“Alex?” Majandra menatap tak percaya, pada sang suami yang justru memasang ekspresi datar. “Apa kau yakin?”
Alexandre menoleh. Dia tak mengatakan apa pun. Namun, tatapannya menyiratkan banyak hal. Hanya dengan itu, Majandra sudah berhasil dibuat mengerti oleh pria tampan tiga puluh empat tahun tersebut.
“Majandra, apa-apaan ini? Apa yang Alexandre lakukan?” bisik Bernadette tak mengerti.
“Um … kurasa, Alex pasti sudah mempertimbangkan banyak hal. Kita ikuti saja,” sahut Majandra. Dia memberikan isyarat kepada sang adik ipar, agar tidak banyak protes.
Bernadette mengangguk setuju. Terlebih, karena salah seorang petugas polisi tak berseragam tadi berbicara kepada Phillipe. “Sebaiknya Anda
Damien membalikkan badan. Tadinya, dia hendak menjemput Majandra untuk mengajak wanita menikmati angin malam. Namun, terpaksa dirinya harus mengurungkan niat tersebut. Kecewa dan cemburu bercampur menjadi satu, menimbulkan gemuruh hebat dalam dada yang terasa begitu menyesakkan. Setibanya di dekat kendaraannya, Damien tak segera masuk. Dia bersandar beberapa saat pada pintu mobil. Helaan napas berat beberapa kali meluncur, dari bibir berkumis tipis yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi milik Majandra. Setelah merasa puas, Damien kemudian masuk. Dia melajukan kendaraan meninggalkan area parkir rumah sakit. Pria tampan itu mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan Kota Paris dengan kecepatan sedang. Dalam benak Damien, kembali muncul kilas bayangan adegan yang dia lihat tadi di rumah sakit. Ada rasa kesal dalam diri pria itu, karena Majandra seakan tak pernah menolak setiap kali Alexandre mendekatinya. Sikap yang Majandra tunjukkan, telah membuat CEO muda tersebut menjadi ragu.
Majandra menutup kembali pintu ruang perawatan dengan hati-hati. Dia menyandarkan tubuh pada dinding koridor, sambil memegangi ponsel. Perbincangan antara suami dan ibu mertuanya tadi, cukup memengaruhi pikiran wanita itu.“Apa-apaan ini?” gumam Majandra lirih, seraya menyibakkan poni. Wanita asal Meksiko tersebut memijat kening yang tiba-tiba pusing.“Majandra?” sapa Alexandre. Membuat Majandra sedikit terkejut. “Kenapa di luar terus?” tanya pria tampan pengusaha property tersebut.Majandra menoleh, tapi tak segera menjawab. Ekspresi wajahnya pun terlihat bimbang dan tak nyaman.“Kenapa? Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Alexandre heran.“Kita h
“Apa maksudmu, Alex? Bagaimana bisa perusahaan Keluarga LaRue beralih ke tangan ayahku?” tanya Majandra tak mengerti. Alexandre terduduk lesu di lantai kamar mandi. Hembusan napas berat meluncur dari bibirnya. “Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana. Satu yang pasti adalah ayahku telah memaksa ibu untuk membubuhkan tanda tangan, dalam berkas-berkas yang tak dibacanya terlebih dulu. Setelah tanda tangan itu didapat, secara otomatis perusahaan berpindah ke tangan ayahmu,” jelas Alexandre penuh sesal. “Aku tidak tahu secara pasti. Setelah mendirikan La Bougenville, aku sibuk mengurus perusahaanku dan tak ikut campur lagi dengan Perusahaan LaRue. Belakangan kutahu bahwa satu-satunya peninggalan kakek ternyata sudah bukan milik keluarga kami lagi. Parahnya, ibu tidak mengetahui hal itu,” terang Alexandre lagi. Alexandre meraup kasar wajahnya. “Bayangkan jika kita bercerai, lalu ibu mengetahui keadaan yang sebenarnya dalam kondisi kesehatan dia yang seperti saat ini. Apa kau tak mera
“Apa maksudmu?” Damien sontak berdiri. Dia menatap aneh kepada Majandra, yang masih duduk di tempatnya. “Kenapa harus menunggu hingga tiga bulan?” Pertanyaan bernada protes, dilayangkan pria tampan berambut gelap itu. Damien mendekat ke pagar pembatas, lalu berdiri di sana sambil memandang Sungai Seine. Airnya berguncang, karena ada kapal yang melintas.“Aku bisa menjelaskannya,” sahut Majandra seraya berdiri. Dia berjalan mendekat ke sisi sebelah kanan Damien, lalu berdiri di sana. Bedanya, Majandra memilih membelakangi sungai. Dia lebih suka menghadap kepada pria tampan yang tampak gusar. “Tolong jangan marah,” pinta Majandra. “Aku dan Alexandre memiliki alasan, kenapa menunda proses perceraian kami,” jelas wanita cantik berambut cokelat tersebut.“Bagaimana aku tidak marah?”
Alexandre langsung menoleh, karena sudah mengenal suara yang memanggilnya tadi. Dia melepas kacamata hitam yang dirinya kenakan. Namun, Alexandre tak berminat menyapa, apalagi sampai menghampiri. Pria tampan itu hanya berdiri, sambil menatap lekat seseorang yang tengah berjalan gagah ke arahnya.“Sejak kapan kau menjadi penguntit?” tanya pria yang tak lain adalah Damien. Sepasang iris mata abu-abu CEO muda tersebut, membalas tatapan lekat yang dilayangkan Alexandre terhadap dirinya.“Aku tidak tertarik menjadi penguntit. Aku hanya ingin memastikan bahwa istriku baik-baik saja,” sahut Alexandre datar.Damien menanggapi dengan senyuman sinis di sudut bibirnya. Dia berjalan semakin mendekat ke hadapan Alexandre. “Aku ingin bicara sebentar denganmu,” ucap si pe
Alexandre tersenyum sinis. Dia menutup kembali map tadi, lalu melemparnya ke hadapan Damien. “Kukira kau adalah pria yang pintar, Damien. Ternyata, otakmu tak bekerja dengan baik,” cela Alexandre. “Bagaimana mungkin kau berpikir bahwa aku akan menukar Majandra, dengan sesuatu yang bisa kudapatkan meski tanpa bantuanmu?” Pria tampan itu menatap tajam Damien.“Aku memegang saksi kunci yang mengetahui segala sesuatu tentang Perusahaan LaRue. Kau membutuhkannya untuk mendapatkan informasi,” ucap Damien tetap meyakinkan Alexandre.Sementara, Alexandre hanya menanggapi dengan senyuman sinis penuh cibiran. “Teruslah bermimpi,” ledeknya. “Asal kau tahu, Damien!” tegas pria itu. “Sampai kapanpun, aku tak akan pernah melepaskan Majandra! Entah itu padamu, atau pria lain! Majandra adalah istriku
“Apa? Bukankah sekarang masih giliran Bernadette dan Charlotte?” Majandra yang tengah bersiap-siap, melayangkan tatapan protes kepada Alexandre. “Bernadette harus pulang. Begitu juga dengan Charlotte. Dia memiliki balita yang lebih membutuhkannya. Sementara, kita masih bebas,” jelas Alexandre kalem. Majandra tak segera menjawab. Kurang lebih dua jam lagi, Damien akan datang menjemputnya. “Tolonglah, Alex. Hari ini aku ada janji bertemu dengan Damien. Kau pergi saja duluan ke rumah sakit. Aku akan menyusulmu nanti setelah ….”“Kau masih berstatus sebagai istriku, Majandra,” sela Alexandre tanpa mengalihkan pandangan, dari sosok cantik sang istri yang kebetulan belum menyisir rambut. Sesaat kemudian, Alexandre tersadar akan kata-katanya. “Maksudku … kita pergi bersama ke sana. Setelah itu, kau bisa berpamitan kepada ibu dengan memakai banyak alasan yang bagus,” cetusnya, seakan ingin meralat ucapan. “Aku tidak bisa lama di sana, Alex."“Jangan khawatir. Aku akan membantumu melarikan
“Apa?” Majandra terkesiap mendengar jawaban dari Julien. Dia hanya berdiri mematung, saat ayahanda Damien tadi masuk ke ruang perawatan Estelle. Pikiran Majandra langsung tak karuan, meski dirinya masih bisa mendengar percakapan antara Julien dengan sang ibu mertua.Melihat istrinya hanya berdiri di ambang pintu, Alexandre langsung menghampiri. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.Majandra tidak menjawab. Dia menoleh sekilas kepada Alexandre yang menatapnya lekat. Tanpa mengatakan apa pun, Majandra berlalu keluar kamar. Wanita cantik itu berusaha menghubungi Damien. Akan tetapi, hasilnya sama seperti semalam. Nomor sang kekasih masih berada di luar jangkauan.“Ya, Tuhan. Kau di mana, Damien?” resah Majandra gelisah. Dia berjalan mondar-mandir, sambil sesekal
Langit cerah menaungi Kota Paris, ketika Damien dan Majandra keluar dari bandara. Mereka langsung memasuki mobil jemputan yang sengaja Alexandre siapkan. “Selamat siang, Nyonya,” sapa sopir yang tak lain adalah Felix. Majandra menanggapi sapaan tadi dengan anggukan pelan. Dia tak mengatakan apa pun, karena dirinya tak lagi mengenali Felix. Namun, Felix sudah mengetahui kondisi Majandra. Dia tetap bersikap ramah seperti biasa. “Kita akan langsung ke kantor pengacara. Tuan Alexandre sudah menunggu Anda di sana,” ucap pria yang sudah mengabdi sekian lama kepada Alexandre. “Iya,” sahut Majandra pelan. Dia menoleh kepada Damien, yang menatapnya penuh arti. Majandra tersenyum, sambil meremas pelan jemari pria yang sengaja menemani dirinya ke Perancis. Majandra mengalihkan pandangan ke luar jendela. Dulu, dia kerap menjelajahi setiap sudut jalanan Kota Paris. Namun, semua itu sudah terhapus dari ingatannya. Majandra juga tak menyangka, bahwa dirinya akan bercerai dari Alexandre, dal
“Damien …,” desah Majandra pelan, setelah pria tampan bermata abu-abu itu melumat mesra bibirnya. “Oh ….” Desahan manja meluncur begitu saja, ketika Damien menjalarkan ciuman lembut penuh godaan ke leher. Geli dan nikmat bercampur menjadi satu, membuat Majandra memejamkan mata sambil menggigit pelan bibirnya. “Berbaliklah,” bisik Damien setelah puas mencium mesra Majandra. Majandra tersenyum. Dia membalikkan badan. Wanita itu menebak apa yang akan Damien lakukan. Majandra mengangkat tangan lurus ke atas.Perlahan, Damien menaikkan T-Shirt longgar yang Majandra kenakan. Dia melepas, lalu melempar kaos polos berwarna putih tadi ke lantai. Begitu juga dengan tali bra berwarna hitam yang melintang di sana. Kini, Majandra hanya mengenakan pakaian dalam, masih dalam posisi membelakangi pria tampan tersebut. “Aku menyukai warna kulitmu,” ucap Damien pelan sambil mengecup pundak Majandra. Perlakuan sederhana, yang seketika menimbulkan desiran aneh dalam dada wanita berambut panjang itu. Ma
Majandra sudah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit. Penampilannya terlihat jauh lebih rapi dan segar, meski masih ada beberapa sisa luka di wajahnya. Namun, itu tak sedikit pun mengurangi kecantikan wanita asal Meksiko tersebut. Sementara, Alexandre juga sudah melunasi seluruh biaya administrasi. Dia bahkan telah kembali ke kamar rawat Majandra. Alexandre begitu terpesona, melihat kecantikan sang istri yang tak lama lagi akan dirinya ceraikan. Namun, sesaat kemudian pria itu tersadar. Sang pemilik La Bougenville tadi harus membuang jauh segala ketertarikan serta perasaan indah, yang baru dia persembahkan terhadap Majandra. “Kita pergi sekarang?” tanya Damien yang sudah datang menjemput, sambil mendorong kursi roda ke dekat sofa di mana Majandra berada.“Untuk apa kursi roda ini?” tanya Majandra dengan tatapan heran, kepada Damien yang berdiri di dekatnya. “Tentu saja untukmu,” jawab Damien enteng, diiringi senyuman kalem. Majandra menautkan alisnya. Dia menatap semua yang ada d
Majandra terdiam beberapa saat, setelah mendengar penuturan Alexandre. Dia menatap Miguel sekilas, lalu beralih kepada Amelia. “Tolong tinggalkan kami bertiga,” pinta wanita cantik itu. Meski dalam keadaan hilang ingatan, ternyata tak membuat Majandra kehilangan aura tegasnya.“Sayang ….” Amelia seakan hendak melakukan protes.Namun, Miguel memberi isyarat. Pria itu menggeleng samar. Dia langsung meraih tangan sang istri, lalu mengajaknya keluar kamar.Kini, di dalam sana hanya ada Majandra bersama dua pria tampan yang mencintainya. Wanita berambut cokelat itu awalnya memandang lekat Alexandre, lalu beralih kepada Damien. Lagi-lagi, dia seperti tak kuasa mengalihkan pandangan dari sosok berparas rupawan dengan warna mata sama seperti dirinya.
“Ya, Tuhan.” Amelia langsung menghambur ke dalam pelukan Miguel. Dia tak mampu membayangkan, andai Majandra mengalami amnesia secara permanen. “Apa dosaku, Sayang? Kenapa Tuhan menegurku dengan cara seperti ini?” Amelia tak kuasa menyembunyikan kepedihannya. “Tenangkan dirimu, Sayang,” ucap Miguel seraya menepuk-nepuk punggung sang istri. “Apa yang terjadi pada Majandra, bukanlah karena kesalahanmu atau siapa pun. Tak ada hukuman dari dosa seseorang, yang dialihkan pada orang lain,” ucap pria paruh baya itu lembut. Sementara, Alexandre hanya diam. Terlebih, karena dia tak mengerti apa yang mertuanya itu bicarakan. Alexandre baru bereaksi, saat dirinya menerima satu pesan masuk. Dia langsung membalas pesan tadi.[Kemarilah]Sesaat kemudian, Alexandre berdiri. Dia menyambut kehadiran seseorang yang sedang dirinya tunggu. “Kupikir kau tak akan datang,” ucap pria berambut cokelat tembaga itu, pada seseorang yang tak lain adalah Damien. “Itu sudah merupakan satu jawaban bagiku,” ucapnya
Damien menyambut kedatangan Alexandre. Dia bahkan mengarahkan tangannya ke kursi, agar suami Majandra tersebut duduk. “Aku sudah memesankan kopi untukmu. Kuharap, kau menyukainya,” ucap Damien tenang. “Kita satu selera,” balas Alexandre. Ucapannya menyiratkan banyak makna.“Ya. Kau benar.” Damien tersenyum samar. Pria itu terdiam sejenak, saat seorang pelayan menghampiri mereka. Dua cangkir kopi pesanan Damien tersaji di meja. Tanpa dipersilakan, Alexandre langsung mencicipi kopi yang Damien pesan tadi. Entah karena haus, atau sekadar untuk menanggulangi gugup yang tiba-tiba menyergap. Alexandre bahkan beberapa kali mengembuskan napas pendek, demi menetralkan perasaan.“Jadi, untuk apa kau mengajakku bertemu?” tanya Damien membuka percakapan. “Aku ingin membahas sesuatu tentang Majandra,” jawab Alexandre datar.Raut wajah Damien seketika berubah. Kali ini, gilirannya yang merasa gugup. Damien meraih gagang cangkir, lalu meneguk kopi yang sama. Sesaat kemudian, barulah pria tampan b
“Apa? Aku?” Damien melayangkan tatapan protes.“Ayolah, Kawan. Siapa tahu kau menemukan teman hidup di sana. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa detik kemudian,” ujar Robert setengah membujuk.“Omong kosong.” Damien beranjak dari sofa. Dia menuju dapur dengan sekat dinding setengah, sehingga Robert masih bisa melihat apa yang pria itu lakukan. “Aku belum terpikir untuk pergi jauh dari Eropa. Kau jangan menjadikan statusku sebagai senjata untuk ….” Pria tampan bermata abu-abu itu menggantungkan kalimatnya. Benak putra bungsu Julien Curtis tersebut, seketika tertuju kepada Majandra.“Boleh kupikir-pikir dulu? Aku ingin meminta pendapat ayahku sebelum mengambil keputusan,” ucap Damien sesaat kemudian. Dia meraih gagang cangk
“Bagaimana mungkin aku tak tahu nama sendiri?” Majandra menatap sayu, pada dokter yang duduk di hadapannya. “Apa yang terjadi padaku, Dokter?” Dia terdengar begitu resah.“Tenangkan diri dulu, Nyonya. Kita masih harus melakukan beberapa tes, untuk memastikan kondisi Anda yang sebenarnya. Kami tidak bisa memberikan diagnosa secara sembarangan,” ujar sang dokter seraya berdiri. Dia menatap satu per satu, semua yang ada di sana.“Kami akan menjadwalkan serangkaian tes. Semua itu harus dilakukan, demi mendapat hasil pemeriksaan yang lebih akurat,” ucap dokter itu lagi. Membuat semua yang ada di sana kembali diliputi rasa khawatir. “Untuk permulaan, kami akan melakukan tes darah serta tes kognitif terhadap Nyonya Majandra LaRue. Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan serangkaian tes lainnya."
Refleks, Damien berlari ke dalam kamar rawat. Setelah berada di sana, dia tertegun. Pria itu melangkah perlahan ke dekat ranjang. Dia melihat Majandra sudah membuka mata. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Damien tak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri mematung, sampai seorang perawat masuk ke sana. “Tolong keluar dulu, Tuan,” pinta sang perawat sopan. Damien tidak menyahut. Pria itu tampak kebingungan. Dia menanggapi ucapan perawat tadi dengan anggukan samar, lalu melangkah keluar. Sebelum benar-benar berlalu, Damien sempat menoleh pada perawat yang tengah memeriksa kondisi Majandra. Setelah berada di luar kamar, Damien tersadar. Dia tertegun mendapati Miguel, Amelia, dan Alexandre yang serempak menatap ke arahnya. “Ah, maaf. Aku tadi hanya refleks.” Pria tampan bermata abu-abu tadi menjadi salah tingkah. Damien mengacak-acak rambutnya, sebagai penghalau rasa kikuk yang mendera. “Kau terlihat sangat bahagia mendengar Majandra telah siuman,” ucap Miguel dengan sorot pe