Ugh! Claudia merasa mual, suara Malven terdengar dingin saat mengatakan kalimat menakutkan seperti itu. "Aku tidak akan mengkhianatimu dan melarikan diri, Pak Malven!" ujar Claudia menanggapi, membayangkan kakinya dipatahkan secara paksa hanya untuk membuatnya tidak bisa kabur saja sudah sangat menakutkan, apalagi kalau benar terjadi. "Hmm, baguslah." Gumaman Malven membuat Claudia cemberut, tapi entah kenapa hatinya jadi menghangat, karena obrolan tentang mematahkan kaki itu membuat perasaan sedih dan marahnya pada Deon sudah berkurang banyak. "Aku sudah tidak apa-apa, kamu sebaiknya kembali ke kamar, Raga akan kebingungan kalau kamu tidak ada saat bangun nanti." Claudia menjauhkan tubuhnya, berusaha melepas dekapan Malven padanya. Tapi, usahanya sia-sia karena Malven terlihat tidak berniat melepaskan. "Aku mau mandi dan tidur, Malven, tolong lepaskan aku dan pergi dari sini!" ujar Claudia sembari terus berusaha melepaskan diri. Malven menghela napas, membiarkan Claudia
Claudia berdecak saat menatap pantulan dirinya di cermin. Semalam Malven benar-benar melaksanakan keinginannya, melukis di banyak tempat dan tidak meninggalkan ruang kosong di tubuh Claudia. Entah Claudia harus merasa lega atau tidak pada kenyataan bahwa satu-satunya yang bersih dari tanda yang Malven tinggalkan hanyalah lehernya.Wanita itu menghela napas sebelum merapatkan kimononya. Saat Claudia terbangun, matahari sudah tinggi dan ia tidak menemukan Malven di sisinya. Seperti biasa, pria itu hanya meninggalkan catatan kecil di atas bantal."Aku lapar ...." Claudia bergumam sembari mengelus perutnya, sungguh suatu keajaiban dia bisa bangun dari tempat tidur, mandi dan berganti pakaian dalam keadaan kelaparan, apalagi setelah menghabiskan semua energinya sepanjang malam. Sebenarnya Claudia ingin keluar dan mengajak Raga makan di restaurant hotel, tapi ia khawatir Deon akan menunggu di depan kamarnya. Memesan makanan pun Claudia tidak berani, takut saat membuka pintu untuk menerima
Claudia memutar bola mata. Di mana lagi coba ada atasan yang dikatakan ‘bodoh’ oleh karyawannya sendiri selain Claudia?“Kututup telponnya, pekerjaanku banyak berkat seseorang. Jangan terlalu dipikirkan tentang Deon, tapi tetaplah berhati-hati.”Sambungan telpon benar-benar diputus setelahnya sebelum Claudia sempat mengatakan apa-apa. Wanita itu menggeleng tidak habis pikir, tangannya menggulir layar untuk mencari nomor Malven, berniat menghubungi pria itu untuk mengajaknya makan bersama. Tapi belum sempat Claudia melakukan apa-apa, nama pria itu sudah tertera lebih dulu di ponselnya, bersamaan dengan suara bel kamar yang ditekan.“Aku di depan kamarmu bersama Raga,” ucap Malven begitu Claudia mengangkat telponnya.Claudia cepat-cepat membuka pintu dan tersenyum lebar saat Raga langsung menghambur ke pelukannya.“Sayang!” panggil Claudia sembari memeluk Raga, tapi tatapannya terarah pada Malven.Malven mengernyit, satu ingatan tentang janji Claudia jika wanita itu akan memanggil ‘saya
“DERAAA … AKU PULANG!” Raga berteriak saat keluar dari mobil, langsung berlari ke arah Dera dan mengulurkan tangan. “Hadiah dari Opa mana?” tanyanya tidak sabar.Mereka akhirnya kembali ke kediaman Pranaja, meski hanya Raga dan Claudia karena Malven masih belum kembali sejak pria itu pamit untuk pekerjaan dua hari lalu. Claudia cukup terkejut saat dalam perjalanan dari bandara tadi, mereka harus berpisah dari Vall dan Sean karena ada sopir lain yang akan menjemput. Claudia tidak mengerti kenapa dua orang yang telah menemani Claudia dan Raga selama di Jepang itu tidak ikut sampai rumah.Tidak hanya itu, Claudia diminta untuk menandatangani perjanjian ‘lupa’ di mana ia tidak akan mengatakan apa pun tentang Sean mau pun Vall, juga keberadaan Phantom. Tidak mau memikirkan sesuatu yang rumit, Caudia dengan mudah menandatanginya, karena ia juga bukan orang yang mudah menceritakan sesuatu, jadi hal seperti itu tidak sulit dikabulkan.“Tuan Muda, Anda tidak boleh berlari seperti itu. Bagaiman
Orangnya Papa. Claudia tahu jika hubungan Malven dan kakeknya tidak begitu baik, tapi melihat keduanya saling mencurigai atas kasih sayang terhadap Raga membuat Claudia sulit memahami. Malven mungkin biasa diperlakukan dengan tegas dan disiplin sejak kecil, jadi wajar jika pria itu khawatir Raga akan diperlakukan sama. Tapi dari sisi sang kakek, mungkin Raga memiliki tempat tersendiri dan kasih sayang yang tidak sempat diperlihatkan pada Malven, pria tua itu berikan pada Raga sebagai ganti. Bukankah keduanya hanya perlu duduk berdua dan berkomunikasi?“Kakak?” Raga memanggil sembari meraih rambut panjang Claudia untuk menyadarkan kakak asuhnya yang melamun. “Kakak kepikiran karena bakal kutinggal? Jangan takut, nanti Dera ikut sama aku, jadi yang paling galak di sini nggak bakal ada. Trus kan Papa juga akal sering pulang. Tapi, kalau Kakak beneran nggak enak tinggal di sini tanpa aku, Kakak cuti aja dulu, pulang, trus ke sini lagi kalau aku udah balik. Gimana?”Claudia mengelus sayang
Bisikan itu membuat seluruh tubuh Claudia meremang, bahkan ia seolah masih bisa merasakan napas Malven di tengkuknya meski pria itu sudah berlalu. Sejak ulang tahun Raga dua bulan lalu, Malven jarang pulang, bahkan pernah selama lima hari tidak kembali sama sekali. Meski pria itu rajin menelpon untuk mengobrol bersama Raga di sela-sela kesibukannya, tapi kebutuhannya sebagai pria dewasa tentu saja jadi dilampiaskan sekaligus saat Malven pulang.Hari ini pun Malven baru kembali sore ini setelah tiga hari pergi, itu pun karena ia harus mengantar Raga ke bandara besok. Lalu, sejak beberapa minggu lalu, ketika Claudia tanpa sengaja ‘bermain peran’, Malven jadi sering menggodanya dengan menggunakan kalimat-kalimat formal. ‘Ah, kuharap ingatan itu menghilang.’ Claudia membatin, menyesali kecerobohannya.Waktu itu Claudia tidak bisa tidur dan berpikir Malven tidak akan pulang, jadi ia iseng memakai seragam pelayan dan membersihkan kamar Malven, tapi pria itu malah datang dan hampir mengusir
Claudia tidak bisa menahan tawa mendengar kalimat pertama yang Raga katakan setelah melihat kartu namanya. “Biasa saja, kok, cuma kebetulan gaji yang Kakak terima lebih banyak daripada karyawan lain.”“Trus ini … nama asli Kakak?” Raga kembali bertanya sembari mengusap nama yang tertera. Claudia mengangguk membenarkan. Selama ini Claudia memang belum pernah memberitahukan nama lengkapnya pada Raga. “Cantik, kan? Kata Mama-nya Kakak, nama itu dipilih langsung oleh mendiang nenek.”Raga mendongak, sedikit menelengkan kepala saat kembali bertanya. “Jadi, Kakak tuh manggilnya Mama atau Bunda sih? Aku bingung,” ucapnya polos.Claudia mengerjap, “Raga sendiri sebenarnya memanggil Kakek atau Opa, sih? Kakak juga jadi bingung,” balasnya sembari menatap Raga.Keduanya kemudian tertawa saat menyadari kesamaan cara memanggil mereka terhadap seseorang.“Sebenarnya sih panggilannya Mama, cuma karena dari kecil Kakak sering main--!” Claudia menghentikan kata-katanya, dadanya kembali dipenuhi oleh
Seandainya Claudia bisa mengatakan hal itu, kira-kira tanggapan seperti apa yang akan Malven berikan? Sayangnya, pertanyaan tentang kelanjutan hubungan mereka itu hanya bisa tersangkut di tenggorokan Claudia, tanpa pernah wanita itu melontarkannya.“Kamu tidak menjawab, Claudi.”Claudia mengecup rahang Malven, “Memangnya selama ini apa yang kulakukan di kamarmu? Meski kulayani setiap hari, kamu tidak pernah sekali pun membawakan berlian tuh, bahkan meski yang sangat kecil sekali pun,” jawabnya asal. Memang Malven tidak pernah membawakan berlian, perhiasan, atau bunga, tapi pria itu memberikan unlimited card pada Claudia dan membebaskan wanita itu membeli apa pun, tapi bukankah kesannya akan berbeda kalau barang itu dibelikan langsung oleh Malven?“Akan kubelikan nanti, tapi sekarang ada hal lain yang akan kuberikan sebagai gantinya.” Malven tersenyum misterius sebelum membuka laci di samping ranjang, mengeluarkan sesuatu yang membuat Claudia terkesiap.“Ini kan ….” Claudia menatap dua
Selama menunggu Malven dan Regan bicara, Claudia menunggu di ruang keluarga. Sudah dua jam sejak Malven memasuki ruang kerja Regan, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda akan keluar. Claudia menghela napas panjang, sedikit khawatir.Kalau saja ayahnya tidak melarang, Claudia pasti sudah menemani Malven saat ini. Tapi, Regan mengatakan jika itu adalah pembicaraan antar laki-laki, jadi Claudia dilarang ikut campur.“Berapa lama lagi ayah akan mengintrogasinya?” Claudia menarik napas pelan, matanya melirik pada jam yang tertera di ponsel. Awalnya Claudia tidak sendirian karena Raga menemaninya bermain, tapi anak itu akhirnya tertidur setelah hampir satu jam, jadi Claudia memindahkannya ke kamar dan kembali ke ruang keluarga untuk menunggu Malven.“Tapi, kenapa lama sekali?” Claudia kembali mengeluh sembari menyandarkan tubuhnya di sofa, menatap lampu gantung yang malam ini terlihat lebih jauh.Claudia sebenarnya merasa lelah dan perutnya sedikit kram. Mengingat perjalanan panjang yang
“Raga, Kakak pulang!” Claudia berseru setelah memasuki ruang keluarga, membuat Raga dan Regan yang sedang menyusun puzzle besar, langsung menoleh bersamaan. “Iya, selama datang kembali, Kak.” Raga membalas sapaan Claudia sebelum kembali fokus pada mainannya.Claudia cemberut pada rendahnya antusias Raga. Apa anak itu tidak merindukannya?“Raga … Kakak bawa sesuatu lho,” ucap Claudia sembari mendekat dan menggoyangkan kresek putih di tangannya. Claudia sempat mampir ke mini market untuk membeli beberapa es krim dan camilan kesukaan Raga. Biasanya Raga akan sangat senang karena ia jarang diizinkan makan makanan instan seperti itu. Tapi … kenapa tidak ada reaksi berarti?Raga hanya menoleh sebentar dan mengatakan ‘oh ya’ sebelum kembali berusaha menyusun puzzle, sama sekali tidak menyadari wajah keruh Claudia. Wanita itu meletakkan barang bawaannya sebelum mendekati Raga dan langsung menusuk pipi anak itu menggunakan jari telunjuknya.“Apa ini … Raga mengabaikan Kakak?” Claudia mengelua
“Biar aku yang menghubungi Devan, kalian tinggal yakinkan anak nakal itu saja.” Adhamar berkata saat mengantarkan Claudia dan Malven ke halaman, keduanya akan meninggalkan kediaman Adhamar hari ini.“Tapi, kalau ayah masih tidak mau memberi restu bagaimana?” Claudia bertanya pelan, agak cemas.“Kenapa menanyakan hal yang sudah jelas? Tentu saja kalian tidak akan bisa menikah. Meski aku masih tidak menyukai anak nakal itu, bukan berarti aku tidak mendengarkan pendapatnya. Berusahalah lebih giat, tapi aku yakin dia akan segera merestui. Dia bukan orang yang keras kepala.”Claudia menghela napas panjang. Anak nakal yang disebut kakeknya adalah Regan, meski Claudia tidak mengerti kenapa Adhamar selalu menyebut menantunya seperti itu.“Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan Adhamar.” Malven mengangguk hormat, membukakan pintu mobil dan membiarkan Claudia masuk lebih dulu.Setelah memeluk kakeknya, Claudia langsung memasuki mobil dan segera disusul oleh Malven. Hari ini mereka akan kembali ha
Setelah memberitahu pelayan tentang tujuan mereka, Claudia dan Malven menelusuri jalan setapak dengan pohon-pohon besar di sepanjang jalan. Seperti yang Claudia katakan, hutan ini sangat rimbun dan terlihat seperti hutan sungguhan yang tidak terbatas luasnya.Meski begitu, Malven bisa melihat beberapa ranting dan daun bergoyang secara tidak wajar. “Apa di hutan ini ada ‘penunggu’ juga?” tanyanya sembari menatap lembut Claudia.Claudia yang tidak pernah melepas genggamannya dari Malven, mendongak dan tersenyum lebar. Sekarang ia mengerti apa maksud dari kata ‘penunggu hutan’ yang pernah Malven dan Arfa bicarakan. Orang-orang yang dilatih dan bekerja di bawah Adhamar, bertugas untuk menjaga keamanan tempat ini dengan memperhatikan siapa pun tamu yang datang.Tapi, meski Claudia bukan tamu asing, sejak kecil ia memang sudah dijaga diam-diam. Ada kalanya Claudia tersesat saat mengeksplor hutan dan salah satu penjaganya akan berpura-pura tidak sengaja lewat lalu membawa Claudia kembali ke
Claudia memilih menunggu di ruang keluarga yang tidak jauh dari ruang kerja kakeknya, sedikit gugup dengan pembicaraan yang akan dilakukan Adhamar dan Malven. Bagaimana kalau kakeknya bersikeras tidak akan merestui seperti saat bersama Deon dulu?“Ah, harusnya aku tidak menurut begitu saja dan meninggalkan mereka.” Claudia bergumam sembari menggoyangkan kaki, tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.“Minum tehnya dulu, Nona. Apa perlu saya bawakan camilan lain? Atau Nona ingin makan?”Pertanyaan pelayan yang menghampiri sambil membawa nampan berisi secangkir teh dan sepiring kukis, membuat Claudia menghela napas pendek. Benar, tidak ada yang akan berubah hanya karena ia bergumam sendirian di sini, jadi lebih baik mengisi perutnya dengan sesuatu yang hangat.“Terima kasih, tapi bisakah ganti tehnya dengan kopi? Aku ingin kopi hitam tanpa gula,” ucap Claudia saat menyadari bahwa perutnya mual mencium harum yang menguar dari teh. “Lalu, aku sedang tidak ingin kukis. Bawakan saja sesuatu
Sindiran tajam dan dengusan Adhamar membuat suasana ruangan itu hening. Tidak ada yang bisa membantah, baik Claudia maupun Malven tahu pasti apa yang Adhamar maksud.“Memang benar kalau saya jatuh cinta padanya, tapi saya tidak pernah mengatakan itu, dan dia pun sama. Kami saling mencintai, tapi tidak sempat menyatakan perasaan masing-masing. Saya sibuk dengan beberapa urusan, lalu Zheva yang kebetulan punya pekerjaan di sini dan mengkhawatirkan kondisi saya, datang dan membuat hubungan kami berakhir dengan kesalahpahaman.”Malven menghela napas pelan. “Dia pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata. Saya membuatnya menangis patah hati, karena kekurangan saya dalam berkomunikasi membuatnya berpikir jika Zheva adalah wanita yang akan dijodohkan dengan saya. Satu bulan lalu, saya kehilangan arah karena wanita itu menghilang tiba-tiba.”Claudia menatap penuh perhatian pada Malven, berharap waktu yang akan mereka habiskan ke depannya akan menghapus sedikit demi sedikit rasa sakit karena k
Claudia menarik napas panjang saat pria berusia tujuh puluhan itu mengangkat pandangan dari buku di tangan. Adhamar tentu saja mengernyit melihat kedatangan cucunya yang tiba-tiba, apalagi setelah melihat tangan Claudia yang melingkari lengan Malven.Adhamar meletakkan bukunya di meja dan berdiri, menghampiri dua orang yang masih mematung tanpa mengatakan apa-apa.“Ayo bicara di dalam.” Claudia dan Malven segera menunduk sopan saat Adhamar berjalan lebih dulu sebelum mengekor di belakang. Tidak ada yang bicara selama perjalanan melewati beberapa koridor, ruang keluarga dan anak tangga menuju ruang kerja Adhamar. Sudah menjadi aturan tak tertulis untuk membicarakan hal penting hanya di ruang kerja Adhamar, tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan menguping. Setelah memasuki ruang kerja dan pintu tertutup, Claudia segera melepas lengan Malven dan berjalan menuju sofa yang telah diduduki kakeknya. Ini adalah hal yang harus Claudia lakukan sekarang, duduk di sisi kakeknya dan mem
Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya Claudia dan Malven tiba di kediaman Adhamar. Gerbang besar terbuka perlahan, menampakkan halaman luas dengan arsitektur klasik yang mencerminkan wibawa pemiliknya.Bangunan besar dengan arsitektur klasik itu selalu berdiri anggun, dikelilingi tamanluas yang tertata rapi. Meski Claudia tidak asing dengan tempat ini, tapi perasaanya saat ini lebih tegang dan mendebarkan.Claudia melirik ke samping dan tersenyum melihat Malven yang duduk diam dengan wajah sedikit kaku, tentu saja pria itu juga sedang sangat tegang sekarang. Claudia bisa melihat jari-jari Malven saling tertaut erat di pangkuan, napasnya pun terdengar lebih berat dari biasanya. Claudia masihtersenyum saat meraih tangan Malven dan menggenggamnya erat.“Jangan terlalu tegang, Malven,” bisik Claudia lembut, mencoba menenangkan. “Kakekku tidak akan menelanmu, kok.”Malven menoleh ke arah Claudia dan mengernyit mellihat senyum jahil wanita itu. Tentu saja Adhamar tidak
Pria yang wajahnya nyaris tidak lagi bisa dikenali itu, Deon, semakin gemetar saat Malven berjalan mendekat. Malven memang menangkap dan menyerahkan Deon pada pihak berwajib, tapi tidak ada yang tahu jika yang akan ‘mengadili’ Deon adalah Malven sendiri. “Ugh! Ggh!”“Hm? Kau bilang apa? Coba katakana dengan jelas agar aku mengerti keinginanmu,” ucap Malven sembari berjalan menuju sebuah meja panjang, di atasnya terdapat banyak alat yang biasa Malven gunakan untuk bermain.Pria itu memilih sebuah belati kecil hari ini. Kemarin ia bermain menggunakan besi panjang yang dipanaskan, berpikir jika itu menyenangkan, tapi nyatanya tidak. Malven lebih suka jika ada warna merah yang menghiasi mainannya, itulah kenapa ia hanya sempat menggunakan besi panas itu satu kali. Alat itu membosankan.Malven melepas jas hitamnya, menukarnya dengan sebuah padding hitam panjang yang tersedia di gantungan. Pria itu tidak lupa menggulung lengan kemejanya, khawatir akan ada noda yang menempel seperti kemari