Sepasang mata tajam itu mulai memicing. Sejak tadi, fokusnya belum beralih dari tablet. Seno berhasil mendapatkan rekaman cctv dari hotel di Singapura.
Dari layar itu tampak dari belakang. Angga melihat seorang gadis yang dipapah oleh Seno masuk ke dalam kamar 1002. Di depan kamar, ia juga melihat Seno meminta staf wanita memeriksa kondisi orang di dalam kamar.
Semua yang terlihat di rekaman cctv, sama seperti yang dijelaskan Seno padanya sebelum mereka bertolak dari Singapura. Sahabat sekaligus sekretaris dan merangkap asisten pribadinya itu tidak berbohong.
Melihat dirinya memasuki kamar 1002 dengan kartu akses di tangannya, Angga memijat kepalanya. Dengan sabar ia mempercepat durasi video cctv itu. Takut jika ada yang terlewat olehnya. Hingga tayangan video menunjukkan sosok yang keluar dari dalam kamar, Angga terdiam.
Gadis yang penampilannya tampak tidak asing. Angga merasa penah melihatnya. Hanya saja, wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi
Seorang pria membawa sebuah berkas di tangannya. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia mengetuk pintu ruang kerja atasannya. Rumah ini begitu besar dan luas. Akan tetapi, terasa menyesakkan ketika melihat aura dari atasannya.“Jadi kau sudah menemukan alasan mengapa wajah Angga babak belur?” tanya pemilik Perusahaan Tanufood itu.“Iya, Tuan,” sahut pria kepercayaannya itu sembari meletakkan amplop coklat di atas meja kaca.Gani memasang kacamatanya lebih dulu. Kemudian membuka berkas itu. Tampak pula beberapa lembar foto putranya bersama seorang gadis yang masih tampak belia.“Identitas gadis ini?” tanyanya.“Leana, Tuan. Gadis itu lulusan magister prodi gizi di Singapura. Dia baru saja lulus. Data dirinya ada di lembar terakhir.Gani beralih ke lembar terakhir. Ia penasaran gadis seperti apa yang sudah menolong putranya. Terlebih gadis itu mampu membuat Angga tersenyum seperti di dalam foto, meski w
Kembali menginjakkan kaki di Singapura. Angga dan Seno lekas menuju ke sebuah kafe tempat pertemuan dengan Veronica sudah dijadwalkan. Putri pengusaha asal Kota Medan itu menyambut karena mengira mendapat tawaran bisnis.“Tuan Seno?” sapa gadis dengan potongan rambut pendek. Penampilannya anggun dan menawan.“Ya? Maaf, Anda mengenal saya?” tanya Seno heran.Sama seperti Seno, Angga yang berdiri di sampingnya pun ikut heran. Terlebih melihat nomor meja gadis itu adalah meja nomor 15. Meja yang sejak tadi mereka cari.“Tentu, saya sudah menunggu kedatangan Anda. Anda perwakilan dari PT. Adecoagro, bukan?” tanya dengan senyum ramah. Seno terpukau dan mengangguk membenarkan.Gadis itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Perkenalkan, saya Veronica.”Deg!Angga mendelik tajam pada Seno. Apa-apaan ini? Penampilan Veronica dalam video cctv dan yang ia lihat di resto hotel pekan lalu, sangat
Terlepas dari status sosialnya, Angga juga pernah menjadi anak nakal. Saat masih remaja dan duduk di bangku sekolah, ia sudah sering keluar masuk klub di ibukota. Ya, sering sampai suatu insiden membuatnya harus diusir oleh kakeknya sendiri.“Kau yakin mau masuk ke dalam sana?” tanya Seno ragu.Sudah sejam mereka menunggu di parkiran untuk mengetahui kedatangan Brian. Namun, yang ditunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya.Angga yang membayangkan Miss L jatuh di tangan Brian, tak bisa tenang. Apalagi saat membayangkan gadis itu menghabiskan malam bersama para pria hidung belang dibawah kuasa Brian.Tidak. Itu tidak boleh terjadi!“Ga, mata lo melek, tapi lo mingkem kayak orang udah tidur?” sindir Seno yang duduk di balik kemudi. Sejujurnya, tubuhnya mulai pegal.“Itu dia,” ucap Angga yang seketika membuat Seno tersentak.Benar saja, seorang pria dengan garis keturunan paduan mongolia dan mediter
Sudah berhari-hari Lea mencari kerja. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Setiap lowongan yang dicobanya, selalu saja gagal interview.Lipatan bajunya baru saja ia selesaikan. Berbeda dengan pakaian Melati yang tadi pagi ia cuci. Pakaian itu hanya berpindah tempat tanpa ia lepaskan dari gantungannya.Gadis itu terbaring dengan tubuh lelah setelah seharian ke sana kemari mencoba melamar kerja. Ia tak menyangka jika memiliki ijazah S2 lulusan universitas ternama di Singapura, tak membuat perusahaan melirik CV miliknya.Tanpa Lea ketahui, semua kegagalannya itu karena disengaja. Anak buah Gani telah menjalankan rencananya. Hanya saja, melakukannya dengan natural.“Sekarang Mas Tanu lagi ngapain, ya?” gumam Lea menatap langit-langit kamar.Lea menyesal karena tidak sempat meminta foto bersama. Hanya foto saat ijab qabul saja yang ia miliki. Itupun, wajah Tanu tidak terlihat jelas karena foto itu diambil dari sudut yang kurang pas.Selain Melat
Untuk pertama kalinya Angga merasa gagal. Ia dan Seno tak habis pikir. Entah siapa yang berusaha menggagalkan usahanya untuk mencari pria bernama Pak Jay. Saksi kunci atas kecelakaan yang dialami kakak dan kakak iparnya.“Jadi apa yang kamu dapatkan setelah dari Tulungagung?” tanya sang ayah.Angga menggeleng pelan. Pertanyaan itu terdengar seperti sindiran halus. Sekuat tenaga ia berusaha menahan lidahnya tidak bertutur. Meski tak membeberkannya, ayah dan bundanya pasti bisa menerka dari bekas luka di wajahnya.Ia telah gagal.Selain itu, ia tidak ingin ada yang tahu dirinya sudah menikahi seorang gadis di desa itu. Dengan cara yang tak terduga pula. Cukup Seno yang selama ini sudah tahu banyak tentang aibnya.Bisa-bisa, dirinya ditertawakan habis-habisan. Apalagi, ia menikahi gadis asing yang hanya ia ketahui namanya saja. Apa kata kedua orang tuanya nanti?“Sus! Bawa Keysa kemari!” panggil Ivanka.Tak lama k
Keluar masuk toko dan membeli beberapa setelan kerja. Lea dan Melati menikmati waktu untuk bersenang-senang. Wajah murung Lea sudah tak terlihat.“Pokoknya, lo harus masuk!” desak Melati.“Tapi Mel, ngapain juga aku buang-buang duit di salon?” ujar Lea.Melati menggeleng sembari berkata, “Bukan buat buang-buang duit, Sayang. Lo itu lagi difase di mana lo mau ngerubah hidup. Pertama, lo ubah dulu penampilan lo. Nggak sampai ganti muka kok, Lea. Seenggaknya, lo ubah dikit model rambut lo yang kayak rambut anak sekolah itu!”Lea melongo lalu menoleh menatap pantulan dirinya di cermin. Terakhir kali ia merubah penampilannya adalah saat menyamar menjadi Veronica atau Miss VR.Melati yang berdiri di sampingnya jadi greget. Ia harus memikirkan bujukan lain agar sahabatnya ini bisa dijebak. Dijebak untuk mengubah penampilannya.“Lo mau masuk kerja di perusahaan gede, Lea. Jangan sampai lo bakalan diraguin, d
Apartemen penthouse milik Angga memiliki empat kamar. Kamar utama yang besar merupakan kamar pribadi Angga. Kamar kedua biasanya ditempati Seno, kini diisi oleh Keysa dan segala perintilannya. Kamar ketiga dan keempat tidak lain adalah kamar tamu dan kamar ART yang letaknya terpisah.Untuk sementara, ranjang bayi diletakkan Seno di kamar Angga. Bagaimanapun, bayi itu belum memiliki baby sitter.“Mulai hari ini, apa bibi bisa kau minta tinggal di sini? Gajinya akan kulipatgandakan. Hanya sementara saja,” bujuk Angga.Seno mengangguk dan harus mengalah demi Keysa. Seno merelakan ART kepercayaannya untuk tinggal sementara di penthouse ini. Mungkin dirinya juga harus ikut pindah.Wanita paruh baya itu adalah seorang janda yang pernah menolong Seno. Wanita yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri. Wanita itu juga yang selama ini, akan datang sekali sepekan untuk membersihkan penthouse Angga.“Kalau k
“Selamat, kamu diterima bekerja di sini!” ucap kepala HRD yang baru saja selesai melakukan sesi wawancara dengan Lea.Lea tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia menyambut uluran tangan Pak Bagas. Alasan lain yang membuat senyum Lea mengembang adalah nominal gaji yang diberikan.Delapan juta rupiah ditambah dengan fasilitas jaminan kesehatan. Nominal itu bisa bertambah jika Lea lembur atau mendapatkan bonus prestasi.“Kamu bisa langsung masuk kerja besok pagi. Untuk hari ini, saya akan minta staf untuk mengajak kamu berkeliling dan mengenal area kantor,” jelas pria itu dengan senyum ramahnya.“Baik, Pak!” sahut Lea bersemangat.“Gadis yang ceria. Selain berprestasi, auranya juga positif,” batin Pak Bagas terkesan.Pak Bagas tak tahu dari mana atasannya menemukan bibir karyawan unggul seperti ini. Buka hanya prestasi akademik yang memuaskan yang dimiliki Lea. Gadis itu juga punya beberapa pengalam
Ivanka dengan raut wajah tegas, menghampiri putranya yang duduk di pean klinik. Kini saatnya ia menagih penjelasan pada putranya. Ivanka sadar jika berita viral ini bisa ia manfaatkan untuk meminta Angga segera menikah.Lebih dari itu, ia cukup mengenal keluarga Darmawan. Vina atau Vivian Natisya Darmawan. Putri keluarga itu adalah salah seorang model terkenal yang berkecimpung dalam industri pemasaran sandang.Setahun belakangan Vina memang jarang muncul di media. Kabar yang terdengar jika gadis cantik itu dilamar seorang pengusaha kaya asal negri tetangga. Kemudian beredar kabar di beberapa koleganya jika Vina kabur dari acara pertunangan.“Angga, sekarang jelasin sama bunda!” pinta Ivanka sambil menyilang kedua lengan di depan perutnya. Keangkuhannya tak pernah surut.“Jelasin apa?” balas Angga yang sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari ponselnya.“Ya jelasin yang tadi? Kenapa kamu ada di apartemennya Seno s
Sebelum pulang, Seno meminta tolong Angga agar mampir ke lantai apartemennya un tuk mengambil berkas Adecoagro. Berkas yang diurusnya bulan lalu, masih ada di meja kerja dalam apartemennya. Seno baru saja selesai mandi saat Bi Tami meminta tolong Seno menjaga Keysa karena wanita itu butuh untuk membeli beberapa bahan masakan di minimarket dekat apartmen.Baru saja Angga memasuki area parkir basemen apartmen. Lea membalas pesannya. Istrinya bersedia bertemu besok.Angga menekan sandi pintu apartemen Seno. Begitu ia masuk, ia heran melihat tumpahan air di atas meja. Seketika ia ingat jika di apartmen Seno ada seseorang yang tinggal. Gadis yang tidak sengaja diserempet oleh Seno. “Permisi, Nona. Saya datang untuk mengambil sesuatu di kamar Seno,” ucap Angga.Hening. Tak ada sahutan.Angga mengernyit heran saat menyadari pendingin ruangan yang masih aktif. Samar tercium aroma makanan yang mirip mie instan. Karena penasaran, Angga menghubungi Seno.“Halo, kenapa? Berkasnya di meja kerja,
Kesibukan kantor pada umumnya akan digambarkan dengan tumpukan berkas, dering telpon atau perangkat lainnya. Meski bekerja dan menjadi bagian dari perusahaan besar, suasana tampak berbeda di ruang quality control. Aroma mulai menguar dari makanan yang manis dan gurih dengan sentuhan rasa pedas. Pagi tadi, para staf quality control memang sedang melakukan uji coba produk jajanan baru dengan berbahan kentang.Meski suasana masih riuh rendah, tapi tampak dua di antaranya sedang duduk tenang di hadapan mikroskop. Berusaha fokus memastikan agar bahan produk uji coba ini tidak terdapat kontaminan mikroba. Apalagi bahan atau benda asing yang ukurannya sulit dilihat dengan mata secara langsung.Tiba-tiba pintu ruangan bergeser. Sang ketua tim melangkah masuk dengan membawa berkas penilaian uji coba. Di tengah ruangan, di atas sebuah meja berjejeran makanan hasil uji coba produk baru dari bahan kentang.Dengan tenang, ketua tim mengitari meja. Mencicipi satu persatu varian yang dibuat. Kemudia
Melati, sahabat Lea yang mengetahui satu fakta dari aib perselingkuhan Heru dan Tari. Ternyata selama ini, sebagian uang kerja keras Lea habis digunakan Heru untuk memanjakan Tari.Melati masih menyimpan kesal. Meski Heru sudah mengganti separuhnya, tetap saja Melati masih belum puas. Karena itulah, Melati sengaja memviralkan wajah Tari sebagai orang ketiga.Dikarena berita itu, Tari nyaris dipecat dari pekerjaannya. Beruntung ada Heru yang menyogok HRD agar Tari tidak dipecat. Sebagai gantinya, Tari dimutasi ke kantor cabang yang ada di Malang. Ibunya, Sonia, malah meminta Tari meninggalkan Heru, kemudian mencari pria kaya lainnya. Dengan kecantikan dan tubuh putrinya, Sonia yakin jika putrinya bisa menjerat pria kaya raya agar mau menikahinya.Sudah dua pekan ibu dan anak itu pindah ke Malang. Sejak saat itu pula Tari mudah emosi. Apalagi saat Heru tidak langsung menjawab telpon atau membalas pesannya.Wanita takut keadaan akan berbalik. S
Seno tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hal itu turut membuat Angga berhenti. Kemudian mengikuti arah pandang Seno.Di depan ruangan staf quality control, tampak seorang pria yang sudah tidak asing bagi keduanya. Dari tempat mereka berdiri, suara pria itu masih terdengar jelas.Mata Angga seketika membebelak mendengar pria itu datang mencari Lea. Istrinya.Disaat yang sama, Seno melirik Angga. Sahabat sekaligus atasannya itu seperti gunung berapi yang sudah siap meledak. Bahkan, Angga membawa langkahnya berbelok menghampiri sepupunya itu.“Eh, ada Dokter Juna. Selamat sore, Dok!” sapa Lea dengan ramah.Deg!Angga tertegun melihat senyum manis istrinya ditujukan pada sepupunya. Lain halnya dengan Seno yang justru cukup menikmati suasana. Ingin sekali rasanya ia meledek Angga habis-habisan! Sok jaim tapi cemburuan.“Gimana? Udah kelar kerjaan kamu? Saya mau tepatin janji sama kamu, Lea,” kata Juna.Lea mengernyit bingung
Angga menghubungi Bi Tami sebelum ia pulang. Ia bertanya apakah ada sesuatu yang Keysa dan wanita itu butuhkan. Angga bisa sekalian mampir membelikannya. Namun, Seno memberi isyarat jika hal itu akan jadi urusannya.“Antar dulu istri lo pulang. Dia masih syok ngira lo tulang selingkuh, duda tapi single, sama duda punya anak,” goda Seno lagi.Angga berdecak kesal lalu menarik Lea ke dalam pelukannya. “Nggak ada wanita lain. Kamu yang pertama, terakhir dan satu-satunya,” bisik Angga sambil mengusap punggung Lea.“Nggak usah pamer di depan gue, Ga!” ketus Seno yang tengah membereskan berkas-berkas tadi. Termasuk berkas yang basah karena terkena tumpahan air yang Lea siramkan pada Angga.Setelah Seno pulang lebih dulu, Angga menarik Lea duduk di sofa. Ia tunjukkan foto-fotonya bersama Keysa. Begitu juga dengan kejadian awal di mana keponakannya dilahirkan dalam kondisi prematur.“Aku minta maaf dengan
“Iya, namanya Keysa. Bukan Pak Putra yang bilang, tapi Dokter Juna,” jawab Lea yang masih enggan menatap Angga.Tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang. Lea dan Angga tersentak kaget. Hampir saja Lea jatuh dari pangkuan suaminya.Seno yang berada di balik pintu kamar pribadi itu tidak bisa mengendalikan tawanya. Ia sama sekali tidak menyesal sudah menguping obrolan pasangan aneh yang satu ini.Putra dan Juna sudah sukses membuat Lea salah paham. Entah bagaimana reaksi Lea saat tahu jika Keysa adalah keponakan suaminya atau bisa disebut keponakannya juga. Bukankah Lea sudah resmi jadi istri Angga?“Diem lo!” tegur Angga.“Sorry, Ga. Istri lo lucu banget soalnya,” ucap Seno beranjak keluar.Pria itu mengambil tempat di depan Angga dan Lea yang duduk di sofa tunggal. Tatapan Seno beralih pada botol air kemasan mineral di meja. Kemudian beralih menatap pakaian pasangan itu yang sama-sama basah.
Lea menarik napas panjang saat mendapat pesan balasan dari Angga. Pria itu setuju bertemu sore nanti. Lea sendiri setuju untuk menemui Angga di ruangannya.Tersisa waktu sejam lagi jam pulang kantor. Lea lekas menyelesaikan sisa pekerjaannya. Dengan begitu, ia juga bisa tenang menyelesaikan masalah lainnya.Sementara di ruang CEO, Angga tersenyum lebar. Ini pertama kalinya Lea berinisiatif mengirimkan pesan lebih dulu. Biasanya, harus dirinya yang bertidak lebih awal.“Gimana sama cewek yang lo serempet? Lo yakin dia bukan mata-mata perusahaan lain yang mencoba deketin lo?” tanya Angga pada Seno yang sedang menikmati secangkir kopi hangat.Seno menggeleng lalu berkata, “Nggak tahu gue. Makanya gue bawa dia sementara ke apartemen gue.”“Lo udah gila? Sejak kapan lo bawa cewek masuk ke apartemen?” tanya Angga heran.“Dia nggak minta ganti rugi sama gue. Tadinya gue kira dia bakalan minta duit.”“Tapi?”“Dia minta gue cariin kost atau kontrakan sementara. Katanya dia kabur dari perjodoha
Seno menghela lega saat dokter menyampaikan gadis yang tak sengaja terserempet mobilnya baik-baik saja. Hanya luka lecet di lutut dan siku. Tak ada benturan fatal.“Ampun deh, ini Papanya Keysa ngapain nelpon gue kayak penagih utang aja?” gumam Seno saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Angga.Setelah membaca pesan dari sahabat sekaligus bosnya itu, Seno terkekeh. Ternyata Angga yang gengsian ini posesifnya level mercon.Setelah menemani Keysa imunisasi, Seno mengantar Angga ke perusahaan. Gadis kecil itu rewel dan tidak mau lepas dari Angga. Bi Tami sampai menyerah karena setiap kali ia dan wanita itu menyentuh Keysa, maka anak itu akan menangis.Sekitar sejam kemudian, gadis itu siuman. Seno meminta maaf dan berjanji akan bertangung jawab. Ia akan menanggung semua biaya pengobatan dan mengantarkannya pulang.“Kamu beneran merasa bersalah udah serempet aku?” tanya gadis cantik itu. Tatapannya menelisik Seno. Pria di samping brankar itu tidak mengenali siapa dirinya. Mungki