Keluarga Juwanto mengetahui semua masalah yang terjadi di Kerajaan Beluana. Bukan hanya mengetahuinya saja, semuanya bahkan berada di bawah kendalinya."Tuan, Kerajaan Beluana sudah meragukan Wira, mereka mulai curiga semua ini tindakannya!" kata Bruno yang berada di samping Prabu dengan senyuman sinis terlintas di matanya."Baguslah kalau mereka meragukannya. Tunggu saja, hubungan mereka akan perlahan-lahan hancur. Tapi, kita tetap harus meneruskan semua ini!"Setelah Prabu selesai mengatakan itu, Bruno menganggukkan kepalanya."Aku mengerti. Selanjutnya, akan lebih baik kalau ada yang mati!"Setelah Bruno selesai mengatakan itu, Prabu menganggukkan kepalanya. "Bagus. Sekarang semuanya hanya keributan kecil saja. Kalau ada beberapa orang yang mati, keraguan mereka akan makin meningkat! Tapi, seperti biasanya, kalian harus hati-hati. Mengerti?"Prabu tersenyum. Dia tidak menyadari semua kejadian itu sebenarnya adalah rencana dari Wira dan Ciputra. Semua kecurigaan itu semuanya hanya se
Farrel langsung memberi tahu maksud kedatangannya.Wira menganggukkan kepalanya. "Tentu saja karena hal Keluarga Juwanto. Situasinya sekarang memang terkendalikan, tapi Keluarga Juwanto akan punya langkah baru. Hanya saja, kalian nggak bisa menebak apa langkah mereka selanjutnya, 'kan?"Setelah mendengar perkataan itu, Farrel tersenyum. "Kak Wira, sepertinya benar-benar nggak ada yang bisa disembunyikan darimu."Kali ini, Farrel tetap datang dengan menyamar sebagai seorang pria. Dengan statusnya ini, akan lebih mudah berhubungan dengan Wira dan dia merasa lebih nyaman juga. Bagaimanapun juga, jika berpakaian sebagai seorang wanita, Farrel merasa Wira akan memperlakukan dirinya seperti wanita dan pikirannya juga akan menjadi lebih rumit. Statusnya sekarang ini membuatnya merasa lebih nyaman."Tujuan Keluarga Juwanto adalah untuk memecah belah hubungan kita, tapi konflik kali ini masih nggak cukup untuk membuat kita bermusuhan. Jadi, mereka akan melakukan tindakan yang lebih besar, bahka
Setelah Wira selesai berbicara, Farrel langsung menggeleng sambil membalas, "Tentu saja nggak, aku menggunakan nyawaku sebagai jaminan. Aku nggak akan membiarkanmu berada dalam bahaya."Yang dikatakan Farrel memang benar. Dia juga percaya ayah dan kakaknya tidak akan melakukan hal seperti itu!Tujuan Wira melakukan ini adalah untuk membuktikan apakah Keluarga Barus akan melawannya atau tidak. Kalau sampai hal seperti itu terjadi, Wira akan membuat pembalasan.Faktanya, Wira terus memikirkan hal ini. Bagaimanapun, bahaya akan selalu mengintai saat berada di sisi seorang penguasa. Apalagi Wira masih harus menghidupi begitu banyak orang, dari para sahabat sampai istrinya."Oke." Wira tersenyum sembari mengiakan. Sesudah Farrel pergi, kedua wanita itu menatapnya dan mulai merasa cemas."Suamiku, kamu yakin dengan keputusanmu ini? Keluarga Barus jelas-jelas mencurigai kita. Ini sudah pasti! Bagaimana kalau mereka benar-benar melawanmu?" tanya Wulan.Wira tentu memahami kekhawatiran mereka.
Farrel menganggukkan kepalanya dan menimpali, "Ya, ini ide dari Wira. Dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Keluarga Juwanto, sekaligus menjatuhkan mereka!"Ciputra mengangguk mendengarnya. Dia berkata, "Sebaiknya kita diskusikan dengan Ayah dulu." Dia tidak berani membuat keputusan sendiri karena hal ini sangat serius."Benar, kita harus mendalami peran dengan baik," ujar Farrel. Kemudian, dia dan Ciputra sama-sama pergi mencari Sigra untuk memberitahukan semuanya.Begitu mendengarnya, reaksi Sigra dan Ciputra pun sama. Keduanya tidak bisa memercayai realita ini. Hanya saja, tebersit suatu hal dalam benak Sigra."Kalau rencana ini berhasil, kita memang bisa mengetahui rencana Keluarga Juwanto ...," ucap Sigra.Farrel dan Ciputra tersenyum. Ciputra berkata, "Benar, Ayah. Begitu mengetahuinya, mudah saja bagi kita untuk melawan Keluarga Juwanto."Ciputra pun terkekeh-kekeh. Siapa juga yang akan tahu mereka hanya berakting?Langkah berikut menjadi lebih sederhana. Se
"Oke, kabari Kerajaan Agrel," ujar Kumar sambil mengangguk. Dia juga merasa sekarang saat yang tepat. Bagaimanapun, Keluarga Barus dan Wira sudah berselisih. Ini adalah kesempatan terbaik untuk mereka. Mungkin, kesempatan seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya.Saat ini, Wira akhirnya tiba di istana Kerajaan Beluana. Dia masuk tanpa rasa ragu sedikit pun. Begitu masuk, dia langsung dikawal oleh pengawal istana dan memasuki bagian terdalam. Tidak ada seorang pun yang boleh menemuinya.Wira tidak heran dengan perlakuan seperti ini, dia juga tidak merasa keberatan. Sementara itu, Farrel dan Ciputra bergegas datang menemuinya."Kak Wira, maaf sekali," ucap Ciputra seraya tersenyum.Wira hanya terkekeh-kekeh dan berkata, "Lingkungan di sini cukup baik, nggak apa-apa."Farrel segera menyahut, "Kak Wira, kami sudah mengutus semua pasukan untuk memantau Keluarga Juwanto. Memang belum ada hasil, tapi kami menemukan sesuatu. Keluarga Juwanto sudah mulai menyiapkan persediaan makanan!"
"Kak Wira, apa kamu punya cara untuk menahan salah satu pihak?" tanya Ciputra. Pertanyaannya ini jelas menunjukkan bahwa dia meminta bantuan Wira.Wira pun tersenyum sambil bertanya balik, "Kamu yakin hanya ingin menahan mereka?"Keduanya pun terkesiap mendengarnya. Farrel dan Ciputra sama-sama memahami maksud perkataan Wira.Wira bukan hanya ingin menahan mereka, tetapi ... ingin menghabisi mereka! Hal seperti ini sungguh di luar dugaan Farrel dan Ciputra! Itu sebabnya, mereka tidak bisa bereaksi untuk sesaat!"Kak Wira, maksudmu ...," tanya Ciputra.Wira sontak tergelak dan menjawab, "Seperti yang kamu pikirkan."Wira tidak ingin berbelaskasihan terhadap Keluarga Juwanto. Bagaimanapun, Keluarga Juwanto terus memikirkan cara untuk membuat masalah. Setelah melenyapkan mereka, mungkin dunia ini baru bisa damai.Jadi, Wira ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabisi Keluarga Juwanto. Jika tidak, mana mungkin Wira repot-repot datang kemari."Meskipun ini terdengar sangat menggiurka
Jika bekerja sama dengan Kerajaan Agrel, mereka memang bisa mencapai tujuan dengan mudah. Akan tetapi, risikonya sangatlah besar!Jika Kerajaan Agrel membelot pada saat-saat terakhir, Keluarga Barus yang akan menderita kerugian besar! Mereka memang memercayai Wira, tetapi sulit untuk memercayai Kerajaan Agrel!Apalagi ini bukan masalah sepele, melainkan menyangkut keberlangsungan Kerajaan Beluana. Tentu harus dipertimbangkan sebaik mungkin!"Kak Wira, kami memang percaya padamu, tapi ... apa benar-benar bisa berjalan selancar itu? Kalau sampai ... Kerajaan Agrel membelot, kita akan ...," ujar Ciputra.Begitu mendengarnya, Wira pun terkekeh-kekeh. Dia tahu Ciputra tidak yakin pada kemungkinan ini. Bagaimanapun, ini adalah keputusan besar yang berdampak pada keselamatan kerajaan mereka.Akan tetapi, hanya ini jalan yang bisa ditempuh kalau ingin Kerajaan Beluana bertahan untuk jangka panjang."Kalian diskusikan dulu masalah ini. Perang sudah dekat, waktu untuk berpikir nggak banyak lagi,
Saat ini, Ciputra dan Farrel menuju ke ruang kerja Sigra."Dik, menurutmu rencana Wira akan berhasil nggak?" tanya Ciputra dengan tatapan penuh kecemasan."Aku rasa kak Wira nggak akan menipu kita. Kita sudah berhubungan lama, kamu pasti tau sifatnya. Kalau dia nggak bersedia, mungkin kita nggak akan bisa menguasai 3 provinsi ini, "jawab Farrel sambil tersenyum. Dia memahami pemikiran kakaknya.Setelah mendengarnya Ciputra pun tersenyum dan menyahut, "Kamu benar juga ...."Setibanya di ruang kerja, keduanya langsung memberi tahu Sigra rencana Wira.Begitu mendengarnya, ekspresi Sigra agak berubah. Dia bergumam, "Keluarga Juwanto akan bekerja sama dengan Kerajaan Agrel untuk melawan kita ...."Masalah ini benar-benar rumit! Meskipun begitu, Sigra cukup memiliki keyakinan! Dia yakin bisa mempertahankan 3 provinsi ini! Bagaimanapun, Kerajaan Beluana memiliki pertahanan kuat! Apalagi, Keluarga Barus memiliki 120.000 tentara. Mereka memiliki kekuatan tempur yang cukup!"Ayah, kita mungkin b
Melihat Dahlan yang berjalan mendekat, Senia bertanya dengan nada datar, "Kenapa mencariku malam-malam begini?""Apa Kresna dan Ararya berencana untuk membangkang perintah kita dan memulai perang melawan kita?"Dahlan segera menjawab, "Ibu nggak perlu khawatir tentang hal itu. Mereka berdua sudah mengikuti perintahmu dan telah membawa pasukan untuk mengejar Wira.""Selain itu, aku diam-diam menyelidiki orang-orang yang mereka bawa. Semuanya adalah prajurit terbaik dari yang terbaik. Tampaknya, kali ini mereka benar-benar bertekad untuk membantu kita membunuh Wira."Wira adalah ancaman besar. Keberadaannya bukan hanya membawa masalah besar bagi Dahlan, tetapi juga bagi Senia.Sebelumnya, mereka kehilangan 5 miliar gabak secara cuma-cuma dan Wira menggunakan uang itu untuk memperkuat dukungannya di kalangan rakyat. Kini, status Wira terus meningkat.Di seluruh sembilan provinsi, pengaruhnya tak tergoyahkan. Bahkan di Kerajaan Nuala dan Kerajaan Beluana, pengaruh Wira juga sangat besar. I
"Rencanamu sebenarnya cukup bagus, setidaknya memberi kita jalan untuk menyelamatkan diri. Hanya saja ....""Dahlan sudah mulai memberi tekanan kepada kita. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Kita nggak mungkin membawa keluarga besar ikut berperang, 'kan?" tanya Kresna dengan alis berkerut.Karena Dahlan sudah mencari mereka, kemungkinan besar dia juga telah menugaskan orang-orang untuk diam-diam mengawasi mereka. Setiap gerakan kecil pasti akan segera sampai ke telinganya.Jika mereka benar-benar membawa keluarga mereka pergi, hal itu pasti akan segera terungkap dan mereka mungkin tidak akan bisa melarikan diri terlalu jauh. Hasil akhirnya dapat ditebak dengan mudah. Inilah situasi yang paling tidak ingin dilihat oleh Kresna."Siapa yang bilang kita harus membawa keluarga besar?" balas Ararya. "Yang perlu kita lakukan sekarang cuma mengikuti instruksinya, membawa beberapa orang, dan pergi ke lokasi yang telah diberikan untuk mengejar Wira.""Begitu bertemu dengan Wira, kita bisa
"Kalaupun Wira menolak kita, dengan begitu banyak kekayaan yang kita miliki, kita bisa pergi ke mana saja dan tetap akan hidup dalam kemewahan, 'kan?"Uang bisa menggerakkan segalanya. Tidak peduli di mana pun, itu adalah aturan yang berlaku!Semua ini terdengar masuk akal. Namun, Kresna tetap menghela napas dan berkata, "Membawa keluarga besar meninggalkan Kerajaan Agrel ya? Menurutmu ini realistis?""Jangan lupa, Ratu punya puluhan ribu pasukan, sementara kita cuma punya 10.000 tentara kalau digabungkan. Kalau benar-benar terjadi perang, siapa yang akan rugi kalau bukan kita?""Lagi pula, kalau orang sebanyak itu mencoba meninggalkan Kerajaan Agrel, informasi itu pasti akan sampai ke telinga Kaisar. Begitu dia tahu, mungkin kita akan mati di perjalanan sebelum sempat kabur."Kresna tampaknya semakin pengecut. Ini karena dia telah mengalami terlalu banyak hal menyakitkan dalam hidupnya.Bertahun-tahun lalu, anaknya mati di tangan Senia. Terakhir kali, dia hampir kehilangan keluarganya
"Baik." Kresna segera menyetujui dengan tegas, lalu mengantar Dahlan keluar. Jika Dahlan terus berada di sini, takutnya umurnya akan menjadi pendek.Namun, setelah Dahlan pergi, kondisi Kresna tetap terlihat buruk. Wajahnya masih suram. Saat ini, dia duduk di aula besar dan terus menghela napas. Dia benar-benar berada dalam dilema. Lantas, apa yang harus dilakukan selanjutnya?Dari luar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Tidak lama kemudian, Ararya muncul, diikuti oleh Dwipangga di belakangnya.Kini, Dwipangga telah memegang kekuasaan penuh atas pasukan Kerajaan Agrel dan memiliki posisi yang sangat tinggi. Selain itu, di wilayah timur, dia memiliki status absolut. Semua orang telah menganggapnya sebagai pewaris. Kelak, posisi Ararya akan diwariskan kepada Dwipangga.Melihat orang yang dikenalnya datang, Kresna segera berdiri dan berjalan mendekat sambil berkata, "Akhirnya kamu tiba! Aku baru saja mengantar Dahlan pergi. Tujuan kedatangannya ke sini benar-benar buat aku bingung da
Kresna telah mendengar tentang tindakan Senia sebelumnya. Senia telah berulang kali mencoba membunuh Wira secara diam-diam, tetapi setiap kali hasilnya selalu nihil. Bahkan, semua usahanya berakhir dengan kegagalan total.Senia bahkan hampir mengorbankan putranya sendiri dalam proses itu. Jika Senia sendiri tidak mampu melakukannya, bagaimana mungkin dia mengharapkan dirinya dan Ararya untuk membunuh Wira?Atau mungkin ... Senia sebenarnya berniat membunuh dirinya dan Ararya? Hanya saja, dia berencana menggunakan tangan Wira untuk melakukannya?Kresna tak kuasa merinding. Di satu sisi ada serigala, di sisi lain ada harimau. Dia merasa seperti orang yang berdiri di jembatan rapuh, tidak tahu harus melangkah ke mana dan tidak berani bergerak sembarangan.Apa pun keputusan yang diambilnya, itu bisa membawa kehancuran pada dirinya sendiri dan tidak ada jalan kembali. Menyesal pun tidak akan ada gunanya!Setelah hal ini disampaikan kepada Ararya, Ararya pasti juga akan secemas dirinya."Dar
"Pergilah," ujar Senia sambil memijat pelipisnya dengan lembut. "Aku tunggu kabar darimu."Pada sore harinya, Dahlan tiba di kediaman Kresna. Saat ini, dia sedang duduk di aula utama kediaman Kresna.Meskipun Dahlan selalu terlihat tunduk dan penuh hormat karena takut pada ibunya, di sini dia justru menunjukkan sikap yang sangat berbeda, penuh wibawa dan angkuh.Dahlan duduk di kursi utama sambil meminum teh dengan tenang, menunggu Kresna yang tak kunjung datang."Raja Kresna, kamu membuatku menunggu begitu lama. Sepertinya kamu nggak menghormatiku," sindir Dahlan.Kresna buru-buru mengangkat tangannya sebagai tanda memohon maaf. "Pangeran, kenapa bicara begitu? Aku baru saja dapat kabar tentang kedatanganmu dan langsung datang secepat mungkin. Kalau kamu tersinggung, mohon maafkan aku."Dahlan mendengus dingin, lalu meletakkan cangkir tehnya. Tatapannya langsung beralih ke orang-orang yang berada di aula.Kresna segera mengerti maksudnya dan memerintahkan semua orang untuk pergi. Tida
Menangkap pemimpin untuk menghancurkan pasukan! Ini adalah cara terbaik!Sebenarnya mereka sudah mencoba membunuh Wira beberapa kali sebelumnya, tetapi hasilnya selalu mengecewakan. Namun, kali ini berbeda.Senia telah memutuskan untuk tidak menyembunyikan niatnya lagi. Dengan demikian, dia bisa bertindak lebih bebas tanpa ragu.Ini adalah kesempatan sempurna untuk menyerang Wira secara langsung dan terbuka. Jika berhasil menyingkirkan Wira, itu akan menjadi hasil terbaik. Namun, jika tidak, paling-paling mereka akan memutuskan hubungan mereka. Hasil ini tidak akan berdampak pada apa pun.Dahlan tiba-tiba berkata, "Tapi, saat ini kita nggak punya orang yang cukup kuat untuk melakukannya. Bahkan, kita hampir kehabisan ahli di pihak kita. Setahuku, Wira membawa beberapa ahli di sisinya.""Kalau kita mengirim orang sekarang, bukankah hanya akan mengorbankan mereka tanpa hasil?"Bahkan, Panji tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dan akhirnya kehilangan nyawanya. Dahlan tidak kepikiran si
"Benar!"Di hadapan ibunya, Dahlan tidak perlu menyembunyikan apa pun. Dia langsung mengangguk dengan tegas. Kekhawatirannya memang terletak pada Kresna dan Ararya.Kedua orang ini memegang kekuasaan militer. Meskipun kekuatan mereka telah dibatasi oleh Senia selama bertahun-tahun, mereka tetap tak terkalahkan hingga sekarang.Di wilayah mereka, mereka seperti raja kecil, memerintah wilayah sendiri. Hal ini jelas adalah ancaman bagi kekuasaan Senia.Dulu, Senia tidak terlalu memedulikan mereka karena dia memiliki Panji di sisinya. Panji bahkan mampu menciptakan makhluk beracun yang menakutkan. Sekalipun di medan perang, makhluk beracun tetap bisa membuat posisi mereka unggul.Namun, dengan kematian Panji, Senia kehilangan sosok yang bisa diandalkan. Inilah yang paling dikhawatirkan Dahlan.Jika mereka memutuskan untuk memulai perang dengan Wira saat ini, lalu Raja Kresna serta Raja Ararya menyerang dari belakang, itu akan menjadi krisis besar. Hasil akhirnya bisa dipastikan akan sangat
Meskipun Dahlan sangat membenci Wira dan ingin membunuhnya, dia tetap mempertimbangkan untung rugi dengan baik.Menyatakan perang terhadap Wira memang mudah. Namun setelah itu, akan ada banyak reaksi berantai yang harus dihadapi.Jika semua reaksi berantai itu tidak dipertimbangkan dengan matang, di masa depan hal ini bisa membawa masalah yang tidak perlu bagi mereka. Inilah poin paling sulit.Sudut bibir Senia agak berkedut. Dia melangkah ke depan Dahlan, mencengkeram kerah bajunya dengan erat. Jika tatapan mata bisa membunuh, Dahlan pasti sudah mati berkali-kali.Tatapan yang begitu menakutkan, seperti dua pedang tajam yang siap menusuk. Tidak ada yang berani menatapnya langsung."Ibu, kenapa?" Dalam pandangan Dahlan, Senia selalu tampak bijaksana. Jika tidak, mustahil bagi seorang wanita bisa mencapai posisi seperti ini, bahkan menjadi sosok yang berada di atas semua orang.Pencapaiannya sudah cukup untuk membuat semua wanita di dunia ini merasa bangga. Lagi pula, wanita yang menjad