“Oliv, kamu jangan keluar. Biar aku saja yang temui dia.”Usai berkata, Junia bergegas keluar dengan cepat. Dia pun menghentikan Albert di depan toko buku. Kemudian, dia menarik tangan adik sepupunya itu dan menyeretnya pergi menjauh dari toko.“Kak Junia.”Albert terpaksa mengikuti jejak kakak sepupunya. Dia ingin berhenti, tapi Junia menariknya ke depan mobil dengan sekuat tenaga.“Buka kunci mobil,” perintah Junia dengan raut wajah dingin.Albert menatap Junia dengan ekspresi sangat tidak senang di wajahnya.“Kak Junia.”“Aku bilang buka kunci mobilnya!” Kali ini Junia memberi perintah dengan nada tegas, tidak ingin dibantah. Meskipun tubuhnya lebih pendek dari Albert, tapi auranya sama sekali tidak kalah dari Albert. Matanya yang indah menatap adik sepupunya itu dengan dingin, membuat Albert spontan membuka kunci mobil.Setelah itu, Junia membuka pintu mobil dan mendorong Albert masuk ke dalam mobil.“Kak Junia, aku datang untuk cari Kakak. Bukan cari Kak Olivia.”Albert dipaksa du
Junia adalah sepupu yang sejak kecil selalu melindungi Albert dan paling dekat dengannya. Namun, pada saat Albert mencintai seorang perempuan, Junia jelas-jelas dapat memberinya banyak kemudahan. Namun, kakak sepupunya itu sama sekali tidak mendukungnya. Sebaliknya, Junia menentangnya, menghentikannya, bahkan memarahinya.Albert mencintai Olivia, tapi tidak bisa memilikinya. Hal itu membuat Albert merasa amat sangat tersiksa. Sepupu yang paling dekat dengannya juga tidak mendukungnya. Hal itu juga membuatnya merasa sangat tersiksa. “Kalau ada masalah dengan pekerjaanmu, kamu ingin curhat sama aku, kamu tinggal telepon aku, kok. Kamu bisa pergi ke rumahku. Besok aku nggak buka toko. Kamu mau ngomong apa sama aku, aku bisa beri kamu waktu sepanjang hari untuk mendengarkan curhatanmu.”“Lagi pula, bagaimana pekerjaanmu bisa lancar, Albert. Kamu lihat apakah kamu curahkan perhatianmu ke pekerjaanmu? Kamu terus berpikir bagaimana cara mendekati Olivia. Aku sudah bilang berulang kali sama k
Junia mengebut sepanjang jalan dan mengantar Albert pulang ke rumah keluarga Pratama. Setelah menghentikan mobil, Junia mengirim pesan ke Olivia terlebih dahulu. Dia meminta Olivia untuk menunggunya di toko. Sekitar setengah jam lagi dia akan kembali ke toko. Olivia pun membalasnya dengan emotikon ok.Ibunya Albert, Desy, baru saja mau keluar. Setiap malam dia akan berkumpul dengan teman-temannya. Dia akan bermain kartu, menghadiri perjamuan, atau menemani suaminya bersosialisasi dengan klien atau pengusaha lainnya.Ibunya Albert awalnya terkejut ketika melihat mobil putranya berhenti di depan rumah, tapi orang yang keluar dari mobilnya adalah keponakannya. Namun setelah itu, dia berkata, “Junia, kok kamu bisa bareng sama Albert?”Kemudian, Desy berbicara dengan putranya yang baru saja turun dari mobil, “Papamu bilang kamu menghilang begitu pulang kerja. Albert, papamu lagi sibuk sekarang. Kamu harus bantu papamu.”Suaminya bilang cabang Adhitama awalnya memiliki hubungan bisnis dengan
“Om belum pulang?”“Masih ada perjamuan dengan klien. Dia nggak akan pulang sebelum jam 12.”Adik perempuan Albert masih kuliah. Karena saat ini sedang libur semester, adiknya jalan-jalan dengan teman-temannya dan akan kembali sebelum Tahun Baru. Jadi saat ini tidak ada orang lain di rumah. Desy dan Junia duduk berdua di sofa, sedangkan Albert duduk di samping mereka sambil menatap sang ibu dengan gugup.“Junia, kamu mau ngomong apa sama Tante?”“Tante, aku mau jelaskan lebih dulu. Masalah ini bukan salah Olivia. Tante dengar dulu baru boleh marah. Tapi Tante hanya boleh marah sama anak Tante, jangan salahkan Olivia.”Junia melakukan antisipasi terlebih dahulu. Bagaimanapun, dia harus melindungi Olivia.“Kalau Tante marah pada Olivia, aku nggak akan datang ke rumah Tante lagi.”“Ada apa, sih? Kenapa kamu sampai ngomong seperti itu? Tante nggak akan marah pada Olivia. Kamu dan Olivia sudah berteman belasan tahun. Tante juga lihat dia dari kecil sampai dewasa sekarang. Dia anak yang peng
“Tante, aku datang ke sini dengan mobil Albert. Aku nggak bawa mobil sendiri. Tante tolong suruh sopir antar aku kembali ke toko.”Desy berusaha menahan amarahnya. Dia memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk memberi tahu sopir agar sopir mengantar Junia pulang.Setelah Junia pergi, Desy memukul putranya lagi dan memarahinya, “Albert, kamu mau buat Mama mati kesal? Olivia tiga tahun lebih tua dari kamu. Latar belakangnya juga kurang bagus. Kamu sudah buta bisa suka sama dia?”“Ma, bukannya Mama sangat suka sama Kak Olivia?” tukas Albert, “lagi pula, apa salahnya kalau dia tiga tahun lebih mudah? Bukan 30 tahun lebih tua. Kenapa latar belakang Kak Olivia nggak bagus? Keluarganya bukan preman, hanya petani biasa. Dia nggak pernah melakukan sesuatu yang ilegal, sama sekali nggak ada catatan kriminal.”Desy sangat marah, “Mama suka sama dia, karena dia teman Junia. Mama anggap dia seperti keponakan sendiri. Terus dia nggak ada hubungan sama kamu, makanya Mama bisa suka sama dia. Ka
Ada beberapa hal yang tidak ingin Albert hadapi, tapi dia tahu dengan sangat jelas. Olivia tidak memiliki bekingan. Sedangkan ibunya adalah nyonya keluarga Pratama. Dibandingkan dengan Olivia, keluarga Pratama jauh lebih kaya dan berkuasa. Jika ibunya ingin melakukan sesuatu pada Olivia, maka Olivia tidak akan sanggup melawan ibunya. Olivia hanya bisa meninggalkan Kota Mambera.“Bukan coba, tapi harus. Pokoknya harus, ingat itu!” perintah Desy dengan dingin.Desy bisa melakukan apa pun yang telah dia katakan. Dia langsung memanggil dua pengawal dan menyuruh mereka, “Mulai sekarang kalian berdua selalu ikuti Albert. Selama dia pergi ke SMP Negeri Kota Mambera, kalian langsung beri tahu aku.”Wajah Albert menjadi pucat pasi. Di sisi lain, sopir keluarga Pratama mengantar Junia kembali ke toko. Olivia telah memindahkan semua rak di depan toko ke dalam toko. Kemudian, dia juga mengemas semua bahan dan alat untuk membuat barang kerajinan tangannya. Dia juga membungkus sayur dan makanan ri
Setelah tidur selama beberapa jam di kantor, Stefan yang disebut picik oleh Olivia baru bangun. Begitu dia membuka matanya, dia mendapati tubuhnya ditutupi dengan mantel tebal. Dia menyingkirkan mantel itu terlebih dahulu, lalu melihat jam tangannya.“Sudah jam sembilan malam.”Stefan kaget sendiri. Bisa-bisanya dia tidur begitu lama. Ada beberapa kotak makan di atas mejanya. Semua itu makan malam yang dibawakan oleh manajer umum kantor cabang. Mungkin manajer itu melihat Stefan sedang tidur. Karena itu, dia tidak membangunkan Stefan. Sepertinya dia juga yang menutupi tubuh Stefan dengan mantel.Stefan duduk tegak dan terdiam selama beberapa menit. Kemudian, dia berdiri lalu pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin agar lebih segar.Beberapa menit kemudian, Stefan baru keluar dari kamar mandi. Dia kembali ke meja kerjanya dan membuka beberapa kotak makan di atas meja. Makanan di dalam kotak makan masih panas. Dia pun duduk dan mulai makan.Pada saat yang sama, Stefa
“....”“Ada apa dengan kalian berdua? Jelas-jelas hubungan kalian sudah membaik, sering pamer kemesraan pula. Tiba-tiba kalian bertengkar lagi. Pantas saja istrimu pergi ke bar. Gara-gara kamu, sih,” kata Reiki.“Kamu bantu aku cari tahu dulu mereka pergi ke bar mana, sudah berapa lama mereka di sana, mereka mabuk, nggak. Kalau sudah tahu, cepat kabari aku.”“Oke, aku segera periksa.”Reiki langsung menutup telepon. Kemudian, dia menyuruh seseorang untuk mencari tahu ke mana dua perempuan itu.Sambil menunggu balasan dari Reiki, Stefan menghubungi kru jet pribadinya dan memberi perintah, “Kalian segera bersiap untuk perjalanan pulang. Aku akan kembali ke Kota Mambera dalam sepuluh menit.”Stefan tidak membiarkan Olivia mengantarnya ke bandara ketika akan melakukan perjalanan bisnis. Pertama, karena dia harus kembali ke perusahaan terlebih dahulu. Kedua, sebenarnya Stefan tidak memesan tiket karena dia pergi dengan jet pribadi.Anggota kru yang telah menerima pemberitahuan dari Stefan s
Makin muda maka makin sedikit orang yang mengenalnya. Misalnya, adik bungsunya, Sandy, bahkan di sekolahnya sendiri, hampir tidak ada yang tahu bahwa dia adalah anak bungsu dari keluarga Adhitama. Bahkan di kalangan kelas atas, hanya segelintir orang yang pernah bertemu dengannya. Nenek mereka sangat melindungi cucu-cucunya. Sebelum mereka memasuki dunia kerja, beliau tidak akan membiarkan kekuatan eksternal mana pun mengganggu kehidupan mereka. Ketika mereka sudah tidak ingin melanjutkan pendidikan dan mulai mencari pekerjaan, barulah nenek akan membawa mereka ke berbagai acara sosial, memperkenalkan mereka ke publik, agar orang-orang tahu bahwa mereka adalah salah satu anak dari keluarga Adhitama. Namun, apakah orang-orang akan mengingat mereka atau tidak, itu tergantung pada seberapa besar kemampuan mereka dan seberapa besar pengaruh mereka di Mambera. Jika mereka memilih untuk memulai karier dari bawah, nenek juga tidak akan membawa mereka ke acara sosial. Mereka akan dibiarka
Ronny berkata, "Meskipun adik laki-laki Ibu sudah dewasa, belum tentu dia memiliki kemampuan untuk mengambil alih bisnis keluarga. Ibu memang seorang perempuan, tapi tetap bagian dari keluarga Pangestu. Kalau Ibu memiliki kemampuan untuk memimpin, kenapa harus terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang harus menjadi penerus?" Di keluarga Adhitama, tidak ada pola pikir seperti itu. Menurut neneknya, jika semua saudara memiliki kemampuan, maka yang tertua akan mewarisi bisnis. Namun, jika yang tertua tidak mampu, maka yang paling berbakatlah yang akan mengambil alih, tidak harus anak pertama atau cucu tertua. Yang paling penting adalah kemampuan. Jika keluarga mereka memiliki anak perempuan yang bisa mengambil alih bisnis dan bersedia melakukannya, tentu saja diperbolehkan. Namun, jika tidak ingin mengambil alih, juga tidak akan dipaksakan. Melihat betapa besar keinginan para orang tua untuk memiliki anak perempuan, Ronny merasa bahwa jika suatu hari nanti dia memiliki keponakan per
Ronny menjawab dengan suara lembut, "Baik, selama Bu Yohanna nggak keberatan dengan cara makanku, maka aku akan dengan senang hati menerimanya." "Kamu ini, dari luar terlihat sangat berpendidikan dan beretika tinggi. Orangnya juga lembut dan sopan. Walaupun aku belum pernah makan satu meja denganmu, aku bisa menebak kalau cara makanmu pasti nggak buruk." Ronny tersenyum. Dalam hati, dia memuji, "Istriku memang luar biasa! Pandai menilai orang!""Oh iya, ada satu hal yang ingin kutanyakan sebelumnya." Ronny menatapnya dengan lembut, menunggu pertanyaannya. "Saat Tahun Baru nanti, apakah kamu akan pulang? Dari tempat kami ke Mambera sangat jauh, 'kan? Kudengar di sana musim dinginnya nggak terlalu dingin." Ronny menjawab, "Aku akan pulang saat Tahun Baru. Apakah makan siang dan makan malam Bu Yohanna sudah ada yang mengurusinya? Kalau sudah, aku ingin pulang sebentar. Nenekku sudah tua, beliau selalu berharap kami para cucunya bisa berkumpul saat hari raya." "Biasanya, karena pekerj
Yohanna tersenyum dan berkata, "Kamu juga beli oleh-oleh, ya? Aku sesekali keluar untuk jalan-jalan, tapi nggak pernah terpikir untuk membeli oleh-oleh." "Mungkin karena aku terlalu pemilih dalam soal makanan. Kalau menurutku nggak enak, aku nggak tertarik untuk membelinya," lanjutnya. Makanan khas dari berbagai daerah memang tidak banyak yang cocok di lidah Yohanna. "Setiap kali pergi ke suatu tempat, aku selalu membeli sedikit oleh-oleh khas daerah itu untuk dibawa pulang, agar keluarga bisa mencicipinya. Kadang kalau beli terlalu banyak, aku juga membagikannya ke kerabat dan teman-teman," ujar Ronny dengan senyum di wajahnya. Saat dia menatap seseorang sambil tersenyum, mudah sekali menimbulkan kesalahpahaman. Seakan-akan dia memiliki ketertarikan khusus pada orang tersebut. Bahkan seseorang yang tenang seperti Yohanna pun merasa hatinya lebih ringan saat berhadapan dengan Ronny yang lembut dan penuh perhatian. Tidak heran adiknya langsung memiliki kesan baik terhadap lelaki i
Yohanna menanggapi sambil berjalan ke sofa dan duduk. Ronny mendorong pintu dan masuk, membawa makan siangnya. "Bu, sudah waktunya makan siang," katanya sambil menyusun hidangan satu per satu di meja. Karena hanya Yohanna yang makan, dia hanya menyiapkan tiga lauk dan satu sop, dengan porsi yang cukup untuk satu orang saja. Yohanna cukup pemilih dalam hal makanan. Tidak banyak yang benar-benar bisa membuatnya menikmati hidangan dengan senang hati, sehingga porsi makannya tidak terlalu besar. Saat melihat menu hari ini, dia menyadari bahwa hidangannya telah berganti dari kemarin. Namun, tetap saja terlihat menggugah selera dengan warna, aroma, dan rasa yang menarik. Ronny dengan perhatian mengambil semangkuk sop setengah penuh dan menyodorkannya kepadanya. "Makan sop dulu, biar tubuh Ibu lebih hangat," katanya lembut. Padahal, di dalam ruangan sudah ada pemanas, jadi Yohanna sama sekali tidak merasa kedinginan. Pakaian yang dia kenakan hanyalah seragam kerja sehari-hari, tanpa jak
Yohanna berkata, "Kalau dia masih belum menyerah, bilang saja padanya bahwa kalau mau bekerja sama dengan keluarga Pangestu, boleh saja. Suruh kepala keluarga mereka yang sebenarnya datang untuk membahas kerja sama. Dia hanya kepala keluarga sementara. Begitu kepala keluarga yang sah kembali, dia nggak punya kuasa apa pun dan nggak bisa mengambil keputusan." Dira langsung tertawa. "Kak, kalau kata-kata ini disampaikan ke dia, dia pasti akan marah sampai meledak di tempat. Semua orang tahu kalau dia bermimpi jadi kepala keluarga yang sah, tapi sayangnya, dia nggak punya totem keluarga Brata, nggak ada lencana kepala keluarga, dan juga nggak ada stempel resmi." "Seberapa banyak pun orang yang dia sogok, dia tetap bukan kepala keluarga yang sah. Statusnya nggak diakui." Di keluarga Brata, orang-orang yang ingin menyenangkan Lota akan menganggapnya sebagai kepala keluarga. Namun, mereka yang normal dan berprinsip akan menolak mengakui statusnya. Kepala keluarga Brata yang lama beserta
Yohanna sangat memahami bahwa para orang tua di keluarganya tidak setuju jika dia dan adiknya menikah jauh dari rumah. Saat ini, bisnis keluarga sebagian besar bergantung pada dia dan adik keduanya untuk dikelola. Adik ketiga dan keempat mereka kurang begitu kompeten, usianya juga masih muda, jadi untuk saat ini mereka belum bisa mengambil alih bisnis keluarga. Kecuali kalau kedua adik laki-laki mereka bisa mengelola bisnis keluarga di usia belasan tahun, kalau tidak, Yohanna dan Dira masih harus terus bekerja keras demi keluarga. Siapa suruh keluarga Pangestu lebih banyak perempuan daripada laki-laki? Dulu, Yohanna juga butuh banyak waktu dan mengalami banyak tekanan sebelum bisa berdiri teguh di dunia bisnis dan mencapai posisinya sekarang. Dira tertawa dan berkata, "Kak, aku juga sudah bilang, aku benar-benar nggak jatuh cinta pada Ronny." "Jangan membicarakan hal-hal yang terlalu jauh. Meskipun kita sudah menyelidiki latar belakangnya, kita sebenarnya belum benar-benar mengen
"Sibuk." Yohanna membalas pesan adiknya. "Aku tahu Kakak selalu sibuk, memangnya malam-malam nggak bisa luangin waktu buat telepon ke rumah?" "Semua di rumah kangen sama Kakak, terutama adik laki-lakimu, tiap hari dia tanya, kapan Kakak pulang?" Sebenarnya, yang bocah itu rindukan adalah masakan Ronny. Ketika Yohanna pergi dinas luar dan membawa serta lelaki itu, bocah itu bagaikan langitnya runtuh. Ronny punya daya tarik tersendiri dan juga pintar memasak. Dua tuan muda keluarga Pangestu sangat menyukainya. Tentu saja, hal ini tidak bisa dikatakan begitu saja kepada kakaknya, jadi mereka hanya bilang bahwa mereka merindukan sang kakak. Yohanna sangat mengerti sifat adiknya. Dia tersenyum dan berkata, "Jangan-jangan yang mereka rindukan itu masakan Ronny? Meskipun dia nggak ada, mereka juga nggak akan kelaparan." Di rumah tidak hanya ada satu koki. Secara teknis, Ronny adalah koki pribadi miliknya. Keluarga di rumah hanya kebagian keberuntungan karena bisa mencicipi masakan Ronny
Alasan utamanya karena Yohanna ingin mempersingkat perjalanan bisnisnya, sehingga dia lembur setiap hari dan baru bisa kembali ke hotel untuk beristirahat pada larut malam. Sering kali, dia harus pergi kerja seperti biasa keesokan harinya.Kurang istirahat membuatnya tidak berenergi. Setiap hari Yohanna harus minum beberapa cangkir kopi agar tetap bisa bekerja.Yohanna berdiri dan berjalan ke depan jendela untuk melihat dunia luar. Di cuaca yang dingin, ada beberapa orang yang berjalan dengan tergesa-gesa di jalan. Tidak banyak orang.Ronny bilang kalau di Kota Mambera, baik siang maupun malam, ada banyak orang yang berlalu lalang. Kota itu hanya akan menjadi sepi saat Tahun Baru. Karena pekerja dari luar akan pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru.Paling hanya beberapa hari. Saat mereka kembali ke kota, Kota Mambera kembali ke suasana ramai dan sibuk seperti biasanya.Untungnya selama beberapa hari ini ada Ronny yang mengatur jadwal makan tiga kali sehari Yohanna. Tidak peduli ses