Share

Chapter 10

Penulis: Pemilik Hati
last update Terakhir Diperbarui: 2021-05-06 20:15:41

Dua Minggu sudah kejadian itu berlalu, tetapi Salsa dan Dewa masih saja saling diam. Keduanya terlihat enggan dan canggung saat bertatap muka, bahkan Salsa sering menghindar jika berhadapan dengan sang suami. Hari ini Salsa sengaja datang ke kantor lebih awal, bahkan wanita itu memilih untuk naik taksi dibandingkan berangkat bersama dengan suaminya.

Setibanya di kantor, Salsa bergegas untuk masuk ke ruangan. Ia ingat jika ada banyak berkas yang harus ia periksa sebelum diserahkan pada Dewa. Salsa berjalan menuju lantai empat puluh di mana ruangan Dewa berada. Namun langkahnya terhenti saat ada suara yang memanggilnya. Dengan terpaksa Salsa menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara tersebut.

"Bu Sinta. Mati aku," batin Salsa saat melihat jika ibu mertuanya itu yang sudah memanggilnya.

"Ikut aku." Sinta menarik tangan Salsa dan membawanya ke toilet.

"Jadi benar, kamu bekerja di sini?!" tanya Sinta dengan menahan amarahnya.

"I-iya, maaf kalau .... "

"Sebenarnya aku bisa mengusirmu sekarang juga. Tapi jika itu terjadi, Dewa pasti tidak akan tinggal diam. Tapi perlu kamu ketahui, jangan pernah sekali-kali kamu mencoba untuk merayu putraku, karena aku sudah menjodohkan Dewa dengan wanita yang pantas dan sederajat denganku. Bukan wanita rendahan sepertimu, mengerti." Sinta mendorong tubuh Salsa hingga jatuh tersungkur.

Hati Salsa terasa sakit saat mendengar jika Dewa sudah dijodohkan dengan wanita lain. Ia benar-benar tidak tahu tentang masalah perjodohan itu. Kenapa Dewa tidak pernah bilang jika ia sudah dijodohkan, lalu bagaimana nasib pernikahan yang mereka jalani itu. Mungkinkah Dewa akan poligami, menikah lagi dan menjadikan wanita pilihan ibunya sebagai istri keduanya.

"Ingat, kalau kamu berani macam-macam. Aku tidak segan-segan untuk membuat hidup kamu lebih menderita, mengerti!" seru Sinta. Bahkan wanita setengah abad itu menunjuk kening Salsa dengan kasar. Setelah mengatakan itu Sinta berlalu dari hadapan Salsa.

"Ya Tuhan, kebenaran apa lagi ini. Apa benar jika ... apa itu alasannya kenapa, om Dewa menyembunyikan pernikahan ini. Agar keluarga serta calon istrinya tidak tahu. Jika itu benar ... bagaimana perasaan wanita itu kalau .... " Salsa menggantung ucapannya sendiri, rasanya ia tidak sanggup jika dugaannya itu benar.

Setelah itu Salsa bangkit, ia menyeka air matanya. Bahkan Salsa membasuh mukanya agar tidak terlihat jika dirinya habis menangis. Selepas itu, Salsa keluar dari toilet dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Setibanya di ruangan, terlihat jika Dewa sudah duduk standby dengan tumpukan berkas yang tengah dikerjakan.

Salsa berjalan menuju mejanya, ia sama sekali tidak peduli dengan sang suami. Bahkan Salsa masih teringat kata-kata Sinta, jika semua itu benar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti, mungkinkah pernikahan itu akan kandas. Salsa menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Setelahnya ia duduk dan siap untuk bekerja.

"Salsa kenapa diam saja, apa dia masih marah. Gara-gara ... ah, wanita memang seperti itu, terlalu terbawa perasaan," batin Dewa. Sesekali ia melirik istrinya itu yang tengah fokus bekerja.

Dewa memang sudah memaafkan kesalahan Salsa atas dokumen itu. Namun, sampai sekarang keduanya masih sering diam, bahkan Salsa selalu menghindari sang suami. Entah apa yang membuat wanita berambut panjang itu bersikap demikian, hal ini membuat Dewa merasa gelisah. Ingin rasanya Dewa menanyakan hal itu, tetapi ia terlalu gengsi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam makan siang sudah tiba. Namun, Salsa masih saja sibuk dengan pekerjaannya, sementara itu Dewa sudah meregangkan otot-ototnya. Pria berkemeja navy itu mengendurkan dasinya seraya menyenderkan kepalanya di punggung kursi. Matanya menatap sang istri yang masih bergelut dengan pekerjaan. Salsa tidak peduli dengan jam makan siang, ia ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya itu.

"Salsa kamu tidak makan?" tanya Dewa. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri meja sang istri.

"Aku tidak lapar," jawab Salsa tanpa menoleh. Matanya fokus pada layar leptopnya.

Kini Dewa sudah berdiri di sebelah sang istri, pria berlesung pipi itu terus memperhatikan wanitanya itu. Dewa tersenyum saat mengingat kejadian di mana mereka pertama kali bertemu. Bahkan kejadian yang membuatnya harus menikah, ia tidak menyangka gadis kecil di hadapannya itu telah mampu membuat Dewa jatuh cinta. Gadis yang usianya baru sembilan belas tahun.

"Makan dulu, pekerjaan bisa kamu selesaikan nanti,. Kalau kamu sakit aku juga yang repot," ujar Dewa mengingatkan.

"Aku belum .... " Salsa menghentikan ucapannya, saat mencium parfum milik suaminya itu. Aromanya membuat perut Salsa seperti diaduk-aduk.

"Salsa kamu kenapa?" tanya Dewa saat melihat mimik wajah istrinya berubah.

"Parfum, Om bau banget." Salsa menutup hidungnya, bahkan kini perutnya terasa mual.

Dewa mencium aroma tubuhnya, parfum yang ia gunakan sama, baunya juga wangi tapi kenapa Salsa bilang bau. Dewa benar-benar kembali dibuat pusing dengan sikap istrinya itu. Biasanya Salsa sangat suka dengan bau parfumnya, bahkan wanita berambut panjang itu selalu menghirup aroma tubuh suaminya setelah kemeja yang melekat terlepas.

"Kamu jangan .... " ucapan Dewa terhenti saat melihat Salsa berlari masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar jika sang istri tengah muntah-muntah, segitu baunya sampai menyebabkan muntah.

Dewa berlari menghampiri sang istri, saat mendengarnya muntah-muntah. Rasa khawatir tidak bisa ia pungkiri, Dewa mendekati Salsa yang tengah berdiri di depan wastafel sembari memegangi perutnya. Tiba-tiba saja, perut Salsa kembali merasa seperti diaduk-aduk saat mencium aroma parfum milik Dewa. Wanita berseragam kantor itu kembali memuntahkan isi perutnya, tetapi hanya cairan bening yang keluar.

"Salsa kamu sakit?" tanya Dewa panik.

Salsa menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya masuk angin."

"Salsa kita .... "

"Jangan mendekat, aku tidak tahan baunya." Salsa memotong ucapan Dewa, sejurus kemudian ia berlari keluar dari kamar mandi.

Dewa dibuat diam dengan ucapan sang istri, setelah itu ia mengikuti Salsa yang terlebih dulu keluar. Namun setibanya di luar, Dewa tidak menangkap sosok sang istri. Entah perginya kemana, merasa khawatir pria berkemeja navy itu bergegas keluar dari ruangan. Dewa takut jika sampai terjadi apa-apa pada istri kecilnya itu.

***

Sementara itu, di pinggiran jalan yang berada di dekat pertigaan, seorang wanita tengah berdiri mengantri demi mendapatkan makanan yang dipesan. Wanita itu tak lain adalah Salsa, ia tengah mengantri demi mendapat satu porsi seblak. Antrian yang cukup panjang, tetapi tidak membuatnya merasa capek, yang penting Salsa bisa mendapatkan satu porsi seblak yang pedas.

Tiba-tiba saja handphonenya berdering, dengan segera Salsa mengambil benda pipinya itu. Terlihat nama Dewa di layar handphonenya, dengan sedikit terpaksa ia menggeser tombol berwarna hijau untuk mengangkat telepon dari suaminya itu. Salsa yakin jika sang suami tengah khawatir karena saat pergi ia tidak berpamitan.

[ Halo, ada apa, Om ]

[ Kamu ada di mana sekarang ]

[ Di dekat pertigaan lagi antri beli seblak ]

Tiba-tiba saja sambungan telepon terputus, Salsa berdecak sebal. Dewa sendiri yang menelponnya, tetapi dia juga yang secara tiba-tiba mematikannya. Setelah itu Salsa kembali menyimpan handphonenya itu, ia kembali fokus untuk mengantri. Jujur Salsa sudah sangat lelah untuk berdiri, tetapi demi seblak kesukaan ia rela.

Tiba-tiba saja terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Salsa. Iya, siapa lagi kalau bukan suara Dewa, wanita dengan seragam kantor itu menoleh ke arah sumber suara tersebut. Terlihat jika sang suami tengah berjalan menghampirinya dengan raut wajah yang menurut Salsa sangat menyebalkan. Dewa kini sudah berdiri di belakang sang istri, ia merasa heran sendiri. Mau-maunya antri sampai sepuluh meter hanya demi seblak.

"Kita makan di tempat lain saja ya. Nggak capek apa ngantri segini panjangnya," ujar Dewa seraya menatap wajah cantik sang istri.

"Om aja sana. Aku mau makan di sini saja," tolaknya. Salsa tidak peduli dengan sang suami yang masih berdiri di sebelahnya.

"Tapi .... "

"Pokoknya aku mau makan di sini titik." Salsa tetap kekeh untuk makan di tempat tersebut.

Dewa menghela napas, bahkan ia mengusap dadanya. Akhir-akhir ini memang sikap Salsa berubah tidak seperti biasanya. Akhirnya, Dewa memilih untuk mengalah, ia menemani sang istri untuk mengantri dan menemaninya makan. Dewa terus memperhatikan Salsa yang begitu lahap menyantap satu porsi seblak yang mungkin pedasnya terlalu.

Selepas makan, kini keduanya dan kembali ke kantor, selama mereka berjalan Salsa selalu menjaga jarak. Karena perutnya akan terasa mual saat mencium parfum Dewa. Alhasil, setelah tiba di ruangan, Dewa terpaksa mengganti kemejanya. Pria berlesung pipi itu selalu menyediakan baju ganti yang ia simpan di ruangan khusus.

***

Waktu berjalan begitu cepat, pukul lima sore Salsa sudah selesai dengan tugasnya. Namun tidak dengan Dewa, pria itu masih setia duduk di kursi kebesarannya. Dewa masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, agar setelah pulang bisa langsung beristirahat. Sementara itu Salsa memilih untuk menunggu suaminya menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

"Om aku keluar dulu ya. Bosen di sini terus," ujar Salsa seraya berjalan mendekat ke arah sang suami.

"Ya udah, tapi setengah jam lagi kembali. Kalau tidak nanti aku tinggal di sini," sahut Dewa seraya menghentikan aktivitasnya.

"Iya." Salsa beranjak keluar dari ruangan.

Setelah Salsa keluar, Dewa kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka. Seorang wanita dengan pakaian yang kurang bahan masuk ke dalam. Wanita itu tak lain adalah Viola, entah ada urusan apa ia tiba-tiba datang. Viola berjalan mendekati Dewa yang masih berkutat dengan pekerjaannya.

"Ada urusan apa kamu datang ke sini?" tanya Dewa yang tetap fokus pada layar leptopnya.

"Aku mau ngajakin kamu makan malam, kamu bisa kan," jawab Viola. Kini Viola sudah berdiri di samping meja Dewa.

"Aku sibuk, lebih baik sekarang kamu pergi," sahut Dewa tanpa menoleh ke arah Viola.

Viola mulai merasa kesal dengan sikap Dewa yang acuh itu. "Dewa, ayolah. Aku sudah memesan tempat yang paling .... "

"Viola lebih baik sekarang kamu keluar dari ruanganku, sebelum aku menyuruh orang untuk menyeretmu keluar!" seru Dewa. Ia benar-benar kesal dengan sikap Viola yang selalu memaksa.

Viola mulai tersulut emosi, tanpa diduga wanita berhidung mancung itu mendorong kursi yang Dewa duduki hingga membentur dinding. Dewa terkejut dengan apa yang Viola lakukan, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, saat wanita itu mendekat dan tanpa rasa malu tiba-tiba menyambar benda kenyal miliknya. Dewa membulatkan mata saat Viola terus memaksanya untuk bercumbu.

Dewa berusaha untuk lepas dari Viola, tetapi wanita itu terus memaksa. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Dewa terkejut saat melihat siapa yang masuk, yang tak lain adalah Salsa. Salsa terkejut saat melihat suaminya tengah berciuman dengan wanita lain, seketika air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Dadanya terasa sakit, dan detik itu juga Salsa berlari keluar dari ruangan tersebut.

Melihat Salsa berlari, dengan kuat Dewa mendorong tubuh Viola agar melepas ciumannya. "Salsa tunggu."

Dewa berlari keluar untuk mengejar sang istri, sementara Viola nampak kesal dengan apa yang sudah Dewa lakukan. Wanita berhidung mancung itu mengelap bibirnya, lalu berjalan keluar dari ruangan. Ia melihat jika Dewa masih mengejar Salsa. Ia nampak tidak suka karena pria yang dicintainya lebih mementingkan wanita lain ketimbang dirinya.

"Dewa, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya," batin Viola seraya tersenyum licik.

"Salsa tunggu!" teriak Dewa. Ia terus mengejar sang istri, tetapi Salsa sama sekali tidak peduli dengan teriakkan Dewa.

Salsa terus berlari dengan air mata yang terus mengalir, sakit dan kecewa. Ia tidak menyangka jika suaminya tega melakukan itu, selama ini Salsa percaya jika Dewa adalah tipe suami yang setia. Namun kenyataannya tidak seperti yang ia bayangkan, Salsa terus berlari tanpa ia sadari jika ia sudah berada di dekat tangga.

Tiba-tiba bruk, tubuh Salsa jatuh dan menggelinding sampai ke ujung anak tangga. Seketika cairan merah mengalir dari pelipisnya. Linda yang melihatnya berlari menghampirinya, ia juga berteriak untuk meminta tolong. Namun suasana kantor yang sudah sepi membuatnya harus menunggu sampai ada orang yang datang.

Dewa yang mendengar teriakkan itu bergegas menuju ke arah sumber suara tersebut. Ia berlari untuk menuruni anak tangga, setibanya di bawah. Ia terkejut saat melihat tubuh Salsa sudah terkapar di lantai dengan darah yang terus keluar dari pelipisnya. Dewa berlari dan langsung mengangkat kepala sang istri, lalu ia meletakkannya di pangkuan.

"Salsa bangun," ucap Dewa seraya menepuk pelan pipi istrinya itu.

"Linda cepat siapkan mobil," titah Dewa dengan panik.

"Baik, Tuan." Linda beranjak dari tempat tersebut. Ia berlari keluar kantor untuk segera menyiapkan mobil.

Sementara itu Dewa terus berusaha untuk menyadarkan sang istri, tetapi usahanya gagal. Dewa semakin panik saat darah yang keluar semakin banyak, dan yang lebih membuatnya panik saat ia melihat darah mengalir dari daerah kewanitaan Salsa. Melihat itu, Dewa langsung mengangkat tubuh Salsa dan berlari keluar dari kantor. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 11

    Setibanya di RS, Salsa segera ditangani oleh dokter, sementara itu Dewa menunggu di luar. Pria berlesung pipi itu terus saja mondar-mandir dengan perasaan yang entah. Dewa berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan sang istri, ia merasa bersalah karena dirinya, Salsa harus seperti ini. Andai saja Dewa bisa lebih tegas, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.Selang beberapa menit, seorang pria datang, yang tak lain adalah Reno. Sahabat sekaligus orang kepercayaan Dewa, ia sengaja menghubunginya karena hanya Reno yang tahu tentang pernikahan itu. Dewa memang sudah menceritakan tentang pernikahannya dengan Salsa, karena ia percaya Reno tidak akan membocorkan rahasia sebelum waktunya tiba."Dewa, bagaimana keadaan Salsa?" tanya Reno, ia juga terlihat panik.Dewa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Ren. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Salsa."Reno menepuk pundak Dewa. "Sabar ya, kita do'akan saja semo

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-07
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 12

    Dewa masih berada di resto, ia terus memperhatikan Viola yang nampak begitu kesal dengan apa yang ia katakan. Dewa berharap dengan seperti itu, Viola berhenti untuk mengejar-ngejar dirinya dan mau membatalkan perjodohan itu. Dewa sangat paham bagaimana sikap wanita berhidung mancung itu. Dia adalah tipe wanita yang tidak mudah menyerah.Tiba-tiba saja handphone Dewa berdering, dengan segera ia mengeceknya. Setelah dicek tertera nama Salsa di layar ponselnya. Takut ada yang penting Dewa pun segera mengangkatnya.[ Sayang ada apa ][ Dasar pembohong, katanya mau pergi ke kantor. Tapi nggak tahunya lagi berduaan dengan wanita lain ]Tut, tut, tut, belum sempat Dewa menjawab tiba-tiba sambungan telepon terputus. Ia bingung kenapa tiba-tiba Salsa menelepon dan bicara seperti itu, apa mungkin istrinya itu mengikutinya. Namun itu tidak mungkin, jelas-jelas saat Dewa pergi Salsa ada di apartemen. Pikiran Dewa menjadi

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-08
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 13

    Pesona Cinta Sang CEOEpisode 13Setelah capek bertengkar kini keduanya sama-sama duduk. Dewa terlihat tengah sibuk dengan ponselnya sementara Surya terlihat mengatur napasnya yang terasa sesak akibat adu mulut tadi dengan cucunya sendiri. Sesekali Surya melirik Salsa yang sedari tadi duduk tanpa mengeluarkan sepatah suara. Pletak, Surya memukul meja yang ada di hadapannya, hal itu membuat Dewa terkejut."Kakek apa-apaan sih, kurang kerjaan banget," ujar Dewa sedikit kesal."Kamu yang apa-apaan, kakeknya datang bukannya di bikinin kopi, ini malah dianggurin. Dasar cucu durhaka," ungkap Surya."Gula mahal, Kek. Jadi jangan minta kopi." Dewa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja tempat untuk membuat kopi."Dasar pelit, sama kakeknya sendiri saja perhitungan," batin Surya. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya diberi cucu seperti Dewa.Saat Dewa tengah si

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-09
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 14

    Pesona Cinta Sang CEOEpisode 14Hari ulang tahun Dewa telah tiba, saat ini keduanya sudah dalam perjalanan menuju rumah ibunya. Salsa nampak cantik dengan gaun panjang tanpa lengan berwarna merah. Rambutnya yang panjang tergerai indah, sementara itu Dewa semakin tampan dengan tuxedo berwarna hitam. Sesekali pria berlesung pipi itu melirik wanitanya yang duduk di sebelahnya."Sayang, kamu kenapa?" tanya Dewa, ia merasa melihat sang istri tengah gelisah."Em. Aku takut, Om. Aku takut kalau .... ""Jangan takut, percaya sama aku." Dewa menggenggam tangan Salsa, membuat wanita itu merasa lebih tenang.Salsa tersenyum, walaupun dalam hatinya masih saja merasa takut dan juga khawatir. Jujur, Dewa pun demikian, ia juga khawatir jika nanti keluarganya tidak menerima Salsa sebagai bagian dari mereka. Namun, Dewa tidak memperpedulikan hal itu, karena apapun yang terjadi. Ia tidak akan pernah men

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-10
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 15

    Pukul tujuh Dewa sudah siap dengan baju kantornya. Saat ini pria berkemeja putih itu tengah berdiri di depan cermin sembari mengikat dasi. Sementara itu, Salsa juga tengah bersiap-siap, sejujurnya Dewa melarang sang istri untuk ke kantor. Namun Salsa tetap kekeh, rasanya bosan jika tidak ada aktivitas."Sudah siap?" tanya Dewa."Sudah, Om." Salsa berjalan mengambil jas Dewa, lalu memasangkannya di tubuh kekar suaminya itu."Ya sudah ayo." Dewa menarik tangan Salsa, keduanya pun bergegas keluar dari kamar.Kini keduanya sudah dalam perjalanan menuju kantor, Salsa memilih untuk melihat ke luar jendela. Sementara Dewa lebih fokus untuk menyetir, tetapi kejadian semalam masih saja menari-nari di benaknya. Rasanya ia tidak percaya jika harus kehilangan Salsa dan menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai."Om, ingin punya anak laki-laki atau perempuan?" tanya Salsa, hal itu sontak membuat Dewa terkejut."Maksud kamu." Dewa menoleh den

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-12
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 16

    Waktu terus bergulir, tidak terasa dua bulan sudah setelah kejadian tidak menyenangkan di kantor Dewa. Kejadian yang tidak akan pernah terlupakan, di mana rahasia yang sudah tersimpan rapat tiba-tiba terbongkar tanpa adanya rencana. Nasi sudah menjadi bubur, Salsa hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk ke depannya. Bangkai akan tercium meski sudah ditutup serapat mungkin.Sekarang Salsa semakin aktif bekerja di kantor suaminya itu. Dewa pernah mengusulkan untuk berhenti, tetapi wanita yang suka bertindak ceroboh itu menolak. Ia ingin tetap bekerja di kantor, walaupun nanti tidak akan mendapatkan gaji, hal itu tidak menjadi masalah. Dan mau tidak mau Dewa menuruti keinginan istri kecilnya itu. Asal Salsa bahagia, dewa juga ikut merasa bahagia.Hari Minggu ini, Salsa memilih untuk berdiam diri di apartemen, rasanya ia sangat malas untuk bergerak. Sementara Dewa saat ini tengah ada urusan dengan kliennya, awalnya Dewa mengajak sang istri untuk i

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-13
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 17

    Dengan cepat Salsa mengambil tisu untuk mengelap jas suaminya itu. "Maaf ya, Om aku nggak sengaja."Awalnya Dewa ingin marah, tetapi saat melihat wajah Salsa pucat, ia mengurungkannya. Pria berlesung pipi itu memperhatikan sang istri yang terlihat berbeda. Dewa memilih untuk melepas jasnya, dan juga kemejanya, Salsa yang melihat itu seketika terkejut. Pikiran Salsa benar-benar sudah kemana-mana, entah apa yang ada di otaknya itu."Om mau ngapain? Masa iya pagi-pagi mau .... " ucapan Salsa terhenti saat Dewa menyentil keningnya cukup keras."Mau apa? Jangan mesum tuh otak," potong Dewa, sementara Salsa hanya tersenyum.Setelah melepas jas dan kemejanya Dewa berjalan keluar untuk mengambil kemeja yang bersih. Salsa pun ikut keluar, sementara Dewa terlihat tengah memakai kemejanya. Wanita dengan balutan dress berwarna biru itu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang. Perutnya masih saja terasa tidak enak, seperti diaduk-aduk. Sekilas Dewa memperhatikan mimik wa

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-15
  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 18

    Setelah meeting selesai, Dewa bergegas keluar dan masuk ke dalam ruangannya. Pria berlesung pipi itu membuka pintu ruangan, ia mengedarkan pandangannya, tetapi sosok istrinya tidak ada. Dengan sedikit panik Dewa masuk ke dalam dan mencarinya ke kamar mandi, tapi hasilnya nihil. Setelah itu ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Salsa. Namun tak ada jawaban."Salsa, kamu di mana, kenapa pergi nggak bilang-bilang," gerutu Dewa dengan sedikit kesal, tetapi juga khawatir.Setelah itu Dewa menelpon ke rumah, berharap sang istri sudah pulang. Dan benar saja Salsa sudah berada di rumah, tetapi yang membuat Dewa khawatir adalah, istrinya pulang dengan keadaan menangis, tanpa pikir panjang Dewa bergegas keluar dari ruangannya. Ia akan segera pulang ke rumah untuk melihat jika sang istri baik-baik saja.Dewa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia khawatir jika Salsa sampai berbuat yang tidak-tidak. Sesekali Dewa menghubungi nomor Salsa, tetapi tidak

    Terakhir Diperbarui : 2021-05-15

Bab terbaru

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 54 | Ending

    Lima tahun telah berlalu, kehidupan rumah tangga Dewa dan Salsa semakin membaik dan harmonis. Bahkan kini mereka akan kembali di karunia bayi kembar lagi, saat ini Salsa tengah hamil sembilan bulan. Mereka tinggal menunggu waktunya kapan bayi kembar akan lahir, dan itu adalah masa-masa yang tengah Dewa dan Salsa nanti-nantikan.Salsa merasa tenang karena sudah tidak ada lagi pengganggu. Alina dinyatakan meninggal saat kejadian dulu, di mana tubuh wanita itu tertabrak oleh truk. Sejak saat itu, Salsa merasa hidupnya tenang dan juga nyaman. Sementara itu, Vira menjalani kehidupannya dengan Sinta, ia tidak merasa kesepian lagi, kasih sayang yang Vira dambakan, kini telah ia dapatkan."Mas, kok aku tiba-tiba pengen nyium Reno ya," ucap Salsa tiba-tiba. Saat ini ia dan Dewa tengah duduk santai di taman samping rumah."Jangan sembarangan kamu, kalau minta jangan yang aneh-aneh ngapa. Masa ngidam pengen nyium Re

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 53

    Tidak terasa air matanya jatuh tanpa meminta izin. Bahkan ponsel di tangannya ikut jatuh, marah dan kecewa menjadi satu. Tega-teganya orang yang sangat ia percaya berhianat. Salsa tidak pernah menyangka kalau Dewa bisa berbuat hal serendah itu."Kamu tega, Mas. Kamu bilang mau ke kantor, tapi nyatanya ... sudah cukup aku bertahan, aku tidak sanggup lagi," lirihnya, Salsa menyeka air matanya, lalu memandangi si kembar yang tengah tertidur.Selang berapa menit, terdengar suara deru mobil, sudah dapat dipastikan jika itu adalah Dewa. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama pintu kamar terbuka. Terlihat Dewa masuk ke dalam, bahkan pria berlesung pipi itu langsung memeluk tubuh Salsa dari belakang. Namun Salsa hanya diam, bahkan langsung melepas pelukan suaminya itu."Sayang kamu kenapa?" tanya Dewa, kedua alisnya saling bertautan, heran."Tidak usah pura-pura tidak tahu," jawab Salsa. Hatinya terasa sakit dengan foto yang ia terim

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 52

    Kini Salsa sudah tiba di depan ruang rawat Dewa, saat hendak masuk terdengar samar-samar orang bicara dari dalam. Salsa berpikir jika ayahnya sudah sampai, untuk memastikan, Salsa membuka pintu ruangan tersebut. Seketika mata Salsa membulat sempurna saat melihat bukan ayahnya yang berada di dalam, melainkan wanita yang telah lama menghilang, dan sekarang dia kembali lagi."Mau apa kamu kembali lagi, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" bentak Salsa. Ia tidak menyangka kalau perempuan itu kembali lagi, perempuan yang sudah banyak membuat rumah tangga Salsa dan Dewa berantakan."Apa kamu lupa kalau aku adalah calon istri, Dewa." Dengan santainya perempuan itu berjalan menghampiri Salsa, dia adalah Alina. Perempuan berhati iblis yang sudah mencelakai Salsa."Sayang, kamu benar kan akan menikahiku?" tanya Alina seraya berjalan menghampiri Dewa yang masih duduk di atas brangkar."Iya." Dewa menganggukan kepalanya."Aku ngga

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 51

    Seketika Salsa dan Bram terkejut mendengar ucapan Vira. Bahkan, dunia serasa berhenti berputar, persendian Salsa terasa lemas seketika. Ia tidak menyangka kalau Vira akan memakai kesempatan ini demi keuntungannya sendiri."Kamu sudah gila! Kamu pikir kamu siapa hah!" bentak Salsa, ia benar-benar geram dengan apa yang Vira ucapkan."Jangan mentang-mentang kamu anak, Mama Sinta. Jadi bisa seenaknya seperti ini, iya." Salsa menatap tajam wanita yang berdiri di sebelah Sinta."Silahkan kamu mau teriak atau apa, aku tidak peduli. Nyawa suamimu ada di tanganku," ujar Vira dengan santai."Kamu bukan Tuhan, jadi kamu tidak bisa menentukannya," sahut Salsa. Seketika Vira menatap tajam ke arah Salsa."Sudah, jangan bertengkar lagi. Salsa, mama minta maaf, jika keputusan mama ini salah. Namun demi kebaikan Dewa, tolong .... ""Enggak, Ma. Aku nggak mau pisah sama, mas Dewa. Bagaimana dengan anak-anak nanti," potong Salsa,

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 50

    Kini Dewa dan Salsa sudah berada di rumah sakit, Dewa langsung mendapat penanganan oleh dokter. Bahkan saat ini pria berlesung pipi itu berada di ruang ICU, kondisinya kritis. Benturan di kepala yang keras membuat Dewa mengalami pendarahan di otak, bahkan saat ini ia membutuhkan donor darah. Namun, sampai sekarang belum ada darah yang cocok.Berbeda dengan Salsa, luka yang ia alami memang tak separah suaminya. Namun, Salsa harus rela kehilangan calon anaknya yang masih dalam kandungan. Akibat benturan yang keras membuatnya keguguran, saat ini Salsa sudah sadarkan diri bahkan ia tengah menemani suaminya yang tergeletak tak berdaya, dengan beberapa alat medis menempel di badan.Sinta, dan Bram sudah ada di rumah sakit, bahkan Arman yang mendengar kabar itu seketika terbang ke Indonesia. Arman memang sosok ayah yang sangat peduli dengan anaknya. Mereka hanya bisa berdo'a semoga Dewa bisa secepatnya mendapatkan donor darah. Arman memang bisa mendonorkan darahny

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapters 49

    Kakek Surya menghembuskan napas terakhirnya, lantaran terkena serangan jantung. Dewa tidak menyangka kalau kakeknya akan pergi dengan cara seperti itu. Begitu juga dengan Sinta. Ia merasa bersalah, karena masalah yang ia ciptakan, menjadi akhir hidup seseorang yang sangat ia sayangi.Jenazah sudah dimandikan, bahkan sudah dikafani dan dishalatkan. Kini mereka tengah menunggu kabar dari makam, apakah sudah selesai membuat makam atau belum. Banyak tetangga, kerabat bahkan teman-teman kakek Surya yang datang. Pengusaha dan para pejabat pun saling berdatangan, terlebih kematian yang mendadak membuat mereka tidak percaya.Dewa duduk tepat di samping kepala almarhum kakek Surya, ia merasa sedih dengan kematian kakeknya yang mendadak itu. Sementara Sinta duduk berseberangan dengan putranya, ia tak kalah sedih, bahkan air matanya terus mengalir. Selang sepuluh menit, Salsa datang bersama dengan Bram. Wanita hamil itu bergegas masuk ke dalam dan duduk di sebelah sua

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 48

    Sementara telepon itu masih saja berbunyi, Vira terus meminta tolong pada Dewa, dengan suara tangisannya yang begitu memekakan telinga. Sementara Dewa bingung harus berbuat apa. Di sisi lain ia merasa kasihan, tetapi ia juga tidak mau bertengkar lagi dengan istrinya."Kalau dia lebih penting, silahkan pergi. Tapi jika aku lebih penting, tetap di sini," ujar Salsa. Bukannya mau egois, tapi ia istrinya. Seharusnya Dewa lebih mementingkan istri dari pada orang lain.Dewa menghela napas, ia bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin ia memaksa pergi, bisa-bisa nanti istrinya tidak mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan si kembar dan sang istri. Dewa menoleh Salsa yang masih memunggunginya, sementara ponselnya masih saja berbunyi.[Maaf, saya tidak bisa. Saya sedang ..... ]Terdengar jika Vira berteriak memanggil kakaknya, bahkan suara tangisannya semakin kencang. Dewa benar-benar merasa tidak tega, ia bingung harus berbuat apa. Mana yang har

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 47

    Satu minggu telah berlalu, dan selama seminggu ini Salsa tinggal di rumah Bram, bersama dengan si kembar. Sementara Dewa, memilih untuk mengalah, dan setiap dari kantor, ia selalu menyempatkan diri untuk berunjuk ke rumah ayahnya, menemui istri dan anak-anak. Rasanya sehari saja tidak melihat mereka, sudah seperti satu bulan.Lalu, untuk masalah ibunya dan Vira, Dewa masih mencari informasi tentang hubungan mereka berdua. Dewa berharap semoga ibunya tidak menyembunyikan apapun dari dirinya. Sudah cukup dulu Sinta menyembunyikan siapa ayah kandung Dewa. Kali ini, ia tidak ingin ada rahasia lagi yang tersembunyi antara mereka.Sementara itu, Vira juga masih bekerja di kantor Dewa, memang jika diperhatikan, ada yang tidak beres dengan wanita itu. Namun, Dewa akan tetap mempertahankannya, sampai rahasia tentang Vira terkuak. Dan apa hubungannya dengan Sinta, sejak Dewa memergoki kedua wanita itu di rumah sakit, pria berlesung pipi itu menyuruh orang kepercayaan

  • Pesona Cinta Sang CEO   Chapter 46

    Keduanya masih beradu pandang, tetapi tiba-tiba ponsel wanita itu berdering. Dengan cepat ia bangkit dan beranjak dari tempat tersebut. Sementara Sinta masih memandangi punggung wanita itu yang kini menghilang di balik dinding."Ya, Allah. Gadis itu ... apa mungkin dia ... tidak mungkin, dia pasti hanya mirip," gumam Sinta, ia pun memilih untuk beranjak pergi. Pikiran Sinta kacau, sudah tua kali ia bertemu gadis itu.Di dalam ruangan, Bram tengah menemani putrinya. Salsa terus merengek meminta pulang, padahal dokter belum mengijinkan. Dan yang membuat Bram berpikir dua kali adalah, Salsa meminta pulang ke rumahnya, bukan ke rumahnya sendiri."Yah, boleh ya. Salsa ingin menenangkan pikiran, Salsa akan membawa si kembar juga," bujuknya. Salsa terus berusaha membujuk ayahnya agar mengijinkan dirinya untuk pulang ke rumahnya.Bram menghembuskan napasnya. "Baiklah, terserah kamu saja, tapi kamu harus izin dulu sama Dewa. Karena bagaiman

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status