Part 3
Keesokan paginya, Raya yang baru saja terbangun kaget karena mendengar suara orang memanggil-manggil namanya dari luar kamar. Raya yang masih mengantuk berusaha beringsut dari tilam kapuk yang lusuh itu. “Ada apa, Mas?” tanyanya saat sudah berhadapan dengan Rizal. “Pacarmu sudah bisa berdiri sendiri. Sebaiknya kamu lihat sana, Mak Bayah juga sudah menunggumu.” Raya tak bisa menahan lajunya air matanya mendengar apa yang disampaikan oleh Rizal. Dia segera mencuci wajahnya lalu menyusul ke depan melihat keadaan Ryan. Benar saja, begitu ia sampai di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar, Raya duduk dan melihat sendiri Ryan sudah berdiri tanpa tongkat penyangga. Mak Bayah melatihnya untuk berjalan. “Kamu masih harus sering latihan, mungkin dalam seminggu kedepan dia benar-benar sembuh, semuanya butuh proses.” Terang Mak Bayah sembari terus memegang kedua tangan Ryan melatihnya berjalan di sekitar ruang tamu berukuran 4 kali 5 meter tersebut. “Ya Allah, terima kasih Mak Bayah. Untuk urusan latihan jalan nanti biar aku saja yang melatihnya. Aku benar-benar berterima kasih sekali.” Raya terus mengucap syukur dengan memegang lembut tangan Mak Bayah. “Bukan kamu yang melatihnya! Pacarmu ini akan berjalan jika dia di sini selama seminggu ini, hanya aku yang bisa memegangnya sampai dia benar-benar sembuh!” bentakan Mak Bayah membuat Raya terlonjak kaget. Mak Bayah memandang sinis dan tajam ke arah Raya. Raya melongo dan tak berkutik, pandangan Mak Bayah membuat hatinya menciut. Ryan terlihat berubah, lebih banyak diam. “Baiklah, aku akan ijin tidak masuk kerja dulu sampai Mas Ryan benar-benar sembuh.” Kata Raya akhirnya. “Apa kamu tidak mendengar? Pacarmu ini selama pengobatan tidak boleh tersentuh olehmu, hanya Mak saja yang boleh melakukannya. Kalau sampai tersentuh lagi dengan perempuan, maka pengobatan yang sudah dilakukan semalam sia-sia dan Mak tidak mau lagi mengulangnya dari awal. Selain itu, kalau kamu mau bekerja sebaiknya fokus saja bekerja dan biarkan pacarmu ini menjadi tanggung jawab Mak sampai sembuh,” ucap Mak Bayah. “Tapi … aku bisa kok ijin dari kantor untuk tidak kerja selama seminggu. Melihatnya sekarang ini yang sudah bisa berjalan membuatku senang, aku tak sabaran melihatnya benar-benar sembuh, bisa kan aku tetap di sini?” tawar Raya. Mak Bayah menggelengkan kepalanya. “Terlalu banyak pantangan yang bisa saja dilanggar jika kalian masih tetap bersama, serahkan saja pengobatannya dengan Mak. Mak jamin dalam seminggu kamu bisa melihatnya berlari dan berjalan normal lagi.” Jelas Mak Bayah tak bisa ditawar lagi. Setelah hampir sepuluh menit melakukan latihan jalan, Ryan meminta istirahat dan kembali ke dalam ruangan berobat. Raya hanya bisa menatap pacarnya digandeng mesra oleh dukun kampung itu. “Sudahlah, Mbak sebaiknya Mba pulang saja. Kamu dengar sendiri apa yang dikatakan oleh Mak Bayah. Dia sendiri sudah menjamin akan menyembuhkannya, percaya saja biar prosesnya berjalan lancar.” Ungkap Rizal memperhatikan wanita cantik berkulit putih mulus di depannya ini. “Kamu harusnya bersyukur Mak Bayah mau mengobati pacarmu itu sampai sembuh, jarang sekali sampai Mak Bayah memberi jaminan, kamu tinggal pulang saja dulu dan kembali seminggu lagi,” tambah Suwito. “Aku sebenarnya bingung dengan pantangan yang katanya dilanggar itu seperti apa?” tanya Raya. “Saat pengobatan yang dilakukan Mak Bayah, memang setiap pasien laki-laki tidak boleh dulu menyentuh perempuan, begitu juga sebaliknya dan diminta untuk tidak memakan makanan yang pedas, meski lomboknya (cabai) hanya sebiji itu tidak boleh termasuk makan yang ada jeruk asamnya, semua itu pantangan yang tidak boleh dilanggar,” jawab Rizal. “Betul itu, kalau dilanggar maka pengobatannya tidak ada artinya lagi malah takutnya keadaannya semakin parah, makanya apa saja yang disuruh Mak Bayah turuti saja demi kesembuhan pacarmu itu.” Ucap Suwito. Raya menghela napas panjang. “Aku tidak masalah, hanya saja aku betul-betul ingin di sini melihat dan mendampingi calon suamiku saat pengobatannya, tolonglah meski aku tak bisa menyentuhnya, setidaknya biarkan aku tetap di sini biarpun hanya melihatnya dari jauh,” harap Raya. Suwito dan Rizal saling berpandangan. Setelahnya mereka mengangguk mengiyakan. “Tapi … kamu juga wajib untuk tidak ke luar dari dalam kamar saat malam hari, meski mau ke kamar mandi. Apapun telinga dan mata jangan sekali pun mendengar dan melihat, bila kamu melanggar pantangan maka calon suamimu bisa lebih sakit lagi dari sebelum kamu membawa dia ke sini, mengerti, kan?” Ucap Suwito. Raya tak bisa berkutik selain mengangguk setuju saja. “Ya sudah, mumpung masih pagi. Aku boleh meminta ijin ke luar untuk berjalan-jalan sekitar kampung kan?” pinta Raya dan kedua suami Mak Bayah memberikan ijinnya. Raya lalu bersemangat mengambil sandal jepit di teras lalu mulai melangkah berjalan mengitari perkampungan, salah satu kampung yang sangat disukai oleh Raya adalah pemandangan dan udaranya masih sangat segar. Mata warga tertuju padanya saat ia melintas di sekitaran sungai di mana para ibu-ibu sedang mencuci pakaian, Raya tersenyum mencoba ber basa-basi. “Benar-benar masih alami cara hidup orang di sini,” gumam Raya. “Ya, beginilah kampung kami ini, Mbaknya dari kota?” Raya menoleh memperhatikan perempuan manis di hadapannya. Raya mengangguk. “Pasti lagi berobat dengan Mak Bayah ya?” Tanyanya lagi dengan senyum khas memperlihatkan gigi gingsul nya. “Calon suamiku yang berobat, sudah setahun ini ia lumpuh da nada teman yang katanya pernah berobat di sini dan sembuh, makanya aku nekat membawanya ke sini dengan harapan calon suamiku bisa sembuh. Jadi Mak Bayah sajalah harapanku saat ini sebab bulan depan aku dan calonku ini akan menikah,” perempuan tadi tersenyum sinis. Raya melipat alisnya. “Sebaiknya segera kamu berobat dan cepat bawa calon suamimu itu pulang kembali ke kota, bila tidak mau calon suaminya nanti direbut dan diambil paksa darimu,” Raya semakin bingung dengan perempuan di depannya ini. Entah apa maksudnya. “Kenapa harus pergi cepat? Memangnya ada yang salah dengan kampung ini? Terus siapa yang kamu maksud akan mengambil paksa calon suamiku, ada jin atau ada orang jahat yang akan melakukannya ya?” perempuan tadi hanya menggelengkan kepala. “Nanti juga kamu akan tahu, sebaiknya sering-seringlah kamu awasi calon suamimu itu, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu dan bisa kembali ke kota dengan aman,” tukasnya kemudian berlalu begitu saja. Raya hanya bisa melongo memperhatikan perempuan kampung berwajah manis tadi, timbul tanya dalam hatinya, apa benar yang dikatakan perempuan bergigi gingsul tadi? Apakah Ryan terancam diambil paksa? Tapi oleh siapa? Kata-kata perempuan tadi terus terngiang di telinganya.Part 4Berjuta tanya masih ada di benak Raya, ia kembali memutuskan berjalan-jalan kendati dalam keadaan bingung tak karuan, ketika melewati ladang jagung ia merasa seperti ada yang membuntuti, ia menoleh dan tidak melihat siapa pun di belakangnya.“Anehh, terasa sekali ada yang membuntuti aku, sepertinya aku jalan sudah terlalu jauh sebaiknya aku kembali saja ke rumah Mak Bayah, sepertinya sebentar lagi akan hujan,” gumam Raya lalu melangkah memutar kembali ke jalan menuju ke rumah dukun kampung tersebut.Saat melewati sungai kecil, Raya kembali melihat perempuan dengan gigi gingsul yang tadi menegurnya, Raya menunduk seraya tersenyum namun sambutan perempuan tadi cuek dan bahkan dengan santainya memalingkan wajahnya, Raya menghela napas panjang.“Sebaiknya kalau jalan-jalan di kampung jangan terlalu jauh, apa pun yang kamu dengar tidak baik juga langsung kamu percaya begitu saja,” sambut salah satu suami Mak Bayah, Suwito ke pada Raya. Raya mengerutkan alisnya. Suwito seperti tahu
Part 5Sore hari semua pengobatan sudah selesai dan aktivitas Mak Bayah mengajak Ryan berlatih berjalan di halaman rumahnya yang terbilang sangat luas itu, seperti biasa kedua suaminya dengan patuh melihat dan menunggu perintah yang akan diberikan oleh Mak Bayah. Sementara Raya tidak nampak batang hidungnya sama sekali setelah meminum air ramuan dari Mak Bayah.Dia tak peduli dengan pandangan heran para tetangga, Mak Bayah terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta dari caranya menggandeng dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Ryan. Laki-laki dari kota itu sama sekali tak protes, bahkan tetangga melihat keduanya sangat mesra sekali. “Sepertinya ada mangsa baru. Mungkin nasibnya akan sama dengan suami-suaminya terdahulu. Bingung saja melihat kelakuan Mak Bayah, mau sampai kapan dia begitu.” Kata Lela ke pada Wati, tetangga Lusi yang kebetulan melintas dan melihat pemandangan itu.“Aku malah kasihan dengan para suaminya. Selain mereka itu akur, aku juga melihat Mak Bayah
Part 6Sudah dua hari ini Raya merasakan kepalanya terasa berat dan matanya sulit sekali terbuka, ngantuk sekali dan tidak bisa ia tahan. Mulutnya terasa kering karena tidur terlalu lama, ia menyadari sejak meminum air merah yang diberikan Mak Bayah, tidurnya begitu pulas bahkan ia baru terbangun setelah berganti hari. Kali ini ia mencoba bangun dari tempat tidurnya, jalannya masih sempoyongan efek ngantuk dan pusing melanda. Perlahan berpegangan pada dinding, ia melangkah ke luar kamar menuju ke dapur mengambil air minum, baru saja melintas di kamar Mak Bayah, ia mendengar seperti orang yang sedang mengerang diiringi desahan, akan tetapi suaranya tak seperti biasanya.Raya menengok ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang memergokinya saat mengintip, ia tak ingin kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali. Dengan detak jantung tak karuan, mulailah Raya menyibak sedikit saja tirai penutup pintu di kamar Mak Bayah. Semua pintu di rumah Mak Bayah hanya ditutup oleh gorden
Part 7Sementara Rizal yang baru saja ke luar dari kamar Raya, tiba-tiba sebuah suara menegurnya.“Dari mana kamu?” Degg. Rizal mematung di tempatnya. Dengan pelan Rizal menoleh, sepersekian detik ia pun bernapas lega.“Kaget kamu, Kan? muka pucat begitu, pasti takut ketahuan kalau kamu lagi sembunyi-sembunyi ke kamar perempuan kota itu?” Suwito tertawa mengolok Rizal yang kepergok baru saja ke luar dari kamar yang ditempati Raya.“Ngapain aja kamu di sana? Ingat jangan coba macam-macam,” Rizal menggelengkan kepalanya.“Aku justru membawa perempuan kota itu tadi langsung masuk ke kamarnya daripada dia berniat mengintip Mak Bayah, pasti kita dianggap lalai juga disuruh berjaga di depan pintu kamar perempuan itu tapi malah membiarkannya mengintip apa yang dilakukan Mak Bayah dengan peliharaannya, kamu jangan mikir yang macam-macam, yakin aku juga nggak berani macam-macam,” “Ya, baguslah. Kamu pasti masih ingat bagaimana Mak Bayah mengancam akan menyakiti kita berdua atau malah orang t
Part 8 Rizal dan Suwito mulai mengangkat jenasah Raya ke belakang rumah, dengan tanah yang masih luas di belakang, apalagi ditanami dengan buah-buahan seperti durian, kelapa, rambutan juga mangga membuat kedua suami Mak Bayah leluasa melakukan aksinya. Setelah meletakkan jenasah gadis cantik itu di tanah, mereka berdua mulai menggali tanah sedalam mungkin agar tidak ada warga yang mencurigai pemakaman Raya. Kira-kira hampir satu setengah meter, jenasah mulai diturunkan dan diletakkan bersama sarung yang menutupi tubuh Raya, setelahnya kedua suaminya mulai menimbun dengan cepat karena hari sudah mulai terang dan jam menunjukkan pukul setengah tujuh.Setelah selesai, Suwito mengambil beberapa bibit rambutan yang sudah cukup besar dan mulai menanam persis di kuburan Raya, dengan tujuan agar apa yang mereka tanam tak diketahui warga.“Gimana, aman?” tanya Mak Bayah saat kedua suaminya baru saja selesai dan bersiap membersihkan tubuh mereka yang penuh dengan tanah. Mereka berdua kompak m
Part 9 Suwito terus memegangi dadanya yang terasa nyeri, sesekali ia meremas dadanya untuk menghilangkan rasa sakitnya, Rizal yang melihat itu segera membawa Suwito ke kamar dan membaringkannya agar perasaannya lebih baik.Rizal tentu saja panik melihat suami pertama Mak Bayah tersebut. “Zal, rasanya aku sudah tidak kuat lagi, kamu yang sabar ya kalau ku tinggal sendirian,” sebutnya membuat Rizal menggelengkan kepalanya.“Kamu yang kuat ya, kita akan sama-sama menghadapi ini. Ingat kata-katamu kalau kita ini tetap kesayangan Mak Bayah, kamu jangan mikir yang macam-macam, kamu sabar ya … sebentar aku ambilkan kompres an, kamu hanya kaget saja mendengar apa yang dikatakan Mak Bayah, kamu akan sembuh sebentar lagi, tunggu ya aku ke dapur dulu,” Rizal berlari kecil menuju dapur mengambil kain dan air untuk mengompres Suwito nantinya.Baru saja ia selesai mengambil kain juga air, dengan jelas ia melihat sekumpulan asap hitam masuk ke dalam kamar di mana Suwito dibaringkan, langkah Ri
Part 10Sesuai rencana Mak Bayah, setelah sepekan kematian Suwito, suaminya pertama. Tiba-tiba saja Mak Bayah mulai mengumumkan akan menikah kembali dengan Ryan, laki-laki dari kota tersebut. Tentu saja hal ini segera menjadi buah bibir warga kampung. Tak terkecuali Lela, Wati dan Lusi. Setelah mendengar gosip tersebut, Lela gegas datang menjemput Lusi untuk mencuci sekaligus mandi di sungai, seperti aktivitas mereka setiap harinya. Lela membawa sebakul penuh cucian kotor. Begitu juga dengan Lusi. Setelahnya Lusi pun pamit dengan kedua orang tuanya.“Kamu sudah dengar ya berita kalau Mak Bayah katanya mau menikah lagi dengan laki-laki kota itu,” Lusi memandang wajah Lela kemudian mengangguk pelan.“Aku sama Wati dua hari yang lalu melihatnya dengan mata kepala, perempuan tua itu dengan mesranya menggandeng, baringkan kepalanya di dada laki-laki itu, aku sama Wati jijik melihatnya, tua-tua keladi dia … makin tua makin jadi,” Lusi fokus mencuci pakaiannya.“padahal baru saja dia diting
Part 11Apa maksudmu berbicara begitu dengan Ryan?” Rizal tak berkutik saat menoleh dan mendapati Mak Bayah persis berdiri di belakang mereka. Tamatlah riwayatmu, Rizal. Rizal membeku, ia tak menyangka Mak Bayah sudah kembali secepat itu.Wajah Rizal pias, ia tak menyangka jika Mak Bayah akan kembali dengan cepat dari rumah Julaeha, padahal baru saja beberapa menit pergi, ia sudah kembali lagi. Rizal bingung akan menjawab apa, dengan rasa keberaniannya yang tersisa hanya sedikit, ia pun dengan berani membuka mulut.“Bicara apa, Mak? Aku tidak ada berbicara apa pun dengan Ryan, betul kan Ryan aku tidak berbicara apa pun denganmu, aku hanya membahas soal rencana pernikahan kalian saja, tidak lebih,” tutur Rizal dengan gugup, bahkan tangannya terasa gemetar. Mak Bayah memindainya dan juga Ryan bergantian.“Suami Mak mencoba menggoda aku dengan mengatakan bahwa aku adalah calon istri Raya, entah Raya itu siapa? Aku sudah bilang padanya kalau aku akan setia dengan Mak, tapi tetap saja dia
Part 22“Ya ampun, Lus. Ibu pikir kamu akan menolak lagi lamarannya Dahlan, ya sudah kalau begitu besok pagi-pagi Ibu sama Bapakmu akan ke rumah Dahlan memberi tahu berita baik ini,” Ayu menghambur memeluk anaknya dengan penuh haru. Dedi bernapas lega. ***Sekira pukul Sembilan pagi, Ayu dan Dedi mendatangi rumah Aminah, Ibunya Dahlan untuk menyampaikan berita baik mengenai diterimanya lamaran anaknya beberapa minggu yang lalu, Ayu dan Dedi begitu tampak bahagia, saat melintasi rumah Mak Bayah terlihat sangat ramai dan suara orang menangis bersahut-sahutan, mereka berdua juga tidak tahu apa namun mereka tak peduli dan terus melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah Aminah yang bakal menjadi besan mereka nantinya.Kedatangan mereka disambut oleh Aminah juga putranya, Dahlan. Dahlan yang mengetahui kujungan kedua orang tua tentu saja menjadi deg-degan, ia khawatir jika Lusi menolak pinangannya karena kemarin tidak ada tanda-tanda Lusi akan menyukainya, dia merasakan juga jika
Part 21Ke luar dari rumah Mak Bayah, Dahlan mengedarkan pandangan kea rah luar, ia takut ada yang memergokinya berkunjung ke rumah dukun kampung. Beruntung keadaan jalan sepi, Dahlan gegas berjalan dan kini menuju rumah Lusi. Ia sendiri masih bingung apa yang harus ia lakukan supaya Lusi mau meminum air yang sudah dimantera oleh Mak Bayah. Saat berjalan, mendadak ia punya ide untuk membawakan makanan ke rumah Lusi jadi nanti akan dihidangkan bersama dengan air yang ada di tangannya. Dahlan singgah ke warung membeli aneka jajanan dan dengan tersenyum senang ia berharap agar Lusi bisa meminum dan akan terus mengingat Dahlan di hatinya. “Ehh, Dahlan apa kabar?” sambut Ibunya Lusi, Ayu. Dahlan celingak celinguk mencari keberadaan Lusi, tapi sepertinya Lusi sedang tidak ada di rumah.“Kabarku baik, Bu. Oya Lusi mana, Bu? Aku ke sini mau ketemu sama dia, mau lebih dekat mengenal dia,” Ayu tersenyum.“Lusi ada di kamarnya, tadi baru saja pulang dari mencuci di sungai, biasalah kegiatannya
Part 20 “Sudah ada jawaban si Lusi kah, Mak?” tanya Dahlan mengenai lamarannya ke pada Lusi, mantan Rizal. Sebelumnya saat melamar, kedua orang tua Lusi meminta waktu selama tiga minggu, hanya saja sudah hampir tiga minggu lamanya, belum jua kunjung ada tanda-tanda lamarannya akan diterima, Dahlan sendiri sudah lama memendam perasaan ke pada gadis bergigi gingsul tersebut, hanya saja dulu keburu pacaran dengan Rizal.Kali ini Dahlan tidak mau kehilangan kesempatan mendapatkan Lusi, hanya Lusi yang terus menari-nari di pelupuk matanya, selalu hadir di dalam mimpi indahnya, Dahlan yang seharusnya menerima pekerjaan di luar kota pun terpaksa ia tolak karena berharap Lusi akan menerima lamarannya dulu, menikah barulah ia akan pergi jauh bersama Lusi dari kampung ini di mana ada Rizal, mantan Lusi yang bisa saja sewaktu-waktu akan mengambil Lusi lagi darinya, hal itulah yang harus dia cegah.“Sampai sekarang belum ada kabarnya, Nak? Coba saja kamu jalan-jalan ke rumahnya, tanyakan sama o
Part 19 Nurhayati yang pingsan membuat Anisa juga Mbok Ijah menjadi panik, mereka mencoba membaringkan Nurhayati ke sofa, Anisa meminta Mbok Ijah membawakan minyak angin.“Bu … Bu Nur, bangunlah … bangun, Bu,” Anisa mencoba membangunkan Nurhayati sembari menggosokkan telapan tangannya, tak lama Nurhayati bangun dan begitu membuka mata ia kembali menangis.“Anakku, Raya. Aku tak mau terjadi sesuatu padanya, Bu. Kita harus kembali ke kampung itu, aku ingin menjemput Raya secara langsung, tolong Bu Anisa diam-diam dulu ya, aku maunya Papanya Raya tidak tahu akan hal ini, lagipula Beliau masih bertugas ke luar daerah,” lirih Nurhayati, Anisa hanya bisa mengangguk setuju. “Semoga saja anakku masih hidup,” harap Nurhayati.“Ya, Bu. Semoga saja, sebab saat menumpang di mobil, kata Raya dia ingin kembali ke kampung Mak Bayah itu karena ingin mengambil barangnya yang tertinggal di sana, semoga saja itu pertanda kalau Raya masih hidup dan memang dia masih ada di sana, kemarin mungkin saja kar
Part 18 Ibunya Ryan, Anisa segera membawa Ryan pergi dari kampung di mana Mak Bayah berada, sepanjang perjalanan Ryan terlihat gelisah, bahkan dia nekat ingin membuka pintu mobil. Sepertinya Ryan melakukannya tanpa sadar, yang ada di otaknya kini bagaimana ia kembali pada Mak Bayah, calon istrinya.“Apa yang kamu cari dari manusia tua seperti itu, otakmu memang sudah dicucinya supaya tidak mengenali calon istrimu, Raya. Bahkan kamu menolak perintah Ibu, biasanya kamu selalu menurut apa saja yang kami katakan, tapi tidak lagi sejak kamu diobati dukun kampung itu, sekarang ini Ibu harus mengurusmu dulu, nanti urusan Raya akan Ibu kasih tahu sama Papanya biar dijemput langsung,” Ryan nampak melotot tak senang ketika Ibunya menyebut nama Raya, baginya Raya adalah tukang selingkuh yang membuat hatinya hancur, beruntung ada Mak Bayah yang mau mengobati luka hatinya, selain itu Ryan selalu teringat pada kenangannya bersama Mak Bayah terutama saat memadu mesra di ranjang, Ryan merasakan sen
Part 17“Kalian itu yang sopan kalau mau masuk rumah orang, belum lagi aku mempersilahkan masuk, kalian sudah seenaknya main masuk tanpa permisi, atau mau aku teriak memanggil orang sekampung biar kalian digebuk warga di sini,” Langkah Ibunya Ryan tadi terhenti, ia tersenyum sinis kemudian dengan santainya menyingkap tirai pintu kamar yang ditempati oleh Ryan. Ia sempat terdiam melihat sekitar kamar, Mak Bayah merasa gugup sekali, khawatir jika calon suaminya akan ditemui di sana dan diambil paksa darinya mengingat ia sudah merencanakan akan menikah dengan laki-laki kota tersebut. “Tidak ada siapa-siapa di sini, baguslah berarti mungkin mereka ada di dalam,” Mak Bayah kaget tak menyangka jika Ryan yang semula masih tertidur pulas di dalam kamar justru tak ada, Mak Bayah ikut melihat mencari ke dalam kamar, memang tidak ada Ryan di sana. Mak bayah merasa lega dan kembali merasakan detak jantungnya tak beraturan saat Ibunya Ryan kembali melangkah cepat menuju dapur dan kamar yang lai
Part 16“Argggggg,” suara erangan kesakitan begitu nyata terdengar. Rasanya Suri ingin terkencing dalam celana melihat penampakan yang mengerikan itu. Suri menahan tubuhnya agar tidak ambruk, beruntung bayangan hitam tadi langsung pergi setelah tak berhasil menyelesaikan misinya mendekati Rizal dan ingin merampas tasbih yang diberikan Pak Hidayat tersebut. Suri gegas memeluk anaknya, Rizal yang masih saja ketakutan dan terus menyembunyikan wajahnya. Suri menangis melihat apa yang terjadi pada anaknya.“Ya Tuhan, semoga saja ada keajaiban yang akan membawamu pada kesembuhan, Nak,” Rizal terdengar mengumam tak karuan, berulang kali menyebut Thorin, entah siapa yang dia maksud dengan Thorin.***“Jadi betul si Rizal sudah diambil sama Ibunya? Tidak masalah … yang penting kamu berhasil menghabisinya, tidak masalah kamu pulang dalam keadaan luka begini,” sebut Mak Bayah seakan ia sedang berbincang dengan peliharaan sekaligus suami gaibnya, Thorin.Gumpalan asap hitam itu terlihat menge
Part 15“Kalian mencariku? Ada apa?” pertanyaan justru terdengar dari mulut laki-laki muda tadi, mereka bertiga bengong dan saling memandang. Apa tidak salah ini Pak Hidayat?Mereka bertiga bingung, biasanya seorang tabib atau yang biasa mengobati orang, pasti orangnya sudah berumur karena banyaknya pengalaman, namun yang di hadapan mereka ini masih sangat muda, rasa-rasanya tak mungkin jika ia yang dimaksud sebagai Pak Hidayat. “Rasanya tidak mungkin orang semuda begini bisa dipercaya mengobati, takut aja uangmu nanti malah habis hanya untuk mengongkosi dia mengobati tapi hasilnya nol buat Rizal, gimana ini?” Lela nampak ragu. “Ya, aku juga ragu … begini saja, sebaiknya kita tidak usahlah bertemu dengan orang ini, kita bilang saja kalau kita salah alamat,” bisik Wati lagi, Lusi dan Lela setuju.“Maaf, Kak. Sepertinya kami salah alamat, tadi niatnya mau mencari Pak Hidayat yang lainnya, bukan Kakak, maaf ya kami salah alamat,” ujar Lusi dengan cepat sambil mengangguk ingin pamit.“K
Part 14 Pagi-pagi sekali Lusi, Lela juga Wati berencana akan pergi ke desa sebelah untuk mencari mantri yang bisa menyembuhkan Rizal. Lela dan Lusi sudah memberitahu Wati apa yang sudah terjadi dengan Rizal. Mereka sengaja bepergian bersama supaya tidak menimbulkan kecurigaan pada orang tua mereka masing-masing. “Hari ini ada undangan pelatihan di desa sebelah, makanya kami harus jalan pagi-pagi supaya tidak ketinggalan materi pelatihan menjahit yang dimulai pukul delapan ini,” alasan mereka dan orang tua masing-masing tidak curiga.“Syukur saja dari awal kita sudah janjian untuk satu bahasa, satu kalimat jadi tidak ada orang tua yang curiga kalau kita ke desa sebelah untuk mencari mantri, mungkin akan memakan waktu tapi biasanya ada angkutan pagi yang akan ke pasar kota, dan kita bisa menumpang di sana. Aku juga sudah bilang sama Mang Idris agar kita bisa ikut dan dia setuju, hanya saja kita harus menunggu persis di depan gapura sana,” sebut Lela. Lusi dan Wati pun bergegas. Dalam