"Benarkah ini hanya Turnamen Bì Xiāo Guāng Huì?" Yāo Yu bertanya dengan nada ragu kepada Qing Yǔjiā.
Tatapan mereka saling bertaut sebelum akhirnya jatuh pada sekelompok orang yang tengah berbincang tak jauh dari mereka. Suasana di sekitar aula terasa berbeda dari biasanya. Ada keheningan yang samar, seolah-olah setiap orang yang hadir menahan napas, menanti sesuatu yang belum jelas bentuknya."Wah, rupanya Qing Gūniang dan Yāo Gūniang!" Suara akrab itu milik Mo Chen, yang tanpa sengaja menoleh dan mendapati dua gadis itu di antara kerumunan."Mo Gōngzǐ!" Qing Yǔjiā dan Yāo Yu segera memberi hormat, sikap mereka anggun dan penuh tata krama.Mo Chen hanya tersenyum kecil, mengangkat tangannya sebagai isyarat agar mereka tidak perlu terlalu formal. Kedua gadis itu pun membalas dengan anggukan sopan sebelum melangkah mendekat. Di sekeliling Mo Chen, berdiri beberapa sosok yang tak asing, Héxié Zhìzūn, Jian Wei, Jian Xue, Ling Zhì, dan bahkan Jìng JūnHari ini, Bì Xiāo Guāng Huì dimulai. Langit cerah di akhir musim panas, meski angin musim gugur mulai berhembus, membawa kesejukan yang samar. Di sepanjang arena turnamen, bendera-bendera dengan lambang Kekaisaran Bìxiāo dan berbagai sekte berkibar gagah, berderet rapi dalam barisan yang seolah mengawasi jalannya perhelatan akbar.Huànyǐng berdiri di tepi tribun, membiarkan pandangannya melayang pada selembar bendera yang berkibar tak jauh dari tempatnya. "Kupu-kupu," gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan yang terbawa angin."Lambang Sekte Musik Abadi. Kupu-kupu biru dalam lingkaran kabut ungu," sahut suara yang sudah sangat dikenalnya.Huànyǐng menoleh cepat, dan wajahnya seketika berseri. "Chénxī!" serunya riang. Dia sangat mengenali suara itu, tenang dan dalam, selalu membawa rasa nyaman setiap kali terdengar di telinganya.Tiānyin, pemuda yang dipanggil Chénxī oleh Huànyǐng, berdiri di sampingnya d
"Yang Mulia!" Huànyǐng dan Tiānyin segera memberi hormat begitu sosok itu tiba.Dia adalah Jìng Zhenjun Wángyé, putra kedua Kaisar Jìng, sekaligus adik dari Jìng Jūnlán Wángyé. Seorang pemuda seusia Huànyǐng dan Tiānyin, yang menempuh jalan kultivasi di Gerbang Sembilan Kuali, salah satu sekte alkimia terkemuka. Bersama Qing Yǔjiā dan Qing Héng Zhì, dia termasuk murid utama sekte tersebut."Jian Wu Gōngzǐ! Yuè Èr Gōngzǐ! Senang akhirnya bertemu dengan kalian," sapanya ramah.Huànyǐng hanya tersenyum tipis, sementara Tiānyin tetap berdiri tegak dengan ekspresi tenang seperti biasa. Ini pertama kalinya mereka bertemu langsung dengan salah satu putra Kaisar Jìng, selain Jìng Jūnlán Wángyé. Situasi ini terasa canggung, meskipun mereka telah mendengar banyak rumor tentang keluarga kekaisaran."Ini pertama kalinya kita bertemu, bukan? Sayangnya, perjumpaan ini terjadi dalam turnamen," ujar Jìng Zhenjun Wángyé dengan nada penuh arti.Tersirat se
Huànyǐng terus berlari, jemarinya erat menggenggam tangan Tiānyin. Bisik-bisik dari sekitar hanya lewat di telinganya, bagai hembusan angin yang tak berarti. Saat ini, satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya adalah tiba di arena sebelum giliran Ling Qingyu bertanding."Huànyǐng!" Suara lantang itu menembus keramaian. Lei bergegas menghampiri, wajahnya sedikit memerah karena berlari ke sana-kemari mencari sang adik. Namun, alisnya langsung bertaut saat mendapati Huànyǐng justru tengah berlarian sambil bergandengan tangan dengan Tiānyin."Yuè Tiānyin… kenapa kau selalu menempel pada adikku?" gumamnya dalam hati, dadanya dipenuhi rasa kesal yang tak jelas asalnya."Lei!" Huànyǐng berseru balik. "Ayo kita ke sana, Chénxī!" serunya riang, sebelum kembali menarik Tiānyin tanpa banyak bicara.Tiānyin, dengan mata birunya yang selalu tenang, hanya mengikuti tanpa protes. Langkahnya stabil, kontras dengan Huànyǐng yang penuh semangat.
Seorang pria tampan berhanfu biru langit berdiri di antara Jian Lei dan Yāo Ming. Hanfu yang ia kenakan terbuat dari kain halus yang berkilau samar di bawah sinar matahari, menunjukkan kemewahan yang tak mencolok tetapi berkelas. Sebuah kipas lipat berada di tangannya, perlahan dikibaskan, mengiringi senyum lembut nan menawan yang muncul di sudut bibirnya. "Zhèngyì Tiān Jūn." Yuè Tiānyin segera mengangkat tangan dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada pria itu. Gerakannya anggun, menunjukkan rasa hormat yang tak bisa disembunyikan. Pria itu terkekeh pelan, suaranya sehalus angin yang berembus di awal musim semi. Dengan nada bergurau yang sedikit berlebihan, ia berkata, "Aiyo! Tidak perlu bersikap formal seperti itu padaku." "Zhèngyì Tiān Jūn?" Nama itu diucapkan hampir bersamaan oleh Huànyǐng dan kawan-kawan, membuat mereka serentak menatap pria berhanfu biru itu deng
Huànyǐng dan kawan-kawannya memperhatikan jalannya turnamen dengan penuh semangat. Di tengah arena, para peserta sedang diuji dalam keahlian berkuda dan memanah. Mereka harus menunggang kuda dengan kecepatan tinggi, membidik lampion-lampion yang melayang di udara. Setiap lampion berisi roh, dan hanya mereka yang benar-benar terampil yang mampu mengenainya dengan presisi.“Mirip dengan Perburuan Roh Musim Gugur tahun lalu, bukan?” bisik Yāo Ming kepada Lei.Kakak Huànyǐng itu hanya mengangguk. Tahun lalu, mereka sempat menyaksikan dan mengikuti Ujian Lima Seni dalam Perburuan Roh Musim Gugur. Namun, karena mereka masih berada di tingkat Huáshēn, belum cukup umur, serta tidak pernah mengikuti pendidikan resmi di Akademi Bìxiāo, mereka tidak diizinkan ikut serta dalam Perburuan Roh resmi.“Tahun lalu kita hanya menonton dan mengikuti ujian lima seni saja,” sahut Yāo Yu, melirik dua pemuda yang asyik berbisik-bisik itu.“Jangan berisik! Sebentar lagi
Di tengah arena luas yang dikelilingi deretan tribun kayu bertingkat, Ling Qingyu berdiri tegak dengan busur di tangan. Matahari menggantung tinggi di langit biru cerah, menyinari lampion-lampion yang berterbangan di udara. Mereka melayang ringan, mengikuti tarian angin yang sulit ditebak. Cahaya siang menembus permukaan lampion tipis itu, memperlihatkan bayangan samar roh-roh yang terperangkap di dalamnya.Ling Qingyu harus menjatuhkan sebanyak mungkin lampion dengan anak panahnya. Ia harus bergerak cepat dan tepat. Tak boleh mengenai lampion milik peserta lain, tak boleh melukai peserta, dan terlebih lagi, tak boleh ada panah yang meleset hingga mengenai penonton. Skor ditentukan dari kecepatan dan jumlah lampion yang berhasil ia jatuhkan."Qingyu, kau pasti bisa!" suara Huànyǐng menggema dari tribun.Ling Qingyu menoleh. Senyumnya mengembang tipis melihat teman-temannya yang bersorak memberi semangat. Di antara mereka, dua telah tersingkir lebih awal ka
Arena turnamen di Tiānyá Shān dipenuhi sorak-sorai penonton, sementara lampion-lampion berpendar di langit seperti bintang-bintang yang terlambat kembali ke peraduan malam. Namun, suara lantang tiba-tiba menggetarkan udara."Qingyu! Utara dan selatan!" Huànyǐng berteriak dengan penuh semangat.Suara cemprengnya bergema ke seluruh arena, menembus keramaian hingga tribun kehormatan. Beberapa orang menoleh, sementara sebagian peserta tampak kebingungan atau bahkan mendecak kesal.Lei, yang berdiri di sampingnya, mengerutkan kening. "Kau yakin bocah bodoh itu mengerti maksudmu?" tanyanya dengan nada skeptis.Huànyǐng mengangguk mantap. Meski dalam hal kultivasi Ling Qingyu tertinggal jauh, putra kedua mendiang Ling Ménzhǔ itu bukan orang bodoh. Ia tahu Ling Qingyu pasti menangkap maksud teriakannya."Semoga saja dia tidak melakukan kekonyolan lagi," sahut Yāo Ming, suaranya dipenuhi harapan.Di tengah arena, Ling Qingyu menatap lampi
Malam itu, Ye Jū lebih meriah dari biasanya. Cahaya lentera bergoyang lembut diterpa angin, memantulkan kilauan merah dan emas di jalan-jalan berbatu. Aroma arak bercampur dengan wangi dupa yang samar, menyelimuti asrama akademi yang dipenuhi suara tawa dan sorak-sorai. Beberapa penghuni tengah merayakan keberhasilan mereka dalam turnamen, termasuk sekelompok pemuda di kamar Huànyǐng."Jangan minum arak," tegur Qing Yǔjiā tegas. Gadis itu dengan sigap mengambil kendi-kendi arak di atas meja sebelum memberikan semuanya pada Tiānyin."Aiyo! Kali ini saja, Yǔjiā!" rengek Huànyǐng dengan wajah memelas."Minta saja pada Yuè Èr Gōngzǐ," sahut Qing Yǔjiā santai.Huànyǐng merengut kesal dan menoleh pada Tiānyin, yang duduk dengan tenang di sampingnya."Chénxī, kita minum arak sedikit ya?" pintanya dengan suara manja."Tidak boleh." Jawaban Tiānyin terdengar datar tetapi tegas.Tanpa banyak bicara, pemuda bermata biru itu langsun
"Yuè Èr Gōngzǐ," bisik Jian Wei, suaranya tenggelam dalam gemuruh angin lembah, saat denting guqin yang melengking jernih semakin memenuhi pendengaran.Di tengah kabut, seorang pemuda berjubah putih, Yuè Tiānyin, melayang anggun di udara. Sinar matahari yang terang memantul pada guqin-nya, membuatnya berkilauan indah. Dengan gerakan halus, jemari Tiānyin menari di atas senar guqin, mengendalikan alunan melodi yang memancar dari alat musik itu. Setiap denting senar memancarkan aura magis, seakan mantra yang menyegel roh-roh liar yang mengamuk tak terkendali. "Chénxī!" seru Huànyǐng, matanya yang ungu berbinar-binar penuh kekaguman. "Lihatlah, Huànyǐng Xiōng! Yuè Èr Gōngzǐ memang tampan dan berbakat! Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya!"Líng Qingyu, yang entah sejak kapan telah berada di sisi Huànyǐng, mengangguk setuju dengan tatapan kagum yang tak disembunyikan. Mereka berdua terpaku menatap Tiānyin yang dengan khidmat memainkan guqin-nya. Seme
Dentingan lonceng menggema samar di telinga Jian Wei. Suara itu bergema di antara riuh rendah pekikan panik, gemuruh langkah kaki, dan desir angin yang membawa hawa asing. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan sumber suara tersebut. "Da Gē! Lihat itu!" Tiba-tiba Jian Xuě berseru, mengalihkan perhatiannya. Jian Wei sontak mengangkat kepala. Langit yang tadinya terbuka kini dipenuhi pusaran energi berbentuk lingkaran. Partikel bercahaya keperakan berputar di udara, memancarkan kilauan ganjil. "Sial!" Jian Wei menggeram, kedua tangannya mengepal erat. Matanya berkilat, menatap adik-adiknya dan anggota sekte lainnya. "A Xuě, lindungi Huànyǐng! Jangan biarkan dia terpengaruh oleh roh-roh di sekitarnya!" "Baik, Da Gē!" Jian Xuě tak ragu sedikit pun. Ia segera berdiri di depan Huànyǐng dengan Xuě terhunus, siap menghadapi apa pun yang datang. "Lei, siapkan Líng Qì Wǎng! Jian Xia, terus pantau situa
"Target utama kita adalah roh yang sudah kita kunci tadi. Setelah itu kita bisa berburu roh lain di zona yang sudah terbuka," jelas Jian Wei sembari melompat ke depan gua yang tersembunyi di celah tebing es yang menjulang tinggi. Sinar matahari siang memantul di permukaan es, menciptakan kilauan tajam seperti pecahan kaca."A Xue, ayo kita gunakan Xiáng Líng Zhèn untuk menangkap Xuě Láng Wang!" serunya pada Jian Xuě."Baik, Da Gē!" Jian Xuě menyusul, melompat ringan ke depan gua."Gunakan energi es, kau bisa menggabungkannya dengan energi es milik Huànyǐng," saran Jian Wei.Jian Xuě mengangguk mantap, lalu mulai menggambar pola formasi lingkaran dengan elemen energi es di udara. Garis-garis bersinar biru keperakan muncul di udara, membentuk corak rumit yang berpendar lembut. Begitu formasi selesai, ia menyegelnya dan mengarahkannya ke dalam gua. Dari dalam terdengar geraman marah, berat dan bergema, mengguncang lapisan es di sekitar mereka.
Jian Wei memimpin mereka mendekati lokasi jejak roh terdekat. Langkah-langkah mereka nyaris tak bersuara, seolah menyatu dengan hembusan angin dingin yang menyelusup di antara celah-celah tebing. Beberapa roh dikenal sangat peka terhadap suara, bahkan sekadar desir angin pun bisa membangkitkan kewaspadaan mereka."A Xue, gunakan Bīng Suǒ Shù untuk memperlambat pergerakannya," bisiknya lirih. "Jejak energinya akan lebih lama bertahan dan memudahkan kita melacaknya."Jian Xuě tanpa ragu menghunus pedangnya, Bīng Xīn Shèng Jiàn, pedang suci hati es yang berkilauan di bawah cahaya samar. Dengan satu gerakan ringan, udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih dingin. Teknik Bīng Suǒ Shù pun dilepaskan, menciptakan embusan es yang membekukan area sekitar tanpa menimbulkan suara."Dia masih berada di dalam gua sempit itu," ucap Jian Xuě pelan.Jian Wei mengangguk. "Baiklah! Kita harus segera menguncinya!" ujarnya, tetap dalam bisikan. Ia menoleh k
Tiān Bīng Yá, Tebing Langit EsTebing Langit Es adalah salah satu lokasi paling ekstrem di Shén Wù Gǔ. Kabut putih pekat menyelimuti tempat ini, bercampur dengan serpihan es kecil yang melayang di udara, menciptakan suasana dingin dan penuh misteri. Angin berembus kencang, membawa butiran salju yang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh membentuk lapisan putih tebal di sepanjang permukaan tebing.Di tengah pemandangan yang memukau sekaligus mematikan ini, Huànyǐng dan saudara-saudaranya berdiri dalam balutan mantel tebal, berusaha menahan hawa menusuk yang merasuk hingga ke tulang."Wow! Dingin sekali!" Seruan itu terdengar dari beberapa orang yang segera mengerahkan energi spiritual mereka untuk menstabilkan suhu tubuh. Namun, meski telah mengenakan pakaian hangat dan melindungi diri dengan energi, hawa dingin di Tebing Langit Es tetap menggigit.Huànyǐng menengadah, menatap tebing-tebing yang menjulang tinggi di hadapannya. Permukaannya yang ter
Di panggung kehormatan yang menjulang di atas arena perburuan, angin berembus lembut, membawa aroma teh dan arak yang disajikan dalam poci giok. Cahaya matahari yang menyaring dari sela-sela tirai sutra tipis menerangi wajah para tamu kehormatan—para ketua sekte, pemimpin klan, tetua berpengaruh, serta pejabat kekaisaran. Dan tentu saja, di pusat segala perhatian, duduk dengan tenang Kaisar Jìng Yǔhàn, mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam keemasan yang memancarkan wibawa.Sementara para peserta perburuan bergegas ke zona pelacakan, para tamu berbincang dengan santai, sesekali menyesap teh atau arak hangat dari cawan mereka."Yīnlǜ Shengzhe, sudah lama dirimu tidak menghadiri Perburuan Roh. Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertarik kali ini?" tanya seorang ketua klan dengan nada penuh rasa ingin tahu.Pria yang dipanggil Yīnlǜ Shengzhe itu hanya tersenyum tipis. Garis ketampanannya jelas menurun pada kedua putranya, tetapi ekspresi tenangnya membuatny
Perburuan Roh Musim Gugur dimulai. Seperti tradisi setiap tahunnya, ada tiga babak yang harus dilalui para peserta sebelum meraih kemenangan dan hadiah istimewa yang selalu dinantikan."Pelacakan, pertempuran strategi, dan penangkapan akhir adalah tiga babak dalam Perburuan Roh. Kita harus melewati babak pelacakan terlebih dahulu sebelum bisa menghadapi tantangan berikutnya," jelas Jian Xue kepada adik-adiknya.Mereka tengah menunggu Jian Wei yang pergi mengambil undian untuk menentukan zona awal perburuan. Penentuan ini bertujuan memisahkan sekte-sekte besar di tahap awal agar pertarungan lebih seimbang. Dengan begitu, sekte kecil memiliki kesempatan untuk bersinar, sementara ketegangan antar sekte besar tetap terjaga hingga pertemuan di babak selanjutnya.Jian Xia, yang sejak tadi terlihat cemas, akhirnya bersuara. "Èr Gē, apakah kau sudah mempelajari zona perburuan kali ini?"Jian Xue menoleh dan mengangkat bahu dengan ekspresi sedikit meringis
“Jian Gūniang!”Seruan menggema dari tribun penonton saat Jian Xia melintasi panggung kehormatan. Pemuda dan gadis-gadis bersorak memanggil namanya, melemparkan bunga dan hadiah ke udara. Namun, Jian Xia hanya membalas dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, seolah kegaduhan itu tak benar-benar menyentuhnya.“Kya! Tiānyù Jiànzhàn! Tampan sekali!” Seruan lain terdengar. Kali ini dari sekumpulan gadis yang mencuri pandang penuh kagum ke arah pria berjubah hitam dan ungu yang duduk tenang, matanya tak bergeming dari jalan di depannya."Jian Èr Gōngzǐ juga tampan!""Eh, itu Jian Si dan Jian Wu Gōngzǐ, bukan?"Teriakan dari tribun semakin riuh.“Tampan seperti kakak mereka!”“Jian Wu Gōngzǐ imut dan menggemaskan!”Kalimat terakhir itu nyaris membuat Jian Xue dan Jian Lei jatuh dari kuda mereka. Mereka saling bertukar pandang sebelum terkikik geli. Imut dan menggemaskan? Itu tentu mengacu pada Huànyǐng, adik mereka y
Shén Wù Gǔ adalah perpaduan luar biasa antara kabut mistis yang melayang di udara, hijaunya pepohonan yang menjulang tinggi, serta sungai berkilauan yang berkelok-kelok di antara tebing-tebing batu. Setiap zona perburuan di dalamnya memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari lembah berkabut yang penuh rahasia, hutan lebat yang dipenuhi makhluk spiritual, hingga air terjun gemuruh yang menyembunyikan tantangan tak terduga. Tempat ini bukan sekadar indah, melainkan sarat dengan aura magis dan bahaya tersembunyi.Itulah kesan pertama yang tertangkap saat para peserta Perburuan Roh menyaksikan Shén Wù Gǔ yang terbentang luas di hadapan mereka."Indahnya! Sungguh sesuai dengan julukannya, Lembah Kabut Dewa!" seruan-seruan kagum terdengar bersahut-sahutan di antara para kultivator muda.Bahkan Huànyǐng dan saudara-saudaranya pun tak bisa mengalihkan pandangan. Langit biru membentang luas, menaungi lautan kabut yang berputar perlahan seakan memiliki nyawa. Pucuk-pu