Kaisar melirik laporan lain di meja kerjanya. Semua informasi tentang perusahaan Betran, hingga rincian kondisi finansialnya, ada di sana. Tentu saja, ia tidak berniat menghancurkan Betran dalam sekejap. Itu terlalu mudah. Ia ingin Betran merasa perlahan kehilangan segalanya—karier, kekuasaan, dan akhirnya, Aluna.“Semuanya harus berjalan sesuai rencana,” gumamnya lagi sambil menutup laptopnya. “Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat.”Tak lama, asisten pribadinya mengetuk pintu dan masuk. “Tuan Kaisar, ini adalah laporan tambahan tentang hubungan antara Tuan Louis dan perusahaan Martin. Sepertinya mereka memiliki beberapa proyek lain yang juga terancam.”Kaisar membaca laporan itu dengan seksama. “Hancurkan kepercayaan itu secara bertahap. Pastikan Tuan Louis merasa Betran tidak layak menjadi mitra jangka panjang.”“Baik, Tuan Kaisar. Saya akan mengaturnya.”“Bagus.” Kaisar mengembalikan dokumen itu dan kembali menyandarkan tubuhnya d
Aluna mengangguk perlahan. “Iya, aku ingat. Kamu teman masa kecilku, dan aku ingat Kakek Chandra.” Kaisar menatapnya dengan mata yang berkilauan penuh harapan. “Jadi... kamu juga ingat janji kita?” Aluna terdiam sejenak. Matanya menerawang, kembali mengingat hari itu saat Kaisar kecil menggenggam tangannya dengan polos. Janji yang ia buat bersama Kaisar waktu itu memang terekam jelas di pikirannya. Janji untuk menikah kelak dewasa nanti. “Tentu aku ingat,” jawab Aluna akhirnya. “Tapi, Kaisar, itu janji masa kecil. Janji konyol yang dibuat oleh dua anak kecil. Kamu tidak perlu terlalu serius memikirkannya.” Aluna berkata sambil geleng-geleng kepala, ia tersenyum tipis. Kaisar terdiam sejenak, menyembunyikan rasa kecewanya di balik senyuman kecil. “Oh, begitu,” katanya singkat. “Jadi, menurutmu itu hanya janji konyol?” Aluna menatapnya dengan ekspresi bersalah, senyumannya memudar. “Kaisar, maaf jika ucapanku menyinggung perasaan k
Aluna baru saja sampai di rumah ketika suara langkah Kania terdengar mendekat dengan cepat. Tanpa basa-basi, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. PLAK! “Kenapa kamu lama sekali, Aluna?!” bentak Kania dengan wajah penuh amarah. Aluna terpaku, tangannya secara refleks memegang pipi yang mulai memerah. Hatinya mendidih, tapi ia menahan diri. Rasanya ingin sekali membalas tamparan itu, namun ia tahu ini bukan waktu yang tepat. “Aku baru saja dari rumah sakit, Mom. Aku juga butuh waktu untuk mengurus kehamilanku,” jawab Aluna dengan nada datar, mencoba menjaga emosinya. “Alasan! Kalau kamu tahu Veronica sedang mual-mual, kenapa kamu malah santai-santai di luar?!” Kania menunjuk ke arah pintu masuk dengan kasar. “Sekarang, pergi cari rujak! Siapa tahu itu bisa mengurangi rasa mual menantu kesayanganku.” Aluna menghela napas panjang. Ia ingin sekali membantah, tapi percuma saja. Perlawanan hanya akan membuat situasi mak
Aluna berdiri di sudut ruang makan, memperhatikan tiga orang yang sedang asyik menikmati makan malam. Betran terlihat sibuk dengan piringnya, sementara Veronica, seperti biasa, hanya memakan sedikit makanan di hadapannya. Kania duduk di ujung meja, memandangi menantu kesayangannya itu. “Aluna, ini sausnya terlalu asin. Bisa ambilkan yang baru?” ujar Veronica tiba-tiba dengan nada malas. Aluna menahan napas sejenak, tapi ia tetap berjalan ke dapur tanpa protes. Di dalam hati, ia sudah berkali-kali mengumpat. Ia kembali membawa saus baru dan menaruhnya di samping piring Veronica. “Lain kali jangan asal masak, ya. Kandungan aku butuh perhatian khusus,” Veronica menambahkan dengan nada meremehkan. Aluna hanya diam, tapi dalam hatinya ia bergumam, "Dasar drama queen. Saus saja sampai jadi masalah besar." Veronica melanjutkan makan dengan gerakan lambat, tapi tak lama ia meletakkan sendoknya. “Aku nggak bisa m
Aluna berbaring di atas kasur dengan lelah. Hatinya masih berkecamuk memikirkan apa yang baru saja terjadi. Pelukan Kaisar, kata-kata penuh cinta, bahkan usulannya yang menggoda untuk menjadi selingkuhannya. Semua itu membuat dadanya terasa sesak, antara marah, bingung, dan entah kenapa, sedikit lega.Ia mengulurkan tangan ke meja di samping tempat tidur, meraih ponselnya. Jemarinya gemetar saat ia membuka kontak dan melihat nama Kaisar di layar. Jantungnya berdetak kencang. "Apa yang sedang aku lakukan?" pikirnya, namun entah kenapa ia tak bisa menghentikan dirinya.Ia mengetik pesan singkat, [Baiklah, Kaisar, aku mau jadi selingkuhan kamu]Namun, ia ragu-ragu. Pesan itu belum terkirim. Ia menatap layar ponsel cukup lama, lalu menghapusnya sebelum akhirnya membanting ponselnya kembali ke meja. “Gila. Aku nggak boleh melakukan ini. Aku nggak boleh tergoda ajakan Kaisar,” gumamnya, berusaha mengembalikan kesadarannya.Namun, pikirannya terus melayang pada Kaisar. Kenapa lelaki itu teta
Di tempat lain, Kaisar duduk di sofa di sudut kamarnya. Lampu redup menerangi ruangan. Matanya memandang keluar jendela, tapi pikirannya tidak benar-benar di sana. Wajah Aluna terus menghantui benaknya. Senyumnya, matanya dan bibirnya—bibir yang begitu ranum hingga ia hampir tidak bisa menahan diri tadi.Kaisar mengepalkan tangan. "Astaga, Aluna," gumamnya, nadanya frustrasi. "Kamu itu kayak racun. Makin aku coba tahan, makin aku nggak bisa lepas."Ia berdiri, mulai berjalan mondar-mandir di kamarnya. Dadanya bergemuruh dengan berbagai emosi. Ia ingin memiliki Aluna, sepenuhnya. Rasanya seperti kebutuhan yang mendesak, seperti ia akan kehilangan kendali jika tidak segera bertindak. Tapi, ia tahu ia harus sabar. Ia tidak ingin merusak semuanya hanya karena terburu-buru. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Kaisar berhenti melangkah, menatap layar ponsel yang menyala. Nama pria yang ia kenal sebagai salah satu informannya tertera di sana. Kaisar mengangkat panggilan itu tanpa ra
Kaisar segera menghubungi Aluna, Tak lama kemudian, ia mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang. Ketika panggilannya dijawab, suara lembut namun lelah Aluna terdengar di seberang. “Kaisar, kenapa menelepon pagi-pagi begini?” tanya Aluna, suaranya terdengar kesal, tapi sebenarnya dia senang ditelepon oleh Kaisar. “Aku perlu bertemu denganmu hari ini,” jawab Kaisar, tegas. “Tuan Louis ingin bertemu denganku untuk membahas kerja sama dengan perusahaan Chandra.”Aluna terdiam beberapa saat. Ia tahu betapa seriusnya permintaan itu. Kaisar bukan hanya seorang pria biasa dalam hidupnya, ia adalah pewaris kepercayaan dari almarhum Kakek Chandra, sosok yang begitu penting dalam sejarah keluarganya. Namun, Kaisar memilih menyembunyikan identitasnya dari dunia luar, seperti halnya ia sendiri.“Apa yang akan kita bahas?” Aluna akhirnya bertanya, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang.“Ini tentang langkah selanjutnya dalam renca
Aluna sampai di rumah dengan tangan penuh membawa kantong-kantong buah yang diminta Veronica dan Kania. Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah tenang, mencoba menyembunyikan kejengkelannya setelah menghabiskan waktu berharga bertemu Kaisar hanya untuk pulang dan melayani keluarga ini.“Buahnya mana?” suara Veronica terdengar dari ruang tengah. Aluna mendekat dan meletakkan kantong-kantong di meja. “Semua ada di sini, Veronica. Apel hijau, anggur merah, dan semangka. Jangan khawatir, aku tidak lupa.”Veronica melirik kantong itu dengan ekspresi angkuh. “Baguslah. Kalau sampai ada yang kurang, kau tahu sendiri apa yang akan Mommy Kania katakan.”“Sudah cukup, Veronica,” sela Kania yang baru saja datang dari dapur. “Aluna, kamar utamaku berantakan sekali. Aku mau kau bereskan sekarang. Itu kamarku dan suamiku, jadi jangan asal-asalan.” Perintah Veronica. Aluna tertegun sejenak, matanya melebar. “Kamar utama?”“Ya, kamar itu,” potong Veronica tanpa rasa bersalah. “Semalam dan tadi pagi
Aluna melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan tenang, meskipun hatinya masih sedikit panas setelah insiden dengan Ratu di parkiran tadi. Ia menghela napas pelan, mencoba mengembalikan fokusnya pada pekerjaan. Begitu ia duduk di kursinya, asistennya, Hanna, segera masuk dengan membawa tablet di tangannya. "Nyonya Aluna, sesuai jadwal, pukul sepuluh pagi nanti ada pertemuan dengan klien dari Korea Utara," lapor Hansen. "Mereka ingin menawarkan kerja sama bisnis di bidang ekspor bahan baku tekstil. Saya sudah mengatur tempat pertemuan di ruang konferensi lantai tujuh." Aluna mengangguk. "Baik, pastikan semua dokumen yang diperlukan sudah siap. Aku ingin tahu lebih detail mengenai proposal mereka sebelum pertemuan dimulai." "Saya akan segera mengirimkan berkasnya ke email Anda," kata Hansen. "Terima kasih, Hansen. Itu saja?" "Satu lagi, Nyonya," lanjut Hansen. "Saya ingin memastikan apakah Anda akan menghadiri makan siang dengan investor lokal nanti?" Aluna berpikir sejenak
Aluna baru saja hendak membuka pintu mobil saat suara seseorang memanggilnya dari belakang. "Aluna! Tunggu!" Ia menoleh dan melihat seorang wanita tua berlari kecil ke arahnya. Kania, mantan ibu mertuanya. Wajahnya tampak lelah, ada guratan cemas di sana. Aluna menghela napas. Ia sudah bisa menebak tujuan wanita itu datang menemuinya lagi. "Tolong, Aluna..." suara Kania bergetar, matanya berkaca-kaca. "Aku mohon, bebaskan Betran... Aku tahu dia salah, aku tahu dia pantas dihukum, tapi dia tetap manusia. Dia tetap ayah dari Alva..." Aluna menegang. Ia menggenggam pegangan pintu mobil erat-erat, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. "Kania, sudah kubilang berkali-kali, aku tidak bisa begitu saja membebaskan dia. Ini masalah hukum, bukan masalah pribadi," ujar Aluna setenang mungkin. Kania terisak. "Aku mohon, Aluna... Aku sudah tua, aku tidak sanggup melihat anakku menderita seperti ini. Dia sudah menerima kesalahannya, dia menyesal. Tolonglah, Aluna..." Aluna menatap K
Aluna berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat sulit ia jelaskan. Senyum kecil tak bisa ia tahan saat mengingat bagaimana Kaisar tadi mencium dan memeluknya. Rasanya begitu nyata, begitu hangat, seakan waktu tak pernah memisahkan mereka. Namun, lamunannya buyar ketika suara tangisan Baby Alva terdengar. Dengan cepat, ia mendekati ranjang bayi dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. "Alva sayang, kenapa rewelnya?" gumam Aluna sambil mengayun-ayun pelan tubuh kecil itu. Baby Alva masih merengek, tangannya yang mungil menarik baju tidur Aluna, seolah meminta lebih banyak perhatian. "Kamu mau ditimang-timang, ya?" tanya Aluna lembut. Senyum Aluna semakin mengembang saat melihat mata kecil Alva mulai terpejam dalam gendongannya. Tapi di sisi lain, pikirannya kembali teringat pada Kaisar. Ucapannya, sentuhannya, tatapan penuh kerinduan itu. Di tempat lain, Kaisar baru saja sampai di rumah. Langkahnya santai, seolah tak peduli dengan siapa yang mungkin sedang menunggun
Tok! Tok! Tok!Aluna yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh ke arah pintu. "Nona, ada tamu," suara pelayan terdengar dari luar. "Siapa?" tanyanya sambil bangkit. "Tuan Kaisar, Nona," jawab pelayan dengan nada hati-hati. Aluna terdiam sejenak. Rasanya tak percaya Kaisar datang ke sini, ke mansionnya, setelah semua yang terjadi. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan perasaannya sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tamu, sosok Kaisar sudah berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tampak santai tapi tetap berwibawa. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna begitu ia muncul. "Aluna," panggil Kaisar pelan. Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di dekat tangga, menjaga jarak. Kaisar tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat. "Aku datang untuk berterima kasih." Aluna mengangkat alis. "Untuk apa?" "Untuk semuanya," ujar Kaisar. "Untuk mengurus Amartha selama aku tidak ada, untuk tetap me
Beberapa bulan kemudian. Aluna duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan berita terbaru. Hampir semua portal bisnis dan ekonomi membahas satu hal yang sama—kembalinya Kaisar Amartha sebagai pemimpin perusahaan Amartha. Tak hanya itu, ada juga berita yang membahas kehidupan pribadinya, terutama soal pernikahannya dengan Ratu. Beberapa foto tersebar di media—Ratu dengan perut yang mulai membesar, Kaisar yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi dingin, dan wawancara singkat tentang bagaimana mereka akan membangun masa depan bersama. Aluna tersenyum miris. "Jadi ini akhirnya," gumamnya pelan. Ia tidak terkejut. Sejak awal, ia tahu Kaisar akan kembali ke posisinya. Yang membuatnya sedikit tercekat adalah kenyataan bahwa dunia melihat Kaisar dan Ratu sebagai pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanya seorang mantan yang harus puas menyaksikan dari jauh. Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk. "Nona Aluna," suara Hansen terdengar dari balik pintu. "Masuk
Aluna turun dari mobil dengan wajah lelah. Hari ini benar-benar panjang, ditambah pikirannya masih kacau setelah berbicara dengan Kaisar. Begitu melangkah masuk ke dalam mansion, ia langsung disambut oleh babysitter yang terlihat panik. "Nyonya Aluna, Baby Alva rewel sejak tadi. Susah makan, susah minum susu juga," ujar babysitter itu cemas. Aluna mengerutkan kening. "Kenapa? Apa dia demam?" Babysitter menggeleng. "Tidak demam, tapi terus menangis. Saya sudah mencoba berbagai cara, tapi tetap saja dia menolak makan." Tanpa menunggu lebih lama, Aluna segera menuju kamar Baby Alva. Sesampainya di sana, ia melihat putranya yang masih terisak di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab karena menangis. "Sayang, Mama di sini," ujar Aluna lembut, segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Baby Alva mengusap matanya dengan tangan mungilnya, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Aluna. "Ada apa, hm?" Aluna membelai rambutnya pelan. "Kenapa tidak mau maka
Aluna mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum membuka topik yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Kaisar, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan,” ujar Aluna dengan nada serius. Kaisar mengangkat alis, memusatkan perhatiannya pada Aluna. “Apa itu, Aluna?” “Perusahaanku, Chandra Grup, sedang dalam masalah.” Aluna menyerahkan laporan yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. “Ada penurunan signifikan dalam pasar penjualan kita. Setelah diselidiki, ada kejanggalan. Tampaknya seseorang mencoba merusak reputasi perusahaan dari dalam.” Kaisar membuka laporan itu, membaca dengan seksama. Wajahnya berubah serius. “Ini bukan sekadar kejatuhan pasar biasa. Tampaknya ada sabotase.” “Itulah yang aku khawatirkan,” Aluna mengangguk. “Aku sudah meminta tim investigasi internal, tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka yang terlibat sangat pandai menutupi jejak.” Kaisar menatapnya dalam. “Aku akan mencoba membantu menyelidiki. Mungkin dari sisi lain, kita bisa me
Aluna duduk di kursi kerjanya dengan wajah tegang. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kali ia mencoba menemui Kaisar di rumah sakit, namun selalu gagal. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tapi tetap saja bayangan Kaisar terus muncul di kepalanya. "Asisten," panggil Aluna dengan suara tegas. Seorang wanita muda bernama Siska segera masuk ke dalam ruangannya, membawa setumpuk dokumen.Ya, sudah tiga hari ini Aluna mengganti asistennya. Asisten sebelumnya sedang cuti beberapa bulan, tugasnya ia serahkan pada Siska, sepupunya. "Ada perkembangan dari laporan yang aku minta?" tanya Aluna, menyandarkan punggungnya ke kursi. Siska mengangguk, meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Setelah saya dan tim melakukan penyelidikan, kami menemukan adanya kejanggalan dalam pasar." Aluna mengambil laporan itu dan mulai membacanya dengan seksama. Dahinya mengernyit. "Penjualan turun drastis di beberapa wilayah utama, terutama yang sebelumnya menjadi pasar terbesar kita
Aluna melangkah dengan cepat memasuki lobi rumah sakit, dadanya berdebar kencang. Setelah mendengar kabar bahwa Kaisar—atau sekarang dikenal sebagai Raja—sudah dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, ia tak bisa lagi menahan diri untuk menemuinya. Namun, baru saja ia hendak menuju lift, langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri menghadangnya. “Jangan harap kau bisa menemuinya,” suara dingin Ratu menyentak telinga Aluna. Aluna menatap wanita itu dengan tajam. Ia tahu sejak awal Ratu bukan wanita sembarangan, tapi tak disangka, Ratu bisa sekejam ini. “Aku datang bukan untuk bertengkar, aku hanya ingin melihatnya,” ucap Aluna, mencoba menahan emosinya. Ratu menyilangkan tangan di dadanya. “Tidak perlu. Dia sudah punya aku. Dia tidak butuh kau lagi.” Aluna tersenyum miring. “Raja adalah Kaisar, bukan?” tanyanya tegas. Ratu mendengus. “Lalu?” “Kaisar adalah tunanganku,” lanjut Aluna, tatapannya semakin tajam. Ratu terkekeh sinis. “Benar, dia memang Kaisar. Tapi kau