Share

88. Jebakan

Penulis: 5Lluna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-03 19:09:12

Alaric memijat pangkal hidungnya. Dia sudah mendapat kabar dari rumah tentang Anna, tapi itu malah membuatnya makin sakit kepala. Siapa yang menyangka kalau sekali kesalahan akan membuatnya sakit kepala seperti sekarang ini.

"Apa istrimu membuat masalah?" tanya Marjorie yang mendatangi mantannya dengan senyum lebar dan segelas minuman dingin.

"Ya." Alaric tidak ragu mengangguk. "Dia membuat masalah yang cukup membuatku sakit kepala," lanjutnya menerima minuman yang diberikan oleh sang mantan.

Alaric merasa butuh sesuatu yang segar. Apalagi, dia baru saja menyampaikan pidato kampanye yang membuat tenggorokannya terasa kering.

"Kali ini, apa lagi yang dia lakukan?" tanya Marjorie duduk di depan Alaric, sambil menopang dagu di meja. "Dia mengamuk di jalan?"

"Anna hamil," jawab Alaric tanpa perlu berpikir panjang. "Padahal aku sedang sibuk kampanye dan mungkin tidak bisa terus menemaninya. Itu tentu saja membuatku sakit kepala."

"Apa maksudmu?" Alih-alih mengerti, Marjorie m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Pesona Sang Penguasa   89. Putri Tidur

    "Tuan?" Caspian memanggil, sembari menatap ke sekeliling ruangan. "Apakah kau pergi ke toilet?" Tidak mendapat jawaban, sang asisten langsung pergi mencari ke toilet. Dia bahkan sampai pergi mencari ke tempat yang memiliki mesin penjual otomatis, karena berpikir kalau Alaric akan pergi beli kopi atau camilan. Dia melakukan semua itu, sembari menelepon sang tuan. "Kenapa malah tidak diangkat?" gumam Caspian dengan kening berkerut. "Oh, Ian kebetulan kau muncul." Tiba-tiba saja, Marjorie muncul. "Apa kau melihat Alaric? Aku mencarinya sejak tadi, tapi dia tidak ditemukan." "Aku juga sedang mencari Tuan," jawab Caspian dengan kening berkerut. Entah kenapa dia merasa ada yang salah. "Loh, jadi kita harus bagaimana?" Marjorie malah terlihat sedikit terkejut. "Memang sudah tidak ada jadwal setelah ini, tapi nanti malam? Bukankah kita akan pergi makan malam bersama?" "Makan malam bersama bisa ditunda, Nyonya Jackson." Caspian makin mengerutkan kening. "Lagi pula tim kita tidak ak

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-03
  • Pesona Sang Penguasa   90. Daftar Mantan

    "Ian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marjorie dengan bola mata yang membulat karena terkejut. "Bukankah harusnya itu pertanyaanku?" tanya Caspian dengan senyum lebar. "Kau seharusnya mencari di dalam gedung dan bukan di dalam kamar hotel seperti sekarang." "Oh, soal itu." Marjorie menyelipkan rambut di telinga, berusaha untuk tetap tenang. "Aku tiba-tiba saja merasa tidak enak badan dan perlu untuk segera pulang dan beristirahat." "Tapi kenapa kau tidak memberitahu?" tanya Caspian dengan kedua alis terangkat dan sebelah tangan menahan pintu, sementara yang lainnya bertengger di kusen pintu. "Padahal kita sedang mencari Tuan Alaric yang menghilang loh." "Aku tidak memberitahu?" tanya Marjorie pura-pura bodoh. "Rasanya tadi aku sudah mengirimkan pesan." Sayangnya, Caspian tidak terlihat ingin membalas ucapan perempuan di depannya. Dia justru melihat penampilan Marjorie yang sebenarnya sudah cukup berantakan. Hal yang membuatnya mendengus geli. "Apa kau habis bercinta?

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04
  • Pesona Sang Penguasa   91. Gairah

    "Maafkan aku Nyonya." Tiba-tiba saja, Darcy datang dan membungkuk. "Aku melakukan kesalahan dan pantas dihukum." "Tunggu dulu." Anna yang sedang bersantai sambil mengunyah biskuit, langsung menghentikan aktifitasnya. "Memangnya kau melakukan kesalahan apa?" "Ini tentang pil pencegah kehamilan yang pernah Nyonya minum." Darcy tentu saja akan menjelaskan. "Rupanya itu bukan morning pill, tapi hanya pil KB biasa saja." "Ah, begitu toh." Anna mengangguk paham. "Pantas saja aku tetap hamil walau sudah minum pil, ternyata memang salah ya." "Ya." Darcy ikut mengangguk. "Seharusnya Nyonya meminum morning pill, yang memang diminum sekali saja setelah berhubungan. Kalau pil KB biasa, itu harus diminum rutin baru berfungsi." "Aku juga tahu itu Darcy, tapi terima kasih sudah menjelaskan." Untungnya, Anna sama sekali tidak marah atas keteledoran sang asisten. "Nyonya tidak marah?" "Lalu apa kau sengaja membeli pil yang salah?" Tentu saja Darcy akan menggeleng sebagai jawabannya. It

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-05
  • Pesona Sang Penguasa   92. Memancing

    "Tunggu dulu, Al." Anna mendorong bahu suaminya dengan cukup keras, sambil berusaha merangkak mundur di atas ranjang. "Aku ini sedang hamil muda loh." "Lalu memangnya kenapa kalau sedang hamil muda?" tanya Alaric dengan tatapan menerawang. "Kita masih bisa bercinta kan?" "Menurut yang pernah kupelajari dan yang baru saja kubaca di internet, trisemester awal sangat rentan dan tidak disarankan untuk bercinta. Apalagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang." "Kenapa denganku?" Alih-alih mendengarkan, Alaric malah melepas kancing kemejanya satu per satu. "Kau dipengaruhi obat, jadi tidak mungkin bisa melakukannya pelan-pelan." Anna memekik cukup keras. "Aku akan pelan." "Tidak mungkin kau bisa pelan dalam keadaan seperti ini." Tidak tahan lagi, Anna memilih berteriak. Dia makin panik karena kini sang suami mulai membuka celana. "Tuan aku minta maaf." Padahal Alaric sudah setengah jalan membuka celananya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara di belakangnya. Setelah itu, dia

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-05
  • Pesona Sang Penguasa   1. Perjodohan Bisnis

    "Bagaimana mungkin aku bisa menikahi pria yang hanya lebih muda dua tahun dari papaku sendiri. Ini gila dan AKU TIDAK MAU!""Ini sama sekali tidak gila, Anna. Ini demi kita semua. Kau anak berbakti yang mau membantu keuangan keluarga kan?" Suara terdengar dari ponsel yang tertempel di telinga Anna."Waktu Papa bilang usia Pak Fritz itu berbeda jauh, Anna pikir itu cuma berbeda paling banyak lima belas tahun. Aku berpikir dia itu lelaki akhir tiga puluhan atau awal empat puluh, bukan akhir lima puluh, Pa.""Sayang, usia itu hanyalah angka dan sama sekali tidak penting." Tentu saja sang papa berusaha untuk merayu putrinya. "Lagi pula, Pak Fritz itu lelaki dewasa, kaya raya dan baik. Dia pasti bisa mengayomi dan membimbingmu dengan baik. Kau satu-satunya harapan kami."Anna yang mengurung diri di dalam bilik toilet, memijat pangkal hidungnya dengan keras. Jujur saja, dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan sang ayah. Tapi, Anna juga tidak bisa jika pria yang akan dia teman

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-10
  • Pesona Sang Penguasa   2. Alaric

    Anna mengangkat kedua tangan, dengan tatapan cemas tertuju ke depan. Dia bergantian menatap lelaki yang terbaring di atas ranjang dan pistol yang terarah padanya. Ya. Pistol."Maaf, Pak." Perawat yang berdiri di sebelah Anna mencoba untuk berdiskusi. "Kami di sini hanya untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tapi kenapa malah ditodong dengan senjata?""You'd better keep quiet or you'll regret it." Lelaki yang memegang pistol itu mendesis pelan. "Bawa Pak Alaric pergi dari sini," lanjutnya, memberi perintah pada dua orang lelaki yang lain."Kau tidak bisa membawa dia pergi." Tentu saja Anna akan melarang dan dia mengatakan itu dalam bahasa Inggris. "Biar bagaimana, dia baru saja dioperasi.""Justru karena kau melakukan operasi tanpa izin, kami bisa menuntut. Siapa yang tahu kalau kalian malah mengambil organ atasan kami.""Hei, aku ini dokter." Dengan raut wajah kesal, Anna menghardik. "Bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti itu? Apalagi ini adalah rumah sakit besar. Sekarang

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-11
  • Pesona Sang Penguasa   3. Negosiasi

    "Bisakah kau menjauh?" tanya Anna dengan napas yang memburu karena merasa terkejut, sekaligus terancam."Tidak akan, sebelum kau mengatakan siapa yang menyuruhmu untuk menyerangku," desis Alaric dengan rahang yang mengetat.Sayang sekali, Anna tidak bisa menjawab. Seumur hidup, dia sama sekali tidak pernah diancam dan ditindas seperti sekarang ini. Hal yang membuat Anna jadi ketakutan, bahkan kesulitan untuk bernapas."Tuan." Pengawal perempuan memanggil. "Nona ini adalah dokter yang membawa Anda ke rumah sakit untuk menjalani operasi usus buntu.""Dokter?" Alaric kembali bertanya dengan sebelah alis yang terangkat."Aku dokter." Anna refleks mengangguk.Tentu saja Alaric tidak langsung percaya. Dia terlebih dahulu menatap perempuan di bawahnya dengan lekat, sebelum akhirnya mengingat apa yang terjadi. Alaric ingat bagaimana dia menabrak seorang perempuan kecil."Your scent." Alaric berdesis pelan, sembari menarik napas dalam-dalam di dekat leher Anna. "I smell it somewhere."

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-11
  • Pesona Sang Penguasa   4. Jangka Waktu

    "Dasar bajingan mesum," umpat Anna dengan tangan menyilang di depan dada. "Siapa yang kau bilang bajingan mesum?" Pengawal lelaki sudah melangkah maju, tapi kembali ditahan oleh Alaric."Aku mengerti jika kau berpikiran negatif." Alaric mengangguk pelan. "Kata-kata yang kugunakan mungkin salah, tapi yang aku maksud adalah pernikahan.""Pernikahan?" Tentu saja Anna akan bertanya."Ya." Alaric kembali mengangguk. "Lakukan pernikahan kontrak denganku dan aku akan membayarkan semua utang keluargamu. Itu tawaranku."Refleks, Anna memegang kepala dengan kedua tangan. Mendapat penawaran yang terdengar seperti dialog dalam film, membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi, dia ini baru dua puluh lima tahun dan tidak punya pengalaman dengan lelaki."Aku hanya bisa menyinggung perasaan para lelaki," gumam Anna masih tampak terkejut, bahkan tidak bisa menutup mulutnya dengan rapat. "Bagaimana bisa menikah? Yang ada aku akan disembelih.""Apa kau baru saja mengumpat?" tanya Alaric dengan k

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-12

Bab terbaru

  • Pesona Sang Penguasa   92. Memancing

    "Tunggu dulu, Al." Anna mendorong bahu suaminya dengan cukup keras, sambil berusaha merangkak mundur di atas ranjang. "Aku ini sedang hamil muda loh." "Lalu memangnya kenapa kalau sedang hamil muda?" tanya Alaric dengan tatapan menerawang. "Kita masih bisa bercinta kan?" "Menurut yang pernah kupelajari dan yang baru saja kubaca di internet, trisemester awal sangat rentan dan tidak disarankan untuk bercinta. Apalagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang." "Kenapa denganku?" Alih-alih mendengarkan, Alaric malah melepas kancing kemejanya satu per satu. "Kau dipengaruhi obat, jadi tidak mungkin bisa melakukannya pelan-pelan." Anna memekik cukup keras. "Aku akan pelan." "Tidak mungkin kau bisa pelan dalam keadaan seperti ini." Tidak tahan lagi, Anna memilih berteriak. Dia makin panik karena kini sang suami mulai membuka celana. "Tuan aku minta maaf." Padahal Alaric sudah setengah jalan membuka celananya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara di belakangnya. Setelah itu, dia

  • Pesona Sang Penguasa   91. Gairah

    "Maafkan aku Nyonya." Tiba-tiba saja, Darcy datang dan membungkuk. "Aku melakukan kesalahan dan pantas dihukum." "Tunggu dulu." Anna yang sedang bersantai sambil mengunyah biskuit, langsung menghentikan aktifitasnya. "Memangnya kau melakukan kesalahan apa?" "Ini tentang pil pencegah kehamilan yang pernah Nyonya minum." Darcy tentu saja akan menjelaskan. "Rupanya itu bukan morning pill, tapi hanya pil KB biasa saja." "Ah, begitu toh." Anna mengangguk paham. "Pantas saja aku tetap hamil walau sudah minum pil, ternyata memang salah ya." "Ya." Darcy ikut mengangguk. "Seharusnya Nyonya meminum morning pill, yang memang diminum sekali saja setelah berhubungan. Kalau pil KB biasa, itu harus diminum rutin baru berfungsi." "Aku juga tahu itu Darcy, tapi terima kasih sudah menjelaskan." Untungnya, Anna sama sekali tidak marah atas keteledoran sang asisten. "Nyonya tidak marah?" "Lalu apa kau sengaja membeli pil yang salah?" Tentu saja Darcy akan menggeleng sebagai jawabannya. It

  • Pesona Sang Penguasa   90. Daftar Mantan

    "Ian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marjorie dengan bola mata yang membulat karena terkejut. "Bukankah harusnya itu pertanyaanku?" tanya Caspian dengan senyum lebar. "Kau seharusnya mencari di dalam gedung dan bukan di dalam kamar hotel seperti sekarang." "Oh, soal itu." Marjorie menyelipkan rambut di telinga, berusaha untuk tetap tenang. "Aku tiba-tiba saja merasa tidak enak badan dan perlu untuk segera pulang dan beristirahat." "Tapi kenapa kau tidak memberitahu?" tanya Caspian dengan kedua alis terangkat dan sebelah tangan menahan pintu, sementara yang lainnya bertengger di kusen pintu. "Padahal kita sedang mencari Tuan Alaric yang menghilang loh." "Aku tidak memberitahu?" tanya Marjorie pura-pura bodoh. "Rasanya tadi aku sudah mengirimkan pesan." Sayangnya, Caspian tidak terlihat ingin membalas ucapan perempuan di depannya. Dia justru melihat penampilan Marjorie yang sebenarnya sudah cukup berantakan. Hal yang membuatnya mendengus geli. "Apa kau habis bercinta?

  • Pesona Sang Penguasa   89. Putri Tidur

    "Tuan?" Caspian memanggil, sembari menatap ke sekeliling ruangan. "Apakah kau pergi ke toilet?" Tidak mendapat jawaban, sang asisten langsung pergi mencari ke toilet. Dia bahkan sampai pergi mencari ke tempat yang memiliki mesin penjual otomatis, karena berpikir kalau Alaric akan pergi beli kopi atau camilan. Dia melakukan semua itu, sembari menelepon sang tuan. "Kenapa malah tidak diangkat?" gumam Caspian dengan kening berkerut. "Oh, Ian kebetulan kau muncul." Tiba-tiba saja, Marjorie muncul. "Apa kau melihat Alaric? Aku mencarinya sejak tadi, tapi dia tidak ditemukan." "Aku juga sedang mencari Tuan," jawab Caspian dengan kening berkerut. Entah kenapa dia merasa ada yang salah. "Loh, jadi kita harus bagaimana?" Marjorie malah terlihat sedikit terkejut. "Memang sudah tidak ada jadwal setelah ini, tapi nanti malam? Bukankah kita akan pergi makan malam bersama?" "Makan malam bersama bisa ditunda, Nyonya Jackson." Caspian makin mengerutkan kening. "Lagi pula tim kita tidak ak

  • Pesona Sang Penguasa   88. Jebakan

    Alaric memijat pangkal hidungnya. Dia sudah mendapat kabar dari rumah tentang Anna, tapi itu malah membuatnya makin sakit kepala. Siapa yang menyangka kalau sekali kesalahan akan membuatnya sakit kepala seperti sekarang ini. "Apa istrimu membuat masalah?" tanya Marjorie yang mendatangi mantannya dengan senyum lebar dan segelas minuman dingin. "Ya." Alaric tidak ragu mengangguk. "Dia membuat masalah yang cukup membuatku sakit kepala," lanjutnya menerima minuman yang diberikan oleh sang mantan. Alaric merasa butuh sesuatu yang segar. Apalagi, dia baru saja menyampaikan pidato kampanye yang membuat tenggorokannya terasa kering. "Kali ini, apa lagi yang dia lakukan?" tanya Marjorie duduk di depan Alaric, sambil menopang dagu di meja. "Dia mengamuk di jalan?" "Anna hamil," jawab Alaric tanpa perlu berpikir panjang. "Padahal aku sedang sibuk kampanye dan mungkin tidak bisa terus menemaninya. Itu tentu saja membuatku sakit kepala." "Apa maksudmu?" Alih-alih mengerti, Marjorie m

  • Pesona Sang Penguasa   87. Menggoda Suami Orang

    "Apakah Tuan mengkhawatirkan Nyonya Anna?" Caspian yang baru datang bertanya, ketika melihat tuannya yang terlihat cemas. "Tentu saja aku akan memikirkannya," jawab Alaric tanpa ragu. "Biar bagaimana, aku tidak merencanakan adanya anak." "Kehamilan Nyonya belum dipastikan." Caspian mengulurkan tangan yang membawa segelas kopi panas. "Jika sudah dikonfirmasi, baru kita bisa memikirkan jalan keluar yang baik." "Memangnya ada jalan keluar apa lagi?" Alaric bertanya dengan sebelah tangan memegang cangkir kertas dan tangan lainnya terulur mengambil sandwich yang diberikan sang asisten. "Aku tidak mungkin membuangnya bukan?" "Tentu saja tidak, tapi mungkin ada hal baik lain yang bisa kita lakukan." Sang asisten, kemudian duduk di samping sang tuan, sama-sama menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan aktivitas bandara. Sesuai yang dikatakan Alaric semalam, pagi ini dia sudah harus berangkat lagi. Kali ini, Alaric memilih pesawat komersil dan tentu saja harus datang dan menun

  • Pesona Sang Penguasa   86. Hamil

    "Ada keributan apa itu di luar?" Alaric langsung menoleh ketika mendengar suara bernada tanya barusan. Dia yang entah bagaimana merasa penasaran, segera mengeringkan tangan dengan tisu dan keluar dengan langkah yang tidak buru-buru. "Anna?" Kening Alaric langsung berkerut, ketika dia melihat dan mendengar suara teriakan sang istri. "Ada apa ini?" Tentu saja Alaric segera mendekat. "Tidak tahu Tuan." Darcy menggeleng keras. "Nyonya tadi terjatuh dan menabrak seseorang, lalu tiba-tiba dia berteriak," lanjutnya menjelaskan dengan cepat. "Sialan," desis Alaric sangat pelan, kemudian menatap sekitarnya. "Maaf, tapi bisakah kalian menjauh?" lanjutnya pada semua orang. "Dia istriku dan aku bisa menangani ini." Alaric dengan cepat menahan kedua tangan sang istri yang memberontak dibantu oleh Darcy, kemudian meraih tubuh Anna ke dalam dekapannya. "Hei, Anna." Setelah semua orang agak menjauh, Alaric berusaha menyadarkan sang istri. "Ini aku, Alaric." "Tidak aku mohon." Bukannya

  • Pesona Sang Penguasa   85. Terperangkap

    Alaric menatap ke depan dengan kening bekerut. Dia melihat Marjorie yang sedang tertawa entah bersama dengan siapa di sana. Yang jelas, Alaric belum pernah melihat lelaki yang tertawa bersama dengan mantannya itu. Rasanya ada yang aneh, tapi Alaric tidak tahu apa hal aneh yang dia rasakan. Yang jelas, ini berbeda dengan apa yang dulu dia rasakan. "Al." Tiba-tiba saja terdengar suara yang begetar. "Ada apa?" Alaric refleks menoleh dan menemukan istrinya yang sekarang ini gemetar. "Kau kenapa?" Tentu saja Alaric akan bertanya dengan kening berkerut. "Kenapa gemetar?" Sayangnya, Anna tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap ke satu arah, kemudian tiba-tiba saja menutup matanya dengan sangat rapat. "Ada apa di sana?" Penasaran, Alaric pun melihat ke arah yang dilihat istrinya. Tidak jauh di belakang Marjorie. "Aku tidak melihat apa pun di sana, apa ada seseorang yang aneh?" "Tidak ada lelaki tua di sana?" tanya Anna masih dengan mata yang terpejam. "Lelaki tua seperti apa?"

  • Pesona Sang Penguasa   84. Seseorang Yang Tidak Diharapkan

    "Wah, Alaric. Calon perdana menteri kita yang tampan, akhirnya memperlihatkan pasangannya pada dunia." "Selamat malam," gumam Anna yang setengah bersembunyi di balik tubuh suaminya. "Maaf, tapi dia anak yang sangat pemalu." Mau tidak mau, Alaric segera mengambil alih pembicaraan. "Lalu ini juga pesta yang sangat luar biasa. Aku yakin cucumu akan sangat bahagia." "Terima kasih atas ucapan manis itu, tapi apakah istrimu atau pacarmu ini akan terus bersembunyi di belakangmu?" tanya si pemilik acara dengan kening yang sedikit berkerut. "Bukankah kau setidaknya harus memperkenalkan dia?" Alaric tidak bisa langsung menjawab dan memilih untuk melirik istrinya terlebih dulu. Jujur saja, dia tidak berpikir kalau Anna akan terlihat setakut ini. Hal itu tentu saja membuat Alaric kebingungan, apalagi ini hanya pesta biasa saja bukan? "Kau tidak apa-apa?" Alaric memilih untuk bertanya lebih dulu, dengan cara berbisik. "Aku ... tidak apa-apa." Walau sempat ragu, Anna pada akhirnya mengg

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status