Martis terkejut saat merasakan tubuh Jendral Koboy kembali bergerak, kemudian tubuh Jendral Koboy itu bergetar."Apa yang terjadi? Kenapa tubuhnya kejang-kejang?" Martis memperhatikan tubuh yang tadi ia duduki.Martis mengira bahwa tadi Jendral Koboy hanya tak sadarkan diri saja.Tring!Peringatan! Jauhi tubuh Jendral Koboy karena akan terjadi sebuah ledakan!"Akhirnya Martis mengerti kenapa tubuh itu bergetar.Duar...!Boom!Untung saja Martis sempat melompat menjauh dari tubuh Jendral Koboy."Hampir saja, huft!" Martis menghela nafasnya.Padahal Martis tidak berniat membunuh Jendral Koboy. Justru Martis memiliki pikiran akan mengorek informasi dari Jendral Koboy. Sayangnya, rencana Martis gagal.Tubuh Jendral Koboy yang tadi meledakkan diri benar-benar menjadi abu. Abu-abu itu beterbangan di udara bagaikan salju yang turun dari langit.Karena melihat bahaya sudah menghilang, Jendral Oregon dan Roki mengajak pasukannya untuk mendekati Martis."Martis, bagaimana keadaanmu? Apakah kau
"Tidak usah sok pamer kekuatan kau! Sudah, ayo kita selesaikan pertarungan ini dengan cepat!" Inilah ciri khas Junaidi yang selalu terlihat congkak.Mendengar ucapan dari Junaidi, amarah Roki pun akhirnya meningkat."Siapa yang bilang sok pamer kekuatan?! Tidak terbesit sama sekali dalam pikiranku bahwa ada hal semacam itu. Aku menunjukkan sesuai apa yang memang aku miliki," ujar Roki.Bam...!Bugh!Boom...!Roki dan Junaidi akhirnya langsung bertarung satu lawan satu.Ketika pakaian yang Junaidi kenakan terlepas semua dari tubuhnya, barulah terlihat dengan jelas kalau bagian kaki, lengan, dan dada milik Junaidi telah diubah menjadi besi baja. Tapi warna dari besi baja itu berbeda dengan milik Roki. Entah milik Roki yang lebih bagus, atau milik Junaidi kah yang lebih bagus? Semuanya akan terjawab setelah pertarungan mereka selesai nanti. Hanya sebatas melihat dari penampilan saja, tidak akan bisa untuk langsung menilai seberapa baik kualitas sesuatu.Sampai sepuluh menit kemudian, Jun
Sorakan gembira dari pasukan sekutu Negara Purple Gold dan Negara Pilastain akhirnya pecah. Suasana menjadi gaduh dan perasaan bahagia tengah menyelimuti mereka semua.Sedangkan sisa dari para prajurit Negara Isralial, Merkea sedang merasakan kecemasan. Mereka merasa takut jika nanti akan di bunuh oleh Martis. Sebab, mereka sadar kalau selama ini tingkah laku mereka tidak layak disebut seperti prilaku manusia. Mereka lebih pantas disebut binatang, karena suka melakukan hal-hal yang tercela.Lalu Martis kembali memberikan arahan kepada teman-temannya untuk segera mengepung pasukan musuh yang tersisa. Akibatnya, semua pasukan musuh langsung menjatuhkan senjata yang mereka miliki untuk menunjukkan tanda bahwa mereka benar-benar sudah menyerah."Aku memiliki sebuah tawaran untuk kalian. Jika kalian ingin hidup dengan baik, kalian harus melakukan sesuatu. Kalian harus mau bekerja di bawah perintah Pemerintahan Negara Pilastain. Jika kalian tidak mau, maka aku sendiri yang akan mengeksekusi
Beberapa hari ini, Martis dan Reka disibukkan dengan latihan bersama. Reka sebenarnya ingin mengajak Martis berlatih tanding. Tapi setelah dipikir-pikir ulang, Reka sadar kalau saat ini kemampuannya bertarung masih jauh berada di bawah Martis. Alhasil, Reka mengurungkannya. Reka berniat jika ia berhasil menguasai teknik beberapa teknik tingkat atas, maka ia akan menguji coba teknik itu dengan cara melawan Martis.Di tengah kesibukannya berlatih, Martis juga sambil berpikir strategi apa lagi yang harus ia persiapkan untuk langkah yang selanjutnya. Mengingat tentang lawan yang kemarin ia hadapi, ia sadar kalau masih banyak lagi orang-orang yang lebih kuat di dunia ini. "Kak Martis, apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya latihanmu tidak terlalu fokus hari ini. Kalau kau mau berbagi, aku siap mendengarkannya, Kok. Siapa tahu saja aku dapat membantumu. Yah..., walaupun hanya sedikit." Ternyata Reka menyadari kalau Martis sedang banyak pikiran."Eh? Benarkah? Iya Reka, aku memang sedang m
Martis membuka pesan yang dikirim oleh Mia. Pesan tersebut hanya berisikan sebuah lokasi tanpa ada tulisan apapun. Hal ini membuat Martis merasa cemas. Martis sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Mia."Ada apa, Martis? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Jendral Oregon."Jendral, aku tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi saat ini pada Mia. Lihatlah, Mia mengirimkan sebuah lokasi. Apa maksudnya ini? Dan kalau dilihat dari caranya mengirimkan pesan, ia seperti terburu-buru." Martis sempat memperlihatkan layar ponselnya kepada Jendral Oregon."Martis, sebaiknya kau segera memastikan apa yang terjadi pada Mia. Bagaimana bila ia terluka?" Mendengar pertanyaan dari Jendral Oregon ini, justru menambah rasa cemas yang Martis rasakan."Tapi bagaimana dengan yang di sini jika aku pergi?" tanya Martis yang merasa bimbang."Tenang saja, serahkan semua yang ada di sini kepadaku. Sementara kau pergi, biar aku yang melanjutkan jalannya strategi yang telah kita atur." Jendral Oregon sangat menger
Dinding ruangan yang berada di arah barat tiba-tiba saja jebol. Nampaknya ada suatu benda berat yang menabrak dinding itu hingga jebol. Tidak, itu bukan suatu benda, melainkan kekuatan elemen batu tingkat tinggi."Lepaskan Mia sekarang juga!" Martis yang muncul dari lubang dinding terlihat berdiri tegap dan gagah berani."Ma-martis?" Mia tak menyangka kalau Martis akan datang menyelamatkannya secepat ini. Ternyata pesan yang ia kirim berhasil sampai kepada Martis."Mia? Apa kau baik-baik saja? Apa yang telah mereka lakukan terhadapmu? Jika mereka berani melecehkanmu, aku akan membunuh mereka sekarang juga!" Kali ini amarah Martis tak terbendung.Apakah bagi Martis, Mia adalah batas yang tidak boleh di sentuh? Sudah pasti, karena Mia adalah cinta pertama Martis. Martis tidak akan segan untuk membunuh orang yang berani menyakitinya."Martis, aku baik-baik saja. Mereka sedikitpun tidak menyentuhku. Martis, berhati-hatilah! Mereka itu sangat licik!" Mia sebisa mungkin memberikan informasi
Bam...!Setelah teknik booster diaktifkan, dengan cepat Martis langsung maju dan berniat untuk menghantam dada Jendral Jacob."Apa?!" Kedua mata Jendral Jacob terbelalak saat merasakan pukulan Martis.Tubuh Jendral Jacob mundur beberapa langkah saat menahan serangan dari Martis. Dan ia pun merasa tambah kesal. Pikirnya, Martis tadi sudah menggunakan kekuatan penuhnya. Namun ternyata Martis masih menyimpan kekuatannya."Jangan senang dulu! Cih!" Jendral Jacob maju dan menyerang Martis balik.Brak, brak, brak!Namun kali ini Jendral Jacob kembali dibuat terkejut.Bukan hanya kuat, namun kecepatan yang Martis miliki saat ini dapat mengimbangi kecepatan Jendral Jacob."Ada apa? Hem?" Gantian Martis yang kini menyeringai."Sial! Ternyata kau menyembunyikan kekuatanmu! Tapi lihat saja, kau pikir kau dapat mengalahkanku? Hahaha...! Jangan bercanda!" Nampaknya Jendral Jacob masih berlagak sombong di hadapan Martis.Lalu mereka berdua kembali saling mengadu kekuatan. Gedung tempat mereka berad
'Kemampuan Khusus? Kemampuan macam apalagi itu?' dalam hati, Martis masih terus menganalisa musuh yang ia hadapi.Boom..., boom..., boom...!Ledakan demi ledakan terdengar di setiap serangan mereka yang terus saling beradu."Cepat sekali! Ayah, lihatlah Kak Martis! Sepertinya aku memang belum pantas untuk mengajaknya bertarung. Level kekuatan antara kami terlihat jelas sekarang, bukan? Benarkan, Ayah?" ujar Reka."Kau benar, Reka. Sepertinya Ayah juga harus lebih giat lagi berlatih agar tidak tertinggal terlalu jauh dari Martis. Tapi Reka, Ayah yakin kau juga bisa sekuat Martis. Maka dari itu, kau harus lebih giat lagi dan tingkatkan pola latihanmu." Roki masih memperhatikan jalannya pertarungan Martis dan ia juga memberi nasihat kepada putri semata wayangnya, Vivi."Iya, Ayah. Aku berjanji pada Ayah bahwa aku akan lebih giat lagi dalam berlatih. Akan tetapi, aku memang harus mencari lawan yang bisa jadi ukuran atas kekuatanku, Ayah." Reka menerima nasihat ayahnya dengan baik."Kalau
Dalam benaknya, Martis terus berpikir. Dengan konsentrasinya yang sangat baik, Martis mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Dan pada saat ini, Mia sedang berjalan ke arah pintu yang tersembunyi di belakang tirai, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis juga mengikuti mereka, dengan rasa penasaran yang semakin besar. Saat mereka mencapai pintu tersebut, Mia berhenti dan menatap Martis dengan senyumannya yang lembut. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Dan tiba-tiba saja, ada kejadian aneh. Mia menghilang begitu saja di hadapan mereka. Phynoglip serta Emily terkejut dan menatap bayangan tersebut dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Phynoglip heran. "Aku tidak tahu," ucap Emily yang sama herannya. "Tapi aku rasa Mia yang kita lihat sebelumnya bukanlah Mia yang sebenarnya." Dan selang beberapa menit kemudian, Mia muncul kembali. Ternyata..., sosok yang mengaku sebagai Mia ini hanyalah bayang
Mia berjalan ke arah Martis, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu ingin lakukan, Mia?" tanya Martis dengan suara yang keras. Mia tetap tersenyum lembut, kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku ingin menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu maksud?!" tanya Martis dengan suara yang keras. Dengan senyum lembutnya, Mia kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita hanya memiliki puisi yang tidak berharga," ucap Mia dengan suara yang masih sama pelannya. Mia kemudian mengambil kertas yang memiliki puisi yang tertulis di dalamnya dari Emily, kemudian memberikannya kepada Martis. Martis menatap kertas tersebut dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang
Mia memimpin mereka ke arah mesin tersebut, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Saat mereka mendekati mesin tersebut, mereka melihat bahwa mesin tersebut memiliki sebuah layar yang besar dan beberapa tombol yang berkilauan. Mia menekan salah satu tombol tersebut, dan layar mesin tersebut langsung menyala. Phynoglip dan Emily terkejut melihat bahwa layar tersebut menampilkan sebuah gambar yang aneh, seperti sebuah peta yang kompleks. "Apa ini?" tanya Phynoglip dengan suara yang penasaran. Mia menjawab, "Ini adalah peta sistem yang kita gunakan untuk mengontrol dunia ini," ucap Mia dengan suara yang pelan. "Dengan peta ini, kita dapat melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana kita dapat mengubahnya." Emily kemudian menatap peta tersebut dengan rasa penasaran. "Bagaimana kita dapat mengubahnya?" tanya Emily dengan suara yang pelan. Mia memandang Emily dengan mata yang berbinar. "Kita dapat mengubahnya dengan menggunakan kode yang tepat," ucap Mia
Phynoglip mengangguk, kemudian menatap sekeliling tempat mereka berada. "Tempat ini aneh," ucap Phynoglip dengan suara yang pelan. "Aku merasa seperti berada di dalam komputer atau sesuatu." "Aku juga merasa seperti itu. Sepertinya kita berada di dalam sistem atau dimensi lain." jawab Emily dengan nada yang sama dengan Phynoglip. Keduanya terdiam sejenak, kemudian Phynoglip bertanya lagi. "Kamu pikir apa yang disembunyikan oleh Martis?" Emily memandang Phynoglip dengan serius. "Aku pikir Tuan Martis menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting." Phynoglip mengangguk, kemudian keduanya terdiam lagi. Akan tetapi, kali ini tiba-tiba, Phynoglip berbicara dengan nada yang berbeda. "Emily, aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Sepertinya kita tidak sendirian." Emily menatap Phynoglip dengan heran, kemudian menoleh ke sekeliling. Tiba-tiba, dia melihat bayangan yang bergerak di kejauhan. "Apa itu?" bisik Emily dengan suara yang pelan. Kemudian Phynoglip berjalan menuju bayangan te
Martis hari ini dipusingkan dengan tingkah laku kedua bayi besarnya, yaitu Emily dan Phyno. Dan tanpa diduga, saat Martis menatap wajah Emily, lagi-lagi ia teringat akan raut wajah istrinya. Sampai tanpa sadar dia berucap, "Mia...?" Martis kemudian tiba-tiba memeluk tubuh Emily. "Maafkan aku, Mia..., aku pasti akan kembali," ucap Martis yang mempererat pelukannya pada Emily. "Aku bersumpah! Akan menemukan cara untuk kembali pada mereka. Tapi kira-kira, apakah mereka masih mengingatku?" Emily yang tidak mengerti apa yang terjadi, menatap wajah Martis dengan heran. la merasa tidak nyaman dengan pelukan Martis yang terlalu erat. Sementara itu, Phyno yang ada di sebelahnya, menatap Martis dengan rasa penasaran. "Martis, apa yang terjadi?" tanya Phyno dengan suara yang pelan. Martis tersadar dari lamunannya dan melepaskan pelukannya pada Emily. la memandang wajah Emily dan tersenyum. "Maaf, Emily," ucap Martis dengan suara yang lembut. "Aku hanya..., teringat pada seseorang yang
Rupanya, Raja Kegelapan telah mempersiapkan strategi untuk menghadapi Martis. Saat ini ia memutuskan bahwa dia dan anaknya masih harus berada di dalam gunung berapi tempat mereka berada saat ini untuk sementara waktu. Nampaknya Raja Kegelapan kali ini lebih waspada dalam menghadapi Martis. Dia telah kehilangan Black Rose karena kala itu telah meremehkan Martis. Padahal ia berpikir bahwa Black Rose akan dapat mengalahkan Martis dengan mudah. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Kekalahan Black Rose sangat membuatnya rugi besar. Sebab, Black Rose beserta semua pengikutnya telah diberantas habis oleh Martis sampai tak tersisa satupun. Sementara Raja Kegelapan masih bersembunyi di dalam gunung berapi, beberapa Minggu kemudian Martis dan yang lainnya kini telah kembali pulih. Dan ternyata, Martis tengah berusaha memisahkan aura kegelapan yang tersisa dalam tubuh Phynoglip. Namun usahanya belum membuahkan hasil. Memang benar, dalam beberapa hari ini ia telah berhasil membuang sebagian
Raja Kegelapan sangat marah karena merasakan hawa keberadaan Black Rose yang terhubung dengan jiwanya kini telah menghilang."Black Rose...? Ti-tidak...!" Raja Kegelapan berteriak histeris di dalam ruangan persembunyiannya."Tidak akan aku maafkan! Black Rose mati dikalahkan oleh manusia bernama Martis itu! Aku tidak boleh bersantai-santai. Yah..., aku akan membalaskan semua yang telah dilakukan oleh Martis! Terutama atas kematian Black Rose!" Raja Kegelapan kemudian bangkit dari tempatnya. Kali ini amarahnya benar-benar berada di puncaknya. Hal yang membuat ia sangat marah tentu saja atas kematian Black Rose, wanita yang sangat dicintainya.Kemudian Raja Kegelapan pergi ke suatu tempat. Tempat itu adalah gunung berapi yang ada di ujung wilayah barat. Gunung berapi ini adalah tempat di mana Raja Kegelapan pernah berlatih bersama Black Rose.Dan rupanya, di gunung berapi ini juga Black Rose pernah menyimpan benih. Benih itu adalah hasil dari perkawinan mereka berdua. Dan selama ini, be
Dan akhirnya, Martis tumbang juga. Setelah energi dan stamina terkuras habis, waktu kembali normal. Dan mereka tetap berada di tempat terakhir kalinya. Gedebugh...! Tubuh Martis yang terkulai lemas akhirnya terkapar di lantai. Karena mendengar ada suara aneh, Emily yang ada di atas ranjang menoleh ke arah sumber suara. Dan ia melihat di sana ada tubuh Martis yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri. "Tu-tuan Martis...?" ucap Emily yang kemudian ia turun dari ranjang dan segera memeriksa keadaan Martis. Ia sudah ingat dengan apa yang terjadi. "Martis...? Wah, iya, aku harus membantunya." Begitu pula dengan Phynoglip yang baru sadar dan ingat semaunya. Ia bergegas membantu Emily untuk mengangkat tubuh Martis ke atas ranjang. "Hey, tubuhku masih terluka, tapi aku bisa kok, menjaga Martis agar tetap stabil. Aku akan berbaring di sampingnya sampai ia kembali pulih. Aku tidak keberatan berbagi energi dengan dirinya. Aku bisa melakukan teknik Transfer Energi melalui genggaman
Akhirnya Martis menunda untuk menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya.Dan pada esok paginya, barulah Martis kembali menemui mereka berdua di kamar yang sama."Kalian sudah membaik?" sapa Martis seraya mengambil kursi untuk duduk di dekat ranjang yang mereka berdua gunakan untuk tidur."Menurutmu?" Phynoglip menjawab, namun malah balik bertanya."Kalau aku, sudah merasa lebih baik dari kemarin. Rasa pusing di kepala sudah hilang. Kalau kemarin, saat melirik saja kepala langsung terasa pusing." Namun tidak dengan Emily, ia menjawab dan menjalankan keadaannya dengan apa yang ia rasakan saat ini."Baiklah, syukur kalau memang kau merasa lebih baik. Nah sekarang, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua," ungkap Martis menjelaskan maksud dan tujuannya hari ini datang pada mereka berdua.Martis mengatakan bahwa dia telah memiliki sebuah teknik yang dapat memutar waktu. Namun ada resiko yang sangat besar, yaitu kehabisan stamina dan energi setelah berhasil menggunakan teknik itu. Kon