Share

Tersinggung

Author: Queeny
last update Last Updated: 2021-02-12 19:14:18

"Mau kemana?" tanya Dewa saat melihat istrinya sudah berganti pakaian.

"Mau ke pasar. Beli sayur. Di kulkas cuma ada lauk," jawab Dara.

"Mas anter, ya."

"Gak usah. Aku sama bibik. Cia juga mau ikut."

"Cia gak usah pergi. Kan baru sembuh. Kamu sama bibik aja berdua," cegah Dewa.

"Kasian, Mas. Lagian aku cuma bentar. Dapat yang dicari langsung pulang," pinta Dara.

Tak tega dia melihat anak itu saat memohon tadi. Dara juga sebenarnya sudah menolak halus, tapi Ciara merajuk dan menekuk bibir. Akhirnya dia luluh dan mengizinkan. 

"Jadi mas sendirian di rumah?"

"Kami sebentar aja, kok. Itu di kulkas isinya makanan instan semua. Masa Cia makannya nugget sama sosis terus. Kurang bagus untuk pertumbuhan," jelasnya.

Makanan siap saji memang disukai anak-anak dan praktis. Namun, jika dikonsumsi terlalu berlebihan tidak bagus juga buat kesehatan.

"Siap Bu Guru."

"Kalau gitu aku jalan dulu," pamitnya.

"Kalian naik apa?"

"Pake motor. Aku pinjem, ya." Dia mengambil dompet kecil dan menyelipkan di saku celana.

Dewa membuka dompet, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya kepada istrinya.

"Buat kamu belanja."

Wanita itu mengambil dengan ragu-ragu lalu memasukkannya ke dalam dompet.

"Makasih, Mas."

"Beli apa aja yang kalian suka. Kalau aku apa aja doyan," lanjut Dewa.

Dara tersentak untuk beberapa saat. Pantas saja Laura sangat sayang kepada Dewa. Lelaki ini sungguh baik hati dan bertanggung jawab.

Apakah dia beruntung bersuamikan Dewa sekalipun pernikahan ini hanya sandiwara?

"Iya. Aku pergi dulu," katanya berpamitan.

Dewa mengulurkan tangan. Dara terdiam lalu meraih lengan lelaki itu dan mencium punggung tangannya.

"Tanda bakti kepada suami," kata-kata ibunya masih terngiang.

"Hati-hati. Nanti mas transfer uang bulanan." Lelaki itu mengambilkan kunci motor. 

"Buat apa?" Dara menerimanya lalu menyelipkan di saku sebelahnya. 

"Buat jajan kamu."

"Gak usah, Mas. Kita kan cuma pura-pura."

Ucapan Dara membuat Dewa terdiam. Entah mengapa dia tak ingin pernikahan ini hanya sebatas status. 

Lelaki itu berharap mereka bisa menjalani kehidupan normal seperti pasangan yang lain. Apalagi melihat Dara yang cukup telaten mengurus putrinya, walaupun tak sama seperti Laura dulu. 

"Kamu istri mas. Sudah kewajiban mas buat nafkahin," ucap lelaki itu dengan tenang.

"Tapi aku gak enak. Aku sendiri juga gak bisa ngurusin mas kayak istri yang lain," kata Dara.

Dewa tahu apa maksud dari ucapan istrinya tadi.

"Itu udah jadi kesepakatan kita di awal, kan?"

"Iya."

"Tapi kalau mas mau dikasih juga boleh," jawabnya sambil menatap istrinya lekat.

Deg!

Jantung wanita itu berdetak hebat. Jika menyinggung soal ini, lebih baik dia berpura-pura tak mengerti.

Dara balas menatap suaminya dengan hati yang gamang, lagi-lagi mengabaikan apa yang diucapkan Dewa. Dia tak mau membahas itu lebih lanjut. 

"Aku pergi dulu. Kalau kesiangan, sayur segarnya pada habis."

Dia berjalan keluar dan mendapati Ciara sudah menunggu di depan dengan bibik. Anak itu asyik bercerita sementara si bibik mendengarkannya sambil ikut berkomentar.

Melihat Dara muncul, matanya berbinar senang.

"Mama. Ayo kita pergi sekarang." Ciara memeluk dengan manja. 

Wanita itu membalas pelukan putrinya dengan menggendong tubuh mungilnya dan mendudukkan di motor.

Ciara besorak kegirangan karena mendapatkan perlakuan seperti itu. Ternyata Dara pandai juga membujuk anak-anak.

Begitu semua sudah siap, Dara menghidupkan mesin dan membawa motor dengan pelan. 

Si bibik yang memberitahukan arah karena dia belum begitu hafal dengan daerah perumahan sekitar sini. 

Tanpa mereka sadari, sejak berangkat tadi, diam-diam Dewa mengintip dari balik jendela dan mengulum senyum.

***

Tergesa-gesa, mereka memasuki rumah. Ciara tampak terbaring lemah di dalam gendongan Dara sementara bibik membawa barang belanjaan ke belakang. 

"Cia kenapa?" tanya Dewa saat melihat tubuh putrinya diletakkan di ranjang. 

Wajah si mungil itu pucat dengan bibir gemetaran. 

"Badannya panas," jawab Dara. 

"Kok bisa? Tadi pas pergi baik-baik aja?"

"Mungkin kecapean, Mas." jawab Dara. 

Dengan cekatan dia membuka baju Ciara dan menggantikannya. Dara juga mengambil termometer dan terkejut saat melihat suhunya, 39 derajat.

"Aduh panas banget," lirihnya. 

"Tadi kan aku udah bilang, dia gak usah dibawa. Kamu gak mau dengerin," tegur Dewa.

Dara menoleh ke arah suaminya dan kembali mengurus Ciara.

"Lain kali dengerin. Kayak Laura itu nurut sama aku," lanjut Dewa sambil memandang putrinya dengan cemas.

Hati Dara bergolak mendengarnya. Kenapa mereka harus dibandingkan? 

"Kalau belum reda juga, nanti kita bawa ke dokter anak."

Lagi-lagi Dara tak menangapi. 

"Permisi, Nyonya. Ini obatnya." Tiba-tiba bibik datang dan membawakan sebotol paracetamol sirup juga segelas air.

Dengan sabar Dara membantu Ciara duduk untuk meminum obatnya. 

"Anak pintar," Dara mengusap kepala putrinya dengan lembut. 

"Papa." Ciara memeluk Dewa dengan erat, yang dibalas dengan pelukan hangat. 

"Cia kan baru sembuh. Terus habis jadi pengantin sama mama papa. Jadinya masih capek. Harusnya gak usah keluar dulu. Di rumah aja." Nasihat Dewa. 

Memberikan pengertian kepada anak-anak memang gampang-gampang susah. Tapi jika sabar, maka mereka akan mengerti. 

"Huum," jawab gadis itu. Dia menatap mama papanya secara bergantian dengan perasaan bersalah. 

"Cia tidur dulu sekarang. Nanti bibik bikinkan bubur. Sementara main di rumah dulu. Nanti kalau udah sehat lagi kita jalan-jalan," bujuk Dara.

Gadis kecil itu mengangguk lalu kembali berbaring dan memejamkan mata. 

"Makasih ya," ucap Dewa tulus namun Dara susah terlanjur tersinggung karena ucapannya tadi.

Tanpa menoleh dia langsung keluar membantu bibik memasak di dapur. 

Lelaki itu bertanya dalam hati apa yang tadi telah diucapkannya sehingga raut wajah istrinya berubah seperti itu. 

Lalu dia teringat, tadi sempat menyebut nama Laura dan mungkin itu penyebabnya. 

Hingga Ciara tertidur, Dewa masih berada di kamar putrinya. Saat melihat Dara masuk ke kamar, dia segera menyusul.

"Kamu masak apa?" Basa-basi karena Dewa tahu harus berkata apa. 

"Liat aja nanti di dapur. Bentar lagi masak." Dara hendak keluar kamar saat tangannya dicekal lembut.

"Kamu marah?"

"Marah kenapa?"

"Kata-kata aku tadi."

"Yang mana?"

"Maaf aku gak bermaksud bandingin kamu sama dia." Dewa tak mau menyebut nama Laura lagi di depan Dara.

Sekalipun mereka bersaudara kandung, wanita memang tak suka jika dibandingkan dengan yang lain.

"Aku mau lanjut masak dulu."

"Yaudah, aku juga mau ngeliat email," kata Dewa.

"Oh iya, Mas. Malam ini aku tidur di kamar Cia. Takut badannya panas lagi."

Dara membuka pintu dan menghilang dari pandangan. Meninggalkan Dewa yang speechless dengan apa yang baru saja didengarnya. 

Related chapters

  • Pengantin Pengganti   Misi

    Sudah satu minggu mereka menikah, dan selama itu juga Dara berada di kamar Ciara. Alasan Dara tetap sama, kasihan putrinya jika tidur sendirian sekalipun sudah sembuh.Itu membuat Dewa diam-diam menyimpan rasa kesal. Putrinya juga sama, lebih senang ditemani oleh Dara dari pada dirinya.Sudah satu minggu ini juga Dara mempelajari kebiasaan keluarga ini. Dari Dewa yang suka menyimpan handuk basah di kasur, meletakkan tas kerja atau ponsel di sembarang tempat, juga menarik baju sembarangan dari lemari.Ah, rasanya semua laki-laki memang begitu.Satu lagi, Ciara terlalu dituruti semua keinginannya sehingga anak itu sangat manja. Apa pun yang ingin dia minta untuk jajan, maka Dewa akan langsung membelikan, tak peduli itu baik untuk kesehatan atau tidak.Alhasil, hari ini anak itu mengeluh sakit gigi."Tadi beli apa waktu jalan sama papa?"Ciara memandang Dara deng

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Tak Disangka

    Sepanjang perjalanan menuju dokter gigi semua terdiam. Dara memilih duduk di kursi belakang, sementara Ciara duduk di depan bersama Dewa.Anak itu tidak mau dipangku. Katanya dia sudah besar, walaupun sikapnya masih manja sekali.Berkali-kali Dewa melirik istrinya melalui kaca spion dan mendapati Dara sedang melamun dengan pandangan menatap keluar.Tadi saat di mencuri ciuman, wanita itu terdiam sesaat, kemudian mendorong tubuhnya pelan. Lalu Dara keluar kamar begitu saja tanpa berucap sepatah katapun. Itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati.Apa istrinya marah atau bagaimana? Wajah Dara tanpa ekspresi sama sekali. Dia juga hanya menyentuh sedikit dan belum punya nyali untuk melanjutkan.Dewa mengusap bibir dengan jari saat teringat akan kejadian tadi. Senyumnya melengkung indah sejak awal berangkat hingga sekarang.Tiba di tempat praktek, dia sibuk mencari tempat

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Penolakan

    Dara mundur ke belakang saat Dewa semakin mendekat. Posisinya terpojok di dinding dan tak bisa bergerak ke arah manapun."Mas udah janji!" teriak Dara."Iya benar. Tapi apa salahnya? Kita udah halal."Wanita itu menggeleng. Dengan bibir gemetaran dia berucap, "Kita udah sepakat. Apa mas mau memanfaatkan aku?"Dewa terdiam lalu tersenyum pahit. Mereka berdiri berhadapan dan saling menatap."Aku udah ngorbanin diri demi kebahagiaan Cia. Kenapa mas menuntut sesuatu yang udah kita bicarakan sejak awal. Kalau tau jadinya begini, lebih baik gak usah!" ucapnya lagi.Dewa tersentak. Ucapan Dara tadi benar-benar menohok hatinya. Dia tak membalas apa pun. Wanita jika sedang marah memang lebih baik didiamkan hingga reda dengan sendirinya."Mulai sekarang aku pindah ke kamar Cia."Dara mengambil buku-buku yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam tas

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Wejangan

    Gadis kecil itu menunggu dengan gelisah tapi mamanya belum datang."Cia belum dijemput?" tanya salah seorang guru saat melihat salah satu muridnya itu masih berada di kelas. Dia masih memeriksa pekerjaan rumah sehingga belum pulang."Mama belum datang.""Katanya tadi gimana?""Tunggu sampai mama datang.""Kalau gitu kita tunggu. Ibu temani."Ciara membuka kotak bekal yang tadi disiapkan bibik. Sebagian sudah habis, yang tersisa hanya sandwich isi ayam."Ibu mau?""Gak usah. Kamu makan aja."Ciara langsung melahapnya dan meminum air putih. Dia jarang jajan di kantin, hanya sesekali. Itu sudah dibiasakan sejak pertama kali masuk sekolah saat masih ada Laura."Maaf mama telat, ya." Dara tergesa-gesa masuk ke kelas, karena sempat tersasar ruangan."Ayok pulang, Ma. Katanya mau ke rumah nenek

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Ikhlas

    Dewa berjalan mendekati istrinya yang masih termenung di depan lemari. Sengaja dia berdiri di belakang wanita itu."Yang mas transfer tadi udah masuk?" bisiknya lembut. Kedua tangannya memegang bahu Dara dengan lembut."U-dah, Mas. Makasih," jawab Dara gugup."Dipakai buat apa?" tanya Dewa berbasa-basi.Sebenarnya dia tak terlalu mempermasalahkan untuk apa uangnya digunakan. Bagi Dewa, nafkah yang sudah diberikan itu hak istri sepenuhnya. Terserah Dara mengaturnya."Traktir Riri makan siang, sama ngasih Ibu dikit. Nanti weekend mau ajak Cia jalan," jawab Dara gugup. Tangannya gemetaran sejak tadi.Jangan tanya degup jantung, serasa hendak melompat keluar karena detaknya begitu kencang."Siapa Riri?" tanya Dewa lagi. Kali ini dia maju selangkah dan mereka sudah tak berjarak."Sahabat aku di sekolah."

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Cemburu

    "Kak. Jaga Dewa untukku."Dara terbangun saat merasakan ada tepukan di pipi. Matanya mengerjap berkali-kali dan melihat sosok Riri sedang menatapnya."Kamu demam, Ra. Ayo aku antar pulang. Sekolah udah sepi.""Memangnya ini jam berapa?""Jam 4.""Astagfirullah. Aku gak ikut pertemuan jadinya.""Tadi udah dibilangin kamu lagi sakit. Jadinya gak apa-apa.""Syukurlah.""Kamu abis ngapain sampai sakit gini? Di rumah disuruh nguras bak mandi?" tanya Riri. Dia membantu Dara duduk karena sahabatnya itu terlihat lemas sekali."Kecapean kali ini. Soalnya Cia sama Mas Dewa sempat sakit. Jadinya aku ngurusin mereka berdua," elak Dara. Tak mungkin juga mengatakan yang sebenarnya kepada Riri."Kamu izin aja kalau emang gak sanggup kerja. Daripada drop begini."Dara mencoba berdiri. "Aduh." Wanita itu meras

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Positif

    Bunyi muntahan terdengar dari kamar mandi. Dewa yang terlelap langsung membuka mata dan duduk bersandar di head board ranjang. Hari masih gelap dan dia masih mengantuk. Nyawanya masih setengah terkumpul dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.Dia berjalan menuju kamar mandi saat suara muntahan terdengar lagi. Begitu pintunya terbuka, tampaklah Dara sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya. Satu tangan istrinya berpengangan di pinggiran wastafel dengan keran air yang mengucur deras.Refleks dia membantu memijat tengkuk dan bahu istrinya. Dara sendiri terlihat lemah dengan wajah pucat dan napas yang tidak teratur."Kamu kenapa?""Gak tau. Bangun tidur perut aku kembung terus mual banget," jawab wanita itu sambil memijat dahi yang berdenyut sejak tadi."Cuci muka dulu biar seger. Aku bikinkan teh hangat," kata Dewa mengambilkan handuk kecil untuk istrinya.Dara mengambil handuk itu dan membasuh mukanya. Rasa

    Last Updated : 2021-02-12
  • Pengantin Pengganti   Ibu

    Sudah dua minggu ini Dara terbaring lemas. Jangankan berjalan, bangun dari tempat tidur pun dia tak mampu. Tubuhnya limbung setiap kali hendak berdiri.Hyperemesis, itulah diagnosa yang diberikan dokter kandungan kepadanya. Mual, muntah, tekanan darah rendah, yang dialaminya sekarang semakin hari semakin menghebat. Ditambah dengan mimisan dan sariawan yang datang bergantian membuatnya ingin menyerah."Mas ....""Sabar, ya," bujuk Dewa."Aku gak sanggup," keluh Dara. Entah mengapa rasanya dia ingin mati saja."Gak boleh bilang gitu." Lelaki itu mengusap kepala istrinya dengan sayang."Sampai kapan?""Kata dokter kan tiga bulan pertama. Jadi sebentar lagi.""Ibu mana, Mas?""Masih di jalan," jawab Dewa."Suruh cepatan. Aku gak kuat.""Sini mas pijet.""Gak mau. Mas mijetnya gak ikhlas."Dewa mengusap dada. Selama hamil, sikap Dara berubah seratus delapan puluh derajat. Semua yang dilakukannya sel

    Last Updated : 2021-02-12

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti   Harapan Baru (Ending)

    Dara mengernyitkan dahi ketika mobil Dewa berbelok ke arah rumah. Tadinya, dia berpikir kalau mereka akan menjemput anak-anak setelah acara akad nikah Riri. "Kita gak jemput anak-anak, Mas?" tanya wanita itu heran. Dewa menjawab pertanyaan istrinya dengan gelengan dan bersiul sembari menyetir. Lelaki itu sudah mengatakan kepada mamanya bahwa mereka akan datang ke sana setelah Magrib. Jadi, masih ada beberapa jam untuk bisa berduaan. "Kasihan Sarah, Mas. Nanti dia cari aku," ucap Dara. Setiap ada undangan pernikahan, mereka memang jarang membawa anak-anak. Namun, Dara juga tak akan pergi lama. Setelah acara selesai dia akan menjemput mereka. "Mas kenapa, sih? Kok aneh?" tanya Dara saat mobil sudah terparkir di halaman rumah. Dewa menarik lengan istrinya saat mereka akan masuk. Suasana sepi siang ini karena tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di sekitaran komplek. Apalagi cuaca agak mendung, sehingga membuat

  • Pengantin Pengganti   Riri dan Radit

    Dara menuntun Riri memasuki ruangan itu. Sahabatnya itu adalah anak tunggal sehingga hanya dia sendiri yang mendampingi. Ada sepupu dan keponakan, tetapi justeru dia yang dipilih. Acara pertunangan ini mirip dengan yang biasa dilakukan oleh para artis di televisi. Hanya saja dibatasi dan dihadiri oleh keluarga. Namun, dekorasi yang mewah sudah menjawab bahwa Radit tak main-main dalam mempersiapkan masa depannya. Seserahan yang dibawa dari pihak laki-laki cukup banyak. Dara sampai tertegun saat melihat isinya. Apalagi ketika Riri memperlihatkan cincin berlian yang dibeli Radit untuknya. "Radit royal banget ya, Ra. Aku tegur dia biar gak terlalu berlebihan," curhat Riri sehari sebelum acara dilangsungkan. "Ya gak apa-apa. Kan buat istri sendiri. Lagian dia memang udah mapan. Udah punya rumah sendiri. Nanti habis nikahan bisa langsung kamu tempati. Kayak aku sama Mas Dewa dulu.

  • Pengantin Pengganti   Hari Bahagia Untuk Keysa

    Satu minggu kemudian. Suasana di ballroom hotel itu begitu meriah. Setiap sudut ruangannya berhiaskan bunga-bunga, juga penggung tempat kedua mempelai bersanding. Berbagai lampu kristal menhiasi setiap sudut ruangan. Dekorasi yang begitu mewah menandakan bahwa yang mempunyai acara adalah keluarga terpandang. Apalagi saat melihat sajian dan souvenir untuk para tamu. Juga bagusnya pakaian yang dikenakan oleh para bridesmaid dan groomsmen. Keysa tampak anggun dengan gaun pengantin putih rancangan seorang designer terkenal. Sebuah mahkota bertahtakan berlian tersemat di kepalanya. William memesan itu sebagai tanda bahwa wanita itu adalah ratu di hati dan hidupnya. Keysa menyambut para tamu dengan antusias sekalipun perutnya begitu kentara terlihat. Wanita itu tampak santai, begitu pula dengan keluarganya. Bahkan William kerap mengusap perut istrinya selama acara berlangsung. William terlihat begitu gagah dengan jas hitam ya

  • Pengantin Pengganti   Pilihan

    Dara menatap wajah Dewa dengan gamang. Ucapan suaminya tadi cukup membuat hatinya galau setengah mati. Jika dia mengiyakan penawaran itu, maka mereka akan memulai hidup baru di kota lain. Bukannya Dara tak mau mengikuti Dewa bertugas dan mengabdi sebagai istri yang taat. Hanya saja beradaptasi dengan lingkungan baru itu cukup melelahkan. Apalagi Sarah masih kecil. Sekolah Ciara juga harus pindah jika sampai itu terjadi. "Ini kesempatan emas buat kita. Kalau menjadi kepala cabang, tentunya penghasilan aku bakalan lebih besar. Jadi kalian bisa lebih sejahtera," bujuk Dewa lembut. Dara masih menatap suaminya dengan perasaan tak menentu. Istri mana yang tidak tergiur jika dijanjikan kemewahan dunia. Namun, hatinya masih bimbang. Dewa yang melihat Dara tampak meragu, akhirnya memilih untuk mengalah dan tak mau memaksakan kehendak. "Tapi tentunya kalau kamu setuju. Kalau gak mau, aku ikhlas walau cuma jadi manager di sini,"

  • Pengantin Pengganti   Ketegasan Hati

    Sebuah panggilan membuat Dewa menoleh. Tampak sosok Keysa, dengan perut yang terlihat membulat, berjalan agak cepat untuk menghampirinya."Wa!""Ada apa?" tanya lelaki itu malas. Dia sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh Keysa."Kamu udah lunch?"Dewa membuang pandangan karena kesal. Hampir setiap hari Keysa datang dan mengajaknya makan siang. Hal itu membuatnya malas karena tak enak hati kepada William. Lelaki itu pastilah menyimpan rasa cemburu karena calon istrinya berduaan dengan lelaki lain.Hanya saja Dewa belum tahu apa yang harus dilakukan untuk menolak keinginan Keysa. Jika dia bersikap kasar, dikhawatirkan akan berdampak pada pekerjaan."Udah," jawab Dewa berbohong. Padahal dia baru saja akan makan di ruangan, karena hari ini memesan secara online."Yah, aku telat, dong!"Raut wajah Keysa berubah kecewa. Sekalipun begitu, wanita itu tetap terlihat cantik. Kehamilan membuat tubu

  • Pengantin Pengganti   Lamaran

    Radit menggosok tangan karena gugup. Sementara itu kedua orang tuanya malah tersenyum geli. Hari ini mereka akan melamar Riri, berdasarkan musyawarah kedua belah pihak. Acaranya tidak formal, hanya pertemuan dua keluarga inti. Nanti jika mereka mencapai kesepakatan, baru akan diadakan acara pertunangan yang melibatkan keluarga besar."Ayo pencet belnya. Masa' gitu aja takut," ucap papanya.Radit menarik napas panjang untuk mengurangi rasa gelisah. Lelaki itu menatap mamanya berulang kali untuk meminta kekuatan."Anak mama ini. Ngobatin gigi yang parah aja berani, masa mau ke rumah calon mertua takut," ledek mamanya.Radit kembali hendak menekan bel ketika tiba-tiba saja pintu rumah terbuka. Hal itu membuatnya terkejut dan hampir berteriak. Sosok Riri yang berbalut gamis muncul menyambutnya."Eh, calon istri," ucapnya spontan.Semua orang tergelak mendengar ucapannya. Lalu, Radit langsung membuang pandangan dengan wajah mero

  • Pengantin Pengganti   Feeling

    Riri tertegun saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Gadis itu mengusap dada karena tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.'Hari Minggu nanti Mama sama Papa aku aku mau datang ke sini. Apa boleh kami ke rumah kamu?'Radit mengirim pesan itu satu jam lalu dan Riri belum sempat membalas. Gadis itu masih mengajar hingga siang hingga tak sempat menyentuh ponsel. Ketika jam istirahat tiba, dia langsung membaca kotak masuk dan terkejut membacanya.'Oke.'Hanya itu yang Riri ketikkan saat membalas. Dia kelaparan karena tadi pagi hanya sarapan sedikit. Gadis itu bergegas ke kantin dan memesan semangkuk bakso sebagai pengganjal perut."Sendirian, Neng?"Sebuah suara mengejutkan Riri. Gadis itu menoleh dan mendapati Dara sedang menghampirinya."Loh, kamu kok ke sini?""Kangen sekolah. Kangen mie ayamnya."Riri menggeser posisi dan membiarkan Dara duduk di sebelahnya. Gadis itu melambaikan tangan ke

  • Pengantin Pengganti   Perjuangan Riri

    Riri menepikan motor di parkiran rumah sakit dan membuka jaketnya. Cuaca cukup dingin pagi ini. Dia tidak mengajar karena ini hari Sabtu. Wanita itu ingin bertemu dengan kekasihnya. Sudah lama mereka lost contact. Sejak keberangkatan Radit untuk mengikuti seminar, lelaki itu seperti hilang ditelan bumi.Padahal Radit berjanji akan melamarnya sepulang dari luar kota. Riri menunggu dengan sabar. Sayangnya, entah mengapa lelaki itu sulit dihubungi."Poli gigi di mana ya?" tanya Riri kepada salah satu petugas resepsionis yang berjaga di depan."Mbak sudah daftar?""Saya bukan pasien. Saya mau ketemu Dr. Radit," jawabnya dengan yakin.Resepsionis itu memandang Riri dengan lekat seolah-olah mencari tahu identitasnya. Radit adalah salah satu dokter favorit di rumah sakit ini. Selain berwajah tampan, lelaki itu juga ramah kepada karyawan lain dan pasien.Status Radit yang masih lajang juga menambah nilai plus, sehingga banyak

  • Pengantin Pengganti   Keysa Berulah

    Kantor pagi itu terlihat lebih meriah dari biasanya. Seluruh ruangan tertata rapi dengan tambahan beberapa perabotan baru. Para karyawan berpenampilan terbaik hari ini karena pemilik perusahaan akan berkunjung. Ada banner ucapan selamat datang di depan pintu masuk. Nama William tertulis besar sebagai penghormatan. Sepasang kekasih itu turun dari mobil sembari bergandengan tangan. Mereka saling bertatapan mesra dan tersenyum senang. Keysa tampak semakin cantik karena tubuhnya terlihat lebih berisi. Perutnya memang membuncit karena ada janin yang sedang bersemayam di dalamnya. "Kenapa aku harus ikut ke kantor?" bisik Keysa ketika beberapa orang menghampiri mereka. "Karena aku ingin memperkenalkan kamu kepada semua karyawanku," jawab William dengan bahasa yang kaku. Sejak Keysa menyetujui perjodohan mereka, William mulai mempelajari banyak hal mengenai Indonesia. Dia mulai mencicipi berbagai menu khas daerah, juga belajar

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status