Senia yang mengenakan gaun merah dan dipadu dengan mahkota emas terlihat sangat cantik. Dia menerima surat rahasia itu dan membacanya. Setelah itu, dia langsung berseru gembira, “Kerajaan Nuala akan segera hancur!”Seorang anak kecil yang mengenakan jubah bermotif naga bertanya dengan heran, “Ibu? Ada berita baik?”“Otto!” Senia mencubit pipi Otto, lalu berkata sambil tersenyum, “Raja Bakir mengira Tuan Wahyudi hanyalah seorang pesuruh, lalu memberi perintah untuk melarangnya mengikuti ujian kerajaan dan bekerja untuk istana. Berhubung Tuan Wahyudi nggak akan membantu Raja Bakir, Kerajaan Agrel nggak usah khawatir lagi.”“Oh!” Raja yang masih kecil itu terlihat bingung.Duk! Duk! Duk! Senia mengetuk meja, lalu seorang pelayan istana tiba-tiba muncul tanpa suara. Senia bertanya dengan penuh wibawa, “Apa sudah ada kabar dari Pasukan Elang Hitam di Provinsi Jawali?”“Lapor, Ibu Suri. Mata-mata kita pernah menawarkan giokmu kepada Tuan Wahyudi, tapi dia tidak menerimanya.” Pelayan itu berl
“Yang namanya pria nggak akan nolak wanita cantik! Lagian, kamu juga sudah nggak mungkin bersama Panglima Yudha lagi. Ngapain kamu khawatir soal itu?” Farrel mengedipkan matanya dan melanjutkan, “Aku juga ingin mencarikan pria yang baik untukmu. Biar bagaimanapun, kamu itu sahabat baikku. Nggak mungkin aku membiarkanmu menikah sama pecundang.”“Nggak usah sok baik!” Belani mendengus, “Aku tahu kamu mau merusak hubungannya dan Panglima Yudha supaya mereka nggak beraliansi, lalu merusak rencana Keluarga Barus.”“Wah, Cantik, kamu makin pintar saja!” Farrel menekan dagu Belani, lalu mengecup bibirnya dan berkata, “Aku jadi nggak rela memberikanmu pada pria lain.”“Kamu!” Dicium oleh sesama wanita adalah hal yang memalukan. Belani pun tidak bisa berkata-kata....Di Kediaman Linardi di kota provinsi.“Wulan, apa kamu sudah tahu soal dekrit yang diturunkan istana?” Melati melambaikan selembar surat resmi dan membaca isinya, “Wira Darmadi dari Dusun Darmadi yang terletak di Kabupaten Uswal m
Di pengadilan daerah Kabupaten Uswal.“I ... ini?” Fadil yang baru diangkat menjadi patih memegang surat dari istana dengan terkejut.Dikatakan bahwa Wira ingin merebut jasa dalam mengalahkan bangsa Agrel sehingga membuat Raja Bakri marah. Oleh karena itu, dia pun dilarang mengikuti ujian kerajaan dan bekerja untuk istana.Namun, saat Yudha datang waktu itu, dia terlihat sangat menghormati Wira. Fadil menyaksikan hal ini sendiri, bukan mendengar kabar dari orang lain. Namun, pihak istana malah memberikan “hadiah” seperti ini.Tidak peduli apakah Wira benar-benar berjasa atau tidak, Raja Bakri sepertinya sangat membenci Wira. Berhubung Raja Bakri sudah menunjukkan sikap seperti itu, sikap pengadilan daerah terhadap Wira juga harus berubah.Fadil mengetuk-ngetuk meja, lalu berseru, “Pengawal, suruh Pak Regan kemari!”Tidak lama kemudian, Regan yang baru diangkat menjadi jenderal militer pun berkata dengan hormat, “Pak Fadil mau kasih perintah apa?”Fadil bertanya tanpa ekspresi, “Pak Reg
“Apa Raja sudah gila? Kak Wira sudah berjasa besar, tapi dia bukannya mendapat penghargaan dan malah dihukum. Kalau dilarang ikut ujian kerajaan dan bekerja untuk istana, itu setara dengan menghancurkan masa depan Kak Wira!”“Raja benar-benar nggak masuk akal! Dulu, Panglima Dirga dibunuh padahal sudah berjasa pada kerajaan. Sekarang, giliran Kak Wira yang dihukum setelah berjasa besar.”“Raja dan para pejabat di istana benar-benar bodoh! Kalau nggak, mana mungkin Kerajaan Nuala bisa ditindas bangsa Agrel!”Sekelompok orang berdiskusi dengan marah.“Sudahlah!” Wira berkata dengan suara berat, “Jangan ngomong begitu di luar sana. Kalau nggak, kalian bakal dihukum mati!”Semua orang pun menunduk. Mereka tahu apa konsekuensi dari mengatakan hal seperti itu. Dulu, jangankan mengkritik Raja, mereka bahkan tidak berani mengkritik seorang patih. Namun, setelah mengalami banyak hal bersama Wira, ada banyak orang yang sudah mulai bernyali.“Kak Wira, kami merasa kamu diperlakukan dengan sangat
Wira mengangguk, lalu berkata, “Coba kamu pilihkan sekelompok orang yang bisa diandalkan dan pintar. Tempatkan dulu mereka di Desa Tiga Harimau. Aku akan menyuruh orang untuk melatih mereka di sana. Nggak boleh ada orang lain yang mengetahui hal ini, ya.”“Oke!” Gavin mengiakannya, lalu segera pergi.Wira juga berjalan ke depan pintu dan menatap kepergian Gavin dengan ekspresi serius. Dia sudah membantu istana untuk mengalahkan bangsa Agrel, tetapi istana malah bersikap seperti ini terhadapnya. Tidak mungkin dia tidak merasa kesal.Dekrit yang diturunkan Raja Bakir akan mendatangkan banyak bahaya bagi Wira. Demi keluarganya, dia harus menyiapkan beberapa cara lain untuk melindungi diri.Setelah menghela napas panjang, Wira keluar dari rumah dan mulai tersenyum. Saat ini, seluruh penduduk dusun sedang menunggu giliran untuk mengambil barang yang disiapkan Wira. Orang yang sudah mendapat bagian mereka pun berjalan pulang ke rumah dengan gembira.Saat melewati tahun baru sebelumnya, merek
Benda sejenis petasan yang dijual di Kabupaten Uswal adalah tabung bambu yang diisi dengan niter, belerang, dan arang. Saat meledak, petasan jenis ini akan menghasilkan suara ledakan yang kuat dan asap tebal. Setelah membeli petasan itu dan mencobanya, Wira merasa efeknya kurang bagus. Jadi, dia pun menambahkan sedikit bubuk mesiu dan membuat sumbu petasan sendiri. Begitu dinyalakan, semua penduduk dusun pun terkejut.“Oke!” Setelah mendapat izin dari Wira, Danu mengambil sebuah petasan, lalu menyalakannya dan melemparnya ke luar. Seluruh penduduk dusun yang berkeliling buru-buru menutup telinga mereka.Duar! Petasan itu mengeluarkan ledakan yang kuat, cahaya api, dan asap tebal.“Aku juga mau coba satu!”“Kak Danu, aku juga mau!”“Aku juga!”Sony, Danur, Padi, dan beberapa penduduk dusun juga maju dan ingin mencobanya. Kemudian, satu per satu orang pun mencoba menyalakan petasan dengan hati-hati.Duar! Duar! Suara ledakan memenuhi seluruh dusun. Beberapa orang tua menyaksikannya dari
Tulisan di surat itu memang adalah tulisan Wira, tetapi isinya sangat sombong dan tidak berperasaan.[ Wulan, dalam perjalananku ke kota pusat pemerintahan kali ini, aku menghasilkan banyak uang dan Keluarga Darmadi sudah menjadi keluarga bangsawan. Sebagai istriku, kamu seharusnya memberiku keturunan. Namun, setelah menikah tiga tahun, kamu masih belum hamil juga. Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya kepada leluhur Keluarga Darmadi? ][ Jika aku tidak mempunyai keturunan, siapa yang akan meneruskan bisnis keluarga atau menggantikanku menghormati leluhur? Jadi, aku memutuskan untuk menikah lagi agar bisa meneruskan keturunan Keluarga Darmadi. Keluarga Darmadi tidak akan menerima wanita mandul. Mulai sekarang, hubungan kita sudah putus. Aku juga tidak akan pergi ke kota provinsi untuk menjemputmu lagi. ][ Aku sudah menemukan istri baru. Dia adalah Dian Wibowo. Dia lebih cantik darimu, juga lebih pintar berbisnis dan bisa membantuku mengurus bisnis-bisnisku. Dia wanita yang pali
Melati mendengus, “Nanti, jangan lupa nasihati ayahmu juga. Faksi Pak Kemal itu nggak bisa diandalkan. Coba lihat apa yang terjadi setelah perang besar di utara itu.”“Pak Kemal yang rekomendasi Panglima Yudha untuk maju. Saat Panglima Yudha menang perang, faksi Pak Kemal seharusnya bisa mendominasi istana. Hasilnya? Panglima Yudha malah ditegur gara-gara anak desa itu dan faksi Pak Kemal juga nggak disukai Yang Mulia. Kalau mau punya karier yang mulus, kalian seharusnya ambil jalur Pak Ardi! Dengan begitu, kalian baru bisa naik pangkat dengan gampang dan dapat banyak uang!”Opal berkata dengan bingung, “Ayah jadi pejabat karena ingin melakukan sesuatu untuk membantu kerajaan, bukan untuk merebut kekuasaan atau keuntungan. Lagian, Ayah punya hubungan yang sangat dekat sama Pak Kemal tapi nggak punya hubungan apa pun sama Pak Ardi. Nggak mungkin Ayah bisa berharap pada Pak Ardi!”Melati mendengus, “Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Pak Gubernur itu orang dari faksi Pak Ardi. Asalka
Mendengar kata dari selatan ke utara, Zaki dan Joko langsung tertegun dan kembali melihat peta di depan mereka.Setelah mengamati petanya dari sudut pandang berbeda, Zaki langsung terkejut sampai keringat dinginnya mengalir dan berkata dengan pelan, "Aku mengerti sekarang. Kalau tebakanku benar, mereka akan memblokir kita sepenuhnya di wilayah utara kalau mereka berhasil merebut Gunung Linang ini. Dengan begitu, seluruh wilayah dari Gunung Linang ke selatan akan dikuasai Wira."Mendengar perkataan itu, Darsa tersenyum.Setelah mendengar analisis Zaki, Joko yang berdiri di samping juga akhirnya mengerti situasinya dan berkata, "Ternyata begitu. Kalau begitu, selama pasukan Wira belum berhasil merebut Pulau Hulu dan bergerak ke Gunung Linang, mereka akan terus menyerang kita, 'kan?"Mendengar perkataan itu, semua orang tersenyum.Sementara itu, Darsa menganggukkan kepala dan berkata, "Benar. Sekarang mereka sudah menggunakan rencana saluran air dan kavaleri untuk menyerang kita pun masih
Zaki menambahkan, "Benar. Tuan, setelah memenangkan pertempuran ini, Wira pasti akan langsung pergi. Dia mana mungkin melancarkan serangan kedua."Mendengarkan perkataan keduanya, Darsa tersenyum dan berkata, "Aku tentu saja sangat yakin. Apa kalian tahu kenapa Wira bisa menyerang kita?"Kedua orang itu langsung tertegun sejenak karena sebelumnya mereka memang tidak memikirkan alasan di balik serangan itu.Zaki langsung tercengang sejenak, lalu berkata, "Tuan, bukankah mereka menyerang karena ingin merebut Pulau Hulu ini? Apa mereka punya tujuan lain?"Mendengar pertanyaan itu, Darsa tersenyum. Namun, dia tidak langsung menjawab, melainkan menatap Joko dan berkata sambil tersenyum, "Menurut kalian?"Joko juga tertegun karena dia tidak menyangka Darsa akan melemparkan pertanyaan ini padanya. Setelah berpikir sejenak, dia baru menjawab, "Menurutku, Wira memang ingin merebut Pulau Hulu ini. Tapi, apa mereka ada rencana di balik ini, aku masih belum terpikirkan."Semua orang juga langsung
Mendengar Darsa memuji dan bahkan memberikan penilaian yang sangat tinggi terhadap orang yang bernama Adjie ini, Zaki mengernyitkan alis dan berkata, "Tuan, kenapa kamu malah memuji musuh kita? Menurutku, nggak peduli siapa pun dia, tombakku ini pasti akan membunuhnya."Semua orang sudah terbiasa dengan temperamen Zaki yang buruk, sehingga kebanyakan dari mereka hanya tersenyum.Beberapa saat kemudian, Joko yang berdiri di samping pun tersenyum dan berkata, "Orang ini memang pandai menyusun strategi. Kalau tebakanku nggak salah, rencana membuka saluran air ini pasti ide dari Adjie, 'kan?"Joko menatap Guntur yang sedang berlutut saat mengatakan itu, jelas sedang bertanya pada Guntur.Setelah tertegun sejenak, Guntur baru berkata, "Benar, dia juga yang mengatur strategi penyerangan kami tadi. Tapi, kami benar-benar nggak menyangka dia bisa begitu keterlaluan sampai menjadikan orang-orang dari Desa Riwut sebagai umpan."Zaki mendengus, lalu langsung menendang Guntur dan berteriak dengan
Mendengar perkataan Darsa, semua orang menganggukkan kepala. Menurut mereka, apa yang dikatakan Darsa memang masuk akal.Pada saat itu, pintu tenda tiba-tiba terbuka dan Joko berjalan masuk. Setelah memberi salam pada Zaki, dia menatap Darsa dan berkata, "Aku sudah menangani semua perintah Tuan Darsa, sekarang tinggal menunggu laporan dari mata-mata. Kami sudah mengerahkan banyak mata-mata. Kalau ada informasi, mereka pasti akan segera melaporkannya."Mendengar laporan itu, Darsa merasa sangat puas. Dia menatap semua orang dan berkata, "Baiklah. Karena semuanya sudah diatur, sekarang kita akan menyusun rencana perang. Bisa dipastikan para perampok di Desa Riwut sudah bergabung dengan pasukan Wira. Apa kita berhasil menangkap salah satu dari mereka?"Tepat pada saat itu, salah seorang wakil jenderal yang bertugas untuk membersihkan medan perang memberi hormat dan berkata, "Tuan, sebelumnya kami memang berhasil menangkap satu tahanan. Orang ini tadinya berpura-pura mati, tapi untungnya p
Mendengar perkataan itu, Darsa menganggukkan kepala. Melihat Joko hendak pergi, dia baru teringat sesuatu dan perlahan-lahan berkata, "Oh ya. Setelah selesai mengatur semuanya, datang lagi ke sini. Aku harus merencanakan beberapa hal lagi untuk langkah selanjutnya.""Baik!" jawab Joko.Setelah Joko pergi, Darsa mengernyitkan alis. Pada saat itu, dia melihat Zaki masuk dari luar. Dia langsung tertegun sejenak saat melihat Zaki, lalu bertanya, "Bagaimana? Pikiranmu sudah jernih?"Mendengar pertanyaan Darsa, Zaki menganggukkan kepala dan langsung berkata sambil memberi hormat, "Tuan Darsa, maaf, sebelumnya aku memang terlalu gegabah. Tapi, kali ini ada begitu banyak saudara kita yang tewas, aku benar-benar merasa nggak rela."Darsa tersenyum, lalu berkata, "Hehe. Ini bukan masalah, kita akan membalasnya lain kali. Kali ini mereka memang menang, tapi menang dan kalah adalah hal yang biasa dalam dunia peperangan. Kalau kamu putus asa dan hanya memikirkan soal balas dendam karena kekalahan k
Setelah pasukan utara kembali ke kemah, Darsa tidak bisa menahan amarahnya saat melihat ekspresi Zaki dan berkat, "Zaki, sebagai jenderal garis depan, kenapa kamu begitu gegabah? Musuh pasti sudah menyiapkan jebakan di depan makanya mereka mundur, tapi kamu malah masih ingin membawa pasukan untuk mengejar mereka."Mendengar perkataan itu, wajah Zaki langsung memerah. Setelah terdiam sejenak, dia baru berkata, "Kali ini memang aku yang salah perhitungan. Tapi, musuh kita benar-benar licik. Kalau kita terus membiarkan mereka begitu, kita akan terus dipermainkan mereka."Ekspresi Darsa langsung terlihat kecewa dan berkata dengan marah, "Tipu muslihat adalah hal yang biasa dalam perang dan ini sudah menjadi aturan sejak dulu. Apa yang kamu pikirkan? Aku beri tahu kamu, aku akan melupakan kesalahanmu kali ini kalau kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik."Darsa mendengus, lalu menoleh pada Joko dan berkata dengan pelan, "Bawa orang-orangmu untuk menghitung jumlah korban dan pasukan
Pengirim pesan itu segera memberi hormat, lalu langsung berjalan keluar.Setelah pengirim pesan itu pergi, Darsa baru menghela napas. Saat ini, semuanya sudah direncanakan, tetapi tergantung pada takdir apakah ini akan berhasil atau tidak. Jika 10 ribu pasukan ini masih tidak bisa membawa kembali Joko dan Zaki, situasinya akan makin merepotkan.Saat itu, Wira yang berada di medan perang tiba-tiba menoleh dan melihat musuh sudah mengerahkan tambahan 10 ribu pasukan pun terkejut karena hal ini di luar perkiraannya. Dia tidak menyangka musuh masih memiliki pasukan sebanyak ini dan sebelumnya mereka juga sudah menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Mengapa mereka tidak langsung mengerahkan seluruh pasukan?Sebelumnya, Wira dan pasukannya sudah berhasil menghancurkan semangat bertarung pasukan utara. Namun, begitu melihat musuh mendapat pasukan tambahan lagi sekarang, mereka langsung terkejut. Mereka tidak menduga musuh mereka ternyata begitu hebat.Tepat pada saat itu, salah seorang yang te
Begitu kedua belah pihak bertabrakan, suara benturannya langsung bergema dan kekuatan yang dahsyat membuat keduanya terlempar dari kuda mereka.Joko bisa begitu dipercaya Darsa karena ternyata kekuatannya memang luar biasa. Dia mendengus, dan segera memutar tubuhnya sambil mengayunkan senjatanya, lalu mendarat di tanah. Serangannya seharusnya sudah sangat cepat, tetapi dia tidak menyangka Arhan malah lebih cepat. Saat kakinya menyentuh tanah, Arhan sudah kembali menyerangnya.Keduanya bertarung dengan sangat sengit, membuat suasana medan perang menjadi makin kacau.Namun, pertarungan antara kedua orang itu malah membuat pasukan utara makin terdesak. Menurut mereka, kekuatan musuh mereka ini benar-benar luar biasa. Bahkan ada salah seorang prajurit yang berkata, "Kenapa pasukan musuh begitu kuat? Ini benar-benar merepotkan."Banyak prajurit lainnya yang menganggukkan kepala juga. Menurut mereka, kemampuan pasukan musuh kali ini benar-benar sangat hebat dan di luar perkiraan mereka. Bahk
Hayam menganggukkan kepala setelah mendengar Adjie berkata seperti itu, lalu segera berbalik dan memimpin pasukannya mendekati Wira.Saat melihat Agha juga memimpin pasukan untuk datang mengepung, Darsa yang berada di dalam tenda langsung terkejut. Dia selalu mengira bala bantuan dari pihak musuh hanya pasukan kavaleri yang bersembunyi di kegelapan, tetapi ternyata masih ada begitu banyak infanteri.Ekspresi Darsa langsung menjadi muram saat teringat dengan banjir yang tiba-tiba terjadi sebelumnya. Setelah tertegun sesaat, dia akhirnya menyadari semua itu adalah bagian dari jebakan yang sudah direncanakan musuh. Dia langsung berteriak dengan lantang, "Joko, bantu Zaki untuk mundur, sekarang bukan saatnya untuk menyerang."Ekspresi Joko berubah, lalu menganggukkan kepala dan berkata, "Baik, kita akan segera menerobos keluar."Namun, saat melihat pasukan musuh, seseorang yang berada di samping Joko berkata, "Sialan. Kita benar-benar nggak menyangka hal ini, tapi kekuatan mereka memang lu