tawa. "Maaf, Sayang." Segera mungkin Delotta mendekat dan menyelipkan t
"Ah!" Delotta menengadah sambil menggigit bibir. Rintihan lirihnya membuat suasana di sekitar makin panas. Peluh membanjiri kulit tubuhnya yang seputih susu. Pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan tempo sedang. Di bawahnya, Daniel mengerang. Dua tangannya merangkum dada Delotta. Sesekali jarinya menjepit gemas dua puncak dada itu yang kadang mengeluarkan cairan asi. "Sayang, ini perlu dipumping lagi kayaknya deh," ucap Daniel saat jarinya merasakan basah ketika menekan puncak dada istrinya. "Sebentar lagi," sahut Delotta agak terbata. Melihat wajah memerah Delotta, Daniel tersenyum. Dia segera mengambil alih permainan. Ditariknya tubuh gadis itu sampai jatuh ke pelukannya. Lantas dari bawah pinggulnya bergerak menghantamkan miliknya lebih keras dan dalam sampai-sampai membuat Delotta terpekik. "Aku bantu," ucap pria itu memberikan hujaman demi hujaman. Erangan dan desahan Delotta makin menjadi. Dirinya yang memang sudah tidak bisa menahan diri lagi dengan cepat meraih kep
Daniel mencium pipi Delotta yang sedang mengoles selai pada sehelai roti. Dia lantas beranjak duduk di kursi makan paling ujung. Tepat di depannya ada satu tangkup sandwich segitiga dengan isian sayur. Tangannya meraih gelas panjang berisi air putih dan meneguknya hinga isinya tersisa setengah. Perlahan Delotta duduk di kursi. Perutnya yang sudah membesar membuatnya agak kesulitan bergerak. "Yakin bukan hari ini lahirannya?" tanya Daniel yang selalu seperti menahan sesuatu ketika Delotta bergerak. Ada rasa khawatir tiap kali melihat Delotta tampak kesusahan dengan perutnya yang makin besar. "Yakinlah. Masih sepuluh hari lagi kata dokter." Delotta menggigit roti selai cokelat yang dia buat tadi. "Tapi perut kamu kayak mau jatuh gitu aku liatnya." Delotta memutar bola mata. "Memang Om nggak pernah liat orang hamil sebelumnya?" "Ya, ya liat sih, tapi kan baru sekarang liat istri hamil." "Ya terus apa bedanya? Orang hamil ya begini, namanya juga udah bulannya. Wajar dong kalau peru
Belum lengkap rasanya ke Santorini tanpa menikmati Oia sunset di atas ketinggian kota kecil di ujung utara pulau ini. Delotta merasa beruntung karena dia bisa melihat gradasi jingga yang memendar di langit dan bangunan-bangunan unik khas Cyclades berwarna putih bersama orang yang dia cintai. Delotta bisa merasakan kehangatan udaranya. Ditambah pelukan lengan kokoh Daniel di balik punggungnya. Senja terasa sempurna berkat itu. "Are you happy?" "Sure because of you." Tangan Delotta terulur menggapai wajah Daniel yang bersandar di bahunya. "Dia pasti senang juga," ucap Daniel sambil meraba perut Delotta. "Iya dong pasti. Kalau dia lahir kita bakal ke sini lagi kan, Om?" "Ke mana pun kamu mau. Tapi sekarang kita harus pulang ke hotel. Jalan-jalan hari ini cukup. Kamu butuh istirahat." Lelah, tapi cukup terbayarkan semuanya. Seharian ini Daniel menuruti semua keinginan istrinya untuk menjelajah pulau. Dimulai dari Desa Wisata Pygrosâyang memiliki jalan-jalan sempit berliku, tembok b
Tya memandang takjub potrait foto Daniel dan Delotta yang dipajang secara estetik di pintu masuk menuju ballroom hotel tempat resepsi pernikahan mereka diadakan. Ukiran inisial huruf D ganda bertinta emas di keramik berbentuk persegi panjang, terpasang cantik di sebelah foto itu dengan hiasan tabung panjang berisi lilin buatan dan segerombolan bunga mawar peony. Di foto itu, Daniel yang terlihat tampan tengah tertawa sambil menatap Delotta yang juga tengah tertawa lebar. Hanya melihat dari foto saja kebahagiaan mereka lantas menular. Di sepanjang dinding koridor setelah melewati petugas keamanan, foto mereka juga dipasang setiap jarak dua meter. "Ini kapan mereka foto beginian sih?" gumam Tya masih dengan tatap takjub. Beberapa tamu sudah melewatinya, meninggalkan gadis itu yang tampak masih mengamati pameran foto prewed ala-ala Daniel Delotta. "Lo mau di sini terus?" Pertanyaan itu membuat Tya menoleh. Dia menemukan Dave dengan setelan jas kupu-kupu berada di sebelahnya. "Dave