“Festival?” tanya Anna heran.
“Betul Yang Mulia, kami izin untuk libur besok untuk mengikuti festival olahraga,” kata Julie pada Anna.
Pagi ini Anna memulai harinya dengan membaca satu buku di perpustakaan. Saat sedang santai membaca buku, Diego dan Julie meminta izin untuk libur satu hari besok.
“Itu festival seperti apa?” tanya Anna.
“Festival olahraga adalah festival yang diadakan oleh rakyat setiap tahun Yang Mulia. Sesuai namanya, akan ada beberapa olahraga yang dijadikan lomba seperti estafet air, menyelam, adu pedang dan adu monster sihir,” jelas Diego.
“Waahhhh, kalian mengikuti apa? Theo tidak turut serta dalam festival?” tanya Anna pada tiga orang yang tengah berdiri di depannya itu.
“Saya estafet air Yang Mulia,” jawab Diego.
“Saya menyelam,” jawab Julie.
“Saya memang tidak ingin turut serta Yang Mulia,” jawab Diego.
<“Waaaahhhhh…” ucap seorang kesatria pemula dan temannya yang sudah fokus pada Anna.Mereka berdua takjub melihat sang ratu. Anna mengeluarkan energi sihir berwarna emas yang sangat indah. Tak hanya mereka, Diego, Theodore dan Julie yang baru memasuki lapangan tak bisa berkata apa-apa.“Aaa… aaa... aku berhasil. Benarkah seperti ini?” tanya Anna yang sudah membuka mata. Dia terkejut melihat seluruh tubuhnya sudah dilapisi warna emas.“Benar Yang Mulia, anda berhasil,” ucap Theodore tersenyum.“Sekarang, coba anda fokus untuk berhenti mengalirkan energi sihirnya,” lanjut Theo.Anna pun coba fokus lagi untuk berhenti. Tak butuh waktu lama, energi sihir berwarna emas itu berhenti mengalir. Melihat warna emas yang sudah tak keluar, para kesatria yang lewat itu langsung buru-buru pergi.“Sekarang, tanpa bantuan saya, coba Yang Mulia latihan untuk mengeluarkan dan menghentikan alir
Alex yang penasaran langsung pergi menuju lapangan. Di sana, ternyata banyak kesatria yang menyaksikan Anna berlatih dengan Diego.“Mulaaaaiiii,” kata Julie memberi aba-aba.Diego dan Anna sama-sama mengeluarkan monster sihir mereka. Diego dengan naga coklat dan monster Anna persis seperti ilustrasi yang Theo berikan, ular berkepala lima. Dengan kekuatan sebesar itu, tentu saja Diego kalah telak.“Yeeaayyyy, aku menang lagi,” kata Anna dengan polos. Anna sama sekali tidak ada niatan untuk mengejek Diego. Anna selalu berpikir dia akan kalah karena dia pemula. Ketika menang, dia sangat senang.“Aku baru mengetahui ternyata istriku lumayan hebat untuk ukuran pemula,” kata Alex menghampiri istrinya.“Salam pada Yang Mulia Raja,” ucap semua orang yang ada di sana secara serempak.Alex pun mengangguk tanda salam sudah ia terima dan mereka bisa melanjutkan kegiatan masing-masing.“Suatu k
“Aaahhh benar juga, bukankah Marchioness Justin dan ratu Jasmine berteman akrab sejak dari akademi? Yang Mulia Alex juga sudah akrab dengan nona Daisy dari kecil,” ujar Marchioness Hanna Franken.Pertanyaan Marchioness Stevia Littern dan Hanna Franken itu berhasil membuat Anna sangat kesal. Siang ini, sudah banyak bangsawan yang datang sehingga Anna harus menyambut serta berkenalan dengan mereka.“Aaahhh, tidak sampai seperti itu. Memang benar kami bersahabat sejak masih di akademi, hanya saja memang untuk jodoh, kami serahkan pada anak kami masing-masing,” jawab Marchioness Justin sinis menoleh ke arah Anna.Anna benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Terlihat sekali bahwa dia tidak bisa menerima yang menjadi pendamping Alex bukanlah anaknya. Sementara Daisy Justin hanya tersenyum dan sesekali memandang Anna seperti sesuatu yang menjijikan.“Benar seperti kata ibu, kami memang akrab dan sudah seperti kakak adik. Namu
Aba-aba dari pembawa acara yang sangat kencang itu membuat Anna melepaskan pelukannya dari Alex. Dari semua peserta yang menyelam, pandangan Anna hanya berfokus pada dayangnya, Julie.“Waaahhhh, ternyata Julie hebat sekali,” kata Anna.Sekarang Julie berada di urutan kedua. Urutan pertama ditempati oleh pengawal pribadi putra mahkota kerajaan gurita, Leon. Festival olahraga ini tak hanya diikuti rakyat kerajaan naga. Bangsawan atau rakyat kerajaan lain selalu dipersilahkan untuk bergabung dalam festival ini.“Julie adalah salah satu kesatria terbaik di kerajaan kita,” bisik Alex.Istrinya yang belum selesai mengagumi labirin mirip sea world, kini dikejutkan dengan kemampuan dayang pribadinya. Otak Anna sedang tak diberi waktu untuk beristirahat."Julie adalah kesatria?" tanya Anna tak percaya."Tentu saja, apa kau pikir aku akan meletakkan orang-orang yang bahkan tak bisa melindungi istriku? Itu tidak akan te
Daisy Justin sudah memperhatikan pasangan suami istri itu sejak pagi tadi. Tentu saja, hanya rasa cemburu yang gadis itu dapatkan. Semua berawal dari peristiwa sarapan yang sangat Daisy benci.(Kilas Balik Sarapan)“Anda terlihat sangat bahagia pagi ini Yang Mulia,” kata Marchioness Justin pada Alex.“Apa terlihat sejelas itu?” tanya Alex sebelum meminum air putih.“Tentu saja, wajah anda tampak berseri-seri. Saya sampai bertanya-tanya apakah sebentar lagi akan ada hujan bunga,” canda Marchioness Justin.Mendengar candaan Marchioness, para bangsawan yang semula tak terlalu memperhatikan Alex pun menoleh ke arah raja naga.“Mungkin saja memang hujan bunga akan turun,” jawab Alex santai.Alex terus tersenyum dan menoleh ke arah istrinya. Jika saja senyum di bibir dapat melengkung tinggi hingga menggapai mata, bibir Alex pasti sudah menyentuh mata.“Sepertinya mereka berdua sed
“Ayoooo,” jawab Anna bersemangat.Anna pun melepaskan diri dari Alex. Dia juga menggandeng tangan suaminya tanpa malu."Sangat tidak baik untuk jantung jika Anna seperti ini setiap hari," batin Alex.Tempat untuk pertandingan adu sihir pemula dan estafet air ternyata sangat dekat. Anna merasa baru sebentar sekali berjalan, tiba-tiba mereka sudah berada di dalam lapangan tanding."Aku merasa seperti sedang berada di stadion bola," kata Anna sambil memperhatikan sekelilingnya.Lapangan ini terbilang cukup mirip dengan stadion bola meskipun terdapat perbedaan yang mencolok."Kau memang benar. Perbedaannya hanya terletak pada pasir dan kursi," ucap Alex.Di tengah lapangan tidak ada rumput, yang ada hanyalah pasir. Untuk penonton, tidak ada kursi, seluruh penonton akan menyaksikan pertandingan dengan tetap berdiri. Namun, sepertinya kursi tidak menjadi prioritas untuk kenayamanan atau apapun itu, terbukti dari orang-orang yang terus berdatangan sedari tadi."Kuat sekali," batin Anna."Ayo
Anna hanya bisa berteriak dengan kedua tangan menahan cahaya sihir yang datang untuk mengincar perutnya. Sejujurnya, Anna tidak tahu bagaimana cara menangkis serangan Daisy, monsternya sendiri masih terjebak.“Arrrggghhhhh!!” teriak Anna lagi. Anna benar-benar panik dan takut, serangan yang datang itu terasa sangat menyeramkan.Namun tanpa disangka-sangka, ularnya langsung bisa terlepas dari gurita dan langsung menangkis serangan Daisy.Tangkisan yang dilakukan ular menimbulkan angin yang sangat kencang sehingga Anna terdorong ke belakang.“Ck, sial, aku gagal,” gumam Daisy.Akan tetapi, melihat pandangan Anna yang tertutup oleh angin dan pasir membuat Daisy tersenyum manis.“Seranggg!!” teriak Daisy. Ini adalah kesempatan emas, Anna tak akan bisa berbuat apapun.Daisy pun kembali mengincar perut Anna. Dia menyerang Anna bertubi-tubi. Tak hanya perut, dia mengincar titik vital di tubuh Anna. Daisy b
"Annaaa!!!” teriak Alex panik. Pria itu pun menghentikan kudanya diikuti oleh pengawal dan dayang.“Uuuhhuuuukkkk... Uuuhhhuuukkkk…”Anna lanjut memuntahkan darah. Darah yang Anna keluarkan cukup banyak."Annaaaa!! Annaaaaa!!" teriak Alex panik sambil mengguncang badan istrinya. Setelah menyadari bahwa mengguncang tubuh istrinya itu tidak akan menghasilkan apapun, Alex meluruskan kembali niatnya untuk menuju istana. Anna harus segera mendapatkan perawatan.“Arrrggghhhh! Jalaaaannnnnn!!!” seru Alex memberi perintah pada kudanya.Alex yang panik itu melaju lebih cepat daripada tadi. Dia benar-benar berharap memiliki kemampuan untuk terbang agar bisa tiba di istana lebih cepat. Di belakang, Coutern dan Julie dengan sekuat tenaga mengikuti jejak raja mereka yang sudah melaju di luar batas normal.***“Raayyy… Raymooonnndddd!!!” teriak Alex kesetanan begitu sampai di ruang peraw
"Apa kita bisa mulai pengobatannya hari ini?" tanya Alex pada Nancy.Alex terlihat tidak sabar. Dia bahkan sempat berpikir apapun akan ia setujui asal Anna bisa segera sembuh."Tentu bisa, Yang Mulia," ucap Nancy sembari mengangguk.Anna pun menoleh pada Alex dan Nancy bergantian, "Apa yang harus kulakukan?""Anda harus bersemedi di kolam selama tiga jam setiap hari dimulai hari ini. Setelah itu, saya akan memeriksa anda terlebih dahulu sebelum anda bisa mulai beraktivitas seperti biasa, Yang Mulia," jelas Nancy singkat.Nancy Graham setiap hari akan mengunjungi mansion Hillary melalui portal. Alexander sudah berkoordinasi dengan Benjamin tentang penugasan penyihir portal kerajaan mereka."Semedi? Aku harus duduk bersila dan memejamkan mata?" batin Anna.Terlihat raut bingung di wajah pucat Anna."Bersemedi? Semedi seperti apa yang anda maksud? Di atas air? Atau aku harus menenggelamkan diri di dalam air?" tanya Anna.An
Para hiu langsung menghilang dan Anna langsung terbangun."Uwwaaahhhhhhh...""Haaaahhh....""Haaaahhhhh...'"Haaahhhhhhhh..."Nafas Anna terengah-engah dan kondisi Anna masih buruk seperti biasanya."Mimpi apa aku tadi.." gumam Anna berusaha mencerna situasi.Anna mengatur nafas dan berusaha mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya itu. Ia bisa mengingat sedikit mimpinya itu, hanya saja kepalanya terasa sangat sakit setiap kali coba untuk mengingat."Aku benar-benar bisa ambruk jika terus seperti ini," gumam Anna lagi.Anna merasa ada yang aneh itu meraba dahinya."Handuk basah? Pantas saja dahiku berat. Kurasa tubuhku sedikit lebih baik dari sebelum tidur.""Meski masih tetap saja sakit, cih..."Anna melirik sebelah tempat tidurnya yang kosong. Ia meraba bantal dan ranjang sedikit lama.Dingin.Bibir Anna mengerucut, "Apa dia tidak tidur di sini?"Anna yang merasa kecewa lan
"Anda benar, Grand Duke. Saya akan memulai pengobatan tahap pertama dengan menenggelamkan Yang Mulia Ratu selama tiga jam. Di malam hari, kita akan memberi beliau handuk air seperti ini. Hanya saja, saya masih tak yakin dengan kutukan mimpi buruk ini. Setidaknya, saya harus membuat pikiran Yang Mulia Ratu tenang dulu dengan membuat beliau bisa dengan sadar membedakan mimpi dan kenyataan," jelas Nancy panjang lebar.Nancy Graham sangat khawatir dengan kutukan mimpi buruk Anna. Belum ada catatan yang menunjukkan cara sembuh dari kutukan ini sebelumnya.Meskipun air bisa menjadi obat, sampai kapan Anna harus tenggelam dalam air?Satu tahun? Tiga tahun? Apakah benar-benar bisa diobati? Ataukah Yang Mulia Ratu kalah dan mengambil nyawanya sendiri lebih dulu sebelum bisa sembuh?Banyak kemungkinan yang muncul dalam kepala Nancy."Meski mendapat hasil yang jauh lebih lambat, semua penyakit yang ada bangsa kita bisa disembuhkan dengan air. Mengapa aku bisa
"Selamat datang, kepala akademi," ucap Alexander menyambut Nancy.Sementara Nancy, Raymond dan Aslan langsung bungkuk untuk memberi hormat pada Alexander dan Noah."Hormat pada Yang Mulia Raja dan Grand Duke Hillary," ucap Nancy menundukkan kepalanya.Wanita itu sudah tidak bisa membungkuk seperti yang lain dikarenakan kondisi tubuhnya yang sudah tidak memungkinkan."Terima kasih sudah datang dan silahkan duduk," ucap Noah."Saya permisi Yang Mulia, Grand Duke," ucap Aslan pamit keluar.Alex hanya mengangguk dan mempersilahkan Nancy untuk duduk. Raymond sendiri langsung mengambil posisi berdiri di belakang Nancy.Nancy Graham memperhatikan dua pria yang sedang duduk di hadapannya ini."Meski jangka hidup bangsa kita cukup panjang, ternyata waktu cukup cepat berlalu," ucap Nancy.Bagi Nancy, Noah dan Alexander hanyalah dua pria muda nakal yang hobi membuat onar. Dua pembuat onar itu sudah menjadi resmi mengambil peran pen
"Sekarang sudah waktunya kau kembali ke dunia," ujar Cynthia."Tidakkk! Kau masih belum memberitahuku!"Raut wajah Cynthia menunjukkan kekecewaan. Bola mata wanita itu seolah menjelaskan betapa sakit yang ia rasakan."Jangan membunuh lagi dan hiduplah menjadi raja yang bijaksana. Lalu, jangan pernah berpikiran untuk merebut ratu naga. Kuperingatkan kau, naga yang kehilangan pasangannya itu akan menjadi sangat mengerikan!" teriak wanita itu."Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana Alexander von Pieterburg menjadi lebih buruk dari seorang psikopat," ujar Cynthia lirih.Konon katanya, kau bisa melihat segalanya saat kau sudah tidak lagi hidup di dunia. Cynthia percaya itu. Dia bahkan bisa melihat betapa gelapnya hati Alexander saat melihat sang istri terluka.Kegelapan bisa menelan Alexander kapan saja. Cynthia enggan membayangkan apa yang akan terjadi jika adik bodohnya itu mencari gara-gara lagi.Cynthia pun menyihir Steven untuk kembali ke dunianya."Tidakkk! Tidaaakkk! Tungguuuuu
"Kau nyaris mati, bodoh!" umpat Cynthia.Cynthia menatap adiknya seolah meminta penjelasan."Untuk apa kau menatapku seperti itu? Kau harus menjawab pertanyaanku, bukan meminta penjelasan padaku," ujar Steven kesal."Cih..."Cynthia menggelengkan kepalanya. Apakah adik bodohnya ini tidak pernah merasa bersalah? Atau otaknya sudah menyusut karena perlahan dikonsumsi sihir hitam?"Coba kau ingat lagi apa yang sedang kau lakukan sebelum tidak sadarkan diri?""Menyerang dunia manusia," jawab Steven kesal.Kapan pertanyaan Steven akan terjawab?"Berarti kau juga ingat bahwa kau terluka dan muntah darah akibat terlalu banyak membantai manusia?" tanya Cynthia lagi.Wajah yang semula tertekuk kesal itu berubah menjadi sendu. Sejujurnya Steven sendiri merasa sakit dan tersiksa saat itu."Di saat itu, kau nyaris kehilangan nyawamu. Sehebat apapun para dokter kerajaan kita, mereka tidak akan bisa melawan aturan yang sudah di
"Aku benar-benar tidak habis pikir bisa memiliki adik yang sangat tolol seperti mu.""Arrrgggghhhhh, stop Tiaaaa!!" teriak Steven dalam hati.Steven benar-benar sangat kesal. Ditambah, dia sendiri tidak bisa membalas kakaknya.Setelah puas berteriak, Cynthia menarik Steven kembali ke ruangan serba putih.Kondisi ruangan ini sangat mengerikan, benar-benar berantakan seperti lokasi konstruksi.Cynthia kemudian memandang adiknya itu dengan tatapan jijik."Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanya Steven dalam hatinya. Steven yang kesal itu tercermin dari matanya yang kini sedang melotot."Cih... Kau benar-benar tak berhak untuk kesal padaku. Bola matamu nyaris keluar," gerutu Cynthia.Lalu, jari tangan kanan Cynthia membentuk angka satu. Cahaya putih keluar dari jari telunjuknya. Perlahan, lokasi konstruksi itu berubah menjadi bangunan utuh.Kini, jari Cynthia tertuju pada Steven. Cynthia benar-benar menyihir adiknya.
"Hikksss.... hikkksss... hiikkkssss..."Terlihat seorang gadis berambut panjang sedang meringkuk dan menangis. Rambut yang lurus dan halus itu tergerai dengan indah hingga menutupi wajah sang pemilik."Tempat apa ini? Aku di mana?" batin Steven.Saat membuka mata, Steven hanya melihat gadis ini menangis tersedu-sedu di sebelahnya. Steven juga tidak bisa menebak di mana ia berada saat ini. Ruangan ini hanya dipenuhi cahaya dan berhiaskan putih.Lantai tempat ia dibaringkan, dinding yang bisa dijangkau mata, putih.Langit-langit dan entah apa lagi yang ada di sana, tak bisa Steven deskripsikan. Pria itu hanya bisa melihat cahaya."Apa aku sudah tiada? Aku benar-benar mati semudah ini?" batin Steven.Steven pun menoleh pada gadis cengeng ini."Aaa.... Aaa...."Suara Steven tertahan. Ia tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Steven pun berusaha meraih gadis di sebelahnya untuk meminta bantuan.Nihil!Steven juga tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya."Kenapa ini? Apa yang terjadi p
Alex tahu bahwa ini adalah pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi dia sendiri pun frustasi. Pria itu tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya.Raymond belum kembali. Anna juga tak kunjung membaik."Tidak," jawab Anna pelan.Alex memegang tangan Anna dan mengarahkan tangan sang istri untuk menyentuh pipinya.Air mata perlahan keluar dari ujung mata pria itu.Anna sendiri pun turut menangis. Rasanya sakit sekali melihat Alex meneteskan air mata."Sayang, apa kau benar baik-baik saja?" tanya Alex perlahan.Kepala Anna seketika pusing. Ingatan saat dicambuk Steven langsung kembali merasuki dirinya dengan cepat."Pusing sekali," batin Anna.Wanita itu langsung merinding, bahkan seluruh indra yang ada di tubuhnya masih mengingat dengan jelas penderitaan yang disebabkan Steven von McWheel."Sakit..." gumam Anna."Sakit...""Sakit...""Sakit...""Sakit..."Anna terus bergumam sak