Home / Fantasi / Penakluk Sihir Iblis / A Zhì Tidak Membutuhkan Pedang

Share

A Zhì Tidak Membutuhkan Pedang

Author: Aspasya
last update Last Updated: 2025-03-13 11:00:26

Jìng Zhenjun Wángyé melangkah dengan anggun di atas arena, napasnya stabil, ekspresinya tetap tenang. Dalam sekejap, ia mengalahkan lawan pertamanya, lalu yang kedua, dan tak lama berselang, yang ketiga pun tersungkur tanpa daya. Léi Lián Jiàn, Pedang Petir Teratai miliknya, bahkan belum mengeluarkan separuh dari kemampuannya yang sesungguhnya. Namun, tiga lawan yang telah jatuh tak berdaya menjadi bukti bahwa dirinya belum menemukan tandingan sepadan.

Sesuai peraturan, hanya mereka yang menang tiga kali berturut-turut yang berhak maju ke babak selanjutnya. Karena itu, kini ia harus menunggu lawan berikutnya.

Di tribun penonton, Lei menatap pedang itu dengan ekspresi rumit, antara kagum dan waspada. Ia bergumam, suaranya nyaris tertelan sorak-sorai di sekitar mereka. "Léi Lián Jiàn... pedang yang hebat."

Di sampingnya, Yāo Ming melirik sekilas sebelum berkomentar santai, "Hampir mirip dengan pedangmu, bukan?"

Lei tersenyum tipis, tatapannya masih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Penakluk Sihir Iblis    Tangan Kosong Yang Mengguncang Arena

    Dalam satu gebrakan, Qing Héng Zhì merobohkan lawannya dengan telak. Tanpa menggunakan senjata, hanya dengan satu pukulan yang menghantam dada lawan. Pukulannya presisi, cukup kuat untuk membuat lawan tak berdaya, tetapi tidak mematikan.Sorak-sorai penonton bergemuruh memenuhi arena. Debu tipis masih melayang di udara akibat benturan tubuh yang jatuh ke tanah. Para murid yang menyaksikan pertarungan itu saling bertukar pandang dengan ekspresi penuh keterkejutan dan kekaguman. Sangat jarang ada kultivator yang hanya mengandalkan tangan kosong dalam pertempuran, apalagi di tengah ajang seperti ini."Wah, dia hebat sekali!" seru Huànyǐng dengan mata berbinar. Kekaguman dalam suaranya begitu kentara. Bahkan Lei dan Yāo Ming, yang biasanya lebih tenang, tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.Selama ini, Qing Héng Zhì sering diremehkan. Usianya yang lebih muda dibanding peserta lainnya membuatnya kerap dianggap lemah. Namun, dengan sekali pukulan, dia m

    Last Updated : 2025-03-13
  • Penakluk Sihir Iblis    Tanghulu Dan gula Kapas Di Lengan Jubah Tiānyin

    Sorak-sorai membahana, menyelimuti tempat itu dengan riuh kemenangan. Tiga laga berturut-turut telah berakhir, dan Qing Héng Zhì keluar sebagai pemenang mutlak dengan tangan kosong."Dia berhasil lolos!" seru Yāo Yu dengan gembira, langsung merangkul Qing Yǔjiā. Keduanya tertawa lega, berbagi kebahagiaan atas kemenangan yang baru saja diraih.Lei dan Yāo Ming tersenyum kecil, sementara Ling Qingyu menyambut Qing Héng Zhì dengan pelukan hangat. Di sisi lain, Liú Zhǎng dan Yuè Lǜ Shén Jūn juga terlihat puas, meski tetap menjaga sikap mereka.Tak jauh dari mereka, Huànyǐng tampak bergelayut di lengan Tiānyin, seolah menjadikan pemuda itu sebagai sandarannya. Tanpa peduli pada pandangan orang lain, ia merebahkan sedikit kepalanya ke bahu Tiānyin, menikmati kenyamanan tanpa beban."Tiānyin, ternyata benar. Ada banyak kultivator muda hebat di sekitar kita," ujarnya dengan nada santai. Seolah pertempuran sengi

    Last Updated : 2025-03-14
  • Penakluk Sihir Iblis    Menang Dan Kalah Adalah Hal Yang Biasa

    Babak final dimulai setelah jeda beberapa saat. Kesempatan ini diberikan agar para peserta yang lolos bisa beristirahat sejenak, sementara berbagai pertunjukan telah disiapkan untuk menghibur penonton dan tamu undangan. Riuh rendah suara musik dan sorak-sorai mengisi udara. Namun, bagi mereka yang akan bertanding, kegelisahan lebih mendominasi daripada kesenangan.Di antara para peserta yang menanti giliran, Lei menghela napas panjang. "Kita tidak bisa mengetahui siapa lawan kita sebelum babak final dimulai," keluhnya.Liú Zhǎng baru saja mengumumkan aturan itu sesaat setelah mereka memastikan diri lolos ke final."Itu untuk menghindari kecurangan," sahut Liú Zhǎng dengan senyum kecil, seakan mengerti kegelisahan Lei."Kau benar, Liú Qianbei," Huànyǐng mengangguk, berusaha menerima keputusan tersebut dengan lapang dada."Pada intinya, di turnamen ini kita tidak bisa memilih lawan." Yu

    Last Updated : 2025-03-14
  • Penakluk Sihir Iblis    Tiān Xiāng Jiàn, Tinta Dan Fēngdié

    Aroma ramuan herbal memenuhi udara, membawa ketenangan sekaligus kebingungan begitu Yāo Yu menghunus pedangnya. Di tengah arena, Ling Qingyu berdiri tegak, matanya terpaku pada pedang yang berada di genggaman Yāo Yu."Tiān Xiāng Jiàn, Pedang Aroma Surgawi," gumamnya pelan. Seolah tak percaya harus menghadapi senjata legendaris itu."Ling Xiōng, jangan ragu! Keluarkan Mo Hua!" seru Yāo Yu seraya mengangkat pedangnya, siap menyerang.Ling Qingyu menghela napas. Meskipun sedikit gugup, ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti kata-kata Yāo Yu. Dengan gerakan cepat, ia menghunus Mo Hua. Pedang hitam legam itu berkelebat, memercikkan cahaya pekat bak tinta yang menyebar di udara, membaurkan jarak pandang."Aish, kau benar-benar cerdik, Ling Xiōng!" keluh Yāo Yu dengan nada kesal.Ia segera melompat ke samping, menghindari gumpalan hitam pekat yang berputar di sekelilingnya. Ilusi tinta, salah satu kekuatan mengerikan Mo Hua—dapat menyesatkan

    Last Updated : 2025-03-14
  • Penakluk Sihir Iblis    Pertarungan Yang Berakhir Dengan Kekacauan Dalam Damai

    Yāo Yu membelalakkan mata saat bisikan halus menyelinap di telinganya. Refleks, ia berbalik cepat—namun seketika, selarik tinta hitam menyambar ke arahnya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menangkis serangan itu menggunakan pedangnya, menciptakan jejak gelap yang terhapus dalam hembusan angin.Aroma herbal yang menyengat segera memenuhi udara. Itu aroma yang paling dibenci Ling Qingyu—sesuatu yang membuatnya mual seketika. Dengan gerakan cepat, pemuda itu melompat menjauh, napasnya memburu."Cih! Hanya seperti itu saja, Ling Xiōng?" seru Yāo Yu dengan nada mengejek.Ling Qingyu mendengus kesal. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan mual yang menggelayuti perutnya. Dengan mata menyala-nyala, ia berbalik dan menyerang lagi, mengabaikan bau ramuan yang seakan mengepungnya."Hēi, Ling Xiōng, jangan nekat!" seru Yāo Yu. Ia terkejut melihat rekannya berani menerobos serangan herbal yang biasanya membuatnya mundur tanpa berpikir dua kali.Gadis

    Last Updated : 2025-03-15
  • Penakluk Sihir Iblis    Kue Manis Yang Mengakhiri Perkelahian

    Sementara itu, perkelahian antara Huànyǐng dan Lei berakhir saat Tiānyin melangkah di antara mereka. Sosoknya yang tegak dan tegap menjadi penengah. Huànyǐng, tanpa ragu, segera bersembunyi di balik punggung kokoh Tiānyin, menghindari tatapan berapi-api sang kakak."Yuè Èr Gōngzǐ, minggir!" seru Lei, suaranya masih sarat dengan kemarahan.Namun, Huànyǐng hanya meleletkan lidah, menatap Lei dengan ekspresi mengejek."Jian Yi," tegur Tiānyin. Suaranya tetap datar tetapi cukup untuk membuat Huànyǐng bersikap lebih tenang.Tiānyin merogoh lengan jubahnya. Mengeluarkan sebuah kantong kecil, lalu menyerahkannya pada Huànyǐng."Aiyo, Chénxī!" Huànyǐng bersorak riang begitu melihat isinya, beberapa potong kue manis dengan aroma lembut yang menggoda.Setelah menerima kantong itu, Huànyǐng menoleh ke Lei dengan senyum usil. "Lei, kau mau tidak?" tanyanya dengan nada menggoda.Lei mendengus, jelas masih kesal, tetapi tangannya teta

    Last Updated : 2025-03-15
  • Penakluk Sihir Iblis    Bukan Pedang Pembunuh

    Xú Wén memicingkan mata menatap Yāo Yu. Meski dalam hierarki akademi ia adalah senior, bakat dan tingkat kultivasi mereka setara. Usia mereka pun hanya terpaut satu atau dua tahun.“Yāo Gūniang, mohon untuk tidak sungkan,” sapanya dengan lembut dan sopan, sembari menggenggam gagang pedangnya dengan santai.“Oh, tentu saja. Aku tidak akan sungkan, Qianbei.” Yāo Yu tersenyum manis, namun matanya menyiratkan kesungguhan.Tanpa menunggu lebih lama, pedangnya berkelebat dengan cepat. Begitu mata pedangnya berkilat, aroma harum herbal segera menguar, membungkus arena dengan keharuman yang lembut tetapi menusuk. Udara di sekeliling bergetar, seolah merespons energi yang ia lepaskan.Xú Wén menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis. Ia mengangkat Shuāng Huá Jiàn—Pedang Bunga Salju—dan dalam sekejap, hawa dingin menyeruak liar, menjalar hingga ke tribun penonton dan tribun kehormatan. Angin dingin menusuk kulit, membuat banyak orang tanpa sadar merapatkan jub

    Last Updated : 2025-03-15
  • Penakluk Sihir Iblis    Tidak Hanya Menonton Saja Bukan?

    Pertarungan antara Yāo Yu dan Xu Wen akhirnya berakhir dengan kemenangan Xu Wen. Lawannya selanjutnya adalah Qing Héng Zhì.Sejak awal, pertarungan mereka berlangsung sengit. Keduanya sama-sama kuat, memiliki kecepatan dan teknik yang sulit ditandingi. Namun, seperti halnya di pertarungan sebelumnya, Qing Héng Zhì tetap tidak menggunakan pedangnya.Xu Wen menyipitkan mata, tatapannya menyiratkan sedikit rasa meremehkan. “Qing Gōngzǐ, pedangmu pun sama seperti Tiān Xiāng Jiàn milik Yāo Gūniang,” ucapnya, nada suaranya menyiratkan tantangan.Qing Héng Zhì tersenyum tipis, ekspresinya santai seolah tak terganggu. “Itu bukan masalah untukku, Xu Qiánbèi.”Xu Wen mendengus. “Iya tentu saja, Qing Gōngzǐ. Tanganmu itu lebih kuat dari pedang mana pun di Kekaisaran Bìxiāo.”Tanpa membuang waktu, Xu Wen menebaskan pedangnya, menghunuskan hawa dingin yang langsung menyergap Qing Héng Zhì. Udara di sekitar mereka bergetar, menimbulkan kabut tipis akib

    Last Updated : 2025-03-16

Latest chapter

  • Penakluk Sihir Iblis    Melodi Guqin dan Siulan di Tengah Kekacauan

    "Yuè Èr Gōngzǐ," bisik Jian Wei, suaranya tenggelam dalam gemuruh angin lembah, saat denting guqin yang melengking jernih semakin memenuhi pendengaran.Di tengah kabut, seorang pemuda berjubah putih, Yuè Tiānyin, melayang anggun di udara. Sinar matahari yang terang memantul pada guqin-nya, membuatnya berkilauan indah. Dengan gerakan halus, jemari Tiānyin menari di atas senar guqin, mengendalikan alunan melodi yang memancar dari alat musik itu. Setiap denting senar memancarkan aura magis, seakan mantra yang menyegel roh-roh liar yang mengamuk tak terkendali. "Chénxī!" seru Huànyǐng, matanya yang ungu berbinar-binar penuh kekaguman. "Lihatlah, Huànyǐng Xiōng! Yuè Èr Gōngzǐ memang tampan dan berbakat! Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya!"Líng Qingyu, yang entah sejak kapan telah berada di sisi Huànyǐng, mengangguk setuju dengan tatapan kagum yang tak disembunyikan. Mereka berdua terpaku menatap Tiānyin yang dengan khidmat memainkan guqin-nya. Seme

  • Penakluk Sihir Iblis    Teknik Pemanggil Seribu Roh

    Dentingan lonceng menggema samar di telinga Jian Wei. Suara itu bergema di antara riuh rendah pekikan panik, gemuruh langkah kaki, dan desir angin yang membawa hawa asing. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan sumber suara tersebut. "Da Gē! Lihat itu!" Tiba-tiba Jian Xuě berseru, mengalihkan perhatiannya. Jian Wei sontak mengangkat kepala. Langit yang tadinya terbuka kini dipenuhi pusaran energi berbentuk lingkaran. Partikel bercahaya keperakan berputar di udara, memancarkan kilauan ganjil. "Sial!" Jian Wei menggeram, kedua tangannya mengepal erat. Matanya berkilat, menatap adik-adiknya dan anggota sekte lainnya. "A Xuě, lindungi Huànyǐng! Jangan biarkan dia terpengaruh oleh roh-roh di sekitarnya!" "Baik, Da Gē!" Jian Xuě tak ragu sedikit pun. Ia segera berdiri di depan Huànyǐng dengan Xuě terhunus, siap menghadapi apa pun yang datang. "Lei, siapkan Líng Qì Wǎng! Jian Xia, terus pantau situa

  • Penakluk Sihir Iblis    Menangkap Bīng Wù Niǎo

    "Target utama kita adalah roh yang sudah kita kunci tadi. Setelah itu kita bisa berburu roh lain di zona yang sudah terbuka," jelas Jian Wei sembari melompat ke depan gua yang tersembunyi di celah tebing es yang menjulang tinggi. Sinar matahari siang memantul di permukaan es, menciptakan kilauan tajam seperti pecahan kaca."A Xue, ayo kita gunakan Xiáng Líng Zhèn untuk menangkap Xuě Láng Wang!" serunya pada Jian Xuě."Baik, Da Gē!" Jian Xuě menyusul, melompat ringan ke depan gua."Gunakan energi es, kau bisa menggabungkannya dengan energi es milik Huànyǐng," saran Jian Wei.Jian Xuě mengangguk mantap, lalu mulai menggambar pola formasi lingkaran dengan elemen energi es di udara. Garis-garis bersinar biru keperakan muncul di udara, membentuk corak rumit yang berpendar lembut. Begitu formasi selesai, ia menyegelnya dan mengarahkannya ke dalam gua. Dari dalam terdengar geraman marah, berat dan bergema, mengguncang lapisan es di sekitar mereka.

  • Penakluk Sihir Iblis    Bersiap Untuk Babak Kedua Perburuan Roh

    Jian Wei memimpin mereka mendekati lokasi jejak roh terdekat. Langkah-langkah mereka nyaris tak bersuara, seolah menyatu dengan hembusan angin dingin yang menyelusup di antara celah-celah tebing. Beberapa roh dikenal sangat peka terhadap suara, bahkan sekadar desir angin pun bisa membangkitkan kewaspadaan mereka."A Xue, gunakan Bīng Suǒ Shù untuk memperlambat pergerakannya," bisiknya lirih. "Jejak energinya akan lebih lama bertahan dan memudahkan kita melacaknya."Jian Xuě tanpa ragu menghunus pedangnya, Bīng Xīn Shèng Jiàn, pedang suci hati es yang berkilauan di bawah cahaya samar. Dengan satu gerakan ringan, udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih dingin. Teknik Bīng Suǒ Shù pun dilepaskan, menciptakan embusan es yang membekukan area sekitar tanpa menimbulkan suara."Dia masih berada di dalam gua sempit itu," ucap Jian Xuě pelan.Jian Wei mengangguk. "Baiklah! Kita harus segera menguncinya!" ujarnya, tetap dalam bisikan. Ia menoleh k

  • Penakluk Sihir Iblis    Zona Tiān Bīng Yá

    Tiān Bīng Yá, Tebing Langit EsTebing Langit Es adalah salah satu lokasi paling ekstrem di Shén Wù Gǔ. Kabut putih pekat menyelimuti tempat ini, bercampur dengan serpihan es kecil yang melayang di udara, menciptakan suasana dingin dan penuh misteri. Angin berembus kencang, membawa butiran salju yang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh membentuk lapisan putih tebal di sepanjang permukaan tebing.Di tengah pemandangan yang memukau sekaligus mematikan ini, Huànyǐng dan saudara-saudaranya berdiri dalam balutan mantel tebal, berusaha menahan hawa menusuk yang merasuk hingga ke tulang."Wow! Dingin sekali!" Seruan itu terdengar dari beberapa orang yang segera mengerahkan energi spiritual mereka untuk menstabilkan suhu tubuh. Namun, meski telah mengenakan pakaian hangat dan melindungi diri dengan energi, hawa dingin di Tebing Langit Es tetap menggigit.Huànyǐng menengadah, menatap tebing-tebing yang menjulang tinggi di hadapannya. Permukaannya yang ter

  • Penakluk Sihir Iblis    Bayang-bayang Heibing Hùfú di Perburuan Roh

    Di panggung kehormatan yang menjulang di atas arena perburuan, angin berembus lembut, membawa aroma teh dan arak yang disajikan dalam poci giok. Cahaya matahari yang menyaring dari sela-sela tirai sutra tipis menerangi wajah para tamu kehormatan—para ketua sekte, pemimpin klan, tetua berpengaruh, serta pejabat kekaisaran. Dan tentu saja, di pusat segala perhatian, duduk dengan tenang Kaisar Jìng Yǔhàn, mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam keemasan yang memancarkan wibawa.Sementara para peserta perburuan bergegas ke zona pelacakan, para tamu berbincang dengan santai, sesekali menyesap teh atau arak hangat dari cawan mereka."Yīnlǜ Shengzhe, sudah lama dirimu tidak menghadiri Perburuan Roh. Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertarik kali ini?" tanya seorang ketua klan dengan nada penuh rasa ingin tahu.Pria yang dipanggil Yīnlǜ Shengzhe itu hanya tersenyum tipis. Garis ketampanannya jelas menurun pada kedua putranya, tetapi ekspresi tenangnya membuatny

  • Penakluk Sihir Iblis    Babak Pelacakan Roh

    Perburuan Roh Musim Gugur dimulai. Seperti tradisi setiap tahunnya, ada tiga babak yang harus dilalui para peserta sebelum meraih kemenangan dan hadiah istimewa yang selalu dinantikan."Pelacakan, pertempuran strategi, dan penangkapan akhir adalah tiga babak dalam Perburuan Roh. Kita harus melewati babak pelacakan terlebih dahulu sebelum bisa menghadapi tantangan berikutnya," jelas Jian Xue kepada adik-adiknya.Mereka tengah menunggu Jian Wei yang pergi mengambil undian untuk menentukan zona awal perburuan. Penentuan ini bertujuan memisahkan sekte-sekte besar di tahap awal agar pertarungan lebih seimbang. Dengan begitu, sekte kecil memiliki kesempatan untuk bersinar, sementara ketegangan antar sekte besar tetap terjaga hingga pertemuan di babak selanjutnya.Jian Xia, yang sejak tadi terlihat cemas, akhirnya bersuara. "Èr Gē, apakah kau sudah mempelajari zona perburuan kali ini?"Jian Xue menoleh dan mengangkat bahu dengan ekspresi sedikit meringis

  • Penakluk Sihir Iblis    Pita Putih Dan Senyum Tiānyin

    “Jian Gūniang!”Seruan menggema dari tribun penonton saat Jian Xia melintasi panggung kehormatan. Pemuda dan gadis-gadis bersorak memanggil namanya, melemparkan bunga dan hadiah ke udara. Namun, Jian Xia hanya membalas dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, seolah kegaduhan itu tak benar-benar menyentuhnya.“Kya! Tiānyù Jiànzhàn! Tampan sekali!” Seruan lain terdengar. Kali ini dari sekumpulan gadis yang mencuri pandang penuh kagum ke arah pria berjubah hitam dan ungu yang duduk tenang, matanya tak bergeming dari jalan di depannya."Jian Èr Gōngzǐ juga tampan!""Eh, itu Jian Si dan Jian Wu Gōngzǐ, bukan?"Teriakan dari tribun semakin riuh.“Tampan seperti kakak mereka!”“Jian Wu Gōngzǐ imut dan menggemaskan!”Kalimat terakhir itu nyaris membuat Jian Xue dan Jian Lei jatuh dari kuda mereka. Mereka saling bertukar pandang sebelum terkikik geli. Imut dan menggemaskan? Itu tentu mengacu pada Huànyǐng, adik mereka y

  • Penakluk Sihir Iblis    Hujan Bunga Dan Hadiah

    Shén Wù Gǔ adalah perpaduan luar biasa antara kabut mistis yang melayang di udara, hijaunya pepohonan yang menjulang tinggi, serta sungai berkilauan yang berkelok-kelok di antara tebing-tebing batu. Setiap zona perburuan di dalamnya memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari lembah berkabut yang penuh rahasia, hutan lebat yang dipenuhi makhluk spiritual, hingga air terjun gemuruh yang menyembunyikan tantangan tak terduga. Tempat ini bukan sekadar indah, melainkan sarat dengan aura magis dan bahaya tersembunyi.Itulah kesan pertama yang tertangkap saat para peserta Perburuan Roh menyaksikan Shén Wù Gǔ yang terbentang luas di hadapan mereka."Indahnya! Sungguh sesuai dengan julukannya, Lembah Kabut Dewa!" seruan-seruan kagum terdengar bersahut-sahutan di antara para kultivator muda.Bahkan Huànyǐng dan saudara-saudaranya pun tak bisa mengalihkan pandangan. Langit biru membentang luas, menaungi lautan kabut yang berputar perlahan seakan memiliki nyawa. Pucuk-pu

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status