Dalam momen yang menegangkan ini, situasi semakin memanas ketika beberapa anak murid dari Soa Hu Pai tiba-tiba melakukan serangan. Dengan penuh amarah karena merasa dilangkahi oleh orang-orang yang baru datang ini, maka mereka langsung melakukan jalan kekerasan.Mereka merasa bahwa serangan ini adalah cara untuk memastikan prioritas mereka guna mendapatkan pengobatan.Serangan ini memecah suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh perdebatan dan ketegangan. Langkah-langkah mereka yang cepat dan gerakan ilmu silat yang tajam itu, menciptakan suasana kacau. Teriakan, serangan, dan suara benturan memenuhi udara hutan yang sebelumnya hening.Di tengah keributan, tiga orang yang membawa tandu tetap tenang dan tegar di tempat mereka. Seakan-akan mereka memahami peran mereka bukan untuk terlibat dalam pertempuran, melainkan untuk menjaga sesuatu yang lebih penting. Hanya salah satu dari mereka yang dengan perlahan melangkah maju, menghadapi serangan yang datang dari anak-anak murid Soa Hu Pai
Ketua Soa Hu Pai kini menghormati Pria dan wanita tua yang sebelumnya berada di belakang para pemikul tandu. Ternyata pria tua itu adalah Buyung Siu, Ketua Tai Bong Pai dan istrinya yang berdarah Korea yang bernama Kang Yu Si. Ketua Soa Hu Pai mempersilakan supaya anak dari Buyung Siu yang sekarang ini mendapatkan pengobatan dibanding anak murid Soa Hu Pai lainnya. Dia mengalah pada Tai Bong Pai.Anak murid Soa Hu pai agak kecewa. Tapi karena yang bertitah adalah ketua mereka, maka, mereka tidak bisa membantah.Dalam keadaan ini, kedamaian yang mulai mengalir kembali, Ketua Soa Hu Pai merasakan bahwa saatnya untuk menghormati dan mengakui kebijaksanaan yang hadir. Dengan langkah yang tegap, ia mendekati dua sosok tua yang sebelumnya berdiri di belakang para pemikul tandu. Mata mereka dipenuhi dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah bertahun-tahun mengalir dalam aliran ilmu silat dan kebijaksanaan.Saat Ketua Soa Hu Pai mendekat, dia merasakan kehadiran tenaga dalam yang begitu k
Dalam suasana yang kini penuh dengan keheningan dan kebijaksanaan, Tabib Sakti Tanpa Bayangan muncul dengan senyum yang tulus. Dia merasakan kebutuhan akan perdamaian dan kesembuhan.Setelah itu para pembawa tandu langsung membawa tubuh lemah Buyung Hoa ke dalam pondok untuk kemudian mereka keluar lagi dari pondok dan menunggu di luar pondok, 10 meter dari pondok bersama orang-orang Tai Bong Pai lainnya. Saat masuk di ruang tamu pondoknya, Tabib Sakti Tanpa Bayangan berbisik dengan suara lembut pada Chen Long dan Xiao Liong Li. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu berdua."Xiao Liong Li dan Chen Long mendekati Tabib dengan penuh perhatian, merasa bahwa ada niat baik di balik kata-kata Tabib ini.Tabib Sakti Tanpa Bayangan berbisik dengan bijaksana. "Situasi yang telah terjadi di hutan ini telah mengajarkan kita banyak hal. Dan aku percaya bahwa kalian dapat mencapai keselarasan dan kesembuhan bersama-sama."Dia melihat kedua pemuda itu dengan tatapan penuh pengertian dan ha
Dalam pondok terpencil, di kedamaian hutan larangan, Chen Long ditempatkan di atas sebuah alas dari dedaunan. Tabib Sakti Tanpa Bayangan duduk di sampingnya, menatap dengan tatapan penuh perhatian. Dalam keheningan yang mendalam, proses penyembuhan dimulai.Tabib Sakti Tanpa Bayangan memulai dengan mengajukan beberapa jarum tipis yang terbuat dari logam. Dia menempatkan jarum-jarum itu di titik-titik tertentu di tubuh Chen Long, mengikuti pola yang telah dia kuasai selama bertahun-tahun. Jarum-jarum itu ditempatkan dengan hati-hati, merangsang aliran energi dalam tubuh Chen Long.Saat jarum-jarum ditempatkan, Tabib Sakti Tanpa Bayangan mulai memancarkan energi penyembuhan melalui tangannya. Cahaya lembut yang hampir tak terlihat mengelilingi tubuh Chen Long, memasuki titik-titik jarum dan mengalir melalui jalur-jalur energi dalam tubuhnya. Chen Long merasakan sensasi hangat dan tenang yang meresap dalam dirinya.Dalam keadaan seperti itu, Chen Long memusatkan pikirannya. Dia memasu
Dalam keheningan yang menyelimuti ruangan, Xiao Liong Li merasakan ketegangan dan perubahan dalam suasana. Sejak tadi dia memperhatikan setiap gerakan dengan seksama. Saat tirai tiba-tiba terbuka dan kain yang menutupi tubuh Buyung Hoa terlepas, dia tahu ada sesuatu yang terjadi di balik layar. Dia tahu kalau dua kejadian itu bukanlah kebetulan tapi ada campur tangan manusia di dalamnya. Meski awalnya terkejut seperti yang lainnya, tapi dia menyadari kemungkinan adanya niat tersembunyi.Tatapan tajamnya terfokus pada Buyung Hoa. Dia melihat perempuan itu seakan merasa canggung dan tidak nyaman, namun ada sesuatu di matanya yang mengisyaratkan sesuatu yang ganjil. Xiao Liong Li bisa merasakan bahwa ini adalah langkah yang disengaja Buyung Hoa dan pikirannya segera merasakan ada yang salah.Namun, sebelum dia bisa bertindak, dia ingin melihat dulu perubahan dalam suasana hati Buyung Hoa. Perempuan itu tampak sangat malu dan berulang kali mengatakan kalau dia tidak bisa hidup lagi k
Dalam pertarungan yang semakin panas, enam pria pembawa tandu dari Tai Bong Pai itu, terus menyerang Chen Long dengan serangan yang sengit. Chen Long yang baru saja sembuh masih merasa kelemahan dalam tubuhnya, dan serangan-serangan ini semakin membebani dirinya. Dia menghindari serangan-serangan itu sebaik mungkin, tetapi semakin lama semakin terdesak.Namun, dalam momen yang penuh tekanan itu, suasana berubah dengan cepat. Sebuah gerakan cepat dari pondok, menarik perhatian semua orang. Xiao Liong Li muncul dengan langkah yang mantap, wajahnya penuh dengan tekad dan ketegasan.Kehadiran Xiao Liong Li mengubah dinamika pertarungan dengan segera. Chen Long melihat dia dengan senyuman lega. Dia tahu kalau Xiao Liong Li akan datang membantunya. Dengan semangat yang baru ditemukan, Chen Long mulai mengatasi ketidaknyamanan tubuhnya dan bersiap untuk bergerak.Xiao Liong Li berdiri di samping Chen Long, matanya berkobar dengan determinasi. Dalam sekejap, dia meluncur ke arah salah satu pr
Dalam waktu singkat, Chen Long dan Xiao Liong Li sudah berada jauh dari hutan larangan. Itu juga ditunjang karena orang-orang Tai Bong Pai tidak ada yang mengejar mereka.Itu karena Buyung Hoa masih harus menjalani pengobatan sehingga ayah ibunya tidak mau mengejar Chen Long dan Xiao Liong Li karena tidak mau meninggalkan putri mereka.Chen Long teringat sesuatu. Karena itu, dengan perasaan bingung, Chen Long bertanya, "Bibi Liong, aku ingin bertanya sesuatu. Yaitu tentang sesuatu yang Paman Kam katakan sebelum kematiannya. Dia berbicara tentang ramalan dan percobaan bunuh dirimu. Bisakah kau jelaskan lebih lanjut soal itu?"Xiao Liong Li menghela nafas panjang. "Chen Long, sebenarnya itu adalah hal yang sangat sulit bagiku untuk diungkapkan. Kira-kira seminggu yang lalu, Paman Kam meramalkan bahwa aku akan mengalami masalah yang begitu berat sehingga aku akan berusaha bunuh diri. Namun, menurut ramalannya, setiap kali aku berusaha untuk mencoba bunuh diri, maka, aku tidak akan mati,
Chen Long dan Xiao Liong Li disambut dengan hangat oleh Kwee Cheng, saudara angkat Chen Wen, ayah kandungnya Chen Long. Dalam kesempatan ini, Chen Long memperkenalkan Xiao Liong Li sementara Kwee Cheng memperkenalkan keluarganya yaitu Oey Yong, istrinya, Kwee Hui, seorang gadis berusia 17 tahun dan Kwee Siang In, anak perempuan yang baru berusia 3 tahun. "Terima kasih sudah menerima kami," kata Xiao Liong Li. "Kami sangat senang bisa bertemu dengan Anda.""Sama-sama," kata Kwee Cheng. "Senang bisa bertemu dengan Anda berdua.""Saya ingin bertanya tentang Ayah kandungku, Chen Wen," kata Chen Long. "Saya ingin tahu lebih banyak tentang ayah saya."Kwee Cheng dan Oey Yong saling pandang. "Kami mengerti," kata Kwee Cheng. "Kami akan menceritakan apa yang kami tahu.""Chen Wen adalah orang yang baik dan bijaksana," kata Kwee Cheng. "Dia selalu ada untuk membantu orang lain.""Selain pesilat tangguh, dia juga seorang seniman yang berbakat," kata Oey Yong. "Dia pandai melukis dan menulis i