Dua jam lagi Nova akan menghadapi situasi antara hidup dan matinya. Bukan, bukan tentang melahirkan sosok malaikat kecilnya, melainkan Nova harus terlibat dengan orang-orang yang cepat atau lambat akan terlibat dengan masa depannya. Ya, masa depan yang dibangun oleh Mark. "Kau sudah siap sayang?" Nova mengalihkan pandangannya ke arah cermin di depannya. Kepala Mark menyembul dari arah luar kamar hotel yang disewa oleh pria itu sebagai tempat persinggahan mereka. Nova mengangguk, dua sejoli itu saling bertukar pandang lewat pantulan diri mereka di cermin. Gaun putih polos selutut dengan pernak-pernik di bagian dada membalut tubuh Nova dengan elegan. Perut buncitnya tak menghalangi efek cantik yang terpancar dari dalam diri wanita itu. Polesan riasan natural khas wanita Korea semakin menambah keanggunan. Nova memoles bibirnya dengan lipstik merah muda untuk sentuhan terakhir. "Ya, aku sudah siap," jawab Nova disusul seulas senyum yang membuat hati Mark meleleh. Mark melangkah se
Mark sadar seseorang di sampingnya tadi menjauh. Ia melepaskan pelukannya dari sang ayah, lantas beralih pada Nova dengan nyali wanita itu yang semakin mengerucut. "Sayang, kemarilah," kata Mark, baru saat itu Nova berani mengangkat kepalanya. Semua orang kini menatap Nova dengan pandangan aneh. Penampilan Nova tak luput dari proses pindaian dari mata ke mata. Tak jarang beberapa orang memiringkan tubuhnya ke samping. Mencibir beberapa hal di diri Nova yang tak sesuai dengan standar mereka. Nova hampir berkecil hati, karena di sini, semua orang menatapnya dengan tatapan yang memilukan. Seolah Nova adalah sosok asing yang tak layak untuk berada di sekitar mereka. Karena Nova tak kunjung membalas panggilannya, Mark lantas menghampirinya. Terlihat jelas Nova tak nyaman dengan situasi yang sedang mereka hadapi sekarang. Jauh dalam hati Nova, rasanya ingin mengubur diri saja dari situasi ini. Kepercayaan dirinya luntur seketika. Namun, sentuhan Mark di tangannya membuat Nova kembali m
"Kau yakin dengan keputusanmu, pak? Sudah enam bulan aku sengaja menutupi masalah ini dari mereka." Angga menangkap sorot kekhawatiran yang begitu besar di sorot mata sang asisten. Sudah semalaman Angga menimbang baik-buruknya atas keputusan yang ia ambil kali ini. Kian hari, saham perusahaan yang sempat terancam bangkrut setahun lalu semakin turun. Angga tak mungkin melakukan pendanaan silang dengan perusahaannya yang lain hanya untuk mempertahankan satu perusahaan. "Ya, aku akan mendatangi Jhony. Kau tidak perlu khawatir, aku akan memberikan alasan paling logis padanya. Kupastikan namamu tak terseret sedikitpun," janji Angga. Tepat ketika ia menyelesaikan kalimatnya, sesosok wanita datang. Rachel menghampiri dua pria yang diselimuti oleh perasaan tegang itu dengan senyum manis yang tak pernah lepas dari wajahnya. Di gendongan Rachel, ada Celva yang menjulurkan tangannya ke depan. Antusias melihat kehadiran sosok ayah yang selalu ia rindukan."Papap!" panggilnya untuk Angga. Boc
Suasana di ruangan besar yang didominasi oleh warna hitam dan merah itu berubah tegang. Di balik meja kebesarannya, Jhony menyambut kedatangan Angga dengan sebelah sudut bibir yang naik ke atas. "Kau punya nyali juga ternyata," ucap Jhony angkuh diiringi dengan hembusan napas dan senyum meremehkan. "Apa yang bisa kulakukan untukmu, Tuan Angga yang terhormat?" Sungguh, jika Angga tak memiliki tujuan yang jelas saat memutuskan untuk datang ke kediaman Jhony saat ini, bisa Angga pastikan dirinya akan menghabisi Jhony saat ini juga. Keangkuhannya patut untuk dimusnahkan, begitu juga dengan perangainya yang suka membuat pria itu jatuh ke dalam lubang kelam akibat lidahnya sendiri.Seorang ajudan yang mendampingi Angga sejak tadi, mengisyaratkannya untuk masuk semakin dalam memasuki ruang kerja Jhony. Kini, dua pria yang pernah menjalin hubungan sebagai kolega akrab itu hanya dipisahkan oleh jarak kurang dari satu meter saja. Angga memaku tatapannya tepat di manik hitam legam Jhony. Seca
"Aku pastikan kau tidak akan mempunyai kesempatan itu, Angga. Aku sudah habis-habisan menggelontorkan uang, dan kau begitu mudah mendapatkannya. Mau pikir aku akan diam saja?" "Kau lupa siapa aku sebenarnya, huh? Pria problematik seperti dirimu, bisa mati dalam sekali injakan. Kau mau aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku di rapat final waktu itu?" Suasana mencekam diantara dua pria yang saling bersitegang itu semakin memanas. Aura kebencian berlomba-lomba untuk menguasai Angga dan Jhony secara bergantian.Ya, tidak ada yang lebih menyeramkan dari balas dendam seorang pria yang dikhianati. Dan dendam itu kini bersemayam dalam diri Angga. Jiwa penuh kemarahannya tak akan membiarkan sosok-sosok pengkhianat yang telah menghancurkan hidupnya. Raut wajah ketakutan Jhony kini menjadi bahan cemoohan Angga. Ia bangkit dari tempat duduknya, berdiri tepat di hadapan Jhony. Ceklek. Bunyi kunci senapan yang dikendurkan oleh jemari Angga membuat degup jantung Jhony tak k
Mobil yang dikendarai Angga berhenti tepat di teras rumahnya. Angga melenggang masuk ke dalam rumah tanpa beban. Hari sudah cukup larut ketika ia memijakkan kakinya di rumah mewah bergaya minimalis itu. Dua orang ajudan menyambut kedatangannya, lalu kompak membuka pintu selebar-lebarnya untuk sang tua. "Dimana Chris? Apa dia sudah pulang?" tanyanya pada para ajudan. Dua orang itu mengangguk cepat, salah satu diantara mereka berinisiatif untuk menjawab."Pak Chris sudah pulang sejak.satu jam lalu, tuan. Apa mau saya bantu hubungi beliau?" Gelengan kepala Angga telah menjawab pertanyaan itu. Pria yang baru saja menyelesaikan aksi balas dendamnya itu kemudian melenggang masuk ke dalam rumah. Pulang ke rumah tanpa sambutan seakan sudah menjadi kebiasaan baru bagi Angga sejak ia membuka kembali kedua matanya satu minggu lalu. Langkah tegas menuju lantai dua harus tertahan sejenak ketika perut tak bisa diajak bekerja sama.Kruuk.. Sebuah pengingat alami dari tubuh Angga sudah bersuara
Angga menikmati kuluman oenuh ambisi di bibirnya. Meski begitu, ia tak cukup mampu untuk berpikir waras karena di matanya kini, sosok yang tengah bersamanya kini adalah Nova. "Kamu pria yang sangat perkasa, Pak Angga. Aku sangat puas dengan permainan kita malam ini," ucap wanita itu. Sebelah sudut bibirnya naik ke atas, memamerkan kepuasan yang tiada tara. "Aku tidak menyangka, bisa dengan mudah menguasai ranjang bersamamu, Pak Angga," ucap Rachel lagi. Ia menarik tubuhnya menjauh dari tubuh polos pria idamannya sejak sepuluh tahun lalu. Angga terkapar tak berdaya di atas ranjang setelah puas membalas lumatan bibir Rachel di bibirnya. Namun, beban tak kasat mata di kepalanya terasa sangat berat hingga Angga tidak mampu untuk membuka mata. Kata demi kata yang Rachel ucapkan melintas begitu saja di telinganya, tetapi bukan berarti Angga mampu menampung itu semua. Rachel turun dari ranjang, dengan segenap sisa ambisinya. Wanita berusia 31 tahun itu merampas botol kecil beris obat ti
Seharusnya Angga bersyukur karena pria di depannya saat ini tak menunjukkan gelagat hendak menghabisinya dalam sekali pukulan.Alih-alih melampiaskan kemarahan pada bosnya, Chris memilih untuk berjalan mundar-mandir di hadapan Angga dengan langkah gelisah. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak menyangka kalau wanita itu adalah Rachel," kata Angga. Sungguh, lagi-lagi penyesalan yang begitu besar yang harus Angga telan kali ini. Bagaimana bisa dirinya bersikap terlalu ceroboh semalam? Daya fantasinya bekerja di luar nalar hingga Angga tak mampu mengendalikan diri. Chris menghentikan gerakan kakinya, beralih menghadap Angga yang masih setia duduk di atas sofa. "Kau yakin tidak dalam efek alkohol, pak? Mana mungkin kau begitu lemah dengan fantasimu sendiri?" ucap Chris yang tak lain juga menampar Angga pada kenyataan. Namun, sekeras apapun Angga mencari tahu, pikirannya seolah menolak realita. "Aku yakin, Rachel tidak memberikan apapun padaku. Dia hanya memasak bubur yang belum sempa
Lampu remang-remang di dalam klub malam di tengah kota Seoul ini membatasi pandangan Chris yang masuk ke dalamnya. Muda-mudi berlenggak-lenggok di lantai dansa. Di bawah lampu sorot mengikuti irama musik beat yang menggila. Pandangan Chris mengedar ke segala penjuru. Ia langsung bergegas dari bandara ke sini setelah menghubungi Angga. Kabarnya, pria itu berada di sini, namun sampai sekarang Chris belum menemukan petunjuk tentang keberadaan bosnya. Pergerakan Chris di tengah kerumunan orang-orang yang berdansa, menarik perhatian beberapa wanita di sana. Sesekali terdengar mereka mencoba menggoda Chris dengan panggilan-panggilan nakal. “Hai, tampan. Kau sendiri saja?” Seorang wanita mendekati Chris. Dua bingkai lensa di mata Chris ia koreksi saat berhadapan dengan wanita itu. “Kalau kau datang sendiri, aku mau menemani,” ucap wanita itu lagi. Rambut panjangnya sengaja dikibaskan di depan wajah Chris. Aroma bunga menguar setelahnya. Jelas, wanita itu sedang berusaha untuk menarik perh
“Bagaimana bisa Anda membiarkan orang dengan kondisi mental yang terganggu, bepergian sendirian bahkan, mengurus bayi? Apalagi Anda bukan suaminya.” Seorang pria paruh baya dengan seragam kepolisian menginterogasi Mario dengan segerombol pertanyaan. Ia menghela napas panjang, hendak menyela ucapan sang polisi namun pria itu terus berceloteh, tidak memberikan kesempatan bagi Mario untuk menjelaskan. “Anda tahu ‘kan? Apa yang Anda lakukan bisa disebut sebagai bentuk kelalaian dan berpotensi menyakiti orang lain.” “Saya paham, Pak. Itu mengapa saya ada di sini sekarang. Saya akan menebus Nova dan mengikuti prosedur hukum yang berlaku. Tolong beri sedikit keringanan untuk Nova. Bagaimanapun dia masih punya tanggung jawab untuk mengurus anaknya yang masih bayi,” ucap Mario panjang lebar. Tidak akan ia sia-siakan kesempatan untuk bicara. Tujuannya saat ini adalah membebaskan Nova dari hukuman paling berat. Mario mengikuti semua prosedur hukum yang berlaku atas pelanggaran yang Nova laku
Kesibukan terlihat padat di pintu kedatangan Bandara Incheon. Seorang pria mengenakan setelan jas lengkap berwarna keabuan menarik beberapa mata di sana. Di balik kacamata hitam yang nangkring di hidung mancung pria itu, ada sepasang mata yang awas mengintai pergerakan seseorang dari arah lain bandara. Seorang wanita, dengan stroller bayi menemaninya duduk di ruang tunggu menuju pintu keberangkatan. Tujuannya bertolak belakang dengan kedatangan pria tadi. Pria itu melirik arlojinya, tiga puluh menit lagi seluruh penumpang jurusan penerbangan domestik lepas landas. Pria itu bergegas mendekati sang wanita. Dengan penampilan, tidak, ketampanannya yang sedikit mencolok dan menarik perhatian, Chris–pria itu–mendekati targetnya. “Selamat pagi, Nyonya.” Wanita berambut panjang, dengan iris mata hazel yang indah itu mendongak. Dahinya berkerut pun dengan kedua matanya yang memicing. Mencoba menilik sosok asing di depannya. “Ya? Anda siapa?” tanyanya. Ada sedikit getaran dalam suaranya.
Secangkir kopi panas di hadapannya sama sekali tidak menarik perhatian Angga. Di sudut salah satu kafe di jalan utama kota Seoul, ia membiarkan segala pikirannya berterbangan bebas terbawa angin. Laptop dengan layar yang masih menyala berakhir sama mengenaskannya dengan secangkir kopi itu. Padahal, deretan daftar pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan secepatnya, meraung meminta dikerjakan. Suara di kepala Angga terlalu berisik. Bahkan membuat pria berusia 37 tahun itu kewalahan mengatur jam tidurnya. ‘Sudah waktunya kau mengejar kebahagiaanmu.” Untaian kalimat yang diucapkan Dalton tempo hari kian memperparah kegundahan hati yang selama beberapa hari ini meraung perhatian Angga agar tidak diabaikan. Lagi-lagi, hanya helaan napas berat yang menjadi penghujung keglisahan Angga. “Tidak seharusnya aku terjebak dalam kegalauan ini,” gumamnya, Angga mencoba mengalihkan pikirannya dengan menggeser pesan dengan seseorang yang jauh di belahan dunia sana. Deretan foto putri kecilnya mend
Seminggu setelah Mario memutuskan untuk mencabut perjanjian kerja perusahaan mereka, Angga memilih hengkang dari apartemen pria itu. Ia cukup tahu diri untuk tidak menjadi benalu sahabatnya. Saat ini, Angga tengah berhadapan dengan pria paruh baya. Mario bilang, itu adalah koleganya yang akan memberikan suntikan dana untuk perusahaan cabang milik Angga yang hampir bangkrut. “Aku tertarik dengan konsep perusahaanmu. Hanya saja, Kerugian selama periode dua tahun ini cukup menarik perhatianku. Dan akan lebih berisiko jika aku investasikan uangku di sana. Bagaimana kalau begini saja,” ucap pria itu. Pria bernama Dalton, berusia sekitar lima puluh tahunan menjabat sebagai pemilik perusahan olahan ginseng paling terkenal di Korea.Meski terlihat kecewa dengan Angga, Mario tetap bertanggung jawab atas apa yang sudah ia janjikan. Satu alasan yang membuat Angga semakin tak enak hati padanya. Dalton memajukan tubuhnya, menatap Angga dengan sorot penuh rasa ketertarikan yang begitu besar namun
Nova hendak mendekati Mark, namun langkahnya ditahan oleh Mario yang kini menatapnya dengan sorot menuntut. Sekujur tubuh Nova meremang. Pegangan Mario di lengannya seolah memiliki aliran magnet yang membuat pandangan Nova tidak beralih padanya. “Apa yang kamu lakukan, Mario? Tolong lepaskan aku,” pinta Nova. Ia membalas tatapan Mario tak kalah tegas, kemudian beralih pada kaitan tangan mereka. “Jawab yang sejujurnya, Nova. Apa benar yang dikatakan Mark?” Nada bicara Mario berubah dingin. Nova bisa merasakan pria itu sedang bergelut dengan kekecewaan yang begitu kental di dadanya. Dengan sedikit keras Nova menghempaskan pegangan Mario seraya berkata. “Benar atau tidak, masa laluku adalah urusanku. Baik kamu ataupun Mark tidak berhak mengintervensi hidupku,” balas Nova tegas. Kini jaraknya dengan Mark terkikis. Wajah mantan kekasihnya itu sama tegangnya dengan Mario setelah kalimat ultimatum Nova ucapkan. “Dan untuk kamu, Mark,” ucap Nova dingin. “Bukan hakmu juga mengatur hidupku.
Cukup lama Angga dan Mark bersitegang. Tidak ada satupun diantara dua pria itu yang berniat untuk membuka obrolan. Dibatasi oleh stroller yang ditempati Noa. Baik Angga maupun Mark, sama-sama sibuk dengan isi pikirannya sendiri. “Kenapa kau ada di sini? Kau belum menjawab pertanyaanku. “ Mark pada akhirnya mengalah. Nada bicaranya berubah lebih santai. Tidak ada lagi sorot kejam yang menghunus dan menyudutkan Angga. “Seharusnya kamu tahu tanpa perlu bertanya.” Angga melirik ke arah Noa. Mark tahu maksud terselubung atas kode yang diberikan oleh Angga. Mark terkekeh, menertawakan nasib Angga yang mengenaskan. “Kau lebih rela mengalah demi sahabatmu?” ejek Mark. Senyum lebarnya sengaja dipampang di depan Angga karena berhasil memenangkan keadaan. “Bukan urusanmu. Jadi tutuplah mulut.” “Apapun yang menyangkut Nova adalah urusanku,” Mark mendengus. Emosinya terpancing kala sadar Angga tidak terpengaruh sedikitpun dengan ejekannya tadi. “Kalau begitu, kenapa kau masih di sini? Bukan
Reno meraih rahan Anya untuk menatapnya. Sikap Anya yang berbeda membuat Reno mengikuti arah pandang wanita itu.Tidak ada siapapun di sana. Apakah Anya sedang berhalusianasi? Pikir Reno.“Anya, tenanglah. Apa yang terjadi?” tanya Reno penasaran. Kekhawatiran pria itu tidak bisa dibendung lagi. Anya tidak menjawab, melainkan beralih menatap dua manik hitam di hadapannya dengan pandangan kosong. Isi kepalanya terlalu penuh. Bahkan sudah disesaki oleh sekian banyak masalah yang menimpa hidup. Kini, satu-satunya orang yang peduli dengan kondisinya selain Reno di tempat kerja mungkin tidak akan bisa menaruh kepercayaan lagi pada Anya.“Aku baik-baik saja, Ren. Lebih baik kita pergi dari sini,” ajak Anya menarik tangan Reno keluar dari lorong.Anya yakin, Diana sudah melihat semua adegan mesra yang dilakukan oleh Reno untuknya. Rasa bersalah kembali menghantam batin Anya. Bagaimana caranya agar Diana mau mendengarkan ucapannya?Dalam hati, anya terus bertanya-tanya, apakah dirinya salah m
Menyusuri koridor di mana unitnya berada, Lita berjalan dengan langkah gontai. Riasan di wajah sudah tidak beraturan. Meski demikian, kecantikan wanita berusia 29 tahun itu tak kunjung luntur terhanyut oleh air mata yang sebelumnya mengalir dengan deras. Tok tok tok! “Mario, buka pintu!” teriak Lita dari luar unitnya. “Mario!”Tetap tidak ada jawaban. Lita baru menyadari, ia tidak membawa kunci akses unitnya sendiri sebelum pergi tadi. Dengan perasaan kesal Lita mengutuk kebodohannya hari ini. “Selamat malam, Nyonya Lita?” suara petugas yang bertugas di lantai itu menyapa Lita. “Malam.” “Kelihatannya anda sedang kebingungan, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” Ah, akhirnya bantuan datang tanpa membuat Lita repot harus turun ke meja resepsionis untuk meminta akses baru. “Bisakah anda membantu saya membukakan pintu unit? Saya lupa membawa kuncinya di dalam.” Senyum hangat menghiasi wajah yang mulai menampakkan keriput di bawah mata pria itu, “Dengan senang hati, Nyonya. “Krek.