Share

105. Aku Ada Di Sini Untukmu

last update Last Updated: 2024-12-07 16:30:00

Marshall membawa caramel macchiato untuk Yara dan americano untuknya, ke arah meja yang ada di paling ujung. Ia menghela napas berat kala melihat raut muka Yara yang tampak sendu, tak seperti biasanya Yara yang selalu ceria.

“Caramel macchiato,” gumam Marshall dengan pelan seolah-olah tidak ingin membuat Yara terkejut dengan kedatangannya. Ia menaruh hot caramel macchiato tepat di depan Yara, lalu duduk di hadapannya.

Yara mengerjapkan matanya dan menatap minumannya dengan tatapan menerawang.

“Minum dulu, siapa tahu bisa ngembaliin mood kamu yang sepertinya rusak itu,” gurau Marshall sebelum menyeruput americano-nya.

Helaan napas Yara terasa berat, seolah-olah dadanya terhimpit dua batu tak kasat mata. Ia lantas menyeruput minumannya dan entah mengapa rasa kopi itu terasa hambar di lidah.

“Sekarang, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Marshall seraya menatap Yara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Siti Nur janah
udah tau cemburu...masih aja malah peduli sama zara
goodnovel comment avatar
Ami Lee
sok cemburuan tapi tega menyakiti hati yara...
goodnovel comment avatar
eksa viera
Oliver egois banget, bener² keterlaluan. udh lah Yara mundur aja biarin Oliver ma zara munak, lagian si Olive ga bakalan bisa buat keputusan kan dia baling. demi kesehatan jiwa dan raga Yara pergi aja udah daripada kecewa terus²an nanti ma Oliver
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   106. Kecewa

    Oliver tengah membaca laporan dari departemen humas saat wajah Yara yang dingin, tadi pagi, tiba-tiba melintas di kepalanya. Oliver memejamkan mata, mengembuskan napas kasar, dan tidak berusaha mengusir wajah Yara dari pikiran. Bohong kalau Oliver tidak menyadari perubahan sikap Yara akhir-akhir ini yang cenderung lebih pendiam. Dan Oliver terganggu dengan hal itu. Ia merasa risau diabaikan oleh Yara. Wanda yang masih berdiri di depan meja, tampak keheranan melihat sikap bosnya yang tidak biasa hari ini. “Tuan, handphone Anda bunyi.” Ucapan Wanda dan deringan ponsel membuyarkan bayangan Yara dari kepala Oliver. Oliver membuka mata, mengambil ponsel dari samping laptop dan mendapati nama seseorang yang ia perintahkan untuk mengawasi Yara. “Halo?” sapa Oliver sedetik setelah ia mengangkat panggilan tersebut. “Ada apa? Ada sesuatu dengan istri saya?” Mendengar kata ‘istri saya’, Wanda menyembunyikan keterkejutannya dan diam-diam memasang telinga sambil pura-pura fokus pada iPad d

    Last Updated : 2024-12-07
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   107. Provokasi

    Wanda terkejut kala melihat siapa yang berdiri di hadapannya. “Nona... Yara? Anda memotong rambutmu, Nona?”Zara terkekeh pelan. Ia memeluk Wanda sejenak sambil berkata, “Senang bertemu lagi denganmu, Wanda. Tapi ngomong-ngomong, aku Zara, bukan Yara.”Mata Wanda seketika membeliak mendengarnya. Raut mukanya mendadak berubah pucat pasi. “Nona... Za-Zara? Ke-kenapa bisa Anda... bukankah Anda su-sudah....”Zara kembali terkekeh kecil. Ia menepuk bahu Wanda pelan. “Aku bukan hantu kalau-kalau kamu takut melihatku sekarang,” ujarnya dengan nada lembut. “Tapi aku benar-benar Zara. Aku masih hidup dan ceritanya panjang sekali. Lain kali akan aku ceritakan padamu kisahku. Sekarang, aku ingin ketemu Oliver.”Wanda menelan saliva, ia tak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, tapi Zara yang ada di hadapannya terlalu nyata. Wanda tidak mungkin sedang bermimpi. Meski begitu, Wanda berusaha untuk t

    Last Updated : 2024-12-08
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   108. Runtuh

    “Non! Nona...! Nona Yara...!” Seruan panik Lisa mengeluarkan Yara dari lamunannya. Yara menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangan dari ikan-ikan di kolam, ke arah Lisa yang sedang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. “Ada apa? Kenapa panik begitu?” tanya Yara penasaran. Lisa berhenti di samping Yara dengan napas terengah-engah. “Itu, Non. Anu....” “Anu apa?” Seakan teringat sesuatu, Yara pun terkejut. “Apa terjadi sesuatu pada Zio?” “Bukan, Non.” Lisa menggeleng cepat, masih berusaha mengatur napasnya. “A-ada tamu di depan. Dan... dan... tamu itu adalah Nona Zara.” Yara tersentak mendengar kabar tersebut. Wajahnya seketika berubah menegang dan pucat. “Zara...?” gumamnya nyaris tak terdengar. “Untuk apa dia datang ke sini?” “Katanya ingin ketemu Den Zio, Non.” Lisa tampak gelisah sekaligus

    Last Updated : 2024-12-08
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   109. Boleh Aku Menginap?

    Yara membawa cangkir berisi teh manis hangat dengan tangan yang bergetar hebat. Hingga....Prang!“Akh!” pekik Yara saat ia tak sengaja menjatuhkan cangkir tersebut ke lantai. Serpihan cangkir keramik itu berhamburan. Air panasnya menciprat ke kaki Yara.Yara berjongkok dan mengumpulkan serpihan cangkir dengan tangannya. Kata-kata Zara beberapa saat yang lalu terus terngiang di kepala Yara, membuat air mata yang sejak tadi ia tahan kini tak dapat terbendung lagi.Yara terisak sendirian sambil mengumpulkan serpihan-serpihan tersebut. Dadanya terasa sesak. Amat sesak. Hingga Yara merasa ia nyaris kehabisan napas.Haruskah ia mengalah demi adiknya? Lalu jika ia mengalah, bagaimana dengan bayi di dalam kandungannya yang butuh kasih sayang seorang ayah?“Non? Nona tidak apa-apa?” Lisa datang dengan wajah panik.Melihat kedatangan Lisa, buru-buru Yara menyeka air

    Last Updated : 2024-12-08
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   110. Pelukan

    Dengan wajah lelah, Oliver keluar dari mobil sambil menenteng jas hitam di tangan kanan dan tas di tangan kiri. Di tengah-tengah rasa lelahnya ia berharap dapat sambutan hangat dari istrinya.Dan harapan Oliver terkabul saat ia melihat seseorang membuka pintu dari dalam. Ia menyunggingkan senyuman kecil. Lalu pintu terbuka dan muncul sosok yang tak asing di sana tengah tersenyum lebar menyambut kedatangannya.“Oliver! Kamu sudah pulang?! Selamat datang di rumah...!”Senyuman Oliver perlahan lenyap kala melihat siapa yang menyambutnya itu.Oliver berhenti melangkah, ia terdiam, meraba-raba perasaannya sendiri dan berusaha mencari tahu apa yang tengah ia rasakan saat ini.Namun, alih-alih merasa senang Zara menyambutnya, Oliver justru kecewa.Kecewa karena bukan Yara yang ada di hadapannya.“Zara?” gumam Oliver dengan penuh kebingungan. “Sedang apa kamu di sini?”“Oliver.” Zara mendekati Oliver. Lalu berinisiatif mengambil tas dan jas dari tangan pria tampan itu. “Aku sudah minta izin Y

    Last Updated : 2024-12-09
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   111. Memasak

    Keesokan paginya Yara bangun dengan perasaan hampa. Ia enggan keluar kamar, enggan bertemu Zara dan Oliver. Namun, Yara tidak mau mereka menganggap dirinya lemah. Yara pun keluar kamar, turun ke dapur dan mendapati pemandangan yang menyesakkan dada. Di depan kompor itu terlihat Zara sedang sibuk berjibaku dengan peralatan masak. Tangannya tampak cekatan, seakan-akan Zara adalah koki yang handal. “Selamat pagi,” gumam Yara sambil menuangkan air ke gelas kosong dan meneguknya. “Oh? Yara!” seru Zara dengan senyuman hangat. “Selamat pagi. Tidurmu nyenyak?” “Lumayan.” Yara mengedikkan bahu. “Ngomong-ngomong, kamu masak?” “Iya. Aku sedang masak makanan kesukaan Oliver dan kamu.” Wajah Zara berseri-seri. “Sudah lama sekali aku nggak masak di dapur ini. Rasanya aku benar-benar seperti hidup kembali.” Yara terdiam. Melihat wajah Zara yang tampak cerah hari ini membuat pikirannya berkelana ke arah hal yang negatif. Apa yang telah Oliver dan Zara lakukan tadi malam di belakangnya? Tidak m

    Last Updated : 2024-12-09
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   112. Hukum

    “Tuan, Anda baik-baik saja?” Wanda berbisik pada Oliver yang tampak melamun dan tidak memperhatikan seorang direktur yang tengah melakukan presentasi di ruang rapat itu.Oliver tidak menjawab pertanyaan Wanda. Pria itu hanya menatap kosong pada ponsel yang tergeletak di atas meja, dengan tangan terlipat di dada. Wanda berpikir, Oliver mungkin sedang menunggu pesan dari seseorang, tapi Wanda tidak tahu pesan dari siapa yang Oliver tunggu. Tidak biasanya bosnya itu memainkan ponsel di kala rapat sedang berlangsung.“Tuan...,” bisik Wanda lagi, kali ini seraya menepuk lengan Oliver pelan, yang berhasil mengeluarkan Oliver dari lamunannya.“Ya, ada apa?” Oliver mengerjap, menatap Wanda bingung.“Presentasi Pak Gibran sudah selesai, apakah ada tanggapan dari Anda?” Wanda mengulas senyum profesional.Oliver mengalihkan tatapannya ke arah audiens. Dan baru ia sadari bahwa semua mata kini tertuju ke arahnya.Oliver mengembuskan napas berat. Sial. Tidak biasanya ia melamun di kala sedang rapat

    Last Updated : 2024-12-09
  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   113. Pergi

    Oliver menunduk, tangannya terkepal di atas lututnya. “Aku nggak ingin menyakiti siapa pun. Tapi semuanya jadi begitu rumit.”Davin dengan nada tegas kembali berkata, “Kamu nggak bisa lari dari tanggung jawab. Jika Zara ingin mempertahankan statusnya sebagai istri sahmu, kamu harus membuat keputusan. Jika tidak, itu hanya akan menghancurkan semua orang yang terlibat, termasuk dirimu sendiri.”Haris kemudian menambahkan, “Saya sarankan untuk segera berkonsultasi dengan Zara dan Yara secara terpisah. Jika Zara berniat untuk tetap bersama Anda, maka kita perlu mempertimbangkan langkah-langkah hukum yang diperlukan untuk menangani masalah ini.”Oliver berdiri tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu terdiam. “Berikan aku waktu. Aku perlu berpikir,” ucapnya tegas. “Semua ini terlalu berat bagiku.”Jingga bangkit dari sofa, menyentuh lengan Oliver dengan lembut. “Waktu nggak akan mengubah apa pun, Nak. Pada akhirnya, kamu harus membuat pilihan. Jangan sampai pilihan itu dibuat oleh ora

    Last Updated : 2024-12-10

Latest chapter

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Special Chapter II.

    “Siapa yang kirim bunga untuk Airell?!” seru Oliver dengan galak saat ia mendengar Lisa berbicara dengan kurir yang mengantarkan seikat bunga mawar merah dan menyebut-nyebut nama Airell.Oliver kemudian merebut seikat bunga itu dari tangan Lisa dan membaca pesan yang tertulis dalam secarik kertas.‘Bunga ini memang cantik, tapi kalah cantik sama kamu, Airell. —Ben—‘“Ben? Siapa Ben?” geram Oliver. Berani-beraninya bocah ingusan bernama Ben itu menggombali Airell!“Kenapa, Sayang?” tanya Yara yang baru saja menghampiri suaminya dengan kening berkerut.Oliver menunjukkan bunga itu. “Lihat, Sayang. Ada yang kirim bunga buat Airell. Namanya Ben. Astaga, anak jaman sekarang, pipis aja belum lurus tapi sudah berani menggombali anak orang!”“Hush!” Yara memukul pelan lengan Oliver. “Airell sudah remaja, lho. Kamu lupa?”Justru karena sudah remaja, Oliver jadi semakin protektif pada Airell, begitu pula pada Avery yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.Oliver hendak membuang bunga itu ke te

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Special Chapter I.

    “Sayang, kita mau nambah anak lagi nggak?”“Nggak!” jawab Yara galak. “Tiga aja cukup.”Oliver terkekeh di seberang sana. “Kali aja mau. Aku siap, kok. Kalau aku pulang nanti aku siap nambah anak lagi.”“Idih! Itu sih maunya kamu.” Yara memutar bola matanya malas, lalu ikut tertawa saat Oliver tertawa di ujung telepon.“Kamu nggak tanya kapan aku pulang, gitu? Atau maksa aku pulang?” Suara Oliver terdengar menggoda.“Memangnya kenapa? Kan sudah jelas kamu akan pulang tiga hari lagi.”Yara bangkit dari kursi kerja suaminya. Walaupun sebenarnya ia rindu pada Oliver setelah LDR hampir satu minggu. Namun Yara terlalu gengsi untuk mengakui dan memaksa Oliver pulang. Ia bahkan sering duduk di kursi kerja Oliver demi mengobati rasa rindunya pada pria itu.“Paksa aku pulang, kek. Aku kangen kamu dan anak-anak. Tapi pekerjaan di sini belum selesai.” Oliver terdengar menghela napas panjang. Saat ini ia sedang berada di luar kota untuk perjalanan kantor.Belum sempat Yara menanggapi ucapan suami

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 7. Ending

    Oliver duduk dengan punggung tegak di atas sunbed, netra hitam di balik kacamata hitamnya memperhatikan Yara yang sedang mengajari Avery berjalan tanpa alas kaki di atas pasir pantai. Deburan ombak sesekali terdengar dari kejauhan, diiringi bunyi sekawanan burung camar yang sesekali melintas di udara. “Sial! Apa yang laki-laki itu lakukan?” desis Oliver pada dirinya sendiri saat melihat seorang lelaki tak dikenal menghampiri Yara dan mengajaknya mengobrol. Tidak bisa dibiarkan. Detik itu juga Oliver berdiri, dan sempat bicara pada si kembar Arthur dan Airell yang tengah bermain pasir di sebelahnya, “Arthur, Airell, tunggu di sini sebentar.” Oliver bergegas menghampiri Yara setelah mendapat anggukkan dari kedua anaknya. “Maaf, ada kepentingan apa Anda dengan istri saya?” tanya Oliver pada lelaki itu tanpa basa-basi sambil menekankan kata ‘istri saya’. Lelaki yang hanya mengenakan celana selutut itu tersenyum canggung dan tampak terintimidasi oleh tatapan tajam Oliver. “Oh, t

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 6.

    “Kak Zio!”“Yeay! Kak Zio datang! Aku kangen Kak Zio!”Arthur dan Airell berlari menghampiri Zio. Zio berjongkok, merentangkan kedua tangan dan memeluk si kembar secara bersamaan.“Aku juga kangen kalian,” ucap Zio sambil tertawa bahagia.Arthur yang pertama kali melepaskan diri dari pelukan itu. “Kak Zio, ayo lihat adik aku. Avery cantik, lho!”Mendengar ucapan Arthur, Airell pun cemberut. “Memangnya aku tidak cantik?”“Cantik, sih. Tapi sedikit.” Arthur tertawa jahil.“Arthur...!” rengek Airell dengan bibir yang semakin memberengut.Zio tersenyum dan menggenggam tangan Airell. “Kamu cantik, Airell. Nggak ada yang ngalahin cantiknya kamu.”Mata Airell seketika berbinar-binar. “Sungguh?”“Hm! Aku serius.” Zio mengangguk. “Kalau begitu ayo kita lihat Avery. Di mana dia sekarang?”Airell tersenyum ceria, ia menarik tangan Zio sambil berkata, “Avery lagi sama Daddy. Ayo!”Melihat interaksi mereka bertiga, Yara pun tersenyum penuh haru. Tak bisa dipungkiri bahwa ia pun merindukan Zio.“Zi

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 5.

    “Oliver, kamu baik-baik saja?” Marshall menelengkan kepala, menatap wajah sepupunya yang terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. “Kamu sepertinya kurang tidur.”Oliver mengembuskan napas panjang. Ia duduk dengan tegap di sofa, tepat di hadapan Marshall. “Menurutmu aku bisa tidur nyenyak? Setiap malam Avery selalu bangun dan saat siang dia tidur nyenyak.”Avery William adalah nama untuk anak ke tiga Yara dan Oliver. Nama itu Oliver sendiri yang memberikannya.Mendengar keluhan Oliver, Marshall tertawa puas. “Gimana dengan Yara?”“Aku membiarkan dia tidur kalau malam. Lagian Avery selalu ingin bersamaku. Seolah-olah dia tahu kalau dulu ayahnya nggak menemani kakak-kakak dia waktu masih bayi.” Oliver tersenyum kecil, hatinya berdenyut nyeri kala membayangkan Yara melewati masa-masa mengurus bayi kembar sendirian.“Mengurus satu bayi saja sudah repot, apalagi dua,” timpal Marshall, “kamu tahu maksudku?”Oliver mengembuskan napas. “Aku tahu. Kamu nggak perlu menambah rasa bersalahku kar

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 4.

    Oliver terduduk lemas di kursi yang ada di koridor rumah sakit. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya acak-acakan. Dan kedua lengannya tampak merah, dipenuhi bekas gigitan dan cakaran. Oliver melamun. Seakan-akan sibuk dengan dunianya sendiri, hingga Oliver mengabaikan keadaan di sekitarnya.Jingga keluar dari ruangan bersalin. Ia prihatin melihat kondisi Oliver yang tampak terguncang. Lalu menghampirinya.“Oliver, kenapa kamu diam di sini? Yara dan bayi kalian menunggu di dalam,” ucap Jingga dengan lembut.Ya, Yara sudah melahirkan beberapa saat yang lalu ditemani Oliver. Setelah bayinya berhasil dilahirkan dengan selamat dan sempurna, Oliver pun keluar dari ruangan itu dan duduk termenung sendirian.“Oliver...,” panggil Jingga saat Oliver tidak merespons ucapannya.Oliver tetap bergeming. Melamun dengan tangan gemetar.Jingga menghela napas panjang. Ia duduk di samping putranya, lalu menggenggam tangannya yang terasa dingin.Saat itulah Oliver keluar dari lamunannya dan menatap Jingga deng

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 3.

    “Oliver, perutku sakit banget.”Bisikan Yara tersebut berhasil menghentikan Oliver yang sedang berbincang-bincang dengan kliennya. Oliver langsung menoleh pada Yara dan melihat wanita itu tengah mengerutkan kening seperti menahan rasa sakit.“Sayang, perut kamu sakit?”Yara mengangguk. “Sakit banget,” katanya sembari mencengkeram lengan Oliver kuat-kuat.Raut muka Oliver seketika berubah menegang. Tangannya menangkup pipi Yara dan berkata dengan tegas, “Kita ke rumah sakit sekarang!”Tanpa basa-basi, Oliver segera mengangkat Yara ke pangkuan. Sikapnya itu mengundang perhatian dari orang-orang di sekitar mereka. Namun Oliver tampak tidak peduli. Saat itu juga ia membawa Yara keluar dari ballroom dengan ekspresi panik yang gagal ia sembunyikan.“Oliver, jangan terlalu khawatir. Sekarang sakitnya sudah hilang lagi, kok,” kata Yara, berusaha menenangkan Oliver yang kini tengah mengemudi dengan tatapan kalut.“Sayang, mana bisa aku nggak khawatir,” sergah Oliver sembari mengusap wajah deng

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 2.

    “Oliver, sudah kubilang, aku bisa melakukannya sendiri. Astaga....”“Tidak! Selama aku bisa melakukannya untukmu, akan kulakukan!” tegas Oliver, sebelum akhirnya pria itu memangku Yara ke kamar mandi.Yara memutar bola matanya malas, tapi ia tidak menolak lagi. Karena sekali lagi Yara menegaskan, Oliver adalah pria yang tidak menerima penolakan.Sejak awal kehamilan, Oliver selalu memberi perhatian lebih dan memanjakan Yara. Apalagi saat kehamilan Yara sudah membesar seperti sekarang, Oliver bahkan tidak mengizinkan Yara melakukan aktifitas yang sedikit berat. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. memenuhi segala kebutuhan Yara dan melayaninya dengan sepenuh hati.Oliver sering berkata pada Yara bahwa ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang tidak menemani Yara sewaktu kehamilan si kembar.“Jangan lihat aku. Aku malu,” protes Yara saat Oliver sudah melepaskan seluruh kain yang membungkus tubuhnya.Oliver tersenyum kecil. “Apa yang membuat kamu malu, Sayang?” tanya

  • Penyesalan Suami: Aku Tak Ingin Jadi Istri Bayanganmu, Mas!   Extra Chapter 1.

    “Daddy! Mommy! Ada tamu!”“Shit!” Oliver mengumpat sambil memejamkan matanya sejenak kala mendengar seruan Airell di luar sana.Namun, hal itu tidak menyurutkan gairah Oliver. Ia berusaha menggerakkan dirinya dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti istrinya yang kini berada di hadapannya. Posisi wanita itu memunggunginya.“Oliver...,” desah Yara sambil mencengkeram sprai erat-erat. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan desah agar tidak keluar lebih keras lagi. “Airel bilang... ada tamu.” Yara berkata dengan napas terengah-engah. “Itu pasti Zara, dia sudah... datang.”“Ssstt!” Oliver menarik dagu Yara agar menoleh ke arahnya. Lantas dilumatnya bibir sang istri dengan rakus tanpa menghentikan gerakannya. “Jangan hiraukan, Sayang. Fokus saja padaku,” bisik Oliver sesaat setelah ia menjauhkan bibir mereka berdua.“Daddy! Mommy! Ada Aunty Zara!” seru Airell lagi, kali ini diiringi ketukan pintu.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status